PREDIKSI SECARA TEORI AKTIVITAS

dokumen-dokumen yang mirip
PREDIKSI SECARA TEORI AKTIVITAS 18F DARI HASIL REAKSI 18O(p,n)18F PADA BEBERAPA SIKLOTRON MEDIK

PENENTUAN HASIL PRODUK RADIOISOTOP FLUOR-18 PADA FASILITAS SIKLOTRON DECY-13

PRODUKSI IODIUM-125 MENGGUNAKAN TARGET XENON ALAM

Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka ISSN Journal of Radioisotope and Radiopharmaceuticals Vol 10, Oktober 2007

EVALUASI HASIL PRODUKSI RADIONUKLIDA F-18 DARI TARGET AIR DIPERKAYA O-18 MENGGUNAKAN SIKLOTRON ECLIPSE 11 MeV DI RUMAH SAKIT KANKER DHARMAIS

PENGOPERASIAN CYCLONE 18/9 UNTUK PRODUKSI RADIONUKLIDA 18 F DALAM PENYIAPAN RADIOFARMAKA FDG DI RUMAH SAKIT MRCCC JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. (target 20 Ne alami + 19 F alami untuk pengemban/carrier). 18 F kemudian disintesis menjadi

DESAIN DASAR KOMPONEN-KOMPONEN DAN PER- HITUNGAN PRODUKSI

IRADIASI NEUTRON PADA BAHAN SS316 UNTUK PEMBUATAN ENDOVASCULAR STENT

PENENTUAN BESARAN EFEK BERKAS PROTON PADA FASILITAS TARGET SIKLOTRON DECY-13

Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka ISSN Journal of Radioisotope and Radiopharmaceuticals Vol 9, Oktoberl 2006

RADIOAKTIVITAS IODIUM-126 SEBAGAI RADIONUKLIDA PENGOTOR DI KAMAR IRADIASI PADA PRODUKSI IODIUM-125. Rohadi Awaludin

EVALUASI FLUKS NEUTRON THERMAL DAN EPITHERMAL DI FASILITAS SISTEM RABBIT RSG GAS TERAS 89. Elisabeth Ratnawati, Jaka Iman, Hanapi Ali

PEMBUATAN NANOPARTIKEL EMAS RADIOAKTIF DENGAN AKTIVASI NEUTRON

PELURUHAN GAMMA ( ) dengan memancarkan foton (gelombang elektromagnetik) yang dikenal dengan sinar gamma ( ).

CROSS SECTION REAKSI INTI. Sulistyani, M.Si.

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA F A K U L T A S M I P A

DESAIN PERISAI RADIASI UNTUK SIKLOTRON DECY-13 MENGGUNAKAN METODE MONTE CARLO

VII. PELURUHAN GAMMA. Sub-pokok Bahasan Meliputi: Peluruhan Gamma Absorbsi Sinar Gamma Interaksi Sinar Gamma dengan Materi

SISTEM PERHITUNGAN PRODUKSI RADIOISOTOP Mo-99 DAN GENERATOR Mo-99/Tc-99M MENGGUNAKAN MICROSOFT ACCESS

PROSPEK PENGEMBANGAN RADIONUKLIDA BERBASIS SIKLOTRON DI INDONESIA

ESTIMASI SEBARAN PELUANG PAPARAN RADIASI RESIDU PADA KOMPONEN SIKLOTRON PROTON 13 MeV

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional

PERBANDINGAN ANALISIS DESAIN MAGNET SIKLOTRON DENGAN BCALC DAN GENSPEO

OPTIMASI PARAMETER POTENSIAL NUKLIR BAGI REAKSI FUSI ANTAR INTI-INTI BERAT

BAB III PERSAMAAN PELURUHAN DAN PERTUMBUIIAN RADIOAKTIF

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS STRUKTUR BALOK NON PRISMATIS MENGGUNAKAN METODE PERSAMAAN SLOPE DEFLECTION

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Pusat Sains dan Teknologi Akselerator Badan Tenaga Nuklir Nasional (PSTA-BATAN) Yogyakarta sebagai lembaga pemerintah non departemen memiliki tugas

ANALISIS IRADIASI TARGET KALIUM BROMIDA DI REAKTOR SERBA GUNA-GA SIWABESSY

PENENTUAN WAKTU TUNDA PADA KONDISIONING LIMBAH HASIL PENGUJIAN BAHAN BAKAR PASCA IRADIASI DARI INSTALASI RADIOMETALURGI

PENGEMBANGAN F ASILIT AS lradiasi SIKLOTRON-BA T AN UNTUK PRODUKSI RADIOISOTOP FLUOR-IS

Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down

PERHITUNGAN ORBIT AWAL BERKAS PROTON PADA CENTRAL REGION SIKLOTRON

BAB II RADIASI PENGION

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR STATIK MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI HIGH ENERGY IODIUM-131 (I 131 )

Penentuan Kadar Besi dalam Pasir Bekas Penambangan di Kecamatan Cempaka dengan Metode Analisis Aktivasi Neutron (AAN)

