BAB III PROSES FISIOTERAPI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI. dilakukan pada tanggal 5 Februari 2016 secara auto anamnesis yaitu

BAB III PROSES FISIOTERAPI

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN MIOGENIK DI RST. Dr. SOEJONO MAGELANG

BAB I PENDAHULUAN. mencapai hasil yang optimal. Upaya kesehatan yang semula dititikberatkan pada

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam studi kasus ini, seorang pasien perempuan dengan inisial Ny. NF

BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS. A. Pengkajian Fisioterapi. fisioterapi pada kasus carpal tunnel syndrome perlu dilakukan beberapa tahapan

BAB III PROSES FISIOTERAPI. riwayat penyakit, baik berupa anamnesis maupun pemeriksan. Sistematika

BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS. De Quervain Syndrome Dextra, meliputi: (1) pengkajian data, (2) pelaksanaan

BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS. anamnesis. Anamnesis dilakukan dengan cara tanya jawab, dilakukan untuk

PROTOKOL STUDI KASUS. : RSUP Dr.SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN. : Tn. Biran Kusdomo. : Delanggu RT 03, RW 11,klaten

LAPORAN STATUS KLINIK D III FISIOTERAPI FISIOTERAPI MUSKULOSKELETAL. Program Studi Fisioterapi

BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS. tata urutan tindakan fisioterapi (assasment) yang meliputi, anamnesis,

LAPORAN STATUS KLINIK

Oleh: J FAKULTAS

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA SCOLIOSIS VETEBRA THORACAL 7 LUMBAL 1 DI RSAL DR.RAMELAN

BAB 1 PENDAHULUAN. seumur hidup sebanyak 60% (Demoulin 2012). Menurut World Health

BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyebab 40% kunjungan pasien berobat jalan terkait gejala. setiap tahunnya. Hasil survei Word Health Organization / WHO

LAPORAN KASUS: PENATALAKSANAAN LOW BACK PAIN e.c SPONDYLOSIS LUMBALIS DENGAN SWD DAN WILLIAM FLEXION EXERCISE

Nama Mahasiswa : Fitriyanti NIM : J Tempat Praktek : RS. AL. Dr. Ramelan Surabaya Pembimbing : Deddy Herman. P. SST.

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI PASKA OPERASI HERNIA NUCLEUS PULPOSUS DI VERTEBRA L5-S1 DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah menyelenggarakan. bagian-bagian integral dari pembangunan nasional.

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan termasuk salah satunya bidang kesehatan. Pembangunan di bidang

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN SPONDYLOSIS LUMBALIS 4-5 DENGAN MWD ULTRA SOUND DAN WILLIAM FLEXION EXERCISE DI RSUD SRAGEN

SURAT PERSETUJUAN MENJADI SAMPEL PENELITIAN

CASE REPORT SESSION LOW BACK PAIN OLEH : Dani Ferdian Nur Hamizah Nasaruddin PRESEPTOR: Tri Damiati Pandji,dr.,Sp.

BAB I PENDAHULUAN. dimana dijumpai beraneka ragam jenis keluhan antara lain gangguan neuromuskular,

LAPORAN STATUS KLINIK Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi D III Fisioterapi

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS LOW BACK PAIN MYOGENIC E.C. LUMBAR STRAIN DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CERVICAL ROOT S SYNDROME DI RSU AISYIYAH PONOROGO

BAB I PENDAHULUAN. punggung antara lain aktifitas sehari-hari seperti, berolahraga, bekerja, dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Nyeri punggung bawah atau Low Back Pain (LBP) merupakan. sehingga dengan demikian walaupun etiologi LBP dapat bervariasi dari yang

BAB I PENDAHULUAN. pertambahan usia dan atau mengalami gangguan akibat dari injuri atau sakit.

BAB I PENDAHULUAN. merupakan keadaan dinamis dan dapat ditingkatkan sehingga manusia dapat

KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA ISCHIALGIA DEKSTRA DI RSAL DR RAMELAN SURABAYA

NASKAH PUBLIKASI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI LOW BACK PAIN SUSPECT HERNIA NUCLEUS PULPOSUS DI RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

: Pensiunan PNS angkatan laut. : Waru surabaya

LAMPIRAN SUKHASANA SHAVASANA

BAB I PENDAHULUAN. Dunia globalisasi menuntut masyarakat untuk memenuhi kebutuhan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

LAMPIRAN II. Kuisioner Prevalensi Low Back Pain

PENATALAKSANAAN INFRA RED DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI PASCA GIPS FRAKTUR RADIUS 1/3 DISTAL SINISTRA DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

BAB I. punggung bawah. Nyeri punggung bawah sering menjadi kronis, menetap atau. sehingga tidak boleh dpandang sebelah mata (Muheri, 2010).

