Gambar 3 Lokasi penelitian.

dokumen-dokumen yang mirip
3. METODOLOGI PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

3 METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2. Alat dan Bahan

3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan waktu penelitian 3.2 Metode Pengumpulan Data

III. METODE PENELITIAN

Jenis data Indikator Pengamatan Unit Sumber Kegunaan

3. METODOLOGI PENELITAN

ANALISIS DAYA DUKUNG MINAWISATA DI KELURAHAN PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di sepanjang jalur ekowisata hutan mangrove di Pantai

PENDAHULUAN Latar Belakang

3. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

3. METODOLOGI 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2. Jenis dan Sumber Data

3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Tahapan Penelitian 3.3 Pengumpulan Data

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang di dukung dengan

KESESUAIAN PERAIRAN UNTUK WISATA SELAM DAN SNORKELING DI PULAU BIAWAK, KABUPATEN INDRAMAYU

KESESUAIAN EKOWISATA SNORKLING DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA JAWA TENGAH. Agus Indarjo

ANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA BAHARI PULAU HARI KECAMATAN LAONTI KABUPATEN KONAWE SELATAN PROVINSI SULAWESI TENGGARA ROMY KETJULAN

BAB III METODE PENELITIAN

Gambar 12. Lokasi Penelitian

STUDI KESESUAIAN PANTAI LAGUNA DESA MERPAS KECAMATAN NASAL KABUPATEN KAUR SEBAGAI DAERAH PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KONSERVASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Indonesia berada tepat di pusat segi tiga karang (Coral Triangle) suatu

METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai,

BAB VI VALUASI EKONOMI SUMBER DAYA CIKOROMOY DENGAN TRAVEL COST METHOD

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran Penelitian

IV. METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu. dan juga berlokasi tidak jauh dari pusat kota sehingga prospek pengelolaan dan

METODE VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA ALAM

IV. TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu Dan Tempat

BAB I PENDAHULUAN. sebagai peringkat kedua Best of Travel 2010 (

Ahmad Bahar *1, Fredinan Yulianda 2, Achmad Fahrudin 3

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Waktu pelaksanaan penelitian ini dilakukan selama 3 bulan terhitung sejak

BAB III METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif. Menurut Tika (2005:4) metode deskriptif adalah metode yang

No : Hari/tanggal /jam : Nama instansi : Alamat Instansi : Nama responden yang diwawancarai Jabatan

BAB III METODA PENELITIAN

3 METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu 3.2 Teknik Pengambilan Data Pengumpulan Data Vegetasi Mangrove Kepiting Bakau

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. hutan mangrove non-kawasan hutan. Selain itu, adanya rehabilitasi hutan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara dengan lautan dan pesisir yang luas. memiliki potensi untuk pengembangan dan pemanfaatannya.

JADWAL KEGIATAN PENELITIAN DAN RENCANA PENYELESAIAN STUDI

III. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. udara bersih dan pemandangan alam yang indah. Memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan seperti hutan lindung sebagai

METODE PENELITIAN. Cipondoh dan Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Penentuan lokasi sebagai

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara

KAJIAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI PULAU TIKUS BENGKULU

3 BAHAN DAN METODE. KAWASAN TITIK STASIUN SPOT PENYELAMAN 1 Deudap * 2 Lamteng * 3 Lapeng 4 Leun Balee 1* PULAU ACEH

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis deskriptif kuantitatif dengan pengambilan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

EVALUASI POTENSI KAWASAN WISATA DANAU LIMBOTO PROVINSI GORONTALO

PEMETAAN KAWASAN EKOWISATA SELAM DI PERAIRAN PULAU PANJANG, JEPARA, JAWA TENGAH. Agus Indarjo

Penentuan Nilai Ekonomi Wisata

BAB I PENDAHULUAN. sektor lain untuk berkembang karena kegiatan pada sektor-sektor lain

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan November di perairan Pulau Kelagian, Provinsi Lampung.

ANALISI DAYA DUKUNG PEMANFAATAN PULAU GILI LABAK DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

BAB III METODE PENELITIAN. Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.

