MIKROSEFALI MODUL. 1. Definisi

dokumen-dokumen yang mirip
MODUL DEFORMITAS ATLANTO-OKSIPITAL

MODUL PERDARAHAN INTRAKRANIAL SPONTAN

MENINGOKEL POSTERIOR MODUL. 1. Definisi

MODUL ENTRAPMENT SYNDROME

SINDROM ARNOLD CHIARI/ SIRINGOMIELIA

DANDY WALKER MALFORMATION

KISTA ARACHNOID MODUL. 1. Definisi

MODUL ANEURISMA SEREBRI

INFEKSI PARASITER (CACING)

MODUL NYERI 1. Definisi

1. Definisi Kanal stenosis adalah suatu kondisi medis di mana kanal tulang belakang menyempit dan menekan medulla spinalis.

DEGENERASI DISKUS INTERVERTEBRAL SERVIKAL

SPINAL DISRAFISME MODUL. 1. Definisi

MODUL FISTULA ARTERI-VENA (AV FISTULA)

MORBUS HANSEN MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA KRANIAL (SIMPEL)

TUBERKULOMA MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

HIDROSEFALUS KOMPLEKS

MODUL SPONDILOLISTESIS

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS.

INFEKSI KOMENSAL/ PENURUNAN IMUNITAS

SPONDILITIS TUBERKULOSA

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA SPINAL

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial

MODUL OSTEOMA 1. DEFINISI

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS.

MODUL SCHWANNOMA SARAF TEPI 1. DEFINISI

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial

MODUL KAROTIS-KAVERNOSUS FISTULA

INFEKSI PARASITER (JAMUR)

GLIOMA SPINAL MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

GRANULOMA EOSINOFILIK

ABSES SEREBRI MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

MODUL SPASTISITAS/RIGIDITAS 1. Definisi

MODUL PLASMASITOMA 1. DEFINISI 2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

MODUL TUMOR METASTATIK

MODUL KRANIOFARINGIOMA 1. DEFINISI

MODUL SUBDURAL HEMATOMA AKUT

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM KEPROFESIAN ( Beban dihitung berdasarkan Kompetensi )

MODUL SUBDURAL HEMATOMA KRONIK

MODUL EPIDURAL HEMATOMA

MODUL INTRACEREBRAL HEMATOMA

MODUL TRAUMA TEMBUS. 1. Definisi Trauma tembus kranium adalah lesi di mana proyektil benda asing menembus tulang tengkorak dan tidak keluar lagi.

MODUL ADENOMA HIPOFISIS 1. Definisi

MODUL BOCORAN LIQUOR

MODUL MENINGIOMA SUPRATENTORIAL

Lama pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf adalah 11 Semester. Dipandang dari sudut hukum, dikenal istilah Pengayaan, Magang dan Mandiri.

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 34 EKSISI LUAS TUMOR DINDING ABDOMEN PADA TUMOR DESMOID & DINDING ABDOMEN YANG LAIN (No. ICOPIM: 5-542)

TERAPI INHALASI MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI. : Prosedur Tidakan pada Kelainan Paru. I. Waktu. Mengembangkan kompetensi.

Modul 4 SIRKUMSISI PADA PHIMOSIS (No. ICOPIM: 5-640)

Modul 20 RESEKSI/ EKSISI ANEURISMA PERIFER (No. ICOPIM: 5-382)

MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI BATUK DARAH. Oleh

Modul 18 Bedah TKV EKSISI HEMANGIOMA (ICOPIM 5-884)

( No. ICOPIM : )

Modul 26 DETORSI TESTIS DAN ORCHIDOPEXI (No. ICOPIM: 5-634)

BAB 1 PENDAHULUAN. aktivitas sel tubuh melalui impuls-impuls elektrik. Perjalanan impuls-impuls

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-467)

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN 2014 SILABUS

Modul 36. ( No. ICOPIM 5-545)

Modul 26 PENUTUPAN STOMA (TUTUP KOLOSTOMI / ILEOSTOMI) ( No. ICOPIM 5-465)

Modul 11 BEDAH TKV FIKSASI INTERNAL IGA ( KLIPING KOSTA ) (ICOPIM 5-790, 792)

TANDA-TANDA RADIOLOGIK

Modul 16 EKSISI TELEANGIEKTASIS (ICOPIM 5-387)

BUKU AJAR SISTEM NEUROPSIKIATRI

Sem 9 G M Q 79.3 K6 K6 K6 K6 P5.A3 P5.A3 P5.A3 P5.A5 P5.A5 P5.A Sem 3. Sem 5. Sem 4

OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT

BAB I PENDAHULUAN. progresif, tetapi perkembangan tanda-tanda neuron perifer akan berubah akibat. maturasi serebral (Mahdalena, Shella. 2012).

