Trench. Indo- Australia. 5 cm/thn. 2 cm/thn

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III DEFORMASI BERDASARKAN MODEL DISLOKASI DAN VEKTOR PERGESERAN GPS

BAB IV Analisis Pola Deformasi Interseismic Gempa Bengkulu 2007

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

BAB III Deformasi Interseismic di Zona Subduksi Sumatra

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang subduksi Gempabumi Bengkulu 12 September 2007 magnitud gempa utama 8.5

Besarnya pergeseran pada masing masing titik pengamatan setelah dikurangi vektor pergeseran titik BAKO dapat dilihat pada Tabel 4.

Analisis Pola Deformasi Interseismic Gempa Bengkulu 2007 dari Data GPS Kontinyu SuGAr

BAB II Studi Potensi Gempa Bumi dengan GPS

PENDAHULUAN TEGANGAN (STRESS) r (1)

batuan pada kulit bumi secara tiba-tiba akibat pergerakaan lempeng tektonik.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terletak di antara tiga lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng

S e l a m a t m e m p e r h a t i k a n!!!

matematis dari tegangan ( σ σ = F A

BAB II PERAMBATAN GELOMBANG SEISMIK

Hukum Hooke. Diktat Kuliah 4 Mekanika Bahan. Ir. Elisabeth Yuniarti, MT

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1. Subduksi antara Lempeng Samudera dan Lempeng Benua [Katili, 1995]

BAB 11 ELASTISITAS DAN HUKUM HOOKE

Pembebanan Batang Secara Aksial. Bahan Ajar Mekanika Bahan Mulyati, MT

TEGANGAN DAN REGANGAN

Menguasai Konsep Elastisitas Bahan. 1. Konsep massa jenis, berat jenis dideskripsikan dan dirumuskan ke dalam bentuk persamaan matematis.

Sebaran Jenis Patahan Di Sekitar Gunungapi Merapi Berdasarkan Data Gempabumi Tektonik Tahun

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

STUDI AWAL HUBUNGAN GEMPA LAUT DAN GEMPA DARAT SUMATERA DAN SEKITARNYA

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dzikri Wahdan Hakiki, 2015

Jl. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro No 1, Gedong Meneng, Bandar Lampung, Lampung ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

VII ELASTISITAS Benda Elastis dan Benda Plastis

Laporan Tugas Akhir Pemodelan Numerik Respons Benturan Tiga Struktur Akibat Gempa BAB I PENDAHULUAN

GELOMBANG SEISMIK Oleh : Retno Juanita/M

Analisis Mekanisme Sumber Gempa Vulkanik Gunung Merapi di Yogyakarta September 2010

PUNTIRAN. A. pengertian

BAB IV ANALISIS. Lama Pengamatan GPS. Gambar 4.1 Perbandingan lama pengamatan GPS Pangandaran kala 1-2. Episodik 1 Episodik 2. Jam Pengamatan KRTW

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal

BAB I PENDAHULUAN. utama, yaitu lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Eurasia di bagian

1. PERUBAHAN BENTUK 1.1. Regangan :

Bab V : Analisis 32 BAB V ANALISIS

BAB II GEMPA ACEH DAN DAMPAKNYA TERHADAP BATAS

KAJIAN TREND GEMPABUMI DIRASAKAN WILAYAH PROVINSI ACEH BERDASARKAN ZONA SEISMOTEKTONIK PERIODE 01 JANUARI DESEMBER 2017

PENERAPAN METODE DINSAR UNTUK ANALISA DEFORMASI AKIBAT GEMPA BUMI DENGAN VALIDASI DATA GPS SUGAR (STUDI KASUS: KEPULAUAN MENTAWAI, SUMATERA BARAT)

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN PEMODELAN DEFORMASI CO-SEISMIC

ANALISIS PERGESERAN AKIBAT GEMPA BUMI SUMATERA 11 APRIL 2012 MENGGUNAKAN METODE GPS CONTINUE

BAB III PEMBAHASAN. dengan menggunakan penyelesaian analitik dan penyelesaian numerikdengan. motode beda hingga. Berikut ini penjelasan lebih lanjut.

BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Tipikal struktur mekanika (a) struktur batang (b) struktur bertingkat [2]

BAB IV ANALISIS Seismisitas sesar Cimandiri Ada beberapa definisi seismisitas, sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. Gambar I.1. Grafik One Earthquake cycle fase interseismic postseismic[andreas, 2005]

Pengukuran Compressive Strength Benda Padat

C iklm = sebagai tensor elastisitas

TEGANGAN (YIELD) Gambar 1: Gambaran singkat uji tarik dan datanya. rasio tegangan (stress) dan regangan (strain) adalah konstan

Bab III Metodologi Penelitian

ANALISA SESAR AKTIF MENGGUNAKAN METODE FOCAL MECHANISM (STUDI KASUS DATA GEMPA SEPANJANG CINCIN API ZONA SELATAN WILAYAH JAWA BARAT PADA TAHUN

Gempabumi Sumba 12 Februari 2016, Konsekuensi Subduksi Lempeng Indo-Australia di Bawah Busur Sunda Ataukah Busur Banda?

PENDEKATAN TEORITIK. Elastisitas Medium

BAB 1. PENGUJIAN MEKANIS

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR MODUL 4 MODULUS ELASTISITAS

4/6/2011. Stress, DEFORMASI BAHAN. Stress. Tegangan Normal. Tegangan: Gaya per satuan luas TEGANGAN NORMAL TEGANGAN GESER. Stress.

04 05 : DEFORMASI DAN REKRISTALISASI

BAB 1 PENDAHULUAN. manusia, lingkungan dan metode yang dapat digunakan untuk mengurangi

Rheologi. Stress DEFORMASI BAHAN 9/26/2012. Klasifikasi Rheologi

Model Linked Stress Release pada Data Gempa Bumi di Pulau Sumatra

Mekanika Bahan TEGANGAN DAN REGANGAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah

Pertemuan I,II,III I. Tegangan dan Regangan

FISIKA EKSPERIMENTAL I 2014

Estimasi Nilai Pergeseran Gempa Bumi Padang Tahun 2009 Menggunakan Data GPS SuGAr

PEMETAAN BAHAYA GEMPA BUMI DAN POTENSI TSUNAMI DI BALI BERDASARKAN NILAI SESMISITAS. Bayu Baskara

BAB 10 GELOMBANG BUNYI DALAM ZAT PADAT ISOTROPIK

BAB II GEMPA BUMI DAN GELOMBANG SEISMIK

BAB I PENDAHULUAN. tatanan tektonik terletak pada zona pertemuan lempeng lempeng tektonik. Indonesia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. karbon, baja paduan rendah mutu tinggi, dan baja paduan. Sifat-sifat mekanik dari

BAB IV SIMULASI PENGARUH PERCEPATAN GEMPABUMI TERHADAP KESTABILAN LERENG PADA TANAH RESIDUAL HASIL PELAPUKAN TUF LAPILI

Jurnal Flywheel, Volume 1, Nomor 2, Desember 2008 ISSN :

METODE PENELITIAN. Model tabung gas LPG dibuat berdasarkan tabung gas LPG yang digunakan oleh

BAB I TEGANGAN DAN REGANGAN

l l Bab 2 Sifat Bahan, Batang yang Menerima Beban Axial

Pada beberapa alloi/paduan, perambatan retak adalah sepanjang batas butir, patah ini disebut intergranular. (gb. 6b).

KUAT TARIK BAJA 2/4/2015. Assalamualaikum Wr. Wb.

Bab 2. Teori Gelombang Elastik. sumber getar ke segala arah dengan sumber getar sebagai pusat, sehingga

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Analisa Perubahan Kecepatan Pergeseran Titik Akibat Gempa Menggunakan Data SuGar (Sumatran GPS Array)

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2016

PEMODELAN MEKANISME GEMPA BUMI PADANG 2009 BERDASARKAN DATA SUGAR

BAB III TEORI FISIKA BATUAN. Proses perambatan gelombang yang terjadi didalam lapisan batuan dikontrol oleh

LAPORAN GEMPABUMI Mentawai, 25 Oktober 2010

Gambar 2.1 Rangka dengan Dinding Pengisi

Kompetensi Dasar: 3.6 Menganalisis sifat elastisitas bahan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan Pembelajaran:

PEMODELAN TINGKAT AKTIVITAS SESAR CIMANDIRI BERDASARKAN DATA DEFORMASI PERMUKAAN

ANALISIS MODULUS ELASTISITAS DAN ANGKA POISSON BAHAN DENGAN UJI TARIK (The Analysis of Modulus of Elasticity and Poisson Number using the Pull Test)

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Batasan Masalah Tujuan Sistematika Penulisan...