REAKSI NUKLIR NANIK DWI NURHAYATI,S.SI, M.SI

PELURUHAN RADIOAKTIF

2. Dari reaksi : akan dihasilkan netron dan unsur dengan nomor massa... A. 6

PERKEMBANGAN KEDOKTERAN NUKLIR DAN RADIOFARMAKA DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL TRANSFER TARGET CAIR UNTUK PRODUKSI RADIOISOTOP F-18 (FLUOR-18) PADA FASILITAS SIKLOTRON

ANALISIS GEOMETRI ANODA DALAM OPTIMASI DESAIN SUMBER ION PENNING UNTUK SIKLOTRON

STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR (STATIK) MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI MEDIUM ENERGY RADIUM-226 (Ra 226 )

TEKNIK MEMV ARIASI ENERGI BERKAS PROTON DARIAKSELERATORENERGITETAP MENGGUNAKAN DEGRADER ALUMINIUM. Hari Suryanto, Silakhuddin

SIMULASI LINTASAN BERKAS PROTON SIKLOTRON 13 MeV MENGGUNAKAN PROGRAM PWHEEL

PENGEMBANGAN ANTARMUKA KONVERSI FILE DATA NUKLIR TEREVALUASI PADA RENTANG SUHU TERTENTU UNTUK APLIKASI MCNP. D. Andiwijayakusuma *

PENENTUAN FRAKSI BAKAR PELAT ELEMEN BAKAR UJI DENGAN ORIGEN2. Kadarusmanto, Purwadi, Endang Susilowati

KALKULASI PEMBENTUKAN RADIONUKLIDA PADA KOMPONEN SUMBER ION SIKLOTRON

EKSPERIMEN HAMBURAN RUTHERFORD

CHAPTER III INTI ATOM DAN RADIOAKTIVITAS

FAKTOR KOREKSI PENGUKURAN AKTIVITAS RADIOFARMAKA I-131 PADA WADAH VIAL GELAS TERHADAP AMPUL STANDAR PTKMR-BATAN MENGGUNAKAN DOSE CALIBRATOR

ANALISIS PERHITUNGAN IRADIASI TARGET PRASEODIMIUM DI REAKTOR SERBA GUNA -GA SIWABESSY

GANENDRA, Vol. V, No. 1 ISSN ANALISIS DAN PENENTUAN DISTRIBUSI FLUKS NEUTRON SALURAN TEMBUS RADIAL UNTUK PENDAYAGUNAAN REAKTOR KARTINI

Kimia Inti dan Radiokimia

KIMIA INTI DAN RADIOKIMIA. Stabilitas Nuklir dan Peluruhan Radioaktif

EVALUASI PEMBUATAN IODIUM-125 MENGGUNAKAN SASARAN GAS XENON-124 DIPERKAYA 99.98%

PENENTUAN CALIBRATOR SETTING CAPINTEC CRC-7BT UNTUK SAMARIUM-153

CHAPTER iii INTI ATOM DAN RADIOAKTIVITAS

PRODUKSI RADIOISOTOP. NANIK DWI NURHAYATI,M.SI

U Th He 2

ANALISIS IRADIASI TARGET TULIUM DI REAKTOR SERBA GUNA -GA SIWABESSY

PERHITUNGAN PARAMETER FISIS SISTEM EKSTRAKTOR SIKLOTRON 13 MeV UNTUK PET

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 780/MENKES/PER/VIII/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN RADIOLOGI

Spesifikasi Teknis Teras Reaktor Nuklir Kartini dan Eksperimental Setup Fasilitas Uji In-vitro dan In-vivo Metode BNCT

INTERKOMPARASI PENGUKURAN KAPSUL DALAM Ir-192 UNTUK UJI TAK MERUSAK

PENGUNGKUNGAN SUMBER 85 Kr, 133 Xe, 198 Au, DAN 24 Na PASCA IRADIASI

PERHITUNGAN RADIOAKTIVITAS SESIUM-137 PADA PEMBUATAN IODIUM-125

RANCANGAN SISTEM CATU DAYA DC 2 kv/2 A UNTUK KATODA SUMBER ION SIKLOTRON 13 MeV BERBASIS TRANSFORMATOR

Xpedia Fisika. Soal Fismod 2

RADIOKALORIMETRI. Rohadi Awaludin

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Radioaktivitas dan Reaksi Nuklir. Rida SNM

STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BIDANG NUKLIR

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) RADIOFARMASI ( 2.0)

PEMISAHAN 54 Mn DARI HASIL IRADIASI Fe 2 O 3 ALAM MENGGUNAKAN RESIN PENUKAR ANION

PENGUKURAN FLUKS NEUTRON SALURAN BEAMPORT TIDAK TEMBUS RADIAL SEBAGAI PENGEMBANGAN SUBCRITICAL ASSEMBLY FOR MOLYBDENUM (SAMOP) REAKTOR KARTINI

Dasar Fisika Radiasi. Daftar Isi

Kedua nuklida tersebut mempunyai nomor massa (A) yang sama dengan demikian nuklida-nuklida tersebut merupakan isobar.

