PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 245 Telp. 3952825 30 psw. 3952812 GRESIK LAPORAN AKHIR Penyusunan Environmental Health Risk Assessment (EHRA) Kabupaten Gresik TAHUN 2015
KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas taufik dan hidayah-nya, sehingga pelaksanaan studi EHRA Kabupaten Gresik tahun 2015 serta penulisan Laporan Studi EHRA dapat kami selesaikan dengan baik. Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan atau Environmental Health Risk Assessment (EHRA) adalah studi untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku- perilaku yang memiliki resiko pada kesehatan warga. Fasilitas sanitasi yang diteliti mencakup : sumber air minum, layanan pembuangan sampah, jamban, saluran air limbah dan saluran lingkungan. Pada aspek perilaku, hal-hal yang terkait dengan higinitas dan sanitasi, antara lain : cuci tangan pakai sabun, buang air besar, pembuangan kotoran anak dan pemilahan sampah, serta kondisi drainase atau saluran limbah domestik. Penyusunan Laporan Studi EHRA Kabupaten Gresik telah mengakomodasi seluruh masukan berbagai pihak, khususnya Pokja Sanitasi dan umumnya para Stakeholders yang ada yaitu SKPD terkait, kelompok/masyarakat peduli sanitasi, pihak kelurahan dan kecamatan. Semoga Laporan Studi EHRA ini dapat bermanfaat dan memperkaya materi dan juga menjadi masukan utama dalam penyusunan Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kabupaten Gresik tahun 2015. Gresik, Juli 2015 Ketua Pokja Sanitasi Kab. Gresik ( i )
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...... DAFTAR ISI...... DAFTAR GAMBAR...... DAFTAR TABEL...... i iii iv v BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1 1 1.2. Tujuan... 1 2 1.3. Pelaksana Studi... 1 2 1.4. Wilayah Cakupan... 1 3 1.5. Metodologi... 1 3 1.6. Pembiayaan... 1 4 BAB 2 METODOLOGI DAN LANGKAH STUDI EHRA 2.1. Penentuan Kebijakan Sampel Pokja Sanitasi Kabupaten Gresik... 2 1 2.2. Penentuan Strata Desa / Kelurahan... 2 2 2.3. Penentuan Jumlah Desa / Kelurahan Target Area Studi... 2 11 2.4. Penentuan RW/RT dan Responden di Area Studi 2 13 2.5. Karakteristik Enumerator dan Supervisor serta Wilayah Tugasnya. 2 14 BAB 3 HASIL STUDI EHRA 3.1. Informasi Responden... 3 1 3.2. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga... 3 3 3.3. Pembuangan Air Kotor/ Limbah Tinja Manusia dan Lumpur Tinja... 3 5 3.4. Drainase Lingkungan/ Selokan Sekitar Rumah dan Banjir... 3 8 3.5. Pengelolaan Air Minum Rumah... 3 14 ( ii )
3.6. Perilaku Higiene... 3 16 3.7. Kejadian Penyakit Diare... 3 19 3.8. Indeks Resiko Sanitasi (IRS)... 3 20 BAB 4 PENUTUP 4 1 ( iii )
DAFTAR GAMBAR ( iv )
DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Kategori Strata berdasarkan kriteria indikasi lingkungan berisiko 2-3 Tabel 2.2. Hasil klastering/stratifikasi desa/ kelurahan di Kabupaten Gresik 2-3 Tabel 2.3. Jumlah desa/kelurahan Target Area Studi EHRA 2-12 Tabel 2.4. Desa/Kelurahan Terpilih sebagai area studi EHRA 2-12 Tabel 3.1. Informasi Responden Kabupaten Gresik 3-2 Tabel 3.2. Area Berisiko Persampahan Berdasarkan Hasil Studi EHRA... 3-4 Tabel 3.3. Area Berisiko Air Limbah Domestik... 3-8 Tabel 3.4. Area Berisiko Genangan Air... 3-12 Tabel 3.5. Area Risiko Sumber Air... 3-16 Tabel 3.6. Area Berisiko Perilaku Higiene dan Sanitasi... 3-18 Tabel 3.7. Kejadian Diare pada Penduduk... 3-19 Tabel 3.8. Hasil Penghitungan Indeks Resiko Sanitasi... 3-21 ( v )
DAFTAR GRAFIK Grafik 3.1 Pengelolaan Sampah Rumah Tangga... 3-3 Grafik 3.2 Perilaku Praktik Pemilahan Sampah Rumah Tangga... 3-4 Grafik 3.3 Persentase Tempat Buang Air Besar... 3-5 Grafik 3.4 Tempat Penyaluran Akhir Tinja... 3-6 Grafik 3.5 Waktu Terakhir Pengurasan Tanki Septik... 3-6 Grafik 3.6 Praktik Pengurasan Tanki Septik... 3-7 Grafik 3.7 Persentase Tanki Septik Suspek Aman dan Tidak Aman... 3-8 Grafik 3.8 Persentase Rumah Tangga yang Pernah Mengalami Banjir... 3-9 Grafik 3.9 Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Banjir Rutin... 3-9 Grafik 3.10 Lama Air Menggenang Jika Terjadi Banjir... 3-10 Grafik 3.11 Grafik Lokasi Genangan Di Sekitar Rumah... 3-11 Grafik 3.12 Persentase Kepemilikan SPAL... 3-11 Grafik 3.13 Akibat Tidak Memiliki SPAL Rumah Tangga... 3-12 Grafik 3.14 SPAL yang Berfungsi Berdasarkan Strata 3-13 Grafik 3.15 Pencemaran SPAL Berdasarkan Strata. 3-13 Grafik 3.16 Akses Terhadap Air Bersih... 3-14 Grafik 3.17 Sumber Air Minum dan Memasak... 3-15 Grafik 3.18 CTPS di Lima Waktu Penting... 3-16 Grafik 3.19 Waktu Melakukan CTPS... 3-17 Grafik 3.20 Prilaku Buang Air Besar... 3-18 Grafik 3.21 Persentase Kejadian Diare... 3-19 Grafik 3.22 Indeks Resiko Sanitasi (IRS)... 3-20 ( vi )
1.1 Latar Belakang Mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 2019, yang mengamanatkan pencapaian 100 persen akses (Universal Access) air minum dan sanitasi. Oleh sebab itu, dalam rangka memperkuat upaya pembudayaan hidup bersih dan sehat, mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan, meningkatkan kemampuan masyarakat, serta mengimplementasikan komitmen Pemerintah untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar yang berkesinambungan, maka pemerintah segera melakukan upaya percepatan pembangunan sanitasi permukiman secara menyeluruh, berkelanjutan dan terpadu di daerah dengan mengacu pada pengelolaan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman. Kabupaten Gresik sebagai salah satu peserta Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) Tahun 2015 second cycle (putaran kedua) yang ditunjuk oleh Pemerintah Pusat, diwajibkan untuk melaksanakan penyusunan Dokumen Sanitasi, dalam penyusunan dokumen tersebut terdapat kajian berupa Studi Environmental Health Risk Assesment (Studi EHRA). Studi Environmental Health Risk Assessment (Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan) atau umumnya disebut Studi EHRA adalah sebuah survei partisipatif di Kabupaten Gresik untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku-perilaku masyarakat pada skala rumah tangga. Data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk advokasi di tingkat kota, kecamatan hingga kelurahan. Data yang dikumpulkan dari studi EHRA tahun 2015 akan digunakan Kelompok Kerja Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman (POKJA Sanitasi) Kabupaten Gresik sebagai salah satu bahan untuk menyusun pemutakhiran Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kabupaten Gresik tahun 2015. ( 1-1 )
