BAB I PENDAHULUAN A. UMUM
|
|
|
- Yandi Jayadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI i DAFTAR TABEL ii DAFTAR GAMBAR iii BAB I PENDAHULUAN 1 A. UMUM 1 B. RINGKASAN PELAKSANAAN PROPER PERIODE B.1. Jumlah Perusahaan Peserta PROPER 3 B.2. Hasil Evaluasi PROPER BAB II HASIL PENILAIAN PROPER A. PERINGKAT UMUM 5 B. PERINGKAT KINERJA BERDASARKAN JENIS PERMODALAN 6 C. PERINGKAT KINERJA BERDASARKAN SEKTOR INDUSTRI 9 C.1. Sektor Manufaktur 10 C.2. Sektor Agroindustri 10 C.3. Sektor Pertambangan, Energi dan Migas 11 C.4. Sektor Kawasan dan Jasa 11 BAB III KONSISTENSI KINERJA PERUSAHAAN PROPER PERIODE A. KONSISTENSI KINERJA 12 A.1. PERUSAHAAN EMAS 12 A.2. PERUSAHAAN HIJAU 12 A.3. PERUSAHAAN HITAM 15 BAB IV PENUTUP 17 LAMPIRAN i
2 DAFTAR TABEL Tabel 1 Kriteria Peringkat PROPER Periode Tabel 2 Distribusi Peserta PROPER Berdasar Jenis Industri 5 Tabel 3 Distribusi Peserta PROPER Berdasarkan Status Permodalan 6 Tabel 4 Distribusi Peringkat PROPER Berdasarkan 7 Kepemilikan Permodalan Tabel 5 Distribusi Per Sektor Industri PROPER Tabel 6 Daftar Perusahaan Yang Mendapatkan Peringkat Emas 12 Tabel 7 Daftar Perusahaan Yang Mendapatkan Peringkat Hijau 13 Tabel 8 Daftar Perusahaan Yang Mendapatkan Peringkat Hitam 15 ii
3 DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Peningkatan Jumlah Perusahaan Peserta PROPER 3 Gambar 2 Perkembangan Peringkat Kinerja Perusahaan PROPER 4 Gambar 3 Distribusi Peringkat Kinerja Perusahaan PROPER Gambar 4 Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan PMA dalam 7 PROPER Gambar 5 Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan PMDN dalam 8 PROPER Gambar 6 Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan BUMN dalam 8 PROPER Gambar 7 PROPER Sektor Manufaktur 10 Gambar 8 PROPER Sektor Agroindustri 10 Gambar 9 PROPER Sektor Pertambangan, Energi dan Migas 11 Gambar 10 PROPER Sektor Kawasan dan Jasa 11 iii
4 BAB I PENDAHULUAN A. UMUM Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) adalah salah satu instrumen kebijakan yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup untuk mendorong penaatan dan kepedulian perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Mekanisme kerja instrumen PROPER adalah dengan penyebaran informasi tingkat kinerja penaatan perusahaan kepada masyarakat dan stakeholder (public information disclosure), maka diharapkan masyarakat dan stakeholder dapat menyikapi kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan peserta PROPER sesuai dengan kapasitasnya. Para stakeholder diharapkan memberikan apresiasi kepada perusahaan yang berkinerja baik, dan mendorong perusahaan yang belum berkinerja baik untuk lebih meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungannya. Pelaksanaan PROPER merupakan upaya terpadu untuk melaksanakan kebijakan yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. PROPER merupakan pengawasan pemerintah 1 terhadap upaya perusahaan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan bidang lingkungan hidup yang berlaku. Sekaligus PROPER merupakan perwujudan transparansi dan pelibatan masyarakat 2 dalam pengelolaan lingkungan. Dimana hasil pengawasan melalui PROPER ini disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Perlu diketahui bahwa PROPER bukanlah pengganti instrumen penaatan lingkungan lainnya, akan tetapi komplementer dari instrumen penaatan yang ada. Pelaksanaan PROPER akan mendukung penerapan instrumen penegakan hukum lingkungan dan instrumen ekonomi lainnya. Untuk memudahkan masyarakat dan para stakeholder memahami tingkat kinerja penaatan masing-masing perusahaan dan guna membuka lebih besar lagi ruang apresiasi bagi perusahaan yang telah meningkatkan kinerja penaatannya, maka saat ini kinerja perusahaan tersebut dikategorikan lima peringkat warna dengan tujuh kategori. 1 Pasal 22 (1) UU No. 23 Tahun 1997 Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup 2 Pasal 5 (2) & (3) UU No. 23 tahun 1997: Ayat 2, setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup Ayat 3, setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku 1
5 Perluasan kategori peringkat PROPER merupakan masukan dari Dewan Pertimbangan PROPER 3 untuk lebih memacu perusahaan meningkatkan kinerjanya. Peringkat warna ini menggambarkan kinerja penaatan dan tingkat kepedulian perusahaan dalam pelestarian lingkungan. Tabel 1. Kriteria Peringkat PROPER Periode Peringkat Emas Hijau Biru Biru Minus Merah Merah Minus Hitam Keterangan Telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dan telah melakukan upaya 3R (Reuse, Recycle dan Recovery), menerapkan sistem pengelolaan lingkungan yang berkesinambungan, serta melakukan upaya-upaya yang berguna bagi kepentingan masyarakat pada jangka panjang; Telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan, telah mempunyai sistem pengelolaan lingkungan, mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat, termasuk melakukan upaya 3R (Reuse, Recycle dan Recovery); Telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku; Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi beberapa upaya belum mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan; Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi baru sebagian mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dengan peraturan perundang-undangan; Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi baru sebagian kecil mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan; Belum melakukan upaya lingkungan berarti, secara sengaja tidak melakukan upaya pengelolaan lingkungan sebagaimana yang dipersyaratkan, serta berpotensi mencemari lingkungan. 3 Berdasarkan Surat Keputusan Menteri LH No 278 tahun 2008 tentang Dewan Pertimbangan PROPER, susunan Dewan Pertimbangan PROPER adalah sebagai berikut: Ketua: Prof.Dr. Surna Tjahja Djajadiningrat, Sekretaris: Drs. Yanuardi Rasudin, Anggota: Prof. Dr. Muladi SH, Ir. Usman Hasan, Djismun Kasri, Prof.Dr. J.B. Kristiadi, Agnes Aristiarini, Tini Hadad, Goenarni Soeworo SE. 2