FISIKA ATOM & RADIASI

GANENDRA, Vol. V, No. 1 ISSN STUDI PRODUKSI RADIOISOTOP Mo-99 DENGAN BAHAN TARGET LARUTAN URANIL NITRAT PADA REAKTOR KARTINI ABSTRAK

T 19 Kerapatan Keadaan pada Struktur Nano Berbentuk Sumur Nano, Kawat Nano dan Titik Nano

RINGKASAN. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor; Program St~di Pengeloiaan Sumberdaya

Jurnal Fisika Unand Vol. 3, No. 3, Juli 2014 ISSN

INTERAKSI RADIASI DENGAN MATERI NANIK DWI NURHAYATI,S.SI,M.SI

II. PRODUKSI RADIONUKLIDA

PROGRAM JAMINAN KUALITAS PADA PENGUKURAN. RADIONUKLIDA PEMANCAR GAMMA ENERGI RENDAH:RADIONUKLIDA Pb-210

PENENTUAN WAKTU SAMPLING UDARA UNTUK MENGUKUR KONTAMINAN RADIOAKTIF BETA DI UDARA DALAM LABORATORIUM AKTIVITAS SEDANG

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP 01 )

ANALISIS WAKTU PELURUHAN TERHADAP PERSYARATAN DOSIS RADIOISOTOP UNTUK PEMERIKSAAN GONDOK

PENGGUNAAN SINAR-X KARAKTERISTIK U-Ka2 DAN Th-Ka1 PADA ANALISIS KOMPOSISI ISOTOPIK URANIUM SECARA TIDAK MERUSAK

SISTEM INFORMASI DATA NUKLIDA MENGGUNAKAN TURBO PASCAL WINDOWS

PEMISAHAN IODIUM (I) DARI TELURIUM (Te) UNTUK DIIMPLEMENTASIKAN PADA PEMBUATAN 123 I DENGAN SIKLOTRON

Transkripsi:

PREDIKSI SECR TEORI KTIVITS 8 F DRI HSIL REKSI 8 O(p,n) 8 F PD BEBERP SIKLOTRO EDIK Hari Suryanto *), Silakhuddin **) *) Pusat Radiosotop dan Radiofarmaka BT, Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan. E-mail : hari.suryanto@yahoo.com **) Pusat Teknologi kselerator dan Proses Bahan BT, Jl. Babarsari Kotak Pos 60 YK BB, Yogyakarta. BSTRK PREDIKSI SECR TEORI KTIVITS 8 F DRI HSIL REKSI 8 O(p,n) 8 F PD BEBERP SIKLOTRO EDIK. Telah dilakukan perhitungan secara teori untuk menentukan kapasitas produksi 8 F dari hasil reaksi 8 O(p,n) 8 F dari beberapa siklotron medik. Siklotron medik (baby cyclotron) yang dimaksud di sini adalah siklotron yang mempunyai jangkauan energi antara 7,5 ev sampai dengan 8 ev. Hasil yang diperoleh dari perhitungan tersebut diharapkan dapat digunakan untuk memprediksi aktivitas 8 FDG(2-8 F fluoro-2-deoxy-dglucose) yang akan dihasilkan. Di samping itu juga diharapkan dapat digunakan sebagai gambaran awal bagi calon pengguna siklotron dalam memilih siklotron sesuai dengan kapasitas produksi yang diperlukan. Dari perhitungan yang diperoleh, kapasitas produksi 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F yang terbesar adalah yang dihasilkan dari siklotron yang mempunyai energi berkas proton sebesar 8 ev. Besarnya aktivitas 8 F yang diperoleh sekitar 2900 mci untuk arus berkas 40 µ dan lama iradiasi jam, sedang untuk siklotron yang mempunyai energi berkas berturut-turut 3 ev, ev, 0 ev, 9 ev dan 7,5 ev untuk kondisi operasi siklotron yang sama, mempunyai kapasitas produksi sebesar berturut-turut sekitar 2300 mci, 2000 mci, 800 mci, 600 mci dan 200 mci atau berturut-turut sekitar 80%, 70%, 6%, 55% dan 4% bila dibandingkan dengan kapasitas produksi dari siklotron yang mempunyai energi berkas proton 8 ev. Kata Kunci: aktivitas 8 F, siklotron medik BSTRCT THE THEORETICL PREDICTIO OF 8 F CTIVITY FRO THE RECTIO OF 8 O (p, n) 8 F FOR SOE EDICL CYCLOTROS. The theoretical calculations to determine the production capacity of 8 F from the reaction of 8 O (p, n) 8 F for some medical cyclotrons have been carried out. The medical cyclotron (baby cyclotrons) meant here is the cyclotron which has the energy range between 7.5 ev to 8 ev. The results of these calculations are expected to be used to predict the resulted activity of 8 FDG(2-8 F fluoro-2-deoxy-dglucose). In addition, the result of these calculations is also expected to be used as an initial overview for prospective users to choose the cyclotron in accordance with the required production capacity. From the calculation obtained the biggest production capacity of 8 F from the reaction of 8 O (p, n) 8 F is generated by the cyclotron which has proton beam energy of 8 ev. The amount of 8 F activity which obtained is about 2,900 mci for the proton beam current of 40 µ and the irradiation time of hour. While for the cyclotron which has the proton beam energy of 3 ev, ev, 0 ev, 9 ev and 7.5 ev respectively, for the same operating conditions, has a 8 F production capacity of about 2300 mci, 2000 mci, 800 mci, 600 mci and 200 mci respectively, or about 80%, 70%, 6%, 55% and 4% respectively, compared with the production capacity of the cyclotron which has proton beam energy of 8 ev. Keywords: 8 F activity, medical cyclotrons PEDHULU S ebuah era baru diagnosis kedokteran nuklir di Indonesia telah dimulai dengan teknologi Positron Emission Tomography (PET). Teknologi PET ini tidak dapat dipisahkan dengan teknologi siklotron, karena radionuklida pemancar positron yang digunakan dalam pencitraan PET dihasilkan dari suatu reaksi nuklir dari penembakan partikel bermuatan yang dipercepat dengan menggunakan siklotron. Siklotron itu sendiri dalam aplikasi medis, menurut Wolf dan Jones [], dapat diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan (level) yaitu tingkat pertama adalah siklotron yang mempunyai energi di bawah 0 ev yang dapat mempercepat poton dan deuteron, tingkat kedua adalah PREDIKSI SECR TEORI KTIVITS 8 F DRI HSIL REKSI 8 O(p,n) 8 F PD BEBERP SIKLOTRO EDIK siklotron yang mempunyai energi di bawah 20 ev dan dapat mempercepat proton atau partikel lain dan tingkat ketiga adalah siklotron yang mempunyai energi diatas 20 ev dan dapat mempercepat proton atau partikel lain. Siklotron tingkat pertama dan tingkat kedua sangat sesuai untuk keperluan produksi radionuklida untuk keperluan pencitraan PET. Siklotron jenis ini sering disebut sebagai baby cyclotron atau siklotron medik (medical cyclotron) []. Untuk produksi radionuklida dengan siklotron medik ini, partikel seperti proton ataupun deuteron yang telah dipercepat kemudian ditembakkan pada bahan target yang cocok untuk menghasilkan radionuklida pemancar positron. Radionuklida pemancar positron 53

