BAB I PENDAHULUAN. ilmu, pembangunan, dan teknologi. Oleh karena itu dalam era sekarang ini dimana

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. disiapkan, namun tanpa sumber daya manusia yang professional semuanya

BAB I PENDAHULUAN. memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan-tujuan organisasi serta memiliki

BAB I PENDAHULUAN. kualitas dan kinerja karyawan dalam suatu organisasi adalah stress kerja karyawan

I. PENDAHULUAN. Pegawai Negeri Sipil menurut undang-undang RI nomor 43 Tahun 1999 adalah

PENGARUH PENILAIAN KINERJA TERHADAP DISIPLIN KERJA PEGAWAI PADA SUB BAGIAN KEPEGAWAIAN DAN UMUM DI DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. dengan ditempatkannya sumber daya manusia pada urutan pertama unsur-unsur

BAB 1 PENDAHULUAN. Organisasi dan tata kerja Satuan Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan yaitu dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintah maupun tugas

2015 PENGARUH DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN PURWAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Kelancaran penyelenggaraan tugas pemerintah dan pembangunan nasional sangat

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu isu yang menarik untuk dikaji dalam konstelasi kehidupan

2015 PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP LOYALITAS PEGAWAI DI KANTOR DINAS PENDIDIKAN KOTA BEKASI

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya manusia merupakan suatu faktor pendukung yang sangat

I. PENDAHULUAN. Pegawai negeri yang sempurna menurut Marsono adalah pegawai negeri yang

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai bangsa yang merdeka, Indonesia telah memiliki lembaga-lembaga. pemerintahan yang melaksanakan tugas-tugas Negara dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. moral dan mental yang baik, profesional, serta sadar akan tanggung jawabnya

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu dampak dari tuntutan era globalisasi bagi bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Reformasi birokrasi pada hakikatnya merupakan upaya untuk melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung. (Perda) Kotamadya Bandung Nomor 7/PD/1974 dengan memiliki tujuan

BAB I PENDAHULUAN. adalah rendahnya tingkat kinerja pegawai struktural di Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bandung Barat.

BAB I PENDAHULUAN. penggerak dan penentu jalannya suatu organisasi. Dari sudut pandang manajemen

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan maupun kebudayaan menuntut setiap individu untuk mempunyai daya. pendidikan, pekerjaan maupun kebudayaan tersebut.

I. PENDAHULUAN. rangka meningkatkan sumber daya manusia yang handal dan mampu bersaing di

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pelaksanaan Pengawasan Melekat terhadap Kedisiplinan PNS di Dinas

BAB I PENDAHULUAN. suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam mencapai tujuan. menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan

BAB I PENDAHULUAN. instansi tak dapat melaksanakan aktivitasnya. Dengan pegawai yang terampil dan

BAB I PENDAHULUAN. ada di daerahnya. Pembangunan daerah sebagai pembangunan yang dilaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. orang yang terbagi menjadi karyawan direktorat, non- direktorat, proyek dan

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi kegiatan atau operasional sehari-hari dengan kata lain lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. kepadanya dengan baik dan benar sesuai peraturan yang berlaku.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tujuan pembangunan Indonesia adalah mewujudkan visi pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa

PENGARUH PENEMPATAN TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA KARYAWAN DI DINAS PENDIDIKAN KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan, tanpa aspek manusia sulit kiranya instansi untuk mengembangkan

BAB 1 PENDAHULUAN. Sejak diberlakukannya Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang

BAB I PENDAHULUAN. Banyak negara menerapkan prinsip good governance dengan mengadopsi

BAB I PENDAHULUAN. dalam pengelolaan Negara baik secara desentralisasi maupun secara otonomi

BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang akan menghadapi tantangan yang berat. Hal ini terjadi karena dalam

BAB I PENDAHULUAN. dalam suatu perusahaan maka akan dapat diketahui kesalahan-kesalahan dan

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi saat ini adalah berkaitan dengan kinerja karyawan. Dalam era globalisasi,

BAB I PENDAHULUAN. Ketercapaian tujuan organisasi sangat ditentukan oleh manajemen sumber

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 5 TAHUN 2O17 TENTANG DISIPLIN KERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. Kedudukan dan peranan Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur Negara

BAB I PENDAHULUAN. organisasi disamping modal, material, mesin, dan sumber daya lainnya. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. Pegawai sebagai sumber daya manusia dalam organisasi memiliki peran

BAB I PENDAHULUAN. penggunaan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan baik individu maupun

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 26 TAHUN 2O16 TENTANG

I. PENDAHULUAN. (SDM) lah yang dapat mendayagunakan sumber-sumber daya organisasi lainnya

BAB I PENDAHULUAN. di segala bidang. Kenyataan tersebut menuntut profesionalisme sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. sadar. Keberhasilan pencapaian tujuan organisasi sangat dipengaruhi oleh peran

Pada dasarnya setiap perusahaan melakukan aktivitas untuk mencapai. tujuannya melalui kombinasi sumber daya yang dimiliki.

I. PENDAHULUAN. pertama dari setiap masalah yang terjadi dalam suatu organisasi. Bahkan ada

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sebuah organisasi, manajemen sumber daya manusia memiliki peranan

BAB I PENDAHULUAN. Pos Indonesia merupakan sebuah badan usaha milik negara (BUMN)

I. PENDAHULUAN. lapangan kerja. Tujuan instansi pemerintah dapat dicapai apabila manajemen

BAB I PENDAHULUAN. yang menjadi perencana dan pelaku aktif dalam setiap aktivitas organisasi. Pegawai

2015 HUBUNGAN PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN KARIER DENGAN MOTIVASI KERJA KARYAWAN DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. satu perangkat daerah yang memiliki Kegiatan Produksi holtikultura, Peningkatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Galih Septian, 2014

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan, cara atau metode, material, mesin, uang dan beberapa sumberdaya

BAB I PENDAHULUAN. penilaian justru lebih lengkap dan detail karena sifat-sifat yang berkaitan dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : M. 06. PR. 07.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. (Hariandja, 2002). Menurut Sumarsono (2003), Sumber Daya Manusia atau human

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. dengan orang orang yang memiliki satu tujuan dengan dengan dirinya.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Profil Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten

BAB I PENDAHULUAN. untuk dibahas adalah mengenai menurunnya kinerja karyawan pada divisi MSDM

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan diklasifikasikan sebagai aset yang sangat vital. Potensinya dapat

BUPATI KAYONG UTARA PERATURAN BUPATI KAYONG UTARA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya manusia merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu

BAB 1 PENDAHULUAN. manusialah yang menjalankan fungsi-fungsi manajemen yaitu POAC ( Planning,

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman modern saat ini terlihat pada perkembangan negara-negara

BAB I PENDAHULUAN. manusia merupakan faktor sentral serta memiliki peranan yang sangat penting

BAB I PENDAHULUAN. Organisasi merupakan tempat atau alat dilaksanakannya berbagai kegiatan

2 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan

KERANGKAACUANKERJA BADAN KEPEGAWAIAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN Doc KAK Sub Bid Jabatan Page 1

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan dan pengayoman pada masyarakat serta kemampuan professional dan

BAB I PENDAHULUAN. Fokus utama suatu organisasi adalah untuk mencapai suatu keberhasilan

BAB I PENDAHULUAN. Keith Davis ( 2007 ) mengemukakan bahwa : Dicipline is management action

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. perubahan dalam ilmu pengetahuan, sosial budaya, ekonomi, dan politik.

BAB I PENDAHULUAN. Organisasi merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar,

I. PENDAHULUAN. Negara Republik Indonesia adalah negara kesatuan, dalam penyelenggaraan

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidup perusahaan. Sumber daya manusia memiliki perasaan, keinginan,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan, tanpa aspek manusia sulit kiranya instansi untuk mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. optimal dari bagian organisasi demi optimalisasi bidang tugas yang di

WALIKOTA MATARAM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN WALIKOTA MATARAM NOMOR 26 TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN. aset utama dari suatu instansi maupun perusahaan. Setiap sistem organisasi baik

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tinjauan Terhadap Obyek Studi Profil Organisasi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. organisasi untuk membantu mewujudkan tujuan organisasi itu sendiri. Siswanto

BAB I PENDAHULUAN. untuk tetap dapat bertahan di era globalisasi. Sumber daya manusia mempunyai peran utama

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sumber Daya Manusia merupakan bagian dari dalam suatu kemajuan ilmu, pembangunan, dan teknologi. Oleh karena itu dalam era sekarang ini dimana teknologi dan peradaban sudah sangat maju, menuntut Sumber Daya Manusia yang kompeten yang memiliki semangat dan kedisiplinan yang tinggi dalam menjalankan peran dan fungsinya baik untuk individual maupun tujuan organisasial. Sumber Daya Manusia yang disebut disini salah satunya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). PNS sebagai unsur utama sumber daya manusia aparatur negara mempunyai peranan yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Sosok PNS yang mampu memainkan peranan tersebut adalah PNS yang mempunyai kompetensi yang diindikasikan dari sikap disiplin yang tinggi, kinerja yang baik serta sikap dan perilakunya yang penuh dengan kesetiaan dan ketaatan kepada negara, bermoral dan bermental baik, profesional, sadar akan tanggung jawabnya sebagai pelayan publik serta mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mewujudkan ini semua perlu adanya disiplin kerja yang baik yang dilakukan oleh para pegawai. Namun pada kenyataannya tidak semua pegawai instansi pemerintah memiliki disiplin kerja yang baik bagi instansi pemerintah, hal ini salah satunya terjadi karena disiplin kerja mereka berbeda-beda. Dalam upaya meningkatkan kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil tersebut sebenarnya pemerintah Indonesia telah memberikan suatu regulasi dengan

2 dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Pegawai Negeri Sipil sebagai aparat pemerintah dan abdi masyarakat diharapkan selalu siap sedia menjalankan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya dengan baik, namun realitanya sering terjadi dalam suatu instansi pemerintah, para pegawainya melakukan pelanggaran yang menimbulkan ketidakefektifan kinerja pegawai yang bersangkutan. Peraturan disiplin pegawai negeri sipil adalah peraturan yang mengatur kewajiban, larangan dan sanksi apabila kewajiban-kewajiban tidak ditaati atau dilanggar oleh Pegawai Negeri Sipil. Dengan maksud untuk mendidik dan membina pegawai negeri sipil, bagi mereka yang melakukan pelanggaran atas kewajiban dan larangan dikenakan sanksi berupa hukuman disiplin. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara dalam menjalankan roda pemerintahan dituntut untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Pegawai Negeri Sipil juga harus bisa menjunjung tinggi martabat dan citra kepegawaian demi kepentingan masyarakat dan negara namun kenyataan di lapangan berbicara lain dimana masih banyak ditemukan Pegawai Negeri Sipil yang tidak menyadari akan tugas dan fungsinya tersebut sehingga seringkali timbul ketimpangan-ketimpangan dalam menjalankan tugasnya dan tidak jarang pula menimbulkan kekecewaan yang berlebihan pada masyarakat. Nampaknya masalah tersebut di atas ada relevansinya dengan kondisi disiplin pegawai yang ada di lingkungan Dinas Bina Marga dan Pengairan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang penulis lakukan melalui sebuah observasi ke objek penelitian dengan melakukan pemantauan

3 langsung dan wawancara secara informal dengan sekretaris Dinas Bina Marga dan Pengairan Bapak H. Ruskandar. Penulis mempertanyakan tentang disiplin pegawai di Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Karawang, beliau menjawab: Masalah kedisiplinan memang sudah menjadi masalah serius yang harus segera dibenahi, karena tingkat kedisiplinan pegawai di sini masih dirasakan rendah terutama dapat dilihat dari frekuensi kehadiran pegawai serta banyaknya pegawai yang keluar kantor pada saat jam kerja. Adapun jenis-jenis pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh pegawai dinas Bina Marga dan Pengairan adalah sebagai berikut: 1. Masih terdapat pegawai yang terlambat masuk kerja dan lebih awal pulang masuk kerja, padahal jam masuk kerja dan jam pulang kerja di lingkungan Dinas Bina Marga dan Pengairan sudah ditentukan masuk pukul 07.30 pagi dan pulang pukul 15.30. Ini bisa dilihat melalui tabel 1.1 yaitu tentang rekapitulasi absensi apel pagi dan tabel 1.2 yaitu tentang rekapitulasi absensi apel sore sebagai berikut:

4 Tabel 1.1 Rekap ketidakhadiran apel pagi Dinas Bina Marga dan Pengairan Tahun 2012 No. Bagian Pegawai Wajib apel Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des 1 Bag. Keuangan dan kepegawaian 10 2 3 1 4 6 1-2 4 6 4 2 2 Bag. Umum dan perlengkapan 5-1 - - 2 - - 2 1 3 2 1 3 Bag. Evaluasi dan pelaporan 4 - - 2 1 2 - - 1-1 2-4 Bag. Perencanaan 17 4 3 3 2 4 1 4 3 6 4 2 8 5 Bag. Wasbang 15 5 4 6 5 4 5 3 3 3 1 2 3 6 Bag. Pemeliharaan 13 3 1 4 2 3 4 6 2 2 2 1 1 7 Bag. Pengairan 12 1 3 2-2 4 3 1 4 2 7 2 8 Para UPTD 16 6 4 3 1-2 5 2 2 5 1 4 Jumlah 92 21 19 21 15 23 17 21 16 22 24 21 21 Jumlah (%) 22,82% 20,65% 22,82% 16,30% 25% 18,47% 22,82% 17,39% 23,91% 26,08% 22,82% 22,82% Sumber : Daftar Presensi Apel Pagi Pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan Tahun 2012 Tabel 1.2 Rekap ketidakhadiran apel sore Dinas Bina Marga dan Pengairan Tahun 2012 No. Bagian Pegawai Wajib apel Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des 1 Bag. Keuangan dan kepegawaian 10 3 5 2 4 6 3-7 4 8 6 3 2 Bag. Umum dan perlengkapan 5 2 3 1-2 - - - 4 2 1 1 3 Bag. Evaluasi dan pelaporan 4 2 2 - - 1 2-3 4-2 1 4 Bag. Perencanaan 17 6 4 2 3 5 3 2 2 6 7 3 4 5 Bag. Wasbang 15 3 6 3 5 4-3 4 3 4 6 9 6 Bag. pemeliharaan 13 2 3 3 2 8 5 5 4 1-2 - 7 Bag. Pengairan 12-2 7 3 2-3 1 6 2 4 3 8 Para UPTD 16 4-3 5 1-4 2 2 3-5 Jumlah 92 22 25 21 22 29 13 17 23 30 26 24 26 Jumlah (%) 23,91% 27,17% 22,82% 23,91% 31,52% 14,13% 18,47% 25% 32,60% 28,26% 26,08% 28,26% Sumber : Daftar Presensi Apel Sore Pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan Tahun 2012

5 2. Masih terdapat pegawai yang keluyuran dan bersantai di area kantor pada saat jam kerja sehingga waktu kerja menjadi terbuang percuma dan nantinya bisa berimbas kepada pekerjaan yang dihasilkan. 3. Frekuensi kehadiran pegawai di Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Karawang masih rendah yang ditunjukkan dengan tingkat absensi yang cukup tinggi. Ini bisa dilihat melalui tabel 1.3 yaitu tentang rekap absensi kehadiran pegawai sebagai berikut: Tabel 1.3 Rekap Absensi Kehadiran Pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan Tahun 2012 No Bulan Ketidakhadiran Rata-rata S I TK Total Ketidakhadiran (%) 1 Januari 9 13 3 25 15,82% 2 Februari 7 12 5 24 15,18% 3 Maret 8 12 6 26 16,45% 4 April 3 7 5 15 9,49% 5 Mei 4 4 2 10 6,32% 6 Juni 7 9 5 21 13,29% 7 Juli 4 7 2 13 8,22% 8 Agustus 5 10 6 21 13,29% 9 September 2 17 13 32 20,25% 10 Oktober 2 11 1 14 8,86% 11 November 13 10 0 23 14,55% 12 Desember 4 5 1 9 5,69% Sumber : Daftar Presensi Pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan Tahun 2012 Keterangan: S : Sakit I : Izin TK : Tanpa Keterangan Berdasarkan tabel 1.3, menunjukkan bahwa frekuensi kehadiran pegawai di Dinas Bina Marga dan Pengairan masih rendah yang ditunjukkan dengan tingkat absensi yang cukup tinggi. Terlihat jelas bahwa setiap bulannya ada saja pegawai yang tidak masuk kerja, baik itu karena ijin, sakit serta tanpa keterangan.

6 4. Masih terdapat beberapa pekerjaan yang tidak mencapai target yang telah ditetapkan sebelumnya. Ini dibuktikan dengan tabel 1.4 tentang hasil penilaian capaian kinerja sebagai berikut: 1. 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. 1.6. 1.7. 1.8. 1.9. 1.10. 1.11. 1.12. SASARAN INDIKATOR SASARAN KEBIJAKAN TEKNIS KEGIATAN Program Kegiatan Fisik Terlaksananya Peningkatan Jalan Kabupaten Panjang Jalan yang meningkat konstruksinya Terlaksananya Rehabilitasi Jalan & Bahu Jalan Kabupaten Panjang Jalan yang meningkat konstruksinya Terlaksananya Pembangunan Jembatan Kabupaten Jumlah Jembatan Kabupaten yang Terbangun Terlaksananya Pembangunan Saluran Drainase / Gorong-gorong Panjang Saluran Drainase yang Terbangun Terlaksananya Pembangunan Turap/Talud/Bronjong Panjang Turap/Talud/Bronjong yang Terbangun Terlaksananya Rehabilitasi/ Pemeliharaan Jalan Kabupaten Panjang Jalan Kabupaten yang Direhabilitasi dan Dipelihara Terlaksananya Rehabilitasi/ Pemeliharaan Jembatan Kabupaten Panjang Jembatan Kabupaten yang Dipelihara Terlaksananya Program Tanggap Darurat Jalan dan Jembatan Jumlah Kegiatan Tanggap Darurat Jalan, Jembatan dan Pengairan yang dilaksanakan Terlaksananya Pengelolaan Normalisasi dan Pemeliharaan/ Rehabilitasi Jaringan Irigasi Panjang Jaringan Irigasi yang Diperbaiki Terlaksananya Normalisasi Saluran/ Kali Pembuang Panjang Saluran yang Diperbaiki Terlaksananya Pembuatan/ Perbaikan Bangunan Pelengkap Irigasi Jumlah Bangunan Pelengkap Irigasi yang Dibangun/Diperbaiki Program Kegiatan Non Fisik Terlaksananya Penyusunan DED/ Perencanaan Fisik Kegiatan Tertentu Jumlah Perencanaan Kegiatan Fisik Tertentu yang Selesai Disusun Tabel 1.4 Penilaian Capaian Kinerja RENCANA TINGKAT CAPAIAN (TARGET) REALISASI 2012 PROSENTASE PENCAPAIAN RENCANA TINGKAT CAPAIAN TARGET (%) PENILAIAN 80,00 km 80,00 km 100,00% Baik 20,00 km 18,18 km 90,90% Baik 2,000 m' 1,389 m' 69,45% Cukup 1,500 m' 1,500 m' 100,00% Baik 2,000 m' 1,233 m' 61,65% Cukup 350,00 km 175,72 km 50,21% Kurang 800,0 m' 616,0 m' 77,00% Sedang 7 kegiatan 7 kegiatan 100,00% Baik 21,00 km 14,00 km 66,67% Cukup 15,00 km 10,88 km 72,53% Cukup 9,00 unit 9,00 unit 100,00% Baik 1 kegiatan 0 kegiatan 0,00% Kurang

7 2. 2.1. 3. 3.1. SASARAN INDIKATOR SASARAN KEBIJAKAN PERBAIKAN SISTEM DAN KUALITAS PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN Program Peningkatan Kapasitas Perencanaan Program Pembangunan Sistem Informasi/Data Base Jalan, Jembatan dan Pengairan Meningkatnya Kapasitas Perencanaan Kegiatan Prosentase Jumlah Proyek sesuai Spesifikasi Teknis dan Tepat Waktu KEBIJAKAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI YANG BAIK Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Meningkatnya Pengelolaan Sistem Administrasi dan Koordinasi Prosentase Pengelolaan dan Perbaikan Sistem Pengadministrasian RENCANA TINGKAT CAPAIAN (TARGET) REALISASI 2012 PROSENTASE PENCAPAIAN RENCANA TINGKAT CAPAIAN TARGET (%) PENILAIAN 450 kegiatan 352 kegiatan 78,22% Sedang 80% 80% 100,00% Baik Sumber : Data Penilaian Capaian Kinerja Pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan Tahun 2012 Target dan realisasi dilakukan dengan skala pengukuran ordinal yang diasumsikan sebagai berikut : - 85% : Baik - 75% x < 85% : Sedang - 55% x < 75% : Cukup - < 55% : Kurang Dari data diatas bisa dilihat bahwa tidak semua pekerjaan yang di