(No. ICOPIM: 5-491, 5-884)

BAB I PENDAHULUAN. Kelainan kongenital adalah penyebab utama kematian bayi di negara maju

BAB 3 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah ilmu penyakit saraf dan radiologi.

b. Tujuan farmakoekonomi...27 c. Aplikasi farmakoekonomi...28 d. Metode farmakoekonomi Pengobatan Rasional...32

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

Modul 23 ORCHIDOPEXI/ORCHIDOTOMI PADA UNDESCENSUS TESTIS (UDT) (No. ICOPIM: 5-624, 5-620)

Modul 1 EKSISI TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER (ICOPIM )

TATALAKSANA PELAYANAN KESEHATAN BAGI PESERTA PT ASKES (PERSERO) BAB I PERSYARATAN UMUM

EKSTRAKSI CORPUS ALIENUM DI KEPALA DAN LEHER (ICOPIM 5-119)

PANDUAN PENUNDAAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PUPUK KALTIM BONTANG

REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH. Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang

Modul 9. (No. ICOPIM: 5-461)

PELAYANAN BEDAH DAN ANESTESI (PAB)

PEOGRAM PENDIDIKAN NEUROONKOLOGI PPDS I DEPT-SMF ILMU BEDAH SARAF RS.Dr SOETOMO - FK UNAIR SURABAYA

Modul 2 (ICOPIM 8-835)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 3. (No. ICOPIM: 5-530)

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

I. PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS

Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Files of DrsMed FK UNRI (

Karakteristik Tumor Infratentorial dan Tatalaksana Operasi di Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun

BAB II PELAYANAN BEDAH OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN METODE NEURO DEVELOPMENT TREATMENT PADA CEREBRAL PALSY SPASTIK ATETOID HEMIPLEGI DI YPAC SURAKARTA

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Instabilitas Spinal dan Spondilolisthesis

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor pada bulan Juni 2009.

Sosialisasi Kaidah Koding sesuai Permenkes 76 tahun RIRIS DIAN HARDIANI Tim Teknis Ina CBG Kementerian Kesehatan

PERIKARDIOSENTESIS TERBUKA Bedah TKV (ICOPIM 5-371)

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM).

Transkripsi:

MODUL MROSEFALI 1. Definisi Mikrosefali atau Kraniostenosis adalah keadaan dimana satu atau lebih sutura kranial mengalami obliterasi atau osifikasi prematur di saat periode paling cepat pertumbuhan otak yaitu 6 bulan pertama kehidupan ekstrauterin. Hal ini menyebabkan tulang tengkorak berkembang asimetris dan terjadi deformitas wajah, tekanan abnormal dasar tengkorak dan perubahan konveksitas dura. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS Program Magister Neurologi Tesis Program Profesi Bedah Saraf Pogram Bedah Dasar Program Bedah Saraf PROGRAM Dasar KEPROFESIAN (beban dihitung berdasarkan kompetensi) GOLONGAN PENYAKIT & LOKALISASI KONGENITAL ICD 10 - Bab XVII INFEKSI ICD 10 - Bab I Kranial Spinal Kranium NEOPLASMA ICD 10 - Bab II Supratentorial Infratentorial Spinal Saraf Tepi TRAUMA ICD 10 - Bab XIX DEGENERASI ICD 10 - Bab VI & XIII VASKULER ICD 10 - Bab IX Kranial Spinal Saraf Tepi Spinal Saraf Tepi Intrakranial Spinal 1

