BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Internal Auditor dan Ruang Lingkupnya. Kata internal auditor terdiri dari dua kata yaitu internal dan Auditor.

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Auditing merupakan kegiatan pemeriksaan dan pengujian suatu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Auditing merupakan kegiatan pemeriksaan dan pengujian suatu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Orang yang melaksanakan fungsi auditing dinamakan pemeriksa atau auditor. Pada mulanya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dinamakan pemeriksa (auditor). Seorang auditor pada mulanya bertindak sebagai

B A B II TINJAUAN PUSTAKA. Perkembangan suatu perusahaan ditandai dengan semakin banyaknya unitunit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah auditing dikenal berasal dari bahasa latin yaitu : audire, yang

BAB II URAIAN TEORITIS. Menurut American Accounting Association, internal audit adalah proses sistematis

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

- 1 - LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 7 /SEOJK.03/2016 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN FUNGSI AUDIT INTERN BANK PERKREDITAN RAKYAT

BAB I PENDAHULUAN. Profesi audit internal mengalami perkembangan cukup signifikan pada

PIAGAM AUDIT INTERNAL

PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unit operasi perusahaan, jenis usaha, melebarnya jaringan distribusi, dan

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian dan Ruang Lingkup Internal Auditing. departemen yang melakukan pemeriksaan khusus untuk menjamin kelangsungan

Jeanne Asteria W. Martinus Sony Ersetiawan Universitas Katolik Darma Cendika

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Setiap perusahaan baik milik negara maupun swasta sebagai suatu pelaku

Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL. Bab I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Tujuan

INTERNAL AUDIT CHARTER 2016 PT ELNUSA TBK

PIAGAM SATUAN PENGAWASAN INTERNAL (INTERNAL AUDIT CHARTER)

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pada dasarnya, perbedaan yang begitu mendasar mengenai pengertian audit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pedoman Audit Internal (Internal Audit Charter) Lampiran, Surat Keputusan, No:06/FMI-CS/III/2017 Tentang Penetapan Kepala Unit Audit Internal

PIAGAM (CHARTER) AUDIT SATUAN PENGAWASAN INTERN PT VIRAMA KARYA (Persero)

1.1. Dasar/ Latar Belakang Penyusunan Piagam Audit Internal

PIAGAM INTERNAL AUDIT

PIAGAM AUDIT INTERNAL

PT Wintermar Offshore Marine Tbk

PIAGAM AUDIT INTERNAL

PT ARGHA KARYA PRIMA INDUSTRY, Tbk. PIAGAM UNIT INTERNAL AUDIT

BAB 1 PENDAHULUAN. Era globalisasi dalam dunia perekonomian menyebabkan persaingan dunia

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal

SURAT KEPUTUSAN BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI NO.SKB.003/SKB/I/2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengevaluasi kegiatan-kegiatan organisasi yang dilaksanakan.

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SINAR MAS AGRO RESOURCES & TECHNOLOGY Tbk.

PIAGAM AUDIT INTERNAL PT SILOAM INTERNATIONAL HOSPITALS TBK.

2.1 Pengertian dan Ruang Lingkup Internal Auditing. memerlukan staf yang berkompeten dan independen serta bertanggung

Internal Audit Charter

PT INDO KORDSA Tbk. PIAGAM AUDIT INTERNAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Audit internal muncul pertama kali dalam dunia usaha sesudah adanya audit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Definisi internal audit menurut Sukrisno Agoes (2004: 221) adalah: Definisi Internal Audit menurut Sawyer (2005: 10) adalah:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk

PT DANAREKSA (PERSERO) PIAGAM KOMITE AUDIT 2017

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PT Gema Grahasarana Tbk Piagam Unit Pengawasan Internal Internal Audit Charter DITETAPKAN OLEH DISETUJUI OLEH

PIAGAM KOMITE AUDIT 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Audit Internal mempunyai peranan yang sangat penting dalam mencapai

PIAGAM KOMITE AUDIT DAN RISIKO USAHA (BUSINESS RISK AND AUDIT COMMITTEES CHARTER) PT WIJAYA KARYA BETON Tbk. BAGIAN I

BAB II KERANGKA TEORI. American Accounting Association mendefenisikan sebagai proses. kepada pihak yang berkepentingan (Sawyer et al, 2005:8).

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan sebagai salah satu pelaku ekonomi tidak bisa lepas dari kondisi

Daftar Pertanyaan. Daftar pertanyaan berikut ini terdiri dari tipe isian, isilah pada tempat jawaban

: Tabel Distribusi Kuesioner pada KAP di Jakarta dan Tangerang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tutut Dewi Astuti, SE, M.Si, Ak, CA

PIAGAM KOMITE AUDIT. ( AUDIT COMMITTE CHARTER ) PT FORTUNE MATE INDONESIA Tbk

Pedoman Kerja Komite Audit

PIAGAM KOMITE AUDIT PT DUTA INTIDAYA, TBK

INTERNAL AUDIT CHARTER

BAB I PENDAHULUAN. persaingan usaha yang semakin kompetitif dan kompleks. Keadaan ini menuntut

Pedoman Kerja Unit Internal Audit (Internal Audit Charter)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PIAGAM AUDIT (AUDIT CHARTER) DIVISI INTERNAL AUDIT PT BUANA FINANCE, TBK

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER)

PERTEMUAN 2: CAKUPAN AUDIT

I. PENDAHULUAN. 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan;

PIAGAM KOMITE AUDIT. PT Wahana Ottomitra Multiartha, Tbk. DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH

PIAGAM KOMITE AUDIT PT PP LONDON SUMATRA INDONESIA Tbk

Internal Audit Charter

SEttEN IN00NESiA GRO IPIEDOMAN KERJA(CHARTER) KOMITE AUDI丁. PToSEMEN丁 ONASA

PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL PT NUSANTARA PELABUHAN HANDAL TBK ( Perseroan )

DAFTAR ISI CHARTER KOMITE AUDIT PT INDOFARMA (Persero) Tbk

PT MULTI INDOCITRA Tbk PIAGAM KOMITE AUDIT

Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk

BATASAN, STANDAR, DAN KODE ETIK AUDIT INTERNAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PIAGAM SATUAN PENGAWASAN INTERN (INTERNAL AUDIT CHARTER) PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL, TBK. PENDAHULUAN

PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC TBK. PIAGAM AUDIT INTERNAL

BAB 1 PENDAHULUAN. Globalisasi membawa liberalisasi di segala bidang, termasuk liberalisasi

DAFTAR PERTANYAAN AUDIT INTERNAL. (Variabel Independen)

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi menuntut pertumbuhan perekonomian khususnya dunia usaha

1. Keandalan laporan keuangan 2. Kepatuhan terhadap hukum & peraturan yang ada. 3. Efektifitas & efisiensi operasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah.

