1

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Desain Interior - Universitas Mercu Buana Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mengimbangi situasi tersebut. Salah satu kiat tersebut adalah dengan

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Tindakan ekstraksi adalah prosedur yang menerapkan prinsip bedah, fisika, dan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi, seiring dengan perkembangan dunia yang sangat

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi kesehatan di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat berarti dalam

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh perhatian dari dokter (medical provider) untuk menegakkan diagnosis

KUESIONER ANALISIS AUDIT KINERJA KUALITAS PELAYANAN PUBLIK PROGRAM JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT

KOMUNIKASI KELUARGA UNTUK MENUMBUHKAN MOTIVASI SEMBUH PADA ANAK PENDERITA KANKER. Misbah Hayati, Universitas Diponegoro.

BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dini pada usia bayi, atau bahkan saat masa neonatus, sedangkan

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

Gejala Penyakit CAMPAK Hari 1-3 : Demam tinggi. Mata merah dan sakit bila kena cahaya. Anak batuk pilek Mungkin dengan muntah atau diare.

BAB I PENDAHULUAN. sampai dengan lima tahun. Pada usia ini otak mengalami pertumbuhan yang

Mengenal Penyakit Kelainan Darah

Pengalaman sakit adalah hal yang dapat terjadi pada siapa pun, kapan pun. dan dimana pun, begitu pula dengan anak-anak. Sebagaimana orang dewasa,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Muti ah, 2016

Mengapa disebut sebagai flu babi?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PENYAJIAN DATA. Dalam Proses Penyembuhan Kesehatan Mental Klien Rumah Sakit Jiwa Tampan

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Rumah

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupannya. Seseorang yang mengalami peristiwa membahagiakan seperti dapat

BAB I PENDAHULUAN. Menjalani perawatan di rumah sakit (hospitalisasi) merupakan pengalaman

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. keeratan hubungan antara dukungan keluarga dengan illness perception, dapat

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua

PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

KUESIONER PENELITIAN. Persepsi Pasien Terhadap Pelayanan Kesehatan Perawat di Ruang Rawat Inap Kelas III Bangsal Rumah Sakit Imelda Medan Tahun 2013

BAB I PENDAHULUAN. Masa mengandung dan bersalin adalah masa yang penting bagi seorang wanita.

KUESIONER PENELITIAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN BPJS DALAM HAL KEPUASAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT Dr.PIRNGADI MEDAN TAHUN 2014

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien

BAB I PENDAHULUAN. pada iklim, tetapi lebih banyak di jumpai pada negara-negara berkembang di

BAB IV ANALISIS PROBLEM PSIKOLOGIS PASIEN PRA DAN PASCA MELAHIRKAN DAN PELAKSANAAN BIMBINGAN ROHANI ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh seluruh

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kualitas yang melayani, sehingga masalah-masalah yang terkait dengan sumber

HUBUNGAN PENGGUNAAN MEKANISME KOPING DENGAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN POST OPERASI FRAKTUR FEMUR DI UNIT ORTHOPEDI RSU ISLAM KUSTATI SURAKARTA

Modul ke: Pedologi. Cedera Otak dan Penyakit Kronis. Fakultas Psikologi. Yenny, M.Psi., Psikolog. Program Studi Psikologi.

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PENANGANAN TEPAT MENGATASI DEMAM PADA ANAK

BAB 1 : PENDAHULUAN. juga untuk keluarga pasien dan masyarakat umum. (1) Era globalisasi yang menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Proses menua adalah proses alami yang dialami oleh mahluk hidup. Pada lanjut usia

BAB I PENDAHULUAN. termaksud juga di indonesia, namun masih menyimpan banyak persoalan

Bab II. Solusi Terhadap Masalah-Masalah Kesehatan. Cerita Juanita. Apakah pengobatan terbaik yang dapat diberikan? Berjuang untuk perubahan

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)

Limfoma. Lymphoma / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

2015 RUMAH SAKIT KHUSUS JANTUNG KOTA BANDUNG

BAB II LANDASAN TEORI Hospitalisasi atau Rawat Inap pada Anak Pengertian Hospitalisasi. anak dan lingkungan (Wong, 2008).

BAB I PENDAHULIAN. Tuberculosis paru (TB paru) adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman

LAMPIRAN 1 INSTRUMEN PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit merupakan salah satu bentuk sarana kesehatan, baik yang

FORMULIR INFORMASI KESEHATAN PRIBADI PESERTA. Alamat. T/T Lahir Jenis Kelamin Tinggi / Berat Badan

SKENARIO ROLE PLAY DISCHARGE PLANNING ( PERSIAPAN PASIEN PULANG )

BAB 1 PENDAHULUAN. mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu.