KESESUAIAN EKOWISATA SELAM DI PULAU MANDANGIN KABUPATEN SAMPANG

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Terumbu Karang

Oleh : ASEP SOFIAN COG SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Geiar Sarjana pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

BAB III METODE PENELITIAN. Muarareja yang terletak di Kel. Muarareja, Kota Tegal, Jawa Tengah. Sedangkan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2013.

METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan adalah dengan menggunakan 5 (lima) kawasan obyek

BAB I PENDAHULUAN. II/1999 seluas ha yang meliputi ,30 ha kawasan perairan dan

Valuasi Ekonomi Dalam Pengembangan Ekowisata Berbasis Sumberdaya Penyu di Kampung Baru Desa Sebong Lagoi Kabupaten Bintan

Kecamatan Beji. PDF created with pdffactory Pro trial version METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan adalah data primer. Data primer yaitu data yang

IV. METODELOGI PENELITIAN

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

METODE PENILAIAN EKONOMI SUMBERDAYA KAWASAN

Gambar 3. Peta lokasi penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Mei - Juli Lokasi penelitian adalah di kawasan

Gambar 2. Peta Kabupaten Kuningan, Jawa Barat

III. METODE KERJA. A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan bulan

I. PENDAHULUAN. Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan subtropis yang

BAB III METODE PENELITIAN

Lampiran 1. Kuisioner Pengunjung Kuisioner penelitian untuk pengunjung Pantai Putra Deli

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian untuk pengunjung wisata Pantai Sri

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

BAB III METODE PENELITIAN

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

. METODOLOGI PENELITIAN.. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Desember 8 yang berlokasi di Pulau Menjangan dan Teluk Terima dalam area Taman Nasional Bali Barat, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Secara geografis terletak pada posisi antara 4º''' - 4º4''' Bujur Timur dan 8º5''' - 8º7''' Lintang Selatan. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar. L A U T B A L I Gambar Lokasi penelitian... Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan berdasarkan studi kasus pada kawasan Pulau Menjangan. Kasus digambarkan dan diuraikan tentang fenomena kawasan dan mengkaji penyebab dari gejala-gejala yang ditemukan. Penelitian ini diarahkan

5 untuk mendapatkan data kondisi saat ini yang digunakan untuk optimasi pengelolaan ekowisata bahari... Pengumpulan Data dan Informasi Informasi yang dikumpulkan dalam penelitian ini terbagi dalam data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan lapangan dan wawancara langsung. Data yang dicatat adalah lokasi, kondisi sumber daya wisata, keadaan lingkungan, dan kegiatan pemanfaatan di kawasan Pulau Menjangan. Wawancara untuk mendapatkan keterangan dari responden yang terlibat dalam aktivitas ekowisata dengan berpedoman pada suatu daftar pertanyaan yang telah disusun. Data sekunder diperoleh melalui kajian terhadap laporan-laporan hasil penelitian, publikasi ilmiah, dan instansi terkait, seperti: Balai Taman Nasional Bali Barat, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kehutanan, Dinas Pariwisata, Bappeda Buleleng, LSM, Kantor Desa dan Kantor Kecamatan Gerokgak. Tabel Jenis dan sumber data yang dibutuhkan No Parameter Jenis Data Sumber Data A Ekologi Terumbu karang tutupan karang, jenis life form, lebar hamparan datar karang, dan kedalaman terumbu karang Mangrove ketebalan mangrove, kerapatan mangrove, jenis mangrove, dan biota lainnya Primer dan Sekunder Primer dan Sekunder Metode Pengumpulan sampling dengan manta tow, line intercept transect (English et al. 994) dan kajian laporan TNBB sampling dengan garis berpetak berukuran x m (Bengen, ) dan kajian laporan TNBB Keterangan - - Lanjutan. Tabel Jenis dan sumber data yang dibutuhkan