Naskah Publikasi. Diajukan guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk menyelesaikan program Pendidikan Diploma III fisioterapi

BAB I PENDAHULUAN. bidang semakin ketat. Persaingan yang semakin ketat tersebut menuntut kualitas

Latihan Kekuatan Otot Tubuh Bagian Atas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. usia 56 tahun dengan kondisi Hernia Nucleus Pulposus (HNP) pada L5-S1

Blanko Kuisioner Neck Disability Index (NDI)

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI ISCHIALGIA SINISTRA et causa HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP) DI RUMKITAL DR.

NASKAH PUBLIKASI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA CERVICAL SYNDROME DI RSUP. DR. SARDJITO-YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. aktivitas fungsional sehari-hari. Dimana kesehatan merupakan suatu keadaan bebas

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI NYERI PUNGGUNG BAWAH MYOGENIK DI RSUD SRAGEN

Karya Tulis Ilmiah Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Fisioterapi

BAB I PENDAHULUAN. duduk terlalu lama dengan sikap yang salah, hal ini dapat menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Spine merupakan tulang penopang tubuh yang tersusun atas cervical

PENDAHULUAN. yang berkembang kian pesat sangat berpengaruh pula aktivitas yang terjadi pada

KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS ISCHIALGIA SINISTRA DENGAN MODALITAS INFRA RED DAN MC. KENZIE DI RSUD SUKOHARJO

PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN THORAX (ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK)

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I. A. Latar Belakang Masalah. penelitian, ditemukan bahwa nyeri punggung bawah mengenai kira-kira %

BAB I PENDAHULUAN. sehingga manakala seseorang menderita sakit maka seseorang akan

LAPORAN STATUS KLINIK

KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS NYERI PUNGGUNG BAWAH MIOGENIK

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Angka kejadian Ischialgia bawah hampir sama pada semua populasi

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CERVICAL ROOT SYNDROME DI RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

CASE REPORT SESSION OSTEOARTHRITIS. Disusun oleh: Gisela Karina Setiawan Abednego Panggabean

NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh: AYUDIA SEKAR PUTRI J


Angkat kedua dumbbell ke depan dengan memutar pergelangan tangan (twist) hingga bertemu satu sama lain.

BAB I PENDAHULUAN. kesemuanya adalah merupakan satu kesatuan untuk menciptakan

KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS KNEE DEXTRA DI RSUD KOTA SRAGEN

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan karena 65% penduduk Indonesia adalah usia kerja, 30% bekerja disektor

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar BelakangMasalah. bagian bawah adalah tungkai. Dan lutut merupakan salah satu sendi utama

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA CERVICAL ROOT SYNDROME DI RSUD SUKOHARJO NASKAH PUBLIKASI

PERBEDAAN PENGARUH PENAMBAHAN WILLIAM S FLEXION EXERCISES PADA INTERVENSI SHORT WAVE DIATHERMY DAN TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION PADA

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS ISCHIALGIA KARENA SPONDYLOSIS LUMBAL L 4 L 5 di PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. tersebut ringan atau berat sehingga dalam proses penyembuhan pasien. buruk dari rawat inap atau long bed rest.

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN. MYOGENIC DI RST Dr. SOEJONO MAGELANG

Latihan 1: untuk menyiapkan kondisi secara fisiologis maupun psikologis agar dapat melaksanakan latihan gerakan senam dengan baik dan benar

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS LOW BACK PAIN MYOGENIC DI RSUD SUKOHARJO

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI MICRO WAVE DIATHERMY DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS GENU UNILATERAL

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian akan dilakukan pada bulan Januari - Februari 2014

BAB 1 PENDAHULUAN. peningkatan peran serta masyarakat untuk lebih aktif. Aktivitas manusia sangat

BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari, terutama di negara-negara industri. Sekitar 70-85% dari seluruh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penyakit pada anggota gerak yang disebabkan oleh traumatik. Trauma merupakan

BAB I PENDAHULUAN. mencapai tingkat derajad kesehatan masyarakat secara makro. Berbagai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. tahun dengan diagnosa medis CTS dextra diperoleh permasalahan berupa

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah

BAB I PENDAHULUAN. emosional setelah menjalani rutinitas yang melelahkan sepanjang hari. Hal

