BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
Ketebalan retina kira-kira 0,1 mm pada ora serata dan 0,56 mm pada kutub posterior. Di

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. apabila fungsi organ mata (makula dan saraf optik) normal, terdapat cukup cahaya

Gambar 2.1. Anatomi Retina (Sherwood, 2011).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Fisiologi Penglihatan: Fototransduksi dan Penyampaian Sinyal Visual

Bio Psikologi. Firman Alamsyah, MA. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1. Apa Itu Mata? 2. Jelaskan Bagian-Bagian dari Mata beserta fungsinya! 3. Bagaimana Mata Bisa Bekerja?

INDERA PENGLIHATAN (MATA)

HISTOFISIOLOGI RETINA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

10/6/2011 INDERA MATA. Paryono

Sumber : Tortora, 2009 Gambar 2.1. Anatomi Bola Mata

Anatomi Organ Mata. Anatomy Mata

PEMERIKSAAN PERGERAKAN MATA VISUS & TES BUTA WARNA

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Sensasi dan Persepsi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. STRABISMUS (MATA JULING)

PEMERIKSAAN PERGERAKAN MATA VISUS & TES BUTA WARNA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ

Struktur Anatomi Mata dan Mekanisme Penglihatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bola mata terletak di dalam kavum orbitae yang cukup terlindung (Mashudi,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Manusia mempunyai panca indra. Indra pertama yang penting yaitu indra

SENSASI PERSEPSI Biopsikologi

NERVUS OPTIKUS. Ari Budiono, S. Ked. Disusun oleh : Fakultas Kedokteran Universitas Riau RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Pekanbaru, Riau 2008

BAB II KAJIAN PUSTAKA. bergunamelakukanpengolahan data maupunkegiatankegiatansepertipembuatandokumenataupengolahan

Obat Diabetes Melitus Dapat Menghindari Komplikasi Mata Serius

Membedakan Warna Protanopia, Deuteranopia, Tritanopia. Sudjoko KUSWADJI Yayasan Sudjoko Kuswadji

KESEHATAN MATA DAN TELINGA

BAB III CARA PEMERIKSAAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. depan atau belakang bintik kuning dan tidak terletak pada satu titik yang tajam. 16

SISTEM KOORDINASI RITA WAHYUNINGSIH SMA NEGERI 5 MATARAM

Prevalensi Buta Warna Pada Calon Mahasiswa yang Masuk di Universitas Tadulako

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bagian-bagian yang melindungi mata: 1. Alis mata, berguna untuk menghindarkan masuknya keringat ke mata kita.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

INDERA PENGLIHATAN KELOMPOK 9 PANJI KUNCORO ( ) NILA NURFADHILAH ( ) RAHMAD WEDI APRIANSYAH PUTRA ( )

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Miopia (nearsightedness) adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar

TINJAUAN PUSTAKA. tepat di retina (Mansjoer, 2002). sudah menyatu sebelum sampai ke retina (Schmid, 2010). Titik fokus

Orang buta tidak buta lagi Aku ingin melihat dunia!

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1. Anatomi Mata

1. Sklera Berfungsi untuk mempertahankan mata agar tetap lembab. 2. Kornea (selaput bening) Pada bagian depan sklera terdapat selaput yang transparan

FOTOGRAFI merupakan SAINS dan SENI Kata PHOTOGRAPHY berasal dari bahasa Yunani, yang berarti MENULIS DGN SINAR. Aspek Sains Fotografi mengandung arti

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Glaukoma adalah sekumpulan gejala dengan tanda karakteristik berupa

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004 Yogyakarta, 19 Juni 2004

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Penentuan Warna Gigi Tiruan

LEMBAR KERJA SISWA (LKS) /TUGAS TERSTRUKTUR - - GELOMBANG ELEKTROMAGNET - G ELO MB ANG ELEK TRO M AG NETIK

O P T I K dan REFRAKSI. SMF Ilmu Kesehatan Mata RSD Dr.Soebandi FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

