BAB II TINJAUAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN TEORI

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

A. lisa Data B. Analisa Data. Analisa data yang dilakukan pada tanggal 18 April 2011 adalah sebagai. berikut:

SISTEM PENCERNAAN MAKANAN. SUSUNAN SALURAN PENCERNAAN Terdiri dari : 1. Oris 2. Faring (tekak) 3. Esofagus 4. Ventrikulus

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I KONSEP DASAR. Berdarah Dengue (DBD). (Aziz Alimul, 2006: 123). oleh nyamuk spesies Aedes (IKA- FKUI, 2005: 607 )

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. PENGUMPULAN/PENYAJIAN DATA DASAR SECARA LENGKAP

I. PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Salmonella sp. yang terdiri dari S. typhi, S. paratyphi A, B dan C

Sistem Pencernaan Manusia

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi.

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan gaster berlebihan, diare dan penurunan masukan

Laporan Pendahuluan Typhoid

BAB I KONSEP DASAR. saluran usus (Price, 1997 : 502). Obserfasi usus aiau illeus adalah obstruksi

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DEMAM CHIKUNGUNYA Oleh DEDEH SUHARTINI

BAB II. Mega kolon adalah dilatasi dan atonikolon yang disebabkan olah. Mega kolon suatu osbtruksi kolon yang disebabkan tidak adanya

BAB I KONSEP DASAR A.

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

ASKEP THYPOID A. KONSEP DASAR

BAB III ANALISA KASUS

Pembahasan Video : :1935/testvod/_definst_/mp4:(21). 8 SMP BIOLOGI/4. SISTEM PENCERNAAN PADA MANUSIA/BIO mp4/manifest.

BAB II TINJAUAN TEORI. infeksi systemic bersifat akut yang disebabkan oleh salmonella thyposa, ditandai oleh panas berkepanjangan (Sumarmo, 2002).

BAB II KONSEP DASAR A.

LAPORAN KASUS / RESUME DIARE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh

PROSES PENCERNAAN SECARA MEKANIK DAN KIMIAWI

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi penyakit multisistemik yang disebabkan oleh kuman Salmonella

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tipes atau thypus adalah penyakit infeksi bakteri pada usus halus dan

BAB II KONSEP DASAR. infeksi akut yang biasanya mengenai saluaran cerna dengan gejala demam

BAB I KONSEP DASAR. sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi saluran cerna tinggi artinya

BAB I KONSEP DASAR. Selulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan

LAPORAN PENDAHULUAN. memperlihatkan iregularitas mukosa. gastritis dibagi menjadi 2 macam : Penyebab terjadinya Gastritis tergantung dari typenya :

Fungsi Sistem Pencernaan Pada Manusia

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid

Rongga Mulut. rongga-mulut

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 4. SISTEM PENCERNAAN PADA MANUSIALatihan Soal 4.2. Parotitis. Diare. Apendisitis. Konstipasi

cairan berlebih (Doenges, 2001). Tujuan: kekurangan volume cairan tidak terjadi.

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bab. Peta Konsep. Gambar 3.1 Orang sedang makan. Mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus. terdiri dari. Saluran Pencernaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan pada tanggal 8 Mei 2007 jam : Jl. Menoreh I Sampangan Semarang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DIARE AKUT. Berdasarkan Riskesdas 2007 : diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.

BAB I PENDAHULUAN. besar di Indonesia bersifat sporadic endemic dan timbul sepanjang tahun. Kasus

BAB II TINJAUAN TEORI. Salmonella typhosa dan hanya didapatkan pada manusia (Rampengan, 2007).

KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN A DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN: DIARE DI RUANG MINA RS PKU HUHAMMADIYAH SURAKARTA

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016 ISSN DIAGNOSIS KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PENCERNAAN

SISTEM PENCERNAAN PADA MANUSIA. Drs. Refli., MSc

Sistem Pencernaan Manusia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KONSEP DASAR. pencernaan yang disebabkan oleh kuman salmonella typhosa dengan. kepala, nyeri perut (Ngastiyah, 2005).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PEMBAHASAN. memberikan asuhan keperawatan terhadap Ny. A post operasi sectio caesarea

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMEGALI

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR DINAS KESEHATAN PUSKESMAS LENEK Jln. Raya Mataram Lb. Lombok KM. 50 Desa Lenek Kec. Aikmel

