BAB I PENDAHULUAN. Modal perusahaan berasal dari dua sumber, yakni utang dan ekuitas. Ekuitas

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN, REKOMENDASI, DAN IMPLIKASI. untuk melihat pengaruh antara rasio pengungkit, ukuran perusahaan, cakupan,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia (BEI) merupakan satu-satunya pasar modal yang ada di Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN UKDW. membutuhkan dana dengan pihak yang kelebihan dana. Pasar modal dapat

BAB II KERANGKA TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. penelitian-penelitian terdahulu mengenai prediksi kebangkrutan perusahaan.

BAB I PENDAHULUAN. beberapa alternatif yang dapat dipilih oleh investor, salah satu alternatif yang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Para investor menanam modal dengan tujuan untuk memperoleh manfaat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Era globalisasi telah menghapuskan batasan bagi perusahaan dalam melaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. perumahan (subprime mortgage default) di Amerika serikat. Krisis ekonomi AS

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan tempat bertemunya pihak yang mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. Investasi pada dasarnya adalah uang yang dipakai untuk menghasilkan

I. PENDAHULUAN. penting. Pasar modal merupakan tempat bertemunya pihak yang memiliki. kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana dengan cara

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan pasar dari berbagai instrumen keuangan (sekuritas)

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat luas melalui pasar modal. dua kelompok yakni aset finansial yang marketable dan yang non

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pengertian pasar modal yang lebih spesifik, yaitu Kegiatan yang

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan harus menerbitkan nilai sekuritas sebagai salah satu faktor

I. PENDAHULUAN. Dalam melaksanakan fungsinya, pasar modal menjadi penghubung bagi pihak yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan agar dapat menguasai pasar, maka harus mampu bersaing dan dapat

Dasar-Dasar Obligasi. Pendidikan Investasi Dua Bulanan. Cara Kerja Obligasi

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan bebas di Asia (ASEAN Free Trade Area) untuk negara-negara

BAB I PENDAHULUAN. negara melalui kekuatan swasta dan mengurangi beban negara (Samsul, 2006:43).

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. lapangan usaha perbankan dan lembaga jasa keuangan lainnya. Menurut Mankiw

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah (Suad Husnan, 1994) dalam Adrian (2011). Menurut jawa pos

BAB I PENDAHULUAN. lain, kemudian mengelola dana tersebut dan menyalurkannya kepada masyarakat atau

BAB I PENDAHULUAN. 2003). Instrumen pasar modal yang utama yaitu saham dan obligasi.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan pertumbuhan perekonomian. Dalam melaksanakan fungsi. ekonomi, pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana

BAB I PENDAHULUAN. PT. Bakrie and Brothers Tbk adalah perusahaan investasi strategis internasional

BAB I PENDAHULUAN. likuid dan efisien. Pasar modal dikatakan likuid jika penjual dapat menjual dan

BAB I PENDAHULUAN. yang relatif aman, tetapi tidak tertutup kemungkinan investor mengalami kerugian

BAB I. Pendahuluan. kredit tersebut. Karena Bank Sentral Amerika yang sering di sebut The Fed,

BAB I PENDAHULUAN. atau menerbitkan surat utang (obligasi). Obligasi (bond) dapat didefinisikan

BAB I PENDAHULUAN. modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual-beli dan kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. saat jatuh tempo dengan bunga yang tetap jika ada. Investasi obligasi

BAB I PENDAHULUAN. kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana ( issuer). Pasar modal

BAB I. Salah satu bentuk pendanaan yang dapat dilakukan oleh suatu perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. Obligasi adalah salah satu sumber pendanaan (financing) bagi

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan investor yang berorientasi pertumbuhan. nilai nominal (nilan pari/par value) dan jangka waktu jatuh tempo tertentu.

BAB I PENDAHULUAN. Bab pendahuluan ini berisi tentang penjelasan latar belakang dilakukannya

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities,

BAB I PENDAHULUAN. nilai perusahaan dengan menetapkan keputusan struktur modalnya.

BAB I PENDAHULUAN. panjang dalam memperoleh benefitnya. Investasi di Indonesia dapat dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh dana dari pemilik modal (investor), juga merupakan sarana bagi

BAB I PENDAHULUAN. modal sebagai salah satu alternatif investasi untuk memperoleh keuangan.

BAB I PENDAHULUAN. baik peringkat obligasi yang diperdagangkan maka return yang diberikan

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang dihadapkan pada berbagai pilihan dalam menentukan sumber daya yang

BAB I PENDAHULUAN. dibicarakan dalam dunia keuangan perusahaan (corporate finance). Platt dan Platt

BAB I PENDAHULUAN. yang memerlukan dana (issuer). Dengan adanya pasar modal maka pihak

BAB I PENDAHULUAN. bahwa investor pemegang obligasi memberikan pinjaman utang bagi emiten

BAB I PENDAHULUAN. Pertengahan tahun 2008 berita tentang Resesi Global marak terdengar. "Resesi"

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pasar modal adalah pasar dari berbagai instrumen keuangan jangka

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan menerbitkan obligasi dengan tujuan untuk menghindari risiko yang

A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Peringkat obligasi juga berfungsi membantu kebijakan publik untuk

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia investasi di Indonesia saat ini berkembang dengan

BAB I PENDAHULUAN. pada barang modal untuk menciptakan dan memperbanyak alat-alat produksi dan

BAB I PENDAHULUAN. Pendirian perusahaan pada umumnya bertujuan untuk mendapatkan profit,

PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN

@UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Bank Umum atau yang disebut juga sebagai Bank Konvensional merupakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dewasa kini banyak peringkat obligasi yang dikeluarkan oleh agen pemeringkat

BAB I PENDAHULUAN. modal menjadi pilar perekonomian negara-negara maju dan menjadi cermin. menentukan maju atau melemahnya ekonomi suatu negara.

BAB I PENDAHULUAN. kepemilikan (saham) dan investasi dalam surat utang (obligasi). Bursa Efek

BAB I PENDAHULUAN. penambahan modal agar perusahaan yang dijalankan terus berlanjut. Aktivitas

BAB 1 PENDAHULUAN. bisa bersifat tarif tetap (fixed rate), tarif mengambang (floating rate) maupun

PASAR MODAL. Tujuan Pembelajaran. Perbedaan Pasar Modal dan Pasar Uang. Perihal Pasar Modal Pasar Uang Tingkat bunga Relatif rendah Relatif tinggi

BAB I PENDAHULUAN. membayar pokok obligasi yang biasa disebut nilai par. instrumen keuangan adalah memperoleh return (imbal hasil).

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Modal memegang peranan penting dalam perusahaan untuk pembiayaan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian Pasar Modal. diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar

BAB I PENDAHULUAN. keuangan jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik dalam bentuk utang

BAB 1 PENDAHULUAN. meningkatkan pertumbuhan perekonomian. Dalam melaksanakan fungsi ekonomi,

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat hutang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dengan pihak yang membutuhkan dana dengan memperjualbelikan sekuritas.

BAB I PENDAHULUAN. dapat dilihat pada sektor pasar modal syariah. Semakin banyaknya nilai

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. instrumen keuangan yang diminati. Minat yang cukup tinggi dari para investor

BAB I PENDAHULUAN. sebagai suatu instrumen hutang yang ditawarkan penerbit (issuer) atau yang

BAB 1 PENDAHULUAN. ekuity (saham), reksa dana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. terkuat di dunia, dan memberikan kontribusi sekitar 20-30% dari perputaran

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya

I. PENDAHULUAN. Nilai Emisi (Rp Juta ) Perubahan (%) Jumlah Emiten

BAB I PENDAHULUAN. menyediakan jasa keuangan bagi nasabah-nasabahnya, dimana pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. ekspektasi memperoleh keuntungan di masa depan (Bodie et al, 2014). Investor

BAB I PENDAHULUAN. keputusan investasi perusahaan, dimana pada setiap sumber pendanaan ada biaya

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dalam perusahaan. Oleh karena itu, keputusan pendanaan menjadi pertimbangan

BAB I PENDAHULUAN. terkait penghitungan pajak. Kreditur, misalnya supplier dan pihak bank

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang mendelegasikan pekerjaan dan agent sebagai pihak yang

BAB I PENDAHULUAN. mana hal ini menimbulkan persaingan yang sangat ketat antar perusahaanperusahaan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan ekonomi dunia yang semakin mengarah pada daerah Asia

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Modal perusahaan berasal dari dua sumber, yakni utang dan ekuitas. Ekuitas didasarkan pada saham/kepemilikan. Utang perusahaan bukan hanya berasalkan dari utang pada lembaga keuangan (bank komersial), namun juga berasal dari obligasi (surat utang) yang dijual ke pasaran. Pasar yang dimaksudkan adalah pasar modal. Pasar modal merupakan sumber modal perusahaan dalam menjalankan aktivitas operasionalnya selain dari lembaga keuangan/perbankan. Selama ini, sebagian besar penelitian dilakukan sebatas terhadap penilaian saham. Perbedaan mencolok antara utang dan ekuitas, jika dilihat dari segi risiko, ekuitas memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan utang. Investor yang berinvestasi pada ekuitas (pemegang saham) merupakan pemilik perusahaan, sehingga jika sewaktu-waktu perusahaan mengalami masalah (kebangkrutan), maka pemegang saham menjadi pihak yang paling tidak didahulukan kepentingannya. Sedangkan untuk pemilik obligasi selaku kreditur, perusahaan memiliki kewajiban untuk melunasi utangnya. Kemudian, jika dilihat dari segi pengembalian yang diterima, pengembalian yang diterima oleh pemilik obligasi bersifat tetap dan pasti, sedangkan pengembalian yang diterima oleh pemegang saham tergantung pada keuntungan yang diterima perusahaan tiap periode. Selain itu, jika dilihat dari sisi penerbit (perusahaan emiten/obligor) mengenai biaya modal yang harus dikeluarkan, obligasi memiliki biaya modal yang lebih murah 1

2 dibandingkan dengan saham. Menurut Ross, Westerfield, Jaffe, dan Jordan (2008) dari sisi keuangan, terdapat tiga perbedaan antara utang dan ekuitas, yaitu: 1. Kreditur (pihak yang memberikan utang) bukan pemilik perusahaan. Mereka tidak memiliki hak suara. 2. Pembayaran bunga dari utang perusahaan tercatat sebagai biaya operasional dan sepenuhnya dapat mengurangi pajak. Biaya bunga dibayarkan kepada kreditur sebelum perhitungan pajak. Dividen saham istimewa dan saham biasa dibagikan setelah perhitungan pajak. Karena bunga dapat mengurangi pajak, dapat diartikan bahwa pemerintah memberikan subsidi pajak langsung bagi perusahaan yang menggunakan utang sebagai modal dibandingkan dengan ekuitas. 3. Utang yang tidak terbayar merupakan kewajiban perusahaan. Jika sampai tidak terbayar, maka kreditur dapat menuntut secara legal atas aset perusahaan. Kejadian ini dapat mengakibatkan perusahaan dilikuidasi dan bangkrut. Hal itu adalah salah satu akibat dari adanya utang, yakni kemungkinan atas gagalnya pemenuhan kewajiban, yang mana tidak akan terjadi pada ekuitas. Fakta-fakta tersebut mengakibatkan investasi pada obligasi dapat lebih diminati dibandingkan berinvestasi pada saham (ekuitas). Kecenderungan ini dapat terjadi pada kedua belah pihak, baik pihak investor maupun pihak perusahaan. Menurut data yang diperoleh oleh Investment Company Institute (2011), diketahui bahwa hampir 60% dari total $1.2 triliun arus bersih untuk dana jangka

3 panjang tahun lalu berasal dari investasi obligasi. Kemudian menurut wawancara yang dilakukan Reuters.com (2011), investor muda saat ini cenderung menghindari risiko. Sebagian besar penghasilan yang diterima, diinvestasikan dalam bentuk obligasi. Data-data tersebut menyatakan bahwa pasar saat ini cenderung menghindari risiko dan mulai beralih pada investasi yang relatif lebih aman. Tabel 1.1 Data Jumlah Emiten, Nilai Emisi, dan Perbandingan antara Obligasi dan Saham Tahun 2001 dan 2011 Jumlah Emiten (Unit) Nilai Emisi (Triliun Rupiah) Perbandingan Persentase (%) Obligasi Saham Obligasi Saham Obligasi Saham 2001 94 379 31,66 231.342 12,04% 87,96% 2011 199 546 260,863 554.978 31,97% 68,03% Sumber: Bapepam (2012). Jika menilik lingkup nasional Indonesia menurut data Bapepam (2012) seperti pada Tabel 1.1 dan Tabel 1.2, dapat dipaparkan sebagai berikut: Tahun 2001 jumlah emiten antara obligasi dan saham adalah 94 perusahaan dan 379 perusahaan. Sedangkan pada tahun 2011, jumlah emiten menjadi 199 perusahaan yang menerbitkan obligasi dan 546 perusahaan yang menerbitkan saham. Dapat disimpulkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, jumlah emiten obligasi meningkat sangat signifikan, yaitu sebanyak 111,7%, sementara itu peningkatan jumlah emiten saham hanya sebesar 44.06%.

4 Mengenai perbandingan total nilai emisi antara obligasi dan saham, disimpulkan bahwa nilai emisi obligasi meningkat sebanyak 8,24 kali lipat, sementara saham meningkat hanya sebesar 2,4 kali lipat. Sedangkan mengenai persentase perbandingan investasi, proposisi investasi pada obligasi dibandingkan dengan saham meningkat sebesar 19,93%. Tabel 1.2 Data Volume Perdagangan, dan Frekuensi Perdagangan Obligasi dan Saham Volume Perdagangan (Miliar Rupiah) Frekuensi Perdagangan (kali) Obligasi Saham Obligasi Saham 2001 1.115 97.522 403 3.621.576 2011 126.548 1.223.440 17.990 28.023.050 Sumber: Bapepam (2012). Pada jumlah volume perdagangan, nilai volume perdagangan dari obligasi mengalami peningkatan sebesar 113,48 kali lipat, sedangkan peningkatan volume perdagangan saham hanya sebesar 12,55 kali lipat. Sedangkan pada jumlah frekuensi perdagangan, frekuensi perdagangan obligasi mengalami peningkatan 44,64 kali lipat, sedangkan peningkatan dari frekuensi perdagangan saham hanya sebesar 7,74 kali lipat. Mengenai halnya dalam penilaian obligasi, obligasi melekat dengan peringkat obligasi. Berdasarkan peringkat obligasi, investor dapat menilai kelayakan kredit secara keseluruhan dari suatu perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Semakin baik peringkat obligasi yang dimiliki suatu perusahaan, artinya kesanggupan perusahaan tersebut dalam membayarkan kewajiban utangnya

5 semakin tinggi, maka semakin layak bagi investor untuk berinvestasi pada obligasi perusahaan tersebut. Perusahaan yang memiliki peringkat yang tinggi, akan lebih digemari oleh investor dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki peringkat yang lebih rendah. Oleh sebab itu, agar obligasi perusahaan yang berperingkat rendah dapat dijual di pasar, maka perusahaan harus memberikan premi yang lebih tinggi, yang diukur dari bunga obligasi. Premi ini merupakan kompensasi atas risiko yang ditanggung oleh investor. Fakta ini jelas berakibat pada biaya modal perusahaan, dimana peringkat yang tinggi akan meminimalkan biaya utang perusahaan, begitu juga sebaliknya (Pinches & Mingo, 1975). Peringkat obligasi diberikan oleh lembaga pemeringkat obligasi. Tiga lembaga pemeringkat terbaik dunia (Big Three) yang telah memberikan peringkat obligasi kepada banyak perusahaan di berbagai negara adalah Standard & Poor s (S&P) berbasis Amerika Serikat, Moody s berbasis Amerika Serikat, dan Fitch berbasis di Paris. Berdasarkan laporan U.S. Securities and Exchange Commission (badan independen pemerintah Amerika yang bertangung jawab untuk mengawasi pelaksanaan dari peraturan-peraturan di bidang perdagangan efek dan mengatur pasar perdagangan pada bursa efek) bulan September 2011 (Bloomberg.com, 2011), ketiga lembaga pemeringkat tersebut menguasai 97% dari seluruh peringkat kredit (obligasi) yang ada. S&P memimpin dengan 42% pangsa pasar, diikuti oleh Moody s 37%, dan Fitch (berbasis di Paris) 18%. Pada tahun 2000 pendapatan tahunan Moody s mencapai US$600 juta, dimana 90% berasal dari pemeringkatan obligasi, dengan total aset senilai US$300 juta. Moody s juga

6 berprofit tinggi, yakni dengan laba bersih tahunan mencapai US$158 juta (52.8% dari total aset) pada tahun 2000 (Galil, 2003). Lembaga pemeringkat menggunakan informasi publik yang sudah tersedia di pasar, seperti laporan keuangan, begitu juga informasi non-publik, seperti wawancara konfidensial dengan manajemen perusahaan, dalam tujuannya untuk memberikan peringkat yang sesuai kepada masing-masing obligasi korporasi (Blume, Lim & MacKinlay, 1998). Metodologi penilaian peringkat antara satu lembaga dengan lembaga lainnya berbeda-beda, tetapi pada intinya memiliki tujuan yang sama, yaitu memudahkan investor dalam menilai kelayakan suatu obligasi. Hasil dari pemeringkatan obligasi didasarkan atas beberapa hal seperti (Andry, 2005): Kemungkinan pelunasan pembayaran yaitu kemampuan obligor (perusahaan penerbit obligasi) untuk memenuhi kewajiban keuangannya sesuai dengan perjanjian. Struktur, karakteristik serta berbagai ketentuan yang diatur dalam obligasi. Perlindungan yang diberikan maupun posisi klaim dari pemegang obligasi tersebut bila terjadi pembubaran/likuidasi, serta hukum lainnya yang mempengaruhi hak kreditur. Hal yang disanksikan dan menjadi pertanyaan adalah apakah peringkat yang diberikan oleh lembaga pemeringkat tersebut dapat dipercaya oleh investor. Hal ini patut dipertanyakan karena lembaga pemeringkat tidak dapat dikatakan sebagai badan yang 100% independen dari perusahaan emiten. Hal ini disebabkan oleh:

7 1. Lembaga pemeringkat dibayar oleh perusahaan emiten, untuk menilai dan memberikan peringkat. 2. Perusahaan emiten dapat memilih dengan bebas lembaga pemeringkat yang diinginkan, hal ini dapat diartikan bahwa perusahaan akan memilih lembaga pemeringkat yang bersedia memberikan peringkat yang baik terhadap obligasi perusahaan. 3. Lembaga pemeringkat menilai berdasarkan informasi-informasi dari dalam perusahaan. Hal ini disanksikan karena manajemen perusahaan berkemungkinan tidak memberikan informasi yang sekiranya dapat menurunkan peringkat yang akan diterima perusahaan. Alasan lain yang memungkinkan terjadinya bias/kesalahan oleh lembaga pemeringkat dalam hal penilaian peringkat adalah karena baik Moody s maupun S&P tidak mampu melakukan monitor basis harian pada ribuan obligasi korporasi di pasar (Chan & Jegadeesh, 2004). Jadi, walaupun lembaga pemeringkat memberi klaim bahwa pihaknya terus mengumpulkan informasi mengenai obligor secara berkelanjutan, namun fakta lapangan menyatakan mereka cenderung bertemu obligor hanya sekali dalam setahun. Terdapat banyak kasus yang menegaskan bahwa lembaga pemeringkat mengalami masalah kekeliruan dalam memberikan peringkat obligasi perusahaan, contohnya sebagai berikut: 1. Menurut usatoday.com (2010): Tahun 2007 ditemukan masalah eror komputer pada lembaga pemeringkat Moody yang telah mengakibatkan kekeliruan pemberian

8 peringkat pada perusahaan Eropa. Risiko kredit perusahaan tersebut terlihat lebih kecil dibandingkan yang sebenarnya. Tiga besar lembaga pemeringkat Moody, Standard & Poor s dan Fitch disanksikan karena telah memberi peringkat yang baik pada perusahaanperusahaan mortgage yang berisiko tinggi, sekaligus merupakan pencetus krisis finansial di Amerika Serikat. 2. Menurut worldpropertychannel.com (2010), delapan bank besar dan tiga lembaga pemeringkat diperiksa oleh US congress, mengenai kasus misleading investor. Kedelapan bank besar tersebut, yakni: Goldman Sachs, Morgan Stanley, UBS, Citigroup, Credit Suisse, Deutsche Bank, Credit Agricole dan Merrill Lynch yang merupakan kepemilikan Bank of America. Ketiga lembaga pemeringkat tersebut, yakni: Moody, Standard & Poor, dan Fitch. Tuduhan yang dikenakan adalah bank sengaja memberikan informasi keuangan yang salah pada lembaga pemeringkat, ataupun lembaga pemeringkat dengan sengaja memberikan peringkat yang baik dan bukan sebenarnya kepada bank-bank tersebut. Menurut New York Times, US Congress sampai saat ini belum menemukan solusi yang pasti untuk mengatasi masalah ini. Pilihan solusi yang memungkinkan, yakni mentransfer/memindahkan tanggung jawab penilaian dan pemberian peringkat kepada badan pemerintah

9 (bukan swasta) ataupun dengan cara investor yg membayar utk perhitungan peringkat sekuritas perusahaan yg akan dibelinya 3. Menurut washingtonpost.com (2010), dengan judul Lembaga Pemeringkat Kredit (obligasi): Biang Kerok Sebenarnya dari Krisis Keuangan? Di congress A.S., lembaga pemeringkat tidak mengakui kesalahan dan tuduhan yang diajukan, serta mereka menyatakan bahwa peringkat yang mereka berikan memang berdasarkan pada data-data keuangan yang diberikan oleh bank. Lembaga pemeringkat dibayar oleh obligor, sehingga peringkat tersebut memiliki kemungkinan besar untuk bias. Hubungan simbiosis mutualisme yang tidak dapat dihindari antara lembaga pemeringkat dan perusahaan yang diberi peringkat. Kedua pihak saling berusaha untuk menyenangkan satu sama lain, dengan harapan hubungan kerja sama yang lama dan kepercayaan investor/pihak ketiga. Terdapat beberapa pengakuan buruk secara anonim dari karyawan lembaga pemeringkat sendiri mengenai sistem kerja perusahaan mereka. 4. Menurut guardian.co.uk (2012), lembaga pemeringkat gagal memberi sinyal/peringatan yang sebenar-benarnya. Pada kasus krisis tahun 2008 di Amerika Serikat, sampai dengan tahun tersebut, utang yang berbasis pembiayaan properti yang merupakan sumber penyebab krisis terjadi, masih mendapat peringkat AAA (sangat baik), dimana sangat bertolak belakang dengan fakta yang ada.

10 Hal yang sama terjadi pada Enron, Lehman Brothers, dan AIG. Beberapa hari sebelum bangkrut, perusahaan-perusahaan tersebut masih dinyatakan aman oleh Moody s, S&P, dan Fitch. Konflik kepentingan yang terjadi antara lembaga pemeringkat dan obligor. Lembaga pemeringkat dibayar oleh obligor, biaya berkisar antara US$1,500 sampai dengan US$2,500,000 tergantung dari ukuran perusahaan. Lembaga pemeringkat menegaskan bahwa mereka tidak melakukan kesepakatan terselubung dengan perusahaan yang membayar. Namun di sisi lain, fakta tahun 1998 menyatakan bahwa Moody s terlalu agresif terhadap perusahaan yang tidak membayar mereka. Sebuah perusahaan asuransi raksasa asal Jerman, yang bernama Hannover Re dan bukan merupakan klien dari Moody s, diberi peringkat bebas biaya oleh Moody s dengan harapan kerja sama di masa datang. Namun setelah beberapa waktu, Hannover mendaftar pada S&P dan lembaga pemeringkat lebih kecil lainnya. Pada tahun 2003 Moody s menurunkan peringkat Hannover menjadi obligasi sampah (tidak layak untuk diinvestasi). Kepercayaan investor akan penilaian Moody s membuat mereka panik dan menjual saham Hannover, yang mengakibatkan Hannover kehilangan US$175 juta dalam beberapa jam.

11 1.2 Permasalahan Penelitian Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan penelitian dapat disusun sebagai berikut: 1. Seberapa besarkah pengaruh laporan keuangan perusahaan dalam memprediksi peringkat obligasi perusahaan yang diberikan oleh lembaga pemeringkat? 2. Faktor-faktor apa sajakah yang paling mempengaruhi peringkat obligasi? 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian Dengan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui pengaruh laporan keuangan perusahaan dalam memprediksi peringkat obligasi perusahaan yang diberikan oleh lembaga pemeringkat. 2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang paling mempengaruhi peringkat obligasi. 1.3.2 Manfaat Penelitian Lembaga pemeringkat obligasi tidak pernah mempublikasikan secara utuh, baik metode maupun variabel input yang digunakan dalam proses pemeringkatan (Shin & Han, 2001; Altman & Rijken, 2006). Berdasarkan fakta tersebut, maka manfaat dari penelitian ini bagi investor, yakni:

12 1. Sebagai acuan/panduan lain dalam menilai kelayakan kredit atau kemampuan perusahaan dalam membayar utangnya. 2. Tidak semua perusahaan memiliki peringkat obligasi, terutama untuk perusahaan yang baru menjadi perusahaan publik, ataupun perusahaan nonpublik. Perhitungan peringkat ini dapat membantu investor dalam menghitung/menilai peringkat perusahaan, untuk mengetahui kualitas utang/obligasinya. Mengenai manfaatnya bagi perusahaan, yaitu: 1. Mahalnya biaya penilaian peringkat dan ketidakpastian akan hasil peringkat yang akan didapat, mengakibatkan masih banyaknya perusahaan yang belum memiliki peringkat obligasi. 2. Hasil dari metode perhitungan peringkat pada model penelitian ini dapat digunakan perusahaan sebagai untuk memperkirakan peringkat yang akan diterima dari lembaga pemeringkat. 3. Perusahaan dapat mengetahui faktor-faktor yang berperan dominan dalam mempengaruhi peringkat obligasi. Bagi kalangan akademisi, diharapkan dapat lebih mengerti mengenai metode penilaian peringkat obligasi/kredit dan rasio-rasio yang mempengaruhinya, serta sebagai bahan referensi untuk penelitian lebih lanjut dengan topik yang serupa. 1.4 Sistematika Pembahasan Guna mempermudah pembahasan selanjutnya, maka sistematika pembahasan adalah sebagai berikut:

13 BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang latar belakang penelitian, permasalahan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika pembahasan. BAB II KERANGKA TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Bab ini terdiri dari kajian empirik, kajian teoretis dan hipotesis. BAB III METODE PENELITIAN Bab ini membahas mengenai rancangan penelitian, obyek penelitian, definisi operasional variabel, teknik pengumpulan data, uji kualitas data dan metode analisis data. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bab ini hal yang diuraikan adalah mengenai deskripsi demografi responden, uji validitas dan reliabilitas instrumen pengukuran dan pembahasan hasil penelitian. BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN, REKOMENDASI, DAN IMPLIKASI Pembahasan dalam bab ini adalah mengenai kesimpulan dari hasil penelitian, keterbatasan penelitian, rekomendasi bagi penelitian selanjutnya, dan implikasi.