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG

SEISMISITAS VERSUS ENERGI RELEASE

Pemodelan Tinggi dan Waktu Tempuh Gelombang Tsunami Berdasarkan Data Historis Gempa Bumi Bengkulu 4 Juni 2000 di Pesisir Pantai Bengkulu

III. METODE PENELITIAN

Perbandingan Energi Gempa Bumi Utama dan Susulan (Studi Kasus : Gempa Subduksi Pulau Sumatera dan Jawa)

Estimasi Moment Tensor dan Pola Bidang Sesar pada Zona Subduksi di Wilayah Sumatera Utara Periode

BAB III SIFAT MEKANIK MATERIAL TEKNIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

Setelah mengekstrak efek pergerakan Sunda block, dengan cara mereduksi velocity rate dengan velocity rate Sunda block-nya, maka dihasilkan vektor pergeseran titik-titik GPS kontinyu SuGAr seperti pada Gambar 3.17. Command line post script yang digunakan dalam software GMT untuk memperoleh vektor pergeseran titik-titik GPS kontinyu SuGAr, dapat dilihat pada bagian Lampiran 6. Trench Indo- Australia 5 cm/thn 2 cm/thn Gambar 3.17 Hasil plotting vektor pergeseran stasiun GPS kontinyu SuGAr setelah diekstrak efek pergerakan Sunda block-nya. 40

3.4.4 Pemodelan Pola Deformasi Interseismic Sebelum Gempa Bengkulu 2007 Hampir semua bahan teknik memiliki sifat tertentu yaitu elastisitas. Apabila gaya luar yang mengakibatkan perubahan pada bahan tersebut melebihi batas tertentu, maka perubahan yang terjadi akan hilang setelah gaya dilepas. Secara konsep, elastisitas terdiri dari tegangan (stress) dan regangan (strain). Stress adalah gaya persatuan luas permukaan tempatnya bekerja. Umumnya, arah stress miring terhadap luas tempatnya bekerja dan dapat diuraikan menjadi dua komponen, yaitu stress normal yang tegak lurus terhadap luas, dan stress geser yang bekerja pada bidang luas. Sedangkan strain adalah perubahan dimensi/bentuk yang disebabkan karena terjadinya stress [Timoshenko, 1986]. Hubungan linier antara komponen stress dan strain umumnya dikenal sebagai hukum Hooke, dengan parameter-parameter elastik antara lain [Timoshenko, 1986] : 1. Modulus Young, yaitu merupakan stress normal/strain normal. Modulus ini disebut juga modulus normal. 2. Modulus Geser, yaitu stress geser/strain geser. 3. Modulus Bulk, yaitu berhubungan dengan incompressibility suatu benda yang mengalami stress, hal ini bergantung pada wujud benda tersebut (cair atau padat), semakin cair maka semakin incompress. 4. Poisson s Ratio, yaitu suatu konstanta untuk sebagian besar benda. Dalam model dislokasi yang dibuat oleh Savage (1983), dijelaskan bahwa zona subduksi utaman adalah suatu unit atau kumpulan unit. Model dari akumulasi stress dan pelepasannya pada zona subduksi dianggap sebagai gangguan sederhana terhadap subduksi secara terus-menerus. Dalam penyelesaian masalahnya, deformasi dianggap dipicu oleh terjadinya pergerakan pada zona subduksi utama maka selanjutnya diperkenalkan suatu teori dislokasi. Ujung dislokasi ini berada pada bagian bawah dari zona subduksi utama, dengan vector Burgers-nya paralel dengan zona yang menghasilkan kembali efek dari patahan akibat pergerakan turun, dan sebangun dengan dislokasi yang sifatnya rotasi (skrew), yang dihasilkan dari efek patahan akibat pergerakan yang saling bertabrakan. Solusi permasalahan ini membutuhkan spesifikasi dari model bumi yang dinamakan Elastic Half Space [Savage, 1983]. 41

