MODUL TUMOR METASTATIK

dokumen-dokumen yang mirip
2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial

MODUL SCHWANNOMA SARAF TEPI 1. DEFINISI

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial

MODUL PERDARAHAN INTRAKRANIAL SPONTAN

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS.

MODUL OSTEOMA 1. DEFINISI

GLIOMA SPINAL MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

MODUL NYERI 1. Definisi

MODUL PLASMASITOMA 1. DEFINISI 2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

GRANULOMA EOSINOFILIK

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS.

MODUL FISTULA ARTERI-VENA (AV FISTULA)

MODUL KRANIOFARINGIOMA 1. DEFINISI

DEGENERASI DISKUS INTERVERTEBRAL SERVIKAL

MODUL ENTRAPMENT SYNDROME

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA KRANIAL (SIMPEL)

MODUL ANEURISMA SEREBRI

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA SPINAL

1. Definisi Kanal stenosis adalah suatu kondisi medis di mana kanal tulang belakang menyempit dan menekan medulla spinalis.

INFEKSI PARASITER (CACING)

MODUL DEFORMITAS ATLANTO-OKSIPITAL

TUBERKULOMA MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

MODUL SPONDILOLISTESIS

MODUL KAROTIS-KAVERNOSUS FISTULA

MORBUS HANSEN MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

SPONDILITIS TUBERKULOSA

MENINGOKEL POSTERIOR MODUL. 1. Definisi

INFEKSI KOMENSAL/ PENURUNAN IMUNITAS

ABSES SEREBRI MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

SINDROM ARNOLD CHIARI/ SIRINGOMIELIA

MODUL SPASTISITAS/RIGIDITAS 1. Definisi

MODUL ADENOMA HIPOFISIS 1. Definisi

INFEKSI PARASITER (JAMUR)

DANDY WALKER MALFORMATION

SPINAL DISRAFISME MODUL. 1. Definisi

KISTA ARACHNOID MODUL. 1. Definisi

MIKROSEFALI MODUL. 1. Definisi

MODUL MENINGIOMA SUPRATENTORIAL

HIDROSEFALUS KOMPLEKS

MODUL SUBDURAL HEMATOMA AKUT

MODUL INTRACEREBRAL HEMATOMA

MODUL EPIDURAL HEMATOMA

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM KEPROFESIAN ( Beban dihitung berdasarkan Kompetensi )

MODUL SUBDURAL HEMATOMA KRONIK

MODUL TRAUMA TEMBUS. 1. Definisi Trauma tembus kranium adalah lesi di mana proyektil benda asing menembus tulang tengkorak dan tidak keluar lagi.

MODUL BOCORAN LIQUOR

Modul 34 EKSISI LUAS TUMOR DINDING ABDOMEN PADA TUMOR DESMOID & DINDING ABDOMEN YANG LAIN (No. ICOPIM: 5-542)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 4 SIRKUMSISI PADA PHIMOSIS (No. ICOPIM: 5-640)

Lama pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf adalah 11 Semester. Dipandang dari sudut hukum, dikenal istilah Pengayaan, Magang dan Mandiri.

Modul 20 RESEKSI/ EKSISI ANEURISMA PERIFER (No. ICOPIM: 5-382)

Modul 18 Bedah TKV EKSISI HEMANGIOMA (ICOPIM 5-884)

Modul 26 DETORSI TESTIS DAN ORCHIDOPEXI (No. ICOPIM: 5-634)

Karakteristik Tumor Infratentorial dan Tatalaksana Operasi di Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun

Modul 11 BEDAH TKV FIKSASI INTERNAL IGA ( KLIPING KOSTA ) (ICOPIM 5-790, 792)

BAB I PENDAHULUAN. maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak (Brown CV, Weng J,

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-467)

MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI BATUK DARAH. Oleh

Modul 16 EKSISI TELEANGIEKTASIS (ICOPIM 5-387)

TERAPI INHALASI MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI. : Prosedur Tidakan pada Kelainan Paru. I. Waktu. Mengembangkan kompetensi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

( No. ICOPIM : )

LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG

Modul 1 EKSISI TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER (ICOPIM )

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9

e) Faal hati f) Faal ginjal g) Biopsi endometrium/

Sem 9 G M Q 79.3 K6 K6 K6 K6 P5.A3 P5.A3 P5.A3 P5.A5 P5.A5 P5.A Sem 3. Sem 5. Sem 4

Modul 1 BIOPSI INSISIONAL DAN EKSISIONAL ( NO.ICOPIM : 1-501,502,599 )

Modul 36. ( No. ICOPIM 5-545)

EKSTRAKSI CORPUS ALIENUM DI KEPALA DAN LEHER (ICOPIM 5-119)

REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH. Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 2 (ICOPIM 8-835)

Pendahuluan. Cedera kepala penyebab utama morbiditas dan mortalitas Adanya berbagai program pencegahan

LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

I. PENDAHULUAN. pada wanita dengan penyakit payudara. Insidensi benjolan payudara yang

PEOGRAM PENDIDIKAN NEUROONKOLOGI PPDS I DEPT-SMF ILMU BEDAH SARAF RS.Dr SOETOMO - FK UNAIR SURABAYA

Modul 26 PENUTUPAN STOMA (TUTUP KOLOSTOMI / ILEOSTOMI) ( No. ICOPIM 5-465)

PANDUAN SKRINING PASIEN RSU BUNDA JEMBRANA

BAB I PENDAHULUAN. Spondylitis tuberculosis atau yang juga dikenal sebagai Pott s disease

Modul 23 ORCHIDOPEXI/ORCHIDOTOMI PADA UNDESCENSUS TESTIS (UDT) (No. ICOPIM: 5-624, 5-620)

BUKU AJAR SISTEM NEUROPSIKIATRI

BAB II PELAYANAN BEDAH OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PRIMA HUSADA NOMOR : 224/RSPH/I-PER/DIR/VI/2017 TENTANG PEDOMAN REKAM MEDIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

NEUROIMAGING Fadel Muhammad Garishah Mahasiswa Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro RSUP Dr. Kariadi

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS

BAB I PENDAHULUAN. kompleks, mencakup faktor genetik, infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) dan

PANDUAN PENUNDAAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PUPUK KALTIM BONTANG

Sosialisasi Kaidah Koding sesuai Permenkes 76 tahun RIRIS DIAN HARDIANI Tim Teknis Ina CBG Kementerian Kesehatan

PELAPORAN HASIL KRITIS

(No. ICOPIM: 5-491, 5-884)

Modul 3. (No. ICOPIM: 5-530)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. klinis cedera kepala akibat trauma adalah Glasgow Coma Scale (GCS), skala klinis yang

PANDUAN HAK PASIEN DAN KELUARGA RS X TAHUN 2015 JL.

PANDUAN TEKNIS PESERTA DIDIK KEDOKTERAN DALAM PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN

Transkripsi:

MODUL TUMOR METASTAT 1. DEFINISI Tumor adalah penyebaran tumor dari organ lain di luar susunan saraf pusat. Tumor di otak dikenal juga dengan secondary brain tumor. 2. WAKTU PENDIDAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS Program Magister Neurologi Tesis Program Profesi Bedah Saraf Pogram Bedah Dasar Program Bedah Saraf PROGRAM Dasar KEPROFESIAN (beban dihitung berdasarkan kompetensi) GOLONGAN PENYAKIT & LOKALISASI KONGENITAL ICD 10 - Bab XVII INFEKSI ICD 10 - Bab I Kranial Spinal Kranium NEOPLASMA ICD 10 - Bab II Supratentorial Infratentorial Spinal Saraf Tepi TRAUMA ICD 10 - Bab XIX DEGENERASI ICD 10 - Bab VI & XIII VASKULER ICD 10 - Bab IX FUNGSIONAL ICD 10 - Bab VI & XXI Kranial Spinal Saraf Tepi Spinal Saraf Tepi Intrakranial Spinal Pendidikan spesialisasi bedah saraf terdiri dari 3 tahap, yaitu : 1. Tahap Pengayaan (tahap I): 1

