BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. Saat ini perhatian terhadap infeksi nosokomial di sejumlah rumah sakit di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. kualitas mutu pelayanan kesehatan. Rumah sakit sebagai tempat pengobatan, juga

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu

PENDAHULUAN. dapat berasal dari komunitas (community acquired infection) atau berasal dari

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada lima isu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Penyedia pelayanan kesehatan dimasyarakat salah satunya adalah rumah sakit. Peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. berbagai bidang, seperti: sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan kesehatan. Dewasa

BAB 1 PENDAHULUAN. Sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs)

BAB I PENDAHULUAN. mikroorganisme dapat terjadi melalui darah, udara baik droplet maupun airbone,

BAB 1 PENDAHULUAN. memperbaiki standar mutu pelayanannya. Dengan adanya peningkatan mutu

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan merupakan bagian terpenting dalam. diantaranya perawat, dokter dan tim kesehatan lain yang satu dengan yang

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL DENGAN PERILAKU CUCI TANGAN DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit (RS) sebagai institusi pelayanan kesehatan, di dalamnya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dinilai melalui berbagai indikator. Salah satunya adalah penilaian terhadap upaya

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Di dalam rumah sakit pula terdapat suatu upaya

BAB 1 PENDAHULUAN. di udara, permukaan kulit, jari tangan, rambut, dalam rongga mulut, usus, saluran

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi dan penyakit menular merupakan masalah yang masih dihadapi oleh negara-negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Nosokomial, yang saat ini disebut sebagai. dengan jumlah pasien dari jumlah pasien berisiko 160.

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN PERAWAT DENGAN KEPATUHAN PENERAPAN PROSEDUR TETAP PEMASANGAN INFUS DI RUANG RAWAT INAP RSDM SURAKARTA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi nosokomial merupakan problem klinis yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang sudah ditentukan

BAB I PENDAHULUAN. kompetitif, toksin, replikasi intra seluler atau reaksi antigen-antibodi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat. darurat (Permenkes RI No. 147/ Menkes/ Per/ 2010).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kesehatan di berbagai belahan dunia dan merupakan risiko terhadap sistem

No. Kuesioner : I. Identitas Responden 1. Nama : 2. Umur : 3. Jenis Kelamin : 4. Pendidikan : 5. Pekerjaan : 6. Sumber Informasi :

BAB I PENDAHULUAN. Alat Pelindung Diri (APD) sangat penting bagi perawat. Setiap hari

nosokomial karena penyakit infeksi. Di banyak negara berkembang, resiko perlukaan karena jarum suntik dan paparan terhadap darah dan duh tubuh jauh

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. (WHO, 2002). Infeksi nosokomial (IN) atau hospital acquired adalah

LAPORAN MONITORING DAN EVALUASI PENGGUNAAN APD DI RUMAH SAKIT SYAFIRA

BAB I PENDAHULUAN. menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan secara profesional yang

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh perhatian dari dokter (medical provider) untuk menegakkan diagnosis

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam

GAMBARAN CUCI TANGAN PERAWAT DI RUANG RA, RB, ICU,CVCU, RSUP. H. ADAM MALIK MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Tuberculosis menyebabkan 5000 kematian perhari atau hampir 2 juta

Infeksi yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan adalah salah satu penyebab utama kematian dan peningkatan morbiditas pada pasien rawat

BAB 1 PENDAHULUAN. kematian dan kecacatan secara terpadu dengan melibatkan berbagai multi

BAB I PENDAHULUAN. (World Health Organization (WHO), 2011). Menurut survei di Inggris,

BAB I PENDAHULUAN. obat-obatan dan logistik lainnya. Dampak negatif dapat berupa kecelakaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Salatiga yang berletak di jalan Hasanuddin No.806, Kelurahan Ngawen,

BAB I PENDAHULUAN. yang diakibatkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus). Jalur transmisi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perhatian terhadap infeksi daerah luka operasi di sejumlah rumah sakit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS). Dampak dari proses pelayanan

BAB 1 PENDAHULUAN. sistemik (Potter & Perry, 2005). Kriteria pasien dikatakan mengalami infeksi

BAB I PENDAHULUAN. sakit. Infeksi nosokomial/hospital acquired infection (HAI) adalah infeksi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kewaspadaan universal (Universal Precaution) adalah suatu tindakan

BAB 1 PENDAHULUAN. langsung ataupun tidak langsung dengan mikroorganisme dalam darah dan saliva pasien.

promotif (pembinaan kesehatan), preventif (pencegahan penyakit), kuratif (pengobatan penyakit) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan) serta dapat

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang. menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

BAB 1 PENDAHULUAN. Hepatitis akut. Terdapat 6 jenis virus penyebab utama infeksi akut, yaitu virus. yang di akibatkan oleh virus (Arief, 2012).