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KASUS FRAKTUR COLUMN FEMUR DEXTRA DI RUMAH SAKIT ORTOPEDHI Dr. SOEHARSO SURAKARTA TAHUN 2015

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) LATIHAN FISIK RENTANG GERAK / RANGE OF MOTION (ROM) AKTIF

SURAT PERSETUJUAN MENJADI SAMPEL PENELITIAN

Dilakukan. Komponen STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TEKNIK PEMIJATAN BAYI

PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN PADA LEHER ( ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK)

BAB I PENDAHULUAN. nyeri tak tertahankan, mempengaruhi tangan, punggung, leher, lengan, bahkan

NASKAH PUBLIKASI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS LOW BACK PAIN MYOGENIC DI RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA

ROM (Range Of Motion)

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PERUBAHAN BODY MEKANIK DALAM KEHAMILAN. Dosen Pembimbing : Christin Hiyana TD, S.SiT

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai fungsi penting yaitusebagai stabilisasi serta mobilisasi tubuh.

Transkripsi:

BAB III PROSES FISIOTERAPI A. Pengkajian Fisioterapi 1. Anamnesis Anamnesis merupakan suatu pengumpulan data dengan cara tanya jawab antara terapis dengan sumber data, dimana dengan dilakukannya tanya jawab diharapkan akan memperoleh informasi tentang penyakit dan keluhan yang dirasakan oleh sumber data. Anamnesis dapat dibagi menjadi dua, yaitu autoanamnesis dan heteroanamnesis. Autoanamnesis merupakan suatu proses tanya jawab yang dilakukan secara langsung dengan sumber data atau pasien, sedangkan heteroanamnesis merupakan suatu proses tanya jawab yang dilakukan dengan orang lain (keluarga ataupun orang yang mengetahui tentang perjalanan penyakit dari sumber data). a. Anamnesis Umum 1) Identitas pasien Nama Umur : Ny. W : 62 tahun Jenis kelamin : Perempuan Agama Pekerjaan Alamat : Islam : Ibu Rumah Tangga : Rt 02 / Rw 01 Prayan, Gumpang, Kartosuro. No. RM : 00-60-71-04 42

43 b. Anamnesis Khusus 1) Keluhan utama Keluhan utama merupakan suatu permasalahan yang dirasakan oleh pasien. Pada kasus ini pasien mengeluh adamya nyeri pada bagian punggung bawah. 2) Riwayat penyakit sekarang Bulan Juni 2014, pasien merasakan nyeri pada saat bangun tidur dan nyeri yang tiba tiba saat berjalan. Pada tanggal 8 Juli 2014 pasien periksa ke dokter dan dilakukan foto rontgen serta USG (awalnya pasien juga mengeluhkan adanya sakit pada perut). Nyeri semakin terasa meningkat ketika pasien duduk dan nyeri berkurang ketika pasien tidur terlentang ataupun pada posisi miring. Kemudian pada tanggal 16 Juli 2014 pasien mendapatkan rujukan ke fisioterapi. 3) Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit dahulu diketahui bahwa pasien tidak pernah mengalami trauma dan penyakit yang sama, seperti yang dialami sekarang. 4) Riwayat penyakit penyerta Tidak ada riwayat penyakit penyerta 5) Riwayat penyakit pribadi dan keluarga Tidak ada keluarga pasien yang mempunyai riwayat penyakit serupa.

44 6) Anamnesis sistem Pada anamnesis sistem untuk kondisi Low Back Pain akibat spondilosis dan scoliosis, pada kepala dan leher tidak ada keluhan kaku dan pusing. Pada kardiovaskuler tidak ada keluhan nyeri dada dan keluhan jantung berdebar-debar. Pada respirasi tidak ada keluhan nyeri dada dan batuk berdarah. Pada gastroitestinalis berhubungan dengan BAB pasien lancar dan terkontrol. Pada urogenitalis berhubungan dengan BAK pasien normal dan terkontrol. Pada muskuloskeletal ada keluhan nyeri pada punggung bawah. Pada nervorum tidak ada riwayat lumpuh separuh badan. 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaaan tahap awal yang dilakukan terhadap pasien, yaitu meliputi: a. Tanda tanda vital Pemeriksaan tanda vital dilakukan pada tanggal 16 Juli 2014, yang berisi tentang: Tekanan darah Denyut nadi Pernapasan Temperatur Tinggi badan Berat badan : 130 / 90 mmhg : 76 x/ menit : 20 x/ menit : 36,2 0 C : 148 cm : 65 kg b. Inspeksi

