BAB II TINJAUAN PUSTAKA. motivasi dan prestasi yang membentuk suatu kesatuan makna dan. berprestasi adalah usaha seseorang dalam menguasai tugasnya,

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan futsal ditandai dengan banyak didirikannya lapangan. futsal di Indonesia khususnya wilayah Jakarta sejak tahun 2000.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. prediktor dan (2) variabel Y sebagai outcome. seseorang berperilaku untuk dapat mencapai suatu tujuan tertentu.

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan olahraga di Indonesia cukup menarik banyak perhatian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sportifitas dan jiwa yang tak pernah mudah menyerah dan mereka adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Olahraga di Indonesia sedang mengalami perkembangan yang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia 2.2. Pengertian Motivasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke dan memiliki pulau yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Olahraga merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dilepaskan dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sebelumnya. Data itu disampaikan pengelola liga, PT Deteksi Basket Lintas

BAB 1 PENDAHULUAN. kompetisi kemenangan merupakan suatu kebanggaan dan prestasi. serta keinginan bagi setiap orang yang mengikuti pertandingan

BAB I PENDAHULUAN. menerus merupakan aspek yang harus dibina dalam olahraga. sampai sasaran perilaku. McClelland dan Burnham (2001), motivasi

BAB I PENDAHULUAN. dengan jumlah karyawan yang relatif banyak dan memiliki karakteristik pola

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia menjadi sehat dan kuat secara jasmani maupun rohani atau dalam istilah

Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kondisi psikis atau mental akan mempengaruhi performa atlet baik saat latihan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang tua ingin anaknya menjadi anak yang mampu. menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Motivasi Berprestasi Pada Atlet Sepak Bola. Menurut McClelland (dalam Sutrisno, 2009), motivasi berprestasi yaitu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berlian Ferdiansyah, 2014

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang sudah mendunia.

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidup perusahaan. Orang (manusia) merupakan elemen yang selalu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.2 Tipe-Tipe Kepemimpinan Menurut Hasibuan (2009: ) ada tiga tipe kepemimpinan masing-masing dengan ciri-cirinya, yaitu:

BAB II KAJIAN TEORITIS. sasaran / kriteria / yang ditentukan dan disepakati bersama. Kinerja pegawai

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pada jaman sekarang ini, banyak perusahaan berlomba-lomba mencari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan merupakan suatu bentuk Organisasi. Organisasi menggambarkan

II. KAJIAN PUSTAKA. Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin movere yang berarti bergerak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Permainan bola basket di Indonesia telah berkembang sangat pesat. Event kejuaraan olahraga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa Latin procrastination dengan awalan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Olahraga merupakan suatu kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI MOTIVASI. Proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan usaha seorang. Komponen Motivasi : Intensitas, arah dan ketekunan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrayogi, 2014

Bab 1 PENDAHULUAN. Di Indonesia kegiatan psikologi olahraga belum berkembang secara meluas.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Yoansyah, 2016

BAB II LANDASAN TEORI. Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bisma, Vol 1, No. 7, Nopember 2016 FAKTOR-FAKTOR MOTIVASI KERJA PADA PD JAYA HARDWARE DI PONTIANAK

MOTIVASI, PENGELOLAAN INDIVIDU DAN KELOMPOK DALAM ORGANISASI BISNIS. Minggu ke tujuh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dituangkan dalam Keputusan Menteri Pertama RI Nomor 388/MP/1960 tanggal

Konsep Konsep Motivasi BAHAN AJAR 7

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II URAIAN TEORITIS. pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatankegiatan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat mencari kegiatan yang bisa memulihkan vitalitas beraktifitas, antara

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Zakaria Nur Firdaus, 2013

II. TINJAUAN PUSTAKA.1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

MENGGUGAH MOTIVASI ATLET

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. (DBL) Indonesia, setelah berakhirnya babak Championship Series di Jogjakarta.