BAB 1 PENDAHULUAN. melindungi diri atau tubuh terhadap bahaya-bahaya kecelakaan kerja, dimana

BAB III METODA PENELITIAN

maupun sebagai masyarakat profesional (Nursalam, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mata, dan infeksi kulit. Umumnya penyakit tersebut terjadi pada anak-anak dan

BAB I PENDAHULUAN. (Permenkes RI No. 340/MENKES/PER/III/2010). Dalam memberikan

1V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PERAWAT DALAM PENERAPAN PROTAP PERAWATAN LUKA POST OPERASI DI RUANG CENDANA RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit. Rumah sakit merupakan salah satu sarana pelayanan. kesehatan kepada masyarakat. Rumah sakit memiliki peran penting

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tenaga kesehatan gigi dalam menjalankan profesinya tidak terlepas dari

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan Nasional (UU No.40 Tahun 2004 tentang SJSN) yang menjamin

BAB I PENDAHULUAN. perawatan. Tindakan pemasangan infus akan berkualitas apabila dalam

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan dan atau pelatihan medik dan para medik, sebagai tempat. lantai makanan dan benda-benda peralatan medik sehingga dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kesehatan, pemulihan serta pemeliharaan kesehatan. Sebagai layanan masyarakat,

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. ketika berobat ke rumah sakit. Apalagi, jika sakit yang dideritanya merupakan

BAB I PENDAHULUAN UKDW. DBD (Nurjanah, 2013). DBD banyak ditemukan didaerah tropis dan subtropis karena

BAB 1 PENDAHULUAN. dinilai melalui berbagai indikator. Salah satunya adalah terhadap upaya

BAB 1 PENDAHULUAN. Keselamatan pasien (Patient Safety) adalah isu global dan nasional bagi

BAB I PENDAHULUAN. yang berarti keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi (Hanafiah & Amir,

BAB I PENDAHULUAN. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2004 tentang

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR D I N A S K E S E H A T A N PUSKESMAS LENEK

BAB I PENDAHULUAN. menuntut tiap organisasi profit dan non profit untuk saling berkompetisi

BAB I PENDAHULUAN. mikroorganisme dalam tubuh yang menyebabkan sakit yang disertai. dengan gejala klinis baik lokal maupun sistemik.

BAB I PENDAHULUAN. Dengan tingginya standar tingkat pendidikan, keadaan sosial ekonomi

BAB 1 PENDAHULUAN. mengutamakan pelaksanaannya melalui upaya penyembuhan pasien, rehabilitasi dan pencegahan gangguan kesehatan. Rumah sakit berfungsi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit merupakan unit pelayanan medis yang sangat kompleks, rumah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan (safety) telah menjadi issue global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada lima (5)

BAB 1 : PENDAHULUAN. dan gawat darurat, yang merupakan salah satu tempat pasien berobat atau dirawat, di tempat

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini perhatian terhadap infeksi nosokomial di sejumlah rumah sakit di Indonesia cukup tinggi. Mengingat kasus nosokomial infeksi menunjukkan angka yang cukup tinggi. Tingginya angka kejadian infeksi nosokomial mengindikasikan rendahnya kualitas mutu pelayanan kesehatan. Infeksi nosokomial dapat terjadi mengingat rumah sakit merupakan gudang mikroba pathogen menular yang bersumber terutama dari penderita penyakit menular. Di sisi lain, petugas kesehatan dapat pula sebagai sumber, disamping keluarga pasien yang lalu lalang, peralatan medis, dan lingkungan rumah sakit itu sendiri (Darmadi, 2008). Menurut Soeroso (2000), penderita infeksi nosokomial sebesar 9% dengan variasi antara 3%-20% dari penderita rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia. Di negara berkembang termasuk Indonesia, rata-rata prevalensi infeksi nosokomial adalah sekitar 9,1 % dengan variasi 6,1%-16,0%. Di Indonesia kejadian infeksi nosokomial pada jenis / tipe rumah sakit sangat beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Depkes RI pada tahun 2004 diperoleh data proporsi kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit pemerintah dengan jumlah pasien 1.527 orang dari jumlah pasien beresiko 160.417 (55,1%), sedangkan untuk rumah sakit swasta dengan jumlah pasien 991 pasien dari jumlah pasien beresiko 130.047 (35,7%). Untuk rumah sakit ABRI dengan jumlah pasien 254 pasien dari jumlah pasien beresiko 1.672 (9,1%). Kejadian infeksi nosokomial belum diimbangi dengan pemahaman tentang bagaimana mencegah infeksi nosokomial dan implementasi secara baik. Kondisi ini memungkinkan angka nosokomial di rumah sakit cenderung meningkat. Karena itu perlu pemahaman yang baik tentang cara-cara penyebaran infeksi yang mungkin terjadi di rumah sakit. Penyebaran infeksi nosokomial di rumah sakit umumnya terjadi melalui tiga cara yaitu melalui udara, percikan dan kontak langsung dengan pasien (Schaffer, Garzon,