No. Kuesioner : I. Identitas Responden 1. Nama : 2. Umur : 3. Jenis Kelamin : 4. Pendidikan : 5. Pekerjaan : 6. Sumber Informasi :

Desain Interior Nahdlatul Ulama Jombang dengan Konsep Therapeutic Environment

BAB IV KRSIMPULAN, BATASAN DAN ANGGAPAN

Efektivitas Pengobatan Obat Herbal Untuk Diabetes Kering Pada Luka Kaki Penggunaan Obat Herbal Untuk Diabetes Kering

BAB III ELABORASI TEMA

2. Bagi keluarga pasien dan pegunjung Tenang dan percaya akan kemampuan rumah sakit dalam menangani pasien yang menyatakan tersirat dalam interiornya.

KARAKTERISTIK INFORMAN

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9

BAB I PENDAHULUAN. dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada dibagian bawah kavum

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Angka kesakitan dan rata-rata lama sakit KAB./KOTA ADMINISTRASI KAB ADMINISTRATIF

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA. Muhammadiyah Yogyakarta sudah sesuai dengan undang-undang nomor 25 tahun 2009?

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah hak setiap orang merupakan salah satu slogan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah individu unik yang mempunyai kebutuhan sesuai dengan

Leukemia. Leukemia / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Bab IV. Konsep Perancangan

Hengky. book. Teguh Tahan Terpa KISAH NYATA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kesehatan Di Rumah Sakit

suatu unit pelayanan kesehatan,yaitu rumah sakit di wilayah Kotamatsum. Pada tanggal 26 Februari 2000 Rumah Sakit Islam AL UMMAH

BAB 1 PENDAHULUAN. demikian kompleks, rumah sakit harus memiliki sumber daya manusia yang

Bab III Sistem Kesehatan

KUESIONER PENELITIAN PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA TERHADAP KEJADIAN STROKE BERULANG DI RSUD DR. PIRNGADI MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Sebenarnya kusta bila ditemukan dalam stadium dini

BAB IV ANALISIS DATA. A. Faktor-Faktor Penyebab Anak Terkena Epilepsi di Gubeng

Tugas Akhir Universitas Mercu Buana April 2013

PERANCANGAN INTERIOR RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK HERMINA DI JAKARTA BARAT PAPER TUGAS AKHIR. Oleh: Siswanti Asri Trisnanih ( ) 08 PAC

BAB I PENDAHULUAN. berbagai lapisan masyarakat dan ke berbagai bagian dunia. Di Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. Bandung. Rumah sakit X merupakan rumah sakit swasta yang cukup terkenal di

BAB 1 PENDAHULUAN. pasien melalui berbagai aspek hidup yaitu biologis, psikologis, sosial dan

Hepatitis: suatu gambaran umum Hepatitis

ANALISIS HUBUNGAN PERSEPSI MUTU PELAYANAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN BALAI PENGOBATAN (BP) UMUM PUSKESMAS DI KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2009

SKRIPSI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan. Mencapai derajat sarjana S-1. Diajukan Oleh : NURHIDAYAH J FAKULTAS KEDOKTERAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan pada pengolahan data dan pembahasan hasil penelitian, maka. yang diberikan bagian Klinik Anak.

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. suatu proses yang dapat diprediksi. Proses pertumbuhan dan. tumbuh dan kembang sejak awal yaitu pada masa kanak-kanak (Potter &

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini membahas aspek yang terkait dengan penelitian ini yaitu : 1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa anak prasekolah (3-5 tahun) adalah masa yang menyenangkan dan

Di sisi lain ada pula café yang mengizinkan hewan peliharaan makan bersama pemiliknya namun pemilik hewan diminta untuk makan di luar area

Transkripsi:

BAB II RUMAH SAKIT UMUM BAGIAN ANAK Rumah sakit umum bagian anak, merupakan bagian dari rumah sakit umum yang khusus menangani spesialisasi penyakit anak atau ilmu kedokteran dinamakan pediatri. Pada bagian ini pasien yang dihadapi secara pasti adalah anak-anak yang berumur 0 12 tahun, dengan berbagai macam penyakit yang dihadapinya, seperti diantaranya adalah : Thypus, Colera, Disentri, Demam berdarah, Muntaber, Radang amandel, kelainan tata letak tulang (Biasanya akibat kecelakaan ataupun kelainan sejak lahir, dan berbagai penyakit lainnya baik yang menular maupun yang tidak menular). Umumnya penyakit yang diderita pasien golongan anak-anak adalah penyakit yang sifatnya menular. Hal ini dikarenakan tingkat kekebalan tubuh yang dimiliki oleh orang dewasa. Selain itu anak-anak kadang kala tidak menyadari keadaan lingkungan tempat dia bermain, bercengkrama dengan teman sepermainannya. Sehingga ditempat seperti inilah anak-anak sering tertular penyakit baik lewat udara maupun dari makanan. Namun di rumah sakit umum bagian anak ini sudah dibagi lagi sesuai dengan jenis penyakit yang diderita pasien sehingga tidak terjadi komplikasi virus antara pasien yang satu dengan pasien yang lainnya. Jadi biasanya terdapat satu tempat khusus untukl jenis penyakit (khusus untuk penyakit menular) sehingga dapat memudahkan perawat dan dokter dalam menangani pasiennya,. Selain pembagian berdasarkan jenis penyakit, rumah sakit umum bagian anak juga mempunyai pembagian-pembagian ruangan/ kelas berdasarkan tingkat perekonomian orang tua pasien, yaitu kelas VIP, I, II, III, dan bangsal ekonomi. www.stisitelkom.ac.id 1

2.1. Suasana Rumah Sakit Umum Bagian Anak Suasana yang tumbuh diruangan rawat inap bagian anak di rumah sakit umum dapat dibedakan berdasarkan kelas atau ruangan yang digunakan untuk perawatan, yaitu: 2.1.1. Suasana Kelas VIP (kelas eksekutif) Kelas ini biasanya digunakan oleh pasien yang tingkat perekonomian orang tua termasuk golongan atas. Tarip kamar perhari rata-rata berkisar Rp 125.000,00 sampai Rp 150.000,00. tentu saja ditunjang dengan fasilitas kamar yang memadai seperti kamar mandi, lemari pakaian, televisi, lemari es, AC, sofa untuk tamu serta interior yang ditata dengan baik sehingga pasien tidak merasa di rumah sakit, namun seperti kamar sendiri. Hal ini juga dapat membantu proses pengobatan, karena kenyamanan ruangan ditempati selama proses perawatan di rumah sakit. 2.1.2. Suasana Kelas I Unuk kelas I ini masih tidak jauh berbeda dengan kelas VIP. Hanya kapasitas ruangan ruangan untuk VIP untuk satu orang, sedangkan untuk kelas I kapasitas ruangan untuk dua orang pasien. Tarif perkamar Rp 85.000,00 sampai Rp 100.000,00 untuk satu hari,dengan fasilitas yang disediakan terdiri dari kamar mandi dalam kamar, lemari pakaian, televisi, lemari es, serta kursi tamu untuk yang datang membesuk. Untuk ruangan ini pasien mempunyai taman yang ikut dirawat juga diruangan itu, sehingga walaupun pasien berada di rumah sakit, dia tidak merasa kesepian. Untuk ruangan ini menggunakan penyekat ruangan yang menggunakan sistem tirai sehingga sewaktu-waktu dapat dibuka dan ditutup. 2.1.3. Suasana Kelas II Dikelas dua, kapasitas pasien untuk 3 sampai 4 orang, dengan tarif perkamar untuk satu hari berkisar antara Rp 75.000,00 sampai Rp 80.000,00. Untuk ruangan ini tidak terdapat fasilitas khusus seperti dikelas VIP dan kelas I. Hanya kamar mandi dan www.stisitelkom.ac.id 2

