BAB II BAHAN RUJUKAN

dokumen-dokumen yang mirip
Analisis Laporan Arus Kas Pada PO. Gunung Sembung Putra Bandung

BAB II KAJIAN PUSTAKA. menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Disamping itu bank adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1 Tahun 2008 mengenai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, pengertian dari Usaha

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Penyusunan Laporan Keuangan Pada Stars Auto Care 99 Periode Januari 2014

Akuntasi Koperasi Sektor Riil sebagai STANDAR AKUNTANSI

PSAK KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu unit usaha atau kesatuan akuntansi, dengan aktifitas atau kegiatan ekonomi dari

Bab 1 Ruang Lingkup UKM.1. Hak Cipta 2008 IKATAN AKUNTAN INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teknik analisis deskriptif kualitatif. dalam Penyusunan Laporan Keuangan pada Koperasi Simpan Pinjam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian UMKM menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2008, yaitu :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan

BAB II BAHAN RUJUKAN

Bab II TINJAUAN PUSTAKA. Koperasi lahir pada permulaan abad ke-19 sebagai suatu reaksi terhadap sistem

BAB II LANDASAN TEORI. keuangan, jadi laporan keuangan merupakan suatu ringkasan transaksi yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK

29 Oktober Pertemuan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 1 (REVISI 2009) PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN

BAB 7 LAPORAN ARUS KAS

S A L I N A N KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL LEMBAGA KEUANGAN NOMOR : KEP-2345/LK/2003 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN DANA PENSIUN

BAB IV PEMBAHASAN. CV Scala Mandiri akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain: 1. Dapat menyusun laporan keuangannya sendiri.

BAB II LANDASAN TEORI

Pernyataan ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan melalui:

Pedoman Tugas Akhir AKL2

STRUKTUR DASAR AKUNTANSI BAB 2

ANALISIS PENERAPAN SAK ETAP DALAM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PADA PT. BPR Ganto Nagari 1954

Penyajian Laporan Keuangan Koperasi RRKR Berdasarkan SAK ETAP

AKUNTANSI UMKM DAN KOPERASI

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB II LANDASAN TEORI

proses akuntansi yang dimaksudkan sebagai sarana mengkomunikasikan informasi keuangan terutama kepada pihak eksternal. Menurut Soemarsono

ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK

Ikatan Akuntan Indonesia. IAI Copy Right, all rights reserved

BAB II BAHAN RUJUKAN

PSAK 1 (Penyajian Laporan Keuangan) per Efektif 1 Januari 2015

PERPAJAKAN II. Penyajian Laporan Keuangan dan Pengaruhnya terhadap Perpajakan

SELAMAT DATANG PUBLIC HEARING EXPOSURE DRAFT STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH ( ED SAK EMKM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STANDAR AKUNTANSI ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK

PSAK 2 LAPORAN ARUS KAS IAS 7 - Statement of Cash Flows. Presented by: Dwi Martani

BAB 4. AKTIVITAS KETIGA

BAB II LANDASAN TEORI. perusahaan yang mengajak orang lain untuk membeli barang dan jasa yang ditawarkan

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. semakin berkembang ditengah-tengah dunia usaha yang kian hari kian menuju era

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN OLEH USAHA KECIL DAN MENENGAH. 2.1 Kesadaran Dalam Menyusun Laporan Keuangan

BAB I PENDAHULUAN. perkiraan buku besar tersendiri dengan buku tambahan masing masing. tahun di dalam neraca disajikan sebagai aktiva lancar.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Pengertian Lembaga Perkreditan Desa (LPD) ke arah peningkatan taraf hidup krama desa, dan dalam kegiatannya banyak

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Tinjauan Umum Laporan Keuangan. keputusan. Pengertian laporan keuangan menurut PSAK (2007: 1-2):

BAB II LANDASAN TEORI

Menurut Rudianto (2010:9), tujuan koperasi adalah untuk memberikan kesejahteraan dan manfaat bagi para anggotanya

2.1.2 Pengertian Laporan Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (2009:2) Standar Akuntansi Keuangan

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAMPIRAN A. 1.1 Data Responden. : Irwan Syafrudin. : Tax Accounting Manager. 1.2 Hasil Wawancara

Implementasi Psak No. 31 Tentang Akuntansi Perbankan Untuk Pengakuan Pendapatan Dan Beban Bunga Pada PT. Bank Bjb Kantor Cabang Majalengka

PEDOMAN STANDAR AKUNTANSI KOPERASI

LAPORAN ARUS KAS PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN. PSAK No. 2 (revisi 2009) 22 Desember 2009

Laporan Arus Kas. Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 8. Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Nurul Husnah dan Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI

BAGIAN II LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH

LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) DAN LAPORAN ARUS KAS

30 Juni 31 Desember

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN. keuangan dari beberapa ahli, antara lain sebagaiberikut:

BAB II TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS. karena itu bila perusahaan menggunakan ilmu akuntansi yang baik, maka dapat

BAB II PSAK NO. 1 TENTANG PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAN PSAK NO. 101 TENTANG PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN SYARIAH

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009), laporan keuangan adalah suatu

d1/march 28, sign: Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan

BAB I PENDAHULUAN. sehat (Keputusan Presiden RI No. 99 tahun 1998).