Kota dipandang perlu melakukan Studi EHRA karena: 1. Pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat. 2. Data terkait dengan sanitasi terbatas di mana data umumnya tidak bisa dipecah sampai tingkat kelurahandan data tidak terpusat melainkan berada di berbagai kantor yang berbeda. 3. Isu sanitasi dan higiene masih dipandang kurang penting sebagaimana terlihat dalam prioritas usulan melalui Musrenbang. 4. Terbatasnya kesempatan untuk dialog antara masyarakat dan pihak pengambil keputusan. 5. EHRA menggabungkan informasi yang selama ini menjadi indikator sektorsektor pemerintahan secara eksklusif. 6. EHRA secara tidak langsung memberi amunisi bagi stakeholders dan warga di tingkat kelurahanuntuk melakukan kegiatan advokasi ke tingkat yang lebih tinggi maupun advokasi secara horizontal ke sesama warga atau stakeholders kelurahan 7. EHRA adalah studi yang menghasilkan data yang representatif di tingkat kota dan kecamatan dan dapat dijadikan panduan dasar di tingkat kelurahan. 1.2 Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dibagi dalam dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari studi ini yaitu mendapatkan gambaran jelas tentang sarana dan prasarana sanitasi dan perilaku masyarakat yang berisiko terhadap kesehatan berdasarkan data primer. Sedangkan tujuan khususnya yaitu: 1. Mendapatkan gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku yang beresiko terhadap kesehatan lingkungan. 2. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi. 3. Menyediakan informasi dasar yang akurat dalam penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan. 1.3 Pelaksana Studi Dalam rangka melaksanakan Studi EHRA, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Gresik mengeluarkan Surat Keputusan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) ( 1-2 )
Kabupaten Gresik tentang Pembentukan Tim Studi EHRA (Environmental Health Risk Asessment)/ Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman (PPSP) Kabupaten Gresik Tahun 2015 yang melibatkan petugas kesehatan dan masyarakat. Tim Studi EHRA terdiri dari Panitia Pelaksana Kegiatan Studi EHRA dan Tim Pengelola Kegiatan dan Data Studi EHRA. Tim Pengelola Kegiatan terdiri dari tim analisa dan pelaporan, tim logistik dan perlengkapan, supervisor lapangan, tim entri data dan tim enumerator. Pelaksana supervisor lapangan untuk studi EHRA dilaksanakan oleh petugas sanitarian/ kesehatan lingkungan. Sedangkan pelaksana untuk tim enumerator dilaksanakan oleh kader/ masyarakat dari 38 desa/kelurahan, sebanyak 2 orang setiap kelurahan (76 Enumerator). 1.4 Wilayah Cakupan Wilayah cakupan studi EHRA adalah 38 desa/kelurahan yang mewakili seluruh kelurahan (356 desa/kelurahan) di Kabupaten Gresik dengan rumah tangga sebagai responden. 1.5 Metodologi Pelaksanaan Studi EHRA dilaksanakan menggunakan metode penentuan target area survei secara geografi dan demografi melalui proses yang dinamakan clustering. Hasil klastering digunakan sebagai indikasi awal lingkungan berisiko. Teknik pengambilan sampel menggunakan probablility random sampling (peluang yang sama pada semua populasi). Metoda sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Kriteria cluster dilihat berdasarkan kepadatan penduduk, angka kemiskinan, Daerah/wilayah yang dialiri sungai/ kali/ saluran drainase/ saluran irigasi dengan potensi digunakan sebagai MCK & pembuangan sampah, daerah yang sering terkena banjir. Unit sampling utama (Primary Sampling) adalah RT (Rukun Tetangga). Unit sampling ini dipilih secara proporsional dan random berdasarkan total RT di semua RW dalam setiap Desa/Kelurahan yang telah ditentukan menjadi area survey. Jumlah sampel RT per Desa/Kelurahan minimal 8 RT dan jumlah sampel per RT sebanyak 5 responden. Dengan demikian jumlah sampel per desa/kelurahan adalah 40 ( 1-3 )
responden. Dengan metode ini terpilih 38 desa/kelurahan dan 1520 responden sebagai sampel. Yang menjadi responden adalah Ibu atau anak prempuan yang sudah menikah, dan berumur antara 18 s/d 60 tahun. 1.6 Pembiayaan Pembiayaan studi EHRA ini dianggarkan dari APBD Kabupaten Gresik Tahun 2015 untuk program Program Perencanaan Pengembangan Kota-kota Menengah dan Besar, Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Gresik. ( 1-4 )
2.1. Penentuan Kebijakan Sampel Pokja Sanitasi Kabupaten Gresik Sesuai dengan kebijakan Pokja Sanitasi Kabupaten Gresik dalam menentukan jumlah responden adalah sebanyak 1520 responden atau 38 desa/kelurahan sebagai sampel dari 356 desa/kelurahan, hal ini disesuaikan dengan jumlah anggaran untuk pelaksanaan EHRA yang terbatas. Berdasarkan kaidah statistik, untuk menentukan jumlah sampel minimum dalam skala kabupaten/kota dapat menggunakan Rumus Slovin sebagai berikut: Dimana: n adalah jumlah sampel N adalah jumlah populasi d adalah persentase toleransi ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir 5% (d = 0,05) Asumsi tingkat kepercayaan 95%, karena menggunakan α=0,05, sehingga diperoleh nilai Z=1,96 yang kemudian dibulatkan menjadi Z=2. Dimana dari rumus tersebut didapatkan minimal jumlah responden adalah 399 atau dibulatkan menjadi 400 responden, tiap desa minimal 40 responden sehingga total minimal 10 desa/kelurahan, sehingga kebijakan pokja sanitasi ( 2-1 )
kabupaten Gresik dengan menentukan sebanyak 1520 responden atau 38 desa/kelurahan sudah memenuhi syarat minimal rumus slovin. 2.2. Penentuan Strata Desa / Kelurahan Metode penentuan target area survei studi EHRA secara geografi dan demografi melalui proses yang dinamakan Klastering/stratifikasi. Proses pengambilan sampel dilakukan secara random sehingga memenuhi kaidah Probability Sampling. Berdasarkan kaidah ini setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel. Dengan demikian metoda sampling yang digunakan adalah Cluster Random Sampling. Teknik ini sangat cocok digunakan untuk menentukan jumlah sampel jika area sumber data yang akan diteliti sangat luas. Pengambilan sampel dilakukan di daerah populasi yang telah ditetapkan sebagai target area survei. Kriteria utama penetapan klaster tersebut adalah sebagai berikut: a) Kepadatan penduduk, yaitu jumlah penduduk per luas wilayah. Pada umumnya tiap kabupaten/ kota telah mempunyai data kepadatan penduduk sampai dengan tingkat kecamatan dan kelurahan/ desa. b) Angka kemiskinan, dengan indikator yang datanya mudah diperoleh tapi cukup representatif menunjukkan kondisi sosial ekonomi setiap kecamatan dan/atau kelurahan/ desa. Sebagai contoh ukuran angka kemiskinan bisa dihitung berdasarkan proporsi jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera 1. c) Daerah/wilayah yang dialiri sungai/ saluran drainase/ saluran irigasi, dengan potensi digunakan sebagai MCK dan pembuangan sampah oleh masyarakat setempat d) Daerah terkena banjir dan dinilai mengangggu ketentraman masyarakat, dengan parameter ketinggian air, luas daerah banjir/genangan, lamanya surut. Berdasarkan kriteria di atas, klastering wilayah Kabupaten Gresik menghasilkan katagori klaster sebagaimana dipelihatkan pada Error! Reference source not found.. Wilayah (kecamatan atau desa/kelurahan) yang terdapat pada klaster tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik/homogen dalam hal tingkat risiko kesehatannya. Dengan demikian, kecamatan/desa/kelurahan yang menjadi area survey pada suatu klaster akan mewakili kecamatan/desa/kelurahan lainnya yang bukan merupakan area survey pada ( 2-2 )
