BAB II BANGUNAN BOSSCHA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB II KAJIAN LITERATUR

BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN. 1 P e n d a h u l u a n

Bab I Pendahuluan 1. 1 Latar Belakang

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN DAN/ATAU LINGKUNGAN CAGAR BUDAYA

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA

BAB II TINJAUAN TEORI

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D

biasa dari khalayak eropa. Sukses ini mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk menggiatkan lagi komisi yang dulu. J.L.A. Brandes ditunjuk untuk

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

PEMUGARAN FACULTY HOUSE WISMA KERKHOVEN, LEMBANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Projek Observatorium Astronomi. masyarakat umum. Hal ini tidak lepas dari keterbatasan fasilitas

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 59 TAHUN 2007 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemeliharaan adalah salah satu usaha dari pelestarian benda cagar budaya yang nampaknya

BAB II TINJAUAN PROYEK GAMBARAN UMUM PROYEK DATA FISIK BANGUNAN : Peningkatan Kuantitas Komplek Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

b. bahwa untuk menjaga kelestarian benda cagar budaya diperlukan langkah pengaturan bagi penguasaan, pemilikan,

Undang-undang untuk mengatur pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan tinggalan purbakala. Oleh Junus Satrio Atmodjo

REVITALISASI BANGUNAN MEGARIA SEBAGAI PUSAT SINEMA

MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA.

STUDI PENENTUAN KLASIFIKASI POTENSI KAWASAN KONSERVASI DI KOTA AMBARAWA TUGAS AKHIR

BUPATI GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GOWA NOMOR 09 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN CAGAR BUDAYA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG

TENTANG CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang Sekretariat: Jl Graha Mukti Raya 1150 Semarang, Telp:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. (bersejarah) ternyata telah dilakukan sejak zaman dahulu kala, dimulai sejak adanya

- 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA DI KOTA MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01/PRT/M/2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG CAGAR BUDAYA YANG DILESTARIKAN

PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DAERAH

WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI

BAB I PENDAHULUAN. Jumlah Wisatawan yang Berkunjung ke Taman Pintar Tahun

Wajah Militair Hospitaal dan 'Kota Militer' Cimahi

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah wilayah atau daerah mempunyai banyak Bangunan serta Benda Cagar

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN SOBOKARTTI SEBAGAI JAVA HERITAGE CENTER

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

WALIKOTA PAREPARE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA PAREPARE NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN DAN PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1995 TENTANG PEMELIHARAAN DAN PEMANFAATAN BENDA CAGAR BUDAYA DI MUSEUM

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan

BAB 2 PELESTARIAN BANGUNAN PUSAKA

RUMAH LIMAS PALEMBANG WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH

Dokumen Kurikulum Program Studi: S3 Astronomi. Lampiran III

PERANSERTA STAKEHOLDER DALAM REVITALISASI KAWASAN KERATON KASUNANAN SURAKARTA TUGAS AKHIR. Oleh: YANTHI LYDIA INDRAWATI L2D

Analisis Penilaian Bangunan Cagar Budaya,

2015 PENGEMBANGAN RUMAH BERSEJARAH INGGIT GARNASIH SEBAGAI ATRAKSI WISATA BUDAYA DI KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN HOTEL INNA DIBYA PURI SEBAGAI CITY HOTEL DI SEMARANG

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Kita membuat pedoman perizinan, format perizinan, ataukah sistem perizinan?

Pelestarian Bangunan Bersejarah Di Kota Lhokseumawe

BAB I PENDAHULUAN. sepatutnyalah potensi Sumberdaya Budaya (Culture Resources) tersebut. perlu kita lestarikan, kembangkan dan manfaatkan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun banyak juga yang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Sejarah 2.2 Kriteria Lanskap Sejarah

PERANCANGAN BOOKLET BANGUNAN BERSEJARAH DI KOTA PADANG. Elfi Tika Sari 14520/2009

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TENTANG CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA

Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO

BUPATI MOJOKERTO PROVINSI JAWA TIMUR

NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA

PEDOMAN REVITALISASI KAWASAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 18/PRT/M/2011

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 2 DATA DAN ANALISA. Akhir ini diperoleh dari berbagai sumber, antara lain :

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Kebudayaan nasional merupakan sesuatu hal yang penting bagi Indonesia dan

Elemen Fisik Masjid Baiturrahman Banda Aceh sebagai Pembentuk Karakter Visual Bangunan