Heroux, & Korniewicz, 2000). Pencegahan nosokomial melalui perilaku cuci tangan petugas kesehatan menjadi sangat penting dilakukan. Di Rumah Sakit (RS) kebiasaan cuci tangan petugas merupakan perilaku yang mendasar sekali dalam upaya mencegah cross infection (infeksi silang). Hal ini mengingat RS sebagai tempat berkumpulnya segala macam penyakit, baik menular maupun tidak menular (Musadad, Lubis, & Kasnodihardjo, 1993). Karena itu seluruh petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit seharusnya mengetahui pentingnya pencegahan infeksi silang (nosokomial). Sebagian besar infeksi dapat dicegah dengan strategi yang telah tersedia yaitu dengan cuci tangan (Tietjen, Bossemeyer, & McIntosh, 2004). Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah peningkatan kemampuan petugas kesehatan dalam metode Universal Precautions (Kewaspadaan Universal) yaitu suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi. Dasar Kewaspadaan Universal (KU) adalah melalui cuci tangan secara benar, penggunaan alat pelindung, desinfeksi dan pencegahan tusukan alat tajam, dalam upaya mencegah transmisi mikroorganisme melalui darah dan cairan tubuh (RSPI Sulianti Saroso, 2005). Perilaku cuci tangan perawat merupakan salah satu faktor yang mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan perawat dalam pencegahan terjadinya infeksi nosokomial. Perawat memiliki andil yang sangat besar terhadap terjadinya infeksi nosokomial karena perawat berinteraksi secara langsung dengan pasien selama 24 jam (RSPI Sulianti Saroso, 2005). Indikasi untuk kebersihan dan kesehatan tangan sudah dipahami dengan baik, akan tetapi pedoman untuk praktiknya sulit untuk dilakukan. Kegagalan untuk melakukan kebersihan tangan dan kesehatan tangan yang tepat dianggap sebagai sebab utama terjadinya Infeksi Rumah Sakit dan penyebaran multiresistensi di fasilitas palayanan kesehatan dan telah di akui sebagai kontributor yang penting terhadap timbulnya wabah (Boyce dan Pittet, 2002).

Banyak faktor yang berhubungan dengan perilaku cuci tangan di kalangan perawat. Menurut Tohamik (2003) dalam penelitiannya bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat terhadap tindakan pencegahan infeksi adalah faktor karakteristik individu (jenis kelamin, umur, jenis pekerjaan, masa kerja, tingkat pendidikan), faktor psikososial (sikap terhadap penyakit, ketegangan kerja, rasa takut dan persepsi terhadap resiko), faktor organisasi manajemen, faktor pengetahuan, faktor fasilitas, faktor motivasi dan kesadaran, faktor tempat tugas, dan faktor bahan cuci tangan terhadap kulit. Kepatuhan cuci tangan juga dipengaruhi oleh tempat tugas. Penelitian yang dilakukan oleh Saefudin, Adriansz, Wiknjosastro, & Waspodo (2006) menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan petugas Bagian Obstetri dan Ginekologi yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat dan Instalasi Bedah Pusat lebih baik dibandingkan dengan petugas di tempat yang sama yang bekerja di ruang perawatan. Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang adalah Rumah Sakit swasta yang terletak di pinggiran kota Semarang tepatnya di Jl. Raya Kaligawe Km. 4 Semarang. Rumah sakit ini menyediakan beberapa pelayanan medis yang yaitu Rawat Inap, Poliklinik, IGD, Kamar Operasi, ICU, Medical Check up, Hemodialisa, dan Poligakin serta unit penunjang seperti radiologi, laboratorium, patology anatomy, dan farmasi. Di rumah sakit ini terdapat pula pelayanan medis yang menjadi unggulan yaitu seperti lasik, urology center, dan Semarang eye center. Di rumah sakit ini terdapat kurang lebih 11 ruang perawatan dan tiap ruangan terdiri dari 30-35 tempat tidur serta di setiap ruangan terdapat kurang lebih 14-17 perawat yang bertugas. Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang saat ini sedang menggalakkan perilaku cuci tangan pada tenaga kesehatan khususnya perawat sebagai upaya untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial karena tenaga kesehatan khususnya perawat adalah salah satu tenaga di rumah sakit yang secara langsung berinterasi dengan klien dan menjadi sumber penyebab terjadinya infeksi nosokomial. Fasilitas beserta poster tentang langkah-

