Gambar 3.1. Diagram Nilai PCI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III LANDASAN TEORI. dapat digunakan sebagai acuan dalam usaha pemeliharaan. Nilai Pavement

BAB III LANDASAN TEORI. Pada metode Bina Marga (BM) ini jenis kerusakan yang perlu diperhatikan

BAB III LANDASAN TEORI. dapat digunakan sebagai acuan dalam usaha pemeliharaan. Nilai Pavement

BAB III LANDASAN TEORI. jalan, diperlukan pelapisan ulang (overlay) pada daerah - daerah yang mengalami

BAB III METODA PERENCANAAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

EVALUASI KERUSAKAN JALAN STUDI KASUS (JALAN DR WAHIDIN KEBON AGUNG) SLEMAN, DIY

BAB II DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Umum 2.2 Dasar Teori Oglesby, C.H Hicks, R.G

BAB III LANDASAN TEORI. A. Parameter Desain

Menetapkan Tebal Lapis Perkerasan

BAB V EVALUASI V-1 BAB V EVALUASI

BAB II1 METODOLOGI. Berikut ini adalah bagan alir (Flow Chart) proses perencanaan lapis

EVALUASI KERUSAKAN RUAS JALAN PULAU INDAH, KELAPA LIMA, KUPANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX

BAB III LANDASAN TEORI. digunakan sebagai acuan dalam usaha pemeliharaan. Nilai Pavement Condition Index

BAB IV PERHITUNGAN TEBAL PERKERASAN LENTUR

DAFTAR ISI. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kajian Pustaka Ulasan Pustaka Terhadap Penelitian Ini Ringkasan Penelitian Lain...

BAB III METODOLOGI 3.1 Metode Pengumpulan Data

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. kerusakan ruas Jalan Pulau Indah, Kupang dari STA 0+00 STA 0+800, maka

BAB V VERIFIKASI PROGRAM

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Provinsi Banten ini nantinya akan berubah status dari Jalan Kolektor

Penggunaan Hot Rolled Asphalt Sebagai Alternatif Lapisan Tambahan Perkerasan pada Ruas Jalan Pacitan Glonggong di Pacitan. Sri Wiwoho M, ST, MT

DENY MIFTAKUL A. J NIM. I

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memenuhi syarat-syarat secara teknis maupun ekonomis. Syarat-Syarat umum jalan yang harus dipenuhi adalah:

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Metode AASHTO 1993 LHR 2016

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DITERBITKAN OLEH YAYASAN BADAN PENERBIT PU

FASILITAS PEJALAN KAKI

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian B. Rumusan Masalah

EVALUASI JENIS DAN TINGKAT KERUSAKAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI) (STUDI KASUS: JALAN ARIFIN AHMAD, DUMAI )

BAB IV STUDI KASUS BAB 4 STUDI KASUS

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. A. Tahap Penelitian. Tahapan analisis data dijelaskan dalam bagan alir seperti Gambar 4.1. Start.

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN PERKERASAN LENTUR KONSTRUKSI JALAN RAYA. 1. Nama Proyek : Pembangunan Jalan Spine Road III Bukit Sentul

BAB IV METODE PENELITIAN

PERKERASAN DAN PELEBARAN RUAS JALAN PADA PAKET HEPANG NITA DENGAN SYSTEM LATASTON

ANALISIS TEBAL PERKERASAN LENTUR DENGAN METODE ANALISA KOMPONEN SKBI 1987 BINA MARGA DAN METODE AASHTO

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Metode Analisa Komponen

BAB III LANDASAN TEORI. A. Perlintasan Sebidang

BAB III LANDASAN TEORI

B. Metode AASHTO 1993 LHR 2016

BAB IV PERHITUNGAN TEBAL PERKERASAN LENTUR. perumahan Puri Botanical Residence di jl. Joglo Jakarta barat. ditanah seluas 4058

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Tahap Penelitian. Tahapan penelitian dijelaskan dalam bagan alir pada Gambar 4.1. Mulai. Studi Pustaka.

ANALISA PENGUJIAN DYNAMIC CONE PENETROMETER

BAB IV METODE PENELITIAN. Mulai. Studi Pustaka. Metode Penelitian. Persiapan. Pengambilan Data

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISA DAMPAK BEBAN KENDARAAN TERHADAP KERUSAKAN JALAN. (Studi Kasus : Ruas Jalan Pahlawah, Kec. Citeureup, Kab. Bogor) Oleh:

Agus Surandono 1) Rivan Rinaldi 2)

EVALUASI KERUSAKAN JALAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

DAFTAR ISI JUDUL LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI DEDIKASI KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB III METODE PERENCANAAN. 1. Metode observasi dalam hal ini yang sangat membantu dalam mengetahui

BAB 3 METODOLOGI PENULISAN. program sebagai alat bantu adalah sbb: a. Penyelesaian perhitungan menggunakan alat bantu software komputer untuk

PENGARUH KELEBIHAN BEBAN TERHADAP UMUR RENCANA JALAN

ANALISA KONDISI KERUSAKAN JALAN PADA LAPIS PERMUKAAN JALAN MENGGUNAKAN METODE PCI (Studi Kasus : Ruas Jalan Blora Cepu ) 1 ABSTRAK

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS


DAFTAR ISI. Halaman Judul Pengesahan KATA PENGANTAR

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

TINJAUAN TEBAL PERKERASAN LENTUR JALAN SIMPANG BULOH LINE PIPA STA , PEMKOT LHOKSEUMAWE 1 Romaynoor Ismy dan 2 Hayatun Nufus 1

DAFTAR ISI.. KATA PENGANTAR i DAFTAR GAMBAR. DAFTAR TABEL.. DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN..

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian. Mulai. Identifikasi Masalah. Studi pustaka. Metode penelitian. Orientasi lapangan.

PERENCANAAN ULANG TEBAL PERKERASAN BERDASARKAN FOKTOR-FAKTOR KERUSAKAN JALAN (Studi Kasus: Jalan Lapang Ujung Barasok, Kecamatan Johan Pahlawan)

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sampai saat ini ada 3 (tiga) jenis perkerasan jalan yang sering digunakan, yaitu :

BAB IV METODE PENELITIAN. Mulai. Identifikasi Masalah. Studi Literatur. Pengumpulan Data Sekunder. Rekapitulasi Data. Pengolahan Data.

LAPORAN. Ditulis untuk Menyelesaikan Matakuliah Tugas Akhir Semester VI Pendidikan Program Diploma III. oleh: NIM NIM.

STUDI BANDING DESAIN TEBAL PERKERASAN LENTUR MENGGUNAKAN METODE SNI F DAN Pt T B

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Bagan Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tahap-tahap penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 4.1.

BAB V ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN. A. Data Survei. 1. Kelengkapan Infrastruktur Perlintasan Sebidang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

TEKNIKA VOL.3 NO.2 OKTOBER_2016

TINJAUAN ULANG PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN LENTUR JALAN RAYA MENGGUNAKAN METODE BINA MARGA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kadar air menggunakan tanah terganggu (disturbed), dilakukan

STUDI KASUS: JALAN RUAS KM. 35 PULANG PISAU. Adi Sutrisno 06/198150/TK/32229

PERBANDINGAN TEBAL LAPIS PERKERASAN DENGAN METODE ANALISA KOMPONEN DAN ASPHALT INSTITUTE

ANALISIS KERUSAKAN KONSTRUKSI JALAN ASPAL DI KOTA MAKASSAR DENGAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (STUDI KASUS : JALAN LETJEND HERTASNING)

PENGARUH BEBAN KENDARAAN TERHADAP KERUSAKAN JALAN (studi kasus ruas jalan K.H. Ahmad Sanusi Sukabumi)

PERENCANAAN PENINGKATAN JALAN TUBAN BULU KM KM JAWA TIMUR DENGAN PERKERASAN LENTUR

BAB IV HASIL SURVEY DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

PENILAIAN KONDISI PERKERASAN PADA JALAN S.M. AMIN KOTA PEKANBARU DENGAN PERBANDINGAN METODE BINA MARGA DAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI)

BAB III LANDASAN TEORI. A. Perkerasan Lentur

BAB IV PERENCANAAN. Perkerasan Lentur Jalan Raya Dengan Metode Analisa Komponen SKBI

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.2. Mekanisme Tegangan dan Regangan pada Struktur Perkeraan 11

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS TEBAL LAPISAN PERKERASAN LENTUR JALAN LINGKAR MAJALAYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALISIS KOMPONEN SNI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II DASAR TEORI BAB 2 DASAR TEORI

Dalam perencanaan lapis perkerasan suatu jalan sangat perlu diperhatikan, bahwa bukan cuma karakteristik

STUDI STUDI PERENCANAAN TEBAL LAPISAN PERKERASAN TAMBAHAN (OVERLAY) PADA RUAS JALAN MOTAHARE-RAILACO (STA STA ) TIMOR LESTE

Transkripsi:

BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Penentuan Kerusakan Jalan Ada beberapa metode yang digunakan dalam menentukan jenis dan tingkat kerusakan jalan salah satu adalah metode pavement condition index (PCI). Menurut Shahin (1994) tentang Pavement Management for Airports, Roads, and ParkingLots, Pavement Condition Index (PCI) merupakan salah satu sistem penilaian yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan kondisi perkerasan jalan berdasarkan jenis dan tingkat kerusakan dalam usaha pemeliharaan jalan. Sistem penilaian Pavement Condition Index (PCI) ini memiliki rentang nilai dari 0 (nol) sampai 100 (seratus) dengan kriteria sempurna (excellent), sangat baik (very good), baik (good), sedang (fair), sangat jelek (very poor), dan gagal (failed). Penilain kondisi perkerasan sangat diperlukan untuk menentukan nilai Pavement Condition Index sumber : Shahin, 1994 Gambar 3.1. Diagram Nilai PCI 18

19 Parameter-parameter yang digunakan dalam menentukan penilaian kondisi perkerasan antara lain: 3.1.1. Density (kadar kerusakan) Density atau kadar kerusakan merupakan presentase kerusakan terhadap luasan suatu unit segmen yang diukur per meter persegi atau per meter panjang. Masing-masing tingkat kerusakan mempunyai nilai density yang berbeda-beda. Rumus untuk menentukan nilai density yaitu: Density = x 100 %...(3 1) Atau Density = x 100 %...(3-2) Dengan : Ad : Luas total jenis kerusakan untuk tiap tingkat kerusakan (m²). Ld : Panjang total jenis kerusakan untuk tiap tingkat kerusakan (m). As : Luas total unit segmen (m²). 3.1.2. Deduct value (nilai pengurangan) Deduct Value merupakan nilai pengurangan yang diperoleh dari kurva hubungan berdasarkan nilai density dan deduct value untuk masing-masing jenis kerusakan. Deduct Value dibedakan atas tingkat kerusakan untuk masing-masing jenis kerusakan.

20 Gambar 3.2. Grafik Deduct Value Kerusakan Lubang (Potholes) Gambar 3.3. Grafik Deduct Value Kerusakan Bergelombang dan Keriting (Corrugation) Gambar 3.4. Grafik Deduct Value Kerusakan Sungkur (Shoving)

21 Gambar 3.5. Grafik Deduct Value Kerusakan Retak Pinggir (Edge Cracking) Gambar 3.7. Grafik Deduct Value Kerusakan Retak Memanjang (Longitudinal/Transverse Cracking) Gambar 3.8. Grafik Deduct Value Kerusakan Retak Kulit Buaya (Alligator Cracking)

22 3.1.3. Total deduct value (TDV) Total Deduct Value (TDV) merupakan nilai total yang diperoleh dari individual deduct value untuk masing-masing jenis kerusakan dan tingkat kerusakan yang ada pada suatu unit penelitian. 3.1.4. Corrected deduct value (CDV) Corrected Deduct Value (CDV) merupakan nilai yang diperoleh dari kurva hubungan antara nilai TDV dan nilai CDV dengan pemulihan lengkungkurva sesuai dengan jumlah nilai individual deduct value yang mempunyai nilai lebih besar dari 2 (dua). Gambar 3.9. Grafik Corrected Deduct Value 3.1.5. Klasifikasi kualitas perkerasan Rumus untuk menentukan nilai PCI tiap unit yaitu: PCI(S) = 100 CDV.(3 4) Dengan : PCI(S) : Pavement Condition Index untuk tiap unit. CDV : Corrected Deduct Value untuk tiap unit. Rumus untuk menentukan nilai PCI secara keseluruhan yaitu :

23 PCI =... (3 5) Dengan : PCI : Nilai PCI perkerasan secara keseluruhan. PCI(S) : Pavement condition index untuk masing-masing unit N : Jumlah seluruh unit 3.2. Perancangan Tebal Lapis Tambahan (Overlay) Dalam menenetukan tebal lapis perkerasan tambahan (overlay) menggunakan metode analisa komponen SKBI 2.3.26.1987 UDC : 625.73 (02) Metode analisa komponen merupakan suatu metode yang digunakan di Indonesia untuk menentukan tebal lapis tambahan (overlay) dan merencanakan tebal perkerasan jalan baru. Metode ini mengacu pada metode AASHATO 1972 dengan mempertimbangkan berbagai parameter antara lain : 3.2.1. Lalu lintas harian rata-rata 1. Lalu lintas harian rata-rata (LHR) Lalu Lintas Harian rata-rata (LHR) merupakan jumlah rata-rata lalu lintas harian kendaraan bermotor dari yang beroda 2 sampai dengan kendaraan berat yang dihitung pada awal umur rencana. Pencatatan kendaraan ini dilakukan pada kedua arah jalan tanpa median maupun tiap-tiap arah jalan dengan median selama sehari 24 jam.

24 2. Lintas ekivalen permulaan (LEP) Lintas Ekivalen Permulaan (LEP) merupakan jumlah lintas ekivalen harian rata-rata kendaraan dari as tunggal seberat 8,2 ton (18.000 lbs) yang diduga terjadisaat jalan tersebut dibuka atau awal umur rencana pada jalur rencana. Lintas ekivalen permulaan (LEP) dihitung dengan rumus : LEP =.....(3 6) Dengan: J n :Jenis kendaraan : Tahun pengamatan Cj : Koefisien distribusi kendaraan LHR :lalu lintas harian rata-rata Ej : Angka ekivalen (E) beban sumbu kendaraan 3. Lintas ekivalen akhir (LEA) Lintas ekivalen akhir merupakan besarnya lintas ekivalen harian rata-rata kendaraan dari as tunggal seberat 8,2 ton (18.000 lbs) yang terjadi pada akhir rencana dan dihitung dengan rumus: LEA =.........(3 7) Dengan: J N : Jenis kendaraan : Tahun pengamatan Cj : Koefisien Distribusi kendaraan LHR : Lalu lintas harian rata-rata UR : Umur rencana

25 Ej : Angka ekivalen (E) beban sumbu kendaraan 4. Lintas ekivalen tengah (LET) Lintas Ekivalen Tengah (LET) merupakan besarnya lintas ekivalen harian ratarata kendaraan sumbu tunggal seberat 8,2 ton (18.000 lbs) yang diduga tenjadi pada pertengahan umur rencana. Rumus untuk menghitung lintas ekivalen tengah (LET) yaitu: LET =..(3 8) 5. Lintas ekivalen rencana Lintas Ekivaken Rencana (LER) merupakan jumlah lintas ekivalen harian ratarata kendaraan sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lbs) yang akan melintasi jalan tersebut selama umur rencana. untuk menyatakan jumlah lintasekivalen pada lajur rencana dihitung dengan menggunakan persamaan : LER = LET x FP...(3-9) FP =....(3 10) Dengan : FP : Faktor penyesuaian UR : Umur rencana 3.2.2. Angka ekivalen Angka ekivalen kendaraan merupakan standar yang menunjukan jumlah lintasan kendaraan dengan as tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lbs) yang apabila melintas lewat dari satu kali pada lajur yang sama akan menyebakan penurunan indeks permukaan. Angka ekivalen untuk masing-masing golongan beban sumbu dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:

26 1. Untuk beban sumbu tunggal Angka Ekuivalen sumbu tunggal = 1 x[ ]..(3 11) 2. Untuk beban sumbu ganda Angka Ekuivalen sumbu ganda = 0,086 x[ ]...(3 12) 3.2.3. Jumlah lajur dan koefisien distribusi kendaraan (C) Lajur rencana merupakan salah satu lajur lalu lintas dari suatu jalan raya, yang menampung lalu lintas terbesar. Jika jalan tidak memiliki tanda batas jalur, maka jumlah lajur ditentukan berdasarkan dari lebar perkerasan menurut tabel berikut: Tabel 3.1. Jumlah Lajur Berdasarkan Lebar Perkerasan Lebar Perkerasan (L) L < 5,5 m 5,5 m < L < 8,25 m 8,25 m < L < 11,25 m 11,25 m < L < 15,00m 15,00 m < L < 18,75 m 18,75 m < L < 22,00 m Sumber : Metode Analisa Komponen, (Bina Marga, 1987) Jumlah Lajur (n) 1 lajur 2 lajur 3 lajur 4 lajur 5 lajur 6 lajur

27 Tabel 3.2. Koefisien Distribusi Kendaraan C Jumlah Lajur Kendaraan Ringan *) KendaraanBerat **) 1 arah 2 arah 1 arah 2 arah 1 lajur 2 lajur 3 lajur 4 lajur 5 lajur 6 lajur 1,00 0,60 0,40 1,00 0,50 0,40 0,30 0,25 0,25 1,00 0,70 0,50 1,00 0,50 0,475 0,450 0,425 0,400 Sumber : Metode Analisa Komponen, (Bina Marga, 1987) *) berat total < 5 ton, misalnya : mobil penumpang, pick up, mobil hantaran **) berat total > 5 ton, misalnya : bus, truk, traktor, semi trailer, trailer 3.2.4. Indeks permukaan Indeks permukaan merupakan nilai yang menyatakan kerataan/kehalusan dan kekokohan permukaan jalan sehingga dapat mengetahui tingkat pelayanan bagi lalu lintas yang lewat. Adapun beberapan nilai indeks permukaan sebagai berikut : IP : 1,0 menyatakan bahwa permukaan jalan dalam keadaan rusak berat. IP :1,5 menyatakan bahwa jalan dalam keadaan rusak namun tidak sampai terputus sehingga masih memungkinkan untuk digunakan IP :2,0 yaitu menyatakan tingkat pelayanan terendah untuk jalan yang masih bagus. IP : 2,5 yaitu menyatakan permukaan jalan masih stabil dan baik untuk digunakan Adapun beberapa faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukanip pada akhir umur rencanaseperti pada tabel berikut ini:

28 Tabel 3.3.Indeks Permukaan Jalan Akhir Umur Rencana (IP) LER = Lintas Klasifikasi Jalan Ekuivalen Rencana *) Lokal Kolektor Arteri tol <10 1,0 1,5 1,5 1,5 2,0-10-100 1,5 1,5 2,0 2,0-100-1000 1,5 2,0 2,0 2,0 2,5 - >10001 2,0 2,5 2,0 2,5 2,5 2,5 Sumber: Metoda Analisa Komponen, Bina Marga 1987 *) LER dalam satuan angka ekuivalen 8,16 ton untuk beban as tunggal 3.2.5. Indeks tebal perkerasan (ITP) ITP diperoleh dari nomogram yang dikolerasi dengan nilai daya dukung tanah, LER dan FR serta dipengaruhi oleh indeks permukaan (IP). Nilai ITP dapat dicari dengan rumus: ITP =a1 D1 + a2 D2 + a3 D3.(3 13) Dengan : a1, a2, a3 : Koefisien kekuatan relative bahan penyusun perkerasan D1, D2, D3 : Tebal masing-masing penyusun perkerasan (cm) Angka 1berarti lapis permukaan, 2 berarti lapis pondasi, dan 3 berarti lapis pondasi bawah. Adapun beberapa persyaratan untuk tebal lapisan masing-masing dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 3.4.Tabel Minimum Lapis Permukaan Jalan ITP Tebal Minimum (cm) Bahan <3,00 5 Lapis Pelindung: (Buras/Burtu/Burda) 3,00 6,70 5 Lapen/Aspal Mcadam, HRA, Lasbutag, Laston 6,71 7,49 7,5 Lapen/Aspal Mcadam, HRA, Lasbutag,

29 Lanjutan Tabel 3.4 Laston ITP Tebal Minimum (cm) Bahan 7,50 9,99 7,5 Lasbutag, Laston >10,00 10,0 Laston Sumber: Metoda Analisa Komponen, Bina Marga 1987 3.2.6. Daya dukung tanah dasar (DDT) dan CBR Dukung Tanah Dasar merupakan nilai yang digunakan pada nomogram untuk menentukan kekuatan tanah dasar. Untuk mengetahui daya dukung tanah dasar perlu dihitung nilai CBR rata-rata. Nilai CBR rata-rata dapatditentukan sebagai berikut : 1. menentukan nilai CBR yang terendah, 2. menentukan berapa jumlah nilai CBR yang sama dan lebih besar dari masingmasing nilai CBR, 3. jumlah CBR terbanyak dinyatakan 100% sedangkan jumlah yang lainnya merupakan persentase dari 100%, 4. dibuat grafik hubungan antara nilai CBR dan dari persentase jumlah sebelumnya, 5. nilai CBR rata-rata didapat dari angka persentas 90% 3.2.7. Faktor regional Faktor regional merupakan suatu factor yang menyatakan kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi keadaan pembebanan, daya dukung tanah dasar dan perkerasan. Kondisi lingkungan tersebut mencakup iklim (curah hujan), tingkat permeabilitas tanah dasar, bentuk alinyemen (kelandain dan tikungan) dan persentase kendaraan berat yang berhenti ( 13 ton)

30 Tabel 3.5 Faktor Regional (FR) Kelandaian I (<6%) Kelandaian II (6%-10%) Kelandaian III (>10%) % Kelandaian berat % Kelandaian berat % Kelandaian berat 30% > 30% 30% > 30% 30% > 30% Iklim I < 900 0,5 1,0 1,5 1,0 1,5 2,0 1,5 2,0 2,5 mm/th Iklim II > 900 mm/th 1,5 2,0 2,5 2,0 2,5 3,0 2,5 3,0 3,5 Sumber: Metoda Analisa Komponen, Bina Marga 1987 3.2.8. Koefisien kekuatan relatif (a) Koefisien kekuatan relatif ditentukan berdasarkan korelasi nilai hasil uji Marshall(kg) untuk bahan aspal, kuat tekan (kg/cm²) untuk bahan semen atau kapur. Nilai koefisien ini ditentukan untuk masing-masing lapisan sebagai lapis permukaan, pondasi dan pondasi bawah. Nilai koefisien relatif untuk masing-masing lapisan telah ditetapkan oleh Bina Marga pada Metode Analisa Komponen, 1987. 3.3. Kondisi perkerasan jalan kondisi perkerasan jalan lama (existing pavement) untuk menghitung lapis tambahan ( overlay) ditentukan sesuai tabel berikut ini: Tabel 3.6 Nilai Kondisi Perkerasan Jalan Kondisi Perkerasan Nilai 1. Lapis Permukaan : Umumnya tidak retak, hanya sedikit deformasi pada jalur 90 100%

31 Lanjutan Tabel 3.6 roda... Terlihat retak halus, sedikit, reformasi pada jalur roda tapi masih tetap stabil... Retak sedang, beberapa deformasi pada jalur roda pada dasarnya masih menunjukkan kestabilan... Reta banyak, demikian juga deformasi pada jalur roda, menunjukkan gejala ketidakstabilan... 2. Lapis Pondasi : Pondasi aspal beton atau penetrasi macadam umumnya tidak retak... Terlihat retak halus namun terlihat masih stabil... Retak sedang, pada dasarnya masih menunjukkan kestabilan... Retak banyak menunjukkan gejala ketidakstabilan... Sabilitas tanah dengan semen kapur: Indeks plastisitas... Pondasi macadam atau batu pecah: Indeks plastisitas... 3. Lapisan Pondasi Bawah: Indeks plastisitas... Indeks plastisitas... 70 90% 50 70% 30 50% 90 100% 70 90% 50 70% 30 50% 70 100% 80 100% 90 100% 70 90% Sumber: Metoda Analisa Komponen, Bina Marga 1987