Model ini menjelaskan bahwa perambatan gelombang akibat gempabumi yang terjadi dianggap melewati medium yang homogen. Model ini menghubungkan komponen vektor slip dengan magnitude slip dan dip patahan, dengan parameter model seperti yang dijelaskan pada Gambar 3.18 sebagai berikut : Keterangan : X1 = Gaya nomal ke atas (dalam model dislokasi 2-D = nol). X2 = Gaya paralel dengan arah patahan. X3 = D/tan θ D = Kedalaman (depth) θ = Kemiringan (dip). W = Lebar bidang coupling (width) s = Panjang bidang pergeseran (slip). Gambar 3.18 Ilustrasi parameter model [Yusfania, 2008]. Model Elastic Half Space yang biasa digunakan dalam studi mekanisme terjadinya gempa bumi adalah Infinite Half Space, yang dikembangkan oleh Segall (1966). Model ini menjelaskan bahwa secara sederhana bumi dibagi menjadi dua bagian, yaitu atmosfir (upper-space) dan di dalam permukaan bumi (lower-space). Deformasi yang terjadi di bagian lower-space dapat dijelaskan dengan tiga komponen [Savage, 1983], yaitu : 1. Uniaxial strain ( e xx ), 2. Pergeseran vertikal ( w ), dan 3. Komponen pergesesan ( e xy ). 42

Ketiga komponen tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut [Savage, 1983] : Keterangan : x = jarak lokasi pengamatan terhadap trench zona subduksinya s = lebar coupling (width) α = kemiringan (dip) b x = komponen dip slip vektor Burgers b y = komponen strike slip vektor Burgers 43

Berikut model yang digunakan dalam pemodelan pola deformasi interseismic sebelum gempa Bengkulu 2007, dengan parameter-parameter yang ditunjukkan oleh Gambar 3.19 sebagai berikut : Dip yang digunakan adalah 11 o. Depth yang digunakan adalah 5 km dari batas antar lempeng. Width yang digunakan adalah 70 km dari batas Depth-nya. Slip yang digunakan adalah nilai pergerakan lempeng Indo-Australia yang bergerak relatif terhadap Eurasia, yaitu sebesar 5 cm. Kemudian diasumsikan deformasi interseismic yang terjadi pada bidang tersebut adalah homogen atau dengan kata lain Full Coupling. Gambar 3.19 Parameter-parameter model yang digunakan dalam pemodelan deformasi interseismic gempa Bengkulu 2007. 44

Hasil plotting pemodelan deformasi interseismic diperoleh besarnya pergeseran pada masing-masing jaraknya terhadap trench adalah seperti yang ditujukkan pada Gambar 3.20. Proses pemodelan deformasi interseismic yang dilakukan adalah menggunakan software Matlab 7, dengan script dapat dilihat pada bagian Lampiran 5. / year) PRKB MKMK Gambar 3.20 Hasil plotting pemodelan pergeseran yang terjadi. Segitiga warna merah menunjukkan lokasi salah satu stasiun GPS kontinyu SuGAr terhadap model tersebut Gambar 3.20 diatas menunjukkan besarnya pergeseran yang terjadi (sumbu-y) berdasarkan fungsi jarak terhadap trench (sumbu-x). Kurva diatas menunjukkan bahwa titik yang sangat dekat dengan trench, pergeserannya relatif sangat kecil, sedangkan lokasi yang berjarak ±50 km, menunjukkan nilai pergeseran yang maksimum, yaitu ±3 cm/tahun. Lalu semakin jauh pergeseran yang terjadi semakin kecil hingga sama sekali tidak terpengaruhi oleh aktifitas interseismic di zona subduksi tersebut. Titik PRKB pada Gambar 3.20 mewakili titik-titik GPS kontinyu SuGAr dengan jarak yang sama terhadap trench ±100 km, yang terletak di sepanjang busur kepulauan Mentawai, sedangkan titik MKMK mewakili titik-titik yang terletak di daratan pulau Sumatra, dengan jarak terhadap trench ±200 km. 45