FUNGSIONAL ICD 10 - Bab VI & XXI Pendidikan spesialisasi bedah saraf terdiri dari 3 tahap, yaitu : Tahap Pengayaan (tahap I): a. Lama pendidikan 5 semester, yaitu dari semester pertama sampai dengan semester kelima, peserta didik diberi ilmu-ilmu dasar maupun bedah saraf dasar. Dalam tahap ini dapat dipergunakan untuk mengambil program magister. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen I, yaitu di ahir masa pendidikan tahap I residen baru mencapai Kompetensi tingkat I. Residen sudah harus mengenal mikrosefali. Tahap Magang (tahap II) : a. Lama pendidikan 4 semester, yaitu dari semester keenam sampai dengan semester kesembilan. Peserta didik mulai dilatih melakukan tindakan bedah saraf. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen II, yaitu di ahir masa pendidikan tahap II residen telah mencapai Kompetensi tingkat II. Residen sudah harus mampu menangani 2 (dua) kas us operatif mikrosefali. Tahap Mandiri (tahap III) : a. Lama pendidikan 2 semester, yaitu dari semester kesepuluh dan semester kesebelas. Peserta didik menyelesaikan pendidikan sampai kompetensi bedah saraf dasar. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen III, yaitu di ahir masa pendidikan tahap III residen telah mencapai kompetensi tingkat III. Residen sudah harus mampu menangani 1 (satu) kasus operatif mikrosefali. Kompetensi bedah saraf dasar : 1. Semua jenis penyakit yang diajarkan dalam masa pendidikan sampai mencapai tingkat mandiri (residen boleh mengerjakan operasi sendiri, dengan tetap dalam pengawasan konsulen) 2. Tehnik operasi yang diajarkan sebagai target ahir pendidikan adalah terbatas pada tindakan operasi konvensional yang termasuk dalam Indeks Kesulitan 1 dan 2; tehnik operasi sulit yang membutuhkan kemampuan motoris lebih tinggi dan/ataupun membutuhkan alat-alat operasi canggih, termasuk dalam Indeks Kesulitan 3 dan 4, diajarkan hanya maksimal sampai tingkat magang. Tindakan operasi dalam kelompok ini merupakan kelanjutan pendidikan yang masuk dalam CPD. JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHA P I Kongenital Bab XVII... TAHAP II TAHAP III 1 2 3 4 S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 G M G M G P 2

ICD 10 TAHA JENIS PENYAKIT P I Kranial... TAHAP II TAHAP III 1 2 3 4 Mikrosefal ( Kraniostenosis ) Q 75.0 2 1 Hidrocephalus Q03.9... Simpel 3 3 Kompleks / malfungsi pirau 3 5 Kista Arahnoid Q 07.6 2 1 Meningokel Anterior Q 01.1 3 3 Meningokel Posterior Q 01.2. 2 2 Deformitas kranium Q 75.8 1 Dandy Walker Malformaion Q 03.1 1 Spinal Spinal Disrafisme Q 05 3 2 Deformitas Atlanto-oksipital Q 67.5 1 Sind. Arnold-Chiary / Siringomieli Q07.0/Q87.2 2 1 KETERANGAN Tingkat Pengayaan, dalam periode ini Tingkat Kognitif harus dapat mencapai 6 (K6) Tingkap Magang, dalam periode ini disamping K6, Psikhomotor harus mencapai 2 (P2) dan Afektif mencapai 3 (A3) Tingkat Mandiri semua Kategori Bloom harus mencapai maksimal, K6, P5, A5 S : Semester G : Magang M : Mandiri K : Kognitif : A : Afektif P : Psikhomotor 3. Tujuan Umum Setelah menyelesaikan sub-modul mikrosefali saraf peserta didik diharapkan mampu mengenali mikrosefali, mampu mengobati mikrosefali yang diajarkan sampai level mandiri serta mampu mengatasi kegawatan akut mikrosefali. 4. Tujuan Khusus 1. Mampu menerangkan insidensi, patogenesis, dan embriogenesis mikrosefali. 2. Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. 3. Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi)dan patologi anatomi dalam menegakkan diagnosa mikrosefali. 4. Mengetahui pengobatan berbagai jenis mikrosefali. 5. Mampu menentukan perubahan neurofisiologi karena mikrosefali. 6. Mampu menentukan lokasi mikrosefali. 7. Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosa mikrosefali. 8. Mampu mengetahui diagnosa banding mikrosefali. 9. Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan diagnosa mikrosefali. 3

