Oleh A.A. Alit Mas Putri Dewanti Edward Thomas Lamury Hadjon Program Kekhususan Hukum Internasional ABSTRACT

dokumen-dokumen yang mirip
ABSTRACT ABSTRAK. Kata kunci : CITES, Perdagangan Hewan Langka, perdagangan ilegal

Raden Fini Rachmarafini Rachmat ( ) ABSTRAK

PENDAHULUAN. Perdagangan satwa liar mungkin terdengar asing bagi kita. Kita mungkin

BAB I PENDAHULUAN. Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006, hal 44.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam hukum internasional subyek-subyek tersebut termasuk negara, organisasi

UPAYA PEMERINTAH MELESTARIKAN KEBERADAAN SATWA LANGKA YANG DILINDUNGI DARI KEPUNAHAN DI INDONESIA

Kota, Negara Tanggal, 2013

PENERAPAN PRINSIP NON REFOULEMENT TERHADAP PENGUNGSI DALAM NEGARA YANG BUKAN MERUPAKAN PESERTA KONVENSI MENGENAI STATUS PENGUNGSI TAHUN 1951

Kritis. Genting. Rentan. A: Penurunan tajam

BAB IV ANALISIS HUKUM MENGENAI PENJUALAN HEWAN YANG DILINDUNGI MELALUI MEDIA INTERNET DIHUBUNGKAN DENGAN

I. PENDAHULUAN. mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu laju kerusakan hutan tercatat

MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA PERDAGANGAN INTERNASIONAL MELALUI DISPUTE SETTLEMENT BODY (DSB) WORLD TRADE ORGANIZATION

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, maka perlu menetapkan Peraturan Menteri Kehutanan tentang

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.83/Menhut-II/2014 TENTANG

PENGATURAN KEANEKARAGAMAN HAYATI BAWAH LAUT BERKAITAN DENGAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN

Transnational Organized Crime

Tugas Portofolio Pelestarian Hewan Langka. Burung Jalak Bali

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PENYELUNDUPAN PENYU DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI DENPASAR

Transnational Organized Crime (TOC)

Mengekspor dalam Lasekap Hukum yang Bergeser LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS. Kota, Negara Tanggal, 2013

BAB III HASIL PENELITIAN & ANALISIS

Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke Negara-Negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat. Kota, Negara Tanggal, 2013

RELEVANSI KESEPAKATAN PAKET BALI DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 447/Kpts-II/2003 TENTANG TATA USAHA PENGAMBILAN ATAU PENANGKAPAN DAN PEREDARAN TUMBUHAN DAN SATWA LIAR

EFEKTIVITAS PERATURAN PERDAGANGAN SATWA LIAR DI INDONESIA

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 04/MEN/2010 TENTANG TATA CARA PEMANFAATAN JENIS IKAN DAN GENETIK IKAN

I. PENDAHULUAN. Primata merupakan salah satu satwa yang memiliki peranan penting di alam

Mengekspor di Tengah Perubahan Lansekap Hukum

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PENGATURAN PERLINDUNGAN SPECIES LANGKA DARI AKIBAT SINDIKASI PERDAGANGAN SPECIES LANGKA

SKRIPSI. Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dalam memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar sarjana hukum

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER. 04/MEN/2010 TENTANG TATA CARA PEMANFAATAN JENIS IKAN DAN GENETIK IKAN

Persyaratan untuk Cakupan Sertifikat Menurut APS

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP HAMBATAN PENEGAKAN HUKUM PERSAINGAN USAHA OLEH KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA (KPPU)


DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA DAN LAPORAN... PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN...

TINJAUAN HUKUM LAUT INTERNASIONAL MENGENAI PERLINDUNGAN HUKUM NELAYAN TRADISIONAL INDONESIA. Jacklyn Fiorentina

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang mempunyai keragaman jenis satwa seperti jenis

PERANAN LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP PENJUALAN OBAT-OBATAN MELALUI INTERNET

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

I. PENDAHULUAN. Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan salah satu jenis primata penghuni

SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

DAFTAR PUSTAKA. Hardjasoemantri, Koesnadi.1995.Hukum Perlindungan Lingkungan: Koservasi

PERLINDUNGAN HUKUM ATAS HAK EKSKLUSIF PEMILIK MEREK DI INDONESIA TERHADAP PELANGGARAN MEREK DALAM BENTUK PERJANJIAN LISENSI

BAB I PENDAHULUAN. ditemukan di Indonesia dan 24 spesies diantaranya endemik di Indonesia (Unggar,

BAB I PENDAHULUAN. dengan biodiversity (keanekaragaman hayati) terkaya di dunia. suatu tempat akan membentuk populasi. Populasi-populasi yang ada akan

AMENDEMEN MONTREAL AMENDEMEN ATAS PROTOKOL MONTREAL YANG DIADOPSI OLEH PERTEMUAN KESEMBILAN PARA PIHAK

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan satu dari sedikit tempat di dunia dimana penyu laut

PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG KAWASAN TANPA ROKOK DALAM RANGKA PERLINDUNGAN TERHADAP PEROKOK PASIF

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. benua dan dua samudera mendorong terciptanya kekayaan alam yang luar biasa

PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2003 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Keanekaragaman hayati dianggap sangat penting untuk kehidupan

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN ATAS PENERAPAN KLAUSULA EKSONERASI DALAM PERJANJIAN BAKU

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di bumi ini terdapat berbagai macam kehidupan satwa, seperti

DIPONEGORO LAW JOURNAL Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Website :

BERITA NEGARA. KEMEN-LHK. Konservasi. Macan Tutul Jawa. Strategi dan Rencana Aksi. Tahun PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

IMPLEMENTASI PASAL 21 AYAT (2) Jo PASAL 40 AYAT (2) UNDANG- UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1990 TERHADAP TINDAK PIDANA PERDAGANGAN SATWA LIAR YANG DILINDUNGI

Written by Admin TNUK Saturday, 31 December :26 - Last Updated Wednesday, 04 January :53

URGENSI PERLINDUNGAN SPESIES LANGKA BERDASARKAN CONVENTION ON INTERNATIONAL TRADE IN ENDANGERED SPECIES OF WILD FAUNA AND FLORA

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PUBLIC POLICY SEBAGAI ALASAN PEMBATALAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL DI INDONESIA

2016, No (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419); 2. Undang-Undang Nom

VI. PERATURAN PERUNDANGAN DALAM PELESTARIAN ELANG JAWA

SANKSI PIDANA SEBAGAI UPAYA PENANGGULANGAN HUMAN TRAFFICKING DI DUNIA MAYA

PERLINDUNGAN HUKUM HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL TERHADAP PENGETAHUAN TRADISIONAL DI INDONESIA

PERAN DEWAN KEAMANAN PERSERIKATAN BANGSA BANGSA DALAM PEMBATASAN PENGGUNAAN SENJATA

SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PERBURUAN DAN PERDAGANGAN ORANGUTAN (Pongo pygmaeus) DI DESA KEPARI KECAMATAN SUNGAI LAUR KABUPATEN KETAPANG

Oleh: Arga Jongguran Tio Debora Sitinjak. Ngakan Ketut Dunia Marwanto Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana

PENGATURAN HUKUM WAJIB DAFTAR PESERTA BPJS BAGI TENAGA KERJA PERUSAHAAN

BAB I PENDAHULUAN. endemik pulau Jawa yang dilindungi (Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun

CATATAN ATAS RUU KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (VERSI DPR)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2000 TENTANG KEWENANGAN PEMERINTAH DAN KEWENANGAN PROPINSI SEBAGAI DAERAH OTONOM *)

Journal of International Relations, Volume 2, Nomor 1, Tahun 2016, hal Online di

KEPADATAN INDIVIDU KLAMPIAU (Hylobates muelleri) DI JALUR INTERPRETASI BUKIT BAKA DALAM KAWASAN TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA KABUPATEN MELAWI

PENDAHULUAN. termasuk ekosistem terkaya di dunia sehubungan dengan keanekaan hidupan

I. PENDAHULUAN. Kupu-kupu raja helena (Troides helena L.) merupakan kupu-kupu yang berukuran

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DAN/ ATAU SAKSI KORBAN TRANSNATIONAL CRIME DALAM PROSES PENEGAKAN HUKUM PIDANA

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BENTUK-BENTUK DAN PERLINDUNGAN KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DI INDONESIA

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. negara kepulauan yang terdiri dari tujuh belas ribu pulau. Pulau yang satu dengan

PENGATURAN MINUMAN BERALKOHOL GOLONGAN A BAGI PELAKU USAHA TOKO MODERN MINIMARKET

Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke negara-negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat. Kota, Negara Tanggal, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Berkurangnya luas hutan (sekitar 2 (dua) juta hektar per tahun) berkaitan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara terbesar yang memiliki

PENGATURAN PRICE FIXING DALAM KEGIATAN USAHA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2005

C. BIDANG KEHUTANAN SUB SUB BIDANG SUB BIDANG URAIAN

C. BIDANG KEHUTANAN SUB SUB BIDANG SUB BIDANG URAIAN

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PAUS DARI TINDAKAN ILLEGAL WHALE OVER FISHING

kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan manusia, untuk itu perlu diadakan suatu usaha untuk melindungi satwa-satwa liar tersebut, salah satu

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.39/Menhut-II/2012 TENTANG

Kata Kunci: Ekspresi budaya tradisional, Tarian tradisional, Perlindungan Hukum

Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Bank Dari Kejahatan Kerah Putih (White collar crime)

Oleh Anandita Sasni I Gst. Ayu Puspawati Ni Putu Purwanti Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRAK

PENJATUHAN HUKUMAN UNTUK PELAKU TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN HEWAN

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN BARANG ELEKTRONIK REKONDISI

Transkripsi:

PENGATURAN HUKUM TERHADAP PERDAGANGAN SPESIES LANGKA BERDASARKAN CONVENTION ON INTERNATIONAL TRADE IN ENDANGERED SPECIES OF WILD FAUNA AND FLORA (CITES) ABSTRACT Oleh A.A. Alit Mas Putri Dewanti Edward Thomas Lamury Hadjon Program Kekhususan Hukum Internasional This paper entitled Legal Arrangements Against Trade in Endangered Species under CITES that aims to analyze CITES as an international convention governing trade in certain species of wild flora and fauna. This study used normative legal research which is done by reviewing library materials and related regulations. This study shows that the mechanism controlling trade in endangered species based on Appendix I of the appendix that which prohibited trade, while Appendix II and III can be traded but controlled strictly. Law enforcement to CITES can be done in 3 stpes which is implementation, compliance, and enforcement. Keywords : CITES, International Trade, Endangered Species of wild flora and fauna ABSTRAK Tulisan ini berjudul Pengaturan Hukum Terhadap Perdagangan Spesies Langka Berdasarkan CITES bertujuan untuk menganalisa CITES sebagai suatu konvensi Internasional yang mengatur perdagangan spesies tertentu dari flora dan fauna langka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif yang dimana dilakukan dengan mengkaji bahan pustaka dan peraturan- peraturan yang terkait. Penelitian ini menunjukan bahwa mekanisme pengendalian perdagangan spesies langka berdasarkan appendiks yang dimana Appendiks I dilarang untuk diperdagangkan, sementara Appendiks II dan Appendix III dapat diperdagangkan tetapi dikontrol secara ketat. Penegakan hukum terhadap CITES dilakukan dalam 3 tahap yaitu Implementasi, Pemenuhan kewajiban, dan Pelaksanaan Hukum. Kata Kunci : CITES, Perdagangan ilegal, Spesies langka I.PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Maraknya perdagangan illegal flora dan fauna (spesies) langka mengancam keberlangsungan hidup spesies tersebut. Keuntungan yang besar serta belum optimalnya upaya penegakan hukum membuat banyak masyarakat yang memperdagangkan spesies langka secara illegal Kehidupan spesies langka telah diambang kepunahan apabila usaha perlindungan dan pelestariannya tidak dilakukan secara maksimal. Perdagangan spesies 1

langka hingga kini masih dilakukan secara illegal dan sulit diberantas karena perdagangan spesies langka tersebut sangat diminati banyak kalangan dengan harga tinggi 1. Melihat kenyataan tersebut, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) menganjurkan pembatasan perdagangan spesies langka dengan melahirkan sebuah perjanjian internasional yaitu CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora 2. Permasalahan perdagangan spesies langka yang sedang marak terjadi sangatlah menarik untuk dikaji terutama peranan CITES dalam menangani perdagangan spesies langka. 1.2 TUJUAN PENULISAN Tulisan ini hendak menganalisa mengenai peranan CITES dalam praktek perdagangan flora dan fauna langka dan sanksi hukum yang diberikan terhadap pelanggaran terhadap ketentuan konvensi. II. HASIL PEMBAHASAN 2.1 METODE PENELITIAN Dalam penulisan skripsi ini, penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif dilakukan dengan mengkaji peraturan perundang-undangan yang berlaku dan bahan pustaka. Penelitian hukum normatif mencakup : penelitian terhadap asasasas hukum, penelitian terhadap sistematika hukum, penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertical dan horizontal, perbandingan hukum dan sejarah hukum 3. 2.2 PENGATURAN PERDAGANGAN FLORA DAN FAUNA LANGKA DALAM KERANGKA CITES CITES adalah sebuah perjanjian internasional dimana didalamnya diatur mengenai perdagangan spesies tertentu dari flora fauna liar yakni spesies yang termasuk kategori terancam punah. CITES didasari atas kenyataan bahwa banyak terjadi perdagangan illegal yang mengeksploitasi flora maupun fauna liar. Mekanisme pengendalian perdagangan spesies yang terancam punah yang digunakan oleh CITES adalah mekanisme penggolongan 1 Supriatna,Jatna. 2008, Melestarikan Alam Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, H. 16 2 Heru Susanto, 2004, Arwana, PT.Niaga Swadaya, Jakarta, h.2. 3 Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, 2003, Penelitian hukum normative : Suatu Tinjauan Singkat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, h.14. 2

perlindungan berdasarkan appendix. Satwa dan tumbuhan yang dianggap harus dilindungi dan diatur dimasukkan ke dalam tiga jenis appendiks : a. Appendix I CITES Pengaturan mengenai perdagangan spesies yang termasuk dalam appendix I diatur dalam Article III CITES. Dalam Article II (1) 4 menyatakan Appendix I memuat daftar dan melindungi seluruh spesies flora dan fauna liar yang terancam punah sehingga dilarang dari segala bentuk perdagangan internasional. CITES melarang segala bentuk perdagangan spesies yang termasuk dalam appendix I. Impor atau ekspor spesies yang termasuk appendix I diizinkan sepanjang tidak untuk tujuan komersial (perdagangan) contohnya untuk penelitian dan penangkaran. b. Appendix II CITES Regulasi mengenai perdagangan spesies yang termasuk dalam diatur dalam Article IV CITES. Dalam Article II (2) 5 menyatakan bahwa appendix II memuat daftar spesies appendix II yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin terancam punah apabila perdagangan spesies tersebut tidak terkontrol. Perdagangan spesies yang termasuk dalam appendix II diizinkan dengan syarat harus melampirkan export permit atau re-export certificate. Permit atau certificate tersebut hanya dapat dikeluarkan oleh Otoritas pengelola dari Negara pengekspor apabila perdagangan tersebut tidak merugikan kelangsungan hidup spesies yang bersangkutan. c. Appendix III CITES Regulasi mengenai perdagangan spesies yang termasuk dalam appendix III diatur dalam Article V CITES. Menurut Article II (3) 6 appendix III memuat daftar spesies flora dan fauna yang telah dilindungi di suatu Negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitatnya dengan tujuan untuk mencegah dan membatasi eksploitasi spesies tersebut. 4 Article II (1) CITES : Appendix I shall include all species threatened with extinction which are or may be affected by trade. Trade in specimens of these species must be subject to particularly strict regulation in order not to endanger further their survival and must only be authorized in exceptional circumstance 5 Article II (2) CITES : Appendix II shall include: (a) all species which although not necessarily now threatened with extinction may become so unless trade in specimens of such species is subject to strict regulation in order to avoid utilization incompatible with their survival; and (b) other species which must be subject to regulation in order that trade in specimens of certain species referred to in sub-paragraph (a) of this paragraph may be brought under effective control 6 Appendix III shall include all species which any Party identifies as being subject to regulation within its jurisdiction for the purpose of preventing or restricting exploitation, and as needing the co-operation of other Parties in the control of trade 3