Sejarah Pembangunan dan Renovasi pada Masjid Agung Bandung

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh

Pengalaman di Surabaya

KAJIAN KEAKTIFAN KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG BERDASARKAN AKTIFITAS PENGGUNA

BAB I PENDAHULUAN. menerus meningkat, memerlukan modal yang besar jumlahnya. Pengembangan kepariwisataan merupakan salah satu alternatif yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan ±

2 Indonesia, baik pada masa lalu, masa kini, maupun yang akan datang, perlu dimanfaatkan sebagai modal pembangunan. Sebagai karya warisan budaya masa

Transkripsi:

BAB II BANGUNAN BOSSCHA 2.1 Bangunan Bersejarah Bangunan Bersejarah identik dengan rumah, atau infrastruktur dalam kedaan cukup lama berdiri dan mempunyai silsilah yang kuat sebelum awal didirikannya terkait dengan waktu saat pembangunanya. Maju pesatnya sebuah peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari teknik bangunan maupun sarana dan prasarana yang digunakan untuk membangun peradabannya. Dijelaskan dalam perlindungan Benda Cagar Budaya : Undang - Undang Nomor 5/1992 tentang BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 1. Benda cagar budaya adalah: a. Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (limapuluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. b. Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. 7

2. Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya. 2.2 Aspek Penilaian Kriteria Bangunan yang Dilindungi Rujukan undang-undang Republik Indonesia no.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dapat dirumuskan meliputi beberapa poin yang termasuk kedalam perundang - undangan Bandung dan Jawa Barat diantaranya: 1. Nilai Sejarah Semua hal yang berkaitan dengan peristiwa atau sejarah politik, sejarah ilmu pengetahuan, sejarah budaya termasuk di dalamnya sejarah kawasan maupun bangunan yang mempunyai ciri khas daerah tertentu. 2. Nilai Arsitektur Semua yang berkaitan dengan ciri bangunan komposisi elemenelemen dalam tatanan lingkungan dan ciri bangunan yang mencerminkan pada masa apa di bangunnya. Termasuk di dalam nilai arsitektur bentuk bangunan, warna serta ornamen yang dimiliki oleh bangunan. Juga berkaitan dengan termasuk di dalamnya penggunaan konstruksi dan material khusus. 3. Nilai Ilmu Pengetahuan Meliputi bangunan-bangunan yang memiliki peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan, misalnya ITB, UPI, Museum Geologi dan Bosscha. 8

4. Nilai sosial budaya (collective Memory) Berkaitan erat dengan masyarakat suatu daerah keterkaitan emosional dan memori. 5. Umur Berkaitan dengan waktu dan umur kriteria umur yang ditetapkan sekurang-kurangnya 50 tahun. Hal yang terikat dengan bangunan tua cagar budaya ini meliputi beberapa kriteria jika bangunan ini memang diperuntukkan serta digunakan bukan dengan fungsi didirikannya dan jika mengharuskan melakukan perombakan harus didasari oleh alasan yang kuat diantaranya sebagai berikut: Preservasi Preservasi tindakan atau proses penerapan langkah-langkah dalam mendukung keberadaan bentuk asli, keutuhan material bangunan / struktur. Tindakan ini dapat disertai dengan menambahkan penguatpenguat pada struktur, disamping pemeliharaan material bangunan bersejarah tersebut. Preservasi merupakan upaya melindungi benda cagar budaya secara tidak langsung (pemagaran, pencagaran) dari faktor lingkungan yang merusak. Preservasi sebenarnya mempunyai arti yang mirip dengan konservasi. Perbedaan preservasi dan konservasi: a. Secara teknis preservasi lebih menekankan pada segi pemeliharaan secara sederhana, tanpa memberikan perlakuan secara khusus terhadap benda. 9

b. secara makro preservasi mempunyai arti yang mirip dengan pelestarian, yang meliputi pekerjaan teknis dan administratif pembinaan dan perlindungan. Dijelaskan menurut Haryoto Kunto dalam buku "Wajah Bandoeng Tempo Doloe" bangunan yang masuk kedalam daftar cagar budaya bisa dinilai dari: 1. Sesuai dengan "Monumenten Ondonantie" tahun 1931, yaitu bangunan yang sudah berumur 50 tahun atau lebih, yang "kekunoannya" (antiquity) dan "keasliannya" telah teruji. 2. Ditinjau dari segi estetika dan seni bangunan, memiliki "mutu" cukup tinggi dan mewakili gaya corak bentuk seni arsitektur yang langka ditemukan 3. Bangunan atau monumen, yang representetif mewakili jamannya. 4. Monumen / bangunan mempunyai kaitan sejarah dengan kota Bandung, maupun peristiwa nasional juga internasional. Rehabilitasi / Renovasi Rehabilitasi membuat bangunan tua berfungsi kembali. Perubahanperubahan dapat dilakukan sampai batas tertentu, agar bangunan dapat beradaptasi terhadap lingkungan atau kondisi sekarang dan hingga yang akan datang. Renovasi adalah sebuah proses mengembalikan obyek agar berfungsi kembali, dengan cara memperbaiki agar sesuai dengan kondisi sekarang, seperti melestarikan bagian-bagian yang 10