45 Inspeksi merupakan suatu pemeriksaan, dimana pemeriksaan tersebut memlihat pasien secara langsung dan mengidentifikasi tanda tanda dari keluhan yang pasien alami. Pemeriksaan inspeksi ada dua, yaitu secara statis dan dinamis. Inspeksi statis merupakan inspeksi yang dilakukan saat pasien tidak bergerak atau dalam keadaan diam, sedangkan inspeksi dinamis merupakan inspeksi yang dilakukan saat pasien bergerak. Inspeksi secara statis kondisi umum pasien baik, ekspresi wajah pasien tidak menahan rasa sakit. Inspeksi secara dinamis terlihat abnormal postur saat berjalan, yaitu bahu kanan lebih rendah dari bahu kiri. Pada saat flexi lumbal terlihat scapula kanan lebih tinggi atau menonjol daripada yang kiri. c. Palpasi Palpasi merupakan suatu pemeriksaan dengan cara memegang, menekan dan meraba bagian tubuh pasien. Bertujuan untuk mengetahui adanya spasme otot, nyeri tekan, suhu lokal, tonus, oedema dan perubahan bentuk. Dari pemeriksaan ini didapatkan nyeri tekan pada m. erector spinae dan tidak terdapat bengkak. d. Gerakan dasar 1) Gerak aktif Gerak aktif merupakan gerak yang dilakukan secara mandiri oleh pasien.

46 Pada pemeriksaan gerak aktif yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu pasien dapat melakukan gerakan aktif pada daerah lumbal dengan baik, full ROM, tidak terdapat nyeri, seperti gerakan flexi lumbal, lateral flexi dextra, lateral flexi sinistra, namun hanya saja sedikit terbatas pada gerak extensi lumbal. 2) Gerak pasif Gerak pasif merupakan gerak yang dibantu oleh terapis, pasien dalam keadaan diam, dan terapis yang sepenuhnya menggerakkan tubuh pasien. Pada pemeriksaan gerak pasif yang dilakukan, pada saat posisi pasien berdiri, secara pasif trunk pasien digerakkan ke arah flexi, lateral flexi dextra dan lateral flexi sinistra tidak terbatas dan tidak timbul nyeri. Sedangkan untuk gerakan ekstensi dilakukan pada saat pasien tengkurap, dan diperoleh informasi yaitu pasien mengalami keterbatasan karena timbul nyeri pada punggung bawah. 3) Gerak isometrik melawan tahanan Gerak isometrik melawan tahanan merupakan gerak aktif, namun mendapatkan tahanan dari terapis, dan dari gerakan ini tidak menimbulkan gerakan atau perubahan lingkup gerak sendi. Diperoleh data bahwa, pada gerakan flexi trunk dapat dilakukan tanpa timbulnya nyeri, dan pada gerakan ekstensi trunk timbul nyeri.

47 e. Kognitif, intrapersonal, dan interpersonal Pemeriksaan kognitif merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan pasien dalam menjelaskan tentang kronologi kejadian, tempat serta waktu. Dari hasil pemeriksaaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pasien dapat menjelaskan secara baik. Pemeriksaan intrapersonal merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui kondisi pasien dalam memahami dirinya. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pasien mempunyai motivasi yang tinggi untuk kembali pulih seperti semula dan kembali beraktivitas. Pemerriksaan interpersonal merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan komunikasi pasien dengan orang lain. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pasien mampu berkomunikasi secara baik dengan orang yang ada disekitar. f. Kemampuan fungsional dan lingkungan aktivitas Kemampuan fungsional merupakan kemampuan pasien dalam melakukan kegiatan sehari harinya. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa kegiatan sehari hari pasien tidak terganggu, hanya saja saat berjalan pasien sering merasakan nyeri paada punggung bawah, begitu pula saat duduk. Lingkungan aktivitas merupakan lingkungan dimana pasien melaksanankan kegiatanya. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh

48 hasil bahwa apabila pasien sedang merasakan nyeri pada punggung bawahnya, pekerjaan rumah tangga tidak pasien kerjakan melainkan dikerjakan oleh anaknya. Untuk kegiatan sosial, pasien merasa terganggu, seperti pergi pengajian rutin di masjid. 3. Pemeriksaan Spesifik Pemeriksaan spesifik yang dilakukan untuk memeriksa hal-hal yang diperlukan untuk menegakkan diagnosa ataupun dasar penyusunan problematik, tujuan dan tindakan fisioterapi, antara lain sebagai berikut : 1) Pemeriksaan Derajat Nyeri Pemeriksaan nyeri dilakukan dengan menggunakan alat ukur Verbal Discriptive Scale (VDS). Cara pengukuran derajat nyeri dengan menggunakan VDS terdapat tujuh nilai yaitu : nilai 1 tidak nyeri, nilai 2 nyeri sangat ringan, nilai 3 nyeri ringan, nilai 4 nyeri tidak begitu berat, nilai 5 nyeri cukup berat, nilai 6 nyeri berat, nilai 7 nyeri tak tertahankan. Dalam pemeriksaan nyeri yang dilakukan pada regio lumbal, diperoleh hasil sebagai berikut: Nyeri diam = 1 (tidak nyeri) Nyeri tekan (m. erector spinae) = 3 (nyeri ringan) Nyeri gerak (ekstensi) = 4 (nyeri tidak begitu berat) 2) Kekuatan Otot Pengukuran kekuatan otot dilakukan dengan cara menggunakam Manual Muscle Testing (MMT).

49 Manual Muscle Testing (MMT) merupakan salah satu bentuk pemeriksaan kekuatan otot yang paling sering digunakan. Hal tersebut karena penatalaksanaan, intepretasi hasil serta validitas dan reliabilitasnya telah teruji. Namun demikian tetap saja, manual muscle testing tidak mampu untuk mengukur otot secara individual melainkan group / kelompok otot. (Bambang, 2012).

50 Tabel 3.1 Kriteria nilai kekuatan otot Nilai otot Fleksor trunk Ekstensor trunk Nilai 1 Mengangkat kepala Mampu mengkontraksikan ototnya tanpa disertai gerakan Nilai 2 mengangkat kepala dengan kedua tangan lurus di samping badan, bagian atas scapula terangkat Mengangkat kepala dengan kedua tangan lurus di samping badan Nilai 3 Mengangkat kepala dengan kedua tangan lurus di samping badan, scapula terangkat penuh Nilai 4 Mengangkat kepala dengan kedua tangan menyilang dada, scapula terangkat penuh Nilai 5 Mengangkat kepala dengan kedua tangan di belakang leher, scapula terangkat penuh Mengangkat kepala dan sternum, ekstensi lumbal dengan kedua tangan lurus di samping badan Mengangkat kepala, dada dan costa serta ekstensi lumbal dengan kedua tangan di samping badan Mengangkat kepala, dada dan costa serta ekstensi lumbal dengan kedua tangan di belakang leher

51 Dari pemeriksaan ini diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 3.2 Hasil Pemeriksaan kekuatan otot Kekuatan Otot Nilai Flexor trunk 4 Extensor trunk 3 3) Lingkup Gerak Sendi Lingkup gerak sendi (LGS) adalah luas lingkup gerakan sendi yang mampu dicapai / dilakukan oleh sendi. Pengukuran lingkup gerak sendi yang sering digunakan adalah goniometri, tapi untuk sendi tertentu menggunakan pita ukur (misalnnya pada vertebra). (Bambang, 2012). Pengukuran LGS untuk trunk dapat dilakukan dengann menggunakan pita ukur. Yang diukur yaitu gerakan flexi, ekstensi, lateral flexi dextra dan lateral flexi sinistra. a) Flexi dan ekstensi Pada pengukuran lingkup gerak sendi pada flexi dan ekstensi trunk menggunakan pita ukur, dilakukan dengan posisi berdiri. Dan terapis mengukur jarak antara VC 7 VS 1. Untuk pengukuran gerakan flexi, pasien diminta untuk membungkukkan badan sampai seoptimal mungkin, sedangkan untuk pengukuran gerakan ekstensi pasien diminta untuk menengadah kebelakang sebisa mungkin dan diukur selisih antara VC 7 VS 1.

52 b) Lateral flexi Pada gerakan lateral flexi, posisi pasien masih sama dengan pengukuran flexi dan ekstensi yaitu pada posisi berdiri. Pengukuran dilakukan dengan cara meletakkan pita ukur pada jari tengah pasien hingga lantai, kemudian pasien diminta untuk melakukan gerakan lateral flexi dextra dan lateral flexi sinistra. Setelah melakukan gerakan tersebut diukur selisih antara pengukuran sebelum melakukan gerakan dan sesudah melakukan gerakan. Tabel 3.3 Hasil pemeriksaan Lingkup Gerak Sendi Gerakan Patokan Posisi awal Posisi akhir LGS Flexi VC 7 VS 1 52 cm 60 cm 8 cm Ekstensi VC 7 VS 1 55 cm 52 cm 3 cm Lateral dextra Lateral sinistra flexi flexi Ujung jari 3 lantai 51 cm 55 cm 4cm Ujung jari 3 lantai 54 cm 60 cm 6 cm 4) Pemeriksaan khusus a) SLR (Straight Leg Rissing) Posisi pasien tidur terlentang dengan hip fleksi dan knee ekstensi. Secara perlahan kita gerakkan pasif fleksi hip kurang dari