klaster yang sama. Berdasarkan asumsi ini maka hasil studi EHRA ini bisa memberikan peta area berisiko Kabupaten Gresik. Tabel 2.1. Kategori Strata berdasarkan kriteria indikasi lingkungan berisiko Katagori Klaster Klaster 0 Kriteria Wilayah desa/kelurahan yang tidak memenuhi sama sekali kriteria indikasi lingkungan berisiko. Klaster 1 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 1 kriteria indikasi lingkungan berisiko Klaster 2 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 2 kriteria indikasi lingkungan berisiko Klaster 3 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 3 kriteria indikasi lingkungan berisiko Klaster 4 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 4 kriteria indikasi lingkungan berisiko Klastering wilayah di Kabupaten Gresik menghasilkan katagori klaster /Strata sebagaimana dipelihatkan pada Error! Reference source not found.. Wilayah (kecamatan atau desa/kelurahan) yang terdapat pada klaster tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik/homogen dalam hal tingkat risiko kesehatannya. Dengan demikian, kecamatan/desa/kelurahan yang menjadi area survey pada suatu klaster akan mewakili kecamatan/desa/kelurahan lainnya yang bukan merupakan area survey pada klaster yang sama. Tabel 1.2. Hasil klastering/stratifikasi desa/ kelurahan di Kabupaten Gresik Strata Jumlah Desa/Kel Kecamatan Desa 0 0 - - 1 106 Wringinanom Lebanisuko Watestanjung Pedagangan Sembung Sumberwaru Kepuhklagen Sumbergede Kesambenkulon Driyorejo Mulung Tenaru ( 2-3 )
Strata Jumlah Desa/Kel Kecamatan Desa Kedamean Menganti Cerme Benjeng Balongpanggang Sumput Tanjungan Mojosarirejo Wedoroanom Gadung Mojowuku Sidoraharjo Slempit Belahanrejo Manunggal Banyuurip Ngepung Kedamean Tanjung Katimoho Turirejo Tulung Pranti Bringkang Mojotengah Menganti Hulaan Sidowungu Setro Laban Pengalangan Randupadangan Drancang Pelemwatu Sidojangkung Domas Gadingwatu Boteng Gempolkurung Cagakagung Semampir Kambingan Gedangkulut Padeg Dermo Kedungsekar Sirnoboyo Karangankidul Karangsemanding Wahas Bandungsekaran ( 2-4 )
Strata Jumlah Desa/Kel Kecamatan Desa Duduksampeyan Kebomas Manyar Bungah Sidayu Dukun Panceng Mojogede Dohoagung Pinggir Ganggang Tambakrejo Setrohadi Sumengko Gredek Tirem Petisbenem Palebon Glanggang Pandanan Wadak Kidul Prambangan Tenggulunan Karangkiring Ngargosari Kawisanyar Sidomukti G i r i Klangonan Sekarkurung Kebomas S u c i Manyar Sidomukti Betoyoguci Betoyokauman Sumberejo K i s i k Abar-abir Sidokumpul Pegundan Kemangi Sukorejo Racitengah Golokan Sambi Pondok Gedangan Sembungananyar Sumurber Serah Sukodono Petung Wotan ( 2-5 )
Strata Jumlah Desa/Kel Kecamatan Desa Ujungpangkah Tambak D o u d o Pantenan Tanjangawan Kebonagung Sukalela 2 150 Wringinanom Lebaniwaras Mondoluku Sooko Driyorejo Driyorejo Cangkir Petiken Kesambenwetan Banjaran Karangandong Randegansari Kedamean Lampah Menganti Cerme Benjeng Balongpanggang Beton Putatlor Kepatihan Hendrosari Ngembung Guranganyar Dampaan Kandangan Ngabetan Betiting Cerme Kidul Wedani Banjarsari Balongtunjung Balongmojo Sedapurklagen Kedungrukem Munggugianti Gluranploso Klampok Kalipadang Munggugebang Banter Jogodalu Metatu Punduttrate Jatirembe Brangkal Ngampel ( 2-6 )
Strata Jumlah Desa/Kel Kecamatan Desa Duduksampeyan Kebomas Gresik Manyar Tanahlandean Dapet Wonorejo Banjaragung Kedungpring Pucung Balongpanggang Kedungsumber Babatan Pacuh Tenggor Klotok Ngasin Sumari Samirplapan Duduksampeyan Bendungan Kedanyang Segoromadu Singosari Sidomoro Gending Kembangan Dahanrejo Ngipik Tlogopatut Kramatinggil Sidorukun Sukorame Karangturi Trate Bedilan Kebungson Pekelingan Tlogopojok Yosowilangun R o o m o Banjarsari L e r a n Manyarejo Manyar Sidorukun Karangrejo Tanggulrejo Ngampel Pejangganan Morobakung ( 2-7 )
Strata Jumlah Desa/Kel Kecamatan Desa Bungah Sidayu Dukun Panceng Ujungpangkah Sangkapura Melirang Masangan Sukorejo Bedanten Watuagung Tanjung Widoro Sungonlegowo Indrodelik Raciwetan Gumeng Lasem Kertosono Raci Kulon Ngawen Mojo Asem Asem Papak Mriyunan Sido Mulyo Purwodadi Bunderan Kauman Pengulu Srowo Wadeng Wonokerto Lowayu Petiyin Tunggal Tebuwung Mentaras Mojopetung Ima'an Sambogunung Sembungan Kidul Surowiti Siwalan Ketanen Prupuh Sekapuk Bolo Glatik Ketapanglor Karangrejo Cangaan Sungaiteluk Kotakusuma Sawahmulya ( 2-8 )
Strata Jumlah Desa/Kel Kecamatan Desa Sungairujing D a u n Sidogedungbatu Gunungteguh Patarselamat Pudakittimur Tambak Telukjatidawang G e l a m Sukaoneng Klompaggubug Pekalongan Tambak Grejeg Tanjungori Paromaan Diponggo Kepuhteluk Kepuhlegundi 3 87 Wringinanom Kedunganyar Sumberame Wringinanom Sumengko Pasinanlemahputih Driyorejo Krikilan Bambe Kedamean Glindah Cermen Lerek Menganti Boboh Cerme Benjeng Balongpanggang Duduksampeyan Dadapkuning Sukoanyar Morowudi Lengkong Iker-iker Geger Pandu Jono Tambakberas Cerme Lor Bulangkulon Deliksumber Bengkelolor Bulurejo Jombangdelik Sekarputih Wotansari Kandangan ( 2-9 )
Strata Jumlah Desa/Kel Kecamatan Desa Kebomas Gresik Manyar Bungah Sidayu Dukun Tumapel Panjunan Ambeng-ambengwatangrejo Tebaloan Wadak Lor Kawistowindu Kemudi Gulomantung Sukorejo I n d r o Randuagung Sidokumpul Pulopancikan Gapurosukolilo Tlogobendung Pekauman Karangpoh Kemuteran Sukodono Kroman Lumpur Tebalo Sukomulyo Pongangan Peganden Banyuwangi Sembayat Gumeno Mojopurogede Mojopurowetan Sidorejo Sukowati Bungah Kramat Sedagaran Sawo Karangcangkring Bulangan Tiremenggal Baron Babakbowo Babaksari Kalirejo Dukunanyar Padang Bandung ( 2-10 )