BAB I PENDAHULUAN. Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Dan Motivasi Berprestasi Terhadap Keterampilan Teknik Dasar Lapangan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menghadapi era globalisasi, tantangan yang dihadapi akan semakin berat, hal ini disebabkan karena semakin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memperbaiki lingkungan kerja di tempat kerja. Lingkungan kerja yang buruk

BAB II LANDASAN TEORI. dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepadaorang lain. Kemandirian dalam kamus psikologi yang disebut independence yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penempatan merupakan proses menempatkan orang-orang yang tepat pada

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS. Menurut Veithzal Rivai (2004:309) mendefinisikan penilaian kinerja

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbunyi mens sana en corpore sano yang artinya dalam tubuh yang sehat

BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Deskripsi Data

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Permainan bola voli dalam perkembangannya pada saat ini semakin

PENGGUNAAN STRATEGI POWER PLAY DALAM PERTANDINGAN FUTSAL

BAB II KAJIAN TEORI. 2.1 Tindakan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Yusni Arie Apriansyah, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hakekat olahraga merupakan kegiatan teknik yang mengandung sifat permainan

I. PENDAHULUAN. Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang banyak

BAB I PENDAHULUAN. akibatnya pelayanan sosial kemanusiaan, secara faktual pelayanan rumah sakit telah

BAB I PENDAHULUAN. terbesar bersumber dari atlet, meskipun faktor-faktor yang lain sebagai pendukung

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. awal, dimana memiliki tuntutan yang berbeda. Pada masa dewasa awal lebih

PROFIL VO2MAX DAN DENYUT NADI MAKSIMAL PEMAIN DIKLAT PERSIB U-21

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. pertandingan serta banyak atlet yang mengikuti sejumlah pertandingan yang

Hubungan antara Persepsi Atlet Taekwondo Junior pada Program Latihan dengan Motivasi Berprestasi

Bab I. Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

ANALISIS PENGARUH FAKTOR-FAKTOR EKSTERNAL DAN INTERNAL TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI PEGAWAI PADA DINAS PERTAMBANGAN PEMDA KABUPATEN BOGOR

BAB I PENDAHULUAN. Aji Rasa Kurniawan, 2014 HUBUNGAN ANTARA KOORDINASI MATA-KAKI DENGAN HASIL SHOOTING 8 METER CABANG OLAHRAGA FUTSAL

GEJALA KONASI--MOTIVASI. PERTEMUAN KE 10

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. diperhatikan, seperti waktu latihan, waktu makan, dan waktu istirahat pun diatur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. kebutuhan ini tercermin dengan adanya dorongan untuk meraih kemajuan dan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat untuk menjaga kondisi fisik agar tetap fit dan bisa bekerja lebih baik.

BAB XIII TEKNIK MOTIVASI

BAB I PENDAHULUAN. Dalam masa perkembangan negara Indonesia, pendidikan penting untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Yudi Fika Ismanto, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu bisnis yang bergerak di bidang jasa adalah perbankan. Di era

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS

HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MELAKUKAN AKTIVITAS OLAHRAGA FUTSAL DI KOTA BEKASI. Zulkarnaen,S.Pd., M.Pd.

BAB I PENDAHULUAN. maanfaat yang diperoleh langsung dari aktivitas olahraga tersebut baik untuk

PSIKOLOGI PELATIHAN FISIK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Beberapa tahun terakhir, beberapa sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta mulai

MOTIVASI DALAM BELAJAR. Saifuddin Azwar

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi ini pengelolaan sumber daya manusia merupakan hal

BAB I PENDAHULUAN. ini terbukti dari pertandingan dan perlombaan olahraga bola voli yang telah

I. PENDAHULUAN. Bagian ini akan membahas latar belakang masalah, identifikasi masalah,

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Motivasi Berprestasi Istilah motivasi berprestasi merupakan perpaduan dari dua istilah motivasi dan prestasi yang membentuk suatu kesatuan makna dan intepretasi. Menurut Murray (dalam Gould & Weinberg, 2007), motivasi berprestasi adalah usaha seseorang dalam menguasai tugasnya, mencapai kesuksesan, mengatasi rintangan, penampilan yang lebih baik dari orang lain, dan mendapatkan penghargaan atas bakatnya. Gill (dalam Gould & Weinberg, 2007) mengartikan motivasi berprestasi sebagai orientasi individu untuk berusaha mencapai kesuksesan, bertahan saat gagal, dan mendapatkan penghargaan saat mencapai prestasi. McClelland (1987) mengungkapkan bahwa motivasi berprestasi merupakan motivasi yang berhubungan dengan pencapaian beberapa standar kepandaian dan standar keahlian. Sedangkan Keith & Nastron (1989) mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai dorongan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengatasi hambatan dalam mencapai tujuan, sehingga individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi menunjukkan usaha yang lebih besar dan ulet. Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi adalah dorongan individu untuk menggerakkan, mengarahkan dan mengontrol perilakunya dengan segala kemampuan terhadap aktivitas yang dilakukan untuk mencapai prestasi maksimalnya. 8