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Farmakoekonomi juga didefenisikan sebagai deskripsi dan analisis dari biaya terapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Sumber penularan penyakit demam typhoid adalah penderita yang aktif,

BAB III TINJAUAN KASUS. Lukman RS Roemani Semarang, data diperoleh dari hasil wawancara dengan

5. Pengkajian. a. Riwayat Kesehatan

2. Pengkajian Kesehatan. a. Aktivitas. Kelemahan. Kelelahan. Malaise. b. Sirkulasi. Bradikardi (hiperbilirubin berat)

BAB III RESUME KEPERAWATAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Organ Pencernaan Pada Manusia Proses pencernaan merupakan suatu proses yang melibatkan organ-organ pencernaan dan kelenjar-kelenjar pencernaan.

APPENDISITIS. Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh: a. Fekalis/ massa keras dari feses b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid c.

Fungsi Makanan Dalam Perawatan Orang Sakit

SET 13 TUBUH MANUSIA 2 (SISTEM PENCERNAAN) Karbohidrat - Beras - Gandum - Jagung - Sagu. Lemak - Keju - Mentega - Minyak Kelapa

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASKEP AN. R DENGAN BISITOPENIA DI RUANG HCU ANAK RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

BAB 1 PENDAHULUAN. priyanto,2008). Apendisitis merupakan peradangan akibat infeksi pada usus

BAB I PENDAHULUAN. Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama

Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru

Awal Kanker Rongga Mulut; Jangan Sepelekan Sariawan

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun), usia bermain

sex ratio antara laki-laki dan wanita penderita sirosis hati yaitu 1,9:1 (Ditjen, 2005). Sirosis hati merupakan masalah kesehatan yang masih sulit

BAB I PENDAHULUAN. rendah, cenderung meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya angka


LAPORAN PENDAHULUAN (NUTRISI)

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB I KONSEP DASAR. menderita deferensiasi murni. Anak yang dengan defisiensi protein. dan Nelson membuat sinonim Malnutrisi Energi Protein dengan

BAB I KONSEP DASAR. stadium yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi. Morbili adalah suatu penyakit yang sangat menular karena

BAB I PENDAHULUAN. masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun),

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

LAPORAN PENDAHULUAN Konsep kebutuhan mempertahankan suhu tubuh normal I.1 Definisi kebutuhan termoregulasi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S DENGAN DEMAM TYPHOID DI BANGSAL SOFA RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. pada iklim, tetapi lebih banyak di jumpai pada negara-negara berkembang di

Pencernaan mekanik terjadi di rongga mulut, yaitu penghancuran makanan oleh gigi yang dibantu lidah.

BAB II KONSEP DASAR. normal sebagai akibat dari perubahan pada pusat termoregulasi yang terletak dalam

DEFINISI Kanker kolon adalah polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitar.

aureus, Stertococcus viridiansatau pneumococcus

KONSEP TEORI. 1. Pengertian

BAB I PENDAHULUAN. peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi

BAB I KONSEP DASAR. dapat dilewati (Sabiston, 1997: 228). Sedangkan pengertian hernia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang B. Tujuan C. Manfaat

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN TEORI A. Konsep Dasar Penyakit 1. Pengertian Tifus abdominalis (demam tifoid, enteri fever) ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari I minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan pada kesadaran (Ngastiyah : 2005). Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus dengan yang disebabkan oleh salmonella typhosa (Hidayat, A, Aziz Alimul : 2005). Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna. dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran (Suriadi dan Rita Y : 2001). Kesimpulan dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tifus abdominalis adalah infeksi akut pada saluran pencernaan yang di sebabkan oleh salmonella typhosa. 2. Anatomi Fisiologi a. Mulut Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2 bagian yaitu : 1) Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang di antara gusi, gigi, bibir, dan pipi. 2) Bagian rongga mulut/bagian dalam yang sisi-sisinya di batasi oleh tulang maxillaris, palatu, dan mandibularis di sebelah belakang yang bergabung dengan faring (Evelyn C. Pearce : 2002). 6

b. Faring Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (esofagus), di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi (Evelyn C. Pearce : 2002). c. Esofagus Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya 25 cm. Esofagus terletak di belakang trakhea (Syaifuddin : 1997). d. Lambung Merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster. Fungsi lambung terdiri dari : 1) Menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltik lambung dan getah lambung. 2) Sekresi getah lambung a) Pepsin b) Asam garam (HCl) c) Renin Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan, bila melihat makanan dan mencium makanan maka sekresi lambung akan terangsang, sehingga akan menimbulkan rangsangan kimiawi yang menyebabkan dinding lambung melepaskan hormon yang di sebut sekresi getah lambung (Syaifuddin : 1997). e. Usus halus 1) Dedunum Di sebut juga usus 12 jari panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda yang melengkung ke kiri. Pada lengkungan ini terdapat pankreas. Dan pada bagian kanan dedunum ini terdapat lendir yang membukit yang di sebut papila valeri yang bermuara pada saluran empedu dan saluran pankreas (Syaifuddin : 1997). 7

2) Yeyenum dan Ileum Yeyenum dan ileum mempunyai panjang 6 meter. Dua per lima adalah yeyenum (2-3 meter), dan ileum 4-5 meter. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas. Ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum. 7 Pada mukosa usus halus terdapat penampang melintang vili di lapisi oleh epitel dan kripta yang menghasilkan bermacam-macam hormon jaringan dan enzime yang berperan aktif dalam pencernaan. Absorbsi makanan seluruhnya berlangsung di usus halus (Syaifuddin : 1997). Fungsi usus halus terdiri dari : 1) Menerima zat-zat makanan yang sudah di cerna untuk di serap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe. 2) Menyerap protein dalam bentuk asam amino. Karbohidrat di serap dalam bentuk monosakarida (Syaifuddin : 1997). Di dalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan makanan : 1) Enterokinase, mengaktifkan enzime proteolitik 2) Eripsin menyempurnakan pencernaan protein menjadi asam amino. a) Laktase mengubah laktase menjadi monosakarida. b) Maltosa mengubah maltosa menjadi monosakarida. Sukrosa mengubah sukrosa menjadi monosakarida (Syaifuddin : 1997). f. Usus besar 1) Kolon assenden Panjangnya 13 cm, terletak di bawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas dari ileum ke hati (Syaifuddin : 1997). 8

2) Kolon transversum Panjangnya 38 cm, membujur dari kolon assenden terdapat sampai ke kolon dessenden berada di bawah abdoment. Sebelah kanan terdapat fleksura hepatika dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis (Syaifuddin : 1997). 3) Kolon dessenden Panjangnya 25 cm, terletak di bawah abdoment bagian kiri membujur dari atas ke bawah fleksura lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolon sigmoid (Syaifuddin : 1997). 4) Kolon sigmoid Merupakan lanjutan dari kolon dessenden yang terletak miring. Dalam rongga pelvis sebelah kiri berbentuk menyerupai huruf S, ujung bawahnya berhubungan dengan rektum (Syaifuddin : 1997). g. Rektum Terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak di dalam rongga pelvis di depan os sakrum dan os koksigis (Syaifuddin : 1997). h. Anus Bagian saluran pencernaan terakhir yang menghubungkan rektum dengan dunia luar (udara luar). Terletak di dasar pelvis, dindingnya di perkuat oleh 3 sfingter : 1) Sfingter ani internus (sebelah atas), bekerja tidak menurut kehendak. 2) Sfingter levator ani, bekerja juga tidak menurut kehendak. Sfingter ani eksternus (sebelah bawah), bekerja menurut kehendak (Syaifuddin : 1997). 9

2.1 Gambar system pencernaan pada manusia Sumber:http://asuhan-keperawatan patriani.blogspot.com 3. Etiologi Penyebab penyakit ini adalah salmonella typosa basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar tidak berspora, mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen. a. Antigen O Somatik, terdiri dari zat komplek lipopolisakarida. b. Antigen H Merupakan komponen protein dalam flagella. c. Antigen Vi. 10

Dalam serum penderita terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ke tiga macam antigen tersebut (Ngastiyah : 2005). 4. Manifestasi Klinik Masa tunas 10-20 hari, selama masa, inkubasi ditemukan gejala prodromal yaitu, perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat nafsu makan berkurang, menyusul gambaran klinik yang biasa ditemukan. a. Demam Berlangsung selama 3 minggu, bersifat febris reminten dan suhu tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh ber angsur-angsur naik setiap hari, dan malam hari. Dalam minggu ke 2 pasien terus dalam keadaan demam pada minggu ke tiga, suhu berangsur-angsur turun dan normal kembali akhir minggu ke tiga (Ngastiyah : 2005). b. Gangguan pada saluran pencernaan Pada nafas berbau tidak sedap bibir kering dan pecah-pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor. Pada, abdomen ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare, atau normal (Ngastiyah : 2005). c. Gangguan kesadaran Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak berada dalam apatis atau somnolen, jarang terjadi sopor, koma, atau gelisah (kecuali penyakitnya berat dan terlambat mendapatkan pengobatan) di samping gejala tersebut mungkin juga terdapat gejala lainnya. Pada punggung dan anggota gerak dan dapat di temukan rosella : yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan pula bradikardia dan epistaksis pada anak besar (Ngastiyah : 2005). 11

d. Relaps (kambuh) Yaitu keadaan berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis, akan tetapi berlangsung lebih ringan dan lebih singkat. Terjadi dalam minggu ke dua setelah suhu badan normal kembali. Terjadinya sukar di terangkan, seperti halnya keadaan kekebalan alam, yaitu tidak pernah menjadi sakit walaupun mendapat infeksi yang cukup berat. Menurut teori, relaps terjadi karena terdapatnya basil dalam organ-organ yang tidak dapat di musnahkan baik oleh obat maupun oleh zat anti. Mungkin pula terjadi pada waktu penyembuhan tukak, terjadi invasi basil bersamaan dengan pembentukan jaringan - jaringan fibrolas (Ngastiyah : 2005). 5. Patofosifiologi Infeksi terjadi pada saluran pencernaan hasil diserap di usus halus, melalui pembuluh limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai diorgan-organ terutama hati dan limfe. Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ-organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Kemudian basil masuk ke dalam darah (bakterimia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak nyeri. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan usus (Ngastiyah : 2005) dan (Suriadi dan Rita Y : 2001). 12

6. Pathway Salmonela Thyposa Usus halus Penyerapan usus halus Pelepasan endotoksin oleh infeksi Proses infeksi Gangguan rasa nyaman panas / hipertermi Thypus Abdominalis Masuk ke pembuluh darah Basil tidak di hancurkan Berkembang biak di hati dan limpa Terjadi pembesaran Organ (Hepatomegali) Gangguan rasa nyaman nyeri Salmonela menginfeksi usus Metabolisme makanan terganggu Gangguan penyerapan di usus halus Makanan tetap di lambung Mual muntah Refluk Resiko tinggi kekurangan volume /cairan Makanan di keluarkan Diare Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi Makanan tertahan Konstipasi Ngastiyah, 2005 : 236 Suriadi dan Rita, 2001: 76 13

7. Diagnosa Pembanding 1) Dengue Hemoragik Fever (DHF) 2) Gastroenteritis 3) Gastritis 4) Peritonitis 5) Perforasi gaster (Carpenito, L. Jual : 2001). 8. Komplikasi a. Pada usus halus (Ngastiyah : 2005). 1) Pendarahan usus bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan dengan benzidin. Jika perdarahan banyak terjadi melena, dapat disertai nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan. 2). Perforasi usus Timbul biasanya pada minggu ke 3 atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasinya tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara dirongga peritorium hati dan diafragma foto rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak. 3). Peritonitis biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang. b. Di Luar Usus (Ngastiyah : 2005). 1). Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis yaitu meningitis kolesistitis, ensefalopati. 2). Terjadi karena infeksi sekunder yaitu bronko pneumoni. 9. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium (Ngastiyah : 2005). a. Darah tepi Terdapat gambaran leukopenia, limfositosis relatif dan aneosinofillia pada permukaan kulit, mungkin terdapat anemia dan trombsositopenia ringan. b. Darah untuk kultur (biakan empedu) dan widal 14

Biakan empedu untuk menentukan diagnosis tifus abdominalis secara pasti. 1) Biakan Empedu Basil salmonella typosa dapat ditemukan dalam darah penderita biasanya dalam minggu pertama sakit. Selanjutnya lebih sering ditemukan dalam urine dan feces dan makanan atau tetap positif untuk waktu yang lama. Pemeriksaan yang positif dari contoh darah digunakan untuk menegakkan diagnosa, sedangkan perneriksaan dari urine dan feces dan 2 kali berturut-turut digunakan untuk menentukan bahwa penderita telah benar-benar sembuh dan tidak menjadi pembawa kuman (karier). 2). Pemeriksaan Widal Dasar pemeriksaan ialah : reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita dicampur dengan suspensi antigen salmonella typhosa. Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi. Untuk membuat diagnosis yang diperlukan ialah titer zat anti terhadap antigen gen O. Titer yang bernilai 1 / 200 / lebih digunakan untuk membuat diagnosis. Titer tersebut mencapai puncaknya bersamaan dengan penyembuhan penderita. Titer terhadap antigen H tidak dapat diperlukan untuk diagnosis karena dapat tetap, tinggi setelah imunisasi atau apabila penderita, telah lama sembuh. Tidak selalu pemeriksaan widal positif walaupun penderita sungguh-sungguh menderita tifus abdominalis. Sebaliknya titer dapat positif karena keadaan sebagai berikut : a) Titer O dan H tinggi karena ada aglutinin normal, karena infeksi basil coli patogen dalam usus. b) Pada neonatus, zat anti diperoleh dari ibunya melalui tali pusat. 15

c) Akibat imunisasi secara, alamiah karena masuknya basil peroral pasien keadaan infeksi subklinis. 10. Penatalaksanaan Pasien yang dirawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus dianggap dan diperlukan langsung sebagai pasien thypus abdominalis dan diberikan pengobatan sebagai berikut : a. Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan ekskreta. b. Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang lama, lemah, anorexia. c. Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali (istirahat total) kemudian boleh duduk, jika tidak panas lagi boleh berdiri, berjalan. d. Diet makanan harus mengandung cairan, kalori dan protein. Bahkan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak bergas, susu 2 gelas/hari. Bila kesadaran pasien menurun diberikan makanan cair melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan baik dapat juga diberikan makanan lunak. e. Obat pilihan, klomramfenikol, kecuali jika pasien tidak cocok dapat diberikan obat lainnya, seperti : kotrimoksazol, pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi yaitu : 100 mg/kg BB/hr (maksimal 2 gr/hr) diberikan 4x sehari peroral/intravena. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi tersebut mempersingkat waktu perawatan dan mencegah relaps, efek negatifnya adalah pembentukan zat anti kurang karena basil terlalu cepat dimusnahkan. f. Bila terdapat komplikasi di sesuaikan penyakitnya Bila terjadi dehidrasi dan asidosis di berikan cairan secara intravena. Penyakit Tifus Abdominalis adalah penyakit menular yang sumber infeksinya dari feses dan urine, sedangkan lalat pembawa atau penyebar dari kuman tersebut. Pasien thypoid harus di rawat di kamar isolasi yang dilengkapi dengan peralatan untuk 16

merawat pasien yang menderita penyakit menular, seperti desinfektan untuk mencuci tangan, merendam pakain kotor dan pot atau urine bekas pakaian pasien. Yang merawat atau sedang menolong pasien agar memakai celemek (Ngastiyah : 2005). B. Konsep Dasar Keperawatan Asuhan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-pshiko sosio spiritual yang komprehensif di tujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit (NANDA, NIC & NOC : 2010). Proses keperawatan adalah suatu pendekatan yang sistematis untuk mengenal masalah-masalah pasien dan mencarikan pemecahan masalah dalam memenuhi kebutuhan pasien yang terdiri dari tahapan-tahapan penting yang meliputi pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan, implementasi, evaluasi yang masing-masing berkesinambungan dan berkaitan satu sama lain (NANDA, NIC & NOC : 2010). 1. Fokus Pengkajian Pengkajian adalah suatu fase permulaan dari proses keperawatan yang mempunyai komponen utama yaitu mengumpulkan data, memvalidasi data, mengorganisasi data dan menuliskan data. Data yang perlu di kaji meliputi data subyektif dan obyektif (NANDA, NIC & NOC : 2010). Data-data tersebut terdiri dari : a. Aktifitas Istirahat Gejala : Kelemahan, kelelahan, cepat lelah, merasa gelisah dan ansietas. 17