tersebut dapat dihasilkan dari reaksi-reaksi (p, α), (p, n), (p,2n), (p,4n) atau (d, n) [-3]. Radionuklida yang cocok untuk digunakan dalam keperluan medik ini adalah radionuklida berumur paro pendek. Dalam cara produksinya, radionuklida yang dihasilkan dari siklotron ini dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok pertama adalah radionuklida yang berasal dari turunan (peluruhan) radionuklida lain dan kelompok kedua adalah radionuklida berasal dari reaksi langsung. Yang termasuk kelompok pertama seperti misalnya 20 Tl (T /2 = 73,06 jam) berasal dari peluruhan 20 Pb dari reaksi nuklir 203 Tl (p,3n) 20 Pb 20 Tl dan 23 I (T /2 =,2 jam) berasal dari peluruhan 23 Xe dari reaksi nuklir 24 Xe (p,pn) 23 Xe 23 I [4]. Kedua radionuklida ter-sebut merupakan radionuklida pemancar gamma (gamma emitters). Demikian juga radionuklida 68 Ge (T /2 = 270,8 hari) berasal dari peluruhan 68 Ga dari reaksi nuklir 69 Ga(p,2n) 68 Ga 68 Ge dan radionuklida 82 Sr (T /2 = 25,55 hari) berasal dari reaksi nuklir 85 Rb(p,4n) 82 Rb 82 Sr. Kedua radionuklida tersebut merupakan radionuklida pemancar positron (positron emitters) [4]. Untuk keperluan produksi radionuklida kelompok pertama ini memerlukan energi proton antara 20 hingga 70 ev atau menggunakan siklotron tingkat ketiga, sedang radionuklida kelompok kedua adalah juga merupakan radionuklida pemancar positron, seperti C (T /2 = 20,39 menit) dapat berasal dari reaksi nuklir 4 (p,α) C, 3 (T /2 = 9,96 menit) dapat berasal dari reaksi nuklir 6 C(p,α) 3, 5 O (T /2 = 2,04 menit) dapat berasal dari reaksi nuklir 5 (p,n) 5 O, atau 4 (d,n) 5 O dan 8 F (T /2 =09,8 menit) dapat berasal dari reaksi nuklir 8 O(p,n) 8 F. Kelompok kedua ini dapat diproduksi dengan menggunakan baby cyclotron karena hanya memerlukan energi proton dalam kisaran antara 7 sampai dengan 9 ev [4]. Spesifikasi berkas proton suatu siklotron ditandai dengan 2 parameter operasi utama yaitu besarnya arus dan energi berkas proton. rus berkas proton pada umumnya dapat mencapai lebih dari 50 µ. Fasilitas siklotron untuk PET biasanya menggunakan siklotron tingkat pertama atau tingkat kedua (baby cyclotron) yang mempunyai spesifikasi energi berkas proton yang berbeda-beda yaitu diantaranya adalah 7,5 ev, 9, ev, 0 ev, ev, 3 ev dan 8 ev. Pada makalah ini disajikan hasil perhitungan yield radionuklida yang diperoleh dari siklotron jenis baby yang didedikasikan untuk produksi FDG. Hasil yang diperoleh dari perhitungan tersebut diharapkan dapat dipakai untuk memprediksi aktivitas FDG yang akan dihasilkan dan sekaligus sebagai gambaran awal bagi calon pengguna siklotron dalam menentukan pilihan siklotron berdasarkan tingkat energi dan arus berkas proton yang dihasilkan untuk menentukan kapasitas produksinya. TT KERJ Dalam makalah ini dilakukan perhitungan aktivitas 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F dengan energi proton bervariasi antara 7,5 ev sampai dengan 8 ev. Siklotron diasumsikan beroperasi dengan arus berkas proton yang sebesar berturut-turut µ, 0 µ, 20 µ, 30 µ dan 40 µ, kemudian diiradiasikan pada target air diperkaya 8 O dengan pengkayaan 97%. Lama iradiasi dari 0 menit sampai dengan 20 menit (2 jam). Perhitungan aktivitas 8 F ini dilakukan tepat setelah berakhirnya iradiasi (activity at end of irradiation = EOI ). Perhitungan aktivitas FDG pada akhir sintesa (activity at end of synthesis = EOS ) juga disajikan dengan mengambil ratio EOS / EOI = 0,5. Perhitungan ktivitas 8 F dari Reaksi 8 O(p,n) 8 F ktivitas radionuklida 8 F yang dihasilkan dari reaksi 8 O(p,n) 8 F secara teoritis dapat ditentukan dengan formulasi [5] t ( e ) Y = φ. () dx dengan Y adalah aktivitas 8 F yang dihasilkan, adalah banyaknya partikel bermuatan penembak per satuan waktu, λ adalah tetapan peluruhan radioaktif dari radionuklida yang dihasilkan, t adalah lama waktu penembakkan, adalah bilangan vogadro, adalah rapat massa target, adalah nomor massa atom target, adalah energi ambang reaksi nuklir, adalah energi datang dari partikel penembak, adalah tampang lintang reaksi nuklir pada energi E dan, adalah stopping power partikel dx penembak dalam material target. Suku ( e ) t dari persamaan () dinamakan faktor waktu pertumbuhan sedangkan suku adalah faktor aktivitas jenuh. Secara ( ) dx praktis, beberapa konversi dari suku-suku dalam persamaan () dapat dimodifikasi sebagai berikut: Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Teknologi kselerator dan plikasinya Vol. 5, Oktober 203 : 53-59 54