6 B. RINGKASAN PELAKSANAAN PROPER PERIODE B.1. Jumlah Perusahaan Peserta PROPER Jumlah perusahaan PROPER sangat menentukan tingkat keberhasilan PROPER sebagai instrumen penaatan. Semakin besar jumlah perusahaan maka efektifitas instrumen ini semakin meningkat. Untuk mencapai jumlah yang tepat (critical mass) dari perusahaan peserta PROPER, secara bertahap jumlah perusahaan yang diikutsertakan dalam PROPER dari tahun ke tahun semakin bertambah. Namun, besarnya jumlah perusahaan yang dapat diikutsertakan dalam PROPER sangat tergantung kepada sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia maupun pendanaan yang tersedia di tingkat pusat maupun daerah. Pada saat ini jumlah perusahaan peserta PROPER masih sangat kecil dibandingkan target perusahaan yang efektif untuk dapat ditingkatkan kinerja penaatannya melalui PROPER 4 yaitu baru mencapai sekitar 6 % dari perusahaan. Peningkatan jumlah perusahaan yang diikutsertakan dalam PROPER selama tahun dapat dilihat pada Gambar 1 berikut: Gambar 1. Peningkatan Jumlah Perusahaan Peserta PROPER 4 Perusahaan yang berdampak besar dan penting bagi lingkungan, terdaftar dipasar modal, dan berorientasi ekspor 3
7 B.2. Hasil Evaluasi PROPER Dari pelaksanaan PROPER selama periode terlihat bahwa telah terjadi peningkatan kinerja penaatan perusahaan. Sebagaimana yang terlihat pada Gambar di bawah, jumlah perusahaan yang taat yaitu Hijau dan Biru meningkat selama periode Peningkatan jumlah perusahaan yang taat selama periode ini terjadi karena adanya peningkatan jumlah perusahaan dan perbaikan kinerja penaatan perusahaan peserta PROPER. Gambar 2. Perkembangan Peringkat Kinerja Perusahan PROPER Penilaian PROPER periode sempat tertunda oleh karena adanya kegiatan Revitalisasi PROPER. Langkah Revitalisasi ini dilakukan agar instrumen PROPER dapat lebih efektif lagi untuk meningkatkan kinerja penaatan perusahaan. Walaupun tidak diumumkan kepada masyarakat hasil pengawasan yang dilakukan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup telah disampaikan kepada perusahaan. 4
8 BAB II HASIL PENILAIAN PROPER A. PERINGKAT UMUM Jumlah perusahaan yang telah dinilai peringkatnya melalui PROPER selama periode mencapai 516 perusahaan dari 521 perusahaan yang dilakukan pengawasan oleh Tim PROPER Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. 5 (lima) perusahaan dikeluarkan dari daftar penilaian karena tutup dan tidak memenuhi kriteria peserta PROPER. Dari 516 perusahaan peserta PROPER, perusahaan yang paling banyak berasal dari sektor industri manufaktur (48.64%), kemudian diikuti PEM (28.68%), Agro Industri (19.77%), dan Sektor Kawasan industri dan Jasa Pengelolaan Limbah (2.91%). Distribusi jumlah peserta PROPER periode berdasarkan jenis sektor industri adalah sebagai berikut: Tabel 2. Distribusi Peserta PROPER Berdasar Jenis Industri No Sektor Industri Jumlah Perusahaan Angka Persentase 1 Pertambangan, Energi, & Migas (PEM) Manufaktur Agro Kawasan Industri dan Jasa Pengelola Limbah TOTAL Hasil penilaian PROPER menunjukkan bahwa secara umum terjadi perbaikan tingkat penaatan perusahaan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar perusahaan telah memenuhi persyaratan dalam pengelolaan lingkungan. Sebagaimana yang terlihat dari Gambar di bawah ini, dalam tahun jumlah perusahaan yang taat atau yang berperingkat Emas, Hijau, Biru, dan Biru Minus mencapai 75,78% dari total 516 perusahaan. Jumlah ini meningkat dari periode penilaian sebelumnya. Jumlah perusahaan Hijau pada periode meningkat dua kali dibandingkan periode sebelumnya yaitu mencapai 46 perusahaan atau 8.91%. Pada periode penilaian PROPER , peringkat Emas untuk pertama kalinya diberikan kepada perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi. 5
9 Gambar 3: Distribusi Peringkat Kinerja Perusahaan PROPER Peringkat masing-masing perusahaan PROPER dapat dilihat pada Lampiran. B. PERINGKAT KINERJA BERDASARKAN JENIS PERMODALAN Berdasarkan kepemilikan atau Permodalan peserta PROPER periode dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu: Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Distribusi peserta PROPER berdasarkan jenis permodalan dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini. Dari Tabel 3 terlihat peserta PROPER terbanyak berasal dari perusahaan PMDN 40,8% (211 perusahaan), lalu diikuti PMA 32,8% (169 perusahaan) dan terakhir BUMN 26,4% (136 perusahaan). Tabel 3 : Distribusi peserta PROPER berdasarkan status permodalan. No Sektor Industri Jumlah Perusahaan Angka Persentase 1 Penanaman Modal Asing % 2 Penanaman Modal Dalam Negeri % 3 Badan Usaha Milik Negara % Total % Untuk melihat sejauhmana kinerja perusahaan PROPER berdasarkan jenis permodalan dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini. Dari tabel 4 dapat terlihat 6
10 bahwa perusahaan PMA mempunyai kinerja penaatan yang lebih baik dibandingkan PMDN dan BUMN. Tingkat penaatan perusahaan PMA mencapai 87 %. Sementara itu tingkat penaatan perusahaan PMDN 64,5 % dan BUMN 79,4 %. Tabel 4: Distribusi Peringkat PROPER berdasarkan kepemilikan permodalan Status Peringkat PROPER Permodalan EMAS HIJAU BIRU BIRU MERAH MERAH HITAM Jumlah PMA PMDN BUMN TOTAL Jumlah PMA yang berperingkat Hijau mencapai 30 perusahaan dari total 46 perusahaan yang berperingkat Hijau dalam periode penilaian PROPER Jumlah ini mencapai 65,2% dari total perusahaan yang berperingkat Hijau. Sedangkan dari keseluruhan perusahaan PMA yang dinilai, persentase peringkat kinerjanya seperti terlihat pada Gambar 4 di bawah ini. Gambar 4. Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan PMA dalam PROPER Walaupun jumlah perusahaan PMDN dan BUMN lebih sedikit yang mempunyai peringkat Hijau namun jumlah perusahaan PMDN dan BUMN yang mendapatkan peringkat Hijau pada periode ini meningkat dibandingkan PROPER periode sebelumnya. Perusahaan PMDN yang mendapatkan peringkat Hijau 7 perusahaan dan perusahaan BUMN yang mendapatkan peringkat Hijau 9 perusahaan. Bahkan satu perusahaan PMDN yaitu PLTP Wayang Windu, Magma Nusantara, Ltd. mendapatkan peringkat Emas. Distribusi persentase untuk peringkat bagi perusahaan PMDN dan BUMN seperti terlihat di Gambar 5 dan Gambar 6. 7
11 Gambar 5. Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan PMDN dalam PROPER Gambar 6. Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan BUMN dalam PROPER