Aplikasi Simulasi Tes Buta Warna Berbasis Android Menggunakan Metode Ishihara

Gambar 3. Morfologi pepetek (Secutor insidiator)

BAB II LANDASAN TEORI. bagian depan orbita (Moore et al., 2010). Pada anak baru lahir, rata-rata. atau dewasa (Vaughan dan Asbury, 2009)

Berdasarkan tingginya dioptri, miopia dibagi dalam(ilyas,2014).:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Seseorang dengan katarak akan melihat benda seperti tertutupi kabut, lensa mata

Alat optik adalah suatu alat yang bekerja berdasarkan prinsip cahaya yang. menggunakan cermin, lensa atau gabungan keduanya untuk melihat benda

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 3. Sistem Koordinasi dan Alat InderaLatihan Soal 3.2

BAB I PENDAHULUAN. Mata merupakan bagian pancaindera yang sangat penting dibanding

biasanya dialami benda yang tidak tembus cahaya, sedangkan pembiasan terjadi pada benda yang transparan atau tembus cahaya. garis normal sinar bias

Sistem Saraf Tepi (perifer)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SILABUS MATA KULIAH 1. Standar kompetensi 2. Kompetensi dasar 3. Deskripsi mata ajar 4. Kegiatan Pembelajaran

BAB 1 PENDAHULUAN. Kornea merupakan lapisan depan bola mata, transparan, merupakan

*cermin datar terpendek yang diperlukan untuk dapat melihat seluruh bayangan adalah: SETENGAH dari TINGGI benda itu.

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 3. Sistem Koordinasi dan Alat InderaLatihan Soal 3.3

DIABETES MELLITUS I. DEFINISI DIABETES MELLITUS Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen

BAB II ANATOMI. Sebelum memahami lebih dalam tentang jenis-jenis trauma yang dapat terjadi pada mata,

GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

ENTROPION PADA KUCING

maka dilakukan dengan carafinger counting yaitu menghitung jari pemeriksa pada jarak 1 meter sampai 6 meter dengan visus 1/60 sampai 6/60.

LAP. LUAR/TUNIKA FIBROSA/KORNEOSKLERAL SKLERA KORNEA 1. SKLERA Merupakan 5/6 bagian posterior bola mata. Pd manusia membtk segmen melengkung. Tdd jar.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut data Riskesdas 2013, katarak atau kekeruhan lensa

BAB III KERANGKA KONSEPSIONAL DAN DEFINISI OPERASIONAL. Kerangka konsepsional merupakan kerangka yang menggambarkan dan

Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ORGAN PENYUSUN SISTEM SARAF MANUSIA

BAB I PENDAHULUAN. dimana kedua mata terdapat perbedaan kekuatan refraksi. 1,2

PENENTUAN TINGKAT BUTA WARNA BERBASIS HIS PADA CITRA ISHIHARA

BAB IV BIOOPTIK FISIKA KESEHATAN

Untuk terang ke 3 maka Maka diperoleh : adalah

Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar.

DAFTAR ISI. Definisi Traktus Spinotalamikus Anterior Traktus Spinotalamikus Lateral Daftar Pustaka

Jari-jari yang lain bersandar pada dahi dan pipi pasien. Kedua jari telunjuk menekan bola mata pada bagian belakang kornea bergantian

Pertemuan 02. Faktor Manusia. Sistem Komputer. Hardware

TUNA NETRA NUR INDAH PANGASTUTI

Sunglasses kesehatan mata

BAB 1 PENDAHULUAN. diabetes retinopati (1%), penyebab lain (18%). Untuk di negara kita, Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan suatu penyakit kegawatdaruratan neurologis yang berbahaya