. ilai φ dapat dikonversi kedalam besaran arus partikel bermuatan yaitu menjadi 8 6,25 0 Φ = (2) dengan I adalah arus partikel bermuatan penembak dan Z adalah nomor muatan partikel bermuatan tersebut. 2. Suku ( ) dx penjumlahan secara diskrit menjadi dapat diubah dalam bentuk ( dx) E (3) dengan E adalah step energi dari data tampang lintang reaksi nuklir dan stopping power yang diambil, dan besarnya E ini tergantung dari data yang tersedia. Dengan demikian maka persamaan () dapat dituliskan kembali menjadi 6,25 0 Y = 8 I t ( e ) ( dx) E. (4) HSIL D PEBHS ktivitas radionuklida 8 F dari reaksi nuklir 8 O(p,n) 8 F, dihitung dengan menggunakan persamaan (4) dan menggunakan parameter-parameter sebagai berikut:. I adalah arus proton, yang dalam perhitungan ini diambil antara µ sampai dengan 40 µ ( 0-6 sampai dengan 4 0-5 ), 2. λ adalah tetapan peluruhan dari 8 F yang besarnya 0,0063 per menit = 0,378 per jam, 3. t adalah lama iradiasi, ditetapkan mulai dari 0 menit sampai dengan 20 menit (⅙ jam sampai dengan 2 jam), 4. adalah bilangan vogadro, yang nilainya sama dengan 6,022 0 23 per mol, 5. adalah kerapatan massa atom 8 O dalam air. Jika digunakan air diperkaya produk ISOFLEX, dengan pengkayaan 97% maka nilai adalah 0,97 gr/cm 3 [6], 6. nomor massa 8 O yaitu 8, 7. E th energi proton ambang reaksi nuklir terkait sebesar 2,5 ev, 8. E i energi datang dari proton yang akan diambil sebesar 7,5; 9; 0; ; 3 dan 8 ev, 9. σ(e) adalah tampang lintang reaksi nuklir pada energi E (dari data base IE), 0. ( dx) stopping power proton pada material air diambildari perhitungan program SRI, dan. E, diambil 0,5 ev. Dengan menggunakan parameter di atas, diperoleh hasil perhitungan aktivitas 8 F pada akhir iradiasi (Y EOI ) dan aktivitas FDG pada akhir sintesis (EOS) untuk beberapa energi proton dan beberapa variasi lama iradiasi dengan arus berkas proton sebesar µ, hasil tersebut dapat dilihat pada Tabel. Dari Tabel tersebut, dapat dilihat bahwa untuk operasi siklotron selama jam (60 menit) dengan arus berkas µ, yield radionuklida 8 F yang diperoleh untuk energi berkas proton berturut-turut 7,5 ev; 9 ev; 0 ev; ev; 3 ev dan 8 ev adalah berturut-turut 29,476 mci; 40,057 mci; 44,49 mci; 50,885 mci; 58,69 mci; 72,679 mci. tau secara grafis yield radionuklida 8 F untuk energi 7,5 ev; 9 ev; 0 ev; ev; 3 ev dan 8 ev dengan arus berkas proton sebesar µ dapat dilihat pada Gambar. t (menit) Tabel. ktivitas radionuklida 8 F pada akhir iradiasi (Y EOI ) dan aktivitas FDG pada akkhir sintesa (EOS) untuk beberapa energi berkas proton dan beberapa variasi lama iradiasi dengan arus berkas proton sebesar µ. 7,5 ev 9 ev 0 ev ev 3 ev 8 ev (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) 0 5,726 2,863 7,782 3,89 8,643 4,322 9,885 4,943,402 5,70 4,9 7,060 20,077 5,5385 5,053 7,5265 6,720 8,360 9,22 9,56 22,056,028 27,33 3,657 30 6,46 8,073 2,942 0,97 24,37 2,86 27,873 3,937 32,49 6,075 39,82 9,906 40 20,934 0,467 28,448 4,224 3,597 5,799 36,38 8,069 4,682 20,84 5,66 25,808 50 25,345 2,6725 34,443 7,222 38,257 9,29 43,755 2,878 50,467 25,234 62,495 3,248 60 29,476 4,738 40,057 20,029 44,49 22,246 50,885 25,443 58,69 29,346 72,679 36,340 70 33,52 6,756 45,542 22,77 50,584 25,292 57,854 28,927 66,728 33,364 82,632 4,36 80 37,73 8,5865 50,57 25,259 56,0 28,055 64,74 32,087 74,08 37,009 9,659 45,830 90 40,647 20,3235 55,237 27,69 6,352 30,676 70,70 35,085 80,934 40,467 00,223 50,2 00 43,936 2,968 59,574 29,787 66,70 33,085 75,680 37,840 87,289 43,645 08,093 54,047 0 46,936 23,468 63,785 3,893 70,846 35,423 8,028 40,54 93,457 46,729 5,732 57,866 20 49,752 24,876 67,62 33,806 75,096 37,548 85,889 42,945 99,064 49,532 22,675 6,338 PREDIKSI SECR TEORI KTIVITS 8 F DRI HSIL REKSI 8 O(p,n) 8 F PD BEBERP SIKLOTRO EDIK 55