53 30 derajat. Positif bila pasien merasakan nyeri yang menjalar dari punggung bawah sampai tungkai bawah dan ankle. Dari pemeriksaan yang dilakukan pada kedua tungkai diperoleh hasil negatif. b) Tes Bragard Posisi pasien tidur terlentang, kemudian terapis menggerakkan fleksi hip secara pasif dengan knee lurus disertai dorsi fleksi ankle dengan sudut 30 derajat. Positif bila pasien merasakan nyeri pada posterior gluteal yang menjalar ke tungkai. Dari pemeriksaan yang dilakukan pada kedua tungkai diperoleh hasil negatif. c) Tes Neri Gerakan sama dengan tes SLR hanya ditambah gerakan fleksi kepala secara aktif dan biasanya dilakukan pada 40-60 derajat. Positif bila dirasakan nyeri sepanjang distribusi n. Ischiadicus. Dari pemeriksaan yang dilakukan pada kedua tungkai diperoleh hasil negatif. d) Forward Bending Test Forward bending test dilakukan untuk mengetahui perbedaan tinggi scapula, hal ini dilakukan dengan cara melakukan flexi lumbal. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh hasil yaitu scapula dextra lebih tinggi dari pada scapula sinistra. e) Cobb method

54 Cobb methode dilakukan untuk mengetahui sudut dari kemiringan scoliosis. Hal ini dilakukan dengan cara mengukur sudut kemiringan vertebra pada foto rontgen pasien. Dari pemeriksaan tersebut diperoleh hasil sudut kemiringan scoliosis sebesar 15 o, yang artinya termasuk scoliosis derajat ringan, dengan ciri timbul keluhan nyeri pada pinggang, rheumatic, Hernia Discus Intervertebralis atau gangguan muskuloskeletal (bahu sudah mulai tampak asimetris, namun belum begitu terlihat). f) Panjang Tungkai Pemeriksaan panjang tungkai yang dilakukan yaitu menggunakan metode apperence length, dimana metode ini diukur dari umbilicus ke malleolus lateralis melalui patella. Dan diperoleh hasil : Sisi dextra Sisi sinistra = 84,2 cm = 85,5 cm Sehingga diperoleh selisih panjang tungkai dextra dan sinistra yaitu 1,3 cm. g) Pemeriksaan fungsional (oswestry Low Back Pain Dissability Questionnaire)

55 Tabel 3.4 Hasil Pemeriksaan Aktivitas Fungsional No Komponen Penilaian Nilai 1 Intensitas nyeri 3 2 Perawatan diri (mandi, berpakaian) 1 3 Aktifitas Mengangkat 2 4 Berjalan 3 5 Duduk 3 6 Berdiri 4 7 Tidur 1 8 Aktifitas Seksual (bila memungkinkan) Privasi 9 Kehidupan Sosial 3 10 Bepergian / Melakukan Perjalanan 4 Jumlah 24 Nilai keterbatasan 53,3 % Dari pemeriksaan Aktivitas fungsional yang dilakukan diperoleh nilai keterbatasan sebesar 53,3% yang merupakan termasuk dalam kategori keterbatasan sedang. B. Problematika Fisioterapi 1. Impairment Adanya nyeri tekan pada m. errector spinae, nyeri gerak pada saat ekstensi lumbal, keterbatasan lingkup gerak sendi, dan penurunan kekuatan otot ekstensor trunk.