langkah melakukan cuci tangan secara baik dan benar pada rumah sakit ini juga sudah tersedia pada tiap ruangannya, namun demikian berdasarkan hasil survei pendahuluan diketahui bahwa masih terdapat perawat yang enggan untuk melakukan cuci tangan dengan berbagai alasan diantaranya perawat mengaku keterbatasan waktu yang digunakan untuk melakukan cuci tangan, kondisi pasien, dan perawat menyatakan mencuci tangan merupakan hal yang dirasanya kurang praktis untuk dilakukan. Kondisi seperti ini tentu saja berdampak munculnya masalah seperti terjadinya kasus-kasus infeksi. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 13 Januari 2010 di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang didapatkan data bahwa terdapat kejadian infeksi nosokomial pada bulan September 2009 diruang Baitul Athfal sebanyak 1 kali dan pada bulan November 2009 juga terdapat kejadian infeksi nosokomial sebanyak satu kali diruang Baitul Shyfa. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan cuci tangan perawat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan cuci tangan perawat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan cuci tangan perawat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. 2. Tujuan Khusus a. Untuk menggambarkan faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan cuci tangan perawat di Rumah

Sakit Islam Sultan Agung Semarang meliputi pengetahuan, ketersediaan fasilitas cuci tangan, dan tempat tugas. b. Untuk menggambarkan tingkat kepatuhan cuci tangan perawat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. c. Untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan dengan tingkat kepatuhan cuci tangan perawat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. d. Untuk menganalisis hubungan ketersediaan fasilitas cuci tangan dengan tingkat kepatuhan cuci tangan perawat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. e. Untuk menganalisis hubungan antara tempat tugas dengan tingkat kepatuhan cuci tangan perawat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi pihak rumah sakit Sebagai masukan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada pasien rawat inap maupun keluarganya. 2. Bagi perawat Sebagai masukan dalam menerapkan prosedur cuci tangan untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. 3. Bagi pasien Menurunkan resiko kejadian infeksi nosokomial sehingga diharapkan dapat memperpendek hari perawatan dan biaya perawatan di rumah sakit. 4. Bagi institusi pendidikan Bagi pendidikan ilmu keperawatan sebagai bahan bacaan dan menambah wawasan bagi mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa ilmu keperawatan dalam upaya untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial yang berhubungan dengan perilaku cuci tangan perawat.

5. Bagi peneliti selanjutnya Hasil ini dapat digunakan untuk pedoman atau gambaran awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut. E. Bidang Ilmu Bidang Keperawatan. ilmu dalam penelitian ini termasuk dalam Manejemen F. Keaslian Penelitian Penelitian-penelitian serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti pernah dilakukan sebelumnya. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Priyadi pada tahun 2006 yaitu tentang upaya pencegahan infeksi nosokomial dengan kepatuhan perawat untuk melakukan cuci tangan di ruang rawat inap penyakit dalam BRSD RAA Soewondo Pati dengan sampel Seluruh perawat ruang rawat inap penyakit dalam BRSD RAA Soewondo Pati. Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan penelitian yang dilakukan oleh Priyadi terletak pada tempat penelitian, jenis penelitian, jumlah sampel yang digunakan, dan teknik sampling yang dipakai. Penelitian ini tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan cuci tangan perawat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan jumlah sampel sebesar 82 perawat diambil dari seluruh Ruang Rawat Inap RSI Sultan Agung Semarang menggunakan teknik proportionate simple random sampling. Sedangkan penelitian oleh Priyadi merupakan penelitian survei analitik dengan jumlah sampel 36 perawat yang diambil dari Ruang Rawat Inap bagian Penyakit Dalam BRSD RAA Soewondo Pati dengan menggunakan teknik total populasi. Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Muhammad Yusran pada tahun 2008. Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Yusran terletak pada tempat penelitian,

jumlah sampel, teknik sampling dan variabel penelitian. Jumlah sampel dari penelitian ini sebesar 82 perawat diambil dari seluruh Ruang Rawat Inap RSI Sultan Agung Semarang menggunakan teknik proportionate simple random sampling dan variabel yang di pakai meliputi variabel bebas yaitu kepatuhan cuci tangan perawat dan variabel terikatnya yaitu pengetahuan, fasilitas, dan tempat tugas. Sedangkan penelitian oleh Muhammad Yusran jumlah sampelnya sebesar 220 tenaga perawat yang bertugas di RSAM Bandar Lampung dan teknik samplingnya menggunakan random sampling,variabel yang dipakai adalah variabel bebas yaitu kepatuhan pelaksanaan universal precaution pada tenaga perawat dan varibel terikatya yaitu jenis kelamin, usia dan lama kerja. Dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh peneliti sejauh ini berbeda dengan penelitian-penelitian serupa yang pernah dilakukan sebelumnya.