12 C. PERINGKAT KINERJA BERDASARKAN SEKTOR INDUSTRI Dalam penilaian PROPER, perusahaan dikelompokkan dalam 4 sektor industri utama yaitu : Sektor Manufaktur yang terdiri dari bermacam macam jenis industri mulai dari kertas termasuk pulp & paper, petrokimia, pelapisan logam, tekstil, pewarna tekstil, elektronik, otomotif, farmasi, industri kimia. Sektor Agroindustri terdiri dari karet, sawit, tapioka, gula, plywood, minyak goreng. Sektor Pertambangan, Energi dan Migas yang terdiri dari pertambangan mineral, pertambangan batubara, PLTD, PLTG, PLTGU, PLTU berbahan bakar batubara, PLTP Geothermal, eksplorasi dan produksi migas, unit pengolahan migas, LNG/LPG, distribusi migas. Kawasan dan Jasa terdiri dari kawasan industri dan jasa pengelola limbah B3. Untuk pelaksanaan PROPER , dari sektor Manufaktur terdapat 251 perusahaan (48,6%), dari sektor Agroindustri terdapat 102 perusahaan (19,8%), sektor Pertambangan Energi dan Migas 148 perusahaan (28,7%), dan Kawasan dan Jasa 15 perusahaan (2,9%). Tabel 5. Distribusi Per sektor Industri PROPER Peringkat Manufaktur Agroindustri PEM Kawasan & jasa Total % Peringkat Emas % Hijau % Biru % Biru Minus % Merah % Merah Minus % Hitam % TOTAL
13 C.1. Sektor Manufaktur Perusahaan Manufaktur adalah peserta terbanyak untuk PROPER periode yaitu sebanyak 251 perusahaan. Perusahaan Manufaktur yang taat mencapai 183 perusahaan atau sekitar 72,9% dari jumlah keseluruhan perusahaan Manufaktur yang ada. Dari 183 perusahaan tersebut, yang mendapat peringkat Hijau adalah 22 perusahaan. Sedangkan perusahaan Manufaktur yang belum taat berjumlah 68 (27,1%) perusahaan, 29 perusahaan diantaranya mendapat peringkat Hitam. C.2. Sektor Agroindustri Gambar 7. PROPER Sektor Manufaktur. Perusahaan Agroindustri untuk PROPER periode sebanyak 102 perusahaan. Perusahaan Agroindustri yang taat mencapai 71 perusahaan atau sekitar 66% dari jumlah keseluruhan perusahaan Agroindustri peserta PROPER. Dari 71 perusahaan tersebut, yang mendapat peringkat Hijau adalah 3 perusahaan. Sedangkan perusahaan Agroindustri yang belum taat berjumlah 31 (34%) perusahaan, 11 perusahaan diantaranya mendapat peringkat Hitam. Gambar 8. PROPER Sektor Agroindustri 10
14 C.3. Sektor Pertambangan, Energi dan Migas Perusahaan peserta PROPER dari sektor Pertambangan, Energi dan Migas (PEM) untuk periode sebanyak 148 perusahaan. Tingkat penaatan perusahaan PEM lebih baik dibandingkan sektor lainnya, yaitu dari 148 perusahaan PEM, 125 perusahaan (84,5%) taat. Total perusahaan PEM yang berhasil mendapatkan peringkat Hijau adalah 20 perusahaan. Salah satu perusahaan PEM yaitu PLTP Wayang Windu, Magma Nusantara mendapatkan Peringkat Emas. Namun masih terdapat banyak perusahaan PEM yang belum taat yaitu 23 (15,5%) perusahaan, 2 perusahaan diantaranya mendapat peringkat Hitam. Gambar 9. PROPER Sektor Pertambangan Energi dan Migas C.4. Sektor Kawasan dan Jasa Jumlah perusahaan kawasan industri dan jasa pengelola limbah masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah peserta PROPER dari sektor lainnya yaitu sebanyak 15 perusahaan. Tingkat penaatan perusahaan kawasan industri dan jasa pengelola limbah adalah 80%. Dari total jumlah perusahaan sektor ini, 1 perusahaan mendapatkan peringkat Hijau. Walaupun masih terdapat 3 perusahaan yang masih belum taat, namun tidak ada perusahaan yang mendapatkan peringkat Hitam di sektor ini. Gambar 10. PROPER Sektor Kawasan dan Jasa 11
15 BAB III KONSISTENSI KINERJA PERUSAHAAN PROPER PERIODE A. KONSISTENSI KINERJA A.1. PERUSAHAAN EMAS Sejak pelaksanan PROPER periode , pencapaian peringkat Emas oleh perusahaan peserta PROPER baru berhasil diraih pada PROPER Hanya satu perusahaan yang mendapatkan peringkat Emas yaitu PLTP Wayang Windu, Magma Nusantara. Tabel 6. Daftar perusahaan yang mendapatkan Peringkat Emas NO. NAMA PERUSAHAAN PERIODE Magma Nusantara - - HIJAU Tidak Diumumkan EMAS A.2. PERUSAHAAN HIJAU Selama periode penilaian PROPER sejak tahun 2002 sampai tahun 2007, terdapat 4 perusahaan secara konsisten mempertahankan kinerja pengelolaan lingkungannya sebagai perusahaan berperingkat Hijau. Keempat perusahaan tersebut adalah: PT. Unilever Indonesia, Tbk-Pabrik Cikarang PT. Holcim Indonesia, Tbk-Cilacap Plant; PT. Indocement Tunggal Prakasa, Tbk-Cilacap; PT. Tanjungenim Lestari Pulp&Paper. Dari 46 perusahaan yang mendapat peringkat Hijau pada periode penilaian saat ini, 28 perusahaan untuk pertama kalinya mendapatkan peringkat Hijau. Beberapa perusahaan pada periode penilaian sebelumnya masih mendapatkan peringkat Merah (4 perusahaan). Bahkan ada perusahaan yang pernah mendapatkan peringkat Hitam. Salah satu perusahaan yang telah menunjukkan komitmen untuk melakukan perbaikan terus-menerus (continual improvement) adalah PT. Pertamina (Persero) UP IV Cilacap. Dimana perusahaan ini pada penilaian PROPER periode tahun mendapatkan peringkat Hitam, kemudian secara kontinyu meningkat menjadi peringkat Merah ( ), Biru ( ) dan akhirnya Hijau ( ). 12
16 Keberhasilan perusahaan untuk dapat meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungannya, diperlukan dedikasi dan komitmen yang tinggi serta upaya perbaikan dalam bidang teknis dan manajemen. Perusahaan-perusahaan peringkat Hijau seperti terlihat di tabel di bawah ini. Tabel 7. Daftar perusahaan yang mendapatkan Peringkat Hijau NO. NAMA PERUSAHAAN PERIODE PT. Holcim Indonesia, Tbk - Cilacap Plant HIJAU HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 2 PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. - Citeureup HIJAU HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 3 PT. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper HIJAU HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 4 PT. Unilever Indonesia, Tbk - Pabrik Cikarang HIJAU HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 5 PT. Newmont Nusa Tenggara HIJAU BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 6 PT. Jawa Power BIRU HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 7 PT. Aneka Tambang, Tbk. - Pongkor BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 8 PT. Total EP Indonesie - Handil (CPA) BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 9 PT. Total EP Indonesie - Tatun (CPU) BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 10 PT. Total EP Indonesie - Tunu (NPU) BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 11 Vico Indonesia - Nilam Asset BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 12 PT. Semen Gresik (Persero), Tbk. - Pabrik Tuban BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 13 PT. Adaro Indonesia BIRU BIRU MERAH Tidak Diumumkan HIJAU 14 PT. Indah Kiat Pulp & Paper - Pabrik Tangerang MERAH BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 15 PT. Riau Andalan Pulp and Paper Mill MERAH BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 16 PT. Pertamina (Persero) UP IV - Cilacap HITAM MERAH BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 17 PT. Nippon Shokubai Indonesia HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 18 PT. Smelting HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 19 PT. Chevron Geothermal Darajat BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 20 PT. Chevron Geothermal Salak BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 21 PT. Pertamina (Persero) Area Geothermal Kamojang BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 22 PT. Astra Daihatsu Motor - Assy Plant BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 23 PT. Chandra Asri BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 24 PT. Tri Polyta Indonesia, Tbk BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 25 PT. Indonesia Power UBP Kamojang BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 13
17 26 PT. Indonesia Power UBP Priok BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 27 PT. Badak Natural Gas Liquefaction BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 28 PT. Holcim Indonesia, Tbk - Narogong Plant BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 29 PT. Pindo Deli Pulp And Paper Mills BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 30 PT. Rea Kaltim Plantation MERAH MERAH Tidak Diumumkan HIJAU 31 PT. Pertamina (Persero) Area Geothermal Lahendong HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 32 PT. Amoco Mitsui Indonesia HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 33 PT. Panasonic Gobel Battery Indonesia HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 34 PT. Energy Sengkang BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 35 Premier Oil Natuna Sea BV BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 36 Star Energy (Kakap) Ltd BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 37 PT. Megalopolis Manunggal (MM2100) BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 38 PT. Asahimas Chemical BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 39 PT. Erna Djuliawati BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 40 PT. Letawa BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 41 PT. Bio Farma (Persero) MERAH Tidak Diumumkan HIJAU 42 PT. BlueScope Steel Indonesia MERAH Tidak Diumumkan HIJAU 43 PT. YKK Zipper Indonesia MERAH Tidak Diumumkan HIJAU 44 BP West Java Tidak Diumumkan HIJAU 45 PT. Toba Pulp Lestari, Tbk Tidak Diumumkan HIJAU 46 PT. Teijin Indonesia Fiber Corporation, Tbk. (TIFICO) Tidak Diumumkan HIJAU 14
18 A.3. PERUSAHAAN HITAM Hasil penilaian PROPER periode sekarang menunjukkan bahwa terdapat 13 perusahaan yang mendapatkan peringkat hitam 2 kali berturut-turut. Adapun perusahaan-perusahaan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 8. Daftar perusahaan yang mendapatkan Peringkat Hitam NO. NAMA PERUSAHAAN PERIODE PT. Adetex I BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HITAM 2 PT. Vinytex - MERAH BIRU Tidak Diumumkan HITAM 3 PT. Panasonic Battery Batam - - BIRU Tidak Diumumkan HITAM 4 PT. Pacific Coating - - BIRU Tidak Diumumkan HITAM 5 PT. Jaya Kertas MERAH MERAH MERAH Tidak Diumumkan HITAM 6 PT. Wiska - MERAH MERAH Tidak Diumumkan HITAM 7 PT. Panca Mega Adi Mulia - MERAH MERAH Tidak Diumumkan HITAM 8 PTPN IX PG Jatibarang - MERAH MERAH Tidak Diumumkan HITAM 9 PT. Southern Cross Textile Industry (SCTI) - MERAH MERAH Tidak Diumumkan HITAM 10 PT. Cakra Compact Alumunium Ind. - HITAM MERAH Tidak Diumumkan HITAM 11 PT. Wijaya Tri Utama Plywood Industry - HITAM MERAH Tidak Diumumkan HITAM Banjarmasin 12 PT. Galvindo Ampuh - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 13 PT. Putra Bangun Citra Mandiri - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 14 PT. Ezritex - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 15 PT. Ksatria Manunggal Textile Industry (Kesmatex) - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 16 PT. Safarijunie Textindo Industry - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 17 PT. Albasi Parahyangan - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 18 PT. Siak Raya Timber - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 19 PT. Riau Sakti United Plantation - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 20 PT. Tidar Kerinci Agung - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 21 PT. Fajar Bumi Sakti - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 22 PT. Eureka Aba Paper Factory MERAH MERAH HITAM Tidak Diumumkan HITAM 23 PT. Adiprima Suraprinta - MERAH HITAM Tidak Diumumkan HITAM 24 PTPN IX PG Tasikmadu - MERAH HITAM Tidak Diumumkan HITAM 15
19 25 CV. Wira Mustika Indah - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 26 PT. Bintang Tri Putratex - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 27 PT. Samitex Sewon - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 28 PT. Sampangan Duta Panca Sakti (Dupantex) - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 29 PT. Pabrik Baja Wuhan - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 30 PT. Budidharma Jakarta - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 31 PT. Panca Eka Bina Plywood Industri - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 32 PTPN IX PG Modjo - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 33 PTPN XIV PG Takalar - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 34 PT. Sari Tani Sumatera - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 35 PT. Raja Besi Tidak Diumumkan HITAM 36 PT. Jakarta Cakratunggal Steel Mills Tidak Diumumkan HITAM 37 PT. Jakarta Steel Megah Utama Tidak Diumumkan HITAM 38 PT. Pulogadung Steel MFG. Co., Ltd Tidak Diumumkan HITAM 39 PT. The Master Steel MFG Tidak Diumumkan HITAM 40 PT. Cipta Paperia Tidak Diumumkan HITAM 41 PT. Kedawung Subur Tidak Diumumkan HITAM 42 Kalrez Petroleum Tidak Diumumkan HITAM 16