Strata Jumlah Desa/Kel Kecamatan Desa Panceng Dalegan Campurejo Banyutengah Ujungpangkah Gosari Ngemboh Banyu Urip Pangkah Wetan Sangkapura Kumalasa l e b a k Bululanjang Kebuntelukdalam Balikterus Pudakitbarat Suwari Dekatagung 4 13 Cerme Dooro Dungus Benjeng Lundo 356 Duduksampeyan Bungah Sidayu Dukun Ujungpangkah Kramat Sidomukti Randu Boto Gedung Kedo'an Bangeran Dukuh Kembar Madumulyorejo Jrebeng Sekargadung Pangkah Kulon 2.3. Penentuan Jumlah Desa / Kelurahan Target Area Studi Setelah ditentukan jumlah desa sesuai sesuai strata maka bisa ditentukan desa terpilih untuk dilakukan studi / survey. Sesuai kebijakan pokja sanitasi kabupaten Gresik yang menetapkan jumlah 38 desa/kelurahan atau 1520 responden untuk dilakukan survey, maka dapat ditentukan jumlah desa terpilih yang mewakili strata masing-masing sesuai table berikut : ( 2-11 )
Tabel 2.3. Jumlah desa/kelurahan Target Area Studi EHRA Strata Desa per Strata Desa Area Studi per Strata Jumlah % Jumlah % 0 0 0 0 0 1 106 30 11 30 2 150 42 16 42 3 87 24 9 24 4 13 4 2 4 Jumlah 356 100 38 100 Dari hasil penentuan jumlah desa/kelurahan area studi, maka dengan cara random ditentukan desa / kelurahan sebagai area studi/survey, sesuai table berikut : Strata Tabel 2.4. Desa/Kelurahan Terpilih sebagai area studi EHRA Jumlah Desa/Kel Terpilih Nama Desa Terpilih Kecamatan 0 0 - - 1 11 Kesambenkulon Wiringinamom Sumput Tanjung Gadingwatu Mojogede Petisbenem Sekarkurung Betoyoguci Pegundan Sambi Pondok Driyorejo Kedamean Menganti Balongpanggang Duduksampeyan Kebomas Manyar Bungah Sidayu Pantenan Panceng 2 16 Petiken driyorejo Hendrosari Metatu Pacuh Sumari Indrodelik Menganti Benjeng Balongpanggang Duduksampeyan Bungah ( 2-12 )
Strata Jumlah Desa/Kel Terpilih Nama Desa Terpilih Kecamatan Srowo Lowayu Prupuh Ketapanglor Dahanrejo Ngipik Ngampel Banjarsari Klampok Kertosono Sidayu Dukun Panceng Ujungpangkah Kebomas Gresik Manyar Cerme Benjeng Sidayu 3 9 Wringinanom Wringinanom Cermen Lerek Morowudi Sukorejo Lumpur Peganden Banyutengah Gosari Bulurejo Kedamean Cerme Kebomas Gresik Manyar Panceng Ujungpangkah Benjeng 4 2 Dungus Cerme Jumlah 38 Sekargadung Dukun 2.4. Penentuan RW/RT dan Responden di Area Studi Unit sampling primer (PSU = Primary Sampling Unit) dalam EHRA adalah RT. Karena itu, data RT per RW per kelurahan mestilah dikumpulkan sebelum memilih RT. Jumlah RT per kelurahan minimal adalah 8 (delapan) RT. Untuk menentukan RT terpilih, silahkan ikuti panduan berikut : a. Urutkan RT per RW per kelurahan. b. Tentukan Angka Interval (AI). Untuk menentukan AI, perlu diketahui jumlah total RT total dan jumlah yang akan diambil. Jumlah total RT kelurahan : X Jumlah RT yang akan diambil : Y ( 2-13 )
Maka angka interval (AI) = jumlah total RT kelurahan / jumlah RT yang diambil. AI = X/Y (dibulatkan) misal pembulatan ke atas menghasilkan Z, maka AI = Z c. Untuk menentukan RT pertama, kocoklah atau ambillah secara acak angka antara 1 Z (angka random). Sebagai contoh, angka random (R#1) yang diperoleh adalah 3. d. Untuk memilih RT berikutnya adalah 3 + Z=... dst. Rumah tangga responden dipilih dengan menggunakan cara acak (random sampling). Hal ini bertujuan agar seluruh rumah tangga memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Artinya, penentuan rumah tangga responden bukan bersumber dari preferensi enumerator/ supervisor ataupun keinginan responden itu sendiri. Tahapannya sebagai berikut : a) Pergi ke RT terpilih. Minta daftar rumah tangga atau bila tidak tersedia, buat daftar rumah tangga berdasarkan pengamatan keliling dan wawancara dengan penduduk langsung. b) Bagi jumlah rumah tangga (misal 25) dengan jumlah sampel minimal yang akan diambil, misal 5 (lima) diperoleh Angka Interval (AI) = 25/5 = 5 c) Ambil/kocok angka secara random antara 1 AI untuk menentukan Angka Mulai (AM), contoh dibawah misal angka mulai 2 d) Menentukan rumah selanjutnya adalah 2 + AI, 2 + 5 = 7 dst. 2.5. Karakteristik Enumerator dan Supervisor serta Wilayah Tugasnya Lokasi pelaksanaan survei studi EHRA 2015 di Kabupaten Gresik terdapat di 38 desa/kelurahan yang tersebar di 16 kecamatan dari 18 kecamatan di kabupaten Gresik dengan jumlah responden sebesar 1.520 responden. Oleh Tim EHRA Pokja sanitasi Kabupaten Gresik, menggunakan enumerator sejumlah 76 enumerator dengan rincian setiap kelurahan ditugaskan 2 enumerator yang berasal dari kader posyandu di setiap kelurahan. Adapun untuk supervisor, diambilkan dari sanitarian puskesmas di wilayah Kabupaten Gresik. Wilayah tugas masing-masing supervisor juga didasarkan dari wilayah tugas masing-masing puskesmas. ( 2-14 )
3.1. Informasi Responden Sampel adalah bagian dari populasi, dimana anggotanya merupakan anggota yang dipilih dari populasi. Kelurahan, RT ( Rukun Tetangga ) Area Studi maupun Responden/ Sampel Studi EHRA diharapkan dapat merepresentasikan/ mewakili sifat dari populasi yang diwakilinya. Dalam Studi EHRA tahun 2015, Kabupaten Gresik menggunakan metode clastering atau stratifikasi dan menentukan 38 desa/kelurahan atau 1520 responden sebagai area studi. Unit sampling utama (Primary Sampling) pada Studi EHRA adalah RT (Rukun Tetangga) dan dipilih secara random berdasarkan total RT di semua RW dalam setiap desa/kelurahan terpilih sebagai area strudi di Kabupaten Gresik. Jumlah sampel RT per kelurahan dipilih berdasarkan jumlah minimal responden per kelurahan yaitu sejumlah 40 responden. Sehingga total jumlah responden di Kabupaten Gresik yaitu 40 responden dikalikan dengan 38 desa/kelurahan menjadi 1520 responden. Responden dalam studi EHRA adalah ibu atau anak perempuan yang sudah menikah dan berumur antara 18 s/d 60 tahun. Responden terbanyak adalah pada kelompok umur > 45 tahun sebesar 27,5%. Pendidikan terakhir responden yang paling banyak diwawancarai adalah responden dengan pendidikan SMA sebanyak 33,8%. Responden yang memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebanyak 16,8% dan responden yang memiliki asuransi kesehatan bagi keluraga miskin sebanyak 30,7%. Responden yang diwancarai telah memiliki anak sebanyak 94% responden. Status kepemilikan rumah yang ditinggali oleh responden sebanyak 80% adalah milik sendiri. ( 3-1 )
