Tren Korupsi Kesehatan

dokumen-dokumen yang mirip
Trend Pemberantasan Korupsi 2013

TREN PENANGANAN KASUS KORUPSI SEMESTER I 2017

Peta Potensi Korupsi Dana Kapitasi Program JKN

KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL Jl. Tirtayasa VII No. 20 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12160, Telp , , Fax.

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website:

KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL Tirtayasa VII No. 20 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12160, Telp , , Fax

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara,

Laksono Trisnantoro Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

PEMBIAYAAN KESEHATAN. Website:

WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK)

PEMETAAN DAN KAJIAN CEPAT

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

DATA INSPEKTORAT JENDERAL

INDONESIA Percentage below / above median

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Indikator Makro)

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *)

PEMANTAUAN CAPAIAN PROGRAM & KEGIATAN KEMENKES TA 2015 OLEH: BIRO PERENCANAAN & ANGGARAN JAKARTA, 7 DESEMBER 2015

FARMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL. Website:

LAPORAN MINGGUAN DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN PERIODE 18 MEI 2018

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung

RISET KESEHATAN DASAR 2010 BLOK

6. Tanggung jawab terhadap kebenaran alokasi yang tertuang dalam DIPA Induk sepenuhnya berada pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran.

PENYALURAN DAK FISIK DAN DANA DESA TA 2017

Perjuangan Belum Sampai Harapan

KEMENTERIAN KESEHATAN

Rencana Strategis Bidang Kesehatan Berkaitan dengan Program Lintas Sektor

Jakarta, 3 Desember 2009 Divisi Monitoring & Analisis Anggaran Indonesia Corruption Watch (ICW)

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

Outlook Dana Desa 2018 Potensi Penyalahgunaan Anggaran Desa di Tahun Politik

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA. No Nama UPT Lokasi Eselon Kedudukan Wilayah Kerja. Bandung II.b DITJEN BINA LATTAS

4.01. Jumlah Lembaga Pada PTAIN dan PTAIS Tahun Akademik 2011/2012

PENGELOLAAN PERBENDAHARAAN NEGARA DAN KESIAPAN PENYALURAN DAK FISIK DAN DANA DESA MELALUI KPPN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI ACEH

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DKI JAKARTA

PENYELENGGARAAN PROGRAM DI TINGKAT PROVINSI

PROGRAM PENUNTASAN REHABILITASI SEKOLAH RUSAK

Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan

SELAYANG PANDANG SIMLUH KP

SITUASI LANSIA DI INDONESIA TAHUN 2017 STRUKTUR UMUR PENDUDUK INDONESIA TAHUN ,11 GAMBAR III. PRESENTASE PENDUDUK LANSIA DI INDONESIA TAHUN 2017

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI GORONTALO

MENJAMIN AKSESIBILITAS OBAT DAN ALAT KESEHATAN DI DAERAH

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SUMATERA SELATAN

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro)

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014

KESEHATAN ANAK. Website:

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI JAWA TIMUR

KEBIJAKAN STRATEGIS PNPM MANDIRI KE DEPAN

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI DIY

PENGELOLAAN PNBP KORLANTAS POLRI T.A. 2017

PENGANTAR WORKSHOP PEMUTAKHIRAN, VALIDASI DAN EVALUASI DATA SIMLUHKP TAHAP I TAHUN BPPP Banyuwangi, 4 Februari 2015

DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN

Keragaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014

CEDERA. Website:

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN IV-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN I-2017

Kesehatan Gigi danmulut. Website:

PELAKSANAAN DAN USULAN PENYEMPURNAAN PROGRAM PRO-RAKYAT

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015

NAMA, LOKASI, ESELONISASI, KEDUDUKAN, DAN WILAYAH KERJA

STRATEGI AKSELARASI PROPINSI SULBAR DALAM MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI

EVIDENCE KAMPANYE GIZI SEIMBANG MEMASUKI 1000 HPK ( SDT- SKMI 2014)

KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT Disampaikan dalam rangka Rapat Koordinasi Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 2013

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULTENG

TANYA-JAWAB SEPUTAR KUR

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BALI

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2017

INDEKS TENDENSI BISNIS DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I-2013

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BANTEN

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN TERPADU PENANGGULANGAN KEMISKINAN

PUSAT DISTRIBUSI DAN CADANGAN PANGAN BADAN KETAHANAN PANGAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI DAN STABILITAS HARGA PANGAN TAHUN 2015