MAKALAH TENTANG INTERNAL CONTROL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: a. Keandalan pelaporan keuangan

KEPUTUSAN DEWAN KOMISARIS PT INDONESIA ASAHAN ALUMINIUM (PERSERO) NOMOR : PC-07/05/2014 TENTANG PIAGAM KOMITE AUDIT

KUESIONER PENELITIAN PERANAN AUDIT INTERNAL DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL PENJUALAN

Bandung, 14 oktober Kepada Yth, Bapak / Ibu respoden Di tempat

PEDOMAN KERJA KOMITE AUDIT

DAFTAR ISI v. ABSTRAK i KATA PENGANTAR. ii. DAFTAR TABEL viii DAFTAR LAMPIRAN xiv

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Internal Auditor dan Ruang Lingkupnya Kata internal auditor terdiri dari dua kata yaitu internal dan Auditor. Berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia, internal artinya menyangkut bagian dalam. Auditor kata dasarnya adalah audit yang artinya pemeriksaan pembukuan tata keuangan (perusahaan, bank, dsb), sehingga Auditor berarti pengaudit atau orang yang melakukan audit. Melihat gabungan kata di atas maka berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia, Internal Auditor memiliki arti pengaudit atau orang yang merupakan bagian dalam perusahaan yang melakukan pemeriksaan pembukuan tata keuangan atau lebih singkat disebut orang yang melakukan internal audit. Jika dilihat dari pihak yang melakukan tugas audit, terdapat dua kelompok auditor yaitu Internal Auditor dan Eksternal Auditor. Kedudukan dan tanggung jawab di antara kedua kelompok Auditor tersebut sangat berbeda satu sama lain. Seorang Internal Auditor bekerja pada perusahaan, lembaga pemerintahan, atau perusahaan nirlaba, sedangkan Eksternal Auditor bekerja pada suatu Kantor Akuntan Publik (KAP). Meskipun pihak yang melakukan internal audit merupakan bagian dari organisasi yang diaudit itu sendiri, tetapi pelaksanaan internal audit harus tetap obyektif dan independen dari aktivitas yang diaudit. Internal Auditor umumnya melapor kepada Manajer Senior atau Dewan Direksi, sedangkan Eksternal Auditor hanya memiliki struktur pelaporan yang terbatas

kepada kantor akuntan tempat Auditor tersebut bekerja dan pihak ketiga (Kreditor dan Investor). Untuk dapat memahami dan lebih memperjelas pengertian-pengertian tentang internal auditor, berikut ini akan dikutip beberapa definisi yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan M. Guy (2002:5) mendefenisikan audit sebagai berikut: Audit merupakan suatu proses sistematis yang secara objektif memperoleh dan mengevaluasi bukti yang terkait dengan pernyataan mengenai tindakan atau kejadian ekonomi untuk menilai tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Dilihat dari definisi di atas, unsur penting dalam pelaksanaan audit adalah proses perolehan serta pengevaluasian bukti-bukti dan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Bukti-bukti yang diperoleh baik dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan digunakan sebagi bahan evaluasi sehingga hasil audit lebih objektif. Kriteria-kriteria yang ditetapkan digunakan sebagai tolak ukur auditor untuk memberikan pendapatnya yang kemudian dituangkan ke dalam laporan audit. Laporan audit harus dapat memberi informasi kepada para pengguna akan tingkat kesesuaian dari informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan. Menurut Sukrisno Agoes (2004:3) pengertian audit adalah Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Ikatan Auditor Internal (Institute of Internal Auditors IIA) dikutip oleh Messier (2005:514), mendefenisikan internal audit sebagai berikut:

Internal audit adalah aktivitas independen, keyakinan obyektif, dan konsultasi yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Internal audit ini membantu organisasi mencapai tujuannya dengan melakukan pendekatan sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektifitas manajemen resiko, pengendalian, dan proses tata kelola. Definisi ini mengandung pengertian bahwa internal audit merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk membantu manajemen dalam penyediaan informasi, dengan tujuan akhir yaitu menambah nilai perusahaan. Pelaksanaan internal audit dilakukan secara independen dan obyektif yang berarti tidak terpengaruh oleh pihak manapun dan tidak terlibat dalam pelaksanaan kegiatan yang diaudit. Hasil audit yang diperoleh dari pelaksanaan internal audit secara independen dan obyektif tersebut akan dapat diandalkan oleh para pengguna informasi. Lawrence B. Sawyer (2005:6) mengatakan bahwa audit dalam arti sebenarnya, hanyalah satu fungsi saja yang diemban oleh Internal Auditor. Lebih lanjut Lawrence B. Sawyer (2005:10) mengemukakan definisi internal audit yang menggambarkan lingkup internal audit modern yang luas dan tak terbatas sebagai berikut: Internal audit adalah sebuah penilaian yang sistematis dan objektif yang dilakukan auditor internal terhadap operasi dan kontrol yang berbeda-beda dalam organisasi untuk menentukan apakah : 1. Informasi keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan, 2. Risiko yang dihadapi perusahaan telah diidentifikasi dan diminimalisasi, 3. Peraturan eksternal serta kebijakan dan prosedur internal yang biasa diterima telah diikuti, 4. Kriteria operasi yang memuaskan telah dipenuhi, 5. Sumber daya telah digunakan secara efisien dan ekonomis, dan 6. Tujuan organisasi telah dicapai secara efektif --semua dilakukan dengan tujuan untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan

membantu anggota organisasi dalam menjalankan tanggung jawabnya secara efektif. Definisi ini tidak hanya mencakup peranan dan tujuan auditor internal, tetapi juga mengakomodasikan kesempatan dan tanggung jawab. Definisi tersebut juga memadukan persyaratan-persyaratan signifikan yang ada di standar dan menangkap lingkup yang luas dari internal auditor modern yang lebih menekankan pada penambahan nilai dan semua hal yang berkaitan dengan risiko, tata kelola, dan kontrol. Definisi lain menurut Sukrisno Agoes (2004:221) mengenai internal audit sebagai berikut: Internal audit (pemeriksaan intern) adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku. Definisi di atas menunjukkan bahwa internal audit telah mengalami perkembangan. Lingkup internal audit tidak lagi hanya terbatas melakukan pemeriksaan di bidang keuangan saja, tetapi juga melakukan pemeriksaan di bidang lainnya seperti pengendalian, kepatuhan, operasional dan lain-lain. Bertolak dari definisi-definisi di atas, dalam perkembangannya konsep internal audit telah mengalami perubahan. Peranan internal audit sebelumnya hanya sebatas sebagai pemeriksa di dalam perusahaan yang kerjanya hanya mencari kesalahan, sedangkan saat ini internal audit dapat memberikan saran dan masukan berupa tindakan perbaikan atas sistem yang telah ada. Oleh karena itu, saat ini internal audit dapat juga dikatakan sebagai konsultan perusahaan dalam mencapai

tujuannya di masa yang akan datang. Internal Auditor harus selalu meningkatkan pengetahuan baik di bidang auditing sendiri maupun pengetahuan di bidang bisnis perusahaan agar dapat memberikan saran dan masukan berupa tindakan perbaikan tersebut. B. Fungsi Internal Auditor Perusahaan yang berkembang di Indonesia memiliki kedudukan yang penting dalam perekonomian dan pembangunan bagi masyarakat Indonesia, maka peran internal auditor menjadi semakin penting dalam mengendalikan perusahaan secara independen untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari kegiatan usahanya, terutama pada perusahaan menengah dan besar termasuk BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Badan Usaha Milik Negara memiliki kedudukan yang penting dalam perekonomian dan pembangunan, maka fungsi internal auditor menjadi semakin penting. Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi internal auditor bagi manajemen perusahaan adalah untuk menjamin pelaksanaan operasional yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Di dalam perusahaan, Internal Auditor merupakan fungsi staf sehingga tidak memiliki wewenang untuk langsung memberi perintah kepada pegawai dan juga tidak dibenarkan untuk melakukan tugas-tugas operasional dalam perusahaan yang sifatnya di luar kegiatan pemeriksaan. Internal audit terlibat dalam memenuhi kebutuhan manajemen dan staf audit, yang paling efektif meletakkan tujuan manajemen dan organisasi di atas rencana

dan aktivitas mereka. Tujuan-tujuan audit disesuaikan dengan tujuan manajemen, sehingga internal auditor itu sendiri berada dalam posisi untuk menghasilkan nilai tertinggi pada hal-hal yang dianggap manajemen paling penting bagi kesuksesan organisasi. Perumusan fungsi internal auditor dalam perusahaan biasanya menyangkut sistem pengendalian manajemen, ketaatan, pengungkapan penyimpangan, efisiensi dan efektivitas, manajemen risiko, dan proses tata kelola (good corporate governance). Fungsi internal auditor menjadi semakin penting sejalan dengan semakin kompleksnya kegiatan operasional perusahaan. Manajemen tidak mungkin dapat mengawasi seluruh kegiatan operasional perusahaan, karena itu manajemen sangat terbantu oleh fungsi internal auditor untuk menjaga efisiensi dan efektivitas kegiatan. Sawyer (2005:32) menyebutkan fungsi Internal Auditor bagi manajemen sebagai berikut : 1. Mengawasi kegiatan-kegiatan yang tidak dapat diawasi sendiri oleh manajemen puncak. 2. Mengidentifikasi dan meminimalkan risiko. 3. Memvalidasi laporan ke manajemen senior. 4. Membantu manajemen pada bidang-bidang teknis. 5. Membantu proses pengambilan keputusan. 6. Menganalisis masa depan bukan hanya untuk masa lalu. 7. Membantu manajer untuk mengelola perusahaan. Tujuan pemeriksaan yang dilakukan oleh internal auditor adalah untuk membantu semua pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar

mengenai kegiatan yang diperiksanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, internal auditor harus melakukan kegiatan-kegiatan berikut: 1. Menelaah dan menilai kebaikan, memadai tidaknya dan penerapan dari sistem pengendalian manajemen, pengendalian intern, dan pengendalian operasional lainnya serta mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang tidak terlalu mahal. 2. Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen. 3. Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk pencurian, kecurangan dan penyalahgunaan. 4. Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi dapat dipercaya. 5. Menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh manajemen. 6. Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh manajemen agar internal audit dapat terlaksana efektif dalam membantu manajemen dengan memberikan analisa, penilaian, dan saran mengenai kegiatan yang diperiksanya adalah: a. Internal Auditor harus mempunyai kedudukan independen dalam organisasi perusahaan, yaitu tidak terlibat dalam kegiatan operasional yang diperiksanya.

b. Departemen internal audit harus mempunyai uraian tugas tertulis yang jelas sehingga dapat mengetahui tugas, wewenang dan tanggung jawabnya. c. Departemen internal audit harus pula memiliki internal audit manual yang berguna untuk: 1. Mencegah terjadi penyimpangan pelaksanaan tugas. 2. Menentukan standar untuk mengukur dan meningkatkan performance. 3. Memberi keyakinan bahwa hasil akhir departemen internal audit telah sesuai dengan syarat kepala internal audit. d. Harus ada dukungan kuat dari top manajemen kepada departemen internal audit, dukungan tersebut dapat berupa: 1. Penempatan departemen internal audit dalam posisi yang independen. 2. Penempatan Staf Audit dengan gaji yang menarik. 3. Penyediaan waktu yang cukup dari top manajemen untuk membaca, mendengarkan dan mempelajari laporan-laporan departemen internal audit dan tanggapan yang cepat dan tegas terhadap saran-saran perbaikan yang diajukan. e. Departemen internal audit harus memiliki sumber daya yang profesional, cakap/mampu, bisa bersikap objektif dan mempunyai integritas serta kesetiaan yang tinggi. f. Departemen internal audit harus dapat bekerja sama dengan Akuntan Publik. Hasil kerja satuan internal audit bisa mempercepat dan mempermudah pelaksanaan pekerjaan Akuntan Publik.

Fungsi internal audit yaitu melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan proses pengelolaan risiko, pengendalian, dan governance dengan pendekatan yang sistematis, teratur dan menyeluruh. Maksud dari pernyataan tersebut yaitu internal audit membantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi resiko signifikan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko dan sistem pengendalian internal. Berdasarkan hasil penilaian risiko tersebut fungsi internal audit mengevaluasi kecukupan dan efektifitas sistem pengendalian internal yang mencakup governance, kegiatan operasi, dan sistem informasi organisasi. C. Kedudukan Internal Auditor Salah satu hal yang harus diperhatikan agar suatu perusahaan dapat memiliki departemen internal audit yang efektif adalah departemen internal audit tersebut harus mempunyai kedudukan yang independen dalam organisasi perusahaan. Sukrisno Agoes (2004:227), mengemukakan bahwa independensi Internal Auditor antara lain tergantung pada: 1. Kedudukan Internal Audit Department (IAD) tersebut dalam organisasi perusahaan, maksudnya kepada siapa IAD bertanggung jawab. 2. Apakah IAD dilibatkan dalam kegiatan operasional. Jika ingin independen, departemen internal audit tidak boleh terlibat dalam kegiatan operasional perusahaan. Misalnya tidak boleh ikut serta dalam kegiatan penjualan dan pemasaran, penyusunan sistem akuntansi, proses pencatatan transaksi, dan penyusunan laporan keuangan perusahaan. Kedudukan departemen internal audit di dalam perusahaan akan menentukan tingkat kebebasannya dalam menjalankan tugas sebagai Auditor. Kedudukan

ataupun status departemen internal audit dalam suatu organisasi perusahaan mempunyai pengaruh terhadap luasnya kegiatan serta tingkat independensinya di dalam menjalankan tugasnya sebagai pemeriksa. Jadi status organisasi dari departemen internal audit harus cukup untuk dapat menyelesaikan tanggung jawab audit. Departemen internal audit hanyalah akan seefektif seperti yang diinginkan manajemennya jika ia bebas dari aktivitas-aktivitas yang diauditnya. Hal ini hanya akan dapat tercapai bila departemen internal audit mempunyai kedudukan yang memungkinkan baginya untuk mengembangkan sikap independennya terhadap bagian-bagian lain yang harus diperiksanya. Untuk mencapai keadaan seperti ini, maka Internal Auditor harus memperoleh dukungan dari pihak manajemen dan Dewan Komisaris. Terdapat alternatif kedudukan Internal Auditor dalam perusahaan yaitu sebagai berikut: 1. Bagian internal audit berada di bawah Direktur Keuangan (sejajar dengan bagian akuntansi dan keuangan). 2. Bagian internal audit merupakan staf Direktur Utama. 3. Bagian internal audit merupakan staf Dewan Komisaris. 4. Bagian internal audit dipimpin oleh seorang Direktur Internal Audior. Kedudukan seorang Internal Auditor tidak memiliki wewenang langsung terhadap tingkatan manajemen di dalam organisasi perusahaan, kecuali pihak yang memang berada di bawahnya dalam satuan kerja internal audit itu sendiri.

Untuk dapat lebih menjelaskan tentang kedudukan bagian internal audit (internal audit department) di dalam organisasi perusahaan maupun struktur organisasi dalam satuan kerja internal audit sendiri, maka dapat diperlihatkan gambar berikut di bawah ini: RUPS Dewan Komisaris Direktur Utama Direktur Keuangan Bagian Akuntansi Bagian Keuangan Bagian Internal Audit Sumber: Agoes Sukrisno, 2004. Gambar 1. Bagian Internal Audit Berada di Bawah Direktur Keuangan (Sejajar Dengan Bagian Akuntansi dan Keuangan)

Keterangan: Pada gambar di atas menunjukkan bagian internal audit berkedudukan sejajar dengan bagian keuangan dan bagian akuntansi. Bagian internal audit sepenuhnya bertanggung jawab kepada Direktur Keuangan. Kelemahan dari kedudukan ini adalah bahwa ruang lingkup pemeriksaan Internal Auditor menjadi lebih sempit dimana hanya ditekankan pada pengendalian atas bagian keuangan saja. Jika dikaitkan dengan independensinya, maka tingkat kebebasan Internal Auditor kecil dan sempit. Keuntungan dari posisi ini adalah laporan Internal Auditor dapat segera dipelajari dan ditanggapi.

RUPS Dewan Komisaris Direktur Utama Bagian Internal Audit Direktur Keuangan Bagian Akuntansi Bagian Keuangan Bagian Anggaran Sumber: Agoes Sukrisno, 2004. Gambar 2. Bagian Internal Audit Merupakan Staf Direktur Utama Keterangan: Pada gambar di atas terlihat bahwa kedudukan Internal Auditor adalah merupakan Staf Direktur Utama. Dalam hal ini Internal Auditor memiliki tingkat

independensi yang tinggi, karena Internal Auditor dapat melakukan pemeriksaan ke seluruh bagian kecuali pimpinan perusahaan atau Direktur Utama. Kelemahan fungsi Internal Auditor pada struktur ini, bahwa Direktur Utama memiliki tugas begitu banyak sehingga tidak dapat mempelajari hasil internal audit secara mendalam yang mengakibatkan tindakan perbaikan tidak dapat segera dilakukan. RUPS Dewan Komisaris Direktur Utama Bagian Internal Audit Direktur Keuangan Bagian Akuntansi Bagian Keuangan Bagian Anggaran Sumber: Agoes Sukrisno, 2004. Gambar 3. Bagian Internal Audit Merupakan Staf Dewan Komisaris

Keterangan: Pada gambar di atas terlihat bahwa bagian Internal Auditor berfungsi sebagai Staf Dewan Komisaris dan posisinya berada di atas Direktur Utama. Kedudukan ini memberikan tingkat independensi yang tinggi sekali karena Internal Auditor dapat memeriksa seluruh aspek organisasi. Kelemahan dari struktur ini adalah bahwa anggota Dewan Komisaris tidak setiap saat dapat ditemui juga mungkin kurang menguasai masalah operasi sehari-hari sehingga tidak dengan cepat dapat mengambil tindakan atau menanggapi saran-saran yang diajukan oleh Internal Auditor untuk pencegahan dan perbaikan.

Direktur Internal Audit Sekretaris Supervisor Audit Komputer Supervisor Bagian Asuransi Supervisor Audit Sekretaris Auditor Senior EDP Auditor EDP Spesialis Audit komputer Auditor Senior Auditor Utama Auditor Staf Sumber: Agoes Sukrisno, 2004. Gambar 4. Bagian Internal Audit Dipimpin oleh Seorang Direktur Internal Audior Keterangan: Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa kedudukan bagian Internal Auditor dipimpin oleh seorang Direktur Internal Auditor. Direktur Internal Auditor mengarahkan personil dan aktivitas-aktivitas Departemen Internal Audit dan memiliki tanggung jawab terhadap program dan pelatihan Staf Audit. Direktur

Internal Audit memiliki akses yang bebas terhadap Dewan komisaris. Tanggung jawab Direktur Internal Audit adalah menyiapkan rencana tahunan untuk pemeriksaan semua unit perusahaan dan menyajikan program tersebut untuk pemeriksaan semua unit perusahaan dan menyajikan program tersebut untuk persetujuan. Supervisor Audit membantu Direktur Internal Audit dalam mengembangkan program audit tahunan dan membantu dalam mengkoordinasikan usaha audit dengan Akuntan Publik agar memberikan cakupan audit yang sesuai tanpa duplikasi usaha. Auditor Senior menerima program audit dan instruksi untuk area audit yang ditugaskan dari Supervisor Audit. Auditor Senior memiliki Staf Auditor dalam pekerjaan lapangan audit. Staf Auditor melaksanakan tugas audit pada suatu lokasi audit. Kedudukan ini memiliki kelemahan yaitu ketika Direktur Internal Audit tidak dapat mengelola departemen internal audit dengan baik sehingga pekerjaan audit tidak dapat memenuhi tujuan umum dan tanggung jawab yang telah disetujui manajemen, sumber daya departemen internal audit tidak digunakan secara efektif dan efisien. Dari keempat penempatan di atas, menunjukkan bahwa kebebasan yang dimiliki oleh Internal Auditor antara satu perusahaan dengan perusahaan lain tidak selalu sama. Semakin tinggi kedudukan internal auditor dalam organisasi, maka makin besar pula kebebasan (independensi) yang dimilikinya. Akan tetapi penempatan Internal Auditor yang paling efektif bergantung pada tujuan yang hendak dicapai. Jika dilihat dari segi independensi yang cukup luas maka yang paling efektif adalah dengan menempatkan Internal Auditor langsung di bawah Dewan

Komisaris dan menerima perintah dari padanya. Hal ini disebabkan Internal Auditor dapat melakukan audit ke seluruh bagian yang ada dalam perusahaan tanpa terlebih dahulu memperoleh izin dari pimpinan objek yang diaudit. Namun dalam menentukan kedudukan internal auditor ini tidak hanya mempertimbangkan independensinya saja, tetapi perlu juga diperhatikan efektivitas hasil laporan yang cepat untuk ditanggapi. Dalam hal ini penempatan internal auditor sebaiknya sejajar dengan bagian keuangan dan akuntansi. Dalam melaksanakan fungsi internal audit objektivitas mutlak diperlukan. Dalam hal ini, objektivitas internal auditor harus dipengaruhi oleh ketentuan dan rekomendasi auditor atas standar pengawasan yang akan ditetapkan dalam pengembangan sistem dan prosedur yang dipertimbangkan dan ditetapkan. Untuk menjaga objektivitas sebaiknya Internal Auditor tidak terlibat secara langsung dalam proses pencatatan dan penyajian data keuangan lainnya serta tidak terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam suatu aktivitas operasional. Internal Auditor juga terlepas dari tekanantekanan dari pihak objek pemeriksaan oleh karenanya independensinya yang tinggi sangat diperlukan untuk mendukung objektivitas dalam pemeriksaan. Berdasarkan penjelasan di atas penempatan internal auditor yang paling ideal langsung menerima perintah penugasan dari pimpinan tertinggi yaitu direktur utama namun hasil laporan pemeriksaan terlebih dahulu diserahkan kepada direktur keuangan untuk dianalisa dan hasil pengamatannya diserahkan kepada Direktur Utama untuk diambil langkah-langkah selanjutnya. Sebagai penilai independen tentang kecukupan pemeriksaan internal perusahaan, Internal Auditor hanya menempatkan diri sebagai narasumber dalam

pembuatan konsep pengendalian perusahaan. Pihak yang bertanggung jawab penuh dalam perancangan dan implementasi pemeriksaan internal adalah manajemen dan direksi. Dengan demikian penilaian internal audit terhadap pemeriksaan internal tetap independen dan objektif, tanpa terlibat langsung dalam perencanaannya. Independensi merupakan dasar dari profesi Auditor yang berarti bahwa Auditor akan bersikap netral terhadap entitas, dan oleh karena itu akan besifat objektif. Publik dapat mempercayai fungsi audit karena Auditor bersikap tidak memihak serta mengakui adanya kewajiban untuk bersikap adil. Meskipun entitas adalah klien Auditor, namun mereka tetap memiliki tanggung jawab yang lebih besar kepada pengguna laporan auditor yang jelas lebih diketahui. Auditor tidak boleh mempromosikan diri atau pertimbangannya di bawah kelompok apapun dan siapa pun. Menurut Mulyadi (2002:26) Independensi berarti: Sikap mental yang bebas dari pengaruh tidak dikendalikan oleh pihak lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri Auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak memihak dalam diri Auditor untuk merumuskan dan menyatakan pendapatnya. Auditor harus independen dari setiap kewajiban atau independen dari pemilikan kepentingan dalam perusahaan yang diauditnya. Disamping itu, Auditor tidak hanya berkewajiban mempertahankan sikap mental independen akan tetapi ia harus pula menghindari keadaan-keadaan yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan independensinya. Dalam banyak hal

auditor sering kali menemui kesulitan atau dilema dalam mempertahankan sikap mental independennya dikarenakan klien mereka adalah Manajemen Senior, Dewan Komisaris, atau badan-badan sejenis. Jika Internal Auditor diminta untuk melanggar kode etik mereka atau standar praktek profesional, maka pilihan yang tersedia bisa tidak menyenangkan dimana menolak permintaan klien bisa menyebabkan Internal Auditor kehilangan pekerjaan mereka. Auditor Internal yang profesional harus memiliki independensi untuk memenuhi kewajiban profesionalnya, memberikan opini objektif, tidak bias, tidak dibatasi, melaporkan masalah apa adanya dan bukan sesuai keinginan eksekutif atau lembaga. Dalam masalah profesional Internal Auditor juga harus mendapat dukungan dari pimpinan tingkat atas, dan bagian internal auditor bertanggung jawab pada pimpinan yang memiliki wewenang yang cukup sehingga dapat diberikan independensi yang memadai untuk mencapai objektivitas. D. Internal Auditor sebagai Sarana Manajemen Mencapai Pengendalian Internal Setiap kegiatan dalam perusahaan memiliki dua tingkatan, yang berada dalam dua sistem. Pertama adalah sistem operasi yaitu dirancang untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan, seperti memproduksi barang yang memenuhi standar (biaya, kualitas, dan jadwal). Yang lainnya adalah sistem kontrol atau sistem pengendalian, yang terdapat dalam sistem operasi. Sistem kontrol tersebut terdiri atas prosedur, aturan, dan instruksi yang dirancang untuk memastikan bahwa

tujuan sistem operasi akan tercapai. Kontrol meningkatkan kemungkinan tercapainya tujuan manajemen. Internal Auditor mungkin tidak bisa sepenuhnya memahami sistem operasi dan jika pun mereka memahami, mereka mungkin tidak bisa menilai secara objektif. Tetapi Internal Auditor dididik untuk bisa mengevaluasi sistem kontrol secara objektif. Internal audit yang merupakan alat bantu pengendalian manajemen (managerial control) melakukan kegiatan penilaian bebas terhadap semua kegiatan perusahaan harus selalu dalam keadaan dinamis dan aktif. Dalam rangka itu Internal Auditor dapat menyusun pengendalian internal yang baik dan tepat, mengadakan kontrol pelaksanaannya, mengukur dan menilai serta memberi saransaran perbaikan dan komentar-komentar yang sangat diperlukan oleh manajemen. Manajemen yang berkepentingan langsung terhadap pengendalian internal dan Internal Auditor, harus sadar dan terbuka atas temuan (hasil) audit dan saransaran perbaikan yang diberikan dan melakukan tindakan segera apa yang harus diperbaiki. Dengan demikian adanya sistem pengendalian internal yang selalu dinilai, dievaluasi akan menghasilkan suatu keluaran atau output seperti yang diharapkan atau direncanakan manajemen. Dalam hubungannya dengan peranan internal auditor berikut ini diuraikan secara singkat pemahaman tentang pengendalian internal yaitu pengertian, tujuan, dan komponen dari pengendalian internal. Romney (2006:229) mendefinisikan Pengendalian internal (internal control) adalah: rencana organisasi dan metode bisnis yang dipergunakan untuk menjaga

aset, memberikan informasi yang akurat dan andal, mendorong dan memperbaiki efisiensi jalannya organisasi, serta mendorong kesesuaian dengan kebijakan yang telah ditetapkan. Pengendalian internal yang dilakukan membantu manajemen dalam mengkoordinasikan dan mengawasi semua sumber daya perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Merupakan tanggung jawab direksi dan manajemen untuk membuat dan memelihara sistem pengendalian internal di dalam perusahaan. Namun pihak lain yang terkait seperti Internal Auditor dapat memberikan pertimbangan bagi manajemen dan direksi dalam merumuskan model pengendalian internal yang sesuai untuk dijalankan perusahaan. Ikatan Internal Auditor (Institue of Internal Auditors IIA), yang dikutip oleh Sawyer (2003:59), mendefinisikan pengendalian internal sebagai berikut:..setiap tindakan yang diambil manajemen untuk meningkatkan kemungkinan tercapainya tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Kontrol bisa bersifat preventif (untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan), detektif (untuk mendeteksi dan memperbaiki hal-hal yang tidak diinginkan yang telah terjadi), atau direktif (untuk menyebabkan atau mengarahkan terjadinya hal yang diinginkan). Konsep sistem kontrol merupakan gabungan komponen kontrol yang terintegrasi dan aktivitas-aktivitas yang digunakan organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasarannya. Definisi di atas tentang pengendalian internal ataupun istilah sekarang yang sering disebut dengan kontrol, menggambarkan bahwa pengendalian internal dalam perusahaan mutlak dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengendalian internal yang baik akan meningkatkan kemungkinan dapat dicegah, diketahui, diungkapkan, dan diselesaikannya kesalahan yang terjadi dalam perusahaan.

Bambang Hartadi (1999:3) mendefinisikan sistem pengendalian internal sebagai berikut: Sistem Pengendalian Internal meliputi struktur organisasi, semua metode dan ketentuan-ketentuan yang terkoordinasi yang dianut dalam perusahaan untuk melindungi harta kekayaan, memeriksa ketelitian, dan seberapa jauh data akuntansi dapat dipercaya, meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong ditaatinya kebijakan perusahaan yang telah ditetapkan. Menurut James A. Hall (2001:150), sistem pengendalian internal merangkum kebijakan, praktik, dan prosedur yang digunakan oleh organisasi untuk mencapai empat tujuan utama, yaitu: 1. Untuk menjaga aktiva perusahaan. 2. Untuk memastikan akurasi dan dapat diandalkannya catatan dan informasi akuntansi. 3. Untuk mempromosikan efisiensi perusahaan. 4. Untuk mengukur kesesuaian dengan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen. Pengendalian internal yang baik dapat dilihat dari komponen yang dimilikinya. Adapun lima komponen pengendalian internal adalah sebagai berikut: 1. Lingkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian mempengaruhi kesadaran akan pentingnya pengendalian dari orang-orang sekitarnya dan merupakan pondasi bagi keempat elemen lainnya, yang menyediakan kedisiplinan dan struktur. Lingkungan pengendalian ini merupakan komponen yang amat penting karena menjadi dasar keefektifan unsur-unsur pengendalian internal yang lain. Faktor yang berpengaruh dalam lingkungan pengendalian yaitu:

a. Nilai integritas dan etika. Manajemen dapat memiliki pegangan dalam melaksanaan tugasnya melalui integritas dan etika yang membentuk suatu standar moral dan prilaku. b. Komitmen kepada kompetensi. Manajemen harus mempertimbangkan kemampuan, pengetahuan, dan keahlian yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam menugaskan karyawannya. c. Filosofi manajemen dan gaya operasional. Dalam setiap menjalankan tugas dan fungsinya, manajemen percaya akan pentingnya pengendalian internal dan berusaha mengaplikasikannya dengan efektif. Kepercayaan akan pentingnya pengendalian akan membentuk gaya operasional yang akan mengkomunikasikan kesadaran akan pengendalian tersebut. d. Partisipasi Dewan Direksi dan Komite Audit. Pemegang saham melakukan kontrol atas manajemen melalui fungsi dewan direksi dan komitenya. Dewan Direksi dan komitenya ikut memberikan saran kepada manajemen, serta mengawasi pengendalian internal. e. Pemberian otoritas dan tanggung jawab. Pemberian otoritas dan tanggung jawab dipengaruhi oleh struktur organisasi. Setiap bagian perusahaan harus memahami bagaimana mereka dapat memberi kontribusi untuk mencapai tujuan perusahaan melalui otoritas dan tanggung jawab yang diberikan. Dengan demikian tujuan perusahaan harus dapat dipahami dengan jelas pula oleh setiap personel. f. Kebijakan dan prosedur sumber daya manusia. Pada dasarnya sumber daya manusia merupakan unsur kunci dalam pelaksanaan pengendalian.

Sumber daya manusia yang digunakan haruslah memiliki kemampuan yang sesuai dengan tugas yang diberikan. 2. Penilaian Resiko Penilaian resiko merupakan proses identifikasi dan analisis resiko yang berkaitan dengan usaha pencapaian tujuan entitas, sebagai dasar dalam manajemen resiko yang dilakukan. Proses penilaian risiko yang dapat dilakukan adalah dengan mengidentifikasi perubahan internal dan eksternal dan tindakan yang terkait yang mungkin diperlukan. Dengan demikian dapat dievaluasi kemungkinan adanya pelaksanaan operasional yang tidak sesuai. 3. Aktivitas Pengendalian Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dapat membantu manajemen untuk menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Aktivitas pengendalian memiliki berbagai tujuan dan diaplikasikan sesuai fungsi dari masing-masing tingkatan organisasi. Aktivitas pengendalian yang dapat dilakukan antara lain: pemisahan tugas, pengendalian pemrosesan informasi, pengendalian fisik, dan review kerja. 4. Informasi dan Komunikasi Komponen ini terdiri dari proses identifikasi dan penangkapan yang menghasilkan informasi, pertukaran dan komunikasi informasi sehingga orang dapat melaksanakan tanggung jawabnya. Informasi dan komunikasi penting dalam proses pemahaman individu tentang peran dan tanggung jawabnya dalam pengendalian. 5. Pemantauan

Pemantauan adalah proses penentuan kualitas kinerja pengendalian internal sepanjang waktu. Tindakan perbaikan yang mungkin diperlukan juga dapat dilakukan. Meskipun keseluruhan komponen pengandalian internal tersebut telah berjalan dengan efektif, namun tidak menjamin bahwa penyimpangan dan kecurangan tidak terjadi sama sekali. Pengendalian yang dirancang dan diaplikasikan sedemikian rupa pun tetap saja terdapat kemungkinan kelemahan yang bisa dimanfaatkan oleh pihak yang berkesempatan melakukan penyelewengan. Pengendalian yang sudah efektif dapat dirusak, baik karena kolusi pegawai atau penolakan manajemen. Di sisi lain, pengendalian yang bagus bisa jadi terlalu bagus, dimana lebih banyak biaya yang dikeluarkan dibandingkan kerugian yang ingin dikendalikan. Pengendalian bisa jadi berlebihan, atau bisa terlalu kaku sehingga membatasi imajinasi, inisiatif, dan inovasi karyawan. Oleh sebab itu, Internal Auditor harus menelaah pengendalian internal menggunakan cara pandang manajemen serta tetap mempertimbangkan orang, waktu, lingkungan, risiko, dan kondisi. Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas mengenai pengendalian internal perusahaan, maka jelaslah bahwa pengendalian tersebut harus berjalan sebaik-baiknya demi tercapai tujuan perusahaan. Untuk menentukan sampai dimana pengendalian internal perusahaan dapat dipercaya telah memadai, maka manajemen memerlukan peran Internal Auditor untuk menilainya. Agar dapat berjalan dengan baik maka pelaksanaan pengendalian internal dalam perusahaan memerlukan komitmen dari semua pihak. Ch Narotama dan

Wirawan (2004:30) menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki pengendalian cukup efektif ditandai dengan beberapa ukuran sebagai berikut: 1. Semakin berkurangnya temuan-temuan yang tidak sesuai dengan standar akuntansi dan kebijakan-kebijakan manajemen perusahaan. 2. Semakin berkurangnya peran direksi dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh satuan pengawas internal. 3. Laporan satuan pengawas internal yang tepat waktu. 4. Meningkatnya efisiensi dan efektivitas perusahaan. E. Laporan Internal Auditor Hasil akhir dari pelaksanaan internal audit dituangkan dalam suatu bentuk laporan tertulis melalui proses penyusunan yang baik. Laporan hasil internal audit merupakan suatu alat penting untuk menyampaikan pertanggungjawaban hasil kerja kepada manajemen yaitu sebagai media informasi untuk menilai sejauh mana tugas-tugas yang dibebankan dapat dilaksanakan. Adapun isi atau materi laporan internal audit menurut Boynton dkk (2003:494) yaitu: a. Suatu laporan tertulis yang ditandatangani harus dikeluarkan setelah pemeriksaan audit selesai. Laporan intern itu bisa dalam bentuk tertulis atau lisan dan dapat disampaikan secara formal ataupun informal. b. Internal Auditor harus membahas kesimpulan dan rekomendasi pada tingkatan manajemen yang tepat sebelum mengeluarkan laporan tertulis yang final. c. Laporan haruslah objektif, jelas, ringkas, konstruktif dan tepat waktu. d. Laporan harus menyatakan tujuan, ruang lingkup, dan hasil audit, dan bila tepat, laporan itu juga harus berisi suatu pernyataan pendapat auditor. e. Laporan dapat mencakup rekomendasi untuk perbaikan yang potensial dan mengakui kinerja serta tindakan korektif yang memuaskan. f. Pandangan auditee tentang kesimpulan dan rekomendasi audit dapat disertakan dalam laporan audit. g. Direktur auditing internal atau designee harus mereview dan menyetujui laporan audit final sebelum diterbitkan serta harus memutuskan kepada siapa laporan itu akan dibagikan.

Laporan dari bagian internal audit merupakan suatu alat komunikasi yang di dalamnya terdapat tujuan yang dimulai dari penugasan, luas pemeriksaan, batasan yang dibuat dan juga saran atau rekomendasi kepada pimpinan perusahaan. Tujuan dari laporan audit adalah: 1. Laporan auditor adalah merupakan kesimpulan dari hasil pemeriksaan. 2. Menyajikan temuan-temuan dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan 3. Sebagai dasar untuk kemudian diambil tindakan oleh manajemen terhadap penyimpangan yang terjadi. Untuk mencapai tujuan tersebut maka laporan yang disampaikan haruslah memiliki unsur-unsur berikut ini: a. Objektif Laporan yang disusun harus mengungkapkan fakta dengan teliti berdasarkan data yang dapat diuji kebenarannya. Menyampaikan dengan jelas tentang pokok pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat diyakini kebenarannya. b. Jelas Laporan disusun dengan menggunakan bahasa yang jelas, tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi penggunanya. Menerangkan dengan jelas dan lengkap agar dapat dimengerti oleh pihak-pihak yang menggunakannya. c. Ringkas Struktur laporan yang baik melaporkan dengan ringkas pelaksanaan operasional, pengendalian, dan hasil kerja. Laporan itu harus terhindar

dari hal-hal yang tidak relevan, tidak material seperti gagasan, temuan, kalimat dan sebagainya yang tidak menunjang tema pokok laporan, namun tetap menjaga kualitas informasi yang disampaikan melalui laporan tersebut sehingga dapat memenuhi kebutuhan pemakainya. d. Membangun (Konstruktif) Laporan yang bersifat membangun adalah laporan yang sedapat mungkin memaparkan rekomendasi tindakan perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengupayakan peningkatan operasi. e. Tepat waktu Laporan audit hanya dapat bermanfaat dengan maksimal bila laporan tersebut disajikan pada saat dibutuhkan. Sehingga Auditor harus mampu menyajikan laporan yang tepat waktu. Sebelum disampaikan pada pengguna laporan, peninjauan kembali atas laporan (review) adalah tindakan bijak yang dapat dilakukan audit internal. Hal tersebut bertujuan untuk lebih memastikan kebenaran dan kelengkapannya. Laporan audit akan efektif bila terdapat pelaksanaan tindak lanjut agar proses audit yang berjalan benar-benar memberikan manfaat bagi perusahaan. Untuk itu departemen internal audit bertugas untuk memantau pelaksanaan tindak lanjut, menganalisis kecukupan tindak lanjut disertai identifikasi hambatan pelaksanaanya, dan memberikan laporan atas tindak lanjut tersebut.

F. Standar Audit Internal Dalam buku Sawyer Internal Auditing (2005:23) terdapat Statement on Internal Auditing Standard (SIAS) atau Pernyataan atas Standar Audit Internal. Standar tersebut berisi: 1. Kontrol: konsep dan tanggung jawab 2. Mengkomunikasikan hasil 3. Pencegahan, pendeteksian, investigasi, dan pelaporan kecurangan 4. Keyakinan kualitas 5. Hubungan auditor internal dengan auditor luar yang independen 6. Kertas kerja audit 7. Komunikasi dengan dewan direksi 8. Prosedur audit analitis 9. Penentuan resiko 10. Evaluasi pencapaian tujuan dan sasaran operasi atau program 11. Pernyataan Omnibus 1992 12. Perencanaan penugasan audit 13. Menindaklanjuti laporan-laporan audit yang dilaporkan 14. Daftar kata 15. Pengawasan 16. Ketaatan audit terhadap kebijakan, rencana, prosedur, hukum, regulasi dan kontrak 17. Penilaian kinerja auditor eksternal 18. Penggunaan penyedia jasa dari luar negeri

G. Kerangka Konseptual PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) Pihak Manajemen Internal Auditor (SPI) Pengendalian Internal PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) menerapkan fungsi internal audit dengan membentuk Internal Auditor dalam Satuan Pengawasan Internal. Sesuai fungsinya secara berkesinambungan Internal Auditor melakukan aktivitas pemeriksaan, penilaian serta memberikan rekomendasi atas kelemahan yang ditemukan untuk membentuk pengendalian internal dalam perusahaan. Berdasarkan kedudukan internal auditor, tanggung jawabnya adalah memberikan laporan dan rekomendasi kepada pihak manajemen agar dapat menjadi masukan dalam meningkatkan sistem pengendalian internal sehingga sistem pengendalian internal yang diterapkan perusahaan menjadi semakin baik di masa-masa yang akan datang.