Informasi lengkap responden EHRA di Kabupaten Gresik dapat dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1 Informasi Responden Kabupaten Gresik Strata Desa/Kelurahan Total 1 2 3 4 9 10 Kelompok Umur Responden B2. Apa status dari rumah yang anda tempati saat ini? B3. Apa pendidikan terakhir anda? n % n % n % n % n % <= 20 tahun 2,5 5,8 1,3 2 2,5 10,7 21-25 tahun 27 6,1 27 4,2 25 7,0 4 4,9 83 5,5 26-30 tahun 39 8,9 92 14,4 49 13,7 7 8,6 187 12,3 31-35 tahun 80 18,2 127 19,9 65 18,2 13 16,0 285 18,8 36-40 tahun 90 20,5 101 15,8 55 15,4 18 22,2 264 17,4 41-45 tahun 76 17,3 117 18,3 62 17,3 16 19,8 271 17,9 > 45 tahun 126 28,6 169 26,5 101 28,2 21 25,9 417 27,5 Milik sendiri 392 89,1 503 78,6 251 69,7 71 87,7 1217 80,0 Rumah dinas 0,0 1,2 1,3 0,0 2,1 Berbagi dengan keluarga lain 2,5 6,9 6 1,7 0,0 14,9 Sewa 1,2 0,0 4 1,1 0,0 5,3 Kontrak 2,5 13 2,0 7 1,9 0,0 22 1,4 Milik orang tua 43 9,8 116 18,1 90 25,0 10 12,3 259 17,0 Lainnya 0,0 1,2 1,3 0,0 2,1 Tidak sekolah formal 15 3,4 24 3,8 10 2,8 1 1,2 50 3,3 SD 112 25,5 166 25,9 111 30,8 28 34,6 417 27,4 SMP 130 29,5 174 27,2 85 23,6 33 40,7 422 27,7 SMA 146 33,2 218 34,1 135 37,5 15 18,5 514 33,8 SMK 11 2,5 17 2,7 0,0 1 1,2 29 1,9 Universitas/Akademi 26 5,9 41 6,4 19 5,3 3 3,7 89 5,9 B4. Apakah ibu mempunyai Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari desa/kelurahan? B5. Apakah ibu mempunyai Kartu Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin (ASKESKIN)? B6. Apakah ibu mempunyai anak? Ya 74 16,8 92 14,4 72 20,0 17 21,0 255 16,8 Tidak 366 83,2 548 85,6 288 80,0 64 79,0 1266 83,2 Ya 95 21,6 217 33,9 129 35,8 26 32,1 467 30,7 Tidak 345 78,4 423 66,1 231 64,2 55 67,9 1054 69,3 Ya 420 95,5 599 93,6 335 93,1 76 93,8 1430 94,0 Tidak 20 4,5 41 6,4 25 6,9 5 6,2 91 6,0 ( 3-2 )
3.2. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Identifikasi pengelolaan sampah rumah tangga dalam studi EHRA di Kabupaten Gresik dibedakan berdasarkan cara pembuangan dan perilaku pemilahan sampah. Pada Grafik 3.1 disajikan pengelolaan sampah rumah tangga Kabupaten Gresik menurut kecamatan di bagian atas dan kelurahan di bagian bawah. Berdasarkan grafik tersebut cara pengelolaan sampah yang lebih banyak dilakukan di Kabupaten Gresik secara berurutan adalah: a. Dibakar sebanyak 43,5% b. Dikumpulkan dan dibuang ke TPS sebanyak 39,8% c. Dibuang ke lahan kosong dan dibiarkan membusuk sebanyak 7,8% d. Dibuang ke sungai atau kali sebanyak 3,2% e. Dibuang ke dalam lubang tetapi tidak ditutup tanah sebanyak 2,6% f. Dikumpulkan kolektor informal yang mendaur ulang sebanyak 1,8% g. Dibuang ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah 0,5% Grafik 3.1 Pengelolaan Sampah Rumah Tangga 100% 0,7% 2,7% 6,4% 0,5% 14,2% 17,3% 7,8% 3,2% Dikumpulkan oleh kolektor informal yang mendaur ulang Dikumpulkan dan dibuang ke TPS 80% 60% 47,5% 43,3% 11,1% 32,2% 2,5% 43,5% Dibakar Dibuang ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah 40% 20% 0% 72,8% 45,9% 43,7% 34,4% 39,8% 0% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Dibuang ke dalam lubang tetapi tidak ditutup dengan tanah Dibuang ke sungai/kali/laut/danau Dibuang ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk Lain-lain ( 3-3 )
Perilaku pemilahan sampah oleh rumah tangga di Kabupaten Gresik ditunjukan pada Grafik 3.2, sebanyak 31,4% melakukan pemilahan sampah sedangkan 68,6% tidak melakukan pemilahan sampah sebelum dilakukan pengolahan lebih lanjut. Grafik 3.2 Perilaku Praktik Pemilahan Sampah Rumah Tangga 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 14% 63,8% 71% 68,6% 77,8% 86% 36,2% 29% 31,4% 22,2% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Dipilah/ dipisah Tidak Dipilah/ dipisah Hasil studi EHRA seperti pada tabel 3.2, area beresiko persampahan di Kabupaten Gresik dari segi pengelolaan sampah tidak memadai sebesar 58,4%, frekuensi pengangkutan sampah tidak memadai sebesar 69,0%, ketidaktepatan waktu pengangkutan sampah sebesar 65,5%, dan 67,8% tidak dilakukan pengolahan sampah setempat. Sedangkan pada level cluster pengelolaan sampah yang memadai pada cluster 1 sebesar 46,8%, cluster 2 sebesar 47,4, cluster 3 sebesar 34,4 dan pada cluster 4 sama sekali tidak ada yang memadai. Tabel 3.2 Area Berisiko Persampahan Berdasarkan Hasil Studi EHRA Strata Desa/Kelurahan Total 1 2 3 4 9 10 n % n % n % n % n % Pengelolaan sampah Frekuensi pengangkutan sampah Ketepatan waktu pengangkutan sampah Pengolahan sampah setempat Tidak memadai 234 53,2 336 52,6 236 65,6 81 100,0 887 58,4 Ya, memadai 206 46,8 303 47,4 124 34,4 0,0 633 41,6 Tidak memadai 0,0 20 80,0 0,0 0,0 20 69,0 Ya, memadai 4 100,0 5 20,0 0,0 0,0 9 31,0 Tidak tepat waktu 0,0 19 76,0 0,0 0,0 19 65,5 Ya, tepat waktu 4 100,0 6 24,0 0,0 0,0 10 34,5 Tidak diolah 297 67,5 407 63,6 284 78,9 43 53,1 1031 67,8 Ya, diolah 143 32,5 233 36,4 76 21,1 38 46,9 490 32,2 ( 3-4 )
3.3. Pembuangan Air Kotor/ Limbah Tinja Manusia dan Lumpur Tinja Identifikasi pembuangan air kotor/ limbah tinja manusia dan lumpur tinja pada studi EHRA ini di dilihat berdasarkan keluarga yang memilliki jamban, saluran akhir pembuangan isi tinja, kualitas tangki septik yang dimiliki (suspek aman dan tidak aman), praktek pembuangan kotoran anak balita di rumah responden yang di rumahnya ada balita, dan jumlah KK yang memiliki saluran pengelolaan air limbah. Grafik 3.3 Persentase Tempat Buang Air Besar 1,64% 95,33% Jamban pribadi MCK/WC Umum Ke WC helikopter Ke sungai/pantai/laut Ke kebun/pekarangan Ke selokan/parit/got Ke lubang galian Lainnya, Tidak tahu Responden yang buang air besar ke jamban pribadi sesuai grafik 3.3 sebesar 95,33%, di MCK sebanyak 1,64%, dan responden yang masih buang air besar sembarangan sebesar 3,0% (WC helikopter, sungai, kebun, selokan). Tempat penyaluran akhir tinja responden pada studi EHRA di Kabupaten Gresik disalurkan pada 6 (enam) tempat seperti yang tertera pada grafik 3.4, antara lain sebanyak 85,1% telah dibuang ke tangki septik, sebanyak 1,8% masuk ke pipa sewer, sebanyak 7,2% disalurkan ke cubluk/ lobang tanah, sebanyak 2,1% dibuang langsung ke drainase, sebanyak 0,5% dibuang ke sungai dan sebanyak 3,4% tidak mengetahui dibuang kemana. ( 3-5 )
Grafik 3.4 Tempat Penyaluran Akhir Tinja Grafik Tempat Penyaluran Akhir tinja 2,1,5 3,4 1,8 7,2 85,1 Tangki septik Pipa sewer Cubluk/lobang tanah Langsung ke drainase Sungai/danau/pantai Tidak tahu Grafik 3.5 Waktu Terakhir Pengurasan Tanki Septik Grafik Waktu Terakhir Pengurasan Tanki Septik 100% 90% 1,9% 2,5% 10,2% 1,4% 3,8% Tidak tahu 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 67,1% 80,4% 74,4% 77,3% 91,9% 10,0% 1,6% 5,9% 7,5% 11,3% 3,9% 7,9% 10,9% 4,7% 1,4% 3,8% 3,5% 5,4% 6,7% 0,0% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Tidak pernah Lebih dari 10 tahun Lebih dari 5-10 tahun yang lalu 1-5 tahun yang lalu 0-12 bulan yang lalu Berdasarkan Grafik 3.4 dan 3.5 dijelaskan bahwa dari 85,1% responden yang membuang tinja ke tangki septic, sebanyak 74,4% tidak pernah dilakukan pengurasan, 5,9% dilakukan pengurasan antara 5 s.d 10 tahun, 7,9% dilakukan pengurasan 1-5 tahun yang lalu dan 6,7% dilakukan 0-12 bulan yang lalu. ( 3-6 )
