DESIGN EKONOMIS UNTUK PROPELLER KAPAL. Hartono *)

dokumen-dokumen yang mirip
PARAMETER DESIGN PROPELLER KAPAL

STUDI EKONOMI RENOVASI PROPULSI KAPAL PATROLI PARIKESIT

Analisa Perhitungan Fixed Pitch Propeller (FPP) Tipe B4-55 Di PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero)

TUGAS AKHIR (LS 1336)

PERHITUNGAN DAYA MOTOR PENGGERAK UTAMA a. EHP (dinas) = RT (dinas) x Vs = 178,97 Kn x 6,172 m/s = Kw = Hp

HAMBATAN, PROPULSI & MOTOR INDUK KAPAL

Investigasi Efisiensi Propeler Kapal Ikan Tradisional

BAB III METODE PELAKSANAAN

PEMBAHASAN. 1. Mean Effective Pressure. 2. Torque And Power. 3. Dynamometers. 5. Specific Fuel Consumption. 6. Engine Effeciencies

PERENCANAAN WATER JET SEBAGAI ALTERNATIF PROPULSI PADA KAPAL CEPAT TORPEDO 40 M UNTUK MENINGKATKAN KECEPATAN SAMPAI 40 KNOT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. displacement dari kapal tersebut. Adapun hasil perhitungan adalah : 2. Coefisien Blok (Cb) = 0,688

RANCANGAN PROPELLER OPTIMUM KAPAL IKAN TRADISIONAL

Analisa Pengaruh Trim terhadap Konsumsi Bahan Bakar

STUDI PERANCANGAN SISTEM PROPULSI WATERJET PADA KAPAL PENUMPANG 200 PAX TIPE WAVE PIERCHING CATAMARAN

KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS PENGGUNAAN DUAL FUEL SYSTEM (LPG-SOLAR) PADA MESIN DIESEL KAPAL NELAYAN TRADISIONAL

USULAN BIDANG MARINE MANUFACTURE AND DESIGN (MMD) Oleh: Hanifuddien Yusuf NRP

BAB II LANDASAN TEORI

Dhani Priatmoko REDUCTION GEAR AND PROPULSION SYSTEM VIBRATION ANALYSIS ON MV.KUMALA

ANALISA PENGARUH VARIASI SUDUT RAKE PROPELLER B-SERIES TERHADAP DISTRIBUSI ALIRAN FLUIDA DENGAN METODE CFD

JURNAL TEKNIK PERKAPALAN Jurnal Hasil Karya Ilmiah Lulusan S1 Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro


Desain Konseptual Hybrid Propulsion Mesin Diesel dengan Motor Listrik pada Tugboat 70 Ton Bollard Pull Untuk Aplikasi di Pelabuhan

ABSTRACT. KEY WORDS : Landing Ship Tank, Propulsion system, Knot

ANALISA ENGINE PROPELLER MATCHING PADA KAPAL PERINTIS BARU TYPE 200 DWT UNTUK MEDAPATKAN SISTEM PROPULSI YANG OPTIMAL

Optimasi Skenario Bunkering dan Kecepatan Kapal pada Pelayaran Tramper

Analisa Penerapan Bulbous Bow pada Kapal Katamaran untuk Meningkatkan Efisiensi Pemakaian Bahan Bakar

β QV β TV γ : rasio induktansi (γ =L r /L s ) γ m η η B η H η M η o η P η RR η S λ m λ r λ dr λ dro λ dr * λ qr λ qro μ π : konstanta 3.

KINERJA KAPAL KM. MANTIS UNTUK PUKAT UDANG GANDA KEMBAR

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2014

Kajian Teknis Sistem Propulsi Untuk Kapal Perang Missile Boat Dengan Kecepatan 70 Knots

ANALISA PENERAPAN BULBOUS BOW PADA KAPAL KATAMARAN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PEMAKAIAN BAHAN BAKAR

ANALISA TEKNIS PENGGANTIAN MESIN INDUK KAPAL PATROLI KP. PARIKESIT 513

ANALISA PENGARUH BENTUK FOIL SECTION NOZZLE TERHADAP EFISIENSI PROPULSI PADA KAPAL TUNDA

OPTIMALISASI DESIGN TRIPLE SCREW PROPELLER UNTUK KAPAL PATROLI CEPAT 40M DENGAN PENDEKATAN CFD

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KOMPARASI HULL PERFORMANCE PADA KONSEP DESIGN KAPAL IKAN MULTI FUNGSI DENGAN LAMBUNG KATAMARAN