a. Lama pendidikan 5 semester yaitu semester 1 sampai semester 5, peserta didik diberi ilmu-ilmu dasar maupun bedah saraf dasar. Dalam tahap ini dapat dipergunakan untuk mengambil program magister. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen I, yaitu di akhir masa pendidikan tahap I residen baru mencapai Kompetensi tingkat I. Residen sudah harus mengenal kelainan bedah saraf, khususnya semua jenis neoplasma dan 10 jenis kasus penyakit terbanyak. 2. Tahap Magang (tahap II) : a. Lama pendidikan 3 semester, yaitu dari semester 6 s/d 8. Peserta didik mulai dilatih melakukan tindakan bedah saraf. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen II, yaitu di akhir masa pendidikan tahap II residen telah mencapai Kompetensi tingkat II. Residen sudah harus mampu menangani secara mandiri kasus-kasus tumor, minimal 2 kasus. 3. Tahap Mandiri (tahap III) : a. Lama pendidikan 3 semester, yaitu dari semester 9 s/d 11. Peserta didik menyelesaikan pendidikan sampai kompetensi bedah saraf dasar. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen III, yaitu di akhir masa pendidikan tahap III residen telah mencapai kompetensi tingkat III. Residen sudah harus mampu menangani kasus tumor, minimal 2 kasus. Kompetensi bedah saraf dasar : 1. Semua jenis penyakit yang diajarkan dalam masa pendidikan sampai mencapai tingkat mandiri (residen boleh mengerjakan operasi sendiri, dengan tetap dalam pengawasan konsulen) 2. Tehnik operasi yang diajarkan sebagai target ahir pendidikan adalah terbatas pada tindakan operasi konvensional yang termasuk dalam Indeks Kesulitan 1 dan 2; tehnik operasi sulit yang membutuhkan kemampuan motoris lebih tinggi dan/ataupun membutuhkan alat-alat operasi canggih, termasuk dalam Indeks Kesulitan 3 dan 4, diajarkan hanya maksimal sampai tingkat magang. Tindakan operasi dalam kelompok ini merupakan kelanjutan pendidikan yang masuk dalam CPD. JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 G M G M G P NEOPLASMA Kranium Granuloma eosinofilik D 76.0 3 5 Plasmositoma C 90.2 Osteoma D 16 Fibrous dysplasia M 85.0 Hamartoma Q 85.9 Tumor C 79.5 2 2 Neurofibrosarkoma /osteosarkoma C41.0 Supratentorial Glioma C 71.9 Glioma simpel 3 3 Glioma kompleks 3 3 Ependimoma M 93.92 2 1 2 3 4 2

JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHAP I TAHAP II TAHAP III 1 2 3 4 Pleksus papiloma C 71.9 2 Meningioma (simpel) C 70 4 4 Meningioma (kompleks) 3 Pituitary adenoma /t. sella (simpel) D 26.7 Pituitary adenoma/t. sella (kompleks) 2 Kraniofaringioma D.35.3 2 Pinealoma /t. korpus pineal C 75.3, D 35.4 2 Tumor (simpel) C 79.5 2 1 Tumor (kompleks) C 79.5 2 Angioma (simpel) D 18.0 2 1 Angioma (kompleks) D 18.0 2 Infratentorial Glioma Simpel C 71.9 2 1 Kompleks C 71.9 2 Acoustic neuroma D 33.3 2 Meningioma (simpel) C 70 2 2 Meningioma (kompleks) C 70 2 Medulloblastoma C 71.6 2 Kolesteatoma H 71 1 Ependimoma M 9392, C 71.9 1 Pleksus papiloma C 71.9 1 Angioma (simpel) D.18.5 2 1 Angioma (kompleks) D 18.5 2 Tumor Spinal... Glioma D 33.4 2 Meningioma D 32.1 2 1 Ependimoma D 33.4 2 Schwannoma D 36.1 2 2 Angioma D 18.5 1 Tumor Saraf Tepi... Schwannoma D 36.1 1 1 KETERANGAN Tingkat Pengayaan. Dalam periode ini, tingkat kognisi harus dapat mencapai 6 (K6) Tingkap Magang. Dalam periode ini, di samping K6, Psikomotor harus mencapai 2 (P2) dan Afektif mencapai 3 (A3) Tingkat Mandiri. Semua Kategori Bloom harus mencapai maksimal, K6, P5, A5 S : Semester G : Magang M : Mandiri K : Kognitif : A : Afektif P : Psikomotor 3 2 3. TUJUAN UMUM Setelah menyelesaikan modul tumor peserta didik diharapkan mampu mengenali tumor, mampu mengobati tumor yang diajarkan sampai level mandiri serta mampu mengatasi kegawatan akut tumor. 4. Tujuan Khusus 1. Mampu menerangkan insidens, patogenesis, dan sitogenesis tumor 2. Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. 3. Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dan patologi anatomi dalam menegakkan tumor 3