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DESKRIPTIF STATISTIK PONDOK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2016

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI BENGKULU

INDEK KOMPETENSI SEKOLAH SMA/MA (Daya Serap UN Murni 2014)

Buku Indikator Kesehatan

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI PAPUA BARAT

ANALISA POTENSI LAYANAN KESEHATAN INDONESIA

C UN MURNI Tahun

SOSIALISASI FORUM PRA MUSRENBANGNAS TAHUN 2015

KINERJA TATA KELOLA PROVINSI SULAWESI SELATAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

IPM 2013 Prov. Kep. Riau (Perbandingan Kab-Kota)

Transkripsi:

Tren Korupsi Kesehatan D i v i s i M o n i t o r i n g P e l a y a n a n P u b l i k INDONESIA CORRUPTION WATCH

Organisasi Presentasi I. Latar Belakang II. Tujuan III. Metodologi IV. Temuan V. Kesimpulan/Rekomendasi Contents 1 Contents 2

I. Latar Belakang Kesehatan merupakan sektor dasar yang menjamin hak kesehatan sehat warga Anggaran kesehatan (APBN dan APBD) selalu meningkat setiap tahun Pengelolaan anggaran kesehatan masih kurang efisien dan rawan korupsi Program kesehatan pemerintah menjadi tidak efektif. Derajat kesehatan rakyat Indonesia masih belum menunjukkan performa yang baik

Tujuan Secara umum laporan ini bertujuan untuk mendorong perbaikan sistem penganggaran dan pengelolaan anggaran kesehatan di semua jenjang pemerintah mulai dari pusat dan daerah. Secara khusus laporan bertujuan untuk : Memberikan gambaran titik rawan (pelaku, obyek korupsi, kerugian negara, modus, institusi dan lokasi) korupsi disektor kesehatan Mengungkap kinerja penegak hukum dalam menindak korupsi disektor kesehatan Menyediakan bahan untuk perbaikan sistem perencanaan dan pengelolaan anggaran kesehatan diseluruh jenjang pemerintahan pusat dan daerah.

Kerangka Pemikiran Definition and Approval of norms State capture Regulator : Executive/Legislative State capture Drug approval Drug quality control Equipment norms Other Suppliers (Construction, etc) Influencing Decision-makers Extortion by inspector Pressure to reduce costs inappropriately General procurement (facilities, ambulances) Payer (Social security, private or public health insurance) Provider (Public or Provider Private) Overprovision Underprovision Absenteeism Overbilling Theft (Public Provider or Private) (Public or Private) Bribes to overlook compliance with norms Influencing decision-makers Drugs & equipment Supplier Identity fraud Understating income Illegal charges Unnecessary treatments & prcirptions Sumber : Savedoff and Hussman. 2006. Patients

METODOLOGI Definisi : Kasus korupsi yang terjadi disektor kesehatan dan penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan dan KPK) telah masuk tahap serta telah memiliki tersangka Sumber Data : Kasus korupsi kesehatan yang telah diungkap pada publik baik melalui media cetak dan elektronik oleh penegak hukum

METODOLOGI Kelemahan : Belum semua praktek korupsi kesehatan berhasil dijerat penegak hukum Belum semua kasus korupsi kesehatan terutama yang sudah masuk tahap penyidikan diungkap pada publik oleh penegak hukum. Dengan kelemahan ini maka tren korupsi kesehatan terbatas mengungkap potret korupsi di sektor kesehatan.

Diagram Presentasi Temuan 1. Kapan Korupsi Ksehatan Ditindak? Tahun Terungkap Obyek Korupsi 4. Dana Kesehatan mana yang paling banyak dikorupsi? 2. Lembaga mana paling banyak melakukan korupsi kesehatan Institusi Lokasi 5. Dimana lokasi korupsi kesehatan banyak terjadi? 3. Bagaimana modus korupsi kesehatan? Modus

Periode Pemantauan Penindakan Sebelum 2009 Penindakan 2009-2013 Total Penindakan Kasus

Hasil Dan Temuan Pemantauan 42 kasus 73 tersangka Rp 128,0 miliar 80 kasus 182 tersangka Rp 466,0 miliar 122 kasus 255 tersangka Rp 594,0 miliar Sebelum 2009 2009-2013 Total