Pembatasan aktivitas karena proses penyakit. b. Sirkulasi Tanda : Takikardia (respon terhadap demam, proses inflamasi dan nyeri). TD : hipotensi, termasuk postural. Kulit/Membran mukosa : turgor buruk, kering, lidah pecah-pecah (dehidrasi/malnutrisi). c. Integritas Ego Gejala : Ansietas, ketakutan, emosi kesal, missal : perasaan tak berdaya. Faktor stress missal : hubungan dengan keluarga/ pekerjaan, pengobatan mahal. Tanda : Menolak, perhatian menyempit, depresi. d. Eliminasi Gejala : Tektur feses bervariasi dari bentuk lunak sampai bau/ berair. Tanda : Menurunnya bising usus, tak ada peristaltik, atau adanya peristaltik yang dapat dilihat. e. Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia, mual-muntah, BB menurun. Tanda : Penurunan lemak subkutan / massa otot, kelemahan, tonus otot dan turgor kulit buruk, membran mukosa pucat. f. Nyeri/Kenyamanan Gejala : Nyeri/nyeri tekan pada kuadran kiri bawah. Tanda : Nyeri tekan abdomen. g. Keamanan Gejala : Peningkatan suhu tubuh 39,6-40 derajat Celsius Elergi terhadap makanan yang mengeluarkan histamine kedalam usus dan mempunyai efek inflamasi. Tanda : Lesi kulit mungkin ada misalnya : eritema nodusum (meningkat, nyeri tekan, kemerahan dan bengkak) (Doenges, M.E : 2000). 18

2. Perumusan Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan pada dasarnya adalah mendiagnosa respon manusia terhadap stressor. Stressor yang ada bisa menyebabkan banyak respon yang bisa di karakteristikan sebagai respon adatif atau respon maladatif. Respon maladatif pada akhirnya akan memunculkan masalah kesehatan (NANDA, NIC & NOC : 2010). Untuk mendapatkan diagnosa yang aktual di perlukan data yang aktual pula. Apabila diagnosa aktual di dapatkan maka perawat perlu mempertimbangkan pada kondisi lebih lanjut. Tetapi jika diagnosa aktual tidak muncul maka perlu mengkaji lebih lanjut tentang diagnosa resiko terkait dengan masalah tertentu yang terdapat pada pasien (NANDA, NIC & NOC : 2010). 3. Fokus intervensi Intervensi keperawatan menurut Doctherman & Bulecheck (2008) adalah semua treatment yang di dasarkan pada penilaian klinik dan pengetahuan perawat untuk meningkatkan pasien / klien. Intervensi keperawatan juga di rujuk kepada istilah tindakan keperawatan,aktivitas, dan strategi. Tetapi dalam NIC, istilah intervensi dan aktifitas mempunyai arti yang spesifik (Wilkinson, 2007). Di bawah ini adalah beberapa intervensi keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan pada kasus thypus abdominalis (NANDA, NIC & NOC : 2010). Diagnosa I : Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses inflamasi pada usus halus (Carpenito, L. Jual : 2001). Kriteria hasil : a. Suhu badan menurun 37 0 C. 19

b. Nadi kembali normal (90-100 kali per menit). c. Pasien akan kelihatan tenang (Doenges, M.E : 2000). Intervensi : 1). Monitor tanda-tanda vital. 2). Anjurkan kompres hangat di dahi, axila dan paha. 3). Anjurkan banyak minurn air putih. 4). Anjurkan memakai baju yang tipis. 5). Anjurkan pasien tirah baring. 6). Kolaborasi dalam awasi pemeriksaan laboratorium 7). Kolaborasi medis dalain pemberian anti piretik dan anti biotik (Doenges, M.E : 2000). Diagnosa II : Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang kurang (Carpenito, L. Jual : 2001). Kriteria hasil : a. Pasien mampu makan dengan lahap. b. Nafsu makan meningkat. c. Tidak mual dan muntah (Doenges, M.E : 2000). Intervensi : 1). Kaji kebiasaan makan pasien. 2). Sajikan makanan dalam bentuk hangat dan bervariasi. 3). Observasi intake dan output. 4). Kolaborasi gizi untuk pemberian makanan. 5). Berikan porsi makanan sedikit tapi sering. 6). Libatkan peran keluarga dalarn perawatan (Doenges, M.E : 2000). Diagnosa III : Gangguan eliminasi : diare berhubungan dengan adanya peradangan pada usus halus (Carpenito, L. Jual : 2001). Kriteria hasil : a. Konsistensi dan frequensi BAB normal. 20