9 2.1.1 Faktor-faktor Motivasi Berprestasi Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi. Elliot dan Church (dalam Lahey, 2007) mengatakan ada tiga faktor penting dalam motivasi berprestasi, antara lain: a. Menguasai tujuan Orang yang menguasai tujuan akan termotivasi secara intrinsik untuk mempelajari informasi yang baru dan menarik. b. Pendekatan pelaksanaan tujuan Orang yang memiliki pendekatan pelaksanaan tujuan yang tinggi bermotivasi untuk melakukan yang terbaik agar mendapatkan rasa hormat dari orang lain. c. Pendekatan menjauhi tujuan. Orang yang tinggi pada area ini bermotivasi untuk bekerja keras agar dapat menghindari hasil yang buruk. Berliner dan Gage (1991) menjelaskan bahwa motivasi berprestasi pada individu dipengaruhi oleh enam faktor, yaitu: a. Minat b. Kebutuhan berafiliasi, berprestasi serta kekuasaan c. Nilai yang berkaitan dengan orientasi yang dianggap dan baik bagi individu d. Sikap yang berkaitan dengan perasaan suka dan tidak suka yang melibatkan unsur kognitif e. Aspirasi yang berkaitan dengan harapan sukses dan realistik

10 f. Insentif sebagai sumber keputusan pribadi yang diterima atas kemauan sendiri Mc Clelland (1987) memberikan penjelasan yang berbeda mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi sebagai: a. Bertanggung Jawab Individu mempunyai perhitungan dan pertimbangan secara matang karena memiliki tanggung jawab terhadap pemecahan masalah yang telah dibuatnya. Tanggung jawab ini ditunjukkan dengan memiilih tantangan, resiko yang sedang. Dengan demikian benar-benar melaksanakan suatu pekerjaan tanpa adanya beban karena individu memilih resiko yang sebanding dengan kemampuannya. b. Memanfaatkan Umpan Balik (feed back) Individu dengan motivasi berprestasi tinggi biasanya menyenangi umpan balik secara riil dan cepat dari apa saja yang telah dilakukannya sehingga dengan cepat pula individu akan memutuskan apabila hasil yang dicapai kurang memuaskan untuk beralih pada aktivitas lain jika hasil yang diperoleh telah maksimal. c. Inovatif Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi selalu berupaya mencari informasi baru. Individu kelihatan tidak banyak istirahat dan ingin selalu berubah yang didasari oleh sikap yang berorientasi ke masa depan.

11 d. Sukses dalam pekerjaan Individu mempunyai kinerja yang baik dan pantang menyerah hasil dari dorongan motivasi menjadi prediktor kesuksesannya dalam bidang yang ditekuninya. e. Menetapkan sasaran yang menantang Individu akan mempertimbangkan terlebih dahulu resiko yang akan dihadapinya sebelum memulai suatu pekerjaan dan cenderung lebih menyukai permasalahan yang memiliki tingkat kesukaran yang sedang, menantang namun memungkinkan untuk diselesaikan. Steer dan Porte (1991) menjelaskan secara berbeda mengenai tiga faktor motivasi berprestasi pada individu, yaitu: a. faktor arah, yaitu perilaku yang timbul berupa perilaku yang terarah pada tujuan yang ingin dicapai. b. Faktor energi, yaitu kekuatan atau usaha yang menyebabkan terjadinya perilaku c. Faktor keajegan, yaitu adanya usaha untuk memelihara dan mempertahankan perilaku kerja sampai tujuan. Berdasarkan beberapa pendapat diatas, diperoleh suatu rumusan baru tentang faktor-faktor motivasi berprestasi yaitu meliputi: menghendaki umpan balik (feed back), berorientasi pada keberhasilan, tahan terhadap tekanan dan menetapkan sasaran yang menantang