56 2. Functional limitation Pasien kesulitan saat dari posisi duduk ke berdiri dan berjalan. 3. Disability Pasien belum dapat berjalan dalam rentang waktu yang lama dan bangkit dari duduk ke berdiri, sehingga kegiatan sosial pasien terganggu (seperti pergi pengajian rutin di masjid). C. Tujuan Fisioterapi Berdasarkan diagnosa dan problematik fisioterapi maka dapat ditentukan tujuan dari terapi yang akan dilaksanakan serta harus berorientasi kepada problematik yang dialami pasien. Tujuan fisioterapi dikelompokkan menjadi 2 yaitu: 1. Tujuan Jangka pendek a. Mengurangi nyeri tekan pada m. erector spine dan nyeri gerak saat gerak ekstensi lumbal. b. Meningkatkan lingkupkup gerak sendi. c. Meningkatkan kekuatan otot ekstensor trunk. 2. Tujuan Jangka panjang Adapun tujuan jangka panjang yang merupakan tujuan akhir adalah meningkatkan aktivitas fungsional seperti semula atau semaksimal mungkin, yakni melanjutkan melanjutkan tujuan jangka pendek. D. Pelaksanaan Fisioterapi 1. Micro Wave Diathermy (MWD) a. Persiapan alat

57 Pastikan semua alat dalam keadaan baik (saklar, kabel dan elektroda). Semua saklar dalam keadaaan nol, kabel tidak boleh menyilang satu sama lain yang anati nya akan menimbulkan EEM (Energi Elektromagnetik). b. Persiapan pasien Pastikan pasien bukan kontra indikasi dari terapi ini. Test sensibilitas pasien menggunakan air hangat dan air dingin. Kemudian bebaskan area yang akan di terapi dari kain, sebagai gantinya alasi area yang akan diterapi mengggunakan handuk. Tidak lupa jelaskan kepada pasien tentang manfat pemberian dan efek yang ditimbulkan dari pemberian terapi MWD ini, yaitu timbulnya rasa hangat. Posisi pasien pun harus senyaman mungkin dan jika dapat pasien diposisikan tengkurap. c. Pelaksanaan terapi Pasang elektroda pada punggung bawah, beri jarak dengan permukaan kulit 2 3 cm. Tekan tombol power ke posisi on. Atur waktu yang akan digunakan untuk terapi, yaitu selama 10 menit. Arus yang digunakan yaitu arus continue, intensitas yang digunakan adalah 70 ma. Dalam proses terapi, monitoring terus tentang keadaan pasien, baik sebelum, selama, dan sesudah terapi. Setelah waktu terapi selesai, intensitas dikembalikan kedalam posisi nol dan tekan tombol off serta rapikan alat. 2. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS)

58 a. persiapan alat Pastikan semua alat dalam keadaan baik (saklar, kabel dan elektroda). Semua saklar dalam keadaaan nol. b. Persiapan passien Pastikan pasien bukan kontra indikasi dari terapi ini. Test sensibilitas pasien menggunakan benda tajam dan tumpul. Kemudian bebaskan area yang akan di terapi dari kain. Tidak lupa jelaskan kepada pasien tentang manfaat pemberian dan efek yang ditimbulkan dari pemberian terapi TENS ini, yaitu timbulnya rasa seperti tertusuk tusuk ringan. Posisi pasien pun harus senyaman mungkin dan jika dapat pasien diposisikan tengkurap. c. Pelaksanaan terapi Pasang elektroda pada punggung bawah. Tekan tombol power ke posisi on. Atur waktu yang akan digunakan untuk terapi, yaitu selama 10 menit. Intensitas yang digunakan sesuai dengan batas rasa pasien. Dalam proses terapi, monitoring terus tentang keadaan pasien, baik sebelum, selama, dan sesudah terapi. Setelah waktu terapi selesai, intensitas dikembalikan kedalam posisi nol dan tekan tombol off serta rapikan alat. 3. Terapi Latihan a. Persiapan alat Dalam hal ini matras atau alas yang digunakan untuk latiahn adalah bahan yang sedikit keras namun nyaman untuk pasien. b. Persiapan pasien

59 Untuk memulai terapi priksa terlebih dahulu vital sign pasien, tanyakan pada pasien apakah ada keluhan pusing, mual dan lainnya. Sarankan kepada pasien untuk tidak memakai pakaian ketat atau yang membatasi gerakan sehingga mengganggu latihan. c. Pelaksanaan terapi 1) William flexi (1) Gerakan William fleksi : Posisi awal : pasien tidur terlentang di atas matras dengan kedua tungkai ditekuk dan kedua telapak kaki rata dengan permukaan matras. Gerakan : pasien diminta untuk menekankan pinggangnya ke arah matrs, sehingga permukaan punggung menjadi rata, dengan cara mengkontraksikan otot perut. Setiap kontraksi ditahan 5 hitungan atau 5 detik, kemudian rileks dan diulang 5-8 kali. Gambar 3.1 Gerakan William Flexion 1 (2) Gerakan William Fleksi 2 Posisi awal : sama seperti nomer 1.

60 Gerakan : pasien diminta untuk mengkontraksikan otot perut dan menekuk kepala sehingga dagu menyentuh dada. Tahan 5 hitungan, kemudian rileks dan diulang 5-8 kali. Gambar 3.2 Gerakan William Flexion 2 (3) Gerakan William Fleksi 3 Posisi awal : sama seperti no 1. Gerakan : pasien diminta untuk menekuk salah satu lututnya ke arah dada, dengann kedua tangan memegang paha belakang, pada saat bersamaan pasien diminta untuk menekuk kepala sehingga bahu atas terangkat, tahan 5 hitungan, kemudian rileks, ulangi 5-8 kali. Kemudian pasien diminta untuk mengulang gerakan yang sama pada tungkai yang lainnya. Gambar 3.3 Gerakan William Flexion 3 (4) Gerakan William Fleksi 4 Posisi awal : sama seperti no 1.

61 Gerakan : Gerakan sama dengan no 3 namun pasien diminta untuk menekuk kedua lututnya bersamaan, tahan 5 hitungan, kemudian rileks dan ulangi 5-8 kali. Gambar 3.4 Gerakan William Flexion 4 (5) Gerakan William Fleksi 5 Posisi pasien berdiri tegak dan punggung menempel dinding, dengan satu tungkai juga menempel, sedang tungkai yang lain lebih ke depan. Pasien diminta untuk menekankan punggungnya ke dinding, sehingga kurva vertebra lurus, tahan selama 5 detik, ulangi 10 kali. Gambar 3.5 Gerakan William Flexion 5 2) Flexibilitas punggung Posisi pasien : pasien berdiri tegak.

62 Pelaksanaan : Pasein melaksanakan gerakan ekstensi lumbal secara aktif, dilakukan sebanyak 8x hitungan dengan 5x repitisi. 3) Stretching thorak Posisi passien : pasien berdiri tegak, salah satu tangan diletakkan pada pinggang. Pelaksanaan : Pasien melakukan gerakan mengangkat tangan kanan dan kiri bergantian secara aktif, setiap gerakan ditahan lima detik, kemudian dilakukan kembali secara bergantian. 4) Lower back stretching Posisi pasien : merangkak Pelaksanaan : Pasien menggerakkan punggung flexi dan ekstensi dilakukan sebanyak 10 kali hitungan, 5 kali repetisi, dengan istirahat 5 detik setiap repetisi. 4. Massage Posisi pasien Persiapan alat : tengkurap di atas bed. : media massage (baby oil), kain penutup. Pelaksanaan : 1. Pasien tengkurap di atas bed. 2. Area yang akan di terapi (massage) terbebas dari kain.

63 3. Oleskan media massage (baby oil) pada area yang akan di massage, dengan menggunakan teknik stroking. 4. Setelah media massage dioleskan secara merata, berikan eflurage, petrissage, dan juga friction. 5. Massage dilakukan selama 15 menit. 6. Tanyakan keadaan pasien sebelum, selama, dan sesudah terapi. 7. Setelah terapi selesai rapikan alat. 5. Edukasi Edukasi yang diberikan untuk pasien LBP karena spondylosis dan scoliosis yaitu melaksanakn secara aktif latihan yang seperti di contohkan oleh terapis, yaitu program Terapi Latihan seperti William Flexi, flexibilitas punggung, stretching thorak, dan juga lower back stretching. Latihan ini akan membantu pasien untuk memperbaiki postur tubuhnya. Selain itu untuk memperbaiki postur tuubuh pasien, cara bangun dari tidur dan bangkit dari duduk juga perlu diperhatikan, semua posisi tubuh diusahakan tetap tegak. Selain aktif melaksanakan latihan, pasien dianjurkan untuk mengurangi kegiatan yang dapat memperberat nyeri dan scoliosis yang di derita pasien, seperti mengangkat benda berat. Terapi Latihan dapat dilakukan dengan 8 kali hitungan dan 8 kali pengulangan. E. Evaluasi Evaluasi penatalaksanaan fisioterapi pada Low Back Pain akibat Spondilosis dan Scoliosis bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan

64 terapi selama enam kali, dengan modalitas yang diberikan yaitu MWD, TENS, massage dan Terapi Latihan. Dan pengukuran yang dipergunakan yaitu: 1. Pemeriksaan nyeri menggunakan Skala Verbal Descriptive Scale (VDS). 2. Lingkup gerak sendi menggunalan pita ukur (Scoober). 3. Kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). 4. Aktivitas fungsional menggunakan Skala Oswestry.