DESAIN DAN PEMODELAN SISTEM PROPULSI DAN STAND ALONE SISTEM KONTROL PROPULSI KAPAL

DESAIN DAN UJI HIDRODINAMIKA KAPAL SELAM MINI BERBOBOT 133 TON

BAB II LANDASAN TEORI. digunakan pula untuk menarik tongkang, kapal rusak dan peralatan lainnya dan

ANALISA PERUBAHAN SISTEM PROPULSI DARI SCHOTTLE MENJADI TWIN SCREW PADA KAPAL PENUMPANG KMP NIAGA FERRY II

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan akan alat transportasi seperti kendaraan bermotor kian hari kian

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) G-139

Prediksi Performa Linear Engine Bersilinder Tunggal Sistem Pegas Hasil Modifikasi dari Mesin Konvensional Yamaha RS 100CC

PENGARUH VARIASI BENTUK BURITAN KAPAL TERHADAP HAMBATAN TOTAL MENGGUNAKAN METODE CFD

PERUBAHAN BENTUK LAMBUNG KAPAL TERHADAP KINERJA MOTOR INDUK. Thomas Mairuhu * Abstract

ENGINE MATCHING PROPELLER PADA KAPAL MT. NUSANTARA SHIPPING LINE IV AKIBAT PERGANTIAN SISTIM PROPULSI. Untung Budiarto, M Abdurrohman Raup, ABSTRACT

KARAKTERISTIK TRAKSI DAN KINERJA TRANSMISI PADA SISTEM GEAR TRANSMISSION DAN GEARLESS TRANSMISSION

Deskripsi BALING-BALING KAPAL BERSIRIP

Deskripsi BALING-BALING KAPAL BERSIRIP

Published: ELTEK Engineering Journal, June 2004, POLINEMA

ANALISIS VARIASI TEKANAN PADA INJEKTOR TERHADAP PERFORMANCE (TORSI DAN DAYA ) PADA MOTOR DIESEL

Perancangan Propeler Self-Propelled Barge

PERBAIKAN DESAIN KAPAL PERIKANAN PADA TAHAP PLERIMINARY DESAIN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI BAHAN BAKAR

ANALISA PENGARUH PELETAKAN OVERLAPPING PROPELLER DENGAN PENDEKATAN CFD

Analisa Performance Propeller B-Series dengan Pendekatan Structure dan Unstructure Meshing

Analisa Rekondisi Main Engine dan System Propulsi Kapal Kumawa Jade 20.7 Meter Catamaran

Kajian Unjuk Kerja Mesin Induk Kapal Cepat Pasca Re-Powering

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL UJI DAN PERHITUNGAN MENGETAHUI KINERJA MESIN MOTOR PADA KENDARAAN GOKART

ANALISA HAMBATAN KAPAL AKIBAT PENAMBAHAN STERN TUNNELS PADA KAPAL TROPICAL PRINCESS CRUISES MENGGUNAKAN METODE CFD (COMPUTATIONAL FLUID DYNAMIC)

LOGO. Mohamad Fikki Rizki NRP DOSEN PEMBIMBING Prof. Ir Nyoman Sutantra,Msc,PhD Yohanes.ST,MSc

P3 SKRIPSI (ME ) ERICK FEBRIYANTO

Optimasi Kinerja Propulsi pada Kapal Ikan Studi Kasus : Kapal Ikan di Perairan Brondong, Lamongan

MODIFIKASI BENTUK BURITAN KAPAL DAN SISTEM PROPULSI KT ANGGADA XVI AKIBAT RENCANA REPOWERING. A.K.Kirom Ramdani ABSTRAK

UJI PERFORMANSI MESIN DIESEL BERBAHAN BAKAR LPG DENGAN MODIFIKASI SISTEM PEMBAKARAN DAN MENGGUNAKAN KONVERTER KIT SEDERHANA

