MASALAH-MASALAH POKOK TEORITIS

dokumen-dokumen yang mirip
SOSIOLOGI PENDIDIKAN

BAB II. Paradigma Sosiologi dan Posisi Teori Konflik

BAB XI TEORI-TEORI PERUBAHAN SOSIAL DAN BUDAYA

Kuliah ke-2: Paradigma Teori Sosiologi

Sistem Politik Gabriel Almond. Pertemuan III

LANDASAN TEORI KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

KONTRUKSI SOSIAL DARI TEORI ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL. Oleh : Dr. Purwowibowo, M.Si

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR

DEFINISI, OBJEK DAN KELAHIRAN SOSIOLOGI. Pertemuan 2

Pengetahun, wawasan, dan pengalaman menjadikan manusia bijak

BAB V. Kesimpulan. A. Pengantar. B. Karakter Patronase di Alun-Alun Kidul Yogyakarta

Sosiologi politik MEMAHAMI POLITIK #3 Y E S I M A R I N C E, M. S I

KELAHIRAN SOSIOLOGI Pertemuan 2

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

MATERI INISIASI KEEMPAT: BIROKRASI ORGANISASI

BAB II KERANGKA TEORI

SOSIOLOGI AGAMA PRODI PENDIDIKAN SOSIOLOGI SEMESTER VI PERTEMUAN I OLEH: AJAT SUDRAJAT

METODE PENELITIAN. Penelitian dan Ilmu Pengetahuan. MR Alfarabi Istiqlal, SP MSi

TEORI DAN METODOLOGI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Penalaran menurut ensiklopedi Wikipedia adalah proses berpikir yang bertolak

PENGUMPULAN DATA AWAL wawancara dan survei literatur

IDEALISME (1) Idealis/Idealisme:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hal, dengan perspektif orang akan memandang sesuatu hal berdasarkan cara-cara

2015 PENGARUH PENERAPAN STRATEGI COMPETING THEORIES TERHADAP KETERAMPILAN ARGUMENTASI SISWA SMA PADA MATERI ELASTISITAS

Ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia sosial. yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk sosial.

BAB II KAJIAN TEORI. maupun mempaparkan dua konsep diantaranya definisi yang berkaitan erat

SOSIOLOGI DALAM KEPARIWISATAAN

A. Proses Pengambilan Keputusan

Pengertian/Definisi Politik Terkait dengan masalah Kekuasaan/Pengaruh Terkait pula dengan negara Menentukan tujuan, pengambilan keputusan, dan impleme

BAB I SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU

BAB I PENDAHULUAN. lain sumber daya manusia (man), sumber daya pembiayaan (money), sumber daya

Drs. Rudi Susilana, M.Si. -

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Penelitian ini mendapatkan konsep awal tentang anti-materialisme

Sofia Retnowati Fakultas Psikologi UGM 2005

Mengapa Sosialisme? Albert Einstein

Hubungan Sains dan Agama

BAB 3 LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Pengertian Teori

II. KERANGKA TEORITIS. Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang

BAB IV. PENUTUP. Universitas Indonesia. Estetika sebagai..., Wahyu Akomadin, FIB UI,

1. Seseorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika, dan agama serta menghayatinya;

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

EKSPLORASI PEMIKIRAN TENTANG PARADIGMA, KONSEP, DALIL, DAN TEORI

ILMU, METODE ILMIAH DAN PENELITIAN ILMIAH KULIAH MATERI

BAB I PENDAHULUAN. kualitas dan kinerja karyawan dalam suatu organisasi adalah stress kerja karyawan

ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK: FILSAFAT, TEORI DAN METODOLOGI

SEMINAR PSIKOLOGI TERAPAN

BAB I KONTEK PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan

PENDEKATAN DALAM ILMU POLITIK

BAB II TINDAKAN SOSIAL - MAX WEBER. yang menonjol, dan setiap gagasan yang mengancamnya akan disingkirkan

Etika dan Filsafat. Komunikasi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewi Elyani Nurjannah, 2013

BAB IV KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Kerangka teoritis adalah suatu model yang menerangkan bagaimana

ANALISIS PERMASALAHAN WILAYAH

BAB II TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL DAN TEORI SOLIDARITAS. Solidaritas Dan Stratifikasi Antar Petani Tambak Di Dusun Dukuan Desa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGERTIAN DAN WAWASAN DASAR TEORI PERENCANAAN

Berpikir Kritis (Critical Thinking)

ini. TEORI KONTEKSTUAL

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Ilmu, Pengetahuan, dan Teknologi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

MATERI KULIAH PENGANTAR ILMU HUKUM MATCH DAY 25 ILMU HUKUM SEBAGAI ILMU KENYATAAN (BAGIAN 1)

BAB II TALCOTT PARSONS: TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL. A. Teori Struktural Fungsional Talcott Parsons

BAB I PENDAHULUAN. sekali. Selain membawa kemudahan dan kenyamanan hidup umat manusia.

MENYANGKAL TUHAN KARENA KEJAHATAN DAN PENDERITAAN? Ikhtiar-Filsafati Menjawab Masalah Teodise M. Subhi-Ibrahim

POLITIK HUKUM BAB IV NEGARA DAN POLITIK HUKUM. OLEH: PROF.DR.GUNARTO,SH.SE.A,kt.MH

BAB I PENDAHULUAN. cepat dan disertai dengan adanya tantangan tantangan yang semakin luas dan

Oleh : Lia Aulia Fachrial, M.Si

SISTEM, PENDEKATAN DAN HUBUNGAN ILMU POLITIK DENGAN ILMU LAINNYA

MAKALAH PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan di bidang pendidikan. Dalam era globalisasi ini, sumber daya

Bab I Pendahuluan. dengan identitas ego (ego identity) (Bischof, 1983). Ini terjadi karena masa remaja

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang begitu pesat

BAB II SOLIDARITAS SOSIAL DALAM PERSPEKTIF EMILE DURKHEIM. dengan pihak-pihak terkait. Peneliti memilih teori Solidaritas Emile Durkhei, teori ini

BAB II TEORI SOSIOLOGI PENGETAHUAN

SOSIOLOGI PENDIDIKAN

EKSISTENSIALISME (1) Eksistensialisme:

BAB II KAJIAN TEORITIK. dapat memperjelas suatu pemahaman. Melalui komunikasi, ide-ide

Teori Komunikasi. Drs. Alex Sobur, M.Si. Tine A. Wulandari, S.I.Kom.

R&D), Bandung, ALFABETA Mei 2013 hlm 3 2 Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif, Jakarta, Rajawali

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. yang akan dipasarkan. Dalam era teknologi informasi, keberhasilan suatu

LRC. Oleh : Harun Azwari (Peneliti LRC) Latar Belakang

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Adapun kesimpulan tersebut terdapat dalam poin-poin berikut:

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini pembangunan di Indonesia antara lain diarahkan untuk

PANDANGAN HIDUP SISTEM

BAB III METODE PENELITIAN

PANDUAN PENJURIAN DEBAT BAHASA INDONESIA. Disusun oleh: Rachmat Nurcahyo, M.A

Paradigma penelitian adalah jendela ilmu pengetahuan

I. PENDAHULUAN. demokrasi pada negara yang menganut paham demokrasi seperti Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Filsafat dan Filsafat Ketuhanan

Membangun Kritisisme Generasi Indonesia 1

BAB II PERUBAHAN SOSIAL TALCOT PARSONS. Perubahan dapat berupa yang tidak menarik atau dalam arti

TEORI KONFLIK DAN INTEGRASI SOSIAL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Asep Saeful Ulum, 2013

BAB I PENGANTAR KHAZANAH ANALISIS WACANA. Deskripsi Singkat Perkuliahan ini membelajarkan mahasiwa tentang menerapkan kajian analisis wacana.

Transkripsi:

MASALAH-MASALAH POKOK TEORITIS Walaupun teori adalah suatu abstraksi dari realitas, penting disadari akan hubungan antara keduanya. Teori bukanlah murni abstrak, tanpa berdasarkan pengalaman yang nyata. Pengalaman mempengarui teori, dan teori pada gilirannya mempengarui konsepsi pengalaman seseorang. Dari pengalaman-pengalaman asli (termasuk riset), kita memformulasikan teori. Dengan demikian, perkembangan teori-teori yang bagus, merupakan proses pengujian dan perumusan yang konstan. Bagi kaum tradisional, pengujian ini adalah suatu proses memperbaiki hipotesis tentang dunia Nyata. Bagi para ahli teori pradigma-alternatif, ia adalah suatu proses memperhalus kerangka kerja interpretif bagi pemahaman aliran peristiwa-peristiwa. Pengembangan teori karenanya selalu memerlukan riset. Riset memungkinkan investigasi fakta-fakta spesifik yang dianggap signifikan, ia memungkinkan seseorang menguji kekuatan prediktif teori atau kegunaan interpretif juga, dan ia adalah suatu cara pengembangan dan artikulasi teori lebih jauh. Teori-teori dapat berubah dengan tiga cara. Pertama adalah pertumbuhan dengan perluasan (ekstensi). Disini, pengetahuan dikembangkan sedikit-demi sedikit, bergerak dari suatu pemahaman terhadap suatu titik kenyataan sampai pada suatu titik yang berdampingan dengan menambahkan konsep-konsep baru pada yang lama. Ciri kedua, pertumbuhan dengan dengan penguatan (intensi), adalah proses pengembangan pemahaman benar-benar yang makin bertambah dari suatu konsep individual. Contohnya, anda dapat mengembangkan suatu teori penggunaan pengghinaan pada situasi-situasi konflik. Teori anda akan berbah dengan perluasan bila anda menambahkan ide-ide tentang bagaimana pujian dan lelucn juga mucul dalam situasi konflik. Ia akan berubah dengan suatu penguatan jika anda dapat menguraikan lebh lanjut peda peranan penghinaan. Tidak dapt dipungkiri, suatu teori dapat berubah dengan cara perluasan (ekstensi) dan penguatan (intensi) pada saat yang bersamaan. Cara ketiga, teori-teori berubah melalui revolusi. Dalam monograf pada revolusi ilmiyahnya yang terkenal, Thomas kuhn menyatakan bahwa ilmu normal adalah suatu proses pembangunan teori memalui perluasan dan penguatan dengan konsesensus relatif

pada sifat dasar dari realitas yang dijadikan model. Pada beberapa point suatu kasus yang luar biasa ditemukan bahwa perjalanan itu berlawanan dengan asumsi-asumsi yang berlaku pada teori dalam penggunaan. Pada point ini suatu krisis berkembang, membawa kepada suatu perkembangan suatu pendekatan teoritis yang seluruhnya baru. Teori yang baru (atau seperangkat teori) menyajikan suatu cara berlomba yang berbeda melihat dunia. Contohnya, anda dapat menemukan bahwa konflik adalah sesuatu yang berbeda seluruhnya dari pada pemahaman sebelumnya, membuat investigasi penghinan tidak relevan atau sepele. Secara garis besar, lebih banyak lagi anggota dibidang ini menerima teori revolusioner, sampai ia menjadi pendekatan teoritis primer dalam suatu ilu normal yang baru. Adapun secara lebih lanjut penjelasan mengenai permasalahan-permasalahan yang selalu ada dalam teori adalah sebagai berikut: 1. Keteraturan dan Perubahan. Ide mengenai keteraturan sosial, karena tempatnya sebagai inti dari kerangka kerja teoritik dalam sosiologi, harus diperiksa dengan lebih mendalam. Para teoritisi tdak menggunakan istilah ini dalam arti hukum dan ketertiban, dimana keteraturan dikaitkan dengan represi atau konflik. Demikian pula, keteraturan tidak diartikan sebagai penagturan otorian, seperti halnya peratura yang ditegakkan oleh para penegak hukum berseragam, yang terpaksa dipatuhi karena adanya sistem penghukuman (sangsi). Dalam pemahaman sosiologi, keteraturan mngacu pada tidakan-tindakan berpola, atau prilaku manusia yang teratur. Dalam pengertian ini, keteraturan sosial keteraturan mngacu pada tidakan-tindakan berpola, atau prilaku manusia yang teratur. Dalam pengertian ni, keteraturan sosial beranalogi dengan keraturan yang tampak dari daftar elemen kimia, atau bahwa air selalu mengalir ketempat yang lebih rendah: beberapa hal perilaku dengan cara yang sama, cara yang berpola, yang pada prinsipnya bisa kompleks atau sederhana tergantung pada situasnya. Tujuan utama dari teori sosiologi adalah untuk mengkonseptualisasikan gejala-gejala yang menyebabkan suatu kereturan timbul, dan untuk mengungkapkan mengapa gejala-gejala tersebut berkaitan dengan keteraturan ini. Intinya dalam menjelaskan suatu keteraturan yang sederhana seperti halnya angka kelahiran, penjelasan yang diberikan dapat lebih jauh melebihi kesederhanaan fenomena tersebut karena penjelasan yang diberikan dapat pula diartikan sebagai keteraturan itu

sendiri. Misalnya, mungkn terdapat hubngn antara tipe sistemekonomi dengan pola pembangunan tanah di satu phak dengan angka kelahiran dipihak lain. Dugaan ini menunjukkan bahwa keteraturan tidak hanya ditunjukkan oleh hal-hal yang mempengaruhinya, dan selanjutnya, terdapat keteraturan dan regulitas dalam hubungan antara kedua fakta tersebut. Teori-teori dapat menjelaskan perubahan sosial jika ia mampu menjelaskan keteraturan sosial. Hubungan ini tidak secara universal diakui. Sejumlah argumentasi yang memisahkan antara teori-teori perubahan dengan teori-teori keteraturan diperlukan. Alasannya, setiap teori mengenai keteraturan dalam hubungan sosial melaksanakan fungsinya dengan cara menjelaskan hal-hal apa yang menyebabkan keteraturan itu muncul. Keteraturan, atau stabilitas sosial, dijadikan variabel tergantung. Para teoritisi mempertanyakan mengapa suatu hubungan sosial harus memiliki hubungan-hubungan semacam itu, dan tidak secara acak, atau tidak dalam pola-pola yang lainnya. Ketika ia sudah mendapat jawaban yang memuaskan maka ia telah membangun seperangkat konsep dan ide mengenai perubahan karena berdasarkan analisisnya, keteraturan diperoleh karena adanya hubungan tertentu antara elemen-elemen sosial. Ketiadaan salah satu elemen akan menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Demikian pula sebaliknya, ketika seseorang mencoba menjelaskan tentang perubahan sosial, maka ia mencoba mengaitkannya dengan proses dan fakta sosial yang merupakan keteraturan. II. Subyektif dan Obyektif. Pendekatan obyektif memandang manusa dan masyrakat pada dasrnya dengan dunia fisika. Meskipun manusia bersifat kompleks tapi pada dasarnya tindakannya dapat dijelaskan dengan cara yang sama dengan penjelasan hal-hal yang bersifat eksakta. Mendevinisikan perilaku manusa secara obyektif mengarah pada dua konsep, yang satu mendefinisikan hubungan sosial dalam pengertian obyektif dan yang kedua memberikan penjelasan mengenai hubungan ini dalam kerangka dorongan-dorongan obyektif. Inilah kerangka pikir yang digunakan para psikolog dalam mengkonseptualisasikan perilaku manusia dalam proses fisika (misalnya teori stimulus respon), dan berkeyakinan bahwa teori ini dapat menjelaskan semua aktifitas manusia, termasuk terbentuknya organisasi sosial dan budaya.

Pendekatan obyektif menggunakan pengukuran, perhitungan, observasi, dan korelasi sesuai dengan prilaku manusia. Pendekatan in digunakan para ilmuwan untuk memperkuat teorinya secara empirik. Pendekatan subyektif berpendapat bahwa pada dasarnya prilaku sosial harus dipahami secara manusiawi dan bukan semata alamiah. Pendekatan subyektif berangkat dari konsep kehendak sebagai data pertama, sebagaimana halnya Tonnies, dan membangun teori mengenai tipe organisasi sosial dengan memperhatikan alasan-alsan mengapa seseorang cenderung mematuhi prilaku, atau dalam istilahnya, tipe dan jenis legitimasi tampil dalam pengaturan sosial yang khusus, dan alasan-alasan mengapa orang menerima pengaturan tersebut. III. Individu dan Masyarakat. Apakah teori sosiologi hanya menjelaskan tentang masyarakat, atau apakah pokok bahasannya adalah tentang individu atau gabungan dari keduanya? Secara historis, para pemikir filsafat dan teori sosial menjadikan pertanyaan ini sebagai pusat dari studinya. Hal ini tidak mudah meskipun keduanya tampak memilki teori yang memadai dan meyakinkan. Pada akhirnya akan jelas, bahwa pada sisi mana kita berpijak atau bagaimana kita menggabungkan keduannya, maka kita akan menghasilkan teori sosial yang berbeda. Tentu saja tujuannya adalah berusaha untuk membangun teori yang rasional tentang individu dan masyarakat secara sama tepatnya. Tapi masalahnya adalah seringkali upaya teoritis untuk menjelaskan konsep yang satu justru menjelaskan juga konsep yang lainnya. Misalnya masyarakat mengontrol, membentuk, dan mengarahkan individu. Dalam bentuk yang ekstrim, argumen ini mengarah pada kesimpulan bahwa apapun yang dikehendaki masyarakat dari individu pasti akan tercapai. Individu tidak dapat melawan masyarakat. Karena itulah, sekolah seringkali dikritik dalam membentuk perilaku individu. Seklah mempresentasikan masyarakat yang membentuk siswa sehingga seringkali siswa tidak memiliki kemampuan diluar yang diajarkan disekolahnya. Dalam pengertian ini masyarakat membentuk sikap, perilaku, dan moralits idividu. Proses ini terus berlanjut, mislnya keharusan untuk menyesuaikan diri dalam lingkungannya agar dapat memperoleh kenyaman hidup.

Kita dapat menggabungkan aspek masalah individu-masyarakat dengan masalah subyektif-obyektif utuk menunjukkan kesulitan lain yang dihadapi teori-teori sosiologi. Masalahnya dalah bagaimanakita mengobservasi, mengukur atau menghitung keunikan dari suatu masyarakat tanpa mempersempitnya kedalam aspeek individual?. Jika kita ingin menentukan suatu hal pada level masyarakat maka kita harus memusatkan metodologi kita disana. Namun kita telah melihat bahwa pada level masyarakat tidak memungkinkan dilakukan pengamatan secara langsung. Kita hanya dapat mengamati masyarakat melalui pengamatan secara langsung. Kita hanya dapat mengamati masyarakat memalui pengamatan pada prilaku individu. Metodologi semacam ini memaksa kita menerapkan pendekatan subyektif tentang masyarakat. Jika masyarakat dipandang sebagai realitas obyektif tapi tidak diamati secara langsung maka pemahaman tentang masyarakat hanya dapat diperoleh melalui pendekatan subyektif. IV. Fungsi dan penyebab. Aristoles mengemukakan bahwa penyebab umumnya mengandung arti sebagai berikut: 1. Demi sesuatu hal, yakni tujuan atau teologi. 2. Dalam suatu hal, yakni asumsi, konsep atau konteks logis. 3. Melalui sesuatu, yakni teknik untuk ewujudkan sesuatu, metode. 4. Sesuatu dari, yakni konteks material, sesuatu yang menyebabkan timbulnya suatu efek. Jika kita mengatakan bahwa tipe pertama dari penyebab yang kita maksudkan maka tujuan dari sesuatu yang terjadi berada di masa depan, atau bahwa tujuan akhir darisuatu hal mengarahkan realitas pada masa kini. Tapi umunya yang dimaksud dengan penyebab adalah dalam arti pertama dan terakhir. Jenis penyebab yang pertama tampakya bertentangan dengan urutan penyebab sebelum efek, karena tujuan dimasa depan menentukan apa yang terjadi dimasa kini. Fungsi adalah kata yang memiliki banyak arti, tapi cukup terbatas dalam perspektif sosiologi. Pada dasarnya, fungsi menunjukkan ketergantungan dari satu atau beberapa unit terhadap lainnya sehingga setiap unit dapat dipertahankan dan hubungan antara unit-unit ini dalam teori sosiologi dikenal dengan sebutan struktur. Bisa meliputi

peranan, kelompok, institusi, atau mungkin unit analisis lain dan bagaimana hubungan antara unit-unit ini membentuk suatu sistem. Istilah fungsi juga juga kurang memilki makna metafisika dalam teori sosiologi. Pertanyaan mengenai apa fungsi dari x? biasanya mengandung maksud apa hasil dari terjadinya X?. Jika ide mengenai fungsi dikaitkan dengan efek atau pristiwa khusus, maka pengaturn sosial dapat dibangun dengan sedikit perhatian pada msalah-maslah teoritis yang berkaitan dengan arti dari istilah fungsi. Contohnya adalah diskusi Merton mengenai kepemimpinan dikota-kota Amirika. Argumentasi yang dikemukakannya adalah bahwa sebelum adanya promosi mengenai kesejahteraan, orang-orang yang menganggur atau baru tiba disuatu kota akan memberikan suara pada partai yng dapt memberikannya pekerjaan. Karena itu, hubungan fungsional timbul diantara politisi partai dengan sekelompok orang yang berusaha mempertahankan kepentingan masingmasing. Masalah-masalah tersebut diatas-lah yang yag menimbulkan kontraversi dan perdebatan yang akhirnya membuat tori sosiologi berubah dan berkembang serta meluas hingga sekarang ini.