lemari pakaian masih terdapat dalam satu ruangan. Suasana ruangan kelas II ini mulai agak ramai, sehingga ketenangan pasien agak berkurang terlebih lagi pasiennya adalah anak-anak yang kadangkala rewel bila kondisi tubuh mereka sedang tidak nyaman sehinga dapat mengganggu teman-teman sekamarnya yang hanya dipisahkan dengan penyekat tirai. 2.1.4. Suasana Kelas III Suasana kelas ini sering juga disebut dengan kelas ekonomi. Kapasitas ruangan untuk 6 sampai 8 orang. Tarif perkamar Rp 40.000,00 sampai Rp 55.000,00 untuk satu hari. Fasilitas untuk ruangan tempat tidur dan lemari pakaian. Untuk kamar mandi sifatnya sudah umum, jadi berada diluar kamar tidur namun khususnya untuk pasien kelas III. Suasana ruangan sudah mulai kelihatan ramai apalagi pada jam-jam berkunjung. Sehingga tidak lagi terlihat solidaritas terhadap anatara pengunjung dengan pasien yang dirawat di kamar itu. Ruangan ini biasanya di huni oleh orang-orang yang berada diluar kota dimana tempat asalnya tidak mempunyai tempat untuk pengobatan yang intensif seperti rumah sakit umum. Sehingga mereka biasanya datang beramairamai mengantarkan yang sakit sekaligus ikut berkunjung. 2.1.5 Bangsal Ekonomi Ruangan ini khusus untuk pasien yang tidak mampu, sehingga kapasitas ruangan untuk 10 sampai 14 orang. Fasilitas yang tersedia hanhya tempat tidur. Suasana ruang ini yang paling tidak menyenangkan terutama untuk anak-anak yang dirawat. Oleh karena itu untuk ruangan ini merupakan ruangan yang pasiennya paling lama dirawat, sebab selain kondisi ruangan yang kurang memenuhi syarat untuk ruangan pasien yang senantiasa menginginkan ketenangan serta kurangnya perhatian dari segenap tim medis dalam menangani kelompok pasien di bangsal ekonomi ini. Dari sekian ruangan yang ada di rumah sakit umum, semuanya masih domain memakai warna putih untuk warna dinding ruangan. Hal ini sudah merupakan ciri khas dari rumah sakit di seluruh dunia, namun adapula yang sudah mengadakan perombakan warna, tetapi tetap didominasi dengan warna putih sebagai warna utama dan warna lain www.stisitelkom.ac.id 3

sebagai warna aksen. Sebaagai contoh, warna putih, dengan warna biru, warna putih dengan warna hijau dan warna putih dengan warna merah muda. Sehingga tidak terjadi kemonotonan yang dapat menimbulkan suasana kejenuhan. Pemberian aksen warna ini juga untuk menimbulkan suasana baru di rumah sakit umum. Perubahan-perubahan ini biasanya hanyauntuk kelas VIP, I, II, III. Untuk bangsal ekonomi biasanya masih tetap mengenakan warna putih secara keseluruhan. (Departemen Pusat Ruamh Sakit Hasan Sadikin). 2.2. Keadaan anak-anak Secara Psikologis Situasi Terhadap Situasi Di Rumah Sakit Umum Bagian Anak. Menurut Elisabeth B. Hurlock dalam bukunya yang berjudul Develomental Psyhology manusia mengalami suatu priode perkembangan kehidupan yang dibagi berdasarkan umur, sebagai berikut : 1. Masa prental : dari mulai pembuahan sampai dengan lahir. 2. Masa Bayi I (Infancy) : dari lahir sampai dengan umur dua minggu. 3. Masa Bayi II : dari umur 2 minggu sampai dengan 2 tahun (Babyhood). 4. Masa Anak-anak I : dari umur 2 tahun sampai dengan 6 tahun (Early chilhood) ; golongan Toddler dari umur 1 3 tahun. 5. Masa Anak-anak II : dari umur 0 tahun sampai dengan 10 12 tahun (Late Childhood). 6. Masa Pubertas : dari umur 10 tahun sampai dengan umur 12 tahun dan umur 13 samapai dengan umur 14 tahun (Puberty). 7. Masa Remaja : dari umur 13 sampai 14 tahun dan 17 tahun (Early Adolescence). 8. Masa Akil Balik :dari umur 17 tahun sampai dengan 21 tahun (Late Adolescence). 9. Masa Dewasa : dari umur 21 tahun sampai dengan 40 tahun (Early Adulthood). 10. Masa Pertengahaan : dari umur 40 tahun sampai dengan umur 60 tahun (Middle Age). 11. Masa ytua (Old Age) : dari umur 60 tahun sampai dengan akhir hayatnya. www.stisitelkom.ac.id 4