Sedangkan berdasarkan strata, rumah tangga yang tidak pernah melakukan pengurasan tanki septic pada strata 1 sebesar 80,4%, strata 2 sebesar 67,1%, strata 3 sebesar 77,3%, strata 4 sebesar 91,9%. Grafik 3.6 Praktik Pengurasan Tanki Septik Grafik Praktik Pengurasan Tanki Septik Berdasarkan Strata 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 8,2% 15,1% 3,6% 0,0% 4,1% 23,2% 78,1% 64,9% 33,3% 48,3% 0,0% 16,7% 0,0% 51,7% 50,0% 17,2% 3,0% 13,9% 65,3% Tidak tahu Bersih karena banjir Dikosongkan sendiri Membayar tukang Layanan sedot tinja 10% 0% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Pada grafik 3.6, responden yang melakukan pengurasan tangki septik di Kabupaten Gresik sebanyak 65,3% dikuras dengan layanan sedot tinja, sisanya dilakukan pengurasan dengan membayar tukang dan dikosongkan sendiri. Sedangkan di berdasarkan strata yang melakukan layanan sedot tinja pada strata 1 sebesar 78,1%, strata 2 sebesar 64,9%, strata 3 sebesar 51,7%, strata 4 sebesar 50%. ( 3-7 )
Grafik 3.7 Persentase Tanki Septik Suspek Aman dan Tidak Aman Grafik Tanki Septik Suspek Aman dan Tidak Aman di Kab. Gresik 2015 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 39,1% 52,7% 43,1% 43,2% 44,2% 60,9% 47,3% 56,9% 56,8% 55,8% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Suspek aman Tidak aman Berdasarkan Grafik 3.7 di Kabupaten Gresik persentase tangki septik yang aman adalah 44,2% sedangkan sisanya tangki septik tidak aman sebesar 55,8%. Sedangkan berdasarkan strata, tanki septik yang tidak aman tertinggi berada pada strata 2 yaitu sebesar 60,9%. Tabel 3.3 Area Berisiko Air Limbah Domestik Kabupaten Gresik Tangki septik suspek aman Pencemaran karena pembuangan isi tangki septik Pencemaran karena SPAL Strata Desa/Kelurahan Total 1 2 3 4 9 10 n % n % n % n % n % Tidak aman 208 47,3 390 60,9 205 56,9 46 56,8 849 55,8 Suspek aman 232 52,7 250 39,1 155 43,1 35 43,2 672 44,2 Tidak, aman 16 21,9 68 35,1 28 48,3 3 50,0 115 34,7 Ya, aman 57 78,1 126 64,9 30 51,7 3 50,0 216 65,3 Tidak aman 233 53,0 252 39,4 211 58,6 49 60,5 745 49,0 Ya, aman 207 47,0 388 60,6 149 41,4 32 39,5 776 51,0 3.4. Drainase Lingkungan/ Selokan Sekitar Rumah dan Banjir Identifikasi drainase lingkungan pada studi EHRA di Kabupaten Gresik adalah mengenai lokasi genangan, topografi wilayah genangan air, keberadaan saluran drainase lingkungan, dan mengenai kondisi drainase lingkungan. ( 3-8 )
Grafik 3.8 Persentase Rumah Tangga yang Pernah Mengalami Banjir Grafik Persentase Rumah Tangga yang Pernah Mengalami Banjir 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 4,8% 3,4% 3,4% 3,8% 9,3% 21,7% 25,9% 5,9% 13,1% 3,7% 91,4% 91,9% 84,0% 64,2% 69,1% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Tidak tahu Sekali atau beberapa dalam sebulan Beberapa kali dalam setahun Sekali dalam setahun Tidak pernah Pada grafik 3.8 responden di Kabupaten Gresik sebanyak 84,0% tidak pernah mengalami banjir, sisanya (16,0%) pernah mengalami banjir sekali setahun sampai beberapa kali dalam sebulan. Sedangkan berdasarkan strata, responden yang tidak pernah mengalami banjir tertinggi pada strata 2 yaitu sebesar 91,9 disusul strata 1 sebesar 91,4%. Responden yang paling sering mengalami banjir beberapa kali dalam setahun yaitu pada strata 4 sebesar 25,9%. Grafik 3.9 Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Banjir Rutin Grafik Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Banjir Rutin 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 0,0% 16,3% 25,8% 47,4% 46,2% 100,0% 83,7% 74,2% 52,6% 53,8% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Tidak Ya ( 3-9 )
Pada grafik 3.9, responden di Kabupaten Gresik yang mengalami banjir rutin sebanyak 74,2% rumah tangga. Responden di strata 4 mengalami banjir secara rutin setiap tahunnya. Grafik 3.10 Lama Air Menggenang Jika Terjadi Banjir Grafik Lama Air Menggenang Jika Terjadi Banjir 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 30,8% 31,8% 65,5% 66,7% 56,9% 30,8% 50,0% 16,7% 24,8% 15,4% 27,8% 7,7% 0,0% 8,3% 6,6% 9,1% 6,0% 5,8% 0,0% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Tidak tahu Lebih dari 1 hari Satu hari Setengah hari Antara 1-3 jam Kurang dari 1 jam Dari lokasi di Kabupaten Gresik yang rutin mengalami banjir, lama genangan air jika banjir seperti yang terdapat pada Grafik 3.10. Pada grafik tersebut sebanyak 56,9% responden mengalami banjir lebih dari 1 hari, 24,8% selama satu hari, 5,8% responden mengalami banjir kurang dari 1 jam, 6,6% responden mengalami banjir 1 3 jam. Sedangkan berdasarkan strata, sebanyak 66,7% responden mengalami lamanya air tergenang selama lebih dari 1 hari di strata 4, strata 3 sebesar 65,5%, strata 2 sebesar 31,8% dan strata 1 sebesar 30,8%. ( 3-10 )
Grafik 3.11 Grafik Lokasi Genangan Di Sekitar Rumah Grafik Lokasi Genangan di Sekitar Rumah Di halaman rumah 18,4% Di dekat dapur 9,9% Di dekat kamar mandi 11,8% 9,2% 59,2% Di dekat bak penampungan Lainnya Pada grafik 3.11, lokasi genangan di sekitar rumah di Kabupaten Gresik sebanyak 59,2% menggenangi halaman rumah, sebanyak 11,8% lokasi genangan di dekat kamar mandi, sisanya menggenangi di dekat dapur dan lainnya. Grafik 3.12 Persentase Kepemilikan SPAL Grafik Persentase Kepemilikan SPAL 100% 90% 9,8% 17,3% 14,9% 1,2% 13,7% 80% Tidak ada 70% 60% 50% 40% 30% 90,2% 82,7% 85,1% 98,8% 86,3% Ya 20% 10% 0% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL ( 3-11 )
Sedangkan untuk kepemilikan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) di Kabupaten Gresik sebanyak 13,7% responden tidak memilik SPAL, dan yang memiliki SPAL sebanyak 86,3% responden. Grafik 3.13 Akibat Tidak Memiliki SPAL Rumah Tangga Grafik Akibat Tidak Memiliki SPAL Rumah Tangga Berdasarkan Strata 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 58,1% 56,8% 82,7% 86,1% 76,9% 41,9% 43,2% 17,3% 13,9% 23,1% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Tidak ada genangan air Ada genangan air (banjir) Persentase responden akibat tidak memiliki SPAL rumah tangga di Kabupaten Gresik seperti pada grafik 3.13, sebanyak 23,1% terdapat genangan air dan sebanyak 76,9% tidak terdapat genangan air.berdasarkan strata prosentase tertinggi terdapat genangan air pada strata 4 sebesar 43,2%. Sedangkan untuk area beresiko genangan air berdasarkan hasil studi EHRA dapat dilihat pada tabel 3.4 berikut ini: Tabel 3.4 Area Berisiko Genangan Air Kabupaten Gresik Adanya genangan air Ada genangan air (banjir) Tidak ada genangan air Strata Desa/Kelurahan Total 1 2 3 4 9 10 n % n % n % n % n % 76 17,3 89 13,9 151 41,9 35 43,2 351 23,1 364 82,7 551 86,1 209 58,1 46 56,8 1170 76,9 ( 3-12 )
