Definisi (1) Definisi (2) 3/20/2014

dokumen-dokumen yang mirip
PENDAHULUAN EKONOMI LINGKUNGAN. EKONOMI LINGKUNGAN (ESL ) Pertemuan 1 Dept. Ekonomi Sumberdaya & Lingkungan

PELAKSANAAN PROPER Sekretariat PROPER Kementerian Lingkungan Hidup

Kata Pengantar. Tim Teknis PROPER Kementerian Negara Lingkungan Hidup

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

BAB II HASIL PENILAIAN PROPER

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Permasalahan lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang harus kita

SOSIALISASI MEKANISME PENILAIAN MANDIRI PROPER SEKRETARIAT PROPER KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

BAB VI KESIMPULAN. bahwa Pertamina Rewulu melakukan CSR karena kebijakan mandatori Pertamina

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 23 TAHUN 2009 PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 23 TAHUN 2009 TENTANG

DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN

PENYIMPANAN & PENGUMPULAN PEMANFAATAN PENGANGKUTAN PENGOLAHAN PENIMBUNAN

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi bagi negara. Seiring bertambahnya pembangunan perusahaan, sumbersumber

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 18 TAHUN 2010 TENTANG

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL- UPL) Pengertian UKL-UPL

HUKUM PERDAGANGAN BEBAS MULTILATERAL Perdagangan Internasional Dan Lingkungan Hidup

Sekretariat PROPER. LIMBAH B3 dan LIMBAH NON B3

TATA CARA PENILAIAN KETAATAN DAN PENILAIAN KINERJA LEBIH DARI KETAATAN

INSTRUMEN EKONOMI UNTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN KULIAH VALUASI ESDAL PERTEMUAN KE

BAB I PENDAHULUAN. bumi yang diakibatkan oleh proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan

Manajemen Limbah Industri. Nur Istianah,ST,MT,M.Eng

PROPER : PROGRAM PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2005 TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG,

N, 2015 PENGARUH PENGUNGKAPAN AKUNTANSI LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN A. UMUM

LAPORAN HASIL PENILAIAN Program Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Pollution PROPER. environmental.

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN LINGKUNGAN HIDUP

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Corporate Social Responsibility (CSR) didefinisikan sebagai suatu konsep UKDW

Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Profitabilitas (Studi pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI Periode Tahun )

Kata Pengantar. Tim Teknis PROPER Kementerian Negara Lingkungan Hidup

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perancangan Sistem Penilaian pada Model Kematangan Pengelolaan Lingkungan Berdasarkan Kajian Metode Proper

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. barang dan jasa, pemakaian sumber-sumber energi, dan sumber daya alam.

PARADIGMA PENGELOLAAN USAHA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA.

TIN206 - Pengetahuan Lingkungan. Materi # T a u f i q u r R a c h m a n

TIN206 - Pengetahuan Lingkungan Materi #4 Genap 2016/2017. TIN206 - Pengetahuan Lingkungan

2017, No Peraturan Menteri; d. bahwa dalam rangka optimalisasi penanganan barang bukti tindak pidana lingkungan hidup dan kehutanan perlu diatu

BAB I PENDAHULUAN. tujuannya. Banyak perusahaan yang tidak memperhatikan masalah lingkungan

Peran Pemerintah dalam Perekonomian

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 16 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. melainkan juga menunjukkan prospek pada masa yang akan datang.

PENDEKATAN ECO-EFFISIENSI DALAM PENGELOLAAN USAHA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kegiatan usaha pertambangan mempunyai risiko yang tinggi terhadap

BAB I PENDAHULUAN. industri yang mampu bersaing di dunia internasional. Industri batik juga

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG PENGESAHAN MINAMATA CONVENTION ON MERCURY (KONVENSI MINAMATA MENGENAI MERKURI)

5.1 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. secara terpadu. Perusahaan ini termasuk perusahaan perseroan terbatas dengan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG,

QANUN KABUPATEN BIREUEN NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI BIREUEN,

C. BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DALAM KONSTELASI KESELAMATAN MIGAS LINGKUP PENANGANAN KESELAMATAN PADA KEGIATAN USAHA MIGAS

Wahyu Marjaka Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

BAB I PENDAHULUAN. dari industri masih banyak pabrik yang kurang memperhatikan mengenai

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Saat ini, stakeholder semakin menyadari betapa pentingnya lingkungan

MANAJEMEN BIAYA LINGKUNGAN

Corporate Social Responsibility PPMJ

ANALISA MASALAH DAMPAK LINGKUNGAN AMDAL DWI ASTUTY. G

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indon

BUPATI BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DAN KEBERSIHAN

Biodegradabilitas produk deterjen yang beredar di Jakarta Umi Sapta Rini

PR PER PROGRAM PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PROPER

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkat, hal ini dapat terlihat dari adanya kekhawatiran kemungkinan

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

DASAR HUKUM PENGELOLAAN LIMBAH B3

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

/.skisi-kisi INSTRUMEN SOAL PRETEST POSTTEST Lingkunganku Tercemar Bahan Kimia Dalam Rumah Tangga. Indikator Soal Soal No soal