Elemen Dasar Akuntansi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Laporan Keuangan Sebagai Obyek Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI

AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I. Modul ke: 06FEB. LAPORAN ARUS KAS Sumber : Dwi Martani. Fakultas. Fitri Indriawati, SE., M.Si

Manajemen Keuangan LAPORAN KEUANGAN. Bentuk Bentuk Laporan Keuangan. Idik Sodikin,SE,MBA,MM. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laporan, serta penginterpretasian atas hasilnya sehingga dapat digunakan oleh

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS

PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DALAM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTURDI KABUPATEN SRAGEN

STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

BAB II LANDASAN TEORI. Konsep Laporan Keuangan dan Akuntansi. II.1.1. Pengertian Laporan Keuangan dan Akuntansi

PT RICKY PUTRA GLOBALINDO Tbk dan ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI. Pada tanggal 30 Maret 2012 dan 2011 (Tidak Diaudit)

Akuntansi Keuangan Koperasi

PEDOMAN PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN DANA PENSIUN

merupakan KDPPLK (Kerangka Dasar Penyajian dan Pengukuran LK) untuk ETAP

MEMBACA LAPORAN KEUANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN

BAB II LAPORAN ARUS KAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Laporan Keuangan

posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai

BAB II TINJAUAN TEORI DAN STUDI PUSTAKA

Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan?

Transkripsi:

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi 2.1.1 Definisi Akuntansi Definisi akuntansi menurut Sofyan Syafri Harahap dalam Teori Akuntansi seperti yang diberikan oleh komite Terminologi dari American of Certified Public Accountants adalah sebagai berikut ( 2004: 6 ) : Akuntansi adalah suatu seni pencatatan, pengklasifikasian, dan pengikhtisaran, dalam cara yang signifikan dan satuan mata uang, transaksi transaksi dan kejadian kejadian yang, paling tidak sebagian di antaranya, memiliki sifat keuangan, dan selanjutnya menginterpretasikan hasilnya. Ruang lingkup akuntansi sebagaimana yang dijelaskan oleh definisi di atas tampak seperti terbatas. Sebuah perspektif yang lebih luas menurut Ahmed Belkaoui Riahi dalam Teori Akuntansi dinyatakan sebagai berikut ( 2006 : 5 ) : Proses pengidentifikasian, pengukuran, dan pengomunikasian informasi ekonomi sehingga memungkinkan adanya pertimbangan dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi oleh para pengguna informasi tersebut. Definisi - definisi di atas menjelaskan akuntansi sebagai suatu seni dan mengartikan bahwa akuntansi merupakan alat komunikasi bisnis atau beragam teknik yang dapat memberikan informasi tentang kondisi keuangan ( ekonomi ) berupa posisi keuangan yang tertuang dalam kekayaan, utang dan modal suatu

bisnis dan hasil usahanya pada suatu waktu atau periode tertentu. Akuntansi merupakan proses dari identifikasi, pengukuran dan pengomunikasian informasi ekonomi. Informasi ekonomi yang dihasilkan akuntansi diharapkan berguna dalam penilaian dan pengambilan keputusan mengenai kesatuan usaha yang bersangkutan. 2.1.2 Sifat Dasar Akuntansi Sifat dasar atau prinsip akuntansi yang mendasari akuntansi keuangan dan merupakan konsep yang harus diyakini kebenaranya sebagai dasar dari ilmu akuntansi itu dibangun. Prinsip dasar akuntansi ini bisa menjadi keterbatasan atau sekaligus kekuatan informasi. Menurut Ahmed Belkaoui Riahi dijelaskan beberapa sifat dan elemen dasar dari akuntansi keuangan sebagai berikut (2006 :10) : 1. Accounting entity Dalam menyusun informasi akuntansi maka yang menjadi focus pencatatan adalah entity atau lembaga, unit organisasi tertentu yang harus jelas sebagai suatu entity yang terpisah dari badan atau entity yang lain. Kita tidak bisa mencatat atau menyajikan informasi akuntansi sekaligus menyangkut suatu perusahaan dan pemiliknya. 2. Going concern Dalam menyusun atau memahami laporan keuangan harus dianggap bahwa perusahaan (entity) yang dilaporkan akan terus beroperasi di masa masa yang akan datang, tidak ada sama sekali asumsi bahwa perusahaan atau usaha ini akan bubar.

Prinsip ini menjadi dasar bagi kewajaran nilai yang dicantumkan dalam informasi keuangan. Nilai kekayaan dari suatu perusahaan yang dianggap hidup terus atau going concern tidak akan sama dengan nilai atau harga kekayaan atau kewajiban dari suatu perusahaan atau lembaga yang akan dilikuidasi. 3. Measurement Akuntansi adalah sebagai alat pengukuran sumber sumber ekonomi (economic Resources) dan kewajiban (liability) beserta perubahannya yang akan dimilki perusahaan. Akuntansi mencoba mengukur nilai asset, kewajiban, modal, hasil dan biaya. 4. Time Period Laporan keuangan menyajikan informasi untuk suatu waktu tertentu, tanggal tertentu atau periode tertentu. Neraca menggambarkan nilai kekayaan, utang dan modal pada saat atau pada tanggal tertentu. Laporan laba rugi menggambarkan informasi hasil ( pendapatan dan biaya ) usaha pada periode tertentu. Sedangkan laporan Arus Kas menggambarkan informasi arus kas masuk dan keluar pada periode tertentu. 5. Monetery Unit Pengukuran yang dipakai dalam akuntansi adalah dalam bentuk ukuran moneter atau uang. Semua transakasi perusahaan dikuantitatifkan dan dilaporkan dalam bentuk nilai uang ( rupiah atau dollar misalnya).

