VISI HIJAU UNTUK SUMATRA

dokumen-dokumen yang mirip
Pemetaan Keanekaragaman Hayati Dan Stok Karbon di Tingkat Pulau & Kawasan Ekosistem Terpadu RIMBA

Tantangan Implementasi Peraturan Presiden No. 13/2012 tentang. RTR Pulau Sumatera dalam Upaya Penyelamatan Ekosistem Sumatera

IV APLIKASI PERMASALAHAN

TERM OF REFERENCE FASILITASI KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS)

INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Secara geografis letak Indonesia berada di daerah tropis atau berada di sekitar

RENCANA STRATEGIS

I. PENDAHULUAN. hayati yang tinggi dan termasuk ke dalam delapan negara mega biodiversitas di

Disampaikan Pada Acara :

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau

Peta Jalan Penyelamatan Ekosistem Sumatera 2020 Dalam RTR Pulau Sumatera

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Dengan kata lain manfaat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS UNTUK EKOSISTEM TERPADU RIMBA ASISTEN DEPUTI KAJIAN KEBIJAKAN WILAYAH DAN SEKTOR KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

Pembangunan Kehutanan

2. Dinamika ekosistem kawasan terus berubah (cenderung semakin terdegradasi),

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA

Dampak moratorium LoI pada hutan alam dan gambut Sumatra

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. dan hutan tropis yang menghilang dengan kecepatan yang dramatis. Pada tahun

West Kalimantan Community Carbon Pools

REFLEKSI PEMBANGUNAN BIDANG KEHUTANAN DIKEPEMIMPINAN GUBERNUR JAMBI BAPAK Drs. H. HASAN BASRI AGUS, MM

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu lingkungan tentang perubahan iklim global akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PROGRAM PENGEMBANGAN KELAPA BERKELANJUTAN DI PROVINSI JAMBI

Dr. EDWARD Saleh FORUM DAS SUMATERA SELATAN 2013

PERKEMBANGAN LOI RI-NORWAY DINAS KEHUTANAN PROVINSI RIAU

BAB II. PERENCANAAN KINERJA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Potensi sumber daya alam Indonesia sangat melimpah, antara lain potensi

Restorasi Ekosistem di Hutan Alam Produksi: Implementasi dan Prospek Pengembangan

Pemanfaatan canal blocking untuk konservasi lahan gambut

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak

Kajian Nilai Konservasi Tinggi Provinsi Kalimantan Tengah

Memperhatikan pokok-pokok dalam pengelolaan (pengurusan) hutan tersebut, maka telah ditetapkan Visi dan Misi Pembangunan Kehutanan Sumatera Selatan.

Peta Jalan Penyelamatan Ekosistem Sumatera dalam Perpres No. 13 Tahun 2012 tentang RTR Pulau Sumatera

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BRIEF Volume 11 No. 01 Tahun 2017

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 75 TAHUN 2017 TENTANG

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Karakteristik Hidrologi Di SUB DAS CIRASEA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Daftar Tanya Jawab Permintaan Pengajuan Konsep Proyek TFCA Kalimantan Siklus I 2013

PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

REVITALISASI KEHUTANAN

BAB I PENDAHULUAN. bawah tanah. Definisi hutan menurut Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang

APP melaporkan perkembangan implementasi pengelolaan lahan gambut

PENDAHULUAN. Latar Belakang

Avoided Deforestation & Resource Based Community Development Program

dikeluarkannya izin untuk aktivitas pertambangan pada tahun 1999 dengan dikeluarkannya SK Menperindag Nomor. 146/MPP/Kep/4/1999 tanggal 22 April 1999

Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat (PSDABM)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

Penyelamatan Ekosistem Sumatera Dalam RTR Pulau Sumatera

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.378, 2010 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Kawasan Hutan. Fungsi. Perubahan.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

Dokumen Pengadaan. Program MCAI-RIMBA, WWF-Indonesia : Pengadaan Jasa pembuatan Film Kegiatan Proyek Rimba. : Pascakualifikasi

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI

BAB I PENDAHULUAN. lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41

PERATURAN BERSAMA GUBERNUR JAWA TIMUR DAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 20 TAHUN 2013 NOMOR TENTANG

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Geografis LS dan BT. Beriklim tropis dengan

No baik hayati berupa tumbuhan, satwa liar serta jasad renik maupun non-hayati berupa tanah dan bebatuan, air, udara, serta iklim yang saling