20 BAB IV P E N U T U P Keberhasilan PROPER sebagai instrumen penaatan sangat tergantung kepada kredibilitas lembaga pelaksana PROPER. Untuk itu dalam pelaksanaan PROPER, Kementerian Negara Lingkungan Hidup berupaya agar selalu transparan dan melibatkan masyarakat khususnya melalui berbagai unsur masyarakat yang tergabung dalam Dewan Pertimbangan PROPER. Agar prinsip keadilan (fairness) dalam pelaksanaan PROPER dapat tercapai, maka secara bertahap jumlah perusahaan peserta PROPER akan ditingkatkan. Perbaikan dan penyempurnaan PROPER terus dilakukan. Penilaian PROPER periode sempat tertunda karena adanya kegiatan Revitalisasi PROPER. Langkah Revitalisasi ini dilakukan agar instrumen PROPER dapat lebih efektif dalam peningkatan kinerja penaatan perusahaan. Walaupun PROPER periode tidak diumumkan kepada masyarakat, hasil pengawasannya tetap disampaikan kepada perusahaan. Pelaksanaan PROPER perlu dilaksanakan secara terus-menerus agar kemajuan penaatan perusahaan dapat dipantau sampai pada tingkat penaatan yang optimal. Bagi perusahaan yang sudah taat akan lebih didorong untuk menerapkan teknologi bersih dan penghematan penggunaan sumber daya, sehingga pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan mempunyai arti bagi pelestarian lingkungan, pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia. Pengumuman PROPER akan dilakukan secara berkala, sehingga masyarakat terusmenerus dapat terlibat dan berperan aktif dalam menyikapi hasil kinerja perusahaan. Dukungan dari masyarakat dan stakeholders sangatlah menentukan keberhasilan PROPER. 17
Kata Pengantar. Tim Teknis PROPER Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, bahwa Kementerian Negara Lingkungan Hidup dapat kembali mengumumkan peringkat kinerja perusahaan dari berbagai sektor industri. Sejak tahun 2002,
PELAKSANAAN PROPER Sekretariat PROPER Kementerian Lingkungan Hidup
PELAKSANAAN PROPER 2012-2013 Sekretariat PROPER Kementerian Lingkungan Hidup MEKANISME DAN KRITERIA PROPER X KEUNGGULAN LINGKUNGAN S U B N I L A I Sistem Manajemen Lingkungan Efisiensi Energi Penurunan
Kata Pengantar. Tim Teknis PROPER Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, bahwa Kementerian Negara Lingkungan Hidup dapat kembali mengumumkan peringkat kinerja perusahaan dari berbagai sektor industri. Sejak tahun 2002,
Bagi Peserta yang akan hadir, mohon mengisi Formulir dan persyaratan terlampir.
No : SP.000.0/ICEMPO/JKT/2009 Lampiran : 1 set Perihal : Pertemuan NasionalCEMPO 1-2 Desember 2009 Tembusan : - Jakarta, 07 September 2009 Kepada Yth, Terlampir Dengan hormat Dengan ini disampaikan ICEMPO
LAPORAN HASIL PENILAIAN Program Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Pollution PROPER. environmental.
LAPORAN HASIL PENILAIAN Program Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup 2010 Pollution PROPER environmental Rating Daftar isi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 01 1.2. Kriteria
Definisi (1) Definisi (2) 3/20/2014
Definisi (1) Ekonomi: studi mengenai bagaimana dan mengapa orang konsumen, perusahaan, organisasi nirlaba, lembaga pemerintah membuat keputusan-keputusan berkaitan dengan penggunaan sumberdaya yang berharga
BAB II HASIL PENILAIAN PROPER
PRESS RELEASE 2004-2005 A. PERINGKAT UMUM BAB II HASIL PENILAIAN PROPER 2004-2005 Distribusi jenis industri 466 perusahaan peserta PROPER periode 2004-2005 berdasarkan sektor industri adalah sebagai berikut:
SOSIALISASI MEKANISME PENILAIAN MANDIRI PROPER SEKRETARIAT PROPER KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP
SOSIALISASI MEKANISME PENILAIAN MANDIRI PROPER 213-214 SEKRETARIAT PROPER KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP MekanismePenilaianPROPERPROPER BOBOT X = EMAS S C O R E Penerapan Sistem Manajemen Lingkungan Pemanfaatan
EVALUASI KINERJA SEKTOR PEMBANGKIT
EVALUASI KINERJA SEKTOR PEMBANGKIT SIGIT RELIANTORO ASISTEN DEPUTI PENGENDALIAN PENCEMARAN PERTAMBANGAN ENERGI DAN MIGAS Evaluasi PROPER Sektor Energi 2009-2010 2010-2011 PERIODE HITAM MERAH BIRU HIJAU
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) tidak lepas dari pengoperasian perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang selalu bersinggungan dengan kehidupan
PROPER : PROGRAM PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN
PROPER : PROGRAM PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN Pendahuluan Penilaian Peringkat Kinerja Penaatan dalam Pengelolaan Lingkungan mulai dikembangkan oleh Kementerian Negara
NERACA BAHAN BAKAR BATUBARA SAMPAI DENGAN TAHUN 2040
NERACA BAHAN BAKAR BATUBARA SAMPAI DENGAN TAHUN 2040 Oleh : M. Taswin Kepala Subdirektorat Perencanaan Produksi dan Pemanfaatan Mineral dan Batubara Jakarta, 23 Juni 2016 DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN
PENDAHULUAN EKONOMI LINGKUNGAN. EKONOMI LINGKUNGAN (ESL ) Pertemuan 1 Dept. Ekonomi Sumberdaya & Lingkungan
PENDAHULUAN EKONOMI LINGKUNGAN EKONOMI LINGKUNGAN (ESL ) Pertemuan 1 Dept. Ekonomi Sumberdaya & Lingkungan Definisi (1) Ekonomi: studi mengenai bagaimana dan mengapa orang konsumen, perusahaan, organisasi
BAB I PENDAHULUAN. serta alasan penulis memilih obyek penelitian di PT. X. Setelah itu, sub bab
BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan dalam tesis ini menguraikan latar belakang dilakukannya penelitian dimana akan dibahas mengenai potensi sumber daya panas bumi di Indonesia, kegiatan pengembangan panas
LAMPIRAN I PERINGKAT EMAS 1 PERUSAHAAN
LAMPIRAN I PERINGKAT EMAS 1 PERUSAHAAN DAFTAR PERINGKAT PROPER 2008-2009 PERINGKAT EMAS No Nama Perusahaan Jenis Industri Provinsi Kab./Kota Status Peringkat PROPER 2008-2009 1 PT. Indocement Tunggal Prakarsa,
PERINGKAT PERUSAHAAN EMAS
PERINGKAT PERUSAHAAN EMAS No. NAMA PERUSAHAAN PERINGKAT 1. Magma Nusantara, Ltd. EMAS PERINGKAT PERUSAHAAN HIJAU No. NAMA PERUSAHAAN PERINGKAT 2. PT. Adaro Indonesia HIJAU 3. PT. Amoco Mitsui Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Revolusi Industri antara periode tahun 1750-1850, berdampak pada perubahan besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi dan teknologi,
Plt Menteri ESDM menekankan pentingnya pengembangan inovasi dalam berbagai aspek dan
Pada peringatan Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-71, Plt Menteri ESDM, Luhut Binsar Panjaitan juga menyampaikan apresiasi kepada 15 Penerima Penghargaan Energi 2016 di Plaza Kementerian ESDM (4/10).