12 2.2 Prestasi Dalam menjalankan kegiatan sebagai anggota Futsal, tentu atlet mempunyai motif yang berbeda-beda, ada motif ingin mencari pengalaman, pengakuan, dan lain lain. Salah satu dari sekian banyak macam motif yang dimiliki oleh atlet termasuk juga didalamnya motivasi berprestasi. Mc Clelland (1987) mengemukakan bahwa diantara kebutuhan hidup manusia terdapat tiga macam kebutuhan, yaitu: a. Kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement). Kemampuan untuk mencapai hubungan kepada standar yang telah ditentukan juga perjuangan anggota untuk menunjukkan keberhasilan. b. Kebutuhan untuk berafiliasi (need for affiliation), hasrat untuk bersahabat dan mengenal lebih dekat rekan futsal atau anggota lainnya yang berada didalam satu organisasi. c. Kebutuhan untuk kekuasaan atau otritas (need for power). Kebutuhan untuk membuat orang berperilaku dalam keadaan yang wajar dan bijaksana di dalam tugasnya masing-masing. Prestasi sendiri memiliki beberapa pengertian diantaranya hasil yang telah dicapai, dilakukan dan dikerjakan. Karena itu, berbagai gelar atau predikat diberikan sebagai suatu bentuk penghargaan atas prestasi yang diperoleh seseorang (dalam kamus umum Bahasa Indonsesia, WJS. Poerwadarminta). Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2003), prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari suatu usaha yang telah dikerjakan. Sedangkan menurut Djamarah (2002) prestasi adalah hasil

13 dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, dan diciptakan, baik secara individual maupun kelompok. Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa suatu prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari suatu usaha yang telah dikerjakan dan diciptakan baik secara individu maupun kelompok. 2.2.1 Prestasi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Menurut Chaplin (dalam Arisanti & Wirawan, 2010), prestasi adalah pencapaian yang dicapai oleh seseorang atau suatu tingkatan khusus dari kesuksesan karena telah mempelajari tugas-tugas yang ada dalam satu bidang. Prestasi seorang atlet dapat diukur melalui seberapa sering ia bertanding dan memperoleh kemenangan dalam setiap pertandingan. Adisasmito (2007) menyatakan bahwa prestasi atlet merupakan kumpulan dari hasil-hasil yang dicapai oleh atlet dalam melaksanakan tugas yang diberikannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah sesuatu hal yang dicapai berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh individu. Adisasmito menambahkan bahwa atlet dengan motivasi berprestasi yang tinggi cenderung memiliki aktivitas yang menantang, serta menghindari tugas yang terlalu mudah karena atlet tersebut tidak mendapatkan kepuasan dari tugas yang terlalu mudah itu. Tantangan bagi seorang atlet yang memiliki rasa motivasi berprestasi yang tinggi merupakan sebuah motivator untuk mereka. Selain itu, atlet dengan

14 motivasi berprestasi yang tinggi selalu melakukan evaluasi dari setiap performa mereka, dalam hal ini adalah pertandingan. Mereka tidak sungkan untuk meminta feedback dari pelatih mereka mengenai performa mereka selama pertandingan. Ada tiga faktor yang mempengaruhi pencapaian prestasi atlet, yaitu faktor fisik, teknis dan psikologis. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dalam memunculkan prestasi yang optimal. Ketiga faktor tersebut merupakan modal untuk seorang atlet menjadi atlet unggul dan mencapai prestasi puncak dalam bidangnya. Menurut Adisasmito (2007), apabila ada salah satu faktor yang tidak optimal, maka prestasi yang dicapai juga tidak optimal. Adisasmito menjelaskan bahwa faktor fisik merupakan faktor yang berhubungan dengan bentuk tubuh dan kemampuan atlet. Bentuk tubuh yang ideal berpengaruh terhadap prestasi atlet. Faktor fisik bukan hanya bentuk tubuh, melainkan kondisi fisik yang prima, daya tahan (endurance), fleksibilitas, koordinasi gerak, dan kekuatan, baik untuk latihan maupun untuk pertandingan. Teknik berhubungan dengan keterampilan khusus yang dimiliki atlet dan latihan yang dilakukan atlet. Dengan latihan yang teratur dan intensif maka keterampilan yang telah dimiliki dapat dikembangkan atau dioptimalkan. Teknik sendiri dapat mempengaruhi prestasi atlet, dengan menguasai teknik bermain yang baik maka prestasi yang dicapai oleh atlet dapat maksimal. Faktor psikologis merupakan penggerak atau pengaruh penampilan atlet. Faktor psikologis yang dimaksud antara lain akal, taktik,

15 motivasi, tekanan, atau hal lain yang menghambat pencapaian prestasi atlet. Futsal adalah olah raga yang kompetitif, sehingga sangat penting bagi atlet untuk dapat mengendalikan emosinya. Pengendalian emosi sendiri bisa dijadikan sebuah motivator bagi atlet untuk berprestasi, karena pada umumnya sesaat sebelum bertanding atlet mengalami ketegangan yang memuncak sehingga atlet merasa tidak percaya diri dalam menghadapi pertandingan. Pelatih mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengoptimalkan motivasi atlet untuk berprestasi, karena pelatih sering berinteraksi dengan atlet. Hubungan antara pelatih dan atletnya harus menekankan sebuah komunikasi yang baik agar motivasi pada diri atlet dapat ditingkatkan. Pelatih yang sering menghukum atlet saat atlet melakukan kesalahan memungkinkan bagi seorang atlet untuk mengasosiasikan aktivitas fisik sebagai hukuman. Tambahan latihan bagi sebagian atlet terasa menyenangkan dan berdampak positif, namun sebagian lagi sama sekali tidak terasa menyenangkan dan memiliki dampak positif. Menurut Satiadarma (2002), pelatih yang melakukan atlet tertentu lebih baik akan menimbulkan ketidakkonsistenan dalam menerapkan aturan yang dapat menyebabkan motivasi atlet menurun. 2.3 Insentif Teori mengenai insentif yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori psikologi industri dan organisasi (PIO) yang disesuaikan untuk atlet, khususnya atlet futsal putri pada klub XYZ.

16 Cashmore (2002) menyatakan bahwa insentif merupakan sesuatu yang mendorong atau memprovokasi perilaku. Insentif dalam dunia olahraga sangat bervariasi, dari mulai piala sampai pada rangsangan dalam bentuk uang. Lain halnya dengan Atkinson (1958) menyatakan bahwa insentif dapat mendorong motivasi, menurutnya kunci yang penting untuk melihat motivasi pencapaian seseorang didasari oleh tiga hal, pertama motif, ekspektasi dan insentif yang diraihnya. Sedangkan menurut Alderman & Wood (dalam Danielson, 2004) insentif merupakan sesuatu yang eksternal yang mendorong perilaku seseorang untuk mencapai tujuan. Dari ketiga definisi diatas dapat dipahami bahwa insentif merupakan harapan atau sesuatu hal yang dapat mendorong seseorang berperilaku untuk dapat mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan insentif sendiri adalah merangsang diri individu agar dapat mengoptimalkan potensi yang dimilikinya agar mencapai apa yang diinginkan oleh dirinya maupun pihak lain yang turut berkontribusi untuk mencapai keberhasilan. 2.3.1 Tujuan Pemberian Insentif Hasibuan (2010) menyatakan beberapa tujuan dari diberikannya insentif pada atlet, antara lain sebagai berikut: 1. Mendorong gairah dan semangat atlet 2. Meningkatkan kedisiplinan atlet 3. Meningkatkan tingkat kesejahteraan atlet 4. Mempertinggi rasa tanggung jawab atlet terhadap tugastugasnya

17 Bachrun (2011) mengungkapkan bahwa insentif adalah sesuatu yang diinginkan oleh kedua belah pihak, baik perusahaan (dalam hal ini manajemen klub) maupun atlet. Bagi manajemen klub, pemberian insentif bertujuan untuk meningkatkan produksi dengan cara mendorong atlet bekerja dengan semangat yang lebih tinggi sehingga bisa menghasilkan prestasi dalam kuantitas dan kualitas yang jauh lebih baik. Sebaliknya, bagi atlet, pemberian insentif akan mendorong terjadinya peningkatan penghasilan dan juga mendorong semangat untuk selalu mengembangkan diri. 2.3.2 Asas-asas Pemberian Insentif Menurut Hasibuan (2010), ada beberapa asas yang digunakan untuk memberikan insentif kepada atlet, antara lain: 1. Asas Pengakuan, artinya memberikan penghargaan, pujian dan pengakuan yang tepat serta wajar kepada atlet atas prestasi yang dicapainya. 2. Asas Wewenang yang Didelegasikan, artinya memberikan kewenangan, kepercayaan diri pada atlet, bahwa dengan kemampuan dan kreativitasnya ia mampu mengerjakan tugas-tugas itu dengan baik. Misalnya: Tugas Anda adalah memenangkan pertandingan dan saya berharap Anda mampu mengerjakannya.