5 No Parameter Jenis Data Sumber Data A Ekologi Ikan hias jenis ikan Primer dan Sekunder 4 Makroalga jenis, densitas dan frekuensi relatif 5 Kualitas perairan B Ekonomi Nilai ekonomi wisata (supply) Nilai ekonomi wisata (demand) C Sosial Karakteristik wisatawan Sosial kemasyarakat an kecepatan arus, kedalaman, suhu, salinitas, DO, BOD, turbiditas, NH, dan ph biaya operasional dan biaya investasi, pendapatan wisatawan, biaya perjalanan wisatawan, jarak tinggal, kondisi potensi SDA, dan harga wisata Jumlah dan profil wisatawan kependudukan, keadaan ekonomi masyarakat, dan kelembagaan Primer Primer dan Sekunder Metode Pengumpulan underwater fish visual census (English et al. 994) dan foto bawah laut serta kajian laporan TNBB sampling dengan metode plot ganda ukuran x m (Soegianto, 994) sampling dengan bantuan alat water quality checker, floater current meter, tide gaugh, dan kajian laporan TNBB Keterangan - Dilakukan pada stasiun, Pos I, Pos II, Dermaga Pura Primer wawancara purposive sampling untuk pihak pengelola Primer wawancara accidental sampling untuk setiap wisatawan Primer dan Sekunder wawancara dan kajian laporan TNBB - accidental sampling untuk setiap wisatawan Sekunder kajian laporan pemerintah dan literatur Lanjutan. Tabel Jenis dan sumber data yang dibutuhkan

5 No Parameter Jenis Data Sumber Data C Sosial Keterlibatan partisipasi masyarakat masyarakat 4 Preferensi visual foto obyek wisata Metode Pengumpulan Keterangan Primer wawancara purposive sampling untuk masyarakat Primer kuesioner bergambar purposive sampling.4. Analisis Data.4.. Kondisi Sumber daya Alam Analisis ini dilakukan untuk menggambarkan potensi dan kondisi sumber daya alam di lokasi penelitian, sehingga data yang dianalisis adalah data primer, meliputi: ) Penutupan karang, dihitung dengan rumus tutupan karang hidup menurut English et al. (994), yaitu : Panjang kategori life form ke-i Penutupan Karang = Total panjang transek x %... () Bachtiar () menyatakan bahwa persentase penutupan terumbu karang dapat dibagi menjadi lima kategori, yaitu : () Sangat Jelek : - % () Jelek : - % () Sedang : - 5 % (4) Baik : 5-75 % (5) Sangat Baik : 76 - % Persentase tutupan adalah persentase luas area yang ditutupi oleh pertumbuhan karang. Persentase karang hidup yang tinggi menandakan bahwa terumbu karang di suatu perairan berada dalam keadaan sehat. ) Kerapatan vegetasi mangrove, yang dihitung dengan rumus Bengen (): D i = n i / A... () dimana : D i = kerapatan spesies i (individu/m ), n = jumlah total individu dari spesies i (individu), i

5 A = luas area total pengambilan contoh (m ). ) Analisis komposisi, dan distribusi makroalga di Pulau Menjangan, dihitung berdasarkan besaran dari kepadatan, kepadatan relatif, frekuensi, dan frekuensi relatif dengan rumus menurut Soegianto (994), yaitu: Kepadatan (D) : Di = ni/a... (4) Kepadatan Relatif (RD) : RDi = ni/σn... (5) Frekuensi (F) : F = Ji/K... (6) Frekuensi Relatif (RF) : RFi = Fi/ΣF... (7) dimana : ni : jumlah total individu untuk spesies i (individu), A : luas total habitat yang disampling (m ), Σn : jumlah total individu dari semua spesies (individu), Ji : jumlah kuadran dimana spesies i terdapat, K : jumlah total kuadran yang didapat, ΣF : jumlah frekuensi semua spesies..4.. Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Ekologis Ekowisata Bahari.4... Kesesuaian Pemanfaatan Pada dasarnya suatu kegiatan pemanfaatan yang akan dikembangkan hendaknya disesuaikan dengan potensi sumber daya dan peruntukkannya. Oleh karena itu, analisis kesesuaian yang dimaksud disini adalah analisis kesesuaian dari potensi sumber daya dan lingkungannya untuk dikembangkan sebagai obyek ekowisata bahari. Untuk itu, rumus yang digunakan untuk menganalisis kesesuaian ekowisata bahari ini mengacu pada Hutabarat et al. (9), adalah sebagai berikut: dimana : IKW Ni Nmaks IK W = [ Ni/Nmaks] x... (8) = indeks kesesuaian wisata = nilai parameter ke-i (bobot x skor) = nilai maksimum dari suatu kategori wisata