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

1. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki hutan tropis yang luas dan memiliki keanekaragaman hayati yang

RINGKASAN. Murung Raya STRATEGI PERTUMBUHAN EKONOMI HIJAU. Sektor terpilih untuk pertumbuhan. ekonomi hijau

Latar Belakang. Gambar 1. Lahan gambut yang terbakar. pada lanskap lahan gambut. Di lahan gambut, ini berarti bahwa semua drainase

MAKALAH PEMBAHASAN EVALUASI KEBIJAKAN NASIONAL PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP DI DAERAH ALIRAN SUNGAI 1) WIDIATMAKA 2)

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau

I. PENDAHULUAN. manusia dalam penggunaan energi bahan bakar fosil serta kegiatan alih guna

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

Oleh: PT. GLOBAL ALAM LESTARI

Tabel 28. Kesesuaian RUTRK untuk RTH terhadap Inmendagri No. 14 Tahun RUTRK Untuk RTH (ha)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Solehudin, 2015 Kajian Tingkat Bahaya Erosi Permukaandi Sub Daerah Aliran Sungai Cirompang

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P. 34/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

KEBERLANGSUNGAN FUNGSI EKONOMI, SOSIAL, DAN LINGKUNGAN MELALUI PENANAMAN KELAPA SAWIT/ HTI BERKELANJUTAN DI LAHAN GAMBUT

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Identifikasi Lokasi Prioritas Konservasi di Indonesia Berdasarkan Konektivitas Darat-Laut

INISIATIF PROVINSI RIAU DALAM REDD+

PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS TERPADU. Identifikasi Masalah. Menentukan Sasaran dan Tujuan. Alternatif kegiatan dan implementasi program

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. menyebabkan perubahan tata guna lahan dan penurunan kualitas lingkungan. Alih

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN KORIDOR EKOSISTEM PENTING DI SUMATERA. Herwasono Soedjito Pusat Penelitian Biologi - LIPI

Menerapkan Filosofi 4C APRIL di Lahan Gambut

Permasalahan hutan dan upaya penanganan oleh pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan ruang bagi sumberdaya alam,

PENILAIAN NILAI KONSERVASI TINGGI RINGKASAN EKSEKUTIF

5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan

Transkripsi:

REPORT FEBRUARY 2O12 Ringkasan Laporan VISI HIJAU UNTUK SUMATRA Menggunakan informasi Jasa Ekosistem untuk membuat rekomensi rencana peruntukan lahan di tingkat provinsi dan kabupaten. Sebuah Laporan oleh The Natural Capital Project, WWF-US, dan WWF-Indonesia Penulis:Nirmal Bhagabati1, Thomas Barano, Marc Conte, Driss Ennaanay, Oki Hadian, Emily McKenzie, Nasser Olwero, Amy Rosenthal, Suparmoko, Aurelie Shapiro, Heather Tallis, and Stacie Wolny. Februari 2012 1 Corresponding author

VISI HIJAU UNTUK SUMATERA: RINGKASAN LAPORAN Di Indonesia, rencana tata ruang kabupaten dan provinsi menentukan tempat penebangan kayu, perluasan perkebunan, pembangunan infrastruktur dan konservasi harus dilakukan. Pada tahun 2010, sepuluh gubernur dari Sumatera membuat sebuah komitmen seluruh pulau untuk melakukan perencanaan tata ruang berbasis ekosistem, yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan konservasi. Enam lembaga pemerintah pusat dan sebuah forum lembaga swadaya masyarakat termasuk WWF mengembangkan visi ekosistem bagi Sumatera sebagai alternatif terhadap rencana tata ruang pemerintah yang ada. Laporan ini menunjukkan bagaimana analisis spasial dan ekonomi jasa ekosistem dan habitat satwa liar dapat mendukung proses perencanaan tata ruang di Sumatera bagian tengah. Dengan mengkaji manfaat dari alam tempat masyarakat Sumatera mengelola dan bergantung, kita dapat mengidentifikasi seluruh biaya dan manfaat dari rute pembangunan masa depan alternatif. Hasil kajian kami ditarik dari perbandingan bentang alam Sumatera pada tahun 2008 dengan Rencana Pemerintah dan Visi Sumatera untuk 18 kabupaten dan enam daerah aliran sungai utama di Sumatera bagian tengah. Daerah penelitian termasuk bagian- bagian dari tiga provinsi - Riau, Sumatra Barat, dan Jambi serta daerah prioritas RIMBA, salah satu wilayah berhutan tersisa yang terakhir di Sumatera bagian tengah (Gambar i). Rekomendasi kami berfokus pada lima tindakan prioritas yang teridentifikasi oleh pemerintah Indonesia untuk melaksanakan dan mendanai perencanaan tata ruang berbasis ekosistem di Sumatera: restorasi hutan, pembayaran karbon hutan, pembayaran dan program untuk jasa daerah alian sungai (DAS), praktek pengelolaan terbaik untuk kehutanan, dan praktek pengelolaan terbaik untuk perkebunan.

Gambar i.a. Delapan belas kabupaten tempat penelitian dan daerah prioritas RIMBA

Gambar i.b. Cakupan wilayah studi, meliputi enam daerah aliran sungai di Sumatera bagian tengah.

Dalam setiap bab dari lima bab laporan, pembaca akan menemukan metode transparan dan komprehensif untuk mencapai kesimpulankesimpulan ilmiah dan kebijakan untuk setiap jasa ekosistem yang kami kaji dengan alat pemodelan InVEST (Integrated Valuation of Ecosystem Services and Tradeoffs = Penilaian Terpadu Pelayanan Ekosistem dan Penukaran): manfaat iklim dari penyimpanan dan penyerapan karbon; jasa DAS, termasuk pengendalian erosi, hasil air, dan pencemaran hara yang terhindarkan; kualitas habitat bagi keanekaragaman hayati, serta penukaran-penukaran dan sinergi di antara jasa ganda dan kegiatan ekonomi. Ada juga saran untuk analisis lebih lanjut dan rekomendasi, baik dengan mereplikasi pendekatan kami untuk kabupaten-kabupaten lain, atau dengan mengintegrasikan informasi dan metode baru. Temuan utama: Sumatra bagian Tengah Temuan utama kami mengandung pelajaran bagi perencana tata ruang di tingkat provinsi dan kabupaten, serta instansi pemerintah dan lembaga lain yang mempertimbangkan untuk berinvestasi di wilayah ini. Kami melihat bahwa melaksanakan Visi Sumatera dibandingkan dengan Rencana Pemerintah dapat menghasilkan keuntungan bersih dalam kualitas habitat, persediaan karbon total dan pencemaran hara yang terhindarkan dibandingkan dengan tahun 2008 (Gambar ii). Juga akan menghasilkan peningkatan moderat pada erosi di seluruh bagian wilayah studi, namun erosi total akan menjadi empat kali lebih besar berdasarkan Rencana Pemerintah. 50 0-50 -100-150 % change from 2008 to Vision % change from 2008 to Plan -200 Habitat quality Carbon stock Avoided N export Avoided P export Avoided sediment export Water yield Gambar ii. Perbedaan jasa ekosistem dan kualitas habitat antara Visi Sumatera dan Rencana Pemerintah, tahun 2008.

