NASKAH KEBIJAKAN (POLICY PAPER)

dokumen-dokumen yang mirip
ELEKTRONIK WARUNG KELOMPOK USAHA BERSAMA PROGRAM KELUARGA HARAPAN

BAB V PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI KELURAHAN TENGAH

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERDAYAAN KOMUNITAS ADAT TERPENCIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

PERAN MANAJER RUMAH TANGGA SEBAGAI STRATEGI DALAM PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PESISIR DI KABUPATEN SITUBONDO

2015, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Le

Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Upaya Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan

PERANAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DALAM PEMBINAAN USAHA KERAJINAN KERIPIK TEMPE DI KABUPATEN NGAWI SKRIPSI

- 1 - PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG

Upaya Pemberantasan Kemiskinann Masyarakat Pesisir MEMBERI NELAYAN KAIL, BUKAN UMPANNYA

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Elektronik Warung Gotong Royong KUBE PKH

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH

BAB VIII STRATEGI DAN PROGRAM PEMBERDAYAAN FAKIR MISKIN

PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2017, No Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 83, Tambahan L

BAB 6 PENUTUP. temuan penelitian tentang bagaimana pengelolaan sektor kelautan dan perikanan

RANCANGAN PROGRAM RENCANA AKSI PENGEMBANGAN KBU PKBM MITRA MANDIRI

LATAR BELAKANG PENGEMBANGAN KOMUNITAS

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG

VII. EVALUASI DAN RUMUSAN PROGRAM PEMBERDAYAAN KELUARGA MISKIN MELALUI KUBE DI KELURAHAN MAHARATU

MELIHAT POTENSI EKONOMI BAWEAN pada acara

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Belitung yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 sejak

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan termasuk didalamnya berbagai upaya penanggulangan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari pembangunan nasional.

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB VII PENGEMBANGAN WILAYAH MALUKU TAHUN 2011

Implementasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Agropolitan Sendang Kabupaten Tulungagung

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG. Nomor : 08 Tahun 2015

BUPATI BUTON PROVINSI SULAWESI TENGGARA

BAB 4 ANALISIS ISU STRATEGIS DAERAH

V. PENDEKATAN SISTEM 5.1. Analisis Kebutuhan Pengguna 1.) Petani

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KONAWE SELATAN NOMOR: 3 TAHUN 2012 TENTANG

BAB V. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN ALOR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BUTON NOMOR 103 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BUTON NOMOR 3 TAHUN 2015 T E N T A N G

BAB II E-WARONG KUBE JASA PKH SEJAHTERA WIROBRAJAN KOTA YOGYAKARTA. II ini akan menjelaskan mengenai objek penelitian yaitu e-warong Kube Jasa

BAB I PENDAHULUAN. daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara

BAB I PENDAHULUAN. Tingkat pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Medan saling berkaitan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otonomi daerah adalah hak dan wewenang daerah untuk mengatur dan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan adalah sumberdaya perikanan, khususnya perikanan laut.

BAB I PENDAHULUAN. keterbatasan ketersediaan infrastruktur yang. transportasi, jalan, penerangan dan sekolah

Terwujudnya Kota Mojokerto sebagai Service City yang Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera dan Bermoral.

KEBUTUHAN PENGEMBANGAN FASILITAS PELABUHAN KOLAKA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KOLAKA

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BUPATI BINTAN HASIL PERBAIKAN PAK JAROT

Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni dan Sarana Prasarana Lingkungan

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

VII. Pola Hubungan dalam Lembaga APKI di Kecamatan Kahayan Kuala Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah

VIII. PENYUSUNAN PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN UAB TIRTA KENCANA

BAB 4 STRATEGI SEKTOR SANITASI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN KENDAL

PEDOMAN UMUM PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI KEHUTANAN BAB I PENDAHULUAN

PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DALAM KONSEP MINAPOLITAN

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

GAMBARAN UMUM. Desa Taman Sari merupakan bagian dari Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Provinsi Jawa Timur. Batas-batas wilayah Desa Banjarsari adalah: : Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

RESONA Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat

6.1. Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan

PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 18 TAHUN 2007 TENTANG MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN KELURAHAN DAN KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

VII. RANCANGAN PROGRAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS MISKIN

PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO

Pengembangan Sistem Jaringan Layanan Transportasi Kabupaten Kepulauan Anambas

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

IV. KEADAAN UMUM DAERAH. RW, 305 RT dengan luas wilayah ha, jumlah penduduk jiwa.

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

BAB II. RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH

Tabel 1.1 Target RPJMN, RPJMD Provinsi dan kondisi Kota Depok. Jawa Barat. Cakupan pelayanan air limbah domestic pada tahun 2013 sebesar 67-72%

kebijakan yang menyebutkan pengembangan masyarakat dan desa dalam kerangka desentralisasi pembangunan. Namun kenyataannya, masyarakat, desa dan

Laporan KEGIATAN PILOT PROJECT REFORMA AGRARIA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Jogonayan merupakan salah satu desa dari 16 desa yang ada di Kecamatan

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN KOMUNITAS

DRAFT REKOMENDASI KEBIJAKAN

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Penelitian

IV.GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kecamatan Gedung Aji memiliki luas wilayah sekitar 114,47 km 2 beribukota di

BAB II PENGATURAN PEMERINTAH DESA DALAM MENDIRIKAN BADAN USAHAMILIK DESA. A. Pengertian, Tujuan dan Fungsi Badan Usaha Milik Desa

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB V AKSI BERSAMA MASYARAKAT. kampung demak Jaya dan diikuti oleh ketua RT yakni Erik Setiawan (45 tahun) berkumpul di

BAB I PENDAHAULUAN. 1.1 Latar Belakang

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2012

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PENGEMBANGAN KOPERASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LEMBATA,

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi sumber daya alam

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

MAKALAH WORKSHOP NASIONAL NASKAH KEBIJAKAN (POLICY PAPER) MODEL PENGEMBANGAN INISIATIF LOKAL DALAM PENANGANAN KEMISKINAN BERBASIS KOMUNITAS MELALUI MATA PENCAHARIAN BERKELANJUTAN Oleh : Dr.Pairan, M.Si Project Expert COMCEC FISIP Universitas Jember DISELENGGARAKAN OLEH KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA DI HOTEL SAHIT CIKARANG TANGGAL 29 DESEMBER 2016 1

NASKAH KEBIJAKAN (POLICY PAPER) MODEL PENGEMBANGAN INISIATIF LOKAL DALAM PENANGANAN KEMISKINAN BERBASIS KOMUNITAS MELALUI MATA PENCAHARIAN BERKELANJUTAN Dr.Pairan, M.Si Project Expert COMCEC ABSTRAKSI Kemiskinan masih menjadi permasalahan serius di wilayah pulau-pulau kecil yang tersebar di seluruh Indonesia, sebagian di antaranya berada di perbatasan dengan negara lain. Kemiskinan di wilayah ini terjadi sebagai akibat dari kurangnya pengelolaan sumber daya alam, masih rendahnya tingkat pendidikan yang terbatas dan jauh dari akses pengambilan keputusan, terbatasnya akses modal, ilmu pengetahuan dan teknologi, telekomunikasi, pasar dan dukungan politik. Permasalahan lainnya kesenjangan pendapatan dan kesenjangan pembangunan antara perkotaan dengan perdesaan dan antara orang kaya dan miskin. Undang- Undang RI Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin. Kementerian Sosial selaku instansi pemerintah bertugas meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin di daerah pesisir, pulau-pulau kecil dan perbatasan antar negara. Kementerian Sosial berupaya untuk mengambil aksi terhadap penanganan fakir miskin yaitu dengan cara memberikan bantuan stimulan Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Berdasarkan hasil FGD yang dilakukan dengan SKPD Nunukan dan Sumenep terdapat bebberapa Rekomendasi yaitu; a) diperlukannya sosialisasi/penyuluhan mengenai Program Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dengan orientasi pengelolaan hasil sumber daya alam setempat dan mata pencaharian lokal dan menyiapkan sistem pemasaran produk lokal yang dihasilkan; b) diperlukannya pelatihan lebih lanjut kepada sasaran program (masyarakat) tentang hasil laut, pertanian dan perkebunan (pengolahan hasil dan kemasan produk); dan c) diperlukan pelatihan lebih lanjut kepada tenaga pedamping tentang pengetahuan dan ketrampilan pengolahan hasil dan pemasaran produk, dan pendamping kemensos perlu koordinasi dengan pendamping instransi yang lain yang sudah ada dimasyarakat. Pengembangan Inisiatif Lokal Dalam Penanganan Kemiskinan di Wilayah Perbatasan dan Pulau Kecil Melalui Mata Pencaharian Berbasis Komunitas yang berhasil dikembangkan berlandasakan tiga komponen praktis, yakni; a) Pemetaan Sosial Ekonomi; b) Pemberdayaan melalu UEP; dan c) Mekanisme pemasaran produk UEP dan penyaluran bantuan sosial melalui E-Warong. Model tersebut bisa digunakan sebagai formulasi kebijakan Penanganan kemiskinan berbasis masyarakat lokal pada masyarakat miskin daearah perbatasan dan daerah kepulauan melalui matapencaharian berkelanjutan.. 2

Pendahuluan Kemiskinan masih menjadi permasalahan serius di wilayah pulau-pulau kecil yang tersebar di seluruh Indonesia, sebagian di antaranya berada di perbatasan dengan negara lain. Kemiskinan di wlayah ini terjadi sebagai akibat dari kurangnya pengelolaan sumber daya alam, masih rendahnya tingkat pendidikan yang terbatas dan jauh dari akses pengambilan keputusan, terbatasnya akses modal, ilmu pengetahuan dan teknologi, telekomunikasi, pasar dan dukungan politik. Permasalahan lainnya yang dialami oleh masyarakat di pulau-pulau kecil terluar dan daerah perbatasan adalah terciptanya kesenjangan pendapatan dan kesenjangan pembangunan antara wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan dan antara orang kaya dan miskin Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin. Kementerian Sosial selaku instansi pemerintah bertugas meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin di daerah pesisir, pulau-pulau kecil dan perbatasan antar negara. Upaya yang dilakukan Kementerian Sosial dalam penanganan fakir miskin yaitu dengan cara memberikan bantuan stimulan Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH) dan bantuan Sarana Lingkungan (Sarling) serta pendampingan sosial. Mengingat kompleksitas permasalahan kemiskinan yang terjadi di wilayah pesisir, pulau-pulau kecil dan perbatasan antar Negara, Kementerian Sosial melalui Peraturan Menteri Sosial No. 20 Tahun 2015 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja, membentuk direktorat baru yaitu Direktorat Penanganan Fakir Miskin Pesisir, Pulau-Pulau Kecil dan Perbatasan Antar Negara yang memiliki tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang penanganan fakir miskin pesisir, pulaupulau kecil dan perbatasan antar negara. Pengentasan kemiskinan berbasis masyarakat lokal untuk masyarakat miskin di perbatasan dan daerah kepulauan menjadi sebuah gagasan atau jwaban dari permasalahan yang selama ini dihadapi oleh wilayah pesisir, pulau-pulau kecil dan perbatasan antar negara. Pengentasan kemiskinan berbasis masyarakat lokal ialah upaya sebuah cara untuk menyelesaikan masalah-masalah berdasarkan isu-isu lokal, serta pelaksanaannyapun menggunakan pendekatan lokal secara holistik. Upaya tersebut menciptakan kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spritual dan sosial warga negara untuk dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. 3

Keberfungsian sosial merupakan konsep dari kebutuhan dasar yang telah menjadi wajib dan keharusan untuk dipeuhi. Karena pada dasarnya, selama manusia berada dalam ruang dan waktu, maka manusia adalah makhluk yang selalu ingin memenuhi kebutuhannya dengan tangannya sendiri. Potensi inilah yang dapat dikembangkan menjadi sebuah inisiatif lokal yang bermutu tinggi tentunya harus ditunjang dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Tujuan Inisiatif lokal adalah berusaha meningkatkan kemampuan keluarga miskin berdasarkan sumber daya lokal, modal, sarana dan prasarana, struktur sosial dan organisasi lokal, agar dapat mencapai hasil yang optimal. Inisiatif lokal diharapkan dapat memperbaiki keadaan sebelumnya ke arah yang lebih baik, serta memberikan, dorongan untuk terus mengembangkan pengetahuan dan wawasan, menumbuh kembangkan semangat dalam memperbaiki keadaan-keadaan sebelumnya. Menciptakan masyarakat berdaya dengan inisiatif lokal melauli upaya pengentasan kemiskinan berbasis masyarakat lokal pada masyarakat miskin di perbatasan dan daerah kepulauan adalah salah satu langkah kongkrit untuk mendorong negera secara konsisten menciptakan kesejahteraan. Dengan demikian negara harus betul-betul mengarahkan program-program pengentasan kemiskinan berbasis masyarakat lokal untuk menghasilkan kondisi yang sejahtera dan mampu bersaing di era globalisasi ini. Pemerintah melalui Kementerian Sosial RI berusaha untuk menangani masayarakat miskin di perbatasan dan daerah kepulauan agar lebih berdaya, sehingga masayarakat daerah perbatasan dan daerah kepulauan dapat menjadi masyarakat mandiri serta berkembang dan mampu bersaing di era globalisasi ini. Untuk itu diperlukan formulasi model pengembangan inisiatif lokal dalam penanganan kemiskinan berbasis masyarakat lokal melalui mata pencaharian di wilayah perbatasan dan daerah kepulauan. Deskripsi Masalah. Penanganan fakir miskin pesisir pulau-pulau kecil dan perbatasan antar negara merupakan wilayah yang memiliki kondisi geografis yang mempunyai keterbatasan infrastruktur dan juga ketertinggalan dari berbagai pembangunan. Kemiskinan juga menjadi permasalahan serius di wilayah ini akibat dari kurangnya pengelolaan sumber daya alam, masih rendahnya tingkat pendidikan dan jauh dari akses pengambilan keputusan, terbatasnya akses modal, ilmu pengetahuan dan teknologi, telekomunikasi, pasar dan dukungan politik. Permasalahan lainnya yang dialami oleh masyarakat di pulau-pulau kecil terluar dan daerah 4

perbatasan adalah terciptanya kesenjangan pendapatan dan kesenjangan pembangunan antara wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan dan antara orang kaya dan miskin. Keterbatasan infrastruktur dan juga ketertinggalan dari berbagai pembangunan terlihat di Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep. Luas wilayah kecamatan Raas 38,9 km 2 meliputi 9 desa. Penduduk Kecamatan Raas berjumlah 34.784 jiwa dengan kepadatan penduduk sebanyak 894,19 jiwa/km 2. Panjang jalan darat Kecamatan Raas secara keseluruhan sepanjang 50,443 km 2, dengan kondisi jalan rusak 14,41% dan rusak berat 19,82%. Sarana angkutan darat bermotor terdiri dari truk, pick up, Viar (Sepeda Motor Roda 3) sepeda motor, Becak Motor dan tidak bermotor terdiri dari becak dan sepeda dan Grobak. Sarana dan prasarana di Kecamatan Ra as cukup memperihatinkan, diketahui bahwa Penerangan listrik belum menggunakan PLN, yakni masih menggunakan PLTD yang dikelola Swasta, yang hanya hidup 12 Jam saja. Akses Penyeberangan antar pulau menggunakan Perahu nelayan, dengan rute penyebrangan dari Sumenep menuju Raas dan dari Raas menuju Sumenep. Perjalanan dari Dermaga Dongke Sumenep menuju Pulau Raas membutuhkan waktu sekitar 4 sampai dengan 5 jam. Penyeberangan Raas sering kali terkendala perahu yang tidak setiap hari ada. Kapal penyeberangan menuju kepulauan Raas kerap kali mewaspadai ketinggian gelombang laut yang terkadang tingginya mencapai 2 meter akibat pengaruh musim yang memicu hembusan angin dari arah tenggara yang begitu kencang. Kondisi tersebut kerap mengganggu atau meghambat jalur transportasi sehingga nelayan dan kapal tidak memungkinkan lagi untuk memuat penumpang dan barang. Demikian juga untuk masyarakat wilayah perbatasan antara negara, khususnya Pulau Sebatik. Masyarakat di Pulau Sebatik kesulitan saat akan menjual hasil buminya. Warga perbatasan tidak menjual ke kota terdekat karena memerlukan perjalanan yang memakan waktu dan menempuh medan berat. Karena risiko lebih besar, warga akhirnya banyak menjual hasil bumi ke Kota Tawau Malaysia. Disamping terdapat berbagai masalah dan kendala di wilayah pulau-pulau kecil dan perbatasan antara negara tersebut juga terdapat potensi sumber daya alam yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Berdasarkan hasil pemetaan sosial dan ekonomi yang dilakukan dalam kegiatan proyek COMCEC di kepulauan Sebatik dan kepulauan Raas, diperoleh data sebagai berikut a) kekuatan Aktor Sosial yang Dominan di dalam Kerangka Perubahan Sosial di Raas adalah Kepala Desa, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat; b) Kekuatan Aktor Sosial yang Dominan di dalam Kerangka Perubahan Sosial di Sebatik adalah Kepala Desa, Ketua RT, Tokoh Masyarakat; c) Lembaga Formal 5

yang Dominan didalam Kerangka Perubahan Sosial di Raas ialah GAPOKTAN, POKMAS, PKK; d) Lembaga Formal yang Dominan didalam Kerangka Perubahan Sosial di Sebatik yaitu Kelompok tani, Karang Taruna, PKK, dan Posyandu. Sedangkan potensi ekonomi diperoleh data sebagai berikit : a) Sumber Daya Potensial di Raas yang dimiliki berupa Lahan Peternakan, Kandang Ayam, Kandang Kambing, Lahan Pertanian; b) Sumber Daya Potensial di Sebatik sejenis Kebun pisang, Kebun Kelapa Sawit, Kebun Merica, Kebun Coklat, Kebun Kelapa, Hasil Laut (udang dan ikan kering); c) Mata Pencaharian di Raas yang dominan yaitu Petani, Ternak, Nelayan; d) Mata Pencaharian di Sebatik yang dominan ialah Petani Sawit, pisang, coklat, merica, Nelayan, Jasa, Buruh kebun/ tani. Model Pengembangan Inisisatif Lokal Dalam Penanganan Kemiskinan Di Wilayah Perbatasan Antar Negara Dan Pulau-Pulau Kecil. Fakir miskin daerah kepulauan dan daearah perbatasan identic dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau serta didukung dengan keterbatasan infrastruktur dan ketertinggalan dalam sektor pembangunan, untuk penanganannmya berdasarkan Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2011 Tentang penanganan fakir miskin dijelaskan bahwa upaya penanganan fakir miskin diwilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dilakukan melaui; a) penyediaan sumber mata pencaharian di bidang perikanan dan sumber daya laut; b) bantuan permodalan dan akses pemasaran hasil usaha; dan c) penguatan lembaga dan organisasi masyarakat pesisir dan nelayan. Sengakan upaya penanganan fakir miskin diwilayah perbatasan antarnegara dilakukan melalui; a) penyediaan sumber mata pencaharian di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan kerajinan; b) bantuan permodalan dan akses pemasaran hasil pertanian, peternakan, perikanan, dan kerajinan; c) peningkatan pembangunan sarana dan prasarana; dan d) penguatan kelembagaan dan pemerintahan. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang tersebut, Program Penanganan Fakir Miskin yang dikembangkan oleh Direktorat Penaganan Fakir Miskin Pulau-Pulau Kecil dan Perbatasan Antar Negara, yaitu; a) Pemberian bantuan stimulan Usaha Ekonomi Produktif (UEP); b) Rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni; dan c) Bantuan Sosial Sarana lingkungan. Dalam tahapan kegiatan proyek COMCEC, dalam kegiatan FGD yang dilakukan dengan SKPD Nunukan dan Sumenep terdapat beberapa Rekomendasi yaitu; a) diperlukannya sosialisasi/penyuluhan mengenai Program Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dengan orientasi pengelolaan hasil sumber daya alam setempat dan mata pencaharian lokal dan menyiapkan sistem pemasaran produk lokal yang dihasilkan; b) diperlukannya pelatihan 6

lebih lanjut kepada sasaran program (masyarakat) tentang hasil laut, pertanian dan perkebunan (pengolahan hasil dan kemasan produk); dan c) diperlukan pelatihan lebih lanjut kepada tenaga pedamping tentang pengetahuan dan ketrampilan pengolahan hasil dan pemasaran produk, dan pendamping kemensos perlu koordinasi dengan pendamping instransi yang lain yang sudah ada dimasyarakat. Rekomendasi tersebut sebagai upaya untuk menciptakan peluang pemasaran produk Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Peluang pemasaran diperlukan karena selama ini kondisi di Sebatik bahwa hampir sebagian besar makanan olahan dan sembako di pasok dari malaysia (Kota Tawau). Didamping itu juga belum ada pusat toko penjualan hasil produksi makanan olahan baik olahan hasil pertanian, perkebunan dan laut, serta belum ada pengelolaan berbasis kelompok di daerah tersebut. Demikian juga di pulau Raas bahwa peluang penjualan telur ayam kampung dan kerajinan hasil laut berpeluang besar untuk di pasarkan ke pulau Bali keperluan sebagai kelengkapan sesaji dan souvenir. Namun demikian belum ada lembaga lokal yang menfasilitasi penjulan produk tersebut. Disamping pelaksanaan pemetaan sosial ekonomi dan penguatan kapasitas masyarakat miskin di Pulau Sebatik dan Pulau Raas, kegiatan COMCEC juga melakukan workshop internasional yang bertujuan untuk 1) Menyajikan model inovatif Inisiatif lokal untuk pengentasan kemiskinan berbasis masyarakat melalui mata pencaharian yang berkelanjutan di Indonesia, Turki, Indonesia, Malaysia, dan Bangladesh. 2) Mempelajari praktik terbaik dari intervensi setara proyek / program yang disajikan oleh universitas, lembaga penelitian, donor / LSM, pusat / pemerintah daerah internasional di Indonesia. Dari kegiatan workshop internasional ini diperoleh ide-ide berharga yang bisa digunakan untuk menyusun konsep model pengembangan inisiatif lokal dalam pengentasan kemiskinan melalui mata pencaharian berkelanjutan. Ide-ide tersebut diantaranya adalah Indikator kemiskinan yang terdiri dari 1) inisiat lokal / tingkat yang dipilih oleh anggota masyarakat. 2) tingkat pendapatan. 3) kondisi makanan. 4) kesehatan dan 5) tingkat pendidikan. Dengan indikator kemiskinan yang demikian maka strategi pengentasan kemiskinan bisa dilakukan dengan 1) membangun kapasitas, karena kemiskinan muncul ketika orang tidak memiliki kemampuan pengangguran. 2) program pendekatan berfokus pada peningkatan / keuntungan mata pencaharian kehidupan. 3) memilih sebuah kegiatan sosial dan ekonomis yang sesuai dengan potensi ekonomi setempat. 4) mengembangkan atau menemukan varian makanan baru. Berdasarkan konsep strategi pengentasan kemiskinan tersebut maka program pengentasan kemiskinan yang direkomendasikan adalah 1) transfer tunai atau e-voucher untuk mendukung kebutuhan 7

dasar. 2) transfer tunai bersyarat untuk membangun usaha mikro. 3) Pelatihan atau pengembangan kapasitas. 4) pembinaan dan fasilitasi pembangunan jaringan (seperti pemasaran produk, informasi). Dengan didasarkan pada paparan hasil kegiatan tersebut di atas dapat disusun model pengembangan inisiatif lokal dalam pengemtasan kemiskinan berdasarkan mata pencaharian. Model pengembangan inisiatif lokal didasarkan pada tiga komponen praktis, yakni; a) Pemetaan Sosial Ekonomi; b) Pemberdayaan melalu UEP; dan c) Mekanisme pemasaran produk UEP dan penyaluran bantuan sosial. Pemetaan Sosial Ekonomi telah dipaparkan diatas, namun secara praktis langkah yang dilakukan ialah pengkondisian Tim atau pembentukan Tim Pemataan, tim tersebut beranggotakan tenaga-tenaga ahli (expert) pada bidangnnya. Kemudian Tim pemetaan akan mendapat bimbingan teknis terkait dengan proyek yang akan dijalankan. Pemilihan klaster lokasi pemetaan dilakukan oleh Tim setelah mendapatkan Bimtek. Setelah itu, pemetaan sosial ekonomi dilakukan. Pemetaan sosial ekonomi menggunakan pendekatan non-directive (tidak langsung) yakni dengan FGD, bertujuan untuk mengangkat isu komunitas dan potensi komunitas lokal. Dengan kajian lapangan dapat memformulasikan (potensi sosial, ekonomi lokal dan analisis alternative rencana usaha). Pemetaan sosial ekonomi sebagaimana dimaksud dapat secara praktis dipahami melalui diagram berikut. A Pemetaan sosial ekonomi Konsultasi Komunitas Konsultasi Publik Pembentukan Tim Pemetaan Pemilihan klaster lokasi Pemetaan Formulasi potensi sosial Bimbingan Tim Pemetaan Pemetaan Sosial Ekonomi Kajian lapangan (FGD) tentang Isu Komunitas dan potensi komuintas lokal Formulasi potensi ekonomi lokal Gambar: A.1 Diagram pemetaan sosial ekonomi Analisis alternatif rencana usaha keluarga miskin 8

Berdasarkan hasil pemetaan sosial ekonomi yang telah dilakukan oleh Tim pemetaan, maka komponen berikutnya yang akan dilakukan ialah pelaksanaan kegiatan pemberdayaan melalu Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Pada tahap ini pihak pelaksana program melakukan sosialisasi Program Pengentasan Penanganan Kemiskinan Melalui UEP berbasis mata pencaharian. Pengkondisian FGD, langkah ini bertujuan mengelompokkan Keluarga miskin berdasarkan klaster mata pencaharian. Kemudian pihak pelaksana program melakukan kesepakatan dengan Keluarga Miskin perihal usaha melalui UEP. Setelah kesepakatan diantara kedua belah pihak terjalin maka proses penyusunan proposal kegiatan UEP berdasarkan mata pencaharian disusun. Proposal sebagai langkah awal untuk pencairan stimulan modal usaha UEP. Ketika modal stimulus dicairkan, pihak keluarga dapat memulai usaha melalui program UEP dengan uang atau modal kongkrit yang disediakan oleh pihak pelaksana program. Dengan begitu UEP Keluarga Miskin Berdasarkan Mata Pencaharian Berkelanjutan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan program. Pemberdayaan Ekonomi melalui UEP sebagaimana dimaksud dapat secara praktis dapat digambarkan melalui diagram berikut. Sosialisasi Program Pengentasan Penangnan Kemiskinan Melalui UEP berbasis mata pencaharian B Pemberdayaan ekonomi melalui UEP FGD pentingnya UEP bagi Keluarga miskin berdasarkan klaster mata pencaharian Pencairan stimulan modal usaha UEP Kesepakatan Keluarga Miskin untuk usaha melalui UEP Menyusun proposal kegiatan UEP berdasarkan mata pencahariannya memulai usaha melalui program UEP Monev UEP Keluarga Miskin Berdasarkan Mata Pencaharian Berkelanjutan Gambar: B.1 Diagram pemberdayaan ekonomi melalui UEP 9

Komponen berikutnya ialah kejelasan tentang Mekanisme pemasaran produk UEP dan penyaluran bantuan sosial. Pengadaan E-Warong UEP menjadi wadah produk dengan tujuan untuk memasarkan hasil produksi rumah tangga meliputi pengepulan produk, pemasaran produk, channeling pemasaran ke luar pulau dan warong UEP.com. Fungsi lainnya dari E-warong UEP ialah sebagai penyaluran bantuan sosial seperti Jaminan Kesehatan Nasional. Rastra. Program Simpanan Keluarga, Program Indonesia Pintar, dan Program Keluarga Harapan. Mekanisme pemasaran produk UEP dan penyaluran bantuan sosial sebagaimana dimaksud secara praktis digambarkan melalui diagram berikut: C Mekanisme pemasaran produk UEP dan penyaluran bantuan sosial E-Warong UEP Pulau dan Perbatasan Fungsi pemasaran Pengepul produk UEP Pemasaran Produk UEP Penyaluran Bantuan Channeling pemasaran ke luar pulau Jaminan Kesehatan Nasional Program Indonesia pintar Rastra Program Simpanan Keluarga Program Keluarga Harapan(PKH) Warung uep.com Gambar: C.1 Diagram pemberdayaan ekonomi melalui UEP Fungsi e-warung dalam Penyaluran bantuan sosial seperti yang dimaksudkan dalam penjelasan Mekanisme pemasaran produk UEP dan penyaluran bantuan sosial ialah sebagai media kontroling harga sembako pada masyarakat. Dengann e-warung penjualan atau pembelian sembako diharapkan dapat berjalan kondusif dengan terjangkaunya harga beli barang (sembako) atau istilah lainnya ialah Elemen stabilisasi harga sembako dan menjadi 10

target distribusi operasi pasar. Selain itu, e-warung berfungsi sebagai media Penyalur bansos non tunai (Agent Bank), kemudian e-warung juga berfungsi sebagai Outlet koperasi. Hal tersebut menekankan bahwa peran e-warung sangat strategis sebagai bentuk produk dari inisiatif lokal. Kebaradaan e-warung memperkuat intensitas dan keberlanjutan program usaha ekonomi produktif. Manfaat e-warong UEP sebagaimana yang dimaksud dapat secara praktis dipahami melalui diagram berikut : Jual Sembako Murah Elemen stabilizasi harga sembako dan menjadi target distribusi operasi pasar Outlet Koperasi dxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Agent Bank Penyalur bansos non tunai E-Warung dimiliki dan dikelola oleh KSM penerima bantuan Pemasar an hasil KUBE/ UEP Gambar: Diagram pemberdayaan ekonomi melalui UEP Secara eksplisit Fungsi e-warung akan menghasilkan impact (dampak) yakni dengan melalui kerjasama e-warung dan Distributor sembako dapat dipastikan ketersediaan uang/barang di agen/outlet. Kemudian E-Warung selain sebagai tempat transaksi perdagangan sembako dan produk KUBE, juga bertindak sebagai agen bank untuk aktivasi dan pencairan bantuan sosial. Konsep E-warung UEP pada lokasi Pulau dan Perbatasan yang akan beroperasi diwilayah Sembatik dan Raas dan akan dimiliki oleh 50 Keluarga miskin penerima UEP yang menjadi pembinaan COMCEC dengan susunan pengurus sebagai berikut: 11

1. Pelindung : Kepala Desa 2. Pengarah : Koordinator Pendamping Kecamatan 3. Pembina : Pendamping Desa Pengurus Harian : 1. Ketua : Penerima UEP 2. Sekretaris : Penerima UEP 3. Bendahara : Penerima UEP 4. Anggota : 7 Orang penerina UEP Catatan : UEP dilaksanakan secara perorangan, sehingga kelompok diorientasikan untuk pemasaran hasil produksi UEP yang dimiliki secara bersama-sama 50 keluarga penerima UEP dan dalam menjalankan kegiatannya sehari-hari diorganisir oleh pengurus harian yang dilindungi oleh kepala desa dan diarahkan, dibina oleh pendamping desa. Kesimpulan Dan Rekomendasi. Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Formulasi mengenai Pengentasan kemiskinan daearah perbatasan dan daerah kepulauan dapat menerapkan model pengembangan inisiatif lokal dalam pengentasan kemiskinan berbasis komunitas melalui mata pencaharian berkelanjutan, melalui tiga tahap kegiatan pemetaan sosial ekonomi, pemberdayaan ekonomi melalui UEP, dan Mekanisme pemasaran produk UEP dan penyaluran bantuan sosial melalui E-warong UEP. 2. UEP disinergiskan dengan sumber daya alam setempat dan mata pencaharian penerima program untuk memberikan nilai tambah. 3. Penerima UEP diorientasikan sampai bisa memasarkan hasil produksinya. 4. E Warung Perbatasan dan Pulau diorientasikan untuk pemasaran hasil produksi UEP dan membangun Chanelling pemasaran ke luar pulau dan warung.com. 5. Perlu pelatihan lebih lanjut kepada sasaran program (masyarakat) tentang hasil laut, pertanian dan perkebunan (pengolahan hasil dan kemasan produk,) 12

DAFTAR PUSTAKA Adi, I. R. 2013. Kesejahteraan Sosial (Pekerjaan Sosial, Pembangunan Sosial dan Kajian Pembangunan). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Fahrudin, A. 2011. Pemberdayaan Partisipasi dan Penguatan Kapasitas Masyarakat. Bandung: Humaniora Kurniawan, L. J., Sukmana, O., Abdussalam, dan Masduki. 2015. Negara Kesejahteraan Dan Pelayanan Sosial. Malang: Intrans Publishing Mardikanto.2015. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta Suharto, E. 2007. Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik. Bandung: CV Alfabeta Solekhan, M. 2014. Penyelenggaraan Pemerintah Desa Berbasis Partisipasi Masyarakat. Malang: Setara press Republik Indonesia. Undang-Uandang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penaganan Fakir Miskin. Pemerintahan: Republik Indonesia Republik Indonesia. Peraturan Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin Nomor 40/PFM/SK/HK.01/09/2016. Pemerintahan: Kementerian Sosial Republik Indonesia Republik Indonesia. Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2015 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja. Pemerintahan: Republik Indonesia 13