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya bencana lingkungan hidup yang mengancam, bukan hanya kesehatan,

PENGENDALIAN KERUSAKAN DAN ATAU PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN

KRITERIA BEYOND COMPLIENCE

Kerangka Hukum & Regulasi Kesehatan Lingkungan Yang Berorientasi Pada Pembangunan Berkelanjutan

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 54 TAHUN 2016

SASARAN STRATEGIS 1 : Menurunnya beban pencemaran lingkungan hidup

BAB VI KESIMPULAN DAN IMPLIKASI. 6.1 Kesimpulan. sektor kehutanan yang relatif besar. Simulasi model menunjukkan bahwa perubahan

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KERINCI TAHUN 2008 NOMOR 7 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KERINCI NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG

DAFTAR PERATURAN PERUNDANGAN LINGKUNGAN HIDUP

Transkripsi:

Definisi (1) Ekonomi: studi mengenai bagaimana dan mengapa orang konsumen, perusahaan, organisasi nirlaba, lembaga pemerintah membuat keputusan-keputusan berkaitan dengan penggunaan sumberdaya yang berharga (valuable resources) - Mikroekonomi - Makroekonomi Definisi (2) Lingkungan: Keseluruhan dari keadaan2 di sekitar suatu/sekelompok organisme, khususnya: Kombinasi dari kondisi fisik eksternal Kondisi2 sosial & budaya Ekonomi Lingkungan: studi mengenai masalah-masalah lingkungan menurut sudut pandang & analisis ekonomi. 1

Definisi (3) Fokus: Bagaimana & mengapa orang membuat keputusan yang memiliki dampak lingkungan Bagaimana kita dapat mempengaruhi lembagalembaga & kebijakan ekonomi agar dapat memberi perhatian yang lebih seimbang antara keinginan manusia & kebutuhan ekosistem. Ide dasar dan alat analisis: Mikroekonomi Pendekatan Moral vs Pendekatan Ekonomi Mengapa orang melakukan perusakan lingkungan? Pendekatan moral: perilaku amoral dan tak beretika Fokus: meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat Pendekatan ekonomi: bagaimana ekonomi dan lembaga2 ekonomi dibentuk & bagaimana ekonomi dapat mengarahkan orang untuk membuat keputusan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan. Fokus: insentif Profit Motive Incentive-type statement: polusi adalah hasil dari motif mencari keuntungan (profit motive). Mis: ekonomi negara industri barat maksimisasi keuntungan tanpa mengindahkan dampak lingkungan. Tetapi, profit motive bukan satu-satunya penyebab polusi. Mis: kerusakan lingkungan parah di negara2 ex komunis yang notabene tidak menganut sistem ekonomi profit motive Kesimpulan: profit motive bukan satu-satunya penyebab kerusakan lingkungan 2

Insentif (1) Insentif sesuatu yang dapat menarik atau mencegah masyarakat & membawa mereka mengubah perilaku mereka Insentif ekonomi sesuatu dalam dunia ekonomi yang membawa masyarakat menyalurkan usaha-usaha produksi dan konsumsi ekonomi yang mereka lakukan dalam suatu arah tertentu. Insentif dapat bersifat material maupun non material. Insentif material mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dapat meningkatkan kesejahteraannya. Insentif non-material dapat mendorong orang mengubah perilaku ekonominya Insentif (2) Insentif berperan penting demi berjalannya suatu sistem ekonomi. Suatu sistem akan mengakibatkan kerusakan lingkungan jika insentif dalam sistem tersebut tidak dirancang untuk menghindari degradasi lingkungan. Kita perlu mempelajari berbagai sistem ekonomi untuk memahami bagaimana sistem insentif bekerja dan bagaimana insentif tersebut dapat diubah sedemikian sehingga kita dapat mencapai kemajuan ekonomi tanpa efek samping kerusakan lingkungan yang parah Kasus 1: Insentif Rumah Tangga (1) Contoh kasus: pendekatan unit pricing untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah di kota New Jersey, AS. Sebelum program: seluruh penduduk membayar uang iuran/retribusi tahunan US$ 360 untuk pengelolaan sampah. Sistem baru: retribusi dihitung berdasarkan jumlah kantong sampah per RT masyarakat mendapatkan insentif agar bersedia mengurangi jumlah sampah mereka dengan berbagai cara, slah satunya dengan 3R 3

3R Kasus 2: Insentif Bisnis (1) Insentif industri: meningkatkan keuntungan (ekonomi pasar) atau memenuhi target produksi tahunan (ekonomi sosialis) Kebijakan: penegakan hukum bahwa polusi adalah illegal, merancang suatu sistem yang memberikan insentif pada perusahaan yang memiliki tingkat polusi rendah. Contoh: insentif langsung, penetapan pajak berdasarkan tingkat polusi tiap perusahaan Kasus 2: Insentif Bisnis (2) Penentuan tingkat PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam pengelolaan Lingkungan Hidup) Diselenggarakan oleh KLH sejak 1995 diharapkan dapat menjadi pendorong kesadaran perusahaan dalam meningkatkan kualitas lingkungan continously Perusahaan yang dinilai: manufaktur, prasarana dan jasa (MPJ), pertambangan energi dan migas (PEM) dan pertanian dan kehutanan (PDK). 4