18 3. Asas Adil dan Layak, artinya insentif yang diberikan harus berdasarkan atas kelayakan dan keadilan terhadap semua atlet. Misalnya: pemberian hadiah atau reward serta hukuman terhadap semua atlet harus adil dan layak. 4. Asas Perhatian Timbal Balik, artinya atlet yang berhasil mencapai tujuan dengan baik, maka pimpinan harus bersedia memberikan insentif. 2.3.3 Bentuk-bentuk Insentif Menurut Alderman dan Wood (dalam Danielson, 2004) insentif dapat berupa tangible dan psychological. 1. Tangible Incentive, merupakan bentuk nyata berupa piala, medali, plakat, sertifikat, uang, barang dan lain sebagainya. 2. Psychological Incentives meliputi: a. Independence atau tidak bergantung, bebas, dengan kata lain insentif berhubungan dengan kesempatan untuk mengekspresikan diri tanpa bantuan orang lain, sebagai contoh dorongan keinginan untuk sehat. b. Arousal: berhubungan dorongan untuk memperoleh kegembiraan, dorongan untuk memperoleh sesuatu yang baru c. Esteem: insentif berhubungan dengan peningkatan status, prestis, ingin dikenal

19 d. Exellence: harapan pada sesuatu hal yang baik, seperti ingin terbaik atau peringkat tinggi dalam suatu kompetisi bidang apa saja. Sementara itu, dalam konsep Bandura (1986) terdapat bentuk insentif yang dapat memotivasi dalam bidang olahraga, antara lain: 1. Monetary Incentives Dengan iming-iming berupa uang diharapkan segala sesuatu akan bisa terpenuhi. Karena itu perolehan gelar juara selalu diharapkan, mengingat uang tersedia di belakang gelar tersebut. 2. Social Incentives Kontak sosial dengan lingkungan akan lebih mudah dan nyaman dengan pertimbangan masyarakat telah mengenalnya sebagai seseorang yang berhasil. 3. Status/Power Incentives Peningkatan status sosial dimungkinkan terjadi karena kemudahan-kemudahan yang diperoleh yang diakui oleh pemerintah maupun institusi lainnya. Sedangkan menurut Hasibuan (2010) ada beberapa jenis insentif yang dapat memotivasi seseorang, antara lain: 1. Materiil Insentif Adalah alat motivasi yang diberikan dalam bentuk uang dan atau barang yang mempunyai nilai pasar, jadi memberikan kebutuhan ekonomis. Misalnya: hadiah kendaraan, rumah, dan lain-lainnya.

20 2. Nonmateriil Insentif Adalah alat motivasi yang diberikan dalam bentuk uang atau benda yang tidak ternilai, jadi hanya memberikan kepuasan atau kebanggaan rohani saja. Misalnya: medali, piagam, bintang jasa, dan lain-lainnya. 3. Kombinasi Materiil dan Nonmateriil Insentif Adalah alat motivasi yang diberikan dalam bentuk materiil (uang dan barang) dan nonmateriil (medali dan piagam), jadi memenuhi kebutuhan ekonomis dan kepuasan atau kebanggaan rohani. Dari beberapa bentuk insentif yang dikemukakan diatas, terdapat 2 (dua) kesamaan yang perlu diperhatikan, yaitu: 1. Bentuk insentif secara nyata, Danielson (2006) menyatakannya sebagai tangible, dalam Bandura (1986) tersirat dalam Monetary Incentives, sedangkan dalam Hasibuan dinyatakan sebagai materiil insentif. 2. Bentuk insentif dalam bentuk tidak nyata, Danielson (2006) menyatakannya sebagai psychological, pada Bandura (1986) dinyatakan dalam bentuk Social Incentives dan Status/Power Incentives, dan dalam Hasibuan dinyatakan sebagai nonmateriil insentif.

21 2.3.4 Syarat Pemberian Insentif Agar insentif mencapai sasaran perlu persyaratan yang harus dinyatakan atau dikomunikasikan kepada karyawan sebelum program pemberian insentif dilakukan. Adapun syarat-syarat yang paling umum digunakan adalah (Bachrun, 2011): 1. Sederhana, jelas dan mudah dimengerti 2. Spesifik, atlet harus mengetahui dengan tepat apa yang diharapkan untuk bekerja agar produktivitas meningkat 3. Dapat dicapai, setiap atlet mempunyai kesempatan untuk memperoleh sesuatu 4. Dapat diukur, sasaran yang dapat diukur merupakan dasar untuk menentukan rencana insentif 5. Pembayaran insentif dilakukan secepat mungkin 2.4 Atlet Futsal 2.4.1 Pengertian Futsal Futsal (futbol sala dalam bahasa Spanyol berarti sepak bola dalam ruangan) merupakan permainan sepak bola yang dilakukan di dalam ruangan (dalam Lhaksana, 2011). Futsal dibentuk pada tahun 1930 oleh Juan Carlos Seriani. Juan Carlos Seriani melakukan eksperimen latihan didalam gedung olahraga dan jumlah pemainnya hanya 5 pemain dalam satu tim termasuk penjaga gawang. Peraturan permainan futsal berbeda dengan aturan main sepak bola lapangan lebar (konvensional).