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Buta Warna Buta warna adalah penglihatan warna-warna yang tidak sempurna. Buta warna juga dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga objek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya (Karina, 2007). Abnormalitas penglihatan warna tidak banyak mempengaruhi kehidupan awal manusia seperti pada masa kanak-kanak, karena tidak disertai oleh kelainan tajam penglihatan. Abnormalitas penglihatan warna mulai mempengaruhi ketika seseorang dihadapkan pada persyaratan untuk masuk jurusan tertentu yang buta warna menjadi salah satu kriteria seperti kedokteran, teknik, desain grafis, dan lain-lain. Oleh karena hal tersebut, identifikasi dini kelainan buta warna perlu dilakukan untuk membimbing anak dalam menentukan jenjang pendidikannya kelak (Ilyas,2012). 2.2. Etiologi Buta Warna Dua gen yang berhubungan dengan munculnya buta warna adalah OPN1LW (Opsin 1 Long Wave), yang menyandi pigmen merah dan OPN1MW (Opsin 1 Middle Wave), yang menyandi pigmen hijau (Deeb dan Motulsky, 2005). Buta warna dapat juga ditemukan pada penyakit makula, saraf optik. Pada kelainan retina ditemukan cacat relatif penglihatan warna biru dan kuning,sedang pada kelainan saraf optik kelainan yang didapat adalah melihat warna merah dan hijau (Ilyas, 2012). Buta warna merah-hijau adalah kelainan genetik yang timbul hampir hanya pada laki-laki. Gen-gen pada kromosom X perempuan menyandi untuk masing-masing sel kerucut. Namun buta warna hampir tidak pernah terjadi pada perempuan karena setidaknya satu dari dua kromosom X hampir selalu memiliki gen normal untuk setiap jenis sel kerucut. Karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, gen yang hilang dapat menyebabkan buta warna.

Karena kromosom X pada laki-laki selalu diturunkan dari ibu, dan tidak pernah dari ayahnya, buta warna diturunkan dari ibu ke anak laki-lakinya dan ibu tersebut dikatakan sebagai carrier buta warna. Keadaan tersebut terjadi pada sekitar 8 persen dari seluruh perempuan (Guyton, 2008). Gambar 2.1 Bagan X-linked Dikutip dari : Howard Hughes Medical Institute,2006. Colour Blindness: More Prevalent Among Males. Available from: http://hhmi.org/senses/b130.html. 2.3. Anatomi Retina Retina adalah lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan semitransparan yang melapisi bagian dalam dua pertiga posterior dinding bola mata. Retina membentang ke anterior hampir sejauh korpus siliaris dan berakhir pada ora serrata dengan tepi yang tidak rata. Retina mempunyai tebal 0,1 mm pada ora serata dan 0,5 mm pada kutub posterior. Di tengah retina posterior terdapat makula berdiameter 5-5,6 mm yang secara klinis dinyatakan sebagai daerah yang dibatasi oleh cabang-cabang pembuluh darah retina temporal (Vaughan, 2012). Pada pertengahan bagian posterior retina terdapat daerah

lonjong kekuningan yang disebut makula lutea, yang merupakan area retina dengan daya lihat paling jelas. Bagian anterior retina bersifat tidak peka dan hanya terdiri atas sel-sel berpigmen dengan lapisan silindris di bawahnya. Bagian anterior retina ini menutupi prosessus dan belakang iris (Snell, 2006). Permukaan luar retina sensorius bertumpuk dengan lapisan-lapisan epitel berpigmen retina sehingga juga berhubungan dengan membran bruch, koroid, dan sklera. Di sebagian besar tempat, retina, dan epitel pigmen retina saling melekat kuat sehingga perluasan cairan subretina pada ablasi retina dapat dibatasi. Hal ini berlawanan dengan ruang subkoroid yang dapat terbentuk antara koroid dan sklera, yang meluas ke taji sklera. Dengan demikian, ablasi koroid akan meluas melampaui ora serrata, dibawah pars plana dan pars plikata. Lapisan-lapisan epitel pada permukaan dalam korpus siliaris dan permukaan posterior iris merupakan perluasan retina dan epitel pigmen retina ke anterior. Permukaan dalam retina berhadapan dengan vitreus (Vaughan, 2012). Retina menerima darah dari dua sumber khorio kapilaria yang berada tepat diluar membran bruch, yang mendarahi sepertiga luar retina, termasuk lapisan pleksiformis luar dan lapisan inti luar, fotoreseptor, dan lapisan epitel pigmen retina, serta cabang-cabang dari arteri sentralis retina, yang mendarahi dua pertiga dalam retina (Vaughan, 2012). Lapisan-lapisan retina, mulai dari sisi dalamnya, adalah sebagai berikut: (Ilyas, 2012) 1. Membrana limitans interna, merupakan membran hialin antara retina dan badan kaca. 2. Lapisan serat saraf, yang mengandung akson-akson sel ganglion yang berjalan menuju ke nervus optikus. Di dalam lapisan-lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina. 3. Lapisan sel ganglion, yang merupakan lapis badan sel dari neuron kedua. 4. Lapisan pleksiformis dalam, yang mengandung sambungansambungan sel ganglion dengan sel amakrin dan sel ganglion.

5. Lapisan inti dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal dan sel Muller. Lapisan ini mendapat metabolisme dari arteri retina sentral. 6. Lapisan pleksiformis luar, merupakan lapis aselular dan merupakan tempat sinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal. 7. Lapisan inti luar, merupakan susunan lapis nukleus sel kerucut dan sel batang. 8. Mambrana limitans eksterna, merupakan membran ilusi. 9. Lapisan fotoreseptor, merupakan lapisan terluar retina terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping dan sel kerucut. Retina merupakan bagian mata yang peka terhadap cahaya, mengandung sel-sel kerucut yang berfungsi untuk penglihatan warna dan sel-sel batang yang terutama berfungsi untuk penglihatan hitam dan putih serta penglihatan di dalam gelap. Pada umumnya, sel batang lebih pipih dan lebih panjang daripada sel kerucut, namun tidak selalu demikian. Pada bagian perifer retina, sel batang berdiameter 2 sampai 5 mikrometer, sedangkan diameter sel kerucut sebesar 5 sampai 8 mikrometer. Pada bagian tengah retina, yakni di dalam fovea sel batang dan sel kerucut lebih ramping dan memiliki diameter 1,5 mikrometer (Guyton, 2008). 2.4. Fisiologi Mata Retina adalah jaringan mata yang paling kompleks. Mata berfungsi sebagai suatu alat optik, suatu reseptor yang kompleks, dan suatu transduser yang efektif. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor mengubah rangsangan cahaya menjadi suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh jaras-jaras penglihatan ke korteks penglihatan oksipital (Vaughan,2011). Fotoreseptor tersusun sedemikian rupa sehingga kerapatan sel kerucut meningkat di pusat makula (fovea), semakin berkurang ke perifer, dan kerapatan sel batang lebih tinggi di perifer. Di foveola, terdapat hubungan hampir 1:1 antara fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya dan serat-serat saraf yang keluar, sedangkan di retina perifer, sejumlah fotoreseptor dihubungkan ke sel ganglion yang sama. Fovea berperan pada resolusi spasial (ketajaman penglihatan) dan penglihatan

warna baik. Keduanya memerlukan pencahayaan yang terang (penglihatan fotopik) dan paling baik di foveola. Sementara retina sisanya terutama dipergunakan untuk penglihatan gerak kontras, dan penglihatan malam (skotopik) (Vaughan, 2012). Cahaya harus melewati lapisan ganglion dan bipolar sebelum mencapai fotoreseptor di semua daerah di retina, kecuali fovea. Lapisan bipolar dan ganglion tertarik ke samping, sehingga cahaya secara langsung mengenai fotoreseptor (Sherwood, 2003). Fotoreseptor kerucut dan batang terletak dilapisan terluar retina sensorik yang avaskular dan merupakan tempat berlangsungnya reaksi kimia yang mengawali proses penglihatan. Fotoreseptor dipelihara oleh epitel pigmen retina yang berperan penting dalam proses penglihatan. Epitel ini bertanggung jawab untuk fagositosis segmen luar fotoreseptor, transportasi vitamin, mengurangi hamburan sinar, serta membentuk sawar selektif antara koroid dan retina (Vaughan, 2012). 2.5. Fisiologi Mata Melihat Warna Penglihatan warna diperankan oleh sel kerucut yang mempunyai pigmen terutama cis aldehida A2. Penglihatan warna merupakan kemampuan membedakan gelombang sinar yang berbeda. Warna ini terlihat akibat gelombang elektromagnetnya mempunyai panjang gelombang yang terletak antara 440-700 nm (Ilyas, 2012). Penglihatan warna sangat dipengaruhi oleh tiga macam pigmen di dalam sel kerucut sehingga sel kerucut/ conus menjadi peka secara selektif terhadap berbagai warna biru, merah, dan hijau. Banyak teori berbeda diajukan untuk menjelaskan fenomena penglihatan, tapi biasanya teori-teori itu didasarkan pada pengamatan yang sudah dikenal dengan baik, yaitu bahwa mata manusia dapat mendeteksi hampir semua gradasi warna bila cahaya monokromatik merah, hijau, dan biru dicampur secara tepat dalam berbagai kombinasi. Penglihatan bergantung pada stimulasi fotoreseptor retina oleh cahaya. Benda-benda tertentu di lingkungan, misalnya matahari, api, dan bola lampu, memancarkan cahaya.

Pigmen-pigmen di berbagai benda secara selektif menyerap panjang gelombang tertentu cahaya yang datang dari sumber-sumber cahaya, dan panjang gelombang yang tidak diserap dipantulkan dari permukaan benda. Berkas-berkas cahaya yang dipantulkan inilah yang memungkinkan kita melihat benda tersebut. Suatu benda yang tampak biru menyerap panjang gelombang cahaya merah dan hijau yang lebih panjang dan memantulkan panjang gelombang biru yang lebih pendek, yang dapat diserap oleh fotopigmen di sel-sel kerucut biru mata, sehingga terjadi pengaktifan sel-sel tersebut (Sherwood, 2003). Gambar 2.2 Panjang Gelombang Persepsi Warna Dikutip dari:guyton, A.C & Hall, J.E (2008) Textbook of Medical Physiology, Philadephia: Elsevier Sauders. 2.6. Klasifikasi Buta Warna Mata merupakan corak gelombang dengan kejenuhannya pada warna putih. Dikenal warna primer yaitu warna dasar yang dapat memberikan jenis warna yang terlihat dengan campuran ukuran tertentu. Buta warna dikenal berdasarkan istilah Yunani protos (pertama), deutros (kedua), dan tritos (ketiga). Adapun klasifikasinya sebagai berikut: (Ilyas,2012) 1. Trikomat yaitu keadaan pasien mempunyai 3 pigmen kerucut yang mengatur fungsi penglihatan. Pasien buta warna dapat melihat

berbagai warna akan tetapi dengan interpretasi berbeda dari normal,yang paling sering ditemukan adalah: Trikomat anomali, dimana pasien mempunyai ketiga pigmen kerucut akan tetapi satu tidak normal. Pada anomali ini perbandingan merah hijau yang dipilih pada anomaloskop berbeda dibanding dengan orang normal. Deutronomali dengan cacat pada hijau sehingga diperlukan lebih banyak hijau karena terjadi gangguan lebih banyak daripada warna hijau. Protanomali di mana diperlukan lebih banyak warna merah untuk menggabungkan menjadi kuning baku pada anomaloskop, yang pada pasien terdapat buta berat terhadap warna hijau merah dimana merah lebih banyak terganggu. Protanomalia dan deutronomali diturunkan X-linked dan di Amerika terdapat pada 5% anak lak-laki. Bentuk keempat disebut akromatopsia atau buta warna total, di mana seseorang hanya dapat membedakan warna dalam bentuk hitam putih saja. 2. Dikromat, adalah pasien yang mempunyai 2 pigmen kerucut dan mengakibatkan sukar membedakan warna tertentu. Protanopia, keadaan yang paling sering ditemukan dengan cacat warna merah hijau. Deutronopia, kurang pigmen hijau. Tritanopia, dimana terdapat kesukaran membedakan dengan warna merah dari kuning. 3. Monokromat atau akromatopsia dimana hanya terdapat satu pigmen kerucut (monokromat rod atau batang). Bentuk-bentuk buta warnanya dikenal juga: Monokromatisme rod (batang) atau disebut juga dengan suatu akromatopsia dimana terdapat kelainan pada kedua mata bersama dengan keadaan lain seperti tajam penglihatan kurang dari 6/60, nistagmus, fotofobia, skotoma sentral, dan mungkin terjadi akibat

kelainan sentral hingga terdapat gangguan penglihatan warna total, hemeralopia (buta silang) tidak terdapat buta senja/ malam, dengan kelainan refraksi yang tinggi. Monokromatisme cone (kerucut), dimana terdapat hanya sedikit cacat, hal yang jarang, tajam penglihatan normal tidak terdapat nistagmus. Gambar 2.3 Persepsi Warna Pada Gangguan Mata Dikutip dari:guyton, A.C & Hall, J.E (2008) Textbook of Medical Physiology, Philadephia: Elsevier Sauders.

2.7. Diagnosis Buta Warna Tes yang umum digunakan untuk tes buta warna adalah uji Ishihara, Hardy-Rand Rittler, City University, Farnsworth-Munsell 100 Hue, Farnsworth D 15 hue discrimation. a. Ishihara Test Merupakan uji untuk mengetahui defek penglihatan warna didasarkan pada penentuan angka yang ada pada kartu dengan berbagai warna. Merupakan pemeriksaan untuk penglihatan warna dengan memakai satu seri titik bola kecil dengan warna dan besar yang berbeda, sehingga dalam keseluruhan terlihat warna pucat dan menyukarkan pasien dengan kelainan penglihatan warna melihatnya. Penderita buta warna atau dengan kelainan penglihatan warna dapat melihat sebagian atau sama sekali tidak dapat melihat gambaran yang diperlihatkan. Pada pemeriksaan pasien diminta melihat dan mengenali tanda gambar yang diperlihatkan dalam waktu 10 detik (Ilyas, 2012). Ishihara merupakan alat yang sering digunakan untuk screening buta warna yang banyak dipakai dibanyak Negara (Miyahara, 2007). Gambar 2.4. Uji Ishihara Dikutip dari: Ilyas,Sidarta. 2012. Edisi ketiga. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FK UI b. Hardy Rand Rittler Hardy Rand Rittler Test merupakan tes yang dikembangkan oleh Hardy,Rand, dan Rittler dan dipublikasi di American Optical Company tahun 1955 untuk menguji defisiensi warna protan, deutan, dan tritan (Cole,2005).

Hardy Rand Rittler merupakan tes yang hampir sama seperti pada Ishihara, hanya saja pada Hardy Rand Rittler menggunakan pola dan simbol yang harus dibaca pada latar belakang berwarna dengan yang terdiri dari banyak titik-titik (American Academy Opthalmology, 2001). Gambar 2.5. Hardy Rand Rittler Dikuti dari: Kanski, Jack. 2007. Clinical Opthalmology. Sixth Edition. British: Elsevier

c. City University Uji yang terdiri dari 10 platelet yang berisi satu warna pada bagian sentral dan 4 warna yang ada pada bagian pinggir. Cara melalukannya, pasien diminta untuk mencocokan satu warna pada bagian pinggir dengan warna pada bagian sentral (American Academy of Opthalmology,2001). Gambar 2.6. City University Dikutip dari: Kanski, Jack. 2007. Clinical Opthalmology. Sixth Edition. British: Elsevier. d. Farnsworth-Munsell 100 Hue Permeriksaan Farnsworth-Munsell 100 Hue ini adalah untuk melihat kemampuan seseorang menyusun kecerahan warna. Susunan terdiri dari atas 4 sajian dimana terdapat 85 topi yang dapat dipindah-pindah. Warna dari topi mempunyai kecerahan bertambah yang mempunyai nomor dibelakangnya (Ilyas, 2012). Farnsworth-Munsell ini digunakan untuk mengukur chromatic discrimination, mengidenfikasi kelainan buta warna karena kongenital, perubahan karena penyakit neurologis atau efek samping dari pemberiaan obat (Kinnear, 2002).

Gambar 2.7. Farnsworth-Munsell Dikutip dari: Departement of Pathology and Opthalmology, University of Britol.1991. Colour Perception in Pathologist: the Farnsworth Munsell 100 Hue Test e. Farnsworth D-15 Pemeriksaan Farnsworth D-15 merupakan modifikasi sederhana dari Farnsworth-Munsell 100 hue. Prinsip kerjanya pun hampir sama dengan cara meyusun kecerahan warna, hanya saja pada permeriksaan Farnswoth D-15 jumlah topi warna yang akan disusun hanya 15 topi (Kanski, 2007). Gambar 2.8 Farnsworth D-15 Dikutip dari: Kanski, Jack. 2007. Clinical Opthalmology. Sixth Edition. British: Elsevier. 2.8. Penatalaksanaan Tidak ada pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan untuk mengobati masalah gangguan persepsi warna. Namun penderita buta warna ringan dapat belajar mengasosiasikan warna dengan objek tertentu. Untuk mengurangi gejala dapat digunakan kacamata berlensa dengan filter warna khusus yang

memungkinkan pasien melakukan interpretasi kembali warna. Gangguan penglihatan warna yang diturunkan tidak dapat diobati atau dikoreksi. Beberapa gangguan penglihatan warna yang didapat dapat diobati, bergantung pada penyebabnya. Sebagai contoh jika katarak merupakan penyebab gangguan penglihatan warna, operasi untuk mengangkat katarak dapat mengembalikan penglihatan warna menjadi normal. Beberapa cara untuk membantu gangguan penglihatan warna, antara lain: 1. Memakai lensa kontak berwarna. Hal ini dapat membantu membedakan warna, tetapi lensa ini tidak menjadikan penglihatan menjadi normal dan objek yang dilihat dapat terdistorsi. 2. Memakai kacamata yang memblok sinar yang menyilaukan. Orang dengan masalah penglihatan dapat membedakan warna lebih baik saat ada penghalang sinar yang menyilaukan (stiles,2006). 2.9. Pencegahan Tidak ada cara untuk mencegah buta warna genetik. Tidak ada cara juga untuk mencegah buta warna didapat yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer, diabetes mellitus, leukemia, penyakit hati, degenerasi makular, multipel sklerosis, penyakit Parkinson, anemia sel bulan sabit, dan retinitis pigmentosa. Membatasi penggunaan alkohol dan obat, seperti antibiotik, barbiturat, obat antituberkulosis, pengobatan tekanan darah tinggi, dan beberapa pengobatan yang digunakan untuk penyakit saraf dan psikologis, ke level yang dibutuhkan untuk keuntungan terapeutik dapat membatasi buta warna didapat. Pencegah peningkatan kasus buta warna misalnya dengan melakukan konseling pranikah. Kejadian buta warna juga meningkat pada pool genetic dengan perkawinan di antara satu komunitas terisolir (Daniel, 2002).