BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 LANDASAN TEORI

PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN ALGORITMA EIGENFACE DAN EUCLIDEAN DISTANCE

SISTEM KONTROL AKSES BERBASIS REAL TIME FACE RECOGNITION DAN GENDER INFORMATION

BAB II LANDASAN TEORI

TEKNIK PENGENALAN WAJAH DENGAN ALGORITMA PCA BERBASIS SELEKSI EIGENVECTOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan PCA, kemudian penelitian yang menggunakan algoritma Fuzzy C-

Pengenalan Bahasa Isyarat Tangan Menggunakan Metode PCA dan Haar-Like Feature

PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

BAB II LANDASAN TEORI. Kamera web (singkatan dari web dan camera) merupakan sebuah media

UJI KINERJA FACE RECOGNITION MENGGUNAKAN EIGENFACES

BAB 1 PENDAHULUAN. Sistem Pakar (Expert System), Jaringan Saraf Tiruan (Artificial Neural Network), Visi

APLIKASI PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN METODE EIGENFACE DENGAN BAHASA PEMROGRAMAN JAVA

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

BAB I PENDAHULUAN. telinga, wajah, infrared, gaya berjalan, geometri tangan, telapak tangan, retina,

Hasil Ekstraksi Algoritma Principal Component Analysis (PCA) untuk Pengenalan Wajah dengan Bahasa Pemograman Java Eclipse IDE

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

SISTEM VERIFIKASI ONLINE MENGGUNAKAN BIOMETRIKA WAJAH

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMAAN KARYAWAN MELALUI PENGENALAN CITRA WAJAH MENGGUNAKAN ALGORITMA EIGENFACE

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. implementasi dan evaluasi yang dilakukan terhadap perangkat keras dan

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI. Pengolahan Citra adalah pemrosesan citra, khususnya dengan menggunakan

Principal Component Analysis

Menurut Ming-Hsuan, Kriegman dan Ahuja (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah sistem pengenalan wajah dapat digolongkan sebagai berikut:

BAB III PERANCANGAN SISTEM

Implementasi Principal Component Analysis (PCA) Untuk Pengenalan Wajah Manusia

BAB 2 LANDASAN TEORI

Proses memperbaiki kualitas citra agar mudah diinterpretasi oleh manusia atau komputer

BAB 2 LANDASAN TEORI

Jurnal String Vol.1 No.2 Tahun 2016 ISSN : PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS UNTUK SISTEM PENGENALAN WAJAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE EIGENFACE

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengembangan Sistem Pengenalan Wajah 2D

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

Prototype Pendeteksi Jumlah Orang Dalam Ruangan

PENGAMAN RUMAH DENGAN SISTEM FACE RECOGNITION SECARA REAL TIME MENGGUNAKAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS

Konsep Dasar Pengolahan Citra. Pertemuan ke-2 Boldson H. Situmorang, S.Kom., MMSI

BAB I PENDAHULUAN. dengan memanfaatkan ciri wajah yang telah tersimpan pada database atau wajah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SISTEM PELACAKAN WAJAH METODE HAAR

PENGENALAN WAJAH MANUSIA DENGAN METODE PRINCIPLE COMPONENT ANALYSIS (PCA)

BAB I PENDAHULUAN. Sistem biometrik merupakan penerapan teknologi yang mempelajari

BAB 2 LANDASAN TEORI

ABSTRAK. Kata kunci: Citra wajah manusia, Principal Component Analysis (PCA), Eigenfaces, Euclidean Distance. ABSTRACT

BAB III METODE PENELITIAN. Tujuan tugas akhir ini akan membangun suatu model sistem yang

PEMANFAATAN GUI DALAM PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK PENGENALAN CITRA WAJAH MANUSIA MENGGUNAKAN METODE EIGENFACES

BAB II DASAR TEORI. CV Dokumentasi CV berisi pengolahan citra, analisis struktur citra, motion dan tracking, pengenalan pola, dan kalibrasi kamera.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Korelasi Jarak Wajah Terhadap Nilai Akurasi Pada Sistem Pengenalan Wajah Menggunakan Stereo Vision Camera

ESTIMASI FUNGSI SPASIAL PADA IDENTIFIKASI FITUR WAJAH

Pengenalan Wajah dengan Metode Subspace LDA (Linear Discriminant Analysis)

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL ( DIGITAL IMAGE PROCESSING )

BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Definisi Citra, Pengolahan Citra, dan Pengenalan Pola

pengambilan citra video, pemrosesan citra pada setiap frame,, pendeteksian objek

Pengenalan wajah dengan algorithma Eigen Face Oleh: Hanif Al Fatta

Pertemuan 3 Perbaikan Citra pada Domain Spasial (1) Anny Yuniarti, S.Kom, M.Comp.Sc

APLIKASI PENGENALAN DAUN UBI JALAR UNTUK JENIS UBI JALAR UNGU, MERAH, PUTIH DAN KUNING MENGGUNAKAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Identifikasi Wajah Manusia untuk Sistem Monitoring Kehadiran Perkuliahan menggunakan Ekstraksi Fitur Principal Component Analysis (PCA)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori Citra Digital

Program Aplikasi Komputer Pengenalan Angka Dengan Pose Jari Tangan Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Anak Usia Dini

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM

COMPUTER VISION UNTUK PENGHITUNGAN JARAK OBYEK TERHADAP KAMERA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

Sistem Pengenal Wajah Manusia untuk Personalisasi Perintah pada Robot

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan yang sangat populer saat ini. Dengan ilmu pengetahuan ini, teknologi di

... BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Citra

BAB I PENDAHULUAN. satu bagian sistem biometrika adalah face recognition (pengenalan wajah). Sistem

PENGENALAN SESEORANG MENGGUNAKAN CITRA GARIS TANGAN

Identifikasi Tanda Tangan Menggunakan Transformasi Gabor Wavelet dan Jarak Minskowski

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Meter Air. Gambar 2.1 Meter Air. Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus

Penerapan Metode Phase Congruency Image (PCI) dalam Pengenalan Citra Wajah secara Otomatis

PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN METODE LINEAR DISCRIMINANT ANALYSIS DAN K NEAREST NEIGHBOR

IMPLEMENTASI ALGORITMA FRACTAL NEIGHBOUR DISTANCE UNTUK FACE RECOGNITION

ANALISA PENGUKURAN SIMILARITAS BERDASARKAN JARAK MINIMUM PADA PENGENALAN WAJAH 2D MENGGUNAKAN DIAGONAL PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS

TUGAS AKHIR FACE RECOGNITION MENGGUNAKAN METODE VIOLA & JONES

SIMULASI PENGENALAN WAJAH MANUSIA MENGGUNAKAN METODE ANALISIS DISKRIMINAN LINEAR DUA DIMENSI (2D-LDA) DENGAN JARAK MANHATTAN, CANBERRA DAN EUCLIDEAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang dalam era globalisasi saat ini begitu

PENGENALAN WAJAH DENGAN METODE ADJACENT PIXEL INTENSITY DIFFERENCE QUANTIZATION TERMODIFIKASI

SISTEM PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN WEBCAM UNTUK ABSENSI DENGAN METODE TEMPLATE MATCHING

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Perkembangan Teknologi Pengolahan Citra

1BAB I. 2PENDAHULUAN

PERBAIKAN CITRA UNTUK PENGENALAN WAJAH PADA CITRA WAJAH DENGAN PENCAHAYAAN TIDAK MERATA

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pengenalan Image Wajah Dengan Menggunakan Metode Template Matching. Abstraksi

PELACAKAN DAN DETEKSI WAJAH MENGGUNAKAN VIDEO LANGSUNG PADA WEBCAM ABSTRAK ABSTRACT

PENGENALAN POLA BENTUK BUNGA MENGGUNAKAN PRINCIPLE COMPONENT ANALYSIS DAN K-NN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Implementasi Pengenalan Citra Wajah dengan Algoritma Eigenface pada Metode Principal Component Analysis (PCA)

Muhammad Zidny Naf an, M.Kom. Gasal 2015/2016

1. Pendahuluan. 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. keakuratan dari penglihatan mesin membuka bagian baru dari aplikasi komputer.

Teknik pengenalan wajah berbasis fitur local binary pattern (LBP)

SISTEM PINTU OTOMATIS BERDASARKAN PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN METODE NEAREST FEATURE LINE

Integrasi Sistem Pengenalan Wajah Menggunakan Metode Eigenfaces & MySQL

BAB 3. ANALISIS dan RANCANGAN. eigenfaces dan deteksi muka dengan color thresholding akan mempunyai proses

Transkripsi:

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Citra Berikut adalah beberapa definisi dari citra, antara lain: rupa; gambar; gambaran (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sebuah fungsi dua dimensi, f(x, y), di mana x dan y adalah koordinat-koordinat spasial (bidang), dan amplitude dari f pada setiap pasang koordinat (x, y) disebut intensitas atau tingkat keabuan pada titik tersebut (Gonzalez & Woods, 2002, p. 1). Citra adalah suatu representasi dari objek nyata ke dalam gambar digital yang dapat dikenali oleh komputer. Citra tersebut dapat menjadi masukan atau input ke dalam komputer yang akan diproses menjadi keluaran atau output yang diinginkan. 2.2 Pengolahan Citra Pengolahan citra (image processing) merupakan bidang yang berhubungan dengan proses transformasi citra yang bertujuan untuk mendapatkan kualitas citra yang lebih baik (Fairhurst, 1988, p. 5). Pengolahan citra perlu dilakukan sebelum melakukan proses deteksi atau pengenalan citra wajah dalam penelitian ini. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan kualitas citra yang lebih baik sehingga dapat mempermudah dan meningkatkan keakuratan sistem dalam melakukan pendeteksian dan pengenalan.

10 2.3 Histogram Equalization Histogram dari citra digital dengan tingkat keabuan dalam rentang [0, L 1] adalah sebuah fungsi diskrit, di mana adalah tingkat keabuan ke- dan adalah jumlah pixel dalam citra yang memiliki tingkat keabuan (Gonzalez & Woods, 2002, p. 88). Histogram adalah dasar dari domain spasial sejumlah teknik pengolahan. Manipulasi histogram dapat digunakan secara efektif untuk peningkatan citra. Histogram equalization adalah persamaan yang diimplementasikan pada sebuah citra digital di mana distribusi histogram-nya akan lebih menyebar, dalam hal ini walaupun tidak dapat dibuktikan bahwa bentuk histogram-nya akan seragam namun dengan histogram equalization dapat dipastikan histogram-nya akan lebih merata. Sekumpulan citra yang diberikan histogram equalization (disebut juga histogram linearization) akan memiliki komposisi kontras yang mirip satu sama lain. Gambar 2.1 Citra sebelum histogram equalization

11 Gambar 2.2 Citra sesudah histogram equalization 2.4 Pengenalan Pola Pengenalan pola (pattern recognition) merupakan bidang studi yang melakukan proses analisis gambar yang input-nya adalah gambar ataupun citra digital dan menghasilkan output suatu deskripsi dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang disampaikan oleh gambar atau citra, dengan kata lain meniru kemampuan manusia (otak manusia) dalam mengenali suatu objek atau pola tertentu (Fairhurst, 1988, p. 5). Citra wajah dapat dikatakan sebagai pola yang harus dikenali dalam penelitian ini. Ilmu pengenalan pola adalah dasar dari kemampuan komputer dalam melakukan pencarian semua lokasi citra wajah yang ada di dalam sebuah gambar. 2.5 Computer Vision Computer vision merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana komputer dapat mengenali obyek yang diamati (Fairhurst, 1988, p. 5). Computer vision adalah ilmu yang bertujuan untuk mendiskripsikan dunia dalam bentuk satu atau lebih citra dan melakukan rekonstruksi properti-properti yang ada seperti bentuk, iluminasi, dan distribusi warna (Szeliski, 2011, p. 3).

Computer vision merupakan hasil gabungan dari pengolahan citra dan pengenalan pola. Pengenalan wajah merupakan bagian dari computer vision. 12 2.6 Identifikasi Wajah Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, identifikasi adalah penentu atau penetapan identitas seseorang, benda, dsb. Identifikasi (pengenalan) wajah atau face recognition adalah sebuah tugas yang dilakukan oleh manusia secara rutin dan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian dan pengembangan ilmu pengenalan wajah berkembang secara otomatis atas dasar ketersediaan desktop kuat dan rendah biaya serta embedded-system yang telah menciptakan minat yang sangat besar dalam pengolahan citra digital dan video. Motivasi penelitian dan pengembangan dari pengenalan wajah termasuk dalam lingkup otentikasi biometrik, pengawasan, interaksi manusia-komputer, dan manajemen multimedia (Li & Jain, 2005, p. 1). Pengenalan wajah adalah salah satu ilmu di dalam computer vision, di mana komputer dapat menganalisa suatu citra wajah yang ditemukan di dalam sebuah gambar dan menemukan identitas dari citra wajah tersebut dengan membandingkannya terhadap data-data citra wajah yang telah disimpan sebelumnya. Umumnya pengenalan citra wajah dilakukan dari depan dengan dengan cahaya yang merata ke seluruh wajah. Tetapi dalam beberapa kasus, ada kalanya suatu citra wajah yang ditangkap memiliki beberapa pengecualian tertentu, seperti posisi, skala atau jarak wajah, orientasi, umur, dan ekspresi. Sistem pengenalan citra wajah umumnya mencakup empat modul utama (Li & Jain, 2005, p. 2), yaitu: deteksi, alignment, ekstraksi fitur, dan pencocokan. Proses

13 lokalisasi dan normalisasi (deteksi wajah dan alignment) adalah langkah-langkah sebelum proses pengenalan wajah (ekstraksi fitur wajah dan pencocokan) dilakukan. Deteksi wajah adalah langkah awal untuk melakukan identifikasi wajah atau face recognition. Sebuah pendeteksi wajah yang ideal seharusnya mampu mengidentifikasi dan menemukan lokasi dan luas semua wajah yang ada di dalam sebuah gambar tanpa memperhatikan pose, skala, orientasi, umur, dan ekspresi (Li & Jain, 2005, p. 13). Deteksi wajah melakukan segmentasi area citra wajah dengan bagian latar (background). Proses alignment bertujuan untuk memperoleh akurasi yang lebih tinggi untuk lokalisasi dan normalisasi citra wajah karena deteksi wajah menyediakan estimasi lokasi dan skala dari setiap citra wajah yang terdeteksi. Setelah sebuah wajah dinormalisasi, ekstraksi fitur dilakukan untuk mengambil data efektif yang berguna untuk memisahkan antara citra-citra wajah dan orang-orang yang berbeda dan cukup stabil untuk variasi geometrik dan fotometrik. Pencocokan wajah dilakukan dengan cara melakukan pencocokan fitur yang telah diekstraksi dari citra wajah masukan dengan kumpulan data training citra wajah yang telah disimpan sebagai basis data wajah. Gambar 2.3 Proses pengenalan wajah

14 Citra wajah, direpresentasikan sebagai sebuah susunan pixel dengan dimensi tinggi. Pengenalan wajah, dan penelitian computer vision secara umum, telah menyaksikan pertumbuhan minat dalam teknik yang menerapkan aljabar dan fitur statistik untuk melakukan ekstraksi dan analisis kasus jenis ini. Analisa komputer untuk citra wajah dipengaruhi oleh sinyal visual (cahaya yang terpantul pada permukaan wajah) yang disimpan oleh sebuah sensor digital sebagai sebuah susunan dari nilai pixel. Nilai pixel ini menyimpan warna atau hanya intensitas cahaya. Array pixel dari citra wajah berukuran dapat disimpan dalam bentuk sebuah titik (contoh: vektor) di dalam sebuah ruang citra -dimensi dengan menulis nilai-nilai pixel-nya dalam urutan tetap. Masalah utama dari data multidimensi adalah dimensionalitasnya, jumlah koordinat yang diperlukan untuk menspesifikasikan sebuah titik data (Shakhnarovich & Moghaddam, 2005, p. 141). Jumlah dimensionalitas ruang tersebut, yang dibangun dari representasi pixel, adalah jumlah yang sangat besar bahkan untuk sebuah ukuran citra yang sederhana. Metode pengenalan untuk mengoperasikan representasi ini mengalami beberapa kesulitan. Menurut Shakhnarovich dan Moghaddam (2005), beberapa dari kesulitan ini disebut juga kutukan dari dimensionalitas. - Menangani dimensionalitas yang tinggi, terutama dalam konteks pengenalan berdasarkan kemiripan dan pencocokan, adalah mahal secara komputasi. - Untuk metode parametrik, jumlah parameter yang dibutuhkan berkembang secara eksponensial berdasarkan dimensionalitas. Terkadang jumlah ini melebihi jumlah citra yang tersedia untuk training. - Untuk metode non-parametrik, kompleksitas sampel cukup tinggi.

15 Oleh karena itu, perlu adanya penggunaan teknik pengurangan dimensionalitas untuk membangun sistem pengenalan wajah yang dapat melakukan komputasi secara cepat sehingga dapat diandalkan. Pada penelitian ini, teknik pengurangan dimensionalitas menggunakan metode Principal Component Analysis. Menurut Li dan Jain (2005), ada beberapa faktor yang dapat mengurangi kemampuan pengenalan wajah seperti perubahan iluminasi, pose, ekspresi, occlusion, aksesoris, warna, dan kecerahan. Gambar 2.4 Variasi dalam satu subjek dalam pose, iluminasi, ekspresi, occlusion, aksesoris (contoh: kacamata), warna, dan kecerahan (Li & Jain, 2005, p. 6) 2.7 Viola-Jones Metode Viola-Jones adalah metode yang banyak digunakan dalam melakukan pendeteksian objek. Metode Viola-Jones dapat menjalankan algoritmanya dengan cepat. Proses pedeteksian dilakukan dengan melakukan klasifikasi menggunakan pengklasifikasi (classifier) yang telah dibangun sebelumnya sebagai data training. Bagian penting dalam metode Viola-Jones terdiri dari:

16 1. Fitur Haar-like Pengenalan objek Viola-Jones memiliki prosedur pengklasifikasian citra berdasarkan nilai fitur sederhana. Penggunaan fitur dilakukan karena pemrosesan fitur berlangsung lebih cepat dibandingkan pemrosesan citra perpiksel (Dzulkarnain, Dewantara, & Besari, 2011, p. 3). 2. Membangun Pengklasifikasi Lemah (Weak Classifiers) Metode Viola-Jones dibangun berdasarkan metode AdaBoost. Pembelajaran AdaBoost membutuhkan pengklasifikasi kuat nonlinier kompleks, yang dibangun dari kombinasi sejumlah pengklasifikasi lemah (Li & Jain, 2005, p. 19). Pembelajaran AdaBoost melakukan pembelajaran sederet pengklasifikasi lemah terbaik yang dikombinasikan. 3. Membangun Pengklasifikasi Kuat (Strong Classifier) Pembelajaran AdaBoost membentuk sederet pengklasifikasi lemah dan mendorongnya menjadi satu pengklasifikasi kuat. 4. Cascade of Strong Classifiers Tingkatan-tingkatan di dalam cascade dibangun dengan melakukan training pengklasifikasi menggunakan metode AdaBoost. Sebuah pengklasifikasi kuat secara efektif menghilangkan sebagian besar dari daerah jendela yang bukan citra wajah ketika mempertahankan tingkat deteksi yang tinggi (Li & Jain, 2005, p. 26). Viola dan Jones mengembangkan ide ini dengan melakukan training terhadap sebuah cascade yang terdiri dari sebuah cascade dari pengklasifikasi-

17 pengklasifikasi kuat. Untuk pendeteksian citra wajah, bagian jendela yang gagal melewati sebuah pengklasifikasi kuat tidak lagi diproses oleh pengklasifikasi kuat selanjutnya. Metode ini dapat secara signifikan meningkatkan kecepatan dari deteksi, dengan sedikit pengorbanan pada tingkat deteksi. 2.8 Principal Component Analysis (PCA) Principal Component Analysis (PCA) adalah teknik standar yang digunakan dalam pengenalan pola statistikal dan pemrosesan sinyal untuk data reduction dan ekstraksi fitur (Eleyan & Demirel, 2007, p. 94). Kemampuan ekstraksi fitur ini dapat digunakan untuk melakukan pengenalan wajah. Metode PCA dikenal juga dengan nama Karhunen-Loeve Transformation (KLT). PCA memberikan transformasi ortogonal yang disebut juga dengan eigenimage yang di mana sebuah citra akan direpresentasikan ke dalam bentuk proyeksi linier searah dengan eigenimage yang bersesuaian dengan nilai Eigen terbesar dari matriks covariance. Dalam prakteknya, matriks covariance ini dibangun dari sekumpulan image training yang diambil dari berbagai objek. Sebuah citra 2D dengan dimensi kolom dan baris dapat direpresentasikan ke dalam bentuk citra 1D. Dalam penelitian ini ukuran jumlah kolom dan baris pixel citra adalah sama, sehingga nantinya akan terbentuk dimensi. Gambar 2.5 Contoh input citra wajah (Seo, EigenFaces and FisherFaces, 2006, p. 2)

18 Misalnya ada sejumlah individu yang dijadikan sampel. Dari setiap individu diambil citra, sehingga total citra di dalam training set adalah: Sejumlah sampel citra dinyatakan sebagai Γ,Γ,Γ,,Γ di dalam sebuah ruang citra -dimensi. Kumpulan citra tersebut dihitung nilai rata-ratanya yang disebut juga sebagai average face dengan perhitungan berikut: Ψ 1 Γ Gambar 2.6 Average face (Seo, EigenFaces and FisherFaces, 2006, p. 2) Setiap citra wajah dikurangi dengan nilai rata-rata membentuk kumpulan vektor Φ menggunakan rumus: Φ Γ Ψ Kumpulan vektor yang sangat besar ini kemudian mengikuti pada aturan PCA, yang mencari sejumlah vektor-vektor ortonormal dan nilai Eigen yang terbaik dalam menggambarkan distribusi dari data tersebut. Vektor-vektor dan nilai-nilai adalah vektor-vektor Eigen dan nilai-nilai Eigen dari matriks covariance 1 di mana Φ Φ Φ. Φ Φ T

19 Dari matriks (dalam penelitian ini berukuran ), diambil vektor-vektor Eigen terbaik sebanyak jumlah data. Karena vektor-vektor Eigen ini memiliki dimensi yang sama dengan dimensi citra yang asli, maka vektor-vektor ini jika disusun menjadi matriks berukuran akan membentuk citra yang mirip dengan wajah seperti contoh yang ditunjukkan pada Gambar 2.7. Oleh karena itu, vektor-vektor Eigen ini disebut juga Eigenfaces. Gambar 2.7 Eigenfaces (Seo, EigenFaces and FisherFaces, 2006, p. 2) Penggunaan PCA sangat mengurangi kalkulasi yang perlu dilakukan, dari sejumlah pixel di dalam citra ( ) menjadi sejumlah citra di dalam training set ( ). Dalam prakteknya, jumlah citra wajah di dalam training set biasanya lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pixel di dalam citra (Eleyan & Demirel, 2007, p. 96). Pendekatan metode PCA untuk pengenalan wajah ditunjukkan pada Gambar 2.8.

20 Gambar 2.8 Pendekatan PCA untuk pengenalan wajah (Eleyan & Demirel, 2007, p. 98) Dengan kata lain metode PCA memproyeksikan ruang asal menjadi ruang baru yang berdimensi lebih rendah, dengan berpegang bahwa sebanyak mungkin informasi yang dimiliki dimensi asal dipertahankan dan tidak terlalu banyak yang hilang setelah diproyeksikan ke ruang yang baru. Dengan memperkecil dimensi dari sebuah ruang, tentu akan meringankan proses komputasi yang perlu dilakukan oleh sistem. 2.9 Euclidean Distance Euclidean distance adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk melakukan klasifikasi citra wajah yang baru (tidak diketahui) ke salah satu dari citra wajah yang telah diketahui. Nilai bobot antara dua vektor i dan j yang dihitung dengan

21 menggunakan Euclidean distance menunjukkan ukuran kesamaan antara citra i dan j (Pissarenko, 2002, p. 5). Perhitungan Euclidean distance dilakukan menurut rumus berikut: x y e = x i y i 2 2.10 EmguCV EmguCV adalah sebuah paket lintas platform.net untuk library pengalahan citra Intel. EmguCV memperbolehkan fungsi-fungsi OpenCV untuk dipanggil dari bahasa yang kompatibel dengan.net seperti C#, VB, VC++, IronPhyton, dan lain sebagainya. Paket ini dapat di-compile pada Mono dan dijalankan di Linux atau Mac OS X (Anonim, 2011). Penelitian ini menggunakan EmguCV versi 2.0.5077.