Gambar. Yield radionuklida 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F untuk beberapa variasi energi berkas proton dan beberapa variasi lama waktu iradiasi dengan arus berkas proton sebesar µ. Dari Tabel maupun dari Gambar, dapat diketahui bahwa yield radionuklida 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F pada penggunaan energi berkas proton berturut-turut 7,5 ev; 9 ev; 0 ev; ev dan 3 ev bila dibandingkan terhadap penggunaan energi berkas proton sebesar 8 ev hasilnya adalah berturut-turut sekitar 4%, 55%, 6%, 70% dan 80%. Pada Gambar 2 ditunjukkan yield radionuklida 8 F untuk arus berkas proton berturut-turut µ; 0µ; 20µ; 30µ dan 40 µ untuk beberapa variasi energi dan lama iradiasi. Dari Tabel maupun dari Gambar, dapat diketahui bahwa yield radionuklida 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F pada penggunaan energi berkas proton berturut-turut 7,5 ev; 9 ev; 0 ev; ev dan 3 ev bila dibandingkan terhadap penggunaan energi berkas proton sebesar 8 ev hasilnya adalah berturut-turut sekitar 4%, 55%, 6%, 70% dan 80%. Pada Gambar 2 ditunjukkan yield radionuklida 8 F untuk arus berkas proton berturut-turut µ; 0µ; 20µ; 30µ dan 40 µ untuk beberapa variasi energi dan lama iradiasi. (a) (b) (d) (e) (f) Gambar 2. Yield radionuklida 8 F untuk arus berkas proton berturut-turut µ; 0µ; 20µ; 30µ dan 40 µ pada beberapa variasi energi dan lama iradiasi. (a) untuk E=7,5 ev, (b) untuk E=9 ev, (c) untuk E=0 ev, (d) untuk E= ev, (e) untuk E=3 ev, (f) untuk E=8 ev. Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Teknologi kselerator dan plikasinya Vol. 5, Oktober 203 : 53-59 56

Dari Gambar 2 dapat dilihat bahwa semakin besar penggunaan energi berkas proton yaitu dari 7,5 ev hingga 8 ev, yield radionuklida 8 F yang dihasilkan semakin tinggi pula. amun demikian untuk penggunaan energi yang lebih tinggi lagi yield radionuklida ini akan menurun berkenaan dengan tampang lintang reaksi nuklir dari pembentukan 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F yang optimal adalah pada energi 8 ev. Lama iradiasi yang dilakukan dalam produksi radionuklida ini juga mempengaruhi yield radionuklida yang diperoleh. Bila dilihat dari formulasi persamaan () di atas, yaitu Suku ( ) dx dari persamaan () adalah merupakan faktor aktivitas jenuh, dimana untuk reaksi 8 O(p,n) 8 F, aktivitas jenuh pembentukan 8 F untuk setiap µ arus berkas proton pada energi berkas proton dari 3 ev hingga 8 ev ditunjukkan pada Gambar- 4 kurva (a), sedang Gambar-4 kurva (b) menunjukkan Yield yang diperoleh dari hasil perhitungan menggunakan formulasi dari persamaan () yang melibatkan faktor pertumbuhan. t ( e ) Y = φ., dx dengan suku ( e t ) merupakan faktor waktu pertumbuhan yang berbentuk eksponensial, maka semakin lama waktu iradiasi yang digunakan akan semakin besar yield radionuklida yang diperoleh. amun demikian nilai yield radionuklida tersebut akan mendekati nilai jenuhnya (mendekati faktor ) mana kala suku e λ t semakin kecil, atau lama waktu iradiasi semakin panjang. Sehingga ada nilai batas waktu (lama iradiasi) tertentu hingga menjadikan produksi radionuklida ini sudah tidak efektif lagi. Kenaikan yield terhadap waktu yang paling efektif adalah untuk waktu iradiasi sampai dengan satu umur paro dari radionuklida yang bersangkutan (Gambar 3). Sedang dari nilai φ yang merupakan jumlah atau banyaknya partikel bermuatan penembak per satuan waktu yang dalam hal ini dapat dikonversi kedalam besarnya arus berkas partikel bermuatan dalam bentuk 8 6,25 0 I Φ =. Untuk partikel penembak proton, maka nilai Z =. Dari persamaa persamaan tersebut tampak bahwa yield radionuklida yang dihasilkan adalah linier terhadap penggunaan arus berkas I. Gambar 3. Faktor waktu pertumbuhan ( e t ) dari radionuklida 8 F dari reaksi nuklir 8 O(p,n) 8 F sebagai fungsi lama iradiasi. PREDIKSI SECR TEORI KTIVITS 8 F DRI HSIL REKSI 8 O(p,n) 8 F PD BEBERP SIKLOTRO EDIK Gambar 4. Yield radionuklida 8 F yang diperoleh untuk setiap µ arus berkas proton dari reaksi 8 O(p,n) 8 F untuk energi proton dari 3 sampai dengan 8 ev. (a) yield 8 F dari faktor aktivitas jenuh dan(b) yield 8 F dari formulasi persamaan (). Dari hasil perhitungan dengan menggunakan formulasi persamaan () terlihat bahwa yield radionuklida 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F mulai dari energi berkas proton 3 ev sampai dengan 8 ev cenderung meningkat, dan peningkatan tersebut dapat didekati dengan tiga interval peningkatan, yang pertama adalah interval energi dari 3 sampai dengan 4 ev mempunyai gradient (atau dy dx ) sebesar 2,5 mci/ev, yang kedua adalah interval energi dari 4 sampai dengan ev mempunyai gradient sebesar 6 mci/ev dan yang ketiga adalah interval energi dari 2 hingga 8 ev yang mempunyai gradient sebesar 3,6 mci/ev, sehingga dapat dikatakan bahwa pada interval energi dari 4 sampai ev akan menghasilkan penambahan yield radionuklida yang terbesar pada setiap penambahan energi berkas proton dibandingkan dengan dua interval energi lainnya. Pada Gambar 5 ditunjukkan kapasitas produksi 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F pada siklotron yang mempunyai energi berturut-turut 7,5 ev, 9 ev, 0 ev, ev, 3 ev dan 8 ev bila siklotron dioperasikan pada arus berkas proton sebesar 40 µ dan lama waktu iradiasi jam. 57

