GAMBARAN DENSITOMETER TULANG BELAKANG DAN FEMUR PASIEN DI IDT. RSUP. Dr. M. DJAMIL PADANG DARI TANGGAL 1 AGUSTUS FEBRUARI 2006

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang pada tahap awal belum

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya kesadaran masyarakatakan hidup sehat. menyebabkan jumlah usia lanjut menjadi semakin banyak, tak terkecuali di

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

Gambaran Kepadatan Tulang Wanita Menopause Pada Kelompok X di Bandung

OSTEOPOROSIS DEFINISI

BAB I PENDAHULUAN. Osteoporosis merupakan salah satu penyakit degeneratif yang. menjadi permasalah global di bidang kesehatan termasuk di Indonesia.

PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Para ahli tulang Indonesia sepakat bahwa dengan meningkatnya harapan

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas hidup manusia, baik kemajuan dalam bidang sosioekonomi

BAB 1 PENDAHULUAN. saluran dan kelenjar payudara (Pamungkas, 2011). Kanker payudara merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Karakteristik kasus menopause..., Herdiana Christanty Sihombing, FKM UI, 2009

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Osteoporosis merupakan kondisi atau penyakit dimana tulang

BAB 5 HASIL Osteoporosis. Proporsi kasus osteoporosis dan osteoporosis berat terlihat pada gambar. berikut:

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah metode sederhana yang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa Diabetes melitus

Jurnal Keperawatan, Volume VIII, No. 1, April 2012 ISSN

MANFAAT KEBIASAAN SENAM TERA PADA WANITA TERHADAP KEPADATAN MINERAL TULANG DI DUSUN SOROBAYAN, GADINGSARI, SANDEN, BANTUL SKRIPSI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA DENGAN OSTEOPOROSIS

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Status kesehatan masyarakat ditunjukkan oleh angka kesakitan, angka

Ketetapan resmi terkini ISCD tahun 2013 (pasien anak-anak) Dibawah ini adalah ketetapan resmi ISCD yang telah diperbaruhi tahun 2013

BAB I PENDAHULUAN UKDW. lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun(rahayu, 2014). Menurut

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut World Health Organization (WHO), obesitas adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ABSTRAK. di dunia, tepatnya penyakit kedua terbanyak setelah penyakit kardio vaskular. Salah

BAB II KEROPOS TULANG (OSTEOPOROSIS)

BAB I PENDAHULUAN. menopause. Jumlah populasi wanita usia 50 tahun ke atas diperkirakan

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya patah tulang. Selama ini osteoporosis indentik dengan orang tua tapi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HUBUNGAN KADAR ESTROGEN DENGAN KADAR DEOXYPIRIDINOLIN URIN PADA WANITA MENOPAUSE. I Putu Gede Wardhiana

BAB I PENDAHULUAN. sebagai suatu studi telah menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor

BAB V PEMBAHASAN. Jumlah pekerja pelintingan rokok di PT. Djitoe Indonesia Tobako

Abstract. Osteoporosis merupakan penyakit yang tersembunyi (silent disease) tanpa adanya tanda-tanda

BAB I peran penting dalam kelanjutan generasi penerus bangsa (Manuaba, 2009).

2 Penyakit asam urat diperkirakan terjadi pada 840 orang dari setiap orang. Prevalensi penyakit asam urat di Indonesia terjadi pada usia di ba

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Mioma uteri sering disebut juga leiomioma atau fibroid uterus, yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

BAB IV METODE PENELITIAN. kandungan khususnya berhubungan dengan kedokteran ginekologi.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

HUBUNGAN ANTARA OBESITAS DENGAN TEKANAN DARAH TINGGI PADA IBU RUMAH TANGGA DI KELURAHAN KARTASURA SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

BAB I PENDAHULUAN. Overweight dan obesitas adalah dua istilah yang berbeda. Overweight

BAB 1 : PENDAHULUAN. mengancam hidup seperti penyakit kardiovaskuler.

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun buatan manusia.

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease) merupakan salah satu penyakit

BAB I PENDAHULUAN. penyakit kronis telah terjadi di Indonesia seiring dengan kemajuan teknologi dan

EFEK JALAN KAKI PAGI TERHADAP KEPADATAN MINERAL TULANG PADA WANITA LANSIA DI DESA GADINGSARI SANDEN BANTUL SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. wanita mengalami menopause. Namun tidak seperti menopause pada

Osteoporosis Apakah tulang anda beresiko?

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA CARCINOMA MAMMAE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI 2012-DESEMBER 2013

BAB I PENDAHULUAN. jantung yang prevalensinya paling tinggi dalam masyarakat umum dan. berperan besar terhadap mortalitas dan morbiditas.

BAB 1 : PENDAHULUAN. penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Salah satu indikator

BAB I PENDAHULUAN. metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan

BAB I PENDAHULUAN. epidemi global dan harus segera ditangani. Saat ini prevalensi obesitas di

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. produktif dan kreatif sesuai dengan tahap perkembangannya (Depkes, 2010).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Usia, Jenis Kelamin, dan Indeks Masa Tubuh dengan Osteoartritis Lutut.

BAB I PENDAHULUAN. leiomyoma uteri, fibromioma uteri, atau uterin fibroid. 1 Angka kejadian

BAB I PENDAHULUAN. Menurut penelitian Pratiwi (2010) menopause adalah. keluhan yang mungkin terjadi di masa menopause disebabkan oleh

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. gizi terjadi pula peningkatan kasus penyakit tidak menular (Non-Communicable

BAB 1 PENDAHULUAN. Menopause bukanlah suatu penyakit ataupun kelainan dan terjadi pada akhir siklus

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Setiap perempuan akan mengalami proses fisiologis dalam hidupnya,

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan yang utama. Hipertensi

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) adalah gangguan fungsi jantung dimana otot

BAB I PENDAHULUAN. yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yaitu bila

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN USIA MENARCHE DI SMPN 7 BANJARMASIN. Erni Yuliastuti

BAB III METODE PENELITIAN. diobservasi hanya sekali pada saat yang sama (Arief, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. Repository.Unimus.ac.id

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. jantung beristirahat. Dua faktor yang sama-sama menentukan kekuatan denyut nadi

Patogenesis dan Metabolisme Osteoporosis pada Manula

BAB I PENDAHULUAN. dibandingkan dengan pembentukan tulang. Salah satu penyakit yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Millennium Development Goals (MDG) telah menjadi tujuan milenium

ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB OSTEOPOROSIS. Paulus Budi Santoso ( ) Pembimbing : David Gunawan T., dr

Kanker Rahim - Gejala, Tahap, Pengobatan, dan Resiko

BAB II PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS PADA USIA DEWASA Definisi Osteoporosis

BAB 1 PENDAHULUAN. koroner. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di

BAB I PENDAHULUAN. kegemukan atau obesitas selalu berhubungan dengan kesakitan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. memberikan pelayanan keperawatan (Ballard, 2003). Kesalahan dalam proses

Epidemiologi Penilaian Status Gizi: Antropometri

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. berfungsi mempermudah manusia dalam kehidupan sehari hari,

BAB I PENDAHULUAN. jawab terhadap pertumbuhan sel ikut termutasi (Saydam, 2012).

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mineral tulang disertai dengan perubahan mikroarsitektural tulang,

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kematiannya. Karsinoma kolorektal merupakan penyebab kematian nomor 4 dari

HUBUNGAN ANTARA USIA SAAT TIMBULNYA MENARCHE DENGAN USIA SAAT TERJADINYA MENOPAUSE WANITA DI KECAMATAN KARTASURA. Merry Tiyas Anggraini*

Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Kanker Payudara Thursday, 14 August :15

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penduduk Indonesia pada tahun 2012 mencapai 237,64 juta jiwa. Hal ini

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

GAMBARAN DENSITOMETER TULANG BELAKANG DAN FEMUR PASIEN DI IDT. RSUP. Dr. M. DJAMIL PADANG DARI TANGGAL AGUSTUS 005-8 FEBRUARI 006 Dian Febrina, Putri Sri Lasmini Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FKUA/RS. Dr. M.Djamil, Padang. Abstrak Tujuan : Melihat gambaran Densitas Mineral Tulang pada pasien perempuan diatas 45 tahun serta melihat hubungan antara umur dan Indeks Massa Tubuh dengan kejadian osteoporosis pada tulang belakang dan femur. Tempat: Instalasi Diagnostik Terpadu RS.M.Djamil Padang. Rancangan : Penelitian ini bersifat retrospektif analitik. Metode : Data diambil dari hasil pemeriksaan densitometer tulang belakang dan femur pasien perempuan rawat jalan dibagian Densitometer Instalasi Diagnostik Terpadu RS. Dr. M. Djamil Padang dari tanggal Agustus 005 sampai 8 Februari 006. Hasil : Dari 5 orang pasien perempuan rawat jalan didapatkan rerata umur pasien : 60,90 ± 8,93, rerata Indeks Massa Tubuh (IMT) : 3,68 ± 4,6. Osteoporosis tulang belakang paling banyak ditemukan pada rerata umur 64,6 ± 8,8 dan femur dengan rerata umur 7,00 ± 0,05 sedangkan osteoporosis tulang belakang dan femur ditemukan paling banyak pada Indeks Massa Tubuh 8,5 5. Kesimpulan :Makin meningkat usia, makin tinggi kejadian osteoporosis tulang belakang dan femur, secara statistik bermakna (p=0.003 dan p=0.000). Kejadian osteoporosis tulang belakang banyak terjadi pada pasien dengan Indeks Massa Tubuh normal dan rendah secara statistik tidak bermakna (p=0.403). Sama halnya pada osteoporosis femur, banyak terdapat pada Indeks Massa Tubuh normal secara statistik tidak bermakna (p=0.69). Kata Kunci :Osteoporosis, Densitas Mineral Tulang, Indeks Massa Tubuh

GAMBARAN DENSITOMETER TULANG BELAKANG DAN FEMUR PASIEN DI IDT. RSUP. Dr. M. DJAMIL PADANG DARI TANGGAL AGUSTUS 005-8 FEBRUARI 006 I. PENDAHULUAN Masalah usia lanjut dan osteoporosis semakin menjadi perhatian dunia termasuk Indonesia karena makin meningkatnya usia harapan hidup. () Usia harapan hidup perempuan pada umumnya terus meningkat baik dinegara negara maju maupun dinegara-negara berkembang. Di Indonesia, usia harapan hidup perempuan pada tahun 980 adalah 50,9 tahun dan pada tahun 000 telah mencapai 70 tahun. () Peningkatan harapan hidup bersamaan dengan terjadinya peningkatan penyakit penuaan antara lain osteoporosis. () Osteoporosis merupakan masalah kesehatan utama didunia saat ini dan jumlahnya meningkat sejalan dengan meningkatnya populasi usia lanjut. WHO menyatakan bahwa osteoporosis merupakan masalah kesehatan terbesar yang kita hadapi setelah penyakit kardiovaskuler. Biaya yang harus dikeluarkan untuk penyakit ini sangat mengejutkan dan diperkirakan mencapai 60 milyar dolar pada tahun 00. (3) Istilah menopause dan osteoporosis telah dikenal sejak zaman dahulu yaitu pada masa Yunani kuno. Menopause berasal dari kata meno berarti haid dan pause berarti istirahat atau henti sehingga secara keseluruhan diartikan sebagai henti haid. () Henti haid sudah berlangsung kurang lebih bulan. (4) Sedangkan osteoporosis berasal dari kata osteo berarti tulang dan porosis berarti lubang sehingga secara keseluruhan berarti tulang yang berlubang atau keropos. () Jadi osteoporosis merupakan satu penyakit dengan massa tulang rendah dan memburuknya arsitektur jaringan tulang sehingga menyebabkan

fragilitas tulang dan meningkatnya risiko fraktur pada tulang pinggul, tulang belakang dan pergelangan tangan. (,3) Pada wanita kejadian osteoporosis lebih dipercepat dan diperberat dengan menurunnya hormon estrogen dalam tubuh ketika berusia lanjut.. () Umur menopause perempuan dinegara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris adalah 5,4 tahun sedangkan dinegara-negara Asia tenggara adalah 5,09 tahun. Usia menopause untuk perempuan Indonesia adalah 50 tahun. Kalau usia harapan hidup perempuan Indonesia adalah 70 tahun maka hampir 0 tahun lamanya mereka mengalami berbagai masalah kesehatan akibat dari menopausenya.masalah kesehatan jangka pendek yang paling menonjol adalah gejala-gejala vasomotorik dan psikogenik sedangkan masalah kesehatan jangka panjang adalah meningkatnya angka kejadian penyakit jantung koroner, osteoporosis, demensia, katarak dan kanker usus besar. Dampaknya adalah kualitas hidup kaum perempuan tersebut akan berkurang. () Gejala klinis osteoporosis adalah fraktur yang muncul pada perempuan lanjut usia dimana sebagian berhubungan dengan perbedaan densitas tulang pada kematangan dan terutama kehilangan tulang yang muncul setelah menopause. (3) Faktor risiko osteoporosis antara lain : (4) Tidak dapat diubah (unmodiffiable) - Jender : > - Usia : semakin tua usia semakin meningkat resiko osteoporosis - Bentuk Tubuh : kecil, resiko meningkat - Etnis Asia, risiko meningkat - Riwayat Keluarga : ada keluarga yang menderita fraktur maka faktor risiko meningkat. 3

Dapat diubah (modifiable) - Hormon seks - Anoreksia - Diet rendah Ca dan Vit D yang sudah lama - Pemakaian obat-obatan seperti glukokortikoid dan antikonvulsan - Istirahat total ditempat tidur - Merokok dan pemakaian alkohol yang berlebihan Penilaian langsung tulang untuk mengetahui ada /tidaknya osteoporosis dengan cara (). Pemeriksaan Radiologik Telah dikembangkan indeks Sing untuk mengukur ketebalan kolum femoris dan komponen-komponen trabekulasi secara radiologik tetapi pemeriksaan ini tidak dianjurkan karena sangat tergantung pada alat radiologi yang digunakan, keahlian dan subjektivitas pemeriksa, kualitas film dan cara-cara pencucian.. Pemeriksaan radioisotop Pemeriksaan ini menggunakan sinar foton radionuklida yang dapat mendeteksi densitas tulang dan ketebalan korteks tulang. 3. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Cara ini dapat mengukur struktur trabekuler tulang dan kepadatannya. Alat tersebut tidak memakai radiasi melainkan hanya dengan lapangan magnet yang sangat kuat. Jadi pemeriksaan ini mahal. 4. USG Densitometri Cara ini memakai kecepatan gelombang suara ultra yang menembus tulang kemudian dinilai kekuatan dan daya tembus melalui tulang yang dinyatakan 4

sebagai pita lebar ultrasonik dan kekakuan. Keuntungannya adalah mudah dibawa kemana-mana tetapi tidak dapat secara tepat mengetahui lokalisasi osteoporosis. 5. Densitometer X-ray asorbtiometry Pesawat densitometer X-ray asorbtiometry menggunakan radiasi sinar X yang sangat rendah. Ada dua jenis X-ray asorbtiometry yaitu SXA (single X-ray asorbtiometry) dan DEXA (Dual energy X-ray asorbtiometry). Saat ini gold standard pemeriksaan osteoporosis adalah DEXA yang digunakan untuk pemeriksaan vetebra, femur dan radius. (5) Walau mahal tapi memiliki keuntungan yaitu : dapat menentukan diagnosis, menduga patah tulang, menilai perubahan densitas tulang. Hasil-hasil yang didapat adalah :. Densitas mineral tulang pada area tertentu dalam gram/cm. Perbandingan kadar rata-rata densitas mineral tulang dibandingkan dengan kadar rata-rata densitas mineral tulang orang dewasa etnis yang sama (Tscore dalam %) 3. Perbandingan kadar rata-rata densitas mineral tulang dari organ dengan umur dan etnis yang sama (Z-score dalam %) Menurut WHO penilaian T-Score tersebut adalah (5) Tulang normal : Tulang osteopeni: T-score - SD T-score antara - SD dengan -,5 SD Tulang osteoporosis: T-score -,5 SD. 5

II. BAHAN DAN CARA KERJA : Penelitian dilakukan secara retrospektif analitik pada pasien yang memeriksakan diri ke Instalasi Diagnostik Terpadu RSUP Dr. M. Djamil Padang selama Agustus 005 8 Februari 006. Data diolah dengan program SPSS versi.0. Uji Statistik yang digunakan adalah Chi Square Test. III. HASIL Dari 5 orang pasien perempuan rawat jalan yang melakukan pemeriksaan densitometer tulang belakang dan femur didapatkan rerata umur pasien yaitu 60,89 tahun (SD 8,93) dan rerata BMI : 3,68 (SD 4,6) Tabel. Karakteristik Responden n Rata-rata Standar Deviasi Umur 5 60,89 8,93 BMI 5 3,68 4,6 90 80 70 60 50 UMUR 40 N = 0 normal 5 osteopen 7 osteopor SPINE 6

Gambar. Hubungan antara umur dengan densitas mineral tulang belakang Pada gambar, kejadian osteopeni tulang belakang pada rerata umur 60,8 ± 8,87 sedangkan osteoporosis pada rerata umur 64,6 ± 8,8 90 80 70 60 50 UMUR 40 N = normal 6 osteopen 5 osteopor FEMUR Gambar. Hubungan antara umur dengan densitas mineral tulang femur Pada gambar, tampak pada tulang femur kejadian osteopeni pada rerata umur 6,84 ± 8,3 sedangkan osteoporosis pada rerata umur 7,00 ± 0,05 Tabel. Hubungan Densitas Mineral Tulang Punggung dengan Indeks Massa Tubuh Indeks Massa Tubuh. Kurus. Normal 3. Overweight 4. Obesitas Total Normal Osteopeni Osteoporosis Total (n) (n) (n) (n) 7 8 8 9 4 7 3 7 6 7 5 4 5 (P=0,403) 7

Pada tabel, hubungan antara densitas mineral tulang punggung dengan indeks massa tubuh dimana osteoporosis terbanyak ditemukan pada indeks massa tubuh normal. Setelah diuji ternyata tidak ditemukan hubungan yang bermakna (P=0,403) Tabel 3. Hubungan Densitas Mineral Tulang Femur dengan Indeks Massa Tubuh Indeks Massa Tubuh. Kurus. Normal 3. Overweight 4. Obesitas Total (P=0,69) Normal Osteopeni Osteoporosis Total (n) (n) (n) (n) 8 0 4 6 3 3 6 3 0 5 6 7 5 4 5 Pada tabel 3, tampak hubungan antara densitas mineral tulang femur dengan indeks massa tubuh. Osteoporosis terbanyak ditemukan pada indeks massa tubuh normal, tidak ditemukan hubungan bermakna (P=0.69) IV. DISKUSI Dari hasil pemeriksaan densitometri yang dilakukan pada 5 orang perempuan ditemukan rerata umur 60,90 ± 8,93. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wibisono DS (53,5 tahun) sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Castro JP dkk 58,3 ± 0,4. (6,7) Rerata umur kejadian osteopeni pada tulang belakang 60,8 ± 8,87, sedangkan rerata umur kejadian osteoporosis 64,6 ± 8,8. Pada tulang femur kejadian osteopeni rerata umur 6,84 ± 8,3 sedangkan osteoporosis rerata umur 7,00 ± 0,05. Penelitian ini sesuai dengan Baheiraei dkk, mereka menemukan adanya suatu korelasi yang bermakna antara umur dengan kejadian osteoporosis. Makin 8

tinggi umur maka makin tinggi kejadian osteoporosis. (7,8) Hasil ini memperlihatkan hubungan yang kuat dan bermakna antara defisiensi estrogen (yang biasa terjadi seiring dengan penambahan umur) dengan penurunan densitas mineral tulang. Estrogen yang diproduksi berperan dalam pembentukan sel tulang dan menghambat resorpsi sel tulang dalam proses remodeling tulang. (,9) Kejadian osteoporosis tulang punggung dan femur paling banyak ditemukan pada indek massa tubuh (IMT) normal. Tetapi secara statistik tidak bermakna. Kejadian ini sama dengan yang ditemukan oleh Wibisono. (6) Sedangkan pada beberapa penelitian terbukti bahwa IMT yang lebih tinggi merupakan faktor pelindung terhadap densitas mineral tulang. (7,0) Pada orang yang mengalami obesitas, ditemukan timbunan lemak yang banyak sehingga dihasilkan jumlah estrogen ekstra gonad yang banyak juga mengakibatkan densitas massa tulang lebih baik (kejadian osteoporosis berkurang) (6,7) Pada penelitian ini karena bersifat retrospektif dan jumlah sampel sedikit sehingga sulit untuk melakukan analisa secara statistik (hasil statistik tidak bermakna) V. KESIMPULAN. Didapatkan hubungan yang bermakna antara umur dengan densitas mineral tulang punggung dan femur.. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara densitas mineral tulang punggung dan femur dengan indeks massa tubuh. 9

Daftar Pustaka. Rachman IA. Osteopprosis Primer pada Wanita Pascamenopause (Peranan Hormon Estrogen Menjelang Usia Lanjut). Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Vol 8;46-6. Baziad A. Terapi Sulih Hormon sebagai Salah Satu Upaya Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Menopause di Indonesia : Fiksi, Fakta dan Kontroversi. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Vol 9; 45-6 3. Kaniawati M, Moeliandari F. Penanda Biokimia untuk Osteoporosis. Forum Diagnosticum Prodia Diagnostics Educational Services.003 4. Notelovitz M. Menopause. From Contemporary Endocrinology : Endocrinology of Aging. Human Press Inc 5. Lobo R. Menopause and Aging. dalam : Reproductive Endocrinology Physiology, Pathophysiology and Clinical Management. 5 th ed. Elsevier Inc.004; 4-45 6. WibisonoDS, Baziad A. Gambaran Densitas Mineral Tulang Pada Wanita Pasca Menopause Di Makmal-FKUI. Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta 7. Castro JP dkk. Differential Effect of Obesity on Bone Mineral Density in White, Hispanic and African American women:a Cross Sectional Study. Departemen of Medicine State University of New York Downstate Medical Center. New York. 005 available at http://www.nutritionandmetabolism.com/content///9 8. Baheiraei A, Pocock NA, Eisman JA, Nguyen ND, Nguyen TV. Bone Mineral Density, Body Mass Index and Cigarette Smoking among Iranian Women : Implications for Prevention. BMC Musculoskeletal Disorders. 005. Available at http://www.biomedcentral.com 9. Speroff.L, Fritz. Menopause and The Perimenopausal Transition, dalam : Clinical Gynecologic Endocrinologi and Infertility. 7 th ed. Lippincott Williams & Wilkins. 005; 65-707. 0