Dibandingkan dengan tahun 2008, melaksanakan Visi Sumatera akan menghasilkan keuntungan sebesar 350 juta ton karbon (MTC) yang tersimpan dalam enam daerah aliran sungai utama selama lebih dari 50 tahun. Sebaliknya, seluruh wilayah akan kehilangan 1000 juta ton karbon (MTC) selama lebih dari 50 tahun berdasarkan Rencana Pemerintah. Kerugian karbon ini, yang sebesar 3.667 juta ton emisi CO2, didorong oleh konversi hutan baru dan operasi perkebunan lanjutan di rawa gambut, yang menghasilkan emisi yang sedang berlangsung. Hasilnya, proyek-proyek dan program-program karbon hutan pada rawa gambut dan hutan di dataran tinggi yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi di Sumatera bagian tengah bisa menawarkan manfaat iklim global. Daerah prioritas RIMBA saja bisa mendapatkan 60 MTC dengan Visi Sumatera, sedangkan 100 MTC akan hilang berdasarkan Rencana Pemerintah, menunjukkan kesempatan untuk membangun proyek karbon hutan di wilayah menggeser pengembangan dari bisnis seperti biasanya dan menuju kemakmuran hijau. Manfaat jasa ekosistem dan keanekaragaman hayati tambahan yang diberikan oleh Visi Sumatera dapat didukung melalui tindakan prioritas yang diidentifikasi oleh pemerintah Indonesia. Perkebunan dan hutan produksi yang berdekatan dengan habitat berkualitas tinggi dapat mengurangi dampaknya terhadap harimau dan keanekaragaman hayati lainnya dengan melaksanakan beberapa praktek pengelolaan terbaik, seperti mendirikan koridor tepi sungai, mengurangi konflik manusia dan satwa liar serta perburuan, dan mencari sertifikasi lingkungan. Perbaikan pengelolaan daerah aliran sungai, dan pembayaran potensial untuk jasa DAS, dapat menjamin manfaat jangka panjang yang lebih banyak bagi masyarakat dan keanekaragaman hayati. Beberapa lokasi terutama penting bagi jasa-jasa ekosistem. Secara khusus, dari 69 sub-das yang diteliti, hanya satu berperingkat 25% teratas untuk kualitas habitat dan jasa ekosistem terbesar (Gambar iii). Sub-DAS ini meliputi sebagian besar cekungan Reteh, termasuk bagian dari daerah prioritas RIMBA, dan digunakan bersama oleh 2 kabupaten: Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Berdasarkan Visi Sumatera, program-program pengelolaan daerah aliran sungai pada sub-das sub-das hulu dari pusat-pusat penduduk, termasuk kota-kota Tembilahan dan Rengat, dapat melindungi habitat harimau di daerah prioritas RIMBA sekaligus mengurangi erosi dan pencemaran hara sebesar lebih dari 80% di beberapa daerah. Pergeseran ke Visi Sumatera juga akan memberikan pengendalian erosi yang lebih besar dari hulu Koto Panjang, sebuah bendungan PLTA besar yang memasok wilayah tersebut, yang dapat mengurangi biaya pengerukan atau kerusakan jangka panjang pada turbin dan infrastruktur lainnya yang masyarakat Sumatera bergantung.

Gambar iii. Satu-satunya DAS yang masuk peringkat 25% bagi kualitas habitat dan sebagian besar jasa-jasa ekosistem di Sumatera kawasan tengah.

Temuan utama: Propinsi-propinsi dan Kabupaten-kabupaten Sumatera Barat: Kabupaten- kabupaten Dharmasraya, Solok, Solok Selatan, Tanahdatar, Sawahlunto, dan Limapuluhkoto Sub-DAS sub-das bagian barat di Sumatera bagian tengah tampak sangat rentan terhadap erosi. Kabupaten-kabupaten di Sumatera Barat yang bisa sangat dipengaruhi meliputi Rangkaian Bukit Barisan yang bergunung-gunung: Limapuluhkoto, Tanahdatar, Sawahlunto, Solok, dan Solok Selatan. Pada banyak lokasi di seluruh Sumatera bagian tengah, peningkatan pada sebagian besar jasa ekosistem dan kualitas habitat disertai dengan kerugian dalam areal perkebunan dan hasil air tahunan. Hal ini berlaku untuk sebagian besar kabupaten-kabupaten di Sumatera Barat, namun, dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain, Solok tersendiri karena potensinya untuk memberikan jasa ekosistem tanpa pertukaran besar. Berdasarkan Visi Sumatera, Solok akan mengalami keuntungan besar dalam pengendalian erosi tanpa kerugian yang besar dalam areal perkebunan dibandingkan dengan berdasarkan Rencana Pemerintah, sehingga merupakan calon yang baik untuk program perbaikan pengelolaan DAS. Jambi: Kabupaten-kabupaten Tebo, Muarojambi, Sarolangun, Tanjungjabung Barat, Tanjungjabung Timur, Merangin, Bungo, dan Kerinci Sub-DAS sub-das pada DAS-DAS Batanghari dan Pengabuan Laban juga sangat rentan terhadap erosi. Kabupaten-kabupaten yang memiliki dampak besar berdasarkan Rencana Pemerintah termasuk kabupaten-kabupaten di ketinggian rendah Jambi: Bungo, Sarolangun, Tebo, Tanjungjabung Barat, Tanjungjabung Timur dan Muarojambi. Kabupaten- kabupaten Kerinci dan Merangin, dengan mencapai Rangkaian Bukit Barisan, juga cenderung mengalami peningkatan erosi dan sedimentasi. Namun, berdasarkan Visi Sumatera, Merangin akan meningkatkan pengendalian erosi tanpa kerugian besar dalam areal perkebunan dibandingkan dengan berdasarkan Rencana Pemerintah. Kabupaten-kabupaten ini bisa menghindari erosi yang cukup besar dengan melaksanakan program perbaikan manajemen DAS. Berdasarkan Rencana Pemerintah, empat dari lima kabupaten yang akan kehilangan kualitas habitat terbesar - 18 hingga 36% - dibandingkan dengan tahun 2008 adalah di Jambi: Muarojambi, Merangin, Sarolangun dan Bungo. Kabupaten-kabupaten ini bisa memprioritaskan restorasi hutan dan tindakan-tindakan prioritas lain untuk menghindari hal-hal yang sangat mempengaruhi harimau sumatera.