Gambar 5. Kapasitas produksi 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F pada beberapa siklotron untuk arus berkas proton 40 µ dan lama iradiasi jam. Dari Gambar 5 tersebut dapat dilihat bahwa kapasitas produksi 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F yang terbesar adalah yang dihasilkan oleh siklotron yang mempunyai energi berkas proton sebesar 8 ev yang besarnya sekitar 2.900 mci untuk arus berkas 40 µ dan lama iradiasi jam, sedang untuk siklotron yang mempunyai energi berkas berturut-turut 3 ev, ev, 0 ev, 9 ev dan 7,5 ev untuk kondisi operasi siklotron yang sama, yaitu untuk arus berkas 40 µ dan lama iradiasi jam, mempunyai kapasitas produksi sebesar berturut-turut sekitar (dengan pembulatan ratusan) 2.300 mci, 2.000 mci,.800 mci,.600 mci dan.200 mci atau berturut-turut sekitar 80%, 70%, 6%, 55% dan 4% bila dibandingkan dengan kapasitas produksi dari siklotron yang mempunyai energi berkas proton 8 ev. KESIPUL Hasil prediksi yield aktivitas 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F untuk beberapa siklotron medik yang diperoleh secara teori menunjukkan bahwa semakin besar penggunaan energi berkas proton yaitu dari 7,5 ev hingga 8 ev, semakin tinggi pula yield radionuklida 8 F yang dihasilkan. amun demikian untuk penggunaan energi yang lebih tinggi lagi yield radionuklida ini akan menurun berkenaan dengan tampang lintang reaksi nuklir dari pembentukan 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F yang optimal adalah pada energi 8 ev. Lama selang waktu iradiasi dalam produksi radionuklida ini juga mempengaruhi yield radionuklida yang diperoleh, yaitu semakin lama waktu iradiasi yang digunakan akan semakin besar yield radionuklida yang diperoleh. amun demikian nilai yield radionuklida tersebut akan mendekati nilai jenuhnya e λ t (mendekati faktor ) mana kala suku semakin kecil, atau lama waktu iradiasi semakin panjang, sehingga ada nilai batas waktu (lama iradiasi) tertentu hingga menjadikan produksi radionuklida ini sudah tidak efektif lagi. Kenaikan yield terhadap waktu yang paling efektif adalah untuk waktu iradiasi sampai dengan satu umur paro dari radionuklida yang bersangkutan. Kapasitas produksi 8 F dari reaksi 8 O(p,n) 8 F yang terbesar adalah yang dihasilkan oleh siklotron yang mempunyai energi berkas proton sebesar 8 ev yang besarnya sekitar 2.900 mci untuk arus berkas 40 µ dan lama iradiasi jam, sedang untuk siklotron yang mempunyai energi berkas berturut-turut 3 ev, ev, 0 ev, 9 ev dan 7,5 ev untuk kondisi operasi siklotron yang sama, yaitu untuk arus berkas 40 µ dan lama iradiasi jam, mempunyai kapasitas produksi sebesar berturut-turut sekitar (dengan pembulatan ratusan) 2.300 mci, 2.000 mci,.800 mci,.600 mci dan.200 mci atau berturut-turut sekitar 80%, 70%, 6%, 55% dan 4% bila dibandingkan dengan kapasitas produksi dari siklotron yang mempunyai energi berkas proton 8 ev. DFTR PUSTK [] RCEL GUILLE, et.al, Recommendations for Fluorine-8 Production, ppl. Radiat.Isot. Vol.42 o.8, pp 749-762, Inst. J. Radiat. ppl. Instrum. Part, Pergumon Press, Great Britain, 99. [2] TIOTHY J. TEWSO, Procedures, Pitfalls and Solutions in the Production of [ 8 F]2-Deoxy- 2-fluoro-D-glucose: a Paradigm in the Routine Synthesis of Fluorine-8 Radiopharmaceuticals, ucl. ed. Biol. Vol.6., pp. 533-55., Int.J.Radiat.ppl. Instrum., Part B, Pergumon Press, Great Britain, 989. [3] H. H. COEE, et.al., Recommendation for Practical Production of [2-8 F] Fluoro-2-Deoxy- D-Glucose., ppl. Radiat.Isot. Vol.38 o.8, pp 608-60, Inst. J. Radiat. ppl. Instrum. Part, Pergumon Press, Great Britain, 987. [4] Cyclotron Produced Radionuclides: Guidelines for Setting Up a Facility, Technical Reports Series no. 47, International tomic Energy gency, Vienna, 2009. [5] CRLOS GOZLEZ LEPER, PET Radionuclides Production Cyclotron Selection and Location, Cyclotope and Experimental Diagnostic Imaging, The University of Texas D nderson Cancer Center Houston, TX. www.aapm.org/meetings/08ss, diunduh pada 5 ovember 202. [6] http://www.isoflex.com/isotopes/o8.html, diunduh pada 9 Oktober 202. [7] Charged Particle Cross Section Database for edical Radioisotope Production, IE TECDOC-2, IE, Vienna 200. Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Teknologi kselerator dan plikasinya Vol. 5, Oktober 203 : 53-59 58

TY JWB Darsono Bagaimana cara menghitung production yield dari F 8, padahal grafik dan tampang lintang reaksi fungsi energi proton berbentuk puncak-puncak yang tidak teratur? Hari Suryanto Untuk menghitung production yield, adalah dari t Y = φ. e persamaan (), yaitu ( ) dx diubah dahulu menjadi 8 6,25 0 I t persamaan (4), yaitu Y = ( e ) ( dx) E dengan E dalah step energi dari data tampang lintang reaksi nuklir dan stopping power yang diambil, nilai tersebut dapat diambil dari tabel stopping power sebagai fungsi energi yang dihitung melalui program SRI. PREDIKSI SECR TEORI KTIVITS 8 F DRI HSIL REKSI 8 O(p,n) 8 F PD BEBERP SIKLOTRO EDIK 59