1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan akan pangan merupakan salah satu kebutuhan fisiologis manusia. Dengan demikian, ketersediaan pangan yang aman merupakan hak dasar manusia yang harus dipenuhi. Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa dewasa ini masalah keamanan pangan telah menjadi keprihatinan dunia karena ratusan juta manusia dilaporkan menderita berbagai penyakit akibat pangan yang tercemar. Kejadian tersebut tidak hanya terjadi di negara berkembang yang umumnya memiliki sanitasi dan higieni yang kurang, tetapi juga terjadi di negara maju. Bahkan di Eropa, keracunan pangan menjadi penyebab kematian kedua terbesar setelah infeksi saluran pernapasan (ISPA) (BPOM 2005). Hal tersebut di atas didukung oleh survei BPOM terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan pada tahun 2001-2008 yang dilakukan di 26 daerah di Indonesia. Dari hasil survei tersebut didapatkan bahwa angka KLB keracunan pangan pada tahun 2008 yang terlaporkan sebanyak 197 kasus dengan jumlah korban meninggal sebanyak 79 orang, angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 179 kasus dengan korban meninggal 54 orang (BPOM 2008). Menurut hasil pengawasan Badan POM terhadap produk pangan pada tahun 2005 ditemukan 935 produk pangan yang mengandung bahan berbahaya, dan sebanyak 627 produk ditindaklanjuti dengan penarikan dari peredaran dan pemusnahan. Data tersebut menunjukkan bahwa masalah keamanan pangan semakin mengkhawatirkan dan perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak. Dalam laporan Food Watch, angka KLB keracunan pangan tertinggi tahun 2004 terjadi pada anak usia sekolah, terutama murid sekolah dasar (SD) (BPOM 2005). Anak usia sekolah merupakan salah satu konsumen yang paling rentan karena pada usia ini anak sudah mulai menjadi konsumen aktif yaitu anak menangkap berbagai stimulus di sekitarnya untuk kemudian memproses atau mengolah informasi yang diterimanya hingga membentuk persepsi terhadap produk pangan. Pada usia ini anak sudah mampu memilih dan mengambil keputusan sendiri akan makanan apa yang ingin dikonsumsinya dan tidak lagi menjadi konsumen pasif yang bergantung sepenuhnya pada orang dewasa yang ada di sekitarnya.
2 Banyaknya stimulus yang diterima anak tanpa diimbangi pengetahuan terhadap produk pangan dapat membuat anak salah mengambil keputusan dalam melakukan pembelian maupun pemakaian. Target anak sebagai konsumen sangat strategis terutama berkaitan dengan konsumsi pangan jajanan. Salah satu usaha untuk mengurangi paparan anak sekolah dasar terhadap pangan jajanan yang tidak sehat dan tidak aman adalah dengan melakukan pemasaran sosial jajanan sehat kepada anak sekolah dasar dengan menerapkan metode persuasif baik dengan motivasi pesan positif maupun negatif melalui berbagai media, baik media elektronik maupun media cetak. Hasil penelitian Harris, Bargh, dan Brownell (2009) menyebutkan bahwa anak akan lebih banyak mengonsumsi jajanan setelah melihat iklan makanan. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Hawkins dan Allison (2009) yang menyatakan bahwa anak-anak mempelajari dan mengembangkan pengetahuan tentang kesehatan dari berbagai sumber, misalnya sekolah, keluarga, buku, label nutrisi, dan media. Penelitian ini juga menemukan bahwa televisi merupakan media utama yang berpengaruh terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku anak tentang kesehatan. Meskipun demikian, perkembangan teknologi media audio visual sekarang ini tidak menyurutkan kehadiran media cetak sebagai salah satu sumber informasi yang digemari masyarakat. Havelock (1971) diacu dalam Harahap (1994) menyatakan bahwa dalam melakukan kampanye sosial dengan menggunakan media cetak merupakan pilihan yang sangat tepat. Salah satu media cetak yang cocok untuk digunakan dalam pemasaran sosial adalah buklet. Menurut Ritonga (1993), sebagai media massa buklet mampu menyebarluaskan informasi dengan lebih cepat dan dengan jangkauan yang lebih luas. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yanti (2002) menjelaskan bahwa penggunaan buklet dengan ilustrasi foto lebih efektif dalam menyampaikan informasi tentang pendayagunaan melinjo di Desa Kasang Lopak Alai, Kecamatan Kumpah Ulu, Kabupaten Muaro Jambi. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa keunggulan yang dimiliki buklet, yaitu: buklet mengandung unsur teks, gambar, dan foto yang apabila disajikan dengan baik akan mampu menimbulkan daya tarik yang dapat meningkatkan minat baca seseorang sehingga memudahkan penerima pesan untuk memahami pesan yang disampaikan.