55*147UIK MENTERI ENERGI DAN SOMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA
55*147UIK MENTERI ENERGI DAN SOMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 7266 K/74/MEM/2016 TENTANG PENERIMA PENGHARGAAN ENERGI PRATAMA
Energy Conservation in the Industry by Utilizing Renewable Energy or Energy Efficiency and Technology Development. Jakarta, 19 Agustus 2015
MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Energy Conservation in the Industry by Utilizing Renewable Energy or Energy Efficiency and Technology Development Jakarta, 19 Agustus 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI DAN
I. PENDAHULUAN. Industri plywood awalnya menggunakan phenol formaldehid sebagai perekat.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendirian Pabrik Industri plywood awalnya menggunakan phenol formaldehid sebagai perekat. Tetapi ketika urea formaldehid telah digunakan secara komersil, maka pemakaian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Permasalahan lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang harus kita
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Permasalahan lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang harus kita pikirkan bersama mengingat dampak yang buruk dari pengelolaan lingkungan. Sebagaimana
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06 TAHUN 2013 TENTANG PROGRAM PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
I. PENDAHULUAN. Industri plywood awalnya menggunakan phenol formaldehid sebagai perekat.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendirian Pabrik Industri plywood awalnya menggunakan phenol formaldehid sebagai perekat. Tetapi ketika urea formaldehid telah digunakan secara komersil, maka pemakaian
PENGEMBANGAN INDUSTRI HIJAU NASIONAL
PENGEMBANGAN INDUSTRI HIJAU NASIONAL OLEH LINTONG SOPANDI HUTAHAEAN KEPALA PUSLITBANG INDUSTRI HIJAU DAN LINGKUNGAN HIDUP Jakarta, 5 April 2017 INDUSTRI HIJAU INDUSTRI HIJAU DEFINISI DASAR HUKUM UU No.
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 4.1 Gambaran Umum Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 4.1 Gambaran Umum Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu Kabupaten Pelalawan Kabupaten Pelalawan terletak disepanjang Sungai Kampar bagian hilir dan terdapat
TATA CARA PENILAIAN KETAATAN DAN PENILAIAN KINERJA LEBIH DARI KETAATAN
LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PROGRAM PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP TATA CARA PENILAIAN KETAATAN
BAB I PENDAHULUAN. anggotanya. Keberhasilan dalam mencapai tujuan perusahaan merupakan prestasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perusahaan sebagai salah satu bentuk organisasi pada umumnya memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai dalam usaha untuk memenuhi kepentingan para anggotanya.
Kontribusi Ekonomi Nasional Industri Ekstraktif *) Sekretariat EITI
Kontribusi Ekonomi Nasional Industri Ekstraktif *) Sekretariat EITI *) Bahan disusun berdasarkan paparan Bappenas dan Kemen ESDM dalam Acara Sosialisasi EITI di Jogjakarta, Agustus 2015 2000 2001 2002
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan suatu pembangunan berkelanjutan hanya akan dapat dicapai melalui sinerginya tiga faktor utama; profit, people dan planet. Dengan kata lain, keuntungan
KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara
KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2019 Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara Jakarta, 16 Februari 2016 I. TUJUAN KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL 2 I. TUJUAN KEBIJAKAN
Tempat : Ruang Serba Guna Lt. 1 PT.Indonesia Power Kantor Pusat Jl. Gatot Subroto Kav. 18, Jakarta, 12950
No : SP.07/ICEMPO/JKT/2014 Lampiran : 1 set Perihal : Acara 22-23 Januari 2014 Tembusan : - Jakarta, 10 Januari 2014 Kepada Yth: Terlampir Dengan hormat, Sehubungan dengan telah berlaku 5 tahun peraturan
BAB V SIMPULAN DAN SARAN. periode tahun pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengaruh kinerja lingkungan dan pengungkapan lingkungan terhadap kinerja keuangan selama periode tahun 2009-2010
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN 2012-2014 Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Jakarta, 1 Februari 2012 Daftar Isi I. LATAR BELAKANG II. ISU STRATEGIS DI SEKTOR INDUSTRI III.