Dari sekian macam priode perkembangan kehidupan yang ditinjau dari segi umur, maka pada penelitian ini dikhususkan lagi, untuk kelompok umur bayi sampai dengan anak-anak. Dalam dunia kesehatan kelompok usia bayi dan anak-anak memang memerlukan perhatian tersendiri dalam ilmu kesehatan. Terlebih-lebih anak-anak yang tergolong dalam kelompok toddler (Kelomok anak yang berusia 1 sampai 3 tahun). Anak-anaka usia ini biasnya selalu meronta, ketakutan, atau senantiasa bergerak ketika diperiksa kesehatannya. Sehingga menyulitkan perawat pada saat akan mengontrol kesehatan anak. Maka biasanya anak-anak itu harus diperlukan dengan sangat hati-hati, sabar dan perlu ketelitian seperti membiarkan pasien berada dalam pelukan ibunya pada saat diperiksa kesehatannya oleh dokter atau perawat sehingga ia merasa aman, barulah 2. Jangan menyentuh anak dengan kasar. Dengan cara yang lembut berarti sudah sudah menjalankan tugas perawat yang paling baik. Tentu saja tidak selamaya demikian, Kaerena tingakat kesabaran seorang ada batasnya. Akan tetapi hal ini merupakan upaya untuk menghindari ketidaknyamanan sang anak selama berada di rumah sakit. 3. Jangan berbicara terlalu keras didepan sang anak, sebab diluar perkiraan telinga mungil itu jauh lebih mendengar pembicaraan orang. 4. Jangan mempergunakan pelbagal istilah yang diduga akan menakutkan pasien, misalnya : itilah Tumor, Anemia, Leukimia, dan lainya dianggap sebagai penyakit yang dapat diduga sesuatu yang ganas atau parah, sehingga pasien merasa takut, stress, dan akhirnya tidak gairah untuk sembuh dan pasrah keadaan. 5. Janganlah tidak menghargai keperibadian intrinsik anak yang sering berlainan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya, misalnya ada beberapa anak yang tidak merasa senang bila ditelanjangi bulat-bulat, untuk itu kiranya perlu diberikan penjelasan ataupun persetujuan sebelumnya. (Dinas Gill, Niall O Brien 1990 : 36). 2.3. hubungan Perawat Dengan Pasien di Ruang Anak-anak Pada dasarnya hubungan bukanlah hubungan yang sempurna karena ini berdasarkan atas kegiatan seseorang terhadap orang lain, sehingga pihak itu tidak dapat melakukan fungsi dan peran yang aktif. Dalam keadaan tertentu memang pasien tidak www.stisitelkom.ac.id 5

dapat berbuat sesuatu, jadi hanya sebagai penerima belaka seperti pasien dalam keadaan tidak sadar. 2.3.2. Pola Dasar Hubungan Membimbing Kerjasama Pola dasar ini ditemukan pada sebagian besar hubungan pasien dengan perawat, yakni bila keadaan penyakit pasien tidak terlalu berat, misalnya penyakit infeksi dan berbagai akut lainnya. Walaupun pasien menderita sakit namun ia tetap sadar dan tetap memiliki perasaan dan kemauan sendiri. Hal ini dikarenakan pasien menderita penyakit dan disertai dengan kecemasan dan berbagai perasaan tidak enak, ia mencari pertolongan pengobatan dan bersedia bekerja sama dengan orang yang mengobatintya. Walaupun perwat tidak semata-mata menjalankan kekuasaan, namun mengaharapkan kerjasama pasien, yang dapat diwujudkan dengan menurutiu nasihat perwat dan dokter, seperti makan obat yang teratur, melkukan pantang makanan untuk membantu proses penyembuhan, dan puasa bila hendak mengadakan pembedahan. 2.3.3. Pola Dasar Hubungan Saling Berperan Serta Secara Filosofice piola ini berdasrkan pendapat bahwa semua manusia memiliki hak dan martabat yang sama. Hubungan ini lebih berdasarkan pada struktur sosial yang demokratis dan yang merupakan perjuangan hidup sebagian umat manusia sepanjang masa.secara pskologis saling tergantung berlandaskan proses pengenalan yang amat kompleks. Kedu pihak harus selalu terbuka sebagi diri sendiri, agar bersama-sama dapat mempertahankan hubungan yang serasi dan sederajat. Dalam hubungan yang serasi ini, kedua belah pihak memiliki kekuatan yang hampir sama dan saling membutuhkan setidak-tidaknya saling tergantung. Kegiatan bersama itu harus menimbulkan bersama. Bila ketiga hal ini terdapat dalam satu hubungan, berarti hal ini terdapat dalam satu hubungan,berarti hubungan tersebut merupakan bentuk hubungan berpola peran serta. Pada pola hubungan ini dapat terjadi antara perawat dengan pasien yang ingin memelihara kesehatannya, yakni pada waktu pemeriksaan medis, misalnya pasien yang mengidap penyakit menahun (Penyakit Diabetes,Epilepsi).dalam hubungan semacam ini pasien dapat menceritakan pengalamannya sendiri berkaitan dengan penyakitnya, dan www.stisitelkom.ac.id 6

dapat membantu para perawat secara aktif dalam menetapkan situasi yang sebenarnya dan memberikan nasehat dan pengobatan yang tepat. Disamping itu hampir seluruh rencana pengobatan terletak ditangan para pasien itu sendiri, seperti minum obat atau tidak, mengulangi pembelian resep obat atau tidak. Dalam hal ini pasien secara sadar dan secara aktif berperan dalam pengobatan terhadap dirinya sendiri. (dr. Benyamin Lumenta 1989 :73, 74). www.stisitelkom.ac.id 7