ABSTRACT ABSTRAK I. PENDAHULUAN

dokumen-dokumen yang mirip
I. PENDAHULUAN. Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri patogen serangga yang

BAB I PENDAHULUAN. Serangga merupakan hewan yang paling banyak jumlah dan ragamnya di

PENGARUH EKSTRAK ETANOL CABAI MERAH

UJI EFEKTIVITAS PESTISIDA NABATI BINTARO (Cerbera manghas) TERHADAP HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN KEDELAI

Uji Toksisitas Potensi Insektisida Nabati Ekstrak Kulit Batang Rhizophora mucronata terhadap Larva Spodoptera litura

Pengujian Beberapa Konsentrasi Bacillus thuringiensis Berliner dalam Mengendalikan Hama Ulat Daun Selada {Lactuca sativa)

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Kecepatan Kematian. nyata terhadap kecepatan kematian (lampiran 2a). Kecepatan kematian Larva

BAB I PENDAHULUAN. kedelai dan industri pakan ternak. Rata rata kebutuhan kedelai setiap tahun sekitar ± 2,2 juta

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penyiapan Tanaman Pakan Pembiakan Serangga Uji

PENCAMPURAN MEDIA DENGAN INSEKTISIDA UNTUK PENCEGAHAN HAMA Xyleborus morstatii Hag. PADA BIBIT ULIN ( Eusideroxylon zwageri T et.

PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PENGHASIL GAHARU

I. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2014 di Laboratorium. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. Dapat diklasifikasikan

TATA CARA PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sirih hijau (Piper betle L.) sebagai pengendali hama Plutella xylostella tanaman

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai

UJI BEBERAPA KONSENTRASI EKSTRAK BIJI PINANG

BAB III METODE PENELITIAN. Lengkap (RAL) yang terdiri atas kontrol positif dan lima perlakuan variasi

3 DASAWARSA BPK BANJARBARU : PENELITIAN HAMA & PENYAKIT TANAMAN KEHUTANAN. Oleh : Beny Rahmanto Fajar Lestari Wawan Halwany

BAB I PENDAHULUAN. ulat grayak merupakan hama penting pada tanaman tembakau (Nicotiana tabacum

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), adapun sistematika dari hama ini adalah

ABSTRAK UJI EKSTRAK BUAH CABAI RAWIT SEBAGAI PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA ULAT TITIK TUMBUH PADA TANAMAN SAWI

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan September 2012

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian dengan pemberian ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.)

APAKAH APLIKASI BIOPESTISIDA SUDAH EFEKTIF?

PEMANFAATAN EKSTRAK KLOROFORM KULIT BATANG TUMBUHAN NYIRI BATU (Xylocarpus moluccensis (Lamk) M. Roem.) (Meliaceae) SEBAGAI BIOINSEKTISIDA

I. TINJAUAN PUSTAKA. dengan teknik rekayasa genetik (Khetan, 2001). Bacillus thuringiensis

BAB I PENDAHULUAN. (Rismunandar, 1993). Indonesia memiliki beragam jenis beras dengan warna nya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

MATERI BIOTEKNOLOGI MODERN JAGUNG TRANSGENIK. Disusun Oleh : NURINSAN JUNIARTI ( ) RISKA AMELIA ( )

UJI EFEKTIFITAS BEBERAPA ENTOMOPATOGEN PADA LARVA Oryctes rhinoceros L. (Coleoptera: Scarabaeidae) DI LABORATORIUM SKRIPSI. Oleh :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Isolat M. anisopliae pada Berbagai Konsentrasi terhadap

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Tempat: Penelitian dilakukan di Green House Kebun Biologi, Fakultas. 2. Waktu: Bulan Desember Februari 2017.

UJI EFEKTIFITAS EKSTRAK NIKOTIN FORMULA 1 (PELARUT ETHER) TERHADAP MORTALITAS Aphis gossypii (HOMOPTERA; APHIDIDAE)

Uji Efektivitas Berbagai Konsentrasi Pestisida Nabati Bintaro (Cerbera manghas) terhadap Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura) pada Tanaman Kedelai

5. Cekaman Lingkungan Biotik: Penyakit, hama dan alelopati 6. Stirilitas dan incompatibilitas 7. Diskusi (presentasi)

BAHAN DAN METODE. tempat ± 30 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Awal Juli sampai

I. PENDAHULUAN. lebih dari setengah penduduk menggantungkan hidupnya pada beras yang

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMANFAATAN LIMBAH BATANG TEMBAKAU UNTUK PENGENDALIAN HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura F.)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Identifikasi dan Karakterisasi Bacillus thuringensis. Penelitian Agus (2011) Bacillus thuringiensis adalah bakteri

BAB I PENDAHULUAN. mudah ditembus oleh alat-alat pertanian dan hama atau penyakit tanaman

BAHAN DAN METODE. Pestisida, Medan Sumut dan Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Medan

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Tempat : Penelitian ini dilaksanakan di Green House Kebun. Biologi FMIPA UNY.

Oleh: Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. terhadap larva Spodoptera litura. Isolat lokal yang digunakan untuk adalah DKS-

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Ulat Api Setothosea asigna Eecke (Lepidoptera: Limacodidae)

I. PENDAHULUAN. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakann penyakit yang. berkaitan erat dengan kenaikan populasi vektor Aedes aegypty.

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. menghasilkan tingkat penolakan yang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan

HAMA URET PADA TANAMAN KAPUR (Dryobalanops lanceolata Burck)

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Jurusan Proteksi Tanaman

UJI EFIKASI EKSTRAK DAUN MIMBA TERHADAP LARVA DOLESCHALLIA POLIBETE CRAMER (NYMPHALIDAE: LEPIDOPTERA) PADA TANAMAN HANDEULEUM (GRAPTOPHYLLLUM PICTUM)

HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMBUATAN CUKA KAYU DAN APLIKASINYA PADA TANAMAN. Oleh : Sri Komarayati

BAB I PENDAHULUAN. yang perlu dikembangkan adalah produk alam hayati (Sastrodiharjo et al.,

POTENSI BIOAKTIVITAS INSEKTISIDA DARI EKSTRAK KLOROFORM TUMBUHAN API-API JAMBU (Avicennia Marina)

BAB I PENDAHULUAN. nyawa makhluk hidup karena mempunyai beberapa kelebihan seperti hampir tidak

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan produksi kubis di Indonesia banyak mengalami hambatan, di

BAB III METODE. kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, masing-masing perlakuan

EFEK MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) TERHADAP MORTALITAS ULAT DAUN Spodoptera exigua PADA TANAMAN BAWANG MERAH

BAB I PENDAHULUAN. penyediaan bahan pangan pokok terutama ketergantungan masyarakat yang besar

Bioesai Bioinsektisida Berbahan Aktif Bacillus thuringiensis Asal Tanah Lebak terhadap Larva Spodoptera litura

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Mahasiswa S1 Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Malang 2) Dosen Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Malang

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Mortalitas dan Kecepatan Kematian. Tingkat mortalitas walang sangit pada aplikasi kontak dengan konsentrasi

UJI EFIKASI EKSTRAK TANAMAN SUREN (Toona sinensis Merr) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI DALAM PENGENDALIAN HAMA DAUN (Eurema spp. dan Spodoptera litura F.

Efikasi Minyak Atsiri Sereh Dapur (Cymbopogon citratus L.) terhadap Hama Ulat Daun Kubis (plutella xylostella L.) di Laboratorium

Teodora Ballos, Sonja V. T Lumowa, Helmy Hassan Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mulawarman

VI. PEMBUATAN PESTISIDA NABATI. Yos. F. da Lopes, SP, M.Sc & Ir. Abdul Kadir Djaelani, MP

PENDAHULUAN. Di Indonesia, jagung merupakan sumber bahan pangan penting setelah. pakan ternak. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan

merupakan salah satu vektor limphatik quinquefasciatus telah diupayakan dengan

EFEKTIFITAS AIR KELAPA FERMENTASI SEBAGAI LARUTAN PENGHEMAT HERBISIDA KOMERSIL

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Dosis Pestisida Nabati Tapak Liman terhadap Mortalitas Larva Ulat Tritip Instar III pada Tanaman Sawi

III. METODE PENELITIAN. Desain Penelitian pada penelitian ini adalah eksperimental dengan

EFEKTIVITAS EKSTRAK AKAR TUBA TERHADAP HAMA ULAT KROP CROCIDOLOMIA. PAVONANA PADA TANAMAN KUBIS DI KOTA TOMOHON

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

PENGUJIAN BIOINSEKTISIDA DARI EKSTRAK KLOROFORM KULIT BATANG TUMBUHAN Bruguiera gymnorrhiza Lamk. (RHIZOPHORACEAE)

Gambar 3. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Feri Hartini 1 dan Yahdi 2 1 Jurusan Tadris IPA Biologi FITK IAIN Mataram 2 Dosen Jurusan Tadris IPA Biologi FITK IAIN Mataram.

BAB III METODE PENELITIAN. Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (BALITTAS) Karangploso,

I. PENDAHULUAN. Kepik hijau (Nezara viridula L.) merupakan salah satu hama penting pengisap

BAB 1 PENDAHULUAN. petani dan dikonsumsi masyarakat karena sayuran tersebut dikenal sebagai

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gejala pada Larva S. litura

PENGGUNAAN BEAUVERIA BASSIANA DAN BACILLUS THURINGIENSIS UNTUK MENGGENDALIKAN Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Plutellidae) DI LABORATORIUM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN PAITAN (TITHONIA DIVERSIFOLIA HEMSL.) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI TERHADAP ULAT DAUN KOBIS (PLUTELLA XYLOSTELLA L.

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Laboratorium Farmasetika Program

Endah Suhaendah, Aditya Hani dan Benyamin Dendang Balai Penelitian Kehutanan Ciamis ABSTRACT

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

EFIKASI Bacillus thuringiensis TERHADAP HAMA ULAT DAUN GAHARU Heortia vitessoides (Efficacy of Bacillus thuringiensis againts Worm Leaf Pest on Tree Gaharu Producer) Fajar Lestari dan Edi Suryanto Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru Jl A.Yani Km 28,7 Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan Telp./Fax. 0511-4707872 Email : fajar@foreibanjarbaru.or.id Naskah masuk : 15 Maret 2012; Naskah diterima : 29 November 2012 ABSTRACT Heortia vitessoides worms attack gaharu plants in Kandangan, Regency of Hulu Sungai Selatan and Barabai, Regency of Hulu Sungai Tengah, Central Kalimantan province. This pest attack causes stunted growth of the gaharu plants. The objective of this study was to determine the efficacy of Bacillus thuringiensis against the worm pests H. vitessoides. The study was conducted in the protected forest laboratory of the Forest Research Institution of Banjarbaru and in the region of gaharu stands in Kandangan and Barabai, South Kalimantan. The research results showed that the insecticide with the active substance B. thuringiensis at a concentration of 0.5 g/l and 1.5gr/l effectively caused larval mortality of 100% on day 3, and the treatment with the concentration of 1 g/l and 2 g/l effectively caused 100% mortality of larvae on day 2 at the laboratory scale. At the field scale all concentrations resulted in 100% larval mortality at day 3. Variations of concentrations used did not significantly affect mortality of larvae in the laboratory and on the field. Keywords: Gaharu, Heortia vitessoides, Bacillus thuringiensis, efficacy, larvae ABSTRAK Ulat Heortia vitessoides menyerang tanaman gaharu di Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan. Serangan hama ini menyebabkan terjadinya gangguan pertumbuhan pada tanaman gaharu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efikasi Bacillus thuringiensis terhadap hama ulat H. vitessoides. Penelitian dilakukan di laboratorium perlindungan hutan Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru dan areal tegakan gaharu di Kandangan dan Barabai, Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insektisida berbahan aktif B. thuringiensis pada konsentrasi 0,5 gr/l dan 1,5gr/l efektif menyebabkan mortalitas larva sebesar 100% pada hari ke-3, perlakuan dan konsentrasi 1 gr/l dan 2 gr/l efektif menyebabkan mortalitas larva sebesar 100% pada hari ke-2 pada skala laboratorium. Skala lapangan menunjukkan bahwa semua konsentrasi menyebabkan mortalitas larva 100% pada hari ke-3, sementara variasi konsentrasi yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva pada skala laboratorium dan skala lapangan. Kata kunci : Gaharu, Heortia vitessoides, Bacillus thuringiensis, efikasi, larva I. PENDAHULUAN Keberhasilan budidaya tanaman gaharu dapat dilakukan dengan menjaga tanaman dari kerusakan. Kerusakan tanaman disebabkan adanya serangan hama ulat daun jenis Heortia vites- soides. Serangan hama ini mengganggu pertumbuhan terutama pada umur tanaman satu sampai dengan enam tahun. Ulat menyerang daun gaharu dengan cara memakan pucuk tanaman dan daun-daun muda, bahkan daun yang sudah tua. Pada tanaman de- ngan tingkat serangan paling berat, ulat memakan seluruh bagian daun yang ada, baik yang muda maupun yang sudah tua, sehingga banyak tanaman yang tidak berdaun/gundul. Ulat membentuk koloni (bergerombol) dalam menyerang (memakan) tanaman sehingga bagian tanaman, khususnya daun dan batang-batang muda, habis dalam waktu yang singkat. Persentase intensitas serangan mencapai 41% (Lestari dan Suryanto, 2010). Serangan ulat terjadi dua kali dalam satu tahun. Pada serangan pertama tanaman yang gun- 227

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 9 No. 4, Desember 2012, 227-232 dul masih bisa tumbuh lagi, namun saat terkena serangan yang selanjutnya tanaman langsung mati karena kecepatan tumbuh tanaman lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan populasi ulat. Oleh karena itu wabah ulat ini dianggap sangat meresahkan dan merugikan petani gaharu. Salah satu pemecahan dari masalah tersebut adalah adanya upaya pengendalian. Dewasa ini mulai digalakkan pengendalian yang ramah lingkungan. Penggunaan bakteri (mikroorganisme) Bacillus thuringiensis sebagai komponen pengendali hama dianggap efektif dalam mengendalikan hama dari ordo Lepidoptera. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efikasi B. thuringiensis terhadap hama ulat H. vites- soides yang diharapkan mampu memberikan sumbangan dalam mencari alternatif pengganti insektisida kimia yang digunakan selama ini. II. BAHAN DAN METODE A. Tempat dan Waktu Penelitian ujicoba pengendalian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan BPK Banjarbaru untuk skala laboratorium, areal tegakan gaharu umur tiga tahun di Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan empat tahun di Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan untuk skala lapangan. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Desember 2011. B. Bahan danalat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ulat H. vitessoides instar pertama, tegakan gaharu tahun tanam 2007 dan 2008, air, B. thuringiensis, thally sheet, sedangkan alat yang digunakan berupa timbangan analitik, pinset, toples plastik, gelas ukur, alat pengaduk, masker, sarung tangan, sprayer, kain kelambu, cat, kamera dan alat tulis. C. Metode Parameter yang diamati pada ujicoba pengendalian ini adalah jumlah ulat yang mati. Ujicoba pengendalian dilakukan dengan menyemprotkan larutan B. thuringiensis pada tanaman yang diserang hama ulat. B. thuringiensis diperoleh dari formulasi yang dijual dipasaran. Perlakuan yang diujicobakan untuk pengendalian hama yakni konsentrasi larutan B. thuri- ngiensis yaitu 0,5 gr/l; 1 gr/l; 1.5 gr/l; dan 2 gr/l. Di laboratorium ujicoba dilakukan dengan memaparkan larva pada semai. Tiap perlakuan terdiri dari 4 ulangan dan tiap ulangan dipaparkan masing-masing 5 larva. Sedangkan di lapangan, ujicoba pengendalian dilakukan dengan mengintroduksi larva pada ranting daun. Tiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan dan tiap ulangan dipaparkan masing-masing 5 larva. Daun yang telah terintroduksi larva disemprot dengan larutan B. thuringiensis kemudian dibungkus dengan kain kasa agar ulat yang mengalami kematian dapat termonitoring. Data mortalitas larva diperoleh dari persentase larva yang mati dibandingkan dengan jumlah larva keseluruhan. Perhitungan kematian larva ini dilakukan 24 jam setelah penyemprotan B. thuringiensis. Aplikasi penyemprotan dilakukan dengan menyemprotkan larutan pada seluruh daun tanaman sampai jenuh (mulai menetes). Mortalitas larva dihitung pada setiap perlakuan konsentrasi Bacillus thuringiensis. Hasil dari pengamatan, kemudian dihitung persentase mortalitas (kematian) larva dengan rumus : Larva yang mati Mortalitas larva (%) = x 100% Larva D. Analisis Data Pengolahan data berdasarkan hasil di laboratorium dan lapangan. Rancangan yang dipakai Rancangan Acak Lengkap. Data hubungan antara mortalitas larva dengan konsentrasi diolah dengan analisis varian, apabila terjadi perbedaan yang nyata pada perlakuan yang dicoba maka dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengendalian Skala Laboratorium Mortalitas larva mulai diamati 1 hari (24 jam) setelah perlakuan (1 HSP). Mortalitas larva mulai terjadi pada hari pertama (24) jam pertama dengan persentase paling tinggi sebesar 95% untuk konsentrasi 2 gr/l dan paling rendah sebesar 75% untuk konsentrasi 0,5 gr/ l (Gambar 1). Hasil penelitian ujicoba menunjukkan bahwa variasi konsentrasi yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva. Hal ini ditunjukkan oleh hasil analisis sidik ragam F hitung(0,05, 3, 12) = 0,8 < F tabel= 4,47, p value (0,518) > 0,05 sehingga variasi konsentrasi yang diguna- 228

Efikasi Bacillus thuringiensis terhadap Hama Ulat Daun Gaharu Heortia vitessoides Fajar Lestari dan Edi Suryanto Gambar (Figure) 1. Mortalitas larva pasca penyemprotan B. thuringiensis skala laboratorium ( Larva mortality after spraying of Bacillus thuringiensis in laboratory scale). Gambar (Figure) 2. Mortalitas larva pasca penyemprotan B. thuringiensis di Kandangan (Mortality larva after spraying B. thuringiensis in Kandangan). kan tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva. Penggunaan variasi konsentrasi efektif menyebabkan kematian larva 100% pada hari ke-3. B. Pengendalian Skala Lapangan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lokasi Kandangan, variasi konsentrasi larutan yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva setelah 24 jam aplikasi. Hal ini ditunjukkan oleh hasil analisis sidik ragam F hitung(0,05, 3, 8) = 0,97 < F tabel= 5,42, p value (0,452) > 0,05 sehingga variasi konsentrasi yang diberikan tidak berbeda nyata menyebabkan mortalitas larva. Variasi konsentrasi larutan pada lokasi Barabai, menunjukkan pengaruh yang nyata (F hitung(0,05, 3, 8) = 9,19 > F tabel = 5,42) terhadap mortalitas larva setelah 19 jam aplikasi. Namun setelah 24 jam aplikasi, hasil penelitian menunjukkan variasi konsentrasi tidak berbeda nyata terhadap mortalitas larva (F hitung(0,05, 3, 8) = 3,73 < Ftabel = 5,42). Hasil uji coba lapangan dari kedua lokasi ini menunjukkan aplikasi variasi konsentrasi efektif menyebabkan kematian larva 100% pada hari ke-3 baik di Kandangan maupun di Barabai (Gambar 2 dan 3). 229

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 9 No. 4, Desember 2012, 227-232 Gambar (Figure) 3. Mortalitas larva pasca penyemprotan B. thuringiensis di Barabai (Mortality larva after spraying B. thuringiensis in Barabai). Di kandangan, efektifitas ujicoba pengendalian disebabkan oleh dua faktor yakni adanya sifat toksik dari mikroba yang digunakan, dan pada saat aplikasi, larva yang digunakan berada pada stadia yang peka yaitu umur relatif muda dan berukuran kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat Asmaliyah dan Ismail (1998) bahwa ulat Clouges glauculalis yang berukuran lebih kecil lebih peka terhadap terhadap insektisida mikroba. Waktu kematian ulat C. glauculalis yang berukuran kecil lebih cepat dan jumlah ulat yang mati lebih tinggi daripada ulat yang berukuran lebih besar. Secara umum, semakin dini tahap perkembangan serangan dan semakin kecil ukuran ulat maka respon ulat terhadap penggunaan insektisida semakin tinggi (peka). Pada serangga kecil, senyawa aktif diduga dapat lebih cepat mencapai bagian sasaran dalam konsentrasi yang cukup untuk menimbulkan peracunan dibandingkan pada serangga yang lebih besar (Djojosumarto, 2000) dan (Prijono, 1998 dalam Asmaliyah et al., 2006). Hasil ujicoba laboratorium dan lapangan menunjukkan penggunaan insektisida berbahan aktif delta endotoksin dari B. thuringiensis efektif menyebabkan mortalitas larva. Insektisida ini bekerja sebagai racun perut murni. Racun perut ini membunuh sasaran apabila masuk kedalam organ pencernaan dan diserap oleh dinding saluran pencernaan (Djojosumarto, 2000). Tingginya mortalitas larva selain disebabkan adanya sifat sebagai racun perut, diduga karena insektisida tersebut terserap oleh tanaman. Pada tanaman insektisida akan diangkut ke bagian-bagian tanaman ke arah akropetal melalui jaringan pengangkut xylem (Naurbauer et al., dalam Subiyakto dan Kartono, 1998, dalam Ismail et al., 2003). Dengan demikian, daun yang telah disemprot dengan insektisida akan mengandung racun sehingga akan menggangu saluran pencernaan ulat/larva. Kondisi tersebut dapat dilihat pada jumlah mortalitas larva yang semakin tinggi di hari kedua dan ketiga. B. thuringiensis (Bt) pada konsentrasi 0, 05% (b/v) efektif menyebabkan mortalitas larva H. vitessoides sebesar 100% pada hari ke-3 dan pada konsentrasi 0.1% (b/v) efektif menyebabkan mortalitas larva 100% pada hari ke-2 (Ngatiman et al., 2010). Aplikasi insektisida mikroba B. thuringiensis var.kurstaki strain H-14 (Bh) dan insektisida mikroba B. thuringiensis var. kurstaki strain EG-2371 ( Be) juga dilakukan terhadap hama pemakan daun tanaman pulai darat C. glauculalis. Mortalitas larva paling tinggi terjadi pada hari kedua (Asmaliyah et al., 2006). Bakteri gram positif pada bt masuk kedalam tubuh ulat H.vitessoides menyebabkan paralisis saluran pencernaan ulat. Gejala yang terlihat pada ulat yang mati adalah tubuh lunak mengandung cairan, berwarna hitam, berbau busuk dan tubuhnya hancur serta mengeluarkan cairan berwarna hitam (Gambar 4). Toksin kristal ( cry) merupakan faktor utama yang bertanggung jawab dalam menyebabkan kematian larva. Protein kristal yang termakan oleh serangga akan larut dalam lingkungan basa pada saluran pencernaan serangga. Prototoksi yang telah larut selanjutnya dipotong oleh enzim proteinase yang dihasilkan saluran pencernaan serangga menjadi toksin yang aktif. Toksin yang telah teraktivasi selanjutnya menempel pada protein reseptor yang berasosiasi dengan membran yang berada pada permukaan sel epitel usus. Penyisipan toksin pada membran apikal sel-sel 230

Efikasi Bacillus thuringiensis terhadap Hama Ulat Daun Gaharu Heortia vitessoides Fajar Lestari dan Edi Suryanto Gambar (Figure) 4. Ulat setelah disemprot B. thuringiensis (Larva after sprayed with B. thuringiensis) epitelium menginduksi terbentuknya ion channel dan pori atau lubang non spesifik sehingga mengakibatkan sel mengalami lisis (Schnepf et al., 1998). Selain protein cry, B. thuringiensis juga menghasilkan berbagai komponen lainnya yang berkontribusi dalam virulensi, diantaranya fosfolipase (Zhang et al., 1993 dalam Ngatiman et al., 2010), β-eksotoksin (Levinson, 1990 dalam Ngatiman et al., 2010), protease (Lovgren et al., 1990), dan Vegetative Insecticidal Factor (VIP) (Estrusch et al., 1996 dalam Ngatiman et al., 2010). Protein cry mempunyai spesifisitas yang tinggi, sehingga dampaknya terhadap serangga non target rendah. Sampai saat ini terdapat lebih dari 300 gen penyandi protein cry yang telah diidentifikasi, yang diklasifikasikan menjadi 51 kelompok dan sub kelompok berdasarkan similaritas sekuen asam amino (Crickmore et al., 2007 dalam Ngatiman et al., 2010). A. Kesimpulan IV. KESIMPULAN 1. Variasi konsentrasi tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva H. vitessoides pada skala laboratorium dan lapangan. 2. Penggunaan variasi konsentrasi efektif pada skala laboratorium menyebabkan mortalitas larva 100% pada hari ke-2 untuk konsentrasi 1 gr/l dan 2 gr/l, dan pada hari ke-3 untuk konsentrasi 0,5 gr/l dan 1,5 gr/l. 3. Semua konsentrasi menyebabkan mortalitas larva 100% pada hari ke-3. B. Saran Aplikasi penggunaan B. thuringiensis da- pat menggunakan konsentrasi rendah yakni 0,5 gr/l air untuk mengendalikan serangan hama ulat H. vitessoides. DAFTAR PUSTAKA Asmaliyah, S. Utami dan Yudhistira. 2006. Efikasi Beberapa Jenis Insektisida Terhadap Hama Pemakan Daun Pada Tanaman Pulai Darat. Jurnal Hutan Tanaman. Vol. 3 No. 2. Djojosumarto, P. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Penerbit Kanisius. Cetakan I. Yogyakarta. Ismail, B., A. Fiani dan H. Moko. 2003. Uji Pengendalian Hama Pada Tanaman Mahoni ( Swietenia macrophylla King) dengan Beberapa Insektisida Microba d-endotoksin. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan. Vol. 1 No. 3. Lestari, F. dan E. Suryanto. 2010. Identifikasi Jenisjenis Hama dan Penyakit Gaharu. Laporan Hasil Penelitian. Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru. Tidak dipublikasi-kan. Lovgren, A., M.Y. Zhang, A. Engstrom, G. Dalhammar and R. Landen. 1990. Moleculer Characterization of Immune Inhibitor A, a Secreted Virulence Protease from Bacillus thuringiensis. Mol. Microbiol. 4:2137-2146. Ngatiman, I. Anggraini dan N. E. Lelana. 2010. Serangan Hama Heortia vitessoides Moore. pada Tanaman Penghasil Gaharu ( Aquilaria microcarpa) dan Teknik Pengendaliannya. Prosisding Seminar Nasional Kontribusi 231

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 9 No. 4, Desember 2012, 227-232 Litbang dalam Peningkatan Produktifitas dan Kelestarian Hutan. Bogor 29 November 2010. Dean. 1998. Bacillus thuringiensis and Its Pesticidal Crystal Protein. Microbiol Mol Biol Rev. 62:775-806 Schnepf E., N. Crickmore, J. Van Rie, D. Lereclus, J. Baum, J. Feitelson, D.R. Zeigler. and D. 232