6. Accrual Penentuan pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetepkan tanpa melihat apakah kas telah dilakukan atau tidak. Penentuannya bukan keterlibatan kas, tetapi didasarkan pada faktor legalnya apakah memang sudah merupakan hak atau kewajiban perusahaan atau belum, harus dicatat tanpa menunggu pembayaran atau penerimaan kas. 7. Exchange Price Nilai yang terdapat dalam laporan keuangan umumnya didasarkan pada harga pertukaran yang diperoleh dari harga pasar sebagai pertemuan bargaining antara pembeli (demand) dan penjual (supply) 8. Approximation Dalam akuntansi tidak dapat dihindarkan penafsiran penafsiran, baik nilai, harga, umur, jumlah penyisihan piutang ragu, kerugian dan sebagainya. 9. Judgment Dalam menyusun laporan keuangan banyak diperlukan pertimbangan - pertimbangan akuntan atau manajemen berdasarkan keahlian atau pengalaman yang dimilkinya. 10. General Purpose Informasi yang disajikan dalam keuangan yang dihasilkan Akuntansi Keuangan ditujukan buat pemakai secara umum, bukan pemakaian khusus. Tidak ditujukan khusus kepada banker, investor, kreditor, analis, manajemen atau karyawan.

11. Interrelated Statement Neraca, Daftar Laba Rugi, dan Laporan Sumber dan Penggunaan dana mempunyai hubungan yang sangat erat dan berkaitan satu sama lain. 12. Substance Over Form Karena akuntansi ingin memberikan informasi yang dipercaya bagi pengambil keputusan, akuntansi lebih menekankan penggunaan informasi yang berasal dari kenyataan ekonomis suatu kejadian daripada bukti legalnya. 13. Materiality Laporan keuangan hanya memuat informasi yang dianggap penting dan dalam setiap pertimbangan yang dilakukanya tetap melihat signifikannya. Demikianlah sifat dasar akuntansi yang harus diketahui agar kita dapat memanfaatkan output- nya. Sifat dasar tersebut juga harus diyakini kebenarannya sebagai suatu dasar dari ilmu akuntansi. Dimana akuntansi tersebut akan memberikan informasi yang dianggap penting dalam pengambilan keputusan. 2.1.3 Manfaat Akuntansi Informasi akuntansi yang di hasilkan oleh akuntansi diharapkan berguna dalam penilaian dan pengambilan keputusan mengenai kesatuan usaha yang bersangkutan. Tujuan utama akuntansi adalah menyajikan informasi ekonomi ( economic information ) dari suatu kesatuan ekonomi ( economic entity) kepada pihak - pihak yang berkepentingan. Informasi yang dihasilkan oleh akuntansi berguna bagi pihak - pihak di dalam perusahaan itu sendiri maupun pihak - pihak di luar perusahaan.

berikut : Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2009 : 2) menyebutkan sebagai Pengguna laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok, dan kreditor usaha lainya, pelanggan, pemerintah, serta lembaga lembaganya, dan masyarakat. Adapun pihak pihak yang menggunakan laporan keuangan adalah: a. Investor Penanam modal berisiko dan penasihat investor berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan.. Investor membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan, atau menjual investasi tersebut. Informasi memungkinkan bagi pemegang saham untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. b. Karyawan Karyawan dan kelompok - kelompok yang tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Selain itu juga memungkinkan bagi karyawan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, imbalan pascakerja, dan kesempatan kerja.

c. Pemberi pinjaman Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo. d. Pemasok dan kreditor usaha lainya. Pemasok dan kreditor usaha lainya tertarik dengan informasi yang memungkinkan untuk memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. e. Pelanggan Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan, terutama pelanggan yang terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan atau bergantung pada perusahaan. f. Pemerintah Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasanya berkepentingan dengan alokasi sumberdaya yang berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Pemerintah membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak, dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya. g. Masyarakat Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya, perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada

perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (tren) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya. Pihak pihak tersebut menggunakan informasi akuntansi untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda. Namun informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bersifat umum. Dengan demikian informasi tersebut tidak dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan setiap pengguna. 2.2 Laporan Keuangan 2.2.1 Definisi Laporan Keuangan Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2009 : 5) : Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan Laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi :

(a) aset (b) liabilitas (c) ekuitas (d) pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian (e) kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik (f) arus kas Laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen dan pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Informasi perkembangan keuangan suatu perusahaan yang terstruktur dari posisi keuangan berupa susunan harta, utang dan modal. Gambaran mengenai laporan laba rugi perusahaan setelah melakukan kegiatan - kegiatan pada periode tertentu juga akan tercermin dalam laporan keuangan. 2.2.2 Karakteristik Kualitatif Informasi dalam Laporan Keuangan Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu. Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2009 :2) karakteristik kualitatif informasi yang harus dipenuhi dalam laporan keuangan :

1. Dapat dipahami Kualitas penting informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi tersebut dengan ketekunan yang wajar. 2. Relevan Agar bermanfaat, informasi harus relevan dengan kebutuhan pengguna untuk proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan jika dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan cara membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. 3. Materialitas Informasi dipandang material jika kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan. Materialitas tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi tertentu dari kelalaian dalam mencantumkan (omission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement). Namun demikian, tidak tepat membuat atau membiarkan kesalahan untuk menyimpang secara tidak material dari SAK ETAP agar mencapai penyajian tertentu dari posisi keuangan, kinerja keuangan atau arus kas suatu entitas.

4. Keandalan Agar bermanfaat, informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus andal. Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari kesalahan material dan bias, dan penyajian secara jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. Laporan keuangan tidak bebas dari bias ( melalui pemilihan atau penyajian informasi ) jika dimaksudkan untuk mempengaruhi pembuatan suatu keputusan atau kebijakan untuk tujuan mencapai suatu hasil tertentu. 5. Substansi menggunguli bentuk Transaksi, peristiwa dan kondisi lain dicatat dan disajikan sesuai dengan subtansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Hal ini untuk meningkatkan keandalan laporan keuangan. 6. Pertimbangan sehat Ketidakpastian yang tidak dapat diabaikan meliputi berbagai peristiwa dan keadaan yang dipahami berdasarkan pengungkapan sifat dan penjelasan peristiwa dan keadaan tersebut dan melalui penggunaan pertimbangan sehat dalam menyusun laporan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati - hatian pada saat melakukan pertimbangan yang diperlukan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga asset atau penghasilan tidak disajikan lebih rendah. Namun demikian, penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan pembentukan asset atau penghasilan yang lebih rendah atau pencatatan

kewajiban atau beban yang lebih tinggi. Pertimbangan sehat tidak mengijinkan bias. 7. Kelengkapan Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan akibat informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan. Oleh karena itu, tidak dapat diandalkan dan kurang mencukupi ditinjau dari segi relevansi. 8. Dapat dibandingkan Penggunaan harus dapat membandingkan laporan keuangan entitas antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan. Pengguna juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antar entitas untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relative. Oleh karena itu, pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain serupa harus dilakukan secara konsisten untuk suatu entitas, antar periode untuk entitas tersebut dan untuk entitas yang berbeda. 9. Tepat waktu Agar relevan, informasi dalam menyusun laporan keuangan harus dapat mempengaruhi keputusan ekonomi para penggunanya. Tepat waktu meliputi penyediaan informasi laporan keuangan dalam jangka waktu pengambilan

keputusan. Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. Manajemen mungkin perlu menyeimbangkan secara relatif antara pelaporan tepat waktu dan penyediaan informasi yang andal. 10. Keseimbangan antara biaya dan manfaat Manfaat informasi seharusnya melebihi biaya penyediannya. Namun demikian, evaluasi biaya dan manfaat merupakan proses pertimbangan yang substansial. Biaya tersebut juga tidak perlu ditanggung oleh pengguna yang menikmati manfaat. Dalam evaluasi manfaat dan biaya, entitas harus memahami bahwa manfaat mungkin juga manfaat yang dinikmati oleh pengguna eksternal. Suatu laporan keuangan harus memenuhi semua dari karakteristik kualitatif laporan keuangan agar bisa menjadi laporan keuangan yang benar benar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dan menjadi laporan keuangan yang bermanfaat bagi penggunanya. 2.2.3 Laporan Keuangan PSAK No.1 Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam PSAK No : 1, Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen - komponen berikut ini ( 2009 : 6) : 1. laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir periode 2. laporan laba rugi komprehensif selama periode 3. laporan perubahan ekuitas selama periode

4. laporan arus kas selama periode 5. catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lain 6. laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajiikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos - pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos - pos dalam laporan keuangannya. Komponen komponen dari laporan keuangan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca) Laporan posisi keuangan minimal mencakup penyajian jumlah pos pos berikut : (a) aset tetap (b) property investasi (c) aset tidak berwujud (d) aset keuangan (e) investasi dengan menggunakan metode ekuitas (f) persediaan (g) piutang dagang dan piutang lainnya (h) kas dan setara kas

(i) total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset yang termasuk dalam kelompok lepasan. Aset Tidak Lancar yang Dimilki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan (j) utang dagang dan terutang lain (k) provisi (l) liabilitas keuangan (m) liabilitas dan aset untuk pajak kini (n) liabilitas dan aset pajak tangguhan (o) liabilitas yang termasuk dalam kelompok lepasan (p) kepentingan nonpengendali, disajikan sebagai bagian dari ekuitas (q) modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. 2. Laporan Laba Rugi Komprehensif Entitas menyajikan seluruh pos penghasilan dan beban yang diakui dalam satu periode : (a) Dalam bentuk satu laporan laba rugi komprehensif, atau (b) Dalam bentuk dua laporan : (i) laporan yang menunjukan komponen laba rugi ( laporan laba rugi terpisah) dan (ii) laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukan komponen pendapatan komprehensif lain ( laporan laba rugi komprehensif ).

Laporan laba rugi komprehensif minimal mencakup penyajian jumlah pos pos berikut untuk periode : (a) pendapatan (b) biaya keuangan (c) bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas (d) beban pajak (e) suatu jumlah tunggal yang mencakup total dari : (i) laba rugi setelah pajak dari operasi yang dihentikan ; dan (ii) keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui dengan pengukuran nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual atau dari pelepasan asset atau kelompok yang dilepaskan dalam rangka operasi yang diberikan (f) laba rugi (g) setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang diklasifikasikan sesuai dengan sifat ( selain jumlah ). (h) bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan ventura bersama yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas. (i) total laba rugi komprehensif. 3. Laporan Perubahan Ekuitas Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukan total laba rugi komprehensif selama suatu periode, yang menunjukan secara terpisah total

jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan nonpengendali : (a) untuk tiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan prospektif atau penyajian kembali secara retrospektif yang diakui. (b) untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal dan akhir periode, secara terpisah mengungkapkan masing masing perubahan yang timbul dari : (i) laba rugi (ii) masing masing pos pendapatn komprehensif lain (iii) transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yang menunjukan secara terpisah kontribusi dari pemilik dan distribusi kepada pemilik dan perubahan hak kepemilikan pada entitas anak yang tidak menyebabkan hilang pengendalian. 4. Laporan Arus Kas Informasi arus kas memberikan dasar bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai kemampuan pengguna laporan keuangan untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas dan kebutuhan entitas dalam menggunakan arus kas tersebut. PSAK ( revisi 2009 ) : Laporan Arus Kas mengatur persyaratan penyajian laporan dan pengungkapan informasi arus kas. 5. Catatan atas Laporan Keuangan a. menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi tertentu.

b. mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh SAK yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan keuangan; dan c. memberikan informasi yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan. Entitas menyajikan catatan atas laporan keuangan secara sistematis. Entitas membuat referensi silang atas setiap pos dalam laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi komprehensif, laporan laba rugi terpisah ( jika disajikan ), laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas untuk informasi yang berhubungan dalam catatan atas laporan keuangan. 6. laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif Laporan disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos pos dalam laporan keuangannya. Dari jenis jenis laporan keuangan yang disebutkan di atas, laporan laba rugi merupakan yang terpenting. Laporan laba rugi dapat diketahui gambaran kinerja operasional dari suatu perusahaan yang nantinya dapat dijadikan suatu pedoman oleh manajemen untuk pengambilan keputusan yang akan diambil di masa yang akan datang. Komponen komponen yang ada pada PSAK No.1 (revisi 2009) ada perubahan yang terlihat jelas dari PSAK sebelum konvergensi IFRS yaitu :

- jumlah komponen laporan keuangan yang menjadi bertambah, yang mana sebelum konvergensi hanya 5 sekarang menjadi 6 yaitu laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif. - perubahan nama komponen laporan keuangan yaitu neraca menjadi laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi menjadi laporan laba rugi komprehensif. 2.3 Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ( SAK ETAP ) 2.3.1 Definisi SAK ETAP Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2009 : 1) : Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ( SAK ETAP) dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik adalah entitas yang : (a) tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan (b) menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum ( general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.

Entitas memiliki akuntabilitas publik signifikan jika: 1. entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam otoritas pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal. 2. Entitas menguasai asset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pension, reksa dana dan bank investasi. 2.3.2 Manfaat SAK ETAP Pilar - pilar Akuntansi Keuangan: 1. Standar Akuntansi Keuangan ( PSAK ) 2. SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ( SAK ETAP ) 3. Standar Akuntansi Keuangan Syariah 4. Standar Akuntansi Sektor Publik Berikut merupakan beberapa manfaat dari penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik: 1. Entitas yang di maksud dapat menyusun laporan keuangannya sendiri. 2. Dapat diaudit dan mendapatkan opini audit 3. Dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana ( dari Bank misalnya ) untuk pengembangan usaha. Kegiatan yang terbatas dan sederhana, tidak memungkinkan bagi Bank Perkreditan Rakyat untuk menggunakan standar akuntansi keuangan umum yang

digunakan oleh bank umum. Bank Perkreditan rakyat mempertimbangkan dari biaya dan manfaatnya yang mana beberapa manfaat SAK ETAP sudah disebutkan di atas. 2.3.3 Laporan Keuangan SAK ETAP Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian wajar mensyaratkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, kewajiban, penghasilan dan beban. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP. Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia ( 2009 :17) : Laporan Keuangan meliputi : (a) neraca; (b) laporan laba rugi ; (c) laporan perubahan ekuitas yang juga menunjukan ; (i) seluruh perubahan dalam ekuitas, atau (ii) Perubahan ekuitas selain perubahan yang timbul dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik; (d) Laporan arus kas (e) Catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lainnya.

Komponen komponen dari laporan keuangan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Neraca Neraca menyajikan aset, kewajiban, dan ekuitas suatu entitas pada suatu tanggal tertentu akhir periode laporan. Informasi yang disajikan dalam neraca Neraca minimal mencakup pos pos berikut : (a) Kas dan setara kas (b) Piutang usaha dan piutang lainya (c) Persediaan (d) Property investasi (e) Aset tetap (f) Aset tidak berwujud (g) Utang usaha dan utang lainya (h) Asset dan kewajiban pajak (i) Kewajiban diestimasi (j) Ekuitas Entitas menyajikan pos, judul dan sub jumlah lainnya dalam neraca jika penyajian seperti itu relevan dalam rangka pemahaman terhadap posisi keuangan entitas. Namun SAK ETAP tidak menentukan format atau urutan terhadap pos pos yang disajikan.

2. Laporan Laba Rugi Laporan laba rugi memasukkan semua pos penghasilan dan beban yang diakui dalam suatu periode kecuali SAK ETAP mensyaratkan lain. SAK ETAP mengatur perlakuan berbeda terhadap dampak koreksi atas kesalahan dan perubahan kebijakan akuntansi yang disajikan sebagai penyesuaian terhadap periode yang lalu dan bukan sebagai bagian dari laba atau rugi dalam periode terjadinya perubahan. Informasi yang disajikan di Laporan Laba Rugi Laporan laba rugi minimal mencakup pos pos sebagai berikut : a. Pendapatan b. Beban keuangan c. Bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas d. Beban pajak e. Laba atau rugi neto 3. Laporan perubahan Ekuitas Laporan perubahan ekuitas menyajikan laba atau rugi entitas untuk suatu periode, pos pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas untuk periode tersebut. Kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang di akui dalam periode tersebut, dan ( tergantung pada format laporan perubahan ekuitas yang dipilih oleh entitas ) jumlah investasi oleh, dan dividen dan distribusi lain ke pemilik ekuitas selama periode tersebut. Informasi yang disajikan di Laporan Perubahan Ekuitas

Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukan : (a) Laba atau rugi untuk periode (b) Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas (c) Untuk setiap komponen ekuitas, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui (d) Untuk setiap komponen ekuitas, suatu rekonsiliasi antara jumlah tercatat awal dan akhir periode, diungkapkan secara terpisah perubahan yang berasal dari: (i) Laba atau rugi (ii) Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas (iii)jumlah investasi, dividen dan distribusi lainnya ke pemilik saham, transaksi saham treasuri, dan dividen serta distribusi lainnya ke pemilik ekuitas, dan perubahan kepemilikan dalam entitas anak yang tidak mengakibatkan kehilangan pengendalian. 4. Laporan arus kas Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan historis atas kas dan setara kas entitas, yang menunjukan secara terpisah perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktivitas dari operasi, investasi, dan pendanaan. Informasi yang disajikan dalam laporan arus kas Entitas menyajikan laporan arus kas yang melaporkan arus kas untuk suatu periode dan mengklasifikasikan menurut aktivitas operasi, aktivitas inivestasi, dan aktivitas pendanaan. a. Aktivitas Operasi

Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan entitas. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumya berasal dari transaksi dan peristiwa dan kondisi lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi. b. Aktivitas Investasi Arus kas dari aktivitas investasi mencerminkan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. b. Aktivitas pendanaan Contoh arus kas yang bersal dari aktivitas pendanaan adalah : (a) penerimaan kas dari penerbitan saham atau efek ekuitas lain (b) pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menebus saham entitas (c) penerimaan kas dari penerbitan pinjaman, wesel, dan pinjaman jangka pendek atau jangka panjang lainnya. (d) Pelunasan pinjaman (e) Pembayaran kas oleh lessee untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa pembiayaan. 5. Catatan Atas Laporan Keuangan Catatan Atas Laporan Keuangan berisi informasi sebagai tambahan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Catatan Atas Laporan Keuangan memberikan penjelasan naratif atas rincian jumlah yang disajikan dalam laporan

keuangan dan informasi pos pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan. Disini dapat di lihat bahwa Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan disajikan di dalam catatan atas laporan keuangan sehingga pembaca dapat lebih mudah untuk memahami laporan keuangan. 2.4 Pendapatan dan Beban 2.4.1 Definisi Pendapatan dan Beban Unsur unsur laporan laba rugi secara umum terdiri dari pendapatan dan beban. Kieso dalam buku Intermediate menyebutkan sebagai berikut (2002 : 144): Pendapatan adalah arus kas masuk aktiva atau peningkatan lainnya dalam aktiva entitas atau pelunasan kewajibannya ( atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode, yang ditimbulkan oleh pengiriman atau produksi barang, penyediaan jasa, atau aktivitas lainnya yang merupakan bagian dari operasi utama atau operasi sentral perusahaan. Sedangkan pengertian beban adalah sebagai berikut ; Beban adalah arus keluar atau penurunan lainnya dalam aktiva sebuah entitas atau penambahan kewajibannya ( atau kombinasi dari keduanya) selama periode, yang ditimbulkan oleh pengiriman dan produksi barang, penyediaan jasa, atau aktivitas lainnya yang merupakan bagian dari operasi utama atau operasi sentral perusahaan. Pendapatan bisa dalam berbagai bentuk seperti penjualan,honor, bunga, dividen, dan sewa. Beban juga memiliki berbagai bentuk, seperti harga pokok penjualan, penyusutan, bunga, sewa, gaji dan upah. Namun tidak semua perusahaan

merupakan perusahaan dagang ada juga perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Jadi akun akun pendapatan dan beban perusahaan masing masing berbeda. 2.4.2 Menurut Standar Akuntansi Keuangan umum Definisi pendapatan menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 23 adalah sebagai berikut (2009: 2) : Pendapatan adalah arus kas masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Pendapatan hanya terdiri atas arus kas masuk bruto dari manfaat ekonomi yang diterima dan dapat diterima oleh perusahaan. Jumlah yang ditagih atas nama pihak ketiga, seperti pajak pertambahan nilai, bukan merupakan manfaat ekonomi yang mengalir ke perusahaan dan tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas. Oleh karena itu pajak pertambahan nilai tidak termasuk pendapatan. Yang merupakan pendapatan hanyalah komisi yang diterima. 1. Pengukuran pendapatan Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli atau pengguna. Pendapatan hanya diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan mengalir ke perusahaan.

2. Pengungkapan pendapatan Perusahaan harus mengungkapkan : a. Kebijakan akuntansi yang dianut untuk pengakuan pendapatan termasuk metode yang dianut untuk menentukan tingkat transaksi penjualan jasa b. Jumlah setiap kategori signifikan dari pendapatan yang diakui selama periode tersebut termasuk pendapatan dari : penjualan barang, penjualan jasa, bunga, royalty dan dividen. c. Jumlah pendapatan yang berasal dari pertukaran barang dan jasa dimasukkan dalam setiap kategori yang signifikan dari pendapatan d. Pendapatan yang ditunda pengakuannya. Sedangkan pengertian beban adalah sebagai berikut ; Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode laporan dalam bentuk arus kas keluar atau penurunan asset, atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak terkait dengan distribusi kepada penanam modal. Pendapatan dan beban sehubungan dengan suatu transaksi atau peristiwa tertentu diakui secara bersamaan. Beban termasuk jaminan dan biaya lain yang terjadi diukur dengan andal.beban tersebut biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya asset seperti arus kas dan setara kas, persediaan, dan asset tetap.