Persentase responden yang mempunyai SPAL yang berfungsi dengan baik di Kabupaten Gresik seperti pada grafik 3.14, sebanyak 90,3%, tidak berfungsi 2,9%, tidak dapat dipakai selalu kering 1% dan tidak ada saluran 5,9%. Berdasarkan strata prosentase tertinggi responden yang mempunyai SPAL yang berfungsi pada strata 2 sebesar 95% dan terendah pada strata 4 sebesar 86,4%. Grafik 3.14 SPAL yang Berfungsi Berdasarkan Strata Grafik SPAL yang Berfungsi Berdasarkan Strata 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 4,8% 2,7% 1,4% 1,1% 0,5% 2,7% 0,0% 6,2% 5,9% 14,2% 7,4% 2,9% 1,0% 5,3% 0,3% 91,1% 95,8% 86,4% 90,3% 80,3% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Tidak ada saluran Tidak dapat dipakai, saluran kering Tidak Ya Persentase responden yang mempunyai SPAL yang tercemar di Kabupaten Gresik seperti pada grafik 3.15, sebanyak 51,0%, tidak tercemar 49,0%. Berdasarkan strata prosentase tertinggi responden yang mempunyai SPAL yang tercemar pada strata 2 sebesar 60,6%. Grafik 3.15 Pencemaran SPAL Berdasarkan Strata Grafik Pencemaran SPAL Berdasarkan Strata 100% 80% 60% 40% 20% 47,0% 60,6% 41,4% 39,5% 51,0% Ada pencemaran SPAL 53,0% 39,4% 58,6% 60,5% 49,0% Tidak ada Pencemaran SPAL 0% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL ( 3-13 )
3.5. Pengelolaan Air Minum Rumah Identifikasi pengelolaan air minum rumah tangga pada studi EHRA di Kabupaten Gresik berdasarkan pemakaian sumber air bersih rumah tangga, tata cara penanganannya di rumah dan sumber air untuk minum dan untuk memasak. Grafik 3.16 Akses Terhadap Air Bersih Grafik Penggunaan Sumber Air Bersih di Kab. Gresik 2015 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2,0%,3%,5% 3,2% 4,6% 17,2% 2,4%,8% 5,2% 8,3% 31,5%24,3%2,0% 1,4% 3,9% 4,4% 24,5% 1,5% 1,1% 8,5% 1,2% 2,8% 4,3% 3,8% 36,9% 18,3% 32,6% 32,6%2,1% 1,4% 5,6% 1,1%17,8% 53,4% 16,9% 4,7% 1,3% 22,5% 3,8% 4,7% 3,9% 14,1%1,1% 1,2% 1,2% 9,4% 1,1% 9,9% 5,0%,5% 4,1%,1%,0%,2%,5%,8% Gosok gigi Cuci pakaian Mencuci piring & gelas Masak Minum Pada grafik 3.16, digambarkan mengenai akses responden terhadap air bersih dalam hal ini adalah sumber air yang digunakan dan penggunaan air tersebut oleh responden. Persentase sumber air untuk minum dan memasak yang digunakan oleh responden di Kabupaten Gresik seperti pada Grafik 3.17, paling banyak digunakan adalah air isis ulang (masak 24,5% dan minum 53,4%). Untuk air minum yang paling banyak digunakan kedua dan ketiga yaitu air botol kemasan (36,9%) dan air sumur pompa tangan (9,9%), sedangkan air untuk memasak yang digunakan urutan kedua dan ketiga oleh responden yaitu air sumur pompa tangan (22,5%) dan air hujan (17,8%). ( 3-14 )
Grafik 3.17 Sumber Air Minum dan Memasak Grafik Sumber air minum dan memasak di Kab. Gresik 2015 Lainnya 4,7%,8% Air dari waduk/danau 3,8%,5% Air dari sungai,2%,0% Air hujan 5,0% 17,8% Mata air tdk terlindungi 1,1% 1,2% Mata air terlindungi 1,4% 1,2% Air sumur gali tdk terlindungi Air sumur gali terlindungi 1,1%,1% 4,1% 14,1% Masak Minum Air sumur pompa tangan Air kran umum-pdam/proyek Air hidran umum-pdam 9,9% 3,9%,5% 4,7% 1,1% 22,5% Air ledeng dari PDAM Air isi ulang 16,9% 9,4% 24,5% 53,4% Air botol Kemasan 2,0% 36,9% 0% 20% 40% 60% 80% 100% ( 3-15 )
Berikut ini disajikan tabel area risiko sumber air berdasarkan hasil studi EHRA yang disampaikan menurut strata. Tabel 3.5 Area Risiko Sumber Air Berdasarkan Hasil Studi EHRA Strata Desa/Kelurahan Total 1 2 3 4 9 10 Sumber air terlindungi Penggunaan sumber air tidak terlindungi. Kelangkaan air n % n % n % n % n % Tidak, sumber air berisiko tercemar 156 35,5 167 26,1 151 41,9 16 19,8 490 32,2 Ya, sumber air terlindungi 284 64,5 473 73,9 209 58,1 65 80,2 1031 67,8 Tidak Aman 262 59,5 469 73,3 251 69,7 49 60,5 1031 67,8 Ya, Aman 178 40,5 171 26,7 109 30,3 32 39,5 490 32,2 Mengalami kelangkaan air 57 13,0 84 13,1 114 31,7 19 23,5 274 18,0 Tidak pernah mengalami 383 87,0 556 86,9 246 68,3 62 76,5 1247 82,0 Dari data diatas dapat disimpulkan resiko tertinggi untuk sumber air terlindungi pada strata 3 dimana 41,9% sumber air beresiko tercemar dan tidak terlindungi. Untuk penggunaan sumber air tidak terlindungi yang mempunyai resiko tertinggi pada strata 2 sebesar 73,3% tidak aman. Dan untuk kelangkaan air yang mempunyai resiko tertinggi pada strata 4 sebesar 31,7% mengalami kelangkaan air. 3.6. Perilaku Higiene Identifikasi perilaku higiene dan sanitasi pad studi EHRA di Kabupaten Gresik meliputi praktek cuci tangan pakai sabun (CTPS) pada 5 waktu penting, ketersediaan sarana CTPS di jamban, pola pemanfaatan sabun dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan masyarakat membuang sampah, masalah sampah di lingkungan rumah dan praktek BABS. Grafik 3.18 CTPS di Lima Waktu Penting Ya; 25% Tidak; 75% ( 3-16 )
Praktek cuci tangan pakai sabun (CTPS) di 5 waktu penting seperti pada grafik 3.18. Di Kabupaten Gresik sebanyak 25% responden melakukan praktek cuci tangan pakai sabun di 5 waktu penting, dan sisanya 75% responden tidak melakukan praktek cuci tangan pakai sabun di lima waktu penting. Untuk waktu melakukan cuci tangan pakai sabun seperti ditunjukan pada grafik 3.19, sebanyak 90,7% melakukan cuci tangan pakai sabun setelah dari buang air besar, 90,0% untuk setelah makan dan 79,2% sebelum makan. Grafik 3.19 Waktu Melakukan CTPS Grafik Waktu Melakukan CTPS Lainnya,3% Sebelum sholat Setelah memegang hewan Sebelum menyiapkan masakan Sebelum memberi menyuapi anak 42,1% 51,1% 42,9% 42,4% Setelah makan Sebelum makan Setelah dari buang air besar 90,0% 79,2% 90,7% Setelah menceboki bayi/anak 48,5% Sebelum ke toilet 9,1% 0% 20% 40% 60% 80% 100% Perilaku buang air besar sembarangan (BABS) di Kabupaten Gresik seperti pada grafik 3.20 di bawah ini. Sebanyak 28,4% responden di Kabupaten Gresik masih melakuka praktek buang air besar sembarangan. Sedangkan berdasarkan strata prosentase tertinggi responden yang melakukan BABS pada strata 2 sebesar 33,9% terendah pada strata 4 sebesar 13,6%. ( 3-17 )