4. Mampu menentukan perubahan neurofisiologi karena tumor 5. Mampu menentukan lokasi tumor 6. Mengetahui pengobatan berbagai jenis tumor 7. Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis tumor 8. Mampu mengetahui diagnosis banding tumor 9. Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan tumor 10.Mampu melakukan pengobatan medikamentosa tumor 11.Mampu melakukan tindakan operasi tumor 12.Mampu mengatasi tindakan pertolongan pertama pada tumor 13.Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus tumor 14.Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 15.Mampu memberi informed consent 5. STRATEGI PEMBELAJARAN a Pengajaran dan Kuliah Pengantar Kuliah tatap muka, 50 menit b b Tinjauan Pustaka Presentasi ilmu dasar: 1 kali tiap submodul penyakit Presentasi kasus: 1 kali tiap jenis submodul penyakit Diskusi Kelompok Telaah kepustakaan, 1 kali Presentasi kasus, 1 kali d e 2 x 50 menit diskusi kasus tiap submodul penyakit menyangkut diagnosis, operasi dan penyulit Bed-side Teaching Bed-side teaching minimum 3 kali setiap submodul penyakit Bimbingan Operasi Operasi magang Diskusi kasus, 2 x 50 menit Ronde diikuti bed-side teaching memenuhi sejumlah kasus tumor, minimal 2 kasus sebagai prasyarat untuk instruksi/evaluasi operasi sampai dinyatakan lulus Operasi mandiri melakukan operasi mandiri sejumlah minimal 2 kasus tumor sebagai prasyarat untuk maju ke ujian kompetensi tingkat nasional 6. PERSIAPAN SESI 1. Materi kuliah pengantar berupa kisi-kisi materi yang harus dipelajari dalam mencapai kompetensi, mencakup a. Insidens, patogenesis, dan sitogenesis tumor b. Neuroanatomi, dan neurofisiologisusunan saraf dan pembungkusnya. 4

c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi)dan patologi anatomi dalam menegakkan tumor d. Pengobatan berbagai jenis tumor e. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis tumor f. Diagnosis banding tumor g. pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan tumor h. Pengobatan medikamentosa tumor i. Tindakan operasi tumor j. Penyulit tindakan bedah pada kasus tumor k. Kegawatdaruratan tumor l. Tindak lanjut yang diperlukan m. Informed consent 2. Audio visual 3. Lampu baca X-ray 7. REFERENSI a.osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 b.wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 c. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 d.winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 8. KOMPETENSI a. b c JENIS KOMPETENSI Mampu menerangkan insidens, patogenesis, dan sitogenesis tumor Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dan patologi anatomi dalam menegakkan tumor d Mengetahui pengobatan berbagai jenis tumor 6 Tingkat Kompetensi K P A TAHAP 6 P E N 6 G A Y 6 A A N e Mampu menentukan perubahan neurofisiologi karena tumor 6 2 3 M f Mampu menentukan lokasi tumor 6 2 3 A G Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan g 6 2 3 A diagnosis tumor N h Mampu mengetahui diagnosis banding tumor 6 2 3 G i j Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (ne uroradiologi) dalam menegakkan tumor Mampu melakukan pengobatan medikamentosa terhadap tumor 6 5 5 M A N 6 5 5 D 5