2.4.3 Menurut Standar Akuntansi Keuangan ETAP Unsur unsur laporan keuangan yang terkait secara langsung dengan pengukuran laba adalah penghasilan dan beban. Penghasilan meliputi pendapatan dan keuntungan. Berikut merupakan pengertian dari pendapatan dan beban menurut SAK ETAP ( 2009 : 8 ) : Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, imbalan, bunga, dividen, royalty dan sewa. Entitas harus mengakui pendapatan atas dasar berikut : 1. Bunga harus diakui secara akrual 2. Royalti harus diakui dengan menggunakan dasar akrual sesuai dengan sesuai dengan substansi dari perjanjian yang relevan 3. Dividen harus diakui ketika hak pemegang saham untuk menerima pembayaran telah terjadi Entitas harus mengungkapkan : 1. Kebijakan akuntansi yang diterapkan sebagai dasar pengakuan pendapatan, termasuk metode yang diterapkan untuk menentukan tingkat penyelesaian transaksi yang melibatkan penyediaan jasa 2. Jumlah setiap kategori pendapatan yang diakui selama periode, termasuk pendapatan yang timbul dari :

a. Penjualan barang b. Penyediaan jasa c. Bunga d. Royalty e. Dividen f. Jenis pendapatan signifikan lainnya Pengertian beban menurut SAK ETAP (2009 : 9) sebagai berikut : Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode laporan dalam bentuk arus kas keluar atau penurunan asset, atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak terkait dengan distribusi kepada penanam modal. Beban tersebut biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya asset seperti arus kas dan setara kas, persediaan, dan aset tetap. Beban pokok penjualan, upah, dan penyusutan merupakan beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas yang biasa. 2.4.4 Menurut Pedoman Akuntansi BPR Pengertian pendapatan dan beban menurut pedoman akuntansi BPR sama seperti pengertian pendapatan dan beban yang ada pada SAK ETAP karena penyusunan pedoman akuntansi BPR merujuk pada SAK ETAP. Komponen Pendapatan dan beban menurut Pedoman Akuntansi Bank Perkreditan Rakyat ( 2010 ) yaitu : 1. Pendapatan Operasional adalah semua pendapatan yang berasal dari kegiatan utama BPR.

Pendapatan operasional terdiri dari : a. pendapatan bunga Pendapatan Bunga adalah pendapatan yang diperoleh dari penanaman dana BPR pada aset produktif, dimana pendapatan bunga termasuk provisi dikurangi biaya-biaya yang terkait langsung dalam penyaluran kredit yang ditanggung oleh BPR ( biaya transaksi). b. Provisi adalah biaya yang harus dibayar debitur pada saat kredit disetujui dan biasanya dinyatakan dalam persentase. c. Biaya Transaksi adalah semua biaya tambahan yang terkait secara langsung dengan pemberian kredit yang ditanggung oleh BPR, 2. pendapatan operasional lainnya adalah berbagai pendapatan yang timbul dari aktivitas yang mendukung kegiatan operasional BPR. 3. Pendapatan non-operasional adalah semua pendapatan yang berasal dari kegiatan yang bukan merupakan kegiatan utama BPR. Termasuk dalam pos ini adalah keuntungan yang diperoleh daripenilaian kas dalam valuta asing, serta penjualan aset tetap daninventaris dan Agunan Yang Diambil Alih. 4. Beban operasional

adalah semua beban yang dikeluarkan atas kegiatan yang lazim sebagai usaha BPR. Beban operasional dirinci menjadi: a. Beban bunga adalah beban yang dibayarkan kepada nasabah atau pihak lain yang berkaitan dengan kegiatan penghimpunan dana dan penerimaan pinjaman.beban bunga timbul dari kegiatan pendanaan berupa kegiatan penghimpunan dana dan penerimaan pinjaman, misalnya tabungan dan deposito, termasuk premi penjaminan simpanan, cash back dan hadiah deposito berjangka. b. Beban penyisihan kerugian. c. Beban pemasaran, termasuk pemberian hadiah yang tidak dapat diatribusikan, iklan dalam rangka promosi, dan biaya transaksi atas kredit yang tidak disetujui. d. Beban penelitian dan pengembangan yaitu biaya yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh BPR. e. Beban administrasi dan umum adalah berbagai beban yang timbul untuk mendukung kegiatan operasional BPR. 4. Beban non operasional adalah semua beban yang berasal dari kegiatan yang bukan merupakan kegiatan utama BPR. Beban Non-operasional antara lain adalah:

a. Kerugian yang timbul sebagai akibat penilaian kembali kasdalam valuta asing, dijual/hilangnya aset tetap dan inventarismilik BPR. b. Denda/sanksi karena suatu pelanggaran. 5. Beban pajak penghasilan adalah jumlah agregat beban pajak kiniyang diperhitungkan dalam penghitungan laba atau rugi padasatu periode. 2.5 Bank Perkreditan Rakyat ( BPR ) 2.5.1 Definisi BPR Perbankan di Indonesia berkembang sangat pesat. Bank Perkreditan Rakyat merupakan salah satu lembaga perbankan. Menurut Kasmir dalam Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya menyebutkan pengertian BPR (2000 : 31) : Bank Perkreditan Rakyat ( BPR ) adalah bank yang tidak melaksanakan kegiatan usaha secara keseluruhan atau berdasarkan prinsip syariah dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Berdasarkan pengertian di atas dapat di jelaskan bahwa usaha BPR meliputi usaha untuk menghimpun dan menyalurkan dana dengan tujuan mendapatkan keuntungan yaitu dari pendapatan bunga. Berbeda dengan bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional.