10. Mampu melakukan pengobatan medikamentosa mikrosefali. 11. Mampu melakukan tindakan operasi mikrosefali. 12. Mampu mengatasi tindakan pertolongan pertama pada mikrosefali. 13. Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus mikrosefali. 14. Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 15. Mampu memberi informed consent 5. Strategi Pembelajaran a Pengajaran dan kuliah pengantar 50 menit b Tinjauan pustaka b Presentasi ilmu dasar Presentasi kasus Diskusi kelompok 1x telaah kepustakaan 1x Diskusi menyangkut diagnosis, operasi dan penyulit d Bedside teaching 6x ronde e Bimbingan operasi Operasi magang Operasi mandiri Minimal 3 kasus untuk selanjutnya instruksi/evaluasi post operasi Minimal 3 kasus sebelum dapat maju ke ujian kompetensi akhir tingkat nasional 6. Persiapan Sesi 1. Materi kuliah pengantar berupa kisi-kisi materi yang harus dipelajari dalam mencapai kompetensi, mencakup: a. Insidensi, patogenesis, dan embriogenesis mikrosefali. b. Neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi)dan patologi anatomi dalam menegakkan diagnosa mikrosefali. d. Pengobatan berbagai jenis mikrosefali. e. Perubahan neurofisiologi karena mikrosefali. f. Lokasi mikrosefali. g. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosa mikrosefali. 4

h. Diagnosa banding mikrosefali. i. Pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan diagnosa mikrosefali. j. Pengobatan medikamentosa mikrosefali. k. Tindakan operasi mikrosefali. l. Tindakan pertolongan pertama pada mikrosefali. m. Penyulit tindakan bedah pada kasus mikrosefali. n. Tindak lanjut yang diperlukan 2. Audio visual 3. Lampu baca x ray 7. Referensi 1. Osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 2. Wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 3. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 4. Winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 8. Kompetensi Jenis Kompetensi Tingkat Kompetensi K P A a. Mampu menerangkan patogenesis mikrosefali 6 P b. E Mampu menerangkan berbagai jenis kraniostenosis berdasarkan 6 N stenosis sutura kranii G A Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan Y c. tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan iagnose 6 A mikrosefali A N d. e. f. iagnose c untuk mene- 6 2 3 Mampu melakukan pemeriksaan klinis gakkan iagnose mikrosefali iagnose mikrosefali berdasarkan pemerik- 6 2 3 Mampu menegakkan saan klinis Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan mikrosefali 6 2 3 g. Mampu mengetahui iagnose banding mikrosefali 6 2 3 M A G A N G 5

h. Mengetahui pengobatan berbagai jenis mikrosefali 6 2 3 i. Mampu melakukan tindakan suturektomi 6 5 5 M j. Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 6 5 5 A N k. Mampu memberi informed consent 6 5 5 D I R I 9. Gambaran Umum Istilah mikrosefali atau kraniostenosis pertama diperkenalkan oleh Virchow dan digunakan untuk penutupan dini sutura kranial. Pertumbuhan perpendikuler tulang terhadap sutura yang terkena terganggu (teori Virchow). Keadaan ini biasanya tampak saat lahir dan bersamaan dengan anomali lain. Mikrosefali merupakan kasus malformasi kongenital otak yang paling sering dijumpai. Ukuran otak pada kasus ini relatif amat kecil. Perbandingan berat otak terhadap badan pada keadaan normal adalah 1 : 30, sedangkan pada kasus mikrosefalus, perbandingannya menjadi 1 : 100. Bila kasus bisa hidup sampai usia dewasa, biasanya berat otaknya hanya kurang dari 900 gram. Kelainan primer pertumbuhan tengkorak dan deformitas tengkorak sekunder atas lesi intrakranial atau gangguan perkembangan otak harus dibedakan. Kraniostenosis adalah kelainan primer pertumbuhan kranial. Banyak sindroma yang anomali kongenitalnya berkaitan dengan kraniostenosis. Tiga tersering adalah sindroma Apert, sindroma Carpenter, sindroma Crouzon. 10. Contoh Kasus Contoh kasus dibuat sesuai dengan jenis penyakit pada submodul. 11. Tujuan Pembelajaran Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan mengobati mikrosefali. 12. Metoda Metoda Pembelajaran 1 Tinjauan Pustaka 2 Diskusi Kelompok 3 Bed side teaching 6