b. Pasien mengatakan tidak nyeri perut. c. Ekspresi tenang (Doenges, M.E : 2000). Intervensi 1). Monitor frekuensi BAB pasien. 2). Monitor konsistensi BAB pasien. 3). Anjurkan banyak minum. 4).Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diit tinggi serat. 5). Libatkan keluarga dalam perawatan (Doenges, M.E : 2000). Diagnosa IV : Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan mual muntah (Carpenito, L. Jual : 2001). Kriteria hasil : Mempertahankan volume cairan yang adekuat dan defisit cairan terpenuhi (Doenges, M.E : 2000). Intervensi : 1) Observasi TTV 2) Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan. 3) Observasi intake dan output. Kolaborasi antipiretik dan antibiotik sesuai progam (Doenges, M.E : 2000). Diagnosa V : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hepatomegali (Carpenito, L. Jual : 2001). Kriteria hasil : Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol tampak rileks dan mampu tidur atau istirahat (Doenges, M.E : 2000). Intervensi : a. Monitor tanda-tanda vital. b. Anjurkan pasien untuk alih baring (miring kanan dan kiri) untuk mengurangi nyeri. c. Ajarkan tekhnik relaksasi (nafas dalam) d. Observasi keadaan umum pasien (Doenges, M.E : 2000). 21

4. Implementasi Menurut Wilkinson (2007) implementasi yang bisa dilakukan oleh perawat terdiri dari : a. Melakukan, implementasi pelaksanaan kegiatan di bagi di dalam beberapa kriteria yaitu : 1) Di laksanakan dengan mengikuti order dari pemberi perawatan kesehatan lain. 2) Intervensi yang di lakukan dengan profesional kesehatan yang lain. 3) Intervensi di lakukan dengan melakukan nursing orders dan sering juga digabungkan dengan order dari medis. b. Mendelegasikan Pelaksanaan dapat didelegasikan hanya saja ada beberapa tanggung jawab yang perlu di cermati oleh pemberi delegasi. c. Mencatat Pencatatan bisa dilakukan dengan berbagai format tergantung pilihan dari setiap institusi (NANDA, NIC & NOC : 2010). 5. Evaluasi Menurut Wilkinson (2007), secara umum evaluasi diartikan sebagai proses yang disengaja dan sistematik dimana penilaian di buat mengenai kualitas, nilai atau kelayakan dari sesuai dengan membandingkan pada kriteria yang didefinisikan atau standart sebelumnya. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui kemajuan klien, dan keefektifan dari rencana asuhan keperawatan. Evaluasi di mulai dengan penkajian dasar dan dilanjutkan selama setiap kontak perawat dengan pasien (NANDA, NIC & NOC : 2010). 6. Dokumentasi Dokumentasi adalah suatu tindakan atau kegiatan untuk mengadakan pencatatan terhadap semua yang digunakan untuk 22

mengungkapkan data yang aktual dan dapat dipertanggung jawabkan (Nursalam : 2001). Dokumentasi ini bertujuan untuk : a. Sebagai sarana komunikasi b. Sebagai mekanisme pertanggung jawaban dan tanggung gugat c. Sebagai sarana dalam mengumpulkan data d. Sebagai sarana pelayanan keperawatan profesi e. Untuk menjamin akan kelangsungan dan terarahnya askep. f. Sebagai sarana untuk mengevaluasi baik formatif maupun sumatif. Untuk meningkatkan kerjasama antara disiplin ilmu (Nursalam : 2001). C. Konsep Dasar Tumbuh Kembang Pra Sekolah 1. Pengertian a. Perkembangan phsikoseksual (Sigmon Freud): Fase laten (6-12 tahun) Kepuasan anak mulainterintegrasi, anak akan menggunakan energi fisik dan psikologis untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui aktifitas fisik maupun sosialnya. Pada awal masa laten, anak perempuan lebih suka teman dengan jenis kelamin yang sama, demikian juga sebaliknya. Pertanyaan anak lebih banyak mengarah pada sistem reproduksi. b. Perkembangan Pshikososial (Erik Erikson): Industri versus inferiority (6-12 tahun) Anak akan bekerjasama dan bersaing dalam kegiatan akademik maupun pergaulan melalui permainan yang di lakukan bersama. Anak selalu berusaha untuk 23

mencapai sesuatu yang di inginkan sehingga anak pada usia ini rajin dalam melakukan sesuatu. Apabila dalam tahap ini anak terlalu mendapat tuntutan dari lingkungan dan anak tidak berhasil memenuhinya maka akan timbul rasa inferiority (rendah diri). Reinforcement dari orang tua atau orang lain menjadi begitu penting untuk menguatkan rasa berhasil dalam melakukan sesuatu. c. Perkembangan kognitif (piaget) Tahap pra operasional (2-7 tahun) Perkembangan anak masih bersifat egosentris, transduktif (menganggap semua orang sama), dan animisme (selalu memperhatikan benda mati). 24