No Nama Perusahaan SEKTOR SUB SEKTOR PROVINSI KAB./KOTA
REVISI DAFTAR KANDIDAT HIJAU Dengan memperhatikan masukan dari Asisten Deputi yang membina sektor - sektor terkait, maka telah dilakukan perbaikan daftar kandidat hijau PROPER. Adapun daftar kandidat hijau
PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 07 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI KETEL UAP
SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 07 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI KETEL UAP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelestarian
-5- PERINGKAT HIJAU. Kabupaten / Kota. NO. Nama Perusahaan Jenis Industri Provinsi. Sawit Aceh Kab. Aceh Barat
-5- LAMPIRAN II KEPUTUSAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : SK.892/MENLHK/SETJEN/STD.0/12/2016 TANGGAL : 6 Desember 2016 TENTANG : HASIL PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN
LAMPIRAN PT. PERTAMINA (PERSERO) A. Sejarah Singkat PT. Pertamina (Persero) 35
LAMPIRAN PT. PERTAMINA (PERSERO) A. Sejarah Singkat PT. Pertamina (Persero) 35 PT. Pertamina (Persero) adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang
Tabel III-2 Perusahaan-perusahaan sektor hulu perminyakan di Indonesia
LAMPIRAN 1 Tabel III-2 Perusahaan-perusahaan sektor hulu perminyakan di Indonesia No. NAMA PERUSAHAAN LOKASI PERUSAHAAN 1 Amerada Hess 2 Anadarko 3 Asia Petroleum 4 PT BOB Bumi Siak Pusako-Pertamina EP
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Pajak 2.1.1 Pengertian Pajak Definisi pajak berdasarkan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah : Pajak
BAB I PENDAHULUAN. peningkatan nilai investasi. Investasi pada umumnya dilakukan untuk mendapatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Investasi merupakan suatu kegiatan menempatkan dana pada satu aset atau lebih selama jangka waktu tertentu dengan harapan memperoleh pendapatan atau peningkatan
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL- UPL) Pengertian UKL-UPL
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL- UPL) Lukhi Mulia S 2017 divendres, 9 juny de 2017 @phykee_15261002391909 1 Pengertian UKL-UPL pengelolaan dan pemantauan terhadap
Daftar Industri Peserta Evaluasi Penilaian Mandiri Proper Sektor Manufaktur, Prasarana, dan Jasa
Daftar Industri Peserta Evaluasi Penilaian Mandiri Proper 2013-2014 Sektor Manufaktur, Prasarana, dan Jasa No Nama Perusahaan Sub Sektor Kab/Kota Provinsi 1 Hotel Amandari Gianyar Hotel Kab. Gianyar Bali
PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL,
PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI BIDANG PENGENDALIAN PELAKSANAAN PENANAMAN MODAL TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP DAN KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP DAN KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a.
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN.11. DI Panjaitan Kay. 24, Kebon Nanas, Jakarta 13410 Indonesia Kotak Pos 7777 JAT 13000 Telepon/Faksimile
BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Penerapan ISAK 8 Dalam menentukan apakah suatu perjanjian jual beli tenaga listrik antara PLN dengan IPP dapat dikategorikan sebagai perjanjian
N, 2015 PENGARUH PENGUNGKAPAN AKUNTANSI LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia sebagai makhluk sosial haruslah berinteraksi dengan manusia lain maupun dengan alam. Dan juga dengan semakin berkembangnya kegiatan
BAB I PENDAHULUAN. saham dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Tujuan perusahaan untuk memperoleh profit tentunya harus didukung
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perusahaan adalah suatu bentuk organisasi yang merupakan tempat terjadinya kegiatan operasional dan berkumpulnya semua faktor pendukung kegiatan operasional.
PR PER PROGRAM PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PROPER
PR PER 2015 PROGRAM PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 1 Sebagai instrumen penaatan alternatif, PROPER telah dipuji berbagai pihak termasuk Bank Dunia, United Nations
... Hubungi Kami : Studi Potensi Bisnis dan Pelaku Utama Industri PULP & KERTAS di Indonesia, Mohon Kirimkan. eksemplar.
Hubungi Kami 021 31930 108 021 31930 109 021 31930 070 [email protected] I ndustri pulp dan kertas memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan dan menjadi andalan ekspor Indonesia untuk meraih
Manajemen Limbah Industri. Nur Istianah,ST,MT,M.Eng
Manajemen Limbah Industri Nur Istianah,ST,MT,M.Eng Outline BLH(Badan Lingkungan Hidup) dan EPA (environmental protection agency) Perundang-undangan tentang limbah Baku mutu limbah (air dan udara) Potensi
LAPORAN HASIL PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PROPER
LAPORAN HASIL PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PROPER Sumber : Sekretariat PROPER Kementrian Lingkungan Hidup 2009 Tlp. 021-8911 1660 (Hunting); 798 5890; 9824
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL,
PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PELIMPAHAN DAN PEDOMAN PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI BIDANG PENGENDALIAN PELAKSANAAN PENANAMAN MODAL TAHUN
Direktur Operasional PT Arwana Citramulia Tbk Edy Suyanto INDONESIAN INDUSTRY I 05 I AGUSTUS 2012
Direktur Operasional PT Arwana Citramulia Tbk Edy Suyanto 22 PT ArwAnA CiTrAmuliA Tbk Tak Setetespun Air Limbah Mengalir Keluar Kawasan intalasi porduksi yang relatif hijau memang mengindikasikan bahwa
1. PENDAHULUAN. Indocement. Bosowa Maros Semen Tonasa. Semen Kupang
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semen adalah komoditas yang strategis bagi Indonesia. Sebagai negara yang terus melakukan pembangunan, semen menjadi produk yang sangat penting. Terlebih lagi, beberapa
DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN SELAKU KETUA
DAFTAR CALON KANDIDAT HIJAU PROPER
DAFTAR CALON KANDIDAT HIJAU PROPER 2015 1 PT. Astra Agro Lestari UU PT. Perkebunan Lembah AGRO Sawit Kab. Singkel Aceh Bhakti 2 PT. Perkebunan Nusantara I (Persero) PKS Tanjung AGRO Sawit Kab. Aceh Tamiang
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Batubara Nasional
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Batubara Nasional Kelompok Kajian Kebijakan Mineral dan Batubara, Pusat Litbang Teknologi Mineral dan Batubara,
Pengalaman. Client : PT DEN, Surabaya. Tahun : 2005
Pengalaman PT DEN, Surabaya 2005 :Pemeriksaan Radiography Testing (RT) untuk Process Piping di PLTU Muara Tawar, Jakarta PT SUCOFINDO Semarang 2005 : Pemeriksaan Eddy Current Testing (ECT) di Indonesia
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Wisma 46 Kota BNI lantai 20, Jalan Jend. Sudirman, Kav. 1, Jakarta.