Proper Kriteria Penilaian PROPERtercantum dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 06 tahun 2013 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Secara umum peringkat kinerja PROPERdibedakan menjadi 5 warna Emas, Hijau, Biru, Merah dan Hitam. Kriteria ketaatan berperingkat: biru, merah dan hitam, sedangkan kriteria penilaian aspek lebih dari yang dipersyaratkan (beyond compliance) adalah hijau dan emas. Penilaian Hijau dan Emas, diperkenalkan screening kinerja berdasarkan Dokumen Ringkasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan Kasus 2: Insentif Bisnis (3) Peringkat Aspek Ketaatan dinilai dari 1. Pelaksanaan dokumen lingkungan (AMDAL/UKL-UPL); 2. Upaya pengendalian pencemaran air dan udara; 3. Pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3); dan 4. Penanggulangan kerusakan lingkungan khusus bagi kegiatan pertambangan - 5

Kasus 2: Insentif Bisnis (6) Perusahaan dengan peringkat Emas dan Hijau diberi penghargaan menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang baik bagi perusahaan lainnya. Perusahaan bersertifikat emas/hijau mendapat insentif tidak langsung karena dengan label ramah lingkungan produkproduknya menjadi lebih kompetitif di pasaran internasional Perusahaan yang berperingkat Hitam diikuti dengan upaya penegakan hukum. Perusahaan berperingkat Merah dibina dan diberikan waktu untuk melakukan perbaikan sebelum diikuti dengan upaya penegakan hukum. Perusahaan yang mendapat peringkat Hitam dua kali berturut-turut akan mendapat sanksi pidana kurungan. Kasus 2: Insentif Bisnis (6) Perusahaan mendapat peringkat Emas (2012 2013) 1. PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk, Pabrik Palimanan; 2. Chevron Geothermal Salak, Ltd; 3. PT. Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang; 4. Chevron Geothermal Indonesia, Ltd. Unit Panas Bumi Drajat; 5. PT. Jawa Power; 6. PT. Holchim Indonesia, Tbk Cilacap Plant; 7. PT. Unilever Indonesia, Tbk Pabrik Rungkut; 8. PT. Semen Indonesia (Persero), Tbk Pabrik Tuban; 9. PT. Pertamina (Persero) S&D Regional II terminal BBM Rewulu; 10. PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. Unit Pertambangan Tanjung Enim; 11. PT. Badak NGL; 12. PT. Medco E&P Indonesia Rimau Asset. 6

Peringkat Emas berjumlah 12 perusahaan (0.67%), Peringkat Hijau berjumlah 113 perusahaan (6.31%), Peringkat Biru berjumlah 1039 perusahaan (57.98%), Peringkat Merah berjumlah 611 perusahaan (34.1%), Peringkat Hitam berjumlah 17 perusahaan (0.95%) Kasus 3:Insentif Industri Pengontrol Polusi (1) Termasuk dalam kelompok ini industri yang mengembangkan teknik2 daur ulang sampah, peralatan pengontrol polusi, teknologi pengawas polusi, produk2 ramah lingkungan Kebijakan pelarangan penggunaan CFC memberikan insentif bagi industri untuk mengembangkan teknologi baru memproduksi lemari es non-cfc yang lebih ramah lingkungan Kasus 3:Insentif Industri Pengontrol Polusi (2) Contoh di Indonesia: Program Bantuan Hibah untuk Produsen Aerosol dengan bantuan dana dari hibah Multilateral Fund Protocol Montreal untuk perusahaan/ industri aerosol yang sudah atau akan mengganti CFC dengan bahan ramah lingkungan. Bantuan berupa: peralatan produksi non CFC, peralatan keselamatan mis. peralatan utk antisipasi kebakaran, konsultasi teknis nasional dan internasional. Persyaratan: perusahaan memproduksi aerosol (CFC dan bahan lain), modal nasional, ada izin usaha, NPWP dan perijinan lain, telah beroperasi sebelum Juni 1995. 7

Kasus 3:Insentif Industri Bebas Bea Masuk (1) Kementerian Negara LH dengan Dept. Keuangan (cq. Ditjen Bea dan Cukai) Program pembebasan bea masuk atas impor peralatan dan bahan yang digunakan langsung oleh industri dalam negeri untuk mengendalikan pencemaran. Pengesahan KepMen Keuangan No. 101/PMK 04/2007 Contoh peralatan: (1) Pengendalian pencemaran limbah cair, mis. aerator, belt press, chemical pump, chemical tank, ph control dll. (2) Pengendalian pencemaran udara, mis. electrostatic, precipitator, continous electro magnetic. 8