PERBANDINGAN HASIL RANCANGAN BALING-BALING PADA METODE CROUCH DAN METODE BP-δ UNTUK KAPAL IKAN 30 GT

Analisa Kombinasi Hub Cap dan Ducted Propeller Dengan Pendekatan CFD (Computational Fluid Dynamic)

DESAIN PROPELLER KAPAL SELAM 29 METER DENGAN MENGGUNAKAN PROPELLER B-SERIES

PRESENTASI. Engine Propeller Matching B Series Propeller FPP. Oleh : Ede Mehta Wardana Nurhadi Raedy Anwar Subiantoro

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

PENGARUH PANJANG CEROBONG DAN SUDUT BLADE TERHADAP DAYA THRUST PADA HOVERCRAFT ABSTRAK

JURNAL TEKNIK PERKAPALAN Jurnal Hasil Karya Ilmiah Lulusan S1 Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro

DESAIN PROPELLER KAPAL SELAM 29 METER DENGAN MENGGUNAKAN PROPELLER B-SERIES

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

PEMANFAATAN TEKNOLOGI DIMPLE PADA LAMBUNG KAPAL UNTUK MENGURANGI TAHANAN KAPAL

PERANCANGAN SISTEM PERMESINAN PADA TRAILING SUCTION DREDGER (TSD) SEBAGAI SARANA PENGERUKAN PADA PERAIRAN PELABUHAN

SIMULASI AERODINAMIS DAN TEGANGAN PROPELER PESAWAT TIPE AIRFOIL NACA M6 MELALUI ANALISA KOMPUTASI DINAMIKA MENGGUNAKAN MATERIAL PADUAN (94% Al-6% Mg)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RANCANG BANGUN AIRBOAT SEBAGAI ALAT ANGKUT PENANGGULANGAN BENCANA TAHAP II

SISTEM OPERASI DAN KELAUTAN

PETUNJUK PRAKTIKUM MESIN KAPAL JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN MARINE ENGINEERING

BAB IV PERHITUNGAN & ANALISA

BAB 5 DASAR POMPA. pompa

UJI COBA PENGGUNAAN WATER TUNNEL DILENGKAPI PENGARAH PADA KAPAL PELAT DATAR UNTUK MENINGKATKAN PROPULSI KAPAL SKRIPSI

MODIFIKASI BENTUK BURITAN PADA SHALLOW DRAFT BULK CARRIER UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI SISTEM PROPULSI

INVESTIGASI GEOMETRI DAN PERFORMA HIDRODINAMIS PROPELER PRODUKSI UKM PADA KONDISI OPEN WATER

Kajian Numerik Pengembangan Symmetrical Blade Propeller Untuk Kapal Patroli 60m dengan Menggunakan Teori Lifting Line

PREDIKSI PERFORMA LINEAR ENGINE BERSILINDER TUNGGAL SISTEM PEGAS HASIL MODIFIKASI DARI MESIN KONVENSIONAL YAMAHA RS 100CC

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Surjo W. Adji. ITS Surabaya

INSTALASI PERMESINAN

Perancangan Controllable Pitch Propeller Pada Kapal Offshore Patroli Vessel 80 (OPV80)

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai

PENGUJIAN MESIN SEPEDA MOTOR 100 CC MENGGUNAKAN DINAMOMETER GENERATOR AC 10 KW

START STUDI LITERATUR MENGIDENTIFIKASI PERMASALAHAN. PENGUMPULAN DATA : - Kecepatan Angin - Daya yang harus dipenuhi

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. atau mendorong kapal di pelabuhan, laut lepas atau melalui sungai atau terusan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V ANALISA AKHIR. pengujian Dynotest dan Uji Konsumsi Bahan Bakar Pada RPM Konstan untuk

EFISIENSI GAS ENGINE PADA BERBAGAI PUTARAN: STUDI EKSPERIMEN PADA JES GAS ENGINE J208GS

ANALISA PERFORMANSI HEAT EXCHANGER PADA SISTEM PENDINGIN MAIN ENGINE FIREBOAT WISNU I (Studi Kasus untuk Putaran Main Engine rpm)

Transkripsi:

DESIGN EKONOMIS UNUK POPELLE KAPAL Hartono *) Abstract Increase of the price of world oil pushs liner to conduct action is economic from every operational unit in it s ship armada. One other most dominant in usage of fuel is Main engine is working to turn around propeller as ship actuator. On that account ship owner wants design propeller which is economic for it s ship to can reduce usage of fuel of 20% when sailing. Keywords: Propeller, Design. Pendahuluan Peningkatan harga minyak dunia menyebabkan melonjaknya biaya operasional kapal yang harus dikeluarkan oleh perusahaan pelayaran dalam setiap kali kapal berlayar. Biaya operasional yang paling domi- nan di kapal adalah pemakaian bahan bakar yang dapat mencapai 38% dari seluruh biaya (operational cost) yang dibutuhkan untuk mengoperasikan sebuah kapal. Ini dapat dilihat dalam gambaran berikut. 27% 18% 9% 4% 1% 3% 38% Crews Cost epai & Maintenance Administration Stores & Lubrication Insurance Fuel Cost Port Charge Gambar. Ditribusi biaya operasional kapal (data primer) Namun hal ini dapat diminimalisir jika kapal tersebut di rencanakan dengan menggunakan propeller yang dapat dioperasionalkan pada load engine yang berada pada torsi maksimum dengan memperhatikan karakteristik kerja dari motor induk yang digunakan dikapal. Sehingga pemakaian bahan bakar pada lebih ekonomis ini sangat ditentukan oleh performance propeller saat mendesignnya. Performance Propeller Propeller yang dipasang di kapal, dalam kenyataannya mengalami kehilangan tenaga secara mekanik (mechanical losses) pada saat tenaga ditransmisikan melalui poros propeller, pada umumnya peningkatan tahanan pada propeller dan bodi kapal tidak merata, ini berpengaruh pada performance propeller. Sehingga untuk menunjukan nilai kerja propeller yang di pasang di kapal, ini biasa dikenal dengan propeller efficiency (P D ) dan effisiensi propeller dalam air terbuka (open water test. P D ), perbandingan kedua efisiensi ini biasa di sebut effisiensi relativ rotativ (relative rotative effisiency). *) Staf Pengajar Jurusan D III eknik Perkapalan Fakultas eknik UNdip Efisiensi propulsi (P C ) secara keseluruhan (overall propulsive effisiency) pengembangan dari power efektive (P E ) yang dibagi dengan power poros (shaft power, P S ), modifikasi untuk badan kapal yang memiliki tambahan tahanan karena berbagai peralatan yang digunakan seperi fin stabilizer, dll, (P E ), daya dorong propeller (P) dan efisiensi relativ rotativ.: P' E /P = hull efficiency = η H P /P' D = propeller efficiency = η O P' D /P D = relative rotative efficiency = η P D /P S = shaft transmission efficiency Untuk kondisi eksperimen,maka perlu di kalikan dengan skala ukuran kapal sesunguhnya, biasanya disebut quasi propulsive coefficent(qpc, D ). Kondisi Aliran Di Sekitar Propeller Kondisi aliran disekitar propeller biasa dikenal dengan wake. Wake merupakan interaksi antara kapal dengan air yang memiliki kecepatan relatif terhadap kapal. Wake terbagi atas tiga bagian,: Kecepatan air di sekeliling badan kapal, lapisan air antara tahanan aliran air di sekitar dengan badan kapal, gelombang EKNIK Vol. 29 No. 3 ahun 2008, ISSN 0852-1697

yang terbentuk akibat bergeraknya kapal di air. Dua bagian yang pertama diatas akan mengurangi kecepatan air yang masuk ke propeller, sedangkan bagian ketiga dapat menaikan dan mengurangi kecepatan tergantung pada gelombang yang terbentuk (apakah puncak atau palung) pada propeller. Koefisien Fraksi Wake (wake fraction coefficient, w) Saat kapal bergerak di air maka akan terbentuk lapisan yang bergesekan dengan badan kapal (boundary layer) yang biasa dikenal dengan friction belt. Dalam lapisan gesekan ini kecepatan air di permukaan badan kapal sama dengan kecepatan kapalnya, dan kecepatan ini nenurun pada lapisan luar atau lapisan yang berada pada jarak dengan badan kapal, bahkan kecepatan bisa nol untuk yang paling jauh. Lebar/ketebalan lapisan gesekan ini tidak sama di sepanjang badang kapal, dimana ukurannya bertambah besar pada bagian belakang, tipis pada bagian depan, serta sama/proporsional pada bagian tengah kapal. Ini berarti pengaruh kecepatan wake sepanjang kapal berbeda. Ditambahlagi dengan terbentuknya gelombang karena badan kapal yang bergerak di dbagian depan dan belakang kapal. Semua hal di atas akan berpengaruh pada propeller yang bekerja pada daerah wake. Kecepatan wake yang efektiv pada propeller ini adalah Vw, yang memiliki arah sama dengan kecepatan kapal V, sehingga kecepatan air yang sampai ke propeller, Va (speed of advance of propeller), kecepatan rata-rata aliran di disk propeller Vw, lebih rendah dari kecepatan kapal V. Kecepatan wake efektiv pada propeller : Vw = V Va, koefisien fraksi wake di definisikan oleh aylor sebagai berikut : w Vw V Va Va K = = K akan diperolehk = 1 w V V V Besar koefisien wake fraksi ini tergantung pada bentuk badan kapal, juga lokasi atau penempatan dan dimensi propeller, hal ini banyak pengaruhnya terhadap efisiensi propeller. Kapal dengan single propeller memiliki koefisien fraksi wake antara : 0,20 s/d 0,45, berhubungan dengan kecepatan aliran ke propeller Va, 0,80 s/d 0,55 kecepatan kapal V. Koefisien blok besar, koefisien fraksi wake lebih besar. Pada kapal yang memiliki dua peopeller, biasanya penempatan propeller di luar daerah lapisan gesek (friction belt/boudary layers) sehingga w akan lebih rendah. Koefisien fraksi wake yang tinggi dapat menyebabkan propeller mengalami resiko kavitasi, karena kecepatan aliran yang tidak rata di sekitar propeller. Wake yang homogen disekitar propeller dapat meningkatkan advance velocity, Va, hal ini dapat menguntungkan dan dapat diporoleh dengan menempatkan propeller di dalam nozzle, pelindung propeller, dan design bentuk badan kapal yang memungkinkan untuk memperoleh lapisan wake optimum. Koefisien Deduksi Daya Dorong (thrust deduction coefficient, t) Propeller yang berputar menyebabkan air di bagian depannya terhisap kearah belakang propeller. Hal ini akan menghasilkan tahanan ekstra badan kapal yang biasa disebut dengan augment of resistance atau dalam hubungannya dengan daya dorong total, yang dibutuhkan pada propeller adalah trhust deduction fraction, F. Ini berarti ada sebagian dari daya dorong yang hilang ( tahanan kapal dan F loss trhust). Hubungan antara fraksi deduksi daya dorong F dengan koefisien deduksi daya dorong t adalah : F tk = = K akan diperoleh K = 1 t Koefisien t ini dapat diperoleh melalu percobaan dari berbagai bentuk badan kapal. Nilai koefisein t sejalan dengan koefisien w. biasanya dipengaruhi dari bentuk badan kapal. Misalnya untuk kapal yang memiliki bulbous stem dapat mengurangi harga koefisien t. Nilai koefisien deduksi daya dorong ini, t, untuk kapal dengan sigle propller antara 0,12 s/d 0.30 kapal yag memiliki blok koefisien besar akan memiliki t yang besar juga. Diameter propeller atau perbandingan antara diameter propeller dengan ukuran panjang kapal, L WL. juga berpengaruh pada koefisien fraksi wake, d/l WL, mengindikasikan tingkat kerja propeller dalam lapisan wake badan kapal. Karena itu perbandingan d/l WL yang besar menyebabkan w lebih kecil. Koefisien fraksi Wake ini akan bertambah jika bandan kapal kasar (fouled). EKNIK Vol. 29 No. 3 ahun 2008, ISSN 0852-1697 229

Effisiensi Propulsi Badan kapal sangat berpengaruh dalam efisiensi propulsi, ada beberapa efisiensi yang harus di ketahui sebelum mendesain sebuah propeller, antara lain Efisiensi Badan Kapal (Hull efficiency, H ) Efisiensi badan kapal ini merupakan perbandingan antara tenaga efektiv (effective towing power, P E = x V ) dan power daya dorong propeller terhadap air (thrust power, P = x V a ) : Effisiensi Propeller Pada Air erbuka (Open Water Prop Efficiency, o ) Propeller yang bekerja dalam air terbuka (bukan di belakang kapal) memperoleh wake yang homogen (tanpa turbulen, gelombang, dll). Sehingga effisiensi propeller tergantung pada Advance velocity Va, hrust force, Laju putaran n, dan diameter propeller d, serta bentuk design propeller, jumlah daun, perbandingan luasan daun propeller, perbandingan pitch dengan diameter propeller. Bisanya efisiensi propeller o ini bervariasi antara 0,35 s/d 0,75 Gambar di bawah ini, pemberlihatkan hubungan antara efisiensi propeller o fungsi dari advance velocity Va yang didefinisikan sebagai berikut : Biasanya untuk kapal dengan single propeller memiliki efisiensi badan kapal H antara 1,1 s/d 1,4, dengan blok koefisien yang besar. Untuk kapal dengan dua peopeller dan bentuk buritan konvensional nilai efisiensi badan kapalnya berkisar antara 0,95 s/d 1,05 nilai tertinggi untuk koefisien blok yang besar. Untuk twin-skeg ship-dua propeller nilai effisiensi badan kapal hampir sama dengan kapal single propeller. J, merupakan propeller advance number EKNIK Vol. 29 No. 3 ahun 2008, ISSN 0852-1697

Efisiensi elativ otativ (elative otative Efficiency, η ) Laju aliran air yang melewati propeller apabila berada di belakang kapal tidak konstan tetapi alirannya berotasi/memutar (rotational flow), oleh karena itu jika dibandingkan dengan propeller yang bekerja pada air terbuka maka effisiensi propellernya dipengaruhi oleh faktor η, (yang dikenal dengan relative rotative efficiency). Kapal dengan single propeller harga η berada antara 1,0 s/d 1,07. Hal ini menandai bahwa η memberi pengaruh yang men-guntungkan. Untuk kapal yang memiliki dua popeller namun dengan bentuk buritan konvensional maka harga berkisar 0,98. η B Effisiensi Propeller Di Belakang Kapal Perbandingan daya dorong yang diberikan propeller ke air P, dengan tenaga yang ada di propeller P D, merupakan effisiensi propeller yang bekerja di belakang kapal. Effisiensi Propulsi (Propulsive Efficiency, η ) D Propulsi effisiensi merupakan perbandingan antara efektiv power P E dengan power yang ada pada propeller P D : η Gambar. Hubungan motor induk, badan kapal dan propeller Efisiensi Poros (Shaft Efficiency, η S ) Shaft eficienci ini tergantung pada kelurusan poros, dan pelumasan pada bantalan poros, reduction gear box. Efisiensi ini sama dengan perbandingan P D dan power break P B yang keluar dari main engine. Biasanya nilai effisiensi poros ini berkisar 0,985 atau mulai dari 0.96 s/d 0.995 Efisiensi otal (otal Efficiency, η ) Efisiensi totla ini merupakan perbandingan power efektiv P E dengan power brake P B. Optimum Load Diagram Diharapkan design propeller yang akan dibuat dapat dioperasionalkan pada titik maksimum (O) atau paling optimal dalam operasional motor induk yang akan digunakan, dapat dilihat dalam diagram berikut. Nilai efisiensi propulsi ini akan tinggi jika propeller bekerja pada wake yang homogen. EKNIK Vol. 29 No. 3 ahun 2008, ISSN 0852-1697 231

Pada titik O ini diperoleh perbadingan injeksi bahan bakar dengan udara masuk yang paling baik dalam mengoperasikan mesin. Sehingga pada titik ini ditempatkan batasan maksimum pengoperasian motor selama pelayaran (SC) yang berada pada 85% - 100% dari daya motor. itik O menjadi acuan pengoperasian propeller atau yang bisa dikenal engine matching. Daya motor dapat ditambahkan lagi jika kondisi sangat membutuhkan tambahan tenaga yang ditandai oleh titik M dimana berada pada 110% daya motor. itik-titik yang ditandai dengan L 1,L 2,L 3,L 4, merupakan batasan pengoperasian sebuah motor induk. Dimana garis L 1 -L 3 dan L 2 -L 4 dibatasi oleh tekanan efektif rata-rata (mean effective pressure, mep), serta L 1 -L 2 dan L 3 -L 4, dibatasi oleh kecepatan atau putaran motor. Garis-garis yang menandai batas pengoperasian propeller diantaranya adalah : Garis 3, merupakan batas operasional kecepatan maksimum, yang berada pada 105% dari titik A/M, selama sea trial boleh dinaikan sampai 107% pada batas garis 9. walau masih diperbolehkan sampai 109 % namun hal ini tergantung dari kondisi getaran torsional motor. Garis 4, merupakan batasan di sebabkan oleh penyediaan atau suplai udara yang cukup untuk melakukan pembakaran bahan bakar di dalam mesin, dan merupakan batas maksimum kombinasi antara torsi dan kecepatan. Garis 5, merupakan batas tekanan effektif rata-rata mesin (mep) saat oprasional secara kontinius. Garis 5 ini sama dengan 100 % mep-line, yang berhubungan dengan indeks pemakaian bahan bakar motor. Garis 7, merupakan maksimum daya atau power mesin yang disediakan untuk operasional secara kontinius. Kesimpulan Design propeller yang baik seharusnya dapat dioperasionalkan secara terus menerus pada batas-batas pengoperasian motor induk, yang dapat dilihat dari standar performan engine. Serta harus diperhatikan adalah effesiensi propulsi yang dapat berubah setelah kapal mengalami penambahan tahanannya selama kapal berlayar, terutama akibat fouling, sehingga untuk lebih lanjut perlu diperhatikan batas penyediaan power motor induk dengan memperhatikan kondisi laut tempat kapal dioperasionalkan. merupakan propeller load diagram efektiv. Namun saat badan kapal sudah kotor maka kurva propeller ini akan bergeser di sebelah kiri garis 6 sampai mendekati garis 2, sehingga dibutuhkan tenaga tambahan dan propeller bekerja lebih keras. Pada kondisi cuaca yang tenang ternyata propeller bekerja lebih berat, maka ada kemungkinan kontoran yang menenpel pada badan kapal dan propeller sudah harus dibersihkan, serta propeller dilapisi dengan anti fouling. Area yang terdapat pada garis 4 dan 1, dapat digunakan untuk operasional kapal saat kondisi pelayaran dangkal, cuaca jelek dan membutuhkan akselerasi. Sangat dianjurkan untuk mendesign propeller dengan kecepatan tinggi, agar dapat mengurangi penurunan effisensi dan penambahan margine engine, yang akhirnya hal ini dapat menjadi faktor pemborosan bahan bakar. Daftar Pustaka 1. MUELLE,. J. 1985. Low eynolds Number Vehicles. Neuilly-Sur-Seine, France: Ad visory Group for Aerospace esearch and Development. NIS, AGADograph No. 288 2. MCGHEE,.J. AND B.J. WALKE AND B.F. MILLAD. 1988. Experimental esults for the Eppler 387 Airfoil at Low eynolds Numbers in the Langley Low- urbulence Pressure unnel. Washington, D.C. NASA M-4062. 3. PAULEY, L.L. AND P. MOIN AND W.C. EYNOLDS. 1989. he Instability of wo-dimensional Laminar Separation. In Low eynolds Number Aerodynamics: Proceedings of the Conference in Notre Dame, Indiana. June 5-7, 1989 by Spri nger-verlag, 82-92. New York: Springer- Verlag 4. SECKWALL, H.: (1997): Description of a Vortex Lattice Method for Propellers in Steady and Non Steady Flow, HSVA eport No. CFD 18 / 97, Hamburg Daya propeller bekerja pada area yang dibatasi oleh garis 4,5,7 dan 3 seperti yang terlihat pada gambar diagram di atas. Untuk propeller dengan pitch yang tetap jika beroperasi pada perairan tenang dan badan kapal bersih sebaiknya bekerja pada kurva 6 yang EKNIK Vol. 29 No. 3 ahun 2008, ISSN 0852-1697 232

EKNIK Vol. 29 No. 3 ahun 2008, ISSN 0852-1697 233

EKNIK Vol. 29 No. 3 ahun 2008, ISSN 0852-1697 234