4 Tindakan Operasi Mandiri a. Peserta didik harus erlebih dahulu melakukan asistensi operasi (magang) sampai mencapai jumlah yang ditentukan, dan kemudian melakukan instruksi pada spesialis pembimbing. Setelah dinyatakan lulus instruksi, baru diijinkan melakukan operasi mandiri. b. Operasi mandiri oleh asisten harus selalu ada spesialis supervisor yang akan menilai keseluruhan aspek yang harus dilakukan oleh asisten terhadap pasien secara mandiri. c. Residen yang memiliki level tertinggi dalam suatu operasi harus membuat laporan operasi dengan berpedoman pada daftar tilik, selanjutnya konsulen/supervisor operasi ini akan memeriksa laporan operasi sesuai daftar tilik dan memberi nilai berdasarkan kelengkapan yang ditetapkan daam daftar tilik. Metoda Diagnostik 1 Pemeriksaan klinis neurologik 2 Alat bantu diagnostik a. Pemeriksaan X ray, b. EMG / EEG c. Alat neuroradiologi lain : CT Scan, MRI 3 Metoda diagnostik yang diajarkan mencakup metode diagnostik konvensional sesuai ketersediaannya di daerah perifer, tidak sematamata berorientasi pada alat-alat dianostik canggih 13. Rangkuman Mikrosefali atau Kraniostenosis adalah keadaan dimana sutura kranial mengalami obliterasi/osifikasi prematur saat pertumbuhan otak ekstrauterin. Hal ini menyebabkan tulang tengkorak berkembang asimetris, deformitas wajah, tekanan abnormal dasar tengkorak dan perubahan konveksitas dura. Istilah mikrosefali atau kraniostenosis pertama diperkenalkan Virchow dan digunakan untuk penutupan dini sutura kranial. Mikrosefali adalah kasus malformasi kongenital otak paling sering dijumpai. Perbandingan berat otak badan pada mikrosefalus, perbandingannya menjadi 1 : 100. Kelainan primer pertumbuhan tengkorak dan deformitas tengkorak sekunder atas lesi intrakranial atau gangguan perkembangan otak harus dibedakan. Kraniostenosis adalah kelainan primer pertumbuhan kranial. Sindroma yang berkaitan dengan kraniostenosis, tiga tersering diantaranya adalah sindroma Apert, sindroma Carpenter, dan sindroma Crouzon. 14. Evaluasi Organisasi Evaluasi 1. Evaluasi dilaksanakan di IPDS Bedah Saraf 7

2. Evaluasi dilakukan minimal oleh Pembimbing di IPDS Bedah Saraf 3. Evaluasi untuk peserta PPDS Bedah Saraf dilakukan sbb a. Untuk penguasaan ilmu dasar (pengayaan) dilakukan pada ahir setiap semester b. Kemampuan menegakkan diagnosa c. Untuk penguasaan kasus dan teknis operasi dilakukan pada setiap akan dilakukan tindakan / operasi. 4. Untuk dokter spesialis bedah lain yang akan mengambil modul-modul bedah saraf tertentu untuk kepentingan penigkatan kompetensi dalam program CPD, waktu disesuaikan pada kodisi yang ada dari modul ini, dengan evaluasi dan tahap penguasaan materi yang dievaluasi sama ketentuan yang berlaku. Tahap Evaluasi 1. Evaluasi tahap pengayaan dilakukan setelah peseta didik menyelesaikan aspek kognitif di tahap pengayaan. 2. Evaluasi tahap magang dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi Sebagai Asisten I sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul 3. Evaluasi tahap mandiri dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi mandiri sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul Metode dan Materi Evaluasi 1. Ujian Tulis dan Lisan 2. Kemampuan menegakkan diagnosa di poliklinik maupun ruang rawat 3. Penilaian kemampuan melakukan tindakan 4. Penilaian kemampuan penanganan penderita secara menyeluruh Hasil Penilaian IPDS 1. Penyelesaian modul harus dapat dicapai dalam kurun waktu yang telah ditetapkan 2. Penilaian disesuaikan dengan kompetensi akhir yang harus dicapai pada setiap sub modul ( pengayaan, magang, mandiri ) 3. Kegagalan dalam 1 aspek harus diulang dalam masa selama stase di Bagian/Departemen Badah Saraf. 15. Instrumen Penilaian Instrumen penilaian dari setiap kegiatan berupa evaluasi yang dilakukan pada setiap tahap pendidikan, intrumen yang dipakai adalah : 1 Kemampuan Inform Concent Instruksi & Bimbingan 8

2 Penilaian Ilmiah a. Teori & Penyakit Diskusi dan Ujian b. Instrument & Penyakit Diskusi dan Ujian 3 Penilaian Kecakapan Poliklinik, Bedside teaching & Kamar Operasi 4 Penilaian Rehabilitasi Instruksi & Bimbingan 16. Penuntun Belajar Kisi-kisi materi dan buku referensi Kisi-kisi materi mikrosefali: a. Insidensi, patogenesis, dan sitogenesis mikrosefali. b. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi)dan patologi anatomi dalam menegakkan diagnosa mikrosefali. c. Pengobatan berbagai jenis mikrosefali. d. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosa mikrosefali. e. Diagnosa banding mikrosefali. f. Pemeriksaan tambahan (ne uroradiologi) dalam menegakkan diagnosa mikrosefali. g. Pengobatan medikamentosa mikrosefali. h. Tindakan operasi mikrosefali. i. Penyulit tindakan bedah pada kasus mikrosefali. j. Tindak lanjut yang diperlukan k. informed consent 17. Daftar Tilik RINCIAN DAFTAR TIL Menentukan indikasi bedah saraf (poliklinik) 1 Uraian tentang keluhan atau gejala utama 2 Cara datang (sendiri/rujukan) 3 Kelengkapan riwayat penyakit 4 Catatan ukuran panjang badan, berat badan, lingkaran kepala, ubun-ubun besar 5 Deskripsi keadaan kulit ADA TA TL L 9

6 Deskripsi kelainan saraf yang dijumpai 7 Pemeriksaan penunjang 8 Hasil konsultasi persiapan operasi 9 Catatan status gizi 10 Obat-obatan yang masih diberikan 11 Inform consent 12 Surat pengantar rawat inap Admission 1 Kelengkapan administrasi 2 Kelengkapan dokumen sesuai daftar tilik poliklinik 3 Buat status Medical Record 4 Cek ulang hasil pemeriksaan di poliklinik 5 Buat rencana perawatan Persiapan Operasi 1 Assesment rencana tindakan, operator dan asisten 2 Konsul toleransi operasi 3 Buat daftar operasi Pra-Bedah 1 Konsul anestesi 2 Asisten lapor pada operator 3 Persiapan menjelang operasi Kamar Operasi 1 Dokumen yang disertakan bersama pasien 2 Keadaan pasien 3 Persiapan pasien 4 Dilakukan narkose umum 5 Dipasang kateter 6 Posisi pasien diatur sesuai standar 7 Dipasang blanket pemanas 8 Persiapan daerah operasi 9 Tindakan operasi 10 Jumlah perdarahan tercatat 11 Jumlah urine tercatat 12 Jumlah kassa yang dipakai tercatat 10

13 Jumlah dan jenis instrumen sesuai prosedur 14 Keadaan pasien pasca bedah dievaluasi Pasca Bedah 1 Dokumentasi 2 Catatan perawatan Pemulangan 1 Catatan keadaan pasien 2 Inform consent pada yang merawat 3 Jadwal kontrol dan konsultasi pada dokter spesialis anak 4 Kelengkapan status dan diagnosa 5 Catatan administrasi & keuangan 18. Materi Baku Materi baku kelainan kongenital susunan saraf disusun berdasarkan tujuan pendidikan. Secara rinci disusun pada tujuan khusus. Materi dirinci menjadi berbagai jenis penyakit pada submodul yang disesuaikan dengan kompetensi mandri yang harus dicapai ( matriks hijau ) Sebagai gambaran umum berbagai penyakit yang harus dikuasai sebagai berikut : Mikrosefali / Kraniostenosis Definisi Mikrosefali atau Kraniostenosis adalah keadaan dimana satu atau lebih sutura kranial mengalami obliterasi atau osifikasi prematur di saat periode paling cepat pertumbuhan otak yaitu 6 bulan pertama kehidupan ekstrauterin. Hal ini menyebabkan tulang tengkorak berkembang asimetris dan terjadi deformitas wajah, tekanan abnormal dasar tengkorak dan perubahan konveksitas dura. Mikrosefali diklasifikasikan kedalam tiga kelompok, sesuai penyebabnya: o Mikrosefali primer jinak berkaitan dengan faktor genetik. Mikrosefali genetik ini termasuk mikrosefali familial dan mikrosefali akibat aberasi khromosom. o Mikrosefali akibat penutupan sutura prematur ( kraniostenosis). Jenis mikrosefali ini berakibat bentuk kepala abnormal, namun pada kebanyakan kasus tak ada anomali serebral yang jelas. o Mikrosefali sekunder terhadap atrofi serebral. Mikrosefali sekunder dapat disebabkan oleh infeksi intrauterin seperti penyakit inklusi sitomegalik, rubella, sifilis, toksoplasmosis, dan herpes simpleks; radiasi, hipotensi sistemik maternal, insufisiensi plasental; anoksia; penyakit sistemik maternal seperti diabetes mellitus, penyakit renal kronis, fenilketonuria; dan kelainan perinatal serta pascanatal seperti asfiksia, infeksi, trauma, 11