Korupsi Kesehatan Berdasarkan Tahun Penindakan Tahun Terungkap Jumlah Kasus Kerugian Negara (Rp miliar) Title 2001 1 0.2 2003 1 24.0 2004 6 6.5 2005 1-2006 1 0.3 2007 15 29.3 2008 17 64.3 2009 3 3.5 2010 4 1.5 2011 10 32.3 2012 14 95.9 2013 49 336.2 Total 122 594.0 1. Penindakan korupsi kesehatan meningkat setiap tahun. Pada tahun 2001 hanya satu korupsi kesehatan yang ditindak. Kemudian terus meningkat pada tahun 2008 menjadi 17 kasus dengan kerugian negara mencapai Rp 64,3 miliar. 2. Puncak penindakan terjadi pada tahun 2013 dimana penegak hukum berhasil menindak 49 kasus dengan kerugian negara mencapai Rp 336,2 miliar

450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 Tren Penindakan Korupsi Kesehatan 2001-2013 Jumlah Kasus Kerugian Negara (Rp miliar) Terdapat tren penindakan meningkat baik dari 336.2 jumlah kasus maupun dari kerugian negara Terdapat pola berulang dimana puncak penindakan terjadi pada setahun sebelum pemilu (2008 dan 2013) 95.9 64.3 Apakah dana korupsi 49 10.2 1 24.0 29.3 32.3 kesehatan digunakan 66.5 1-1 0.3 15 17 3 3.5 4 1.5 10 14 untuk dana kampanye? Apakah program kesehatan digunakan menjadi instrumen politik? Dua pertanyaan ini perlu dijawab melalui kajian lebih lanjut.

Obyek Korupsi Kesehatan No Obyek Korupsi Jumlah Kasus Kerugian Negara (Rp miliar) 1 Dana Alkes 43 442.8 2 Dana Pembangunan/Rehabilitasi RS 19 51.4 3 Dana Obat 18 43.0 4 Dana PNBP 1 15.0 5 Dana Jaminan Kesehatan 16 14.6 Dana Pembangunan/Rehabilitasi 5 6 Puskesmas 12.9 7 Dana Pengadaan Alat Lab 1 4.9 8 Pendapatan Rumah Sakit 3 3.3 9 Dana Operasional Rumah Sakit 4 2.2 10 Anggaran Pendidikan/Pelatihan 2 1.5 11 Dana Sarpras Puskesmas 4 1.3 12 Dana Posyandu 1 0.9 13 Dana Operasional Dinkes 2 0.2 14 Aset Dinkes 1 0.1 15 Dana Alat KB 1 0.0 16 Dana Sarpras Lab 1 0.0 Total 122 594.0 Dana Alkes merupakan dana paling banyak dikorupsi Dana kuratif (alkes, pembangunan/rehabilitasi, obat, jaminan kesehatan, dsb paling banyak dikorupsi Dana promotif dan preventif dikorupsi jauh lebih kecil dibanding dana kuratif. Celakanya, kuratif memiliki persentase paling besar dalam APBN dan APBD Kesehatan. Anggaran kesehatan belum menggunakan paradigma sehat sepenuhnya? Apakah ada kesengajaan memperbesar dana kuratif daripada promotif dan preventif agar koruptor bisa menyelewengkan anggaran kesehatan lebih banyak?

Modus Korupsi Kesehatan Kerugian N o Modus Korupsi Jumlah Kasus Negara (Rp miliar) 1 Mark up 62 506.7 Penyalahgunaan 2 Anggaran 14 33.0 3 Penggelapan 28 25.1 Pengadaan Fiktif/Manipulasi Tender 4 dan Data 11 25.7 5 Penyuapan 2 3.1 Penyalahgunaan 6 Wewenang 3 0.4 7 Honor Fiktif 1-8 Pungutan Liar 1 - Total 122 594.0 Mark up atau penggelembungan harga pengadaan barang dan jasa merupakan modus paling umum digunakan oleh pelaku korupsi kesehatan.

Lembaga Tempat Terjadi Korupsi N o Lembaga Tempat Korupsi Jumlah Kasus Kerugian Negara (Rp miliar) 1 Kemenkes 9 249.1 2 Dinkes Kab/Kota/Provinsi 46 191.0 3 Rumah Sakit 55 118.0 BPOM dan Lembaga 1 4 Kesehatan lainnya 15.0 5 Puskesmas 9 11.1 6 BUMN/BUMD Kesehatan 1 9.0 7 Ormas/Yayasan 1 0.9 Total 122 594.0 Kemenkes merupakan lembaga tempat korupsi kakap Meski jumlah kasus kecil namun kerugian negara yang ditimbulkannya sangat besar. Kerugian negara melebihi kerugian negara karena kasus korupsi yang terjadi di 46 dinkes dan 55 rumah sakit di Indonesia

Lokasi Korupsi Kesehatan No Provinsi (Lokasi) Korupsi Jumlah Kasus Kerugian Negara (Rp miliar) 1 Pusat 12 273.15 2 Banten 9 71.59 3 Sumut 15 59.16 4 DI Aceh 8 36.25 5 Jabar 12 28.01 6 Kaltim 3 26.11 7 Sumsel 4 18.26 8 Bengkulu 6 10.52 9 DI Yogyakarta 2 10.00 10 DKI Jakarta 3 8.85 11 Lampung 5 8.48 12 NTB 2 7.70 13 Jambi 1 7.50 14 Riau 7 6.99 15 Kalteng 2 5.10 16 Sulteng 3 4.79 17 Jateng 10 3.97 18 Bali 1 2.30 19 Jatim 7 2.08 20 Sulsel 2 1.00 21 Maluku 3 0.74 22 Papua 1 0.70 23 Gorontalo 1 0.40 24 Kalsel 1 0.30 25 NTT 2 0.11 Total 122 594.04 Episentrum korupsi kesehatan berada dipemerintahan pusat (eksekutif, legislatif maupun BUMN Kesehatan Banten dan Sumut menempati urutan kedua dan ketiga dalam lokasi korupsi kesehatan

Tersangka Korupsi Kesehatan Jumlah Tersangka Persenta se 53 20.9 Jabatan Tersangka Panitia Pengadaan di Kemenkes dan Dinkes Pemkab/Pemkot/Pemprov Rekanan Dinkes Pemkab/Pemkot/Pemprov 51 20.0 Kadinkes Kab/Kota/Provinsi 31 12.2 Pejabat/Pegawai Dinkes Kab/Kota/Provinsi 22 8.7 Data Belum Tersedia 14 5.5 Direktur Rumah Sakit 14 5.5 Pejabat/Pegawai Kemenkes 12 4.7 Pejabat/Pegawai RS 12 4.7 Pejabat/Pegawai Pemkab/Pemkot/Pemprov Non Dinkes 10 3.9 Pejabat/Pegawai BUMN/BUMD Kesehatan 9 3.5 Pimpinan/Anggota DPR/DPRD 7 2.8 Kepala Puskesmas 5 2.0 Bupati/Walikota/Gubernur 3 1.2 Rekanan Rumah Sakit 3 1.2 Ketua Yayasan/Ormas 2 0.8 Masyarakat 2 0.8 Menkes 2 0.8 Dirjen Kemenkes 2 0.8 Pejabat/Pegawai Badan Terkait Kesehatan 1 0.3 Total 255 100.0 Koruptor kakap disumbang oleh Kemenkes 2 Menkes dan 2 Dirjen serta pejabat Kemenkes lainnya telah ditetapkan sebagai tersangka karena terlibat kasus korupsi kesehatan 3 Kepala Daerah dan 31 Kepala Dinkes Provinsi/Kab/Kota serta 14 Direktur RS juga ditetapkan sebagai tersangka. 53 Panitia pengadaan barang dan jasa kesehatan juga telah ditetapkan sebagai tersangka 54 Rekanan Kemenkes, Dinkes dan Rumah Sakit juga ditetapkan sebagai tersangka

Tersangka Korupsi Kesehatan Korupsi Kesehatan dilakukan secara berjamaah antara Pejabat, Panitia Pengadaan, PPK, P4TK, dan Rekanan Pengadaan.

Penindakan Korupsi Kesehatan Menurut Penegak Hukum Kerugian Jumlah Negara (Rp No Penegak Hukum Kasus miliar) 1 Mabes Polri 3 163.0 2 KPK 7 131.2 3 Kejari 50 106.9 4 Kejati 24 89.6 5 Kejagung 4 53.8 6 Polda 8 33.7 7 Pengadilan Tipikor 8 6.1 8 Belum teridentifikasi 8 5.9 9 Polres 10 3.8 Total 122 594.0 Kasus korupsi kesehatan banyak ditindak oleh Kejaksaan terutama Kejari dan Kejati. Namun demikian, Mabes Polri menangani kasus korupsi kesehatan kakap (kerugian negara sangat besar)

Kinerja Penegak Hukum Menindak Korupsi Kesehatan Tabel 8. Tabulasi Silang Perkembangan Penindakan Korupsi Kesehatan Menurut Lembaga Penindakan Perkembangan Penyidikan Kasus Korupsi Kesehatan Yang Disidik Sejak 2008 Lembaga Yang Menanga ni Kasus Korupsi Vonis Bersala h Belum Ada Perkemban gan Proses Persidan gan Vonis Bebas DP O S P3 Kas asi Total Kejagung 1 2 0 0 0 0 0 3 Kejari 1 11 0 1 0 0 0 13 Kejati 0 7 3 0 0 1 0 11 Mabes Polri 0 0 0 0 1 0 0 1 Polda 0 1 0 0 0 0 0 1 Polres 0 1 0 0 0 0 1 2 Pengadilan 6 0 0 0 0 0 0 6 Belum diketahui 0 4 1 0 0 0 0 5 Total 8 26 4 1 1 1 1 42 Kinerja Penegakan Hukum Korupsi Kesehatan masih rendah. Dari 42 kasus yang ditindak sebelum tahun 2009, 26 kasus diantaranya tidak jelas perkembangan penanganan Kejaksaan merupakan paling banyak menunggak penanganan kasus korupsi kesehatan.

Nilai Temuan Audit BPK Pada Kemenkes Tahun Audit Temuan, Rekomendasi dan Tindaklanjut Jumlah 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah 43 72 53 116 43 327 Temuan Nilai dalam miliar rupiah 218,5 454,0 25,1 1,097,9 1,005,1 2,800,7 - - - USD 125.88 dan Nilai dalam mata uang lainnya USD 125.88 SAR 121.50 SAR 121.50 Jumlah 80 103 93 235 148 659 Rekomendasi Nilai dalam miliar rupiah 41,4 78,7 22,1 267,7 948,9 1,358,7 Nilai dalam mata uang lainnya USD 125.88 - - - - USD 125.88 Sesuai dengan rekomendasi Jumlah 71 58 55 69 23 276 Nilai dalam miliar rupiah 1,3 2,1 19,9 128,7 0,9 153,0 Nilai dalam mata uang lainnya - - - - - - Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindaklanjut Jumlah 9 36 38 157 104 344 Tindaklanjut Nilai dalam miliar rupiah 40,0 76,6 2,2 138,8 192,7 450,4 Nilai dalam mata uang lainnya USD 125.88 - - - - - Belum Ditindaklanjuti Jumlah - 9 9 21 39 Nilai dalam miliar rupiah - - - 0,9 755,2 755,4 Nilai dalam mata uang lainnya - - - - - - Tidak Dapat Ditindaklanjuti Nilai dalam miliar rupiah - - - - - - Nilai dalam mata uang lainnya - - - - - - Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan 1,3 2,9 20,1 13,8 2,5 40,6

Kesimpulan 1. Anggaran Kesehatan masih sangat rawan korupsi. Pemantauan ICW selama 2001-2013 terhadap 122 kasus korupsi yang berhasil ditindak: tersangka 255 orang, dan kerugian negara Rp 594,0 miliar. 2. Aktor pelaku korupsi kesehatan (tersangka) berasal dari pejabat tinggi sektor kesehatan, seperti: menteri kesehatan (2 orang), dirjen (2 orang), kepala dinas kesehatan provinsi/kabupaten/kota (31 orang), direktur rumah sakit (14 orang), gubernur/walikota/bupati (3 orang) dan pimpinan DPRD (7 orang). 3. Korupsi kesehatan banyak menggerogoti anggaran untuk kuratif (alkes, obat, pembangunan rumah sakit/puskesmas, dan jaminan kesehatan). Hal ini tidak sesuai dengan paradigma sehat yang memprioritaskan pencegahan (preventif) dibandingkan pengobatan (kuratif). 4. Pemerintahan pusat terutama Kementerian Kesehatan merupakan instansi paling besar memicu kerugian negara dalam korupsi kesehatan. Meski jumlah kasus kecil, kerugian negara sangat besar. 5. Kinerja penegak hukum dalam penindakan kasus korupsi kesehatan masih rendah. Dibuktikan dengan masih belum adanya perkembangan sejumlah kasus korupsi kesehatan yang ditangani sejak tahun 2009.

Thank You!