Riau: Kabupaten-kabupaten Kampar, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, dan Kuantan Singingi Seperti Sumatra Barat dan Jambi, Provinsi Riau menghadapi peningkatan degradasi ekosistem berdasarkan Rencana Pemerintah. Beberapa kabupaten bisa menghindari dampak-dampak tersebut dengan pertukaran yang relatif sedikit. Secara khusus, Kampar bisa menghindari peningkatan pencemaran hara dengan menargetkan areal utama untuk restorasi hutan dan praktek pengelolaan terbaik tanpa kerugian besar dalam hasil air dan areal perkebunan. Berdasarkan Visi Sumatera, Kampar dan Indragiri Hulu akan mengalami peningkatan yang lebih besar dalam persediaan karbon biomassa dibandingkan kabupaten lainnya, dengan hanya kerugian kecil dalam areal perkebunan dan hasil air. Pertukaran yang minimal ini menunjukkan potensi kuat untuk proyek-proyek karbon hutan di kabupaten-kabupaten ini dengan biaya yang relatif rendah. Berdasarkan laju deforestasi historis, Kampar, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, dan Kuantan Singingi berada pada risiko tinggi kehilangan habitat hutan penting bagi harimau. Sebagian besar hutan yang tersisa di kabupaten-kabupaten tersebut berada di daerah dataran rendah yang berada di bawah tekanan dari perluasan perkebunan dan kegiatan manusia lainnya. Kabupaten-kabupaten ini harus diprioritaskan untuk konservasi habitat dan tindakan-tindakan prioritas yang melestarikan habitat hutan di Sumatera bagian tengah.

Gambar iv. Sub-DAS sub-das diantara yang bisa mendapatkan keuntungan komparatif pada satu atau lebih jasa dengan melaksanakan Visi Sumatera daripada Rencana Pemerintah. ( keuntungan tinggi pada setidaknya satu jasa berdasarkan Visi Sumatera dibandingkan dengan Rencana Pemerintah)

Rekomendasi Kabupaten-kabupaten pegunungan di Sumatera bagian tengah, yang memiliki opportunity cost yang relatif rendah untuk pertanian, secara keseluruhan meliputi 90% dari kemungkinan keuntungan dalam pengendalian erosi pada Visi Sumatera dibandingkan dengan Rencana Pemerintah, tetapi, hanya 40% dari kemungkinan keuntungan dalam jasa lain dan kualitas habitat. Sumatera bisa menjamin keuntungan besar pada erosi yang terhindarkan dengan biaya yang relatif rendah dengan menerapkan restorasi habitat, proyek karbon hutan, dan perbaikan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) pada lereng-lereng di wilayah tersebut, namun intervensi di kabupaten yang memiliki opportunity cost lebih tinggi di dataran rendah, yang lebih cocok untuk pertanian dan kurang rentan terhadap erosi, diperlukan untuk merealisasi keuntungan besar dalam kualitas habitat, penyimpanan karbon, dan retensi hara. Sebagian besar sub-daerah aliran sungai di Sumatera bagian tengah akan memiliki keuntungan tinggi - pada persentil 25 teratas - setidaknya pada satu jasa berdasarkan Visi Sumatera dibandingkan dengan Rencana Pemerintah (Gambar iv). Untuk menjamin kenaikan besar dalam jasa ekosistem dan keanekaragaman hayati, intervensi akan diperlukan di seluruh sekitar 75% dari Sumatera tengah. Dengan kata lain, investasi dalam tindakan prioritas hampir di mana saja di Sumatera bagian tengah dapat menghasilkan peningkatan besar dalam jasa ekosistem atau kualitas habitat. Penelitian di masa depan harus fokus pada identifikasi pemenang dan pecundang tertentu dari rute pembangunan alternatif dan berpotensi untuk melaksanakan tindakan prioritas di Sumatera bagian tengah.