Adapun usaha usaha BPR adalah : 1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan bentuk lainya yang dipersamakan dengan itu. 2. Memberikan kredit 3. menyediakan pembiayaaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. 4. Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia ( SBI ), deposito berjangka, setifikat deposito, dan tabungan pada bank lain. SBI adalah sertifikat yang ditawarkan Bank Indonesia kepada BPR apabila BPR mengalami over likuiditas Bentuk hukum BPR dapat berupa Perusahaan Daerah ( Badan Usaha Milik Daerah ), Koperasi Perseroan Terbatas ( berupa saham atas nama ), dan bentuk lainya yang di tetapkan dengan Peraturan Pemerintah. 2.5.2 Pedoman Akuntansi BPR. Laporan keuangan Bank Perkreditan Rakyat ( BPR ) bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan. Selain itu laporan keuangan BPR juga bertujuan untuk membantu pengambilan keputusan. Suatu laporan keuangan akan bermanfaat apabila informasi yang disajikan dapat dipahami, relevan, andal dan dapat diperbandingkan. BPR perlu menyediakan informasi nonkeuangan yang mempunyai pengaruh di masa depan.

Menurut Pedoman Akuntansi Bank Perkreditan Rakyat (2010 : 1) disebutkan : Tujuan dari penyusunan Pedoman Akuntansi Bank Perkreditan Rakyat ( untuk selanjutnya disebut Pedoman ) diantaranya adalah : a. Untuk membantu pengguna dalam menyusun laporan keuangan agar sesuai dengan tujuan laporan keuangan yaitu : 1. Pengambilan keputusan ekonomi Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan yang rasional. Oleh karena itu, informasi yang disajikan harus dapat dipahami oleh pelaku bisnis dan ekonomi serta pihak pihak yang berkepentingan antara lain meliputi : a. Deposan b. Kreditur c. Pemegang saham d. Bank Indonesia e. Otoritas pengawasan f. Pemerintah g. Lembaga Pinjaman Simpanan h. Masyarakat

2. menilai prospek arus kas Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat mendukung deposan, investor, kreditur dan pihak - pihak lain dalam memperkirakan jumlah, saat, dan kepastian dalam penerimaan kas di masa depan. Prospek penerimaan kas sangat bergantung pada kemampuan BPR untuk menghasilkan kas guna memenuhi kewajibanyang telah jatuh tempo kebutuhan operasioanal, penanaman modal kembali ( reinvestasi ) dalam operasi, dan pembayaran dividen. 3. Memberikan informasi atas sumber daya ekonomi b. menciptakan keseragaman dalam penerapan perlakuan akuntansi dan penyajian laporan keuangan sehingga meningkatkan daya banding diantara laporan keuangan BPR. c. Menjadi acuan minimum yang harus dipenuhi oleh BPR dalam menyusun laporan keuangan. Namun, keseragaman penyajian sebagaimana diatur dalam Pedoman ini tidak menghalangi BPR untuk memberikan informasi yang relevan bagi penguna laporan keuangan sesuai kondisi masing masing BPR. 2.5.3 Komponen Laporan Keuangan Berdasarkan Pedoman Akuntansi BPR disebutkan : Menurut Pedoman Akuntansi Bank Perkreditan Rakyat (2010 : 15) Laporan keuangan BPR untuk tujuan umum terdiri dari :

1. Neraca 2. Laporan laba rugi 3. Laporan perubahan ekuitas 4. Laporan arus kas ; dan 5. Catatan atas laporan keuangan Bank Perkreditan Rakyat ( BPR ) wajib membuat laporan keuangan sebagai laporan kepada bank Indonesia dan pengguna lainnya yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, dan perubahan posisi keuangan. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya laporan keuangan BPR yang menyediakan informasi tersebut untuk pengambilan keputusan, seperti dicerminkan dalam laporan berikut ini : i. Laporan keuangan Posisi keuangan BPR dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi yang di kendalikan, struktur keuangan, likuiditas, dan solvabilitas serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Informasi posisi keuangan keuangan BPR tergambar dalam neraca. ii. Laporan kinerja Laporan kinerja BPR diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi selama periode pelaporan yang mungkin dikendalikan dimasa depan oleh manajemen Bank Perkreditan Rakyat ( BPR). Informasi ini berguna untuk memprediksi kapasitas BPR dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada.

Selain itu, informasi ini berguna dalam perumusan tentang efektivitas BPR dalam memanfaatkan sumber daya. Informasi kinerja BPR tergambar dalam laporan laba rugi. iii. Laporan perubahan posisi keuangan Informasi perubahan posisi keuangan BPR, antara lain : a. perubahan ekuitas Informasi perubahan ekuitas BPR menggambarkan peningkatan atau penurunan asset neto atau kekayaan selama periode pelaporan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan. Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui perubahan asset bersih yang berasaldari transaksi dengan pemegang saham dan jumlah keuntungan atau kerugian yang bersal dari kegiatan BPR. Informasi perubahan ekuitas tergambar dalam laporan perubahan ekuitas. b. Perubahan kas dan setara kas Informasi perubahan kas dan setara kas berguna untuk menilai kemampuan BPR menghasilkan arus kas sesuai kebutuhan BPR untuk menggunakan arus kas pada setiap aktivitas selama periode pelaporan. Informasi perubahan kas dan setara kas tergambar dalam laporan arus kas. c. Catatan atas laporan keuangan Informasi laporan posisi keuangan, laporan kinerja dan laporan perubahan posisi keuangan diperlukan suatu penjelasan yang relevan.

Penjelasan tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan yang berisi informasi tambahan terhadap pos pos yang disajikan dalam neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas. Laporan laba rugi merupakan laporan yang menggambarkan kinerja dari perusahaan yang nantinya dapat dijadikan suatu pedoman oleh manajemen dalam pengambilan keputusan yang akan datang. Pengaturan tersebut dilakukan seiring dengan perkembangan usaha Bank Perkreditan Rakyat, Standar Akuntansi Keuangan, dan hal lain yang berpengaruh terhadap pengaturan akuntansi dan pelaporan keuangan BPR secara keseluruhan.