3 Selain itu, ukuran buklet yang kecil akan memudahkan seseorang untuk membawa maupun menyimpannya untuk dapat dibaca kapan saja bila diperlukan. Dengan demikian, buklet sebagai media cetak yang digunakan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi media alternatif untuk menyampaikan pesan dan mampu mengubah persepsi serta pengetahuan anak sekolah dasar tentang jajanan sehat. Perumusan Masalah Menurut Bronfenbrenner s Ecological Model of Child Development, sekolah merupakan lingkungan terdekat dengan anak setelah rumah (Vasta et al. 1999). Sekolah merupakan tempat yang paling strategis untuk meningkatkan penjualan produk pangan terutama pangan jajanan. Pangan jajanan memegang peranan yang cukup penting dalam mendukung terpenuhinya asupan gizi anak sekolah. Hasil survei yang dilakukan BPOM pada tahun 2008 pada 4500 SD di 79 kabupaten atau kota di 18 propinsi di Indonesia melaporkan bahwa pangan jajanan yang dikonsumsi anak sekolah menyumbang sebesar 31,1 persen energi dan 27,4 persen protein dari konsumsi pangan harian (BPOM 2009) Anak usia sekolah merupakan generasi penerus bangsa, untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas harus didukung dengan pemberian asupan gizi yang seimbang dan terjamin keamanannya. Namun kenyataannya menurut data KLB keracunan pangan tahun 2008 yang dikumpulkan oleh BPOM, menunjukkan bahwa 17,26 persen kasus keracunan terjadi di sekolah dan siswa sekolah dasar merupakan kelompok yang paling sering (79,41%) mengalami keracunan pangan. Data juga menyebutkan bahwa sebesar 15,74 persen kasus tersebut diakibatkan oleh konsumsi Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS). Peranan PJAS yang cukup besar dalam memenuhi kebutuhan gizi anak belum diimbangi dengan kualitas dan keamanan pangan jajanan yang baik. Hal tersebut terbukti dengan masih banyaknya PJAS yang tidak memenuhi standar pangan yang aman untuk dikonsumsi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPOM pada tahun 2006 terhadap enam jenis pangan jajanan didapatkan bahwa sebanyak 49,43 persen sampel PJAS tidak memenuhi persyaratan atau standar pangan jajanan sehat (BPOM 2007). Banyaknya kejadian keracunan di lingkungan sekolah juga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan anak sekolah dasar untuk memilih jajanan yang aman dan bergizi. Banyaknya paparan informasi yang diterima anak tanpa
4 diiringi pengetahuan tentang pangan yang aman dan bergizi untuk dikonsumsi dapat mempengaruhi persepsi anak terhadap jajanan sehat yang kemudian akan mempengaruhi pengambilan keputusan anak untuk melakukan pembelian jajanan. Pemasaran sosial yang dilakukan terhadap anak sekolah dasar tentang jajanan sehat merupakan salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi resiko keracunan pangan pada anak. Pemasaran sosial yang dilakukan akan lebih efektif dengan menggunakan pesan persuasif baik dengan pesan positif maupun negatif. Penyampaian pesan tersebut perlu didukung dengan media yang mampu menarik perhatian anak agar mampu meningkatkan pemahaman anak akan pesan yang disampaikan. Media yang digunakan dapat berupa media elektronik maupun cetak seperti leaflet, pamflet, brosur maupun buklet. Lazarsfeld dan Merton diacu dalam Kotler dan Roberto (1989) menyatakan bahwa kampanye sosial akan bekerja dengan sangat baik ketika komunikasi dengan menggunakan media massa dilengkapi dengan komunikasi tatap muka. Namun media massa juga memiliki kekuatan untuk mendorong maupun mempengaruhi target adopter untuk mengikuti pesan yang disampaikan meskipun tanpa disertai intervensi interpersonal tatap wajah. Hal tersebut dapat terjadi karena ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efektifitas media massa, diantaranya faktor audiens, faktor pesan, faktor media dan faktor mekanisme respon (Kotler & Roberto 1989). Dari uraian tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana persepsi dan tingkat pengetahuan contoh tentang jajanan sehat sebelum dan sesudah perlakuan motivasi pesan dan cara penyajian buklet jajanan sehat? 2. Bagaimana perbedaan persepsi dan pengetahuan contoh tentang jajanan sehat antar kelompok perlakuan sebelum dan sesudah perlakuan motivasi pesan dan cara penyajian buklet jajanan sehat? 3. Bagaimana pengaruh motivasi pesan dan cara penyajian buklet terhadap persepsi dan pengetahuan contoh tentang jajanan sehat antar kelompok perlakuan?
5 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi pesan dan cara penyajian buklet terhadap persepsi dan pengetahuan siswa SD tentang jajanan sehat Tujuan Khusus 1. Mengidentifikasi persepsi dan tingkat pengetahuan contoh tentang jajanan sehat sebelum dan sesudah perlakuan motivasi pesan dan cara penyajian buklet jajanan sehat. 2. Menganalisis perbedaan persepsi dan pengetahuan contoh tentang jajanan sehat antar kelompok perlakuan sebelum dan sesudah perlakuan motivasi pesan dan cara penyajian buklet jajanan sehat. 3. Menganalisis pengaruh motivasi pesan dan cara penyajian buklet terhadap persepsi dan pengetahuan contoh tentang jajanan sehat antar kelompok perlakuan. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak terkait. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan pemikiran dan keilmuan yang telah diterima di bangku kuliah terutama dalam bidang konsumen. Bagi institusi IPB, penelitian ini diharapkan dapat menyumbang referensi baru bagi civitas akademika khususnya di bidang perlindungan konsumen. Melalui penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi mengenai jajanan sehat bagi masyarakat luas, terutama anak sekolah dasar sebagai salah satu bentuk perlindungan konsumen. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemerintah sebagai pembuat kebijakan terutama di bidang perlindungan konsumen mengenai keamanan pangan.