mempunyai ciri yang bisa dikatakan penting dinilai dari aspek sejarah, arsitektur dan budaya. Rehabilitasi / Renovasi merupakan Salah satu bentuk pemugaran yang sifat pekerjaannya hanya memperbaiki bagian-bagian bangunan yang mengalami kerusakan. Bangunan tersebut tidak dibongkar seluruhnya. pekerjaan rehabilitasi umumnya melibatkan tingkat presentase kerusakan yang kecil. Konservasi Konservasi merawat dan melindungi tempat-tempat yang indah dan berharga, agar tidak hancur atau berubah masih dalam koridor batasbatas yang wajar. Konservasi juga Menekankan pada penggunaan kembali bangunan lama, agar tidak terlantar. Upaya konservasi disebut perlindungan terhadap benda-benda cagar budaya yang dilakukan secara langsung dengan cara membersihkan, memelihara, memperbaiki, baik secara fisik maupun secara langsung dari pengaruh berbagai faktor lingkungan yang merusak. Konservasi merupakan perlindungan benda peninggalan sejarah dan purbakala dari kerusakan yang diakibatkan oleh alam, kimiawi dan mikro organisme. Replikasi Membuat tiruan. dengan membangun seperti aslinya dan menyerupai aslinya. 11

Relokasi Memindahkan bangunan dari sebuah lokasi ke lokasi yang lain, atas pertimbangan ekonomis maupun estetis. Rekonstruksi Rekonstruksi merupakan tindakan suatu proses mereproduksi dengan membangun baru semua bentuk serta detil secara tepat, sebuah bangunan yang telah hancur atau hilang, serta tampak pada periode tertentu. Rekonstruksi merupakan suatu kegiatan penyusunan kembali struktur bangunan yang rusak yang pada umumnya bahan-bahan bangunan yang asli sudah banyak yang hilang. Dalam hal ini pemerintah dapat mengganti menggunakan bahan-bahan bangunan yang baru seperti cat warna atau bahan lainnya yang bentuknya harus disesuaikan dengan bangunan aslinya. Revitalisasi Meningkatkan kegiatan sosial dan ekonomi lingkungan bersejarah, yang sudah kehilangan vitalitas fungsi aslinya 2.3 Bosscha Observatorium Bosscha (Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. 12

Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan dalam rapat NISV diusulkan Karel Albert Rudolf Bosscha. K.A.R. Bosscha seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini. Gambar 2.3.1 Bosscha pagi Gambar 2.3.2 Bosscha sore Pembangunan Observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928. Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang dunia II usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada Observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya Bosscha dapat beroperasi dengan normal kembali. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi 13

Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Gambar 2.3.3 Para astronom Gambar 2.3.4 Gerhana bulan 2.4 Peranan Bosscha Observatorium Bosscha adalah sebuah Lembaga Penelitian dengan program-program spesifik. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, obervatorium ini merupakan pusat penelitian dan pengembangan ilmu astronomi di Indonesia. Sebagai bagian dari Fakultas MIPA - ITB, Observatorium Bosscha memberikan layanan bagi pendidikan sarjana dan pascasarjana di ITB, khususnya bagi Program Studi Astronomi, FMIPA - ITB. Berdiri tahun 1923, Observatorium Bosscha bukan hanya observatorium tertua di Indonesia, tapi juga masih satu-satunya obervatorium besar di Indonesia. Observatorium Bosscha merupakan lembaga penelitian astronomi moderen yang pertama di Indonesia. Selain dikelola oleh Institut 14