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN IV.1.Sejarah Singkat Perusahaan IV.1.1.PT. Polychem Indonesia Tbk. PT. Polychem Indonesia Tbk (Perusahaan), didirikan dengan ak ta No.62 tanggal 25 April 1986. Perusahaan
Kriteria PROPER Pengendalian Pencemaran Udara 2014
PENGUATAN KAPASITAS PROPER 2014 Kriteria PROPER Pengendalian Pencemaran Udara 2014 Sekretariat PROPER KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP Perbedaan Kriteria Udara PROPER 2013 dibandingkan Kriteria Udara PROPER
sumber logo Sek. Proper MenLH 2009
sumber logo Sek. Proper MenLH 2009 DAFTAR PERINGKAT PROPER 1 PT. Holcim Indonesia, Tbk. Semen 2 Chevron Geothermal Indonesia, Ltd. Geothermal EMAS EMAS Hijau 1 PT. Erna Djuliawati (Lyman Group) Plywood
sumber logo Sek. Proper MenLH 2009
sumber logo Sek. Proper MenLH 2009 DAFTAR PERINGKAT PROPER 1 PT. Holcim Indonesia, Tbk. Semen 2 Chevron Geothermal Indonesia, Ltd. Geothermal EMAS EMAS Hijau 1 PT. Erna Djuliawati (Lyman Group) Plywood
Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Profitabilitas (Studi pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI Periode Tahun )
Prosiding Akuntansi ISSN: 2460-6561 Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Profitabilitas (Studi pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI Periode Tahun 2013-2014) 1 Shelly Anggita, 2 Nurleli, 3
KRITERIA PROPER DOKUMEN LINGKUNGAN PROPER
KRITERIA PROPER DOKUMEN LINGKUNGAN PROPER 2014-2015 KRITERIA AMDAL No KRITERIA AMDAL 1. Dasar Peraturan : PP LH No. 27 Thn 2012 tentang Izin Lingkungan 2. Aspek Penilaian : Pelaksanaan Dokumen Lingkungan/Izin
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR:2183 K/ 30/ MEM/ 2017 TENTANG PENETAPAN KEBUTUHAN DAN PERSENTASE MINIMAL
LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI BATUBARA DI INDONESIA
2016 LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI BATUBARA DI INDONESIA LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI BATUBARA DI INDONESIA 2016 Diterbitkan Oleh: PT. Indo Analisis Copyright @ 2016 DISCALIMER Semua informasi dalam Laporan Industri
BAB I PENDAHULUAN. melainkan juga menunjukkan prospek pada masa yang akan datang.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Secara umum tujuan dari pendirian sebuah perusahaan adalah mencari laba. Kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba merupakan hal yang utama dalam penilaian
RD - Saham. REKSA DANA AAA Blue Chip Value. Fund. RD - Mixed
Peraturan : X.N.1 CIMB Principal Asset Management, mor & mor & 3 - DANA PENSIUN BANK CIM 0 (11-11-2010) --0-96,997,046,480.77 0.00 79,521,848,751.86 0.00 RD - Syariah - REKSADANA AAA - - 964,370.99 1,695.41
BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai salah satu cara untuk memantau kinerja produksinya. Pengukuran
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Produktivitas merupakan satu hal yang sangat penting bagi perusahaan sebagai salah satu cara untuk memantau kinerja produksinya. Pengukuran produktivitas dilakukan
REGULASI PANAS BUMI DAN KEBIJAKAN INVESTASI DI JAWA BARAT
REGULASI PANAS BUMI DAN KEBIJAKAN INVESTASI DI JAWA BARAT LATAR BELAKANG Jumlah penduduk di Jawa Barat 44,28 juta jiwa (2012) dengan tingkat pertumbuhan mencapai 1,7% per tahun dan diprediksi akan mencapai
PROGRAM PEMERINTAH PENINGKATAN KEBUTUHAN DAMPAK LINGKUNGAN
PROGRAM PEMERINTAH PENINGKATAN KEBUTUHAN DAMPAK LINGKUNGAN PERMASALAHAN SUMBER DAYA ALAM PERMASALAHAN PEMUKIMAN POLUSI LINGKUNGAN KERUSAKAN HUTAN KEPUNAHAN HEWAN & TUMBUHAN PERLUASAN LAHAN KRITIS SANITASI
1. PENDAHULUAN PROSPEK PEMBANGKIT LISTRIK DAUR KOMBINASI GAS UNTUK MENDUKUNG DIVERSIFIKASI ENERGI
PROSPEK PEMBANGKIT LISTRIK DAUR KOMBINASI GAS UNTUK MENDUKUNG DIVERSIFIKASI ENERGI INTISARI Oleh: Ir. Agus Sugiyono *) PLN sebagai penyedia tenaga listrik yang terbesar mempunyai kapasitas terpasang sebesar
BAB I PENDAHULUAN. Kemudahan ini melahirkan sisi negatif pada perkembangan komoditas pangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Pasar bebas dipandang sebagai peluang sekaligus ancaman bagi sektor pertanian Indonesia, ditambah dengan lahirnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 yang diwanti-wanti
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PMK.010/2016 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PMK.010/2016 TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 154/PMK.03/2010 TENTANG PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 22 SEHUBUNGAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/PMK.010/2015 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/PMK.010/2015 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 154/PMK.03/2010 TENTANG PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 22 SEHUBUNGAN
INDONESIA GREEN AWARDS 2015
SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA PENGANUGERAHAN INDONESIA GREEN AWARDS 2015 Yang saya hormati, 1. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan; 2. Menteri Kelautan dan Perikanan; 3. Chairman
KEBIJAKAN DALAM PENGUSAHAAN PANAS BUMI PASCA UU NOMOR 27 TAHUN 2003 DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
KEBIJAKAN DALAM PENGUSAHAAN PANAS BUMI PASCA UU NOMOR 27 TAHUN 2003 Dr. Ir. Simon Felix Sembiring DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA MINERAL, BATUBARA DAN PANAS BUMI Jl. Prof. Dr. Soepomo, SH. No. 10, Jakarta
BAB III PENUTUP. 1. Implementasi Corporate Social Responsibility dalam kaitannya dengan. Bukit Ajong Crude Palm Oil Mill kedalam bentuk charity dan
66 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian penulis, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 1. Implementasi Corporate Social Responsibility dalam kaitannya dengan pelestarian
Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode
LAMPIRAN 1 Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015 No Kode Perusahaan Nama Perusahaan 1 AALI Astra Agro Lestari Tbk 2 ARGO Argo Pantes Tbk 3 AUTO Astra
TABEL - VII.1 PERKEMBANGAN NILAI INVESTASI MENURUT SKALA USAHA ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1993 TAHUN
TABEL - VII.1 PERKEMBANGAN NILAI INVESTASI MENURUT SKALA USAHA SKALA USAHA 1 Usaha Kecil (UK) 17.968.449 19.510.919 1.542.470 8,58 2 Usaha Menengah (UM) 23.077.246 25.199.311 2.122.065 9,20 Usaha Kecil
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN SALINAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN SELAKU