22 2.4.2 Pengertian Atlet Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2011), atlet adalah olahragawan terutama yang mengikuti perlombaan atau pertandingan (kekuatan, ketangkasan dan kecepatan). Sedangkan menurut Undangundang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Bab X Pasal 53 dikatakan bahwa olahragawan meliputi olahragawan amatir dan profesional. Olahragawan Amatir adalah olahragawan yang melaksanakan kegiatan olahraga yang menjadi kegemaran dan keahliannya. Olahragawan amatir memiliki beberapa hak, antara lain: 1. Meningkatkan prestasi melalui klub dan perkumpulan olahraga. 2. Mendapatkan pembinaan dan pengembangan sesuai dengan cabang olahraga yang diminati. 3. Mengikuti kejuaraan olahraga pada semua tingkatan setelah melalui seleksi dan atau kompetisi. 4. Memperoleh kemudahan izin dari instansi untuk mengikuti kegiatan keolahragaan daerah, nasional dan internasional. 5. Beralih status menjadi olahragawan profesional. Olahragawan profesional adalah olahragawan yang melaksanakan kegiatan olahraga sebagai profesi sesuai dengan keahliannya. Sama seperti olahragawan amatir, olahragawan profesional memiliki beberapa hak, antara lain:

23 1. Didampingi oleh, antara lain manajer, pelatih, tenaga medis, psikolog dan ahli hukum. 2. Mengikuti kejuaraan pada semua tingkatan sesuai dengan keahlian. 3. Mendapatkan pembinaan dan pengembangan dari induk organisasi cabang olahraga, organisasi olahraga profesional, atau olah raga fungsional. 4. Mendapatkan pendapatan yang layak. Untuk menjadi seorang olahragawan profesional harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti: 1. Pernah menjadi olahragawan amatir yang mengikuti kompetisi secara periodik. 2. Memenuhi ketentuan ketenagakerjaan yang dipersyaratkan. 3. Memenuhi ketentuan medis yang dipersyaratkan. 4. Memperoleh pernyataan tertulis tentang pelepasan status dari olahragawan amatir menjadi olahragawan profesional yang diketahui oleh induk organisasi cabang olahraga yang bersangkutan. 2.4.3 Pengertian Atlet Futsal Dari pengertian atlet dan futsal di atas, peneliti menyimpulkan bahwa atlet futsal adalah olahragawan yang mendalami bidang olahraga futsal, baik itu berlatih atau mengikuti perlombaan atau pertandingan dalam lingkup antar klub (amatir dan profesional) maupun antar negara (internasional).

24 2.5 Kerangka Berpikir Insentif adalah harapan atau sesuatu hal yang dapat mendorong seseorang berperilaku untuk dapat mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan pemberian insentif sendiri adalah merangsang diri individu agar dapat mengoptimalkan potensi yang dimilikinya agar mencapai apa yang diinginkan oleh dirinya maupun pihak lain yang turut berkontribusi untuk mencapai keberhasilan. Setiap atlet idealnya memiliki harapan akan sebuah penghargaan atas kinerja yang telah ia berikan kepada timnya, sebuah instansi, bahkan bangsa dan negaranya. Dengan demikian, atlet yang diberikan sejumlah insentif dapat menghasilkan sebuah prestasi yang gemilang, karena insentif yang diberikan diharapkan dapat merangsang individu agar mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Atlet futsal menyadari bahwa dengan mencapai sebuah prestasi yang tinggi ia akan memperoleh pendapatan yang besar (dalam hal ini adalah insentif). Dengan pendapatan yang besar itulah akhirnya ia memiliki serta dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Berdasarkan pemikiran tersebut diatas, maka diduga persepsi tentang pemberian insentif yang ada pada diri atlet memiliki hubungan dengan motivasi berprestasi.