Grafik 3.20 Prilaku Buang Air Besar Grafik Perilaku BABS Berdasarkan Strata di Kab. Gresik 2015 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 77,5% 66,1% 70,8% 86,4% 71,6% 22,5% 33,9% 29,2% 13,6% 28,4% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Tidak Ya, BABS Dari data diatas, maka disimpulkan area beresiko perilaku higiene sanitasi seperti yang ditera pada tabel 3.6 berikut ini: Tabel 3.6 Area Berisiko Perilaku Higiene dan Sanitasi 1. CTPS di lima waktu penting 2a. Apakah lantai dan dinding jamban bebas dari tinja? 2b. Apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat? 2c. Keberfungsian penggelontor. 2d. Apakah terlihat ada sabun di dalam atau di dekat jamban? 3 Pencemaran pada wadah penyimpanan dan penanganan air 4. Perilaku BABS Strata Desa/Kelurahan Total 1 2 3 4 9 10 n % n % n % n % n % Tidak 282 64,1 519 81,1 275 76,4 65 80,2 1141 75,0 Ya 158 35,9 121 18,9 85 23,6 16 19,8 380 25,0 Tidak 63 14,3 112 17,5 92 25,6 21 25,9 288 18,9 Ya 377 85,7 528 82,5 268 74,4 60 74,1 1233 81,1 Tidak 60 13,6 98 15,3 92 25,6 28 34,6 278 18,3 Ya 380 86,4 542 84,7 268 74,4 53 65,4 1243 81,7 Tidak 34 7,7 37 5,8 56 15,6 5 6,2 132 8,7 Ya, berfungsi 406 92,3 603 94,2 304 84,4 76 93,8 1389 91,3 Tidak 29 6,6 49 7,7 40 11,1 3 3,7 121 8,0 Ya 411 93,4 591 92,3 320 88,9 78 96,3 1400 92,0 Ya, tercemar Tidak tercemar 32 7,3 98 15,3 48 13,3 10 12,3 188 12,4 408 92,7 542 84,7 312 86,7 71 87,7 1333 87,6 Ya, BABS 99 22,5 217 33,9 105 29,2 11 13,6 432 28,4 Tidak 341 77,5 423 66,1 255 70,8 70 86,4 1089 71,6 ( 3-18 )
3.7. Kejadian Penyakit Diare Pada studi EHRA di Kabupaten Gresik, kejadian penyakit diare menjadi objek yang ditanyakan. Sebanyak 3,0% responden pernah mengalami penyakit diare pada saat kurang dari 6 bulan yang lalu. Grafik 3.21 Persentase Kejadian Diare Berdasarkan Strata Grafik Kejadian Diare Berdasarkan Strata 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 19,2% 34,8% 42,0% 34,5% 31,9% 24,2% 21,4% 23,1% 24,1% 12,5% 23,2% 10,0% 8,0% 9,4% 11,6% 5,4% 6,3% 17,2% 9,4% 18,3% 8,0% 8,9% 10,3% 11,8% 18,3% 23,2% 20,5% 10,3% 19,6% 6,9% Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 TOTAL Orang dewasa perempuan Orang dewasa laki-laki Anak remaja perempuan Anak remaja laki-laki Anak-anak non balita Anak-anak balita Kejadian penyakit diare paling banyak dialami oleh perempuan dewasa sebanyak 31,9% dan orang dewasa laki-laki 23,1%. Data selengkapnya seperti pada tabel 3.7 dibawah ini. Kapan waktu paling dekat anggota keluarga ibu terkena diare Anak-anak balita Tabel 3.7 Kejadian Diare pada Penduduk Strata Desa/Kelurahan Total 1 2 3 4 9 10 n % n % n % n % n % Hari ini 1,2 6,9 8 2,2 0,0 15 1,0 Kemarin 5 1,1 5,8 4 1,1 2 2,5 16 1,1 1 minggu terakhir 21 4,8 17 2,7 20 5,6 1 1,2 59 3,9 1 bulan terakhir 11 2,5 15 2,3 24 6,7 13 16,0 63 4,1 3 bulan terakhir 27 6,1 18 2,8 14 3,9 6 7,4 65 4,3 6 bulan yang lalu 12 2,7 16 2,5 15 4,2 2 2,5 45 3,0 Lebih dari 6 bulan yang lalu 43 9,8 35 5,5 27 7,5 5 6,2 110 7,2 Tidak pernah 320 72,7 528 82,5 248 68,9 52 64,2 1148 75,5 Tidak 98 81,7 86 76,8 89 79,5 27 93,1 300 80,4 Ya 22 18,3 26 23,2 23 20,5 2 6,9 73 19,6 Anak-anak non balita Tidak 98 81,7 103 92,0 102 91,1 26 89,7 329 88,2 ( 3-19 )
Anak remaja laki-laki Anak remaja perempuan Orang dewasa lakilaki Orang dewasa perempuan Strata Desa/Kelurahan Total 1 2 3 4 9 10 n % n % n % n % n % Ya 22 18,3 9 8,0 10 8,9 3 10,3 44 11,8 Tidak 108 90,0 99 88,4 105 93,8 26 89,7 338 90,6 Ya 12 10,0 13 11,6 7 6,3 3 10,3 35 9,4 Tidak 105 87,5 103 92,0 106 94,6 24 82,8 338 90,6 Ya 15 12,5 9 8,0 6 5,4 5 17,2 35 9,4 Tidak 91 75,8 88 78,6 86 76,8 22 75,9 287 76,9 Ya 29 24,2 24 21,4 26 23,2 7 24,1 86 23,1 Tidak 97 80,8 73 65,2 65 58,0 19 65,5 254 68,1 Ya 23 19,2 39 34,8 47 42,0 10 34,5 119 31,9 3.8. Indeks Resiko Sanitasi (IRS) Indeks Resiko Sanitasi pada studi EHRA di Kabupaten Gresik berdasarkan jumlah area beresiko, antara lain sumber air, air limbah domestik, persampahan, genangan air dan perilaku hidup bersih sehat. Grafik 3.22 Indeks Resiko Sanitasi (IRS) 250 Grafik Indeks Risiko Sanitasi Kabupaten Gresik 2015 200 150 35 35 14 42 31 43 5. PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT. 4. GENANGAN AIR. 26 100 50 17 68 30 41 45 36 55 38 56 3. PERSAMPAHAN. 2. AIR LIMBAH DOMESTIK. 1. SUMBER AIR 0 30 31 44 32 - STRATA 0 STRATA 1 STRATA 2 STRATA 3 STRATA 4 Pada grafik 3.22, nilai IRS tertinggi subsector air limbah pada strata 4 sebesar 56, kemudian strata 3 sebesar 55, strata 2 sebesar 45 dan strata 1 sebesar 41. Untuk IRS sumber air pada strata 3 sebesar 44, strata 4 sebesar 32, strata 2 sebesar 31 dan strata 1 sebesar 30. Untuk IRS persampahan ( 3-20 )
pada strata 2 sebesar 68, strata 4 sebesar 38, strata 3 sebesar 36 dan strata 1 sebesar 30. Untuk lebih detailnya terkait hasil penghitungan indeks resiko sanitasi maka ditampilkan tabel IRS menurut komponen penyusunnya sebagai berikut: Tabel 3.8 Hasil Penghitungan Indeks Resiko Sanitasi KOMPONEN STRATA 0 STRATA 1 STRATA 2 STRATA 3 STRATA 4 1. SUMBER AIR - 30 31 44 32 2. AIR LIMBAH DOMESTIK. - 41 45 55 56 3. PERSAMPAHAN. - 30 68 36 38 4. GENANGAN AIR. - 17 14 42 43 5. PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT. - 26 35 35 31 TOTAL IRS - 144 194 211 200 ( 3-21 )
Survei Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan atau Survei Environmental Health Risk Assessment (EHRA) adalah sebuah survei yang digunakan dalam mengidentifikasikan kondisi sanitasi yang ada suatu wilayah penelitian. Dengan diketahuinya kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku-perilaku masyarakat, akan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk promosi atau advokasi kesehatan lingkungan di Kabupaten Gresik hingga ke tingkat kelurahan. Studi EHRA yang dilaksanakan di Kabupaten Gresik sangat bermanfaat untuk Pembangunan Kesehatan Kabupaten Gresik, hal ini dikarenakan dalam keterlibatan kader terbaik dari setiap kelurahan, petugas kesehatan dan aparat pemerintahan lainnya, sehingga promosi sanitasi dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat. Pelaksanaan survei EHRA dilaksanakan di 16 kecamatan dan 38 desa/kelurahan dengan jumlah responden sebesar 1.520 responden. Dari hasil pelaksanaan studi EHRA di Kabupaten Gresik, permasalahan besar yang menjadi persoalan untuk segera ditangani, yaitu untuk Air Limbah Domestik, PHBS, Persampahan, Sumber Air Genangan. Hasil studi EHRA ini digunakan oleh pemerintah daerah sebagai bahan untuk advokasi dalam pengarusutamaan pembangunan sanitasi yang lebih baik lagi, sehingga pembangunan sanitasi lebih tepat sasaran. Sebagian besar isi dari studi EHRA ini digunakan untuk melengkapi penyusunan Pemutakhiran SSK ( Strategi Sanitasi Kota ) tahun 2015, seperti praktik cuci tangan pakai sabun, perilaku BABS, dan untuk melengkapi pengisian instrument profil sanitasi yang berguna menentukan Area Beresiko Sanitasi Kabupaten Gresik persubsektor sanitasi yaitu air limbah, persampahan dan drainase. Studi EHRA pada dasarnya sebagai gambaran resiko lingkungan terhadap kesehatan masyarakat dan idealnya dilakukan secara berkala, dengan studi kali ini sebagai dasar bagi studi EHRA berikutnya. Harapannya setiap 3 sampai 5 tahun sekali dilakukan studi EHRA secara berkelanjutan sehingga dapat tergambar dampak lingkungan terhadap kesehatan masyarakat pada tahun-tahun berikutnya. ( 4-1 )