BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN. karakterisasi tegangan keluaran detektor terhadap pergeseran cermin. Selanjutnya,

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini akan dijelaskan tentang metode penelitian aplikasi multimode

BAB III METODE PENELITIAN. Mulyorejo Surabaya pada bulan Februari 2012 sampai bulan Juni 2012.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. gelombang cahaya yang terbuat dari bahan silica glass atau plastik yang

Studi Awal Aplikasi Fiber coupler Sebagai Sensor Tekanan Gas

Deteksi Konsentrasi Kadar Glukosa Dalam Air Destilasi Berbasis Sensor Pergeseran Serat Optik Menggunakan Cermin Cekung Sebagai Target

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam Bab IV ini akan dipaparkan hasil penelitian aplikasi multimode fiber

BAB III METODE PENELITIAN. mulai bulan Maret 2011 sampai bulan November Alat alat yang digunakan dalam peneletian ini adalah

APLIKASI DIRECTIONAL COUPLER DAN DOUBLE COUPLER SEBAGAI SENSOR PERGESERAN BERDIMENSI MIKRO

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada bagian ini akan diperlihatkan hasil penelitian aplikasi multimode fiber

BAB I PENDAHULUAN. dengan tujuan dan manfaat dari penelitian ini. teknologi telekomunikasi, terutama dalam era moderen seperti sekarang ini.

Sensor Ketinggian Permukaan Oli Berbasis Sensor Pergeseran Fiber Coupler

Sensor Indeks Bias Larutan Menggunakan Fiber Coupler

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. mengalami suatu gaya geser. Berdasarkan sifatnya, fluida dapat digolongkan

Studi Teori dan Eksperimen Sensor Pergeseran Menggunakan Fiber Coupler dengan Target Cermin Cekung

Kata kunci : laju aliran udara, tabung venturi dan fiber coupler.

Analisis Pengaruh Panjang Kupasan dan Perubahan Suhu Terhadap Pancaran Intensitas pada Serat Optik Plastik Multimode Tipe FD

FABRIKASI DAN KARAKTERISASI DIRECTIONAL SINGLE DAN DOUBLE COUPLER PADA BAHAN SERAT OPTIK PLASTIK STEP INDEX MULTIMODE TIPE FD

Pengembangan Spektrofotometri Menggunakan Fiber Coupler Untuk Mendeteksi Ion Kadmium Dalam Air

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. spektrofotometer UV-Vis dan hasil uji serapan panjang gelombang sampel dapat

PEMANFAATAN PENGUKURAN REDAMAN SERAT OPTIK MENGGUNAKAN OTDR UNTUK MENDETEKSI KADAR GLUKOSA DALAM AIR

Fabrikasi Directional Coupler Serat Optik Multimode

ANALISIS PENGARUH PEMBENGKOKAN PADA ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN AIR MENGGUNAKAN SISTEM SENSOR SERAT OPTIK

Deteksi Kadar Glukosa dalam Air Destilasi Berbasis Sensor Pergeseran Menggunakan Fiber Coupler

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. tiga jenis bahan pembuat gigi yang bersifat restorative yaitu gigi tiruan berbahan

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 4, No.2, (2015) ( X Print) B-50

Rancang Bangun Directional Coupler Konfigurasi 3x3 Planar Step Index Multimode Fiber Optic sebagai Sensor Kemolaran dan ph

DAB I PENDAHULUAN. komponen utama dan komponen pendukung yang memadai. Komponen. utama meliputi pesawat pengirim sinyal-sinyal informasi dan pesawat

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol.6, No.1, (2017) ( X Print) B-9

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 4, No.2, (2015) ( X Print) B-38

PERANCANGAN SENSOR SERAT OPTIK UNTUK PENGUKURAN PERGESERAN OBYEK DALAM ORDE MIKRON MENGGUNAKAN SERAT OPTIK MULTIMODE WIDYANA

APLIKASI SERAT OPTIK SEBAGAI INDIKATOR KETINGGIAN CAIRAN DENGAN METODE DETEKSI RUGI DAYA OPTIS AKIBAT PELENGKUNGAN DAN PEMOLESAN

BAB I PENDAHULUAN. informasi dengan kapasitas besar dengan keandalan yang tinggi. Pada awal

BAB III METODE PENELITIAN

OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2010 BIDANG ILMU FISIKA

Sistem Pengembangan Pendeteksian Indeks Bias Zat Cair Menggunakan Serat Optik Singlemode Berbasis Otdr (Optical Time Domain Reflectometer)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PROPOSAL SKRIPSI PERANCANGAN DIRECTIONAL COUPLER VARIABLE MENGGUNAKAN DUA JENIS SERAT OPTIK MULTIMODE

BAB III METODE PENELITIAN

Fiber Optics (serat optik) Oleh: Ichwan Yelfianhar (dirangkum dari berbagai sumber)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Absorbansi Probe Sensor terhadap Variasi Konsentrasi Gas H 2 S

APLIKASI SERAT OPTIK SEBAGAI SENSOR KEKENTALAN OLI MESRAN SAE 20W-50 BERBASIS PERUBAHAN TEMPERATUR

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Waktu penelitian ini direncanakan selama tiga bulan yang dimulai dari

MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK PENGUKURAN REDAMAN PADA KABEL SERAT OPTIK DENGAN OTDR

BAB III TEORI PENUNJANG. Perambatan cahaya dalam suatu medium dengan 3 cara : Berikut adalah gambar perambatan cahaya dalam medium yang ditunjukkan

BAB III. Tahap penelitian yang dilakukan terdiri dari beberapa bagian, yaitu : Mulai. Perancangan Sensor. Pengujian Kesetabilan Laser

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Studi literatur. Pengujian daya optik pada sensor serat optik

APLIKASI OPTIK DAN FIBER OPTIK SEBAGAI SENSOR ph

PERANCANGAN SENSOR SERAT OPTIK UNTUK PENGUKURAN PERGESERAN OBYEK DALAM ORDE MIKROMETER MENGGUNAKAN SERAT OPTIK MULTIMODE

RANCANG BANGUN TERMOMETER SUHU TINGGI DENGAN TERMOKOPEL

Analisis Sensor Regangan dengan Teknik Pencacatan Berbasis Serat Optik Multimode Step-Index

2015 DESAIN DAN OPTIMASI FREKUENSI SENSOR LINGKUNGAN BERBASIS PEMANDU GELOMBANG INTERFEROMETER MACH ZEHNDER

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

TUGAS. : Fitrilina, M.T OLEH: NO. INDUK MAHASISWA :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. jalan Kolam No. 1 / jalan Gedung PBSI Telp , Universitas Medan

BAB II SISTEM KOMUNIKASI SERAT OPTIK

PENGEMBANGAN SENSOR KETINGGIAN FLUIDA BERBASIS POLYMER OPTICAL FIBER (POF) BERBENTUK NON-BENDED

Aslam Chitami Priawan Siregar, Agus Muhamad Hatta

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. terhadap pergeseran cermin untuk menentukan faktor konversi, dan grafik

ANALISA RUGI-RUGI PELENGKUNGAN PADA SERAT OPTIK SINGLE MODE TERHADAP PELEMAHAN INTENSITAS CAHAYA

BAB II LANDASAN TEORI

PERANCANGAN ALAT UKUR TSS (TOTAL SUSPENDED SOLID) AIR MENGGUNAKAN SENSOR SERAT OPTIK SECARA REAL TIME

DESAIN FIBER SENSOR BERBASIS RUGI-RUGI KARENA BENDING UNTUK STRAIN GAUGE

Analisis Penggunaan Gelatin Sapi dan Gelatin Babi sebagai Cladding pada Serat Optik untuk Perancangan Sensor Kelembaban

Aplikasi Sensor Pergeseran Serat Optik untuk Mengukur Lapisan Tipis Hidroxiapatit

Aslam Chitami Priawan Siregar, Agus Muhamad Hatta

Momentum, Vol. 9, No. 1, April 2013, Hal ISSN ANALISA KONDUKTIVITAS TERMAL BAJA ST-37 DAN KUNINGAN

Soal dan Jawab Eksperimen OSN 2010

Oleh : Akbar Sujiwa Pembimbing : Endarko, M.Si., Ph.D

Overview Materi. Panduan gelombang fiber optik Struktur Serat Optik Tipe-tipe serat optik. Kabel Optik

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juli Penelitian ini

KAJIAN RUGI-RUGI AKIBAT MAKROBENDING PADA SERAT OPTIK PLASTIK BERBASIS PC

BAB IV PENGUJIAN DAN EVALUASI SISTEM

Perkembangan bahan elektronik dan serat optik sudah mendukung. pengukurannya. Pengukuran kelembaban udara sangat penting di berbagai sektor

SMP kelas 9 - FISIKA BAB 8. SUHU DAN PEMUAIANLATIHAN SOAL BAB 8. Berdasarkan gambar di atas skala termometer Fahrenheit akan menunjukkan angka...

KARAKTERISASI RUGI LENGKUNGAN SERAT OPTIK DENGAN OPTICAL TIME DOMAIN REFLECTOMETER UNTUK PENGGUNAANNYA SEBAGAI SENSOR PERGESERAN TANAH

PERANCANGAN PENYEBARAN DAYA PADA SINGLE-MODE FIBER DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN LITHIUM NIOBATE (LiNbO 3 ) DAN PARAFIN (C 20 H 42 )

PENERIMA OPTIK OPTICAL RECEIVER

11/9/2016. Jenis jenis Serat Optik. Secara umum blok diagram transmisi komunikasi fiber optik. 1. Single Mode Fiber Diameter core < Diameter cladding

BAB II TINJAUAN UMUM HUKUM-HUKUM OPTIK

BAB 3 METODE PENGUJIAN

FABRIKASI DAN KARAKTERISASI DIRECTIONAL COUPLER KONFIGURASI 3 3 SUSUNAN SEGITIGA BERBAHAN SERAT OPTIK PLASTIK STEP INDEX MULTIMODE TIPE FD

Analisis Elektromotansi Termal antara Pasangan Logam Aluminium, Nikrom dan Platina sebagai Termokopel

Fabrikasi Directional Coupler Serat Optik Multimode

PERANCANGAN SENSOR KELEMBABAN MENGGUNAKAN SERAT OPTIK DENGAN CLADDING GELATIN+CoCl 2

RANCANG BANGUN INSTRUMENTASI TEMPERATUR TINGGI MENGGUNAKAN PRINSIP DEFLEKSI LASER HE-NE SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM KENDALI OPERASI DI BIDANG INDUSTRI

METODE PENELITIAN. Desain pengembangan ini menggunakan pendekatan penelitian pengembangan

LABORATORIUM SISTEM TRANSMISI

Analisis Sensor Pengukuran Konsentrasi Glukosa Prinsip Macrobending Pada Serat Optik Multimode Step-Index

I. PENDAHULUAN. Kaca merupakan salah satu produk industri kimia yang banyak digunakan dalam

LEMBAR KERJA (LAPORAN ) PRAKTIKUM IPA SD PDGK 4107 MODUL 5. KALOR PERUBAHAN WUJUD ZAT dan PERPINDAHANNYA PADA SUATU ZAT

BAB II LANDASAN TEORI. DS18B20 dengan menggunkan Mikrokontroller ATMega 8 serta cara

FABRIKASI SENSOR PERGESERAN BERBASIS MACROBENDING SERAT OPTIK

KALOR. Peta Konsep. secara. Kalor. Perubahan suhu. Perubahan wujud Konduksi Konveksi Radiasi. - Mendidih. - Mengembun. - Melebur.

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN Pada bagian ini akan dipaparkan prosedur pengambilan data dari penelitian ini. Namun sebelumnya, terlebih dahulu mengetahui tempat dan waktu penelitian, alat dan bahan yang dipakai dalam penelitian serta mengetahui desain sensor. Prosedur pengambilan data dilakukan untuk karakterisasi pergeseran cermin terhadap port sensing dan karakterisasi multimode fiber coupler sebagai sistem sensor suhu. 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian di Laboratorium Fisika Optik dan Aplikasi Laser Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Penelitian laboratorium dilakukan dalam waktu 5 bulan mulai bulan Februari 2011 sampai dengan bulan Juni 2011. 3.2. Bahan dan Alat Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah logam tembaga, sedangkan alat yang digunakan adalah: a. Fiber Coupler simetri 2x2. Fiber coupler simetri 2x2 yang digunakan pada penelitian ini terbuat dari bahan serat optik plastik dengan diameter core 950 µm, dan cladding 25 μm dengan nilai parameter Coupling Ratio = 0,319. Toleransi Coupling Ratio = 10.972%, Crosstalk = 28.370 db, excess lose = 2.560 db. Laser He-Ne 1 mw (leybold). 40

41 b. Laser He-Ne, uniphase laser klasse 2 DIN 58126 dengan panjang gelombang 632,8 nm dan keluaran 1 mw. Panjang koherensi laser ini sekitar 20 cm (Vest, 1979) yang berfungsi sebagai sumber cahaya. c. Detektor Optik 101. Detektor Optik 101 merupakan foto detektor yang beroperasi baik pada daya optik yang rendah, mempunyai kepekaan yang tingi pada daerah dekat panjang gelombang cahaya merah. Detektor ini berfungsi untuk mendeteksi perubahan daya optik cahaya akibat pergeseran cermin yang disebabkan oleh expansi linear logam tembaga. Dengan foto detektor yang sangat peka tersebut diharapkan expansi linear logam tembaga akibat perubahan suhu yang kecil dapat dideteksi. d. Mikrovoltmeter tipe LH 53213. Mikrovoltmeter berfungsi untuk membaca tegangan keluaran detektor optik saat terkena cahaya. e. Blower Pemanas Blower pemanas berfungsi untuk memanaskan logam tembaga, sehingga logam tembaga mengalami perubahan suhu. Suhu terendah blower 100 C dan suhu tertinggi 480 C. f. Termometer Digital Termometer digital berfungsi untuk membaca perubahan suhu pada logam. Termometer digital yang digunakan mempunyai probe berbentuk termokopel dengan display dari seven segmen.

42 g. Cermin Cermin berfungsi untuk memantulkan semua cahaya yang dipancarkan oleh port sensing. Cermin ditempatkan pada salah satu ujung batang logam tembaga yang bebas bergerak selama proses pemuaian termal, sehingga ketika logam memuai cermin akan bergeser. Cermin yang digunakan adalah cermin front silver. Hal ini bertujuan agar cahaya yang diterima oleh cermin sebagian besar dapat dipantulkan kembali menuju port sensing. h. Perangkat pendukung Perangkat pendukung yang dibutuhkan berupa bangku optik, holder, statif, serta kabel-kabel pendukung. 3.3. Desain Sensor Desain sistem sensor suhu menggunakan multimode fiber coupler dengan tembaga sebagai probe ditunjukkan oleh Gambar 3.1. port masukan sensing z bahan isolator logam tembaga laser detektor port deteksi Fiber Coupler cermin aluminium Blower Pemanas Gambar 3.1. Desain Multimode Fiber Coupler Sebagai Sistem sensor suhu Prinsip kerja dari sistem sensor suhu tersebut sebagai berikut: cahaya dari laser dimasukkan ke port masukan fiber coupler, kemudian sebagian cahaya

43 tersebut dipancarkan oleh port sensing menuju ke cermin. Cahaya dipantulkan kembali oleh cermin menuju port sensing dan sebagian cahaya tersebut terkopel menuju detektor. Logam tembaga dipanaskan menggunakan blower pemanas sehingga terjadi perubahan suhu. Perubahan suhu logam mengakibatkan terjadinya perubahan panjang logam sehingga cermin mengalami pergeseran. Dengan demikian, perubahan suhu pada logam tembaga dapat terdeteksi melalui perubahan daya optis yang diterima oleh detektor. 3.4. Pengambilan Data 3.4.1. Karakterisasi Pergeseran Cermin Terhadap Sensing Karakterisasi pergeseran cermin terhadap port sensing bertujuan untuk menentukan daerah linear pergeseran cermin terhadap perubahan daya optik yang masuk ke port sensing yang diterima oleh detektor pada keadaan logam tidak dipanasi (blower pemanas tidak diaktifkan). Set-up alat yang digunakan ditunjukkan pada Gambar 3.2. laser masukan n coupler sensing cermin Bahan Isolator Logam detektor port deteksi mikrometer Mikrovoltmeter Gambar 3.2. Set-up peralatan karakterisasi pergeseran cermin terhadap port sensing

44 Langlah-langkah untuk melakukan karakterisasi pergeseran cermin terhadap port sensing adalah sebagai berikut: 1. Laser dinyalakan dan ditembakkan ke port masukan fiber coupler, selanjutnya sebagian dari cahaya tersebut dipancarkan oleh port sensing menuju ke cermin. Cahaya pantulan dari cermin diterima kembali oleh port sensing dan sebagian cahaya tersebut terkopel menuju ke detektor melalui port deteksi. 2. Cermin digeser hingga cermin berhimpit dengan port sensing. 3. Setelah cermin berhimpit dengan port sensing, port sensing digeser menjauhi cermin sejauh 20 µm (0,02 mm) sampai tidak didapatkan perubahan tegangan (konstan). 4. Perubahan pergeseran dicatat setiap 20 µm yang terdeteksi pada detektor. 3.4.2. Karakterisasi Multimode Fiber Coupler Sebagai Sistem sensor suhu Set-up peralatan yang digunakan pada karakterisasi multimode fiber coupler sebagai sistem sensor suhu ditunjukkan pada Gambar 3.3. laser masukan coupler sensing cermin Logam tembaga termokopel detektor port deteksi mikrometer mikrovoltmeter Termometer digital Blower pemanas Gambar 3.3. Set-up peralatan karakterisasi multimode fiber coupler sebagai sistem sensor suhu

45 Langkah-langkah untuk menentukan karakterisasi multimode fiber coupler sebagai sistem sensor suhu adalah sebagai berikut: 1. Tiga buah logam tembaga silinder disiapkan dengan ukuran 7 cm dengan diameter masing-masing 3 mm, 4 mm dan 5mm. 2. Memasang logam tembaga yang berdiameter 3 mm ditempat yang sudah ditentukan. 3. Suhu logam tembaga diukur pada suhu ruang. 4. Laser dinyalakan dan ditembakkan ke port masukan fiber coupler. 5. Mencatat tegangan keluaran detektor dan posisi mikrovoltmeter, kemudian menjauhkan mikrovoltmeter menjauhi cermin pada rentang daerah linear karakterisasi pergeseran cermin terhadap port sensing. 6. Logam tembaga dipanaskan dengan cara udara panas dihembuskan dari blower pemanas pada suhu terendah yang dihasilkan oleh blower (100 C) sampai suhu tertinggi blower (480 C ) sehingga cermin bergeser mendekati port sensing dan dibiarkan beberapa saat hingga logam tembaga tidak memuai lagi. 7. Posisi port sensing digeser sampai berhimpit dengan cermin, dicatat tegangan keluaran detektor, thermometer digital dan posisi mikrovoltmeter. 8. Pemanasan pada logam tembaga dihentikan sampai suhu logam tembaga kembali ke suhu sebelum pemanasan (suhu ruang).

46 9. Suhu blower dinaikkan hingga suhu thermocouple naik sebesar 2 C secara berkala. Hal ini dilakukan sampai pada suhu tertinggi yang dihasilkan oleh blower, yaitu 480 C dengan mencatat tegangan keluaran detektor. 10. Mengulangi Langkah 2 sampai 9 untuk logam tembaga dengan diameter 4 mm dan 5 mm. 3.5. Analisis Data 3.5.1. Karakterisasi Pergeseran Cermin Terhadap Sensing Langkah 3.4.1. akan menghasilkan data keluaran tegangan output detektor (V od ) sebagai fungsi pergeseran port sensing. Data hasil penelitian akan ditabulasikan pada Tabel karakterisasi pergeseran cermin terhadap port sensing seperti terlihat pada Lampiran 1. Untuk mendapatkan daerah linear hubungan antara tegangan keluaran detektor terhadap pegeseran, maka data pada Tabel karakterisasi pergeseran cermin terhadap port sensing dilakukan plot data tegangan keluaran detektor terhadap pegeseran, yaitu tampak pada Gambar 4.1. Sehingga didapatkan grafik hubungan antara tegangan keluaran detektor terhadap pergeseran port sensing. Dari grafik tersebut dicari daerah yang diperkirakan merupakan daerah linear, kemudian daerah yang diperkirakan merupakan daerah linear (Gambar 4.5) tersebut diuji dengan menggunakan persamaan garis linear, yaitu. Dengan ketentuan daerah tersebut dikatakan linear jika koefisien korelasi (R²) mendekati 1.

47 3.5.2. Karakterisasi Multimode Fiber Coupler Sebagai Sistem sensor suhu Dengan menggunakan daerah linear karakterisasi pergeseran cermin terhadap port sensing, maka dilakukan langkah 3.4.2. akan menghasilkan data perubahan tegangan keluaran detektor (V od ) terhadap perubahan suhu logam yang tercatat pada termometer yang akan ditabulasikan pada Tabel karakterisasi multimode fiber coupler sebagai sistem sensor suhu, yaitu tampak pada Lampiran 2, Lampiran 3 dan Lampiran 4 untuk masing-masing ukuran diameter tembaga 3 mm, 4 mm dan 5 mm. Untuk mendapatkan daerah linear hubungan antara perubahan tegangan keluaran detektor (V od ) terhadap perubahan suhu, maka data pada Tabel karakterisasi multimode fiber coupler sebagai sistem sensor suhu dilakukan plot data perubahan tegangan keluaran detektor (V od ) terhadap perubahan suhu. Sehingga didapatkan grafik hubungan antara perubahan tegangan keluaran detektor (V od ) terhadap perubahan suhu (Gambar 4.2, Gambar 4.3 dan Gambar 4.4). Dari grafik tersebut dicari daerah yang diperkirakan merupakan daerah linear (Gambar 4.7, Gambar 4.8 dan Gambar 4.9), kemudian daerah yang diperkirakan merupakan daerah linear tersebut diuji dengan menggunakan persamaan garis linear, yaitu. Degan ketentuan daerah tersebut dikatakan linear jika koefisien korelasi (R²) mendekati 1. Dari daerah linear dapat diketahui sensitivitas dan daerah kerja sensor. Serta pada langkah 3.4.2, akan didapatkan response time (t r ), yaitu dengan menggunakan persamaan: