Presiden Republik Indonesia,

dokumen-dokumen yang mirip
DATA LUAS WILAYAH ADMINISTRASI DESA/KELURAHAN DI KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

16. ACUAN PENETAPAN REKOMENDASI PUPUK N, P, DAN K PADA LAHAN SAWAH SPESIFIK LOKASI (PER KECAMATAN) PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Propinsi KALIMANTAN SELATAN. Total Kabupaten/Kota

DATA AGREGAT KEPENDUDUKAN PER KECAMATAN (DAK2)

Lampiran I.63 PENETAPAN DAERAH PEMILIHAN DAN JUMLAH KURSI ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014

BAB II PROFIL SANITASI SAAT INI

BUPATI TAPIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 05 TAHUN 2015 TENTANG

KETUA PENGADILAN NEGERI RANTAU DAN KETUA PENGADILAN AGAMA RANTAU

NO. KODE NAMA MADRASAH NEGERI SE-KALSEL KAB/KOTA MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 PARINGIN BALANGAN

BUPATI TAPIN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN

BULETIN AGROKLIMAT KALIMANTAN SELATAN September, 2013 KATA PENGANTAR

Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 28 TAHUN 1995 (28/1995) Tanggal: 23 AGUSTUS 1995 (JAKARTA) Kembali ke Daftar Isi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Tabalong Tahun 2014 BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Buletin Edisi Januari 2018

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TABALONG TAHUN

BAB 2. PEMERINTAHAN. Tabel Table :


BULETIN AGROKLIMAT KALIMANTAN SELATAN KATA PENGANTAR. Buku Buletin Agroklimat Bulan Oktober2014 memuat informasi hasil Analisis Tingkat Kekeringan

Buletin Edisi September 2017

PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Prakiraan Musim Kemarau 2015 KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR. Banjarbaru, September 2017 Kepala Stasiun Klimatologi Banjarbaru, GOEROEH TJIPTANTO, M.T.I NIP

Buletin Edisi Desember 2016

KATA PENGANTAR. Buletin Edisi Januari 2017

Buletin Edisi Oktober 2017

PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

KATA PENGANTAR. Prakiraan Musim Hujan 2013/2014 Provinsi Kalimantan Selatan ini disusun berdasarkan hasil

BUPATI TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI TABALONG NOMOR 32 TAHUN 2015 TENTANG URAIAN TUGAS INSPEKTORAT DAERAH KABUPATEN TABALONG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2013 TENTANG


DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

[Document title] [Document subtitle] Klimatologi

Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 20, dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA TAHUN 2007 NOMOR 14 SERI D NOMOR SERI 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 14 TAHUN 2007

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKAMARA NOMOR 03 TAHUN 2005 TENTANG PEMBENTUKAN, PEMEKARAN,PENGHAPUSAN DAN PENGGABUNGAN KECAMATAN

PEMERINTAH KABUPATEN BARITO KUALA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 1981 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA ADMINISTRATIF SINGKAWANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Data Agregat per Kecamatan

2 Indonesia tentang Batas Daerah Kabupaten Banjar dengan Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan; Mengingat :1. Undang-Undang Darurat Nomor

RENCANA KERJA TAHUN 2018

Map Area of Tabalong Regency

PERUBAHAN BATAS WILAYAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II TEBING TINGGI Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1979 Tanggal 11 April 1979

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN TANAH BUMBU DAN KABUPATEN BALANGAN DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN BARITO KUALA

3.3.2 Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan

JUMLAH PUSKESMAS MENURUT KABUPATEN/KOTA (KEADAAN 31 DESEMBER 2013)

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN TAPIN NOMOR : 266 / KEP / 2016 TENTANG PEMBERIAN IZIN OPERASIONAL SEKOLAH DASAR KABUPATEN TAPIN TAHUN 2016

PEMERINTAH KABUPATEN BARITO KUALA DINAS PEKERJAAN UMUM TAHUN ANGGARAN 2012

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1986

RINCIAN FORMASI PENERIMAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL ( PNS ) DEPARTEMEN AGAMA TAHUN ANGGARAN 2009 NOMOR : B.II/1-a/KP.00.3/ 965 /2009

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG NOMOR 33 TAHUN 1986 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA ADMINISTRATIF PARIAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

HASIL. Survei Daerah Sebaran clan Intensitas Penyakit Pustul Bakteri Kedelai di Kalirnantan Selatan

BUPATI BARITO KUALA KEPUTUSAN BUPATI BARITO KUALA NOMOR / 34 /KUM/2013 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 1981 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA ADMINISTRATIF DEPOK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

1. Pendahuluan Gambaran umum wilayah Kejadian dampak bencana di Kalimantan Selatan Penutup...

DATA PROFIL KECAMATAN BARAMBAI

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERUYAN NOMOR TAHUN 2005 TENTANG PEMBENTUKAN, PEMEKARAN, PENGHAPUSAN DAN PENGGABUNGAN KECAMATAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO KUALA NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG KOTA TERPADU MANDIRI (KTM) BUPATI BARITO KUALA,

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 01 TAHUN 2016 TENTANG PROGRAM KERJA PENGAWASAN TAHUNAN TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Kecamatan Martapura Barat Dalam Angka

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

BUPATI BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

PERATURAN BUPATI BARITO KUALA NOMOR 10 TAHUN 2015

PEMBENTUKAN KOTA ADMINISTRATIF DENPASAR Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1978 Tanggal 1 Juli 1978 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG

Transkripsi:

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 1986 TENTANG PEMBENTUKAN KECAMATAN ARANIO DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BANJAR, KECAMATAN MEKARSARI DAN KECAMATAN BARAMBAI DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BARITO KUALA, KECAMATAN BUNGUR DAN KECAMATAN LOKPAIKAT DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II TAPIN, KECAMATAN UPAU, KECAMATAN JARO, KECAMATAN MUARA HARUS, DAN KECAMATAN PUGAAN DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II TABALONG PROPINSI DAERAH TINGKAT I KALIMANTAN SELATAN Menimbang Presiden Republik Indonesia, a. bahwa mengingat luas wilayah dan bertambahnya jumlah penduduk yang berdiam di Kabupaten Daerah Tingkat II Banjar, di Kabupaten Daerah Tingkat II Barito Kuala, di Kabupaten Daerah Tingkat II Tapin, dan di Kabupaten Daerah Tingkat II Tabalong dalam wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan dan dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas penyelenggaraan pembangunan dan pemerintahan serta untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, maka dipandang perlu untuk membentuk 9 (sembilan) Kecamatan di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II tersebut di atas; b. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 75 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974, pembentukan Kecamatan harus ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah; Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerahdaerah Otonom Propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur (Lembaran Negara Tahun 1956 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Nomor II 06); 3. Undang-undang Nomor 3 Drt Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1953 Nomor 39); 4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037);

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBENTUKAN KECAMATAN ARANIO DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BANJAR, KECAMATAN MEKARSARI DAN KECAMATAN BARAMBAI DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BARITO KUALA, KECAMATAN BUNGUR DAN KECAMATAN LOKPAIKAT DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II TAPIN, KECAMATAN UPAU, KECAMATAN JARO, KECAMATAN MUARA HARUS, DAN KECAMATAN PUGAAN DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II TABALONG PROPINSI DAERAH TINGKAT I KALIMANTAN SELATAN. Pasal 1 (1) Membentuk Kecamatan Aranio di Kabupaten Daerah Tingkat II Banjar, yang meliputi wilayah : a. Desa Aranio b. Desa Tiwingan c. Desa Tiwingan Baru d. Desa Manunggul e. Desa Kalaan f. Desa Belangian g. Desa Anawit h. Desa Pa'au i. Desa Artain j. Desa Bunglai k. Desa Apuai l. Desa Rantau Bujur m. Desa Rantau Balai n. Desa Banua Riam. (2) Wilayah Kecamatan Aranio sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) semula merupakan bagian dari Wilayah Kecamatan Karang Intan. (3) Dengan dibentuknya Kecamatan Aranio maka Wilayah Kecamatan Karang Intan dikurangi dengan Wilayah Kecamatan Aranio, sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 2 (1) Membentuk Kecamatan Mekarsari di Kabupaten Daerah Tingkat II Barito Kuala, a. Desa Mekarsari b. Desa Tamban Raya c. Desa Tamban Raya Baru d. Desa Tinggiran Darat

e. Desa Tinggiran Tengah f. Desa Jelapat II g. Desa Karang Mekar h. Desa Indah Sari i. Desa Tinggiran Baru. (2) Wilayah Kecamatan Mekarsari sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), semula merupakan bagian dari Wilayah Kecamatan Tamban. (3) Dengan dibentuknya Kecamatan Mekarsari maka Wilayah Kecamatan Tamban dikurangi dengan Wilayah Kecamatan Mekarsari sebagaimana dimaksud dalam ayat (I). Pasal 3 (1) Membentuk Kecamatan Barambai di Kabupaten Daerah Tingkat II Barito Kuala, a. Desa Barambai Kolam Kiri b. Desa Sungai Kali c. Desa Barambai Kolam Kanan d. Desa Barambai e. Desa Bagagap f. Desa Handil Barabai g. Desa Pendalaman h. Desa Pendalaman Baru i. Desa Barambai Karya Tani. (2) Wilayah Kecamatan Barambai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) semula merupakan bagian dari Wilayah Kecamatan Rantau Badauh. (3) Dengan dibentuknya Kecamatan Barambai, maka Wilayah Kecamatan Rantau Badauh dikurangi dengan Wilayah Kecamatan Barambai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 4 (1) Membentuk Kecamatan Bungur di Kabupaten Daerah Tingkat II Tapin, a. Desa Bungur Lama b. Desa Banua Padang c. Desa Kalumpang d. Desa Rantau Bujur e. Desa Banua Padang Hilir f. Desa Shabah g. Desa Pantai Walang h. Desa Hangui

i. Desa Bungur Baru j. Desa Paringguling k. Desa Linuh l. Desa Purut m. Desa Timbung. (2) Wilayah Kecamatan Bungur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) semula merupakan bagian dari Wilayah Kecamatan Tapin Utara. Pasal 5 (1) Membentuk Kecamatan Lokpaikat di Kabupaten Daerah Tingkat II Tapin, a. Desa Lokpaikat b. Desa Bitahan c. Desa Binderang d. Desa Bitahan Baru e. Desa Bataratat f. Desa Parandakan g. Desa Puncak Harapan h. Desa Budimulya i. Desa Bitahan Tengah j. Desa Ayunan Papan. (2) Wilayah Kecamatan Lokpaikat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) semula merupakan bagian dari Wilayah Kecamatan Tapin Utara. (3) Dengan dibentuknya Kecamatan Bungur dan Kecamatan Lokpaikat, maka Wilayah Kecamatan Tapin Utara dikurangi dengan Wilayah Kecamatan Bungur dan Wilayah Kecamatan Lokpaikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1). Pasal 6 (1) Membentuk Kecamatan Upau di Kabupaten Daerah Tingkat II Tabalong, a. Desa Pangelak b. Desa Kinarum c. Desa Kaong d. Desa Bilas e. Desa Buruk Balik f. Desa Dambung Suring g. Desa Sei Rumbia h. Desa Masingai I i. Desa Masingai II j. Desa Pamintaan.

(2) Wilayah Kecamatan Upau sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) semula Merupakan bagian dari Wilayah Kecamatan Haruai. (3) Dengan dibentuknya Kecamatan Upau, maka Wilayah Kecamatan Haruai dikurangi dengan Wilayah Kecamatan Upau sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 7 (1) Membentuk Kecamatan Jaro di Kabupaten Daerah Tingkat II Tabalong, a. Desa Jaro b. Desa Lano c. Desa Solan d. Desa Gagarata e. Desa Nalui f. Desa Muang g. Desa Namun h. Desa Taratai i. Desa Purui. (2) Wilayah Kecamatan Jaro sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) semula merupakan bagian dari Wilayah Kecamatan Muara Uya. (3) Dengan dibentuknya Kecamatan Jaro, maka Wilayah Kecamatan Muara Uya dikurangi dengan Wilayah Kecamatan Jaro sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 8 (1) Membentuk Kecamatan Muara Harus di Kabupaten Daerah Tingkat II Tabalong, a. Desa Tantaringin b. Desa Muara Harus c. Desa Pandangin d. Desa Madang e. Desa Manduin f. Desa Murung Karangan g. Desa Mantuin. (2) Wilayah Kecamatan Muara Harus sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) semula merupakan bagian dari Wilayah Kecamatan Kelua. Pasal 9 (1) Membentuk Kecamatan Pugaan di Kabupaten Daerah Tingkat II Tabalong,

a. Desa Pugaan b. Desa Pampanan c. Desa Kayu Getah d. Desa Kuala Perak e. Desa Halangan f. Desa Sei Rukam I g. Desa Sei Rukam II h. Desa Jirak i. Desa Tamunti. (2) Wilayah Kecamatan Pugaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) semula merupakan bagian dari Wilayan Kecamatan Kelua. (3) Dengan dibentuknya Kecamatan Muara Harus dan Kecamatan Pugaan, maka Wilayah Kecamatan Kelua dikurangi dengan Wilayah Kecamatan Muara Harus dan Wilayah Kecamatan Pugaan. Pasal 10 (1) Pusat Pemerintahan Kecamatan Aranio berada di Desa Aranio. (2) Pusat Pemerintahan Kecamatan Mekarsari berada di Desa Mekarsari. (3) Pusat Pemerintahan Kecamatan Barambai berada di Desa Barambai Kolam Kiri. (4) Pusat Pemerintahan Kecamatan Bungur berada di Desa Bungur Lama. (5) Pusat Pemerintahan Kecamatan Lokpaikat berada di Desa Lokpaikat. (6) Pusat Pemerintahan Kecamatan Upau berada di Desa Pangelak. (7) Pusat Pemerintahan Kecamatan Jaro berada di Desa Jaro. (8) Pusat Pemerintahan Kecamatan Muara Harus berada di Desa Tantaringin. (9) Pusat Pemerintahan Kecamatan Pugaan berada di Desa Pugaan. Pasal 11 Setiap perubahan Desa/Kelurahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 9 baik karena pemekaran, penggabungan, penghapusan, perubahan nama dan batas-batas Desa/Kelurahan sepanjang tidak mengakibatkan perubahan batas-batas Wilayah Kecamatan dan ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Pasal 12 Segala sesuatu yang berkenaan dengan dan sebagai akibat dari pada pembentukan 9 (sembilan) Kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 9 diatur oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan dengan

memperhitungkan kemampuan keuangan Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah. Pasal 13 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 18 September 1986 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Diundangkan di Jakarta pada tanggal 18 September 1986 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA SOEHARTO SUDHARMONO, S.H.