kelainan jantung kronik, serta kelainan paru-paru dan ginjal. Jenis mikrosefali ini berhubungan dengan retardasi mental. Epidemiologi Mikrosefali kasus malformasi kongenital otak yang paling sering dijumpai. Ukuran otak pada kasus ini relatif amat kecil dan karena pertumbuhannya terhenti maka ukuran tengkorak sebagai wadahnya pun juga kecil. Perbandingan berat otak terhadap badan yang normal adalah 1 : 30, sedangkan pada kasus mikrosefalus, perbandingannya dapat menjadi 1 : 100. Bila kasus bisa hidup sampai usia dewasa, biasanya berat otaknya hanya kurang dari 900 gram Etiologi Mikrosefali diklasifikasikan kedalam tiga kelompok, sesuai penyebabnya: o o o Mikrosefali primer jinak berkaitan dengan faktor genetik. Mikrosefali akibat penutupan sutura prematur (kraniostenosis). Mikrosefali sekunder terhadap atrofi serebral. Mikrosefali sekunder dapat disebabkan oleh infeksi intrauterin; radiasi, hipotensi sistemik maternal, insufisiensi plasental; anoksia; penyakit sistemik maternal dan kelainan perinatal serta pascanatal. Manifestasi Klinis Secara manifestasi klinis, pada mikrosefali kepala lebih kecil dari pada normal, ubun-ubun besar terbuka dan kecil. Didapatkan retardasi mental, didapatkan pula gejala motorik berupa diplegia spastik, hemiplegia dan sebagainya. Juga dapat ditemukan terlambat bicara dan kejang. Tampilan kasus mikrosefallus yang khas adalah tulang frontal dan fosa anterior yang kecil. Secara patologis terdapat kelainan seperti hipoplasia serebri, pakigiria, mikrogiria, porensefali, atrofi serebri. Biasanya ditemukan penutupan fontanel dan sutura-sutura tengkorak sebelum waktunya (premature closu re). Anak dengan microgyria dapat hidup sampai dewasa. Yang berukuran kecil biasanya tidak menutupi serebelum dan corak girus-girus kortikalnya abnormal. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain adalah foto polos kepala dan CT Scan kepala. Untuk mengetahui penyebab terjadinya mikrosefal, dapat dilakukan analisis kromosom dan foto polos dada diperlukan untuk memastikan tiadanya klavikula. Tatalaksana Tindakan terhadap kraniostenosis ditujukan kepada pemberian kesempatan kepada tengkorak untuk ekspansi. Sutura dibuat secara operasi hingga perubahan yang irreversibel terjadi pada otak. Karena otak pertumbuhannya 12

mencapai 85 persen pada usia tiga tahun, maka operasi harus dilakukan sesegera mungkin, sebaiknya dalam enam bulan sejak lahir. Sinostosis sutura multipel memerlukan operasi dini untuk membuang tekanan kranium terhadap otak. Bahkan pada sinostosis sutura tunggal, operasi dini diperlukan untuk memperbaiki deformitas kranial. Hasil yang baik dapat dicapai setelah usia satu tahun bila koreksi dikombinasi dengan tindakan bedah terhadap dasar tengkorak. 19. Algoritme 20. Kepustakan 1. Osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 2. Wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 3. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 4. Winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 13

21. Presentasi Materi presentasi menggunakan materi dalam bentuk power point sesuai dengan materi modul mikrosefali. 22. Model Model pembelajaran dapat menggunakan diseksi kadaver. 14