Teknologi Bandung dan observatorium ini mengemban tugas sebagai fasilitator dari penelitian dan pengembangan astronomi di Indonesia, serta memiliki kegiatan pengabdian pada masyarakat. Observatorium Bosscha satu-satunya observatorium besar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara sampai saat ini. Peran ini diterima dengan penuh bertanggung jawab sebagai tempat yang berkontribusi dibidang ilmu astronomi di Indonesia. Dalam program pengabdian masyarakat, melalui ceramah, diskusi dan kunjungan terpandu ke fasilitas teropong untuk melihat objekobjek langit, masyarakat diperkenalkan pada keindahan sekaligus deskripsi ilmiah alam raya. Dengan ini Observatorium Bosscha berperan sebagai lembaga ilmiah yang bukan hanya menjadi tempat berpikir dan bekerja para astronom profesional, tetapi juga merupakan tempat bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai sains. Tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha dilindungi oleh UU Nomor 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan. Observatorium Bosscha berperan sebagai rumah pusat penelitian bagi penelitian astronomi di Indonesia. 15

Gambar 2.4.1 Kegiatan yang melibatkan masyarakat 2.4.1 Sarana dan Prasarana Bosscha Refraktor Ganda Zeiss 60 cm Teleskop ganda Zeiss 60 cm berada pada satu-satunya gedung kubah di Observatorium Bosscha yang telah menjadi landmark Bandung utara selama lebih dari 85 tahun. Arsitektur Bangunan yang didalamnya terdapat teropong ini, dirancang oleh arsitek Bandung ternama K. C. P. Wolf Schoemacher,yang juga merupakan guru Presiden Soekarno. Teleskop dan gedung kubah ini merupakan sumbangan dari K. A. R. Bosscha yang secara resmi diserahkan kepada Perhimpunan Astronomi Hindia-Belanda pada bulan Juni 1928. Kubah gedung memiliki bobot 56 ton dengan diameter 14,5 m dan terbuat dari baja setebal 2 mm. 16

Gambar 2.4.1.1 Zeiss 60 cm 2.5 Program Kerja Bosscha Sebagai bentuk pengabdian terhadap masyarakat Observatorium Bosscha membuka kunjungan terbatas. Dikarenakan banyaknya permintaan kunjungan dari masyarakat dan padatnya kegiatan yang dilakukan di Observatorium Bosscha, pengurus Observatorium Bosscha perlu mengatur kunjungan agar masyarakat umum terlayani dan aktivitas akademis juga terus berjalan. 2.6 Struktur Kepengurusan Organisasi Struktur organisasi Observatorium Bosccha sudah berjalan lama dari tahun 1923 2010 sampai sekarang terus melakukan regenerasi. 1. 1923-1940: Dr. Joan Voûte 2. 1940-1942: Dr. Aernout de Sitter 3. 1942-1946: Prof. Dr. Masashi Miyaji 4. 1946-1949: Prof. Dr. J. Hins 17

5. 1949-1958: Prof. Dr. Gale Bruno van Albada 6. 1958-1959: Prof. Dr. O. P. Hok dan Santoso Nitisastro (pejabat sementara) 7. 1959-1968: Prof. Dr. The Pik Sin 8. 1968-1999: Prof. Dr. Bambang Hidayat 9. 1999-2004: Dr. Moedji Raharto 10. 2004-2006: Dr. Dhani Herdiwijaya 11. 2006-2010: Dr. Taufiq Hidayat 12. 2010 - sekarang: Dr. Hakim Luthfi Malasan 2.7 Permasalahan Bosscha merupakan tempat praktek pembelajaran ilmu pengetahuan alam bagi siswa siswi sekolah tingkat menengah pertama maupun perguruan tinggi, selain karena disana ditunjang dengan fasilitas yang memadai tentang ilmu bumi terutama astronomi menjadikan pelajaran rumit menjadi mudah karena pemenuhan fasilitas tersebut. Namun tidak semua fasilitas media berupa elektronik terdapat disana misalkan fasilitas simulasi penggambaran struktur planet yang bergerak, siswa diharapkan mendapatkan informasi sepulangnya berkunjung dari Observatorium Bosscha. 2.8 Khalayak Sasaran Remaja yang bertempat tinggal di kota Bandung. Dengan meliputi khalayak sasaran: 2.8.1 Demografis: Pelajar sekolah menengah pertama yang ada di kota Bandung. Remaja umur 11 sampai 14 tahun di usia ini siswa dituntut untuk mengerti 18

dengan pelajaran dan ilmu pengetahuan apapun yang diberikan oleh guru disekolah. 2.8.2 Geografis: Untuk siswa SMP yang ada pada daerah Bandung, yang memang fasilitas pembelajaran sudah mulai fariatif dengan diperkenalkannya pelajaran komputer. 2.8.3 Psikografis: Siswa SMP yang aktif, berprilaku modern, yang ingin mencoba sesuatu yang membuat rasa ingin tahunya terpenuhi. 19