k Mampu melakukan tindakan operasi tumor 6 5 5 I R Mampu mengatasi tindakan pertolongan pertama pada tumor l 6 5 5 I m Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus tumor 6 5 5 n Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 6 5 5 o Mampu memberi informed consent 6 5 5 9. GAMBARAN UMUM Metastasis tumor ke intracranial hampir sebanyak tumor primer di otak. Tumor ini paling banyak berasal dari tumor paru, sekitar 43-60% memiliki kelainan pada chest x-ray. Tumor dapat mengalami ke intrakranial melalui CSF atau hematogen. Gejala klinis berupa nyeri kepala, defisit fokal (kelem ahan atau disfasia), dan gangguan fungsi luhur. Gejalanya merupakan cerminan dari hipertensi intrakranial atau disfungsi neurologis tergantung pada lokasi dari lesi. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium, imajing, dan radionuklir. 10. CONTOH KASUS 11. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan neoplasma susunan saraf, khususnya tumor. 12. METODE Metode Pembelajaran 1. Tinjauan Pustaka 2. Diskusi Kelompok 3. Bedside teaching 4. Tindakan Operasi Mandiri a. Peserta didik harus erlebih dahulu melakukan asistensi operasi (magang) sampai mencapai jumlah yang ditentukan, dan kemudian melakukan instruksi pada spesialis pembimbing. Setelah dinyatakan lulus instruksi, baru diijinkan melakukan operasi mandiri. b. Operasi mandiri oleh asisten harus selalu ada spesialis supervisor yang akan menilai keseluruhan aspek yang harus dilakukan oleh asisten terhadap pasien secara mandiri. c. Residen yang memiliki level tertinggi dalam suatu operasi harus membuat laporan operasi dengan berpedoman pada daftar tilik, selanjutnya konsulen/supervisor operasi ini akan memeriksa laporan operasi sesuai daftar tilik dan memberi nilai berdasarkan kelengkapan yang ditetapkan daam daftar tilik. Metode Diagnostik 1. Pemeriksaan klinis neurologik 6

2. Alat bantu diagnostik a. Pemeriksaan X ray, b. EMG / EEG c. Alat neuroradiologi lain : CT Scan, MRI, MRS, Angiografi 3. Metode diagnostik yang diajarkan mencakup metode diagnostik konvensional sesuai ketersediaannya di daerah perifer, tidak semata-mata berorientasi pada alat-alat dianostik canggih. 13. RANGKUMAN Tumor adalah penyebaran tumor dari organ lain di luar susunan saraf pusat. Tumor di otak dikenal juga dengan secondary brain tumor. Metastasis tumor ke intrakranial hampir sebanyak tumor primer di otak. Tumor ini paling banyak berasal dari tumor paru, sekitar 43-60% memiliki kelainan pada chest x- ray. Tumor dapat mengalami ke intracranial melalui CSF atau hematogen. Gejala klinis berupa nyeri kepala, defisit fokal (kelem ahan atau dysfasia), dan gangguan fungsi luhur. Gejalanya merupakan cerminan dari hipertensi intrakranial atau disfungsi neurologis tergantung pada lokasi dari lesi.diagnosis dapat ditegakan berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium, imajing, dan radionuklir Tujuan pendidikan neoplasma adalah mampu mengenali neoplasma susunan saraf pusat, mampu mengobati neoplasma saraf pusat yang diajarkan sampai level mandiri serta mampu mengatasi kegawatan akut neoplasma susunan saraf, dengan tujuan pembelajaran berupa proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan neoplasma susunan saraf, khususnya penyakit yang dicantumkan pada tahap mandiri (lihat submodul). Metode Pembelajaran 1. Tinjauan Pustaka 2. Diskusi Kelompok 3. Bed side teaching 4. Tindakan Operasi Mandiri a. Peserta didik harus erlebih dahulu melakukan asistensi operasi (magang) sampai mencapai jumlah yang ditentukan, dan kemudian melakukan instruksi pada spesialis pembimbing. Setelah dinyatakan lulus instruksi, baru diijinkan melakukan operasi mandiri. b. Operasi mandiri oleh asisten harus selalu ada spesialis supervisor yang akan menilai keseluruhan aspek yang harus dilakukan oleh asisten terhadap pasien secara mandiri. c. Residen yang memiliki level tertinggi dalam suatu operasi harus membuat laporan operasi dengan berpedoman pada daftar tilik, selanjutnya konsulen/supervisor operasi ini akan memeriksa laporan operasi sesuai daftar tilik dan memberi nilai berdasarkan kelengkapan yang ditetapkan daam daftar tilik. Metode Diagnostik 1. Pemeriksaan klinis neurologik 2. Alat bantu diagnostik a. Pemeriksaan X ray, b. EMG / EEG 7

c. Alat neuroradiologi : CT Scan, MRI, MRS, dan Angiografi 3. Metode diagnostik yang diajarkan mencakup metode diagnostik konvensional sesuai ketersediaannya di daerah perifer, tidak semata-mata berorientasi pada alat-alat dianostik canggih. 14. EVALUASI Organisasi Evaluasi 1. Evaluasi dilaksanakan di IPDS Bedah Saraf 2. Evaluasi dilakukan minimal oleh Pembimbing di IPDS Bedah Saraf 3. Evaluasi untuk peserta PPDS Bedah Saraf dilakukan sbb a. Untuk penguasaan ilmu dasar (pengayaan) dilakukan pada akhir setiap semester b. Kemampuan menegakkan diagnosis c. Untuk penguasaan kasus dan teknis operasi dilakukan pada setiap akan dilakukan tindakan / operasi. 4. Untuk dokter spesialis bedah lain yang akan mengambil modul-modul bedah saraf tertentu untuk kepentingan penigkatan kompetensi dalam program CPD, waktu disesuaikan pada kodisi yang ada dari modul ini, dengan evaluasi dan tahap penguasaan materi yang dievaluasi sama ketentuan yang berlaku. Tahap Evaluasi 5. Evaluasi tahap pengayaan dilakukan setelah peseta didik menyelesaikan aspek kognitif di tahap pengayaan. 6. Evaluasi tahap magang dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi Sebagai Asisten I sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul 7. Evaluasi tahap mandiri dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi mandiri sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul Metode dan Materi Evaluasi 1. Ujian Tulis dan Lisan 2. Kemampuan menegakkan diagnosis di poliklinik maupun ruang rawat 3. Penilaian kemampuan melakukan tindakan 4. Penilaian kemampuan penanganan penderita secara menyeluruh Hasil Penilaian IPDS 1. Penyelesaian modul harus dapat dicapai dalam kurun waktu yang telah ditetapkan 2. Penilaian disesuaikan dengan kompetensi akhir yang harus dicapai pada setiap sum modul (pengayaan, magang, mandiri) 3. Kegagalan dalam 1 aspek harus diulang dalam masa selama stase di Bagian/Departemen Bedah Saraf. 15. INSTRUMEN PENILAIAN 1 Kemampuan informed consent Instruksi & Bimbingan 2 Penilaian Ilmiah a. Teori & Penyakit Diskusi dan Ujian 8

b. Instrument & Penyakit Diskusi dan Ujian 3 Penilaian Kecakapan Poliklinik, Bedside teaching & Kamar Operasi 4 Penilaian Rehabilitasi Instruksi & Bimbingan 16. PENUNTUN BELAJAR 1. Kisi-kisi materi dan buku referensi 2. Kisi-kisi materi Neoplasma susunan saraf : a. Insidens, patogenesis, dan sitogenesis tumor b. Neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi)dan patologi anatomi dalam menegakkan tumor d. Pengobatan berbagai jenis tumor e. Perubahan neurofisiologi karena tumor f. Lokasi tumor g. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis tumor h. Diagnosis banding tumor i. Pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan tumor j. Pengobatan medikamentosa tumor k. Tindakan operasi tumor l. Penyulit tindakan bedah pada kasus tumor m. Tindak lanjut yang diperlukan n. Informed consent 17. DAFTAR TIL RINCIAN DAFTAR TIL Menentukan indikasi bedah saraf 1 Uraian atau keluhan tentang gejala utama 2 Cara datang (sendiri/rujukan) Kelengkapan riwayat penyakit 1 2 Alasan pertama kali (bila pernah berobat) dan sekarang membawa ke dokter Edit Pengobatan dan tindakan yang pernah diberikan(tempat, waktu, oleh, siapa), serta hasilnya Deskripsi keadaan kulit 1 Bekas luka operasi (bila pernah operasi) dan lokalisasi 2 Daerah yang akan dioperasi Deskripsi kelainan saraf yang dijumpai Pemeriksaan penunjang 1 X-Ray, CT scan, MRI ADA TA TL L 9

2 Laboratorium darah Hasil konsultasi persiapan operasi Catatan status gizi Obat-obatan yang masih diberikan Informed consent 1 Kelainan yang dijumpai 2 Apa yang dilakukan, lama perawatan, biaya yang dibutuhkan 3 4 Peraturan rumah sakit untuk pasien maupun keluarga/penunggu Prognosis penyakit dan apa yang perlu dilakukan setelah pulang Surat pengantar rawat inap 1 Lampiran daftar tilik 2 Instruksi untuk perawat 3 Nama konsulen dan asisten Admission 1 Kelengkapan administrasi 2 Kelengkapan dokumen sesuai daftar tilik poliklinik * Status poliklinik * Hasil pemeriksaan neuroradiologi * Hasil pemeriksaan laboratorium * Hasil konsultasi persiapan operasi Buat status rekam medis Cek ulang hasil pemeriksaan di poliklinik 1 Riwayat penyakit 2 Deskripsi keadaan kulit 3 Hasil pemeriksaan klinis neurologis 4 Status gizi Buat rencana perawatan 1 Instruksi perawatan dan pengobatan Persiapan Operasi 1 Assesment rencana tindakan, operator dan asisten 2 Persiapan alat 3 Konsul toleransi operasi 4 Buat daftar operasi Pra bedah 1 Konsul anestesi 2 Asisten lapor pada operator 10

3 Persiapan menjelang operasi * Pasang infuse * Cukur gundul * Cuci daerah yang akan dioperasi dengan sabun * Puasa * Klisma menjelang ke kamar operasi * Cek kelengkapan status * Cek dokumen pendukung * Sediakan alat Kamar operasi 1 Dokumen yang disertakan bersama pasien 2 Keadaan pasien * Terpasang infuse * Cukur gundul 3 Persiapan pasien 4 Dilakukan narkose umum 5 Dipasang kateter 6 Posisi pasien diatur sesuai standard 7 Persiapan daerah operasi * Cuci ulang dengan sabun * Dibuat marking * Dilakukan tindakan a dan antiseptik * Dilakukan penyuntikan anestesi lokal 8 Dipasang plat diatermi 9 Persiapan alat Tindakan operasi 1 Memasang Head Frame Dan Navigasi Intra Operatif 2 Insisi kulit kepala 3 Kraniotomi dan drilling tulang 4 Gantung duramater 5 Membuka Duramater 6 Identifikasi tumor 7 Removal Tumor secara makroskopis dan mikroskopis 8 Ambil spesimen tumor untuk pemeriksaan histopatologis 9 Hemostasis 10 Tutup Dura, duraraph, duraplasy 11 Pasang drain bila perlu 11

12 Fiksasi tulang 13 Jahit otot, Fasia dan kulit 14 Dressing luka 12 Jumlah perdarahan tercatat 13 Jumlah urin tercatat 14 Jumlah kassa yang dipakai tercatat 15 Jumlah dan jenis instrumen sesuai prosedur Pasca Bedah 1 Dokumentasi * Status dan hasil pemeriksaan penunjang dari OK diterima lengkap * Laporan operasi * Laporan Anestesi 2 Catatan perawatan Pemulangan * Pemantauan luka operasi * Pemantauan efek samping * Pemantauan KU rutin * Catatan pengobatan 1 Catatan keadaan pasien 2 Inform concernt pada yang merawat 3 Jadwal kontrol dan konsultasi 4 Kelengkapan status dan diagnosis 5 Catatan administrasi & keuangan 18. MATERI BAKU Definisi Metastatik intrakranial bisa berupa deposit tumor di kompartemen ekstra-aksial, termasuk kranium, duramater atau ruang subarakhnoid, tetapi lebih sering ke kompartemen intra-aksial, berupa metastatis intraparenkim otak. Single brain metastatis merujuk pada lesi serebral tunggal yang berasal dari luar sistim saraf pusat; metastatis solid ke otak digambarkan oleh lesi tunggal tanpa tanda acuan pada status sistemik. Terminologi single brain metastatis diaplikasikan pada pasien dengan satu pada otak tapi dibuat tanpa kesimpulan tentang ada atau tidaknya kanker di tempat lain di tubuh. Terminologi solitary brain metastatis relatif jarang dijumpai daripada metastatis otak tunggal adalah hanya diketahui kanker pada tubuh. Timbulnya ke otak sering dihubungkan dengan prognosa yang buruk. 12

Multiple brain metastatis mengandung arti terdapatnya lebih dari satu ke otak, tanpa mengacu kepada ada tidaknya penyakit ekstra-kranial. Patofisiologi Tipe penyebaran ke otak hampir selalu secara hematogenik melalui sirkulasi arteri; meski penyebaran melalui vena spinal epidural pleksus Batson s juga mungkin terjadi. Metastatis sendiri dapat berasal dari emboli tumor yang menghasilkan kaskade dari di tempat lain. Proses mempunyai selektifitas yang tinggi untuk subpopulasi sebelumnya dari sel yang memiliki prasyarat biologi untuk interaksi yang menguntungkan dengan lingkungan mikro inang dan mekanisme homeostatik yang membiarkan sel-sel tumor berkumpul dari induk tumor dan migrasi ke ketempat yang jauh dimana mereka dapat berkembang dalam bentuk kehidupan yang baru. Saat yang penting dalam pembentukan lesi adalah adesi sel tumor kepada matrix lokal extraselular, daya penggerak sel dan proteolisis, yang membolehkan invasi ke limfatik, vena dan kapiler diikuti oleh emboli hematogen pada tempat yang jauh, dimana sel tumor berinteraksi dengan komponen-komponen darah seperti platelet untuk bertahan pada lingkungan inangnya. Jika lingkungan inang yang baru (soil) kunduktif untuk berproliferasi dari sel-sel, kemudian akan terjadi. Gejala Klinis Paling sedikit dua pertiga dari pasien dengan cerebral mengalami gejala neurologis. Tiga gejala yang paling sering yaitu nyeri kepala, difisit fokal (spt. Kelemahan atau dysfasia), dan gangguan fungsi luhur. Gejalannya merupakan cerminan dari hipertensi intrakranial atau disfungsi neurologis tergantung pada lokasi dari lesi. Contohnya pasien dengan perubahan perilaku dengan lesi di frontal. Seringkali gejala muncul subakut dan progresif dengan gejala beberapa hari sampai beberapa minggu. Kejang umum dan kejang parsial lebih sering terjadi pada lesi multipel Diagnosis Diagnosis tumor ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain CT Scan dan MRI dengan atau tanpa kontras. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan sitologi analisis likuor dan pemeriksaan lain untuk mengetahui asal tumor primer tersebut. Tatalaksana Secara umum, tatalaksana tumor dapat dilakukan sebagai berikut. a.tumor soliter tanpa diketahui tumor primer, dapat dilakukan tindakan operatif b.tatalaksana operatif jika bertujuan untuk mempertahankan fungsi beberapa struktur c. Radioterapi, untuk lesi multiple tumor d. Kemoterapi, untuk metastasis tumor golongan limfoma 13

19. ALGORITME 20. KEPUSTAKAAN a.osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 b.wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 c. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 d.winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 21. PRESENTASI Materi presentasi menggunakan materi dalam bentuk Power Point sesuai dengan materi modul tumor. 22. Model Model pembelajaran dapat menggunakan diseksi kadaver. 14

15