54 Penentuan kesesuaian, diperoleh melalui bantuan matriks kesesuaian yang disusun berdasarkan acuan kriteria kesesuaian setiap peruntukkan. Kesesuaian kawasan dilihat dari tingkat persentase kesesuaian yang diperoleh melalui penjumlahan nilai dari seluruh parameter. Matriks kesesuaian wisata tersebut secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4, Tabel 5, dan Tabel 6. Tabel 4 Matriks kesesuaian untuk ekowisata selam No Parameter Bobot Standar Parameter Skor Tutupan karang hidup (%) > 75 > 5-75 5-5 < 5 Kecerahan perairan (%) 8 - < - < 5 < Jumlah jenis life form > < 7-4 - 7 < 4 4 Jumlah jenis ikan karang > 5 - - < 5 < 5 Kedalaman terumbu karang (m) 6-5 > 5 atau - 5 > - > atau < 6 Kecepatan arus (cm/det) - 5 > 5 - > - 5 > 5 Sumber: Davis dan Tisdell (995); Davis dan Tisdell (996); devantier dan Turak (4); DKP (); Hutabarat et al. (9) Keterangan: Nilai maksimum = 9 S = Sangat sesuai, dengan nilai IKW 8 - S = Cukup sesuai, dengan nilai IKW 6 - < 8 S = Sesuai bersyarat, dengan nilai IKW 45 - < 6 S4 = Tidak sesuai, dengan nilai IKW < 45

55 Tabel 5 Matriks kesesuaian untuk ekowisata snorkeling No Parameter Bobot Standar Parameter Skor Tutupan karang hidup (%) > 75 > 5-75 5-5 < 5 Kecerahan perairan (%) 8 - < - < 5 < Jumlah jenis life form > < 7-4 - 7 < 4 4 Jumlah jenis ikan karang > 5-5 - < < 5 Kedalaman terumbu karang (m) - > 6 > 6 - > atau < 6 Lebar hamparan datar karang (m) > 5 > - 5 - < 7 Kecepatan arus (cm/det) - 5 > 5 - > - 5 > 5 Sumber: Davis dan Tisdell (995); Davis dan Tisdell (996); devantier dan Turak (4); DKP (); Hutabarat et al. (9) Keterangan: Nilai maksimum = 45 S = Sangat sesuai, dengan nilai IKW 8 - S = Cukup sesuai, dengan nilai IKW 6 - < 8 S = Sesuai bersyarat, dengan nilai IKW 45 - < 6 S4 = Tidak sesuai, dengan nilai IKW < 45

56 Tabel 6 Matriks kesesuaian untuk ekowisata mangrove No Parameter Bobot Standar Parameter Skor Ketebalan mangrove (m) > 5 > - 5 5 - < 5 Kerapatan mangrove ( m ) > 5-5 > - 5 5 - < 5 Jenis mangrove > 5-5 - 4 Obyek biota > 5 biota 5 biota < biota Salah satu biota 5 Pasang surut (m) - > - > - 5 > 5 Sumber: Davis dan Tisdell (995); Davis dan Tisdell (996); devantier dan Turak (4); DKP (); Hutabarat et al. (9) Keterangan: Nilai maksimum = S = Sangat sesuai, dengan nilai IKW 8 - S = Cukup sesuai, dengan nilai IKW 5 - < 8 S = Sesuai bersyarat, dengan nilai IKW 5 - < 5 S4 = Tidak sesuai, dengan nilai IKW < 5.4... Daya Dukung Ekologi Ekowisata Bahari Analisis daya dukung ekologi dimaksudkan untuk menganalisis tingkat maksimum penggunaan suatu ekosistem, berupa jumlah atau kegiatan yang diakomodasikan di dalamnya, sebelum terjadi suatu penurunan kualitas ekologis. Daya dukung ekologi yang digunakan dengan pendekatan daya dukung kawasan (DDK), yaitu: jumlah maksimum pengunjung secara fisik dapat ditampung di

57 kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Perhitungan untuk analisis daya dukung kawasan ini, mengacu rumus Hutabarat et al. (9) sebagai berikut: DDK = K x Lp/Lt x Wt/Wp... (9) dimana : DDK = daya dukung kawasan (orang), K = kapasitas pengunjung per satuan unit area (orang), Lp = luas area yang dapat dimanfaatkan (m ), Lt = unit area untuk kategori tertentu (m dan m ), Wt = waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam hari (jam), Wp = waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan (jam). Kapasitas pengunjung ditentukan oleh kondisi sumber daya dan jenis kegiatan yang akan dikembangkan. Luas suatu area yang dapat digunakan oleh pengunjung mempertimbangkan kemampuan alam mentolerir pengunjung sehingga keasliannya terjaga. Setiap melakukan kegiatan ekowisata, setiap pengunjung akan memerlukan ruang gerak yang cukup luas untuk melakukan aktivitas wisata, sehingga perlu adanya prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata. Nilai maksimum (K) per satuan unit area dan (Lt) untuk setiap kategori wisata bahari serta waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata Tabel 7 dan Tabel 8. Jenis Kegiatan Selam Snorkeling Mangrove Tabel 7 Kapasitas pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt) K (Σ pengunjung) Sumber: Hutabarat et al. (9) Unit Area (Lt) m 5 m 5 m Keterangan Setiap orang dalam x m Setiap orang dalam 5 x 5 m Dihitung panjang track, setiap orang sepanjang 5 m

58 Tabel 8 Waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata Kegiatan Selam Snorkeling Wisata mangrove Sumber: Hutabarat et al. (9) Waktu yang dibutuhkan Wp-(jam) Total waktu hari Wt-(jam) 8 6 8 Karena adanya ketentuan PP No. 8 tahun 994 tentang pengusahaan pariwisata alam di zona pemanfaatan taman nasional dan taman wisata alam yaitu % dari luas zona pemanfaatan maka formulasi daya dukung kawasan untuk pemanfaatan ekowisata dibatasi dengan rumus: DDW =. x DKK... () dimana : DDW = daya dukung wisata (orang); DDK = daya dukung kawasan (orang).4.. Analisis Daya Tarik dan Preferensi Visual Wisatawan Setiap wisatawan memiliki ketertarikan tersendiri terhadap obyek wisata yang disuguhkan oleh pihak pengelola. Pengukuran daya tarik wisatawan dianalisa menggunakan analisis regresi berganda antara variabel jumlah kunjungan wisatawan dengan variabel ketertarikan terhadap mangrove (M) dan ketertarikan terhadap terumbu karang (T) menggunakan perangkat lunak MS. Excel. Setelah model regresi terbentuk, selanjutnya dilakukan pengujian dengan uji F dan uji t pada taraf signifikan 95 % agar model yang dihasilkan valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan pengukuran preferensi wisatawan terhadap sumber daya wisata yang ada di kawasan Pulau Menjangan menggunakan metode Scenic Beauty Estimation (SBE). Metode SBE digunakan untuk menilai tipe-tipe karakter seascape dan landscape kawasan Pulau Menjangan yang telah dipresentasikan dalam foto-foto berwarna, dimana foto-foto ini merupakan pemandangan kawasan Pulau Menjangan yang dianggap paling mewakili obyek seascape dan landscape di kawasan ini. Tahapan yang dilakukan dalam analisis ini adalah:

59 ) Penentuan titik pengamatan; ) Pengambilan foto; ) Seleksi foto; 4) Penilaian oleh responden; 5) Menghitung nilai SBE. Untuk penilaian preferensi visual, penilaian foto-foto karakter seascape dan landscape dilakukan oleh 5 responden wisatawan dengan penilaian pada skala sampai dengan selama detik. Skor menunjukkan nilai yang paling tidak disukai dan skor merupakan nilai yang paling disukai. Nilai yang diperoleh kemudian diolah dengan mencari rata-rata nilai z pada setiap foto yang kemudian dimasukkan ke dalam rumus SBE menurut Daniel dan Boster (976): SBE X = (Z X Z ) x...(8) dimana, SBE X Z X Z = nilai keindahan pemandangan obyek ke-x = nilai rata-rata untuk obyek ke-x = nilai rata-rata suatu obyek tertentu sebagai standar.4.4. Analisis Ekonomi Ekowisata Bahari.4.4.. Penawaran Ekowisata Bahari Penawaran (supply) ekowisata bahari pada dasarnya merupakan gambaran dari kuantitas dan kualitas dari jasa yang dapat ditawarkan oleh produsen atau pihak pengelola ekowisata bahari pada tingkat harga tertentu. Keinginan pengelola kegiatan wisata bahari menawarkan atraksi wisata pada berbagai tingkat harga, ditentukan oleh beberapa faktor seperti: biaya investasi; biaya operasional; jumlah tenaga kerja dan tingkat teknologi yang digunakan (Sukirno, ). Secara khusus suatu penawaran melukiskan jumlah maksimum yang siap disediakan pada setiap kemungkinan harga dalam jangka waktu tertentu (Bellante dan Jackson, 99). Laju pertumbuhan penawaran wisata akan bergantung dari biaya dan jumlah yang ditawarkan, sehingga untuk menduga laju penawaran wisata ekowisata bahari diturunkan dari fungsi biaya, khususnya biaya jangka pendek. Beberapa atribut yang mempengaruhi laju penawaran dapat diperoleh

6 melalui analisis regresi linear berganda dengan menggunakan bantuan perangkat lunak MS. Excel dan Mapple 9.5. Peubah yang dimasukkan dalam fungsi ini adalah biaya operasional (BO) dan biaya investasi (BI) sebagai peubah bebas sedangkan peubah tidak bebasnya adalah jumlah wisatawan yang dilayani oleh setiap operator wisata pada semua produk wisata yang disuguhkan (Q), sehingga fungsi penawaran produk wisatanya adalah: Ln Q = β + β Ln BO + β Ln BI...() dimana : Q = jumlah wisatawan yang dilayani (orang), BO = biaya operasional (rupiah/dolar), BI = biaya investasi (rupiah/dolar). Setelah model penawaran terbentuk, selanjutnya dilakukan pengujian dengan uji F dan uji t pada taraf signifikan 95 % agar model yang dihasilkan valid dan dapat dipertanggungjawabkan..4.4.. Analisis Permintaan Ekowisata Bahari Permintaan (demand) umumnya diartikan jumlah dari suatu barang atau jasa yang dapat dibeli oleh konsumen pada berbagai kemungkinan harga, dalam jangka waktu tertentu dengan anggapan hal-hal lain tetap sama. Dalam wisata, permintaan umumnya diapresiasikan dalam bentuk tingkat kunjungan yang dilakukan pada berbagai tingkat biaya perjalanan (Sukirno, ). Untuk itu, dalam penelitian ini estimasi nilai atau laju permintaan dianalisis dengan menggunakan metode biaya perjalanan (TCM) dengan bantuan perangkat lunak MS. Excel dan Mapple 9.5. Prinsip yang mendasari adalah bahwa biaya yang dikeluarkan untuk berwisata ke suatu area dianggap sebagai harga akses area tersebut. Oleh karena itu, analisis biaya perjalanan yang digunakan di sini adalah Zonal Travel Cost Analysis. Tahapan dalam metode ini adalah: ) Mengindentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ke lokasi wisata, seperti lokasi wisata alternatif, faktor demografi, dan profil wisatawan;

6 ) Merancang survei untuk mengumpulkan data tentang biaya perjalanan dan informasi lain dari pengunjung yang mempengaruhi permintaan; ) Melakukan survei, mengumpulkan data dari sampel yang mewakili populasi pengunjung lokasi; 4) Menentukan jumlah kunjungan tahun analisis (JKT) berdasarkan data yang ada di pengelola; 5) Menentukan derived demand kunjungan wisata; Derived demand diperoleh dengan melakukan regresi pada peubah yang dinilai berpengaruh terhadap jumlah kunjungan. Peubah bebasnya yaitu biaya perjalanan (TC), pendapatan (I), jarak (D), kondisi dan potensi SDA (CE), dan harga wisata (P), sehingga fungsi permintaan atas kunjungan wisata untuk model ini adalah sebagai berikut : Ln Q = β + β Ln TC + β Ln I + β Ln D + β 4 Ln CE + β 5 Ln P...() dimana : Q = jumlah kunjungan (orang), TC = biaya perjalanan (rupiah/dolar), I = pendapatan (rupiah/dolar), D = jarak asal wisatawan (km), C E = potensi kondisi ekosistem, P = harga wisata 6) Melakukan validasi model yang didapatkan dengan pengujian statistik melalui uji F dan uji t. 7) Menghitung consumer surplus; Setelah mendapatkan kurva permintaan, selanjutnya dapat diperkirakan manfaat ekonomi yang diperoleh dari kunjungan wisata. Manfaat ekonomi tersebut diukur dari surplus konsumen wisatawan. Surplus konsumen adalah perbedaan antara keinginan masyarakat untuk membayar dengan apa yang dibayarkan. Surplus konsumen dihitung dengan menggunakan langkahlangkah menurut Sobari (7): () Masukkan rata-rata peubah bebas ke dalam persamaan () () Selanjutnya CS dihitung dengan menggunakan formula menurut Adrianto (6):

6 CS i () - V i =... β 8) Menghitung total benefit (nilai ekonomi) lokasi wisata dengan formula: TB = CS i x TV... (4) dimana : TB = total manfaat ekonomi lokasi wisata (rupiah/dolar), TV = total kunjungan / tahun (orang/tahun)..4.4.. Analisis Manfaat Keberadaan Obyek Wisata Dalam kegiatan wisata, setiap pengunjung pada dasarnya memiliki berbagai penilaian terhadap suatu sumber daya alam yang dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Untuk mengetahui seberapa besar nilai atau manfaat keberadaan obyek wisata tersebut, maka dapat dihitung dengan menggunakan metode valuasi kontingensi (CVM). Metode ini dianalisis berdasarkan keinginan membayar (willingness to pay) terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam. Secara operasional, pendekatan CVM dilakukan dalam lima tahap, yaitu: ) Membuat hipotesis pasar berupa kuesioner mengenai ekosistem terumbu karang dan mangrove, manfaat dan perkiraan luasan yang berkualitas baik. Kuesioner ini diberikan kepada wisatawan yang dipandu proses pengisiannya. ) Mendapatkan nilai lelang yang dilakukan dengan mewawancarai langsung responden dengan kuesioner untuk mendapatkan nilai WTP responden. Nilai leleng ini didapatkan dengan teknik: () Pertanyaan pilihan berganda, yaitu memuat beberapa nilai pilihan untuk satuan luasan terumbu dan mangrove yang lebih baik. () Pertanyaan referendum, yaitu responden diberikan satu nilai dalam rupiah untuk satu luasan terumbu dan mangrove, lalu diberikan pilihan setuju atau tidak. ) Menghitung rataan WTP berdasarkan nilai rata-rata (mean) atau nilai tengah (median).

6 4) Meregresikan nilai WTP untuk menduga hubungan antara WTP dengan karakteristik responden yang mencerminkan tingkat penghargaan wisatawan terhadap sumber daya yang selama ini dimanfaatkannya. Pada penelitian ini dianalisis menggunakan bantuan perangkat lunak MS. Excel dengan formula: Ln WTP = β + β Ln I + β Ln E + β 4 Ln AE...(6) dimana, WTP = keinginan membayar pengguna terhadap suatu sumber daya; I = pendapatan (rupiah/dolar); E = pendidikan; AE = ketertarikan terhadap ekosistem. 5) Melakukan validasi model yang didapatkan dengan pengujian statistik melalui uji F dan uji t. 6) Mengagregatkan hasil WTP rata-rata individu ke dalam WTP populasi dengan menggunakan formula menurut Adrianto (6): TB = WTP i x P...(7) dimana, TB = total benefit (rupiah/dolar); WTP i = nilai WTP per individu (rupiah/dolar); P = total populasi pada tahun ke-t yang relevan dengan analisis valuasi ekonomi sumber daya (orang)..4.5. Analisis Partisipasi Masyarakat Analisis ini dilakukan dalam dua tahap kegiatan. Pertama adalah analisis hasil scoring tingkat partisipasi masyarakat pada masing-masing tahapan kegiatan. Derajat partisipasi masyarakat dalam rangkaian aktifitas kegiatan dapat digambarkan secara tabulasi pada Tabel 9 berikut ini : Tabel 9 Tabulasi derajat partisipasi masyarakat No. Responden Derajat Partisipasi Y Y Y Tinggi

64 Dimana :... n Y = tahap perencanaan Y = tahap pelaksanaan Sedang Rendah Y = tahap monitoring dan evaluasi Y = Total partisipasi dari masing-masing responden Derajat partisipasi rendah diberi nilai = Derajat partisipasi sedang diberi nilai = Derajat partisipasi tinggi diberi nilai = Tahapan kegiatan dimulai dari kegiatan perencanaan. Kriteria yang diperlukan untuk menentukan derajat partisipasi pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut:. Kehadiran (H). Keaktifan mengemukakan pendapat (N). Sikap dan ide konstruktif (B) 4. Sikap mendukung program (D) Derajat partisipasi dikategorikan rendah jika hanya memenuhi kriteria H; derajat partisipasi dikatakan sedang jika memenuhi kriteria H+N+B; dan derajat partisipasi dikatakan tinggi jika memenuhi semua kriteria diatas yaitu H+N+B+D. Untuk tahap pelaksanaan adalah sebagai berikut :. Kehadiran (H). Mengemukakan pendapat (N). Mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan (I) Derajat partisipasi dikatakan rendah jika responden hanya memenuhi kriteria H; dikategorikan sedang jika memenuhi kriteria H+N dan untuk kategori tinggi apabila memenuhi semua kriteria yaitu H+N+I. Sedangkan, untuk tahap monitoring dan evaluasi, kriteria penilaian adalah sebagai berikut :. Kehadiran (H). Mengemukakan pendapat (N)

65. Mengemukakan kritik dan saran perbaikan (K) Derajat partisipasi dikatakan rendah jika responden hanya hadir (H); derajat partisipasi dikatakan sedang jika memenuhi kriteria = H + N; sedangkan tinggi jika memenuhi semua kriteria diatas = H + N + K. Tahap kedua adalah menganalisis keterkaitan antara total partisipasi ( Y) dengan karakteristik sosial ekonomi masyarakat yang meliputi: umur, pendidikan, pendapatan, lama tinggal, akses terhadap informasi di media massa, pemahaman dan tingkat partisipasi responden terhadap pengelolaan ekowisata. Pada tahap ini analisis menggunakan metode Principle Component Analysis (PCA) yang dibantu dengan perangkat lunak XLSTAT..4.6. Analisis Optimasi Pengelolaan Ekowisata Bahari Penentuan tingkat optimal dari pengelolaan ekowisata bahari di kawasan Pulau Menjangan, dianalisis menggunakan pendekatan model dinamik yang dibangun dengan bantuan perangkat lunak STELLA 7.. Model dinamik yang digunakan untuk menganalisis keberlanjutan pengelolaan ekowisata bahari dalam penelitian ini terdiri atas tiga sub model yakni:. Sub model lingkungan memiliki atribut berupa laju tumbuh, sumber daya karang, sumber daya mangrove, dan daya dukung sumber daya, sedangkan output-nya ditentukan oleh populasi wisatawan, laju kunjungan wisatawan, dan laju penurunan kondisi sumber daya yang dimanfaatkan.. Sub model ekonomi memiliki atribut berupa tenaga kerja dan ekonomi masyarakat yang dipengaruhi oleh populasi wisatawan, pendapatan, laju penerimaan, laju pengeluaran, laju tenaga kerja, fraksi usaha lain, fraksi upah, dan fraksi tenaga kerja.. Sub model sosial merupakan suatu sistem dimana jumlah populasinya (wisatawan) ditentukan oleh laju kedatangan, laju kepergian wisatawan, biaya tinggal, harga lokasi lain, koefisien ketersedian infrastruktur, koefisien ketersediaan sumber daya alam, konstanta kepuasan wisatawan, dan kondisi sumber daya wisata. Model dinamik keberlanjutan pengelolaan ekowisata bahari di kawasan Pulau Menjangan dibangun dari fenomena riil dan berdasarkan model matematis sederhana (dasar).