Pelaksanaan perdagangan internasional dilaksanakan melalui sistem permit / certificate yang dikeluarkan oleh CITES management authority yang dimana Appendiks I dilarang diperdagangkan, sementara Appendiks II dan III dapat diperdagangkan tetapi dikontrol secara ketat. 2.3 PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PERDAGANGAN ILEGAL BERDASARKAN CITES Untuk melihat apakah aturan-aturan dalam CITES berlaku secara efektif atau tidak dalam suatu negara,menurut Juan Carlos Vaquue CITES harus melakukan tiga tahap yaitu 7 : 1. Implementasi (Implementation) Suatu negara mengimplementasikan kewajiban-kewajiban CITES melalaui tiga Fase yang berbeda pertama; dengan mengadopsi tindakan-tindakan implementasi nasional termasuk tindakan-tindakan legislatif dan ekonomi, sistem informasi, rencana manajemen, dan unit pelaksana hukumnya, kedua; memastikan tindakantindakan nasional telah terpenuhi sesuai dengan yang ada di dalam wilayah yuridiksi dan kendali, ketiga; memenuhi kewajiban-kewajiban sekretariat CITES seperti, melaporkan volume perdagangan dan tindakan-tindakan (measure) yang dapat berpengaruh terhadap kewajiban internasionalnya 2. Pemenuhan kewajiban (compliance), Tahap ini memiliki dua dimensi, pada tingkat internasional berkaitan dengan apa yang telah dilakukan Negara anggota untuk memenuhi kewajibannya dengan obligasi yang ada di konvensi, dan pada tingkat nasional mengacu ke langkahlangkah yang diambil oleh individu atau entitas legal seperti korporasi dan agenagen pemerintah untuk memenuhi kewajiban undang-undang domestiknya. 3. Pelaksanaan Hukum (enforcement). Dalam konteks CITES, pelaksanaan hukum adalah tindakan-tindakan yang diambil oleh Negara anggota untuk menghentikan atau menghambat perdagangan legal ini termasuk inspeksi untuk menentukan status dari pemenuhan kewajiban undang-undang dan mendeteksi legal yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban dan menjatuhkan sanksi bagi yang melanggar aturan konvensi atau aturan nasional. 7 Juan Carlos Vasque,2003, Compliance and Efocement Mechanism Of CITES, Earthscan, London, h. 63 4

Penegakan ketentuan CITES memiliki kelemahan yaitu hanya memuat upaya pelaksanaan aturan yang bersifat umum dan mengembalikan pada masing-masing negara anggota dalam perumusannya, hal ini tercermin pada artikel VIII CITES. Kelemahan inilah yang membuat implementasi aturan CITES tidak dapat berjalan karena hanya beberapa negara anggota yang memiliki undang-undang mengenai perlindungan satwa yang memadai. Hasilnya, tingkat perburuan liar dan penyelundupan satwa masih tetap tinggi. III. KESIMPULAN 1. Mekanisme pengendalian perdagangan spesies yang terancam punah yang digunakan oleh CITES adalah mekanisme penggolongan perlindungan berdasarkan appendiks yang dimana Appendix I dilarang diperdagangkan, sementara Appendix II dan III dapat diperdagangkan tetapi dikontrol secara ketat. 2. Penegakan hukum terhadap CITES dilakukan dalam 3 tahap yaitu Implementasi (Implementation), Pemenuhan kewajiban (compliance), dan Pelaksanaan Hukum (enforcement). DAFTAR PUSTAKA Heru Susanto, 2004, Arwana, PT.Niaga Swadaya, Jakarta. Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, 2003, Penelitian hukum normative : Suatu Tinjauan Singkat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Supriatna Jatna, 2008, Melestarikan Alam Indonesi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Tonny Soehartono dan Ani Mardiastuti, 2003, Pelaksanaan Konvebsi CITES di Indonesia, Japan International Coorporatin Agency, Jakarta. Convention on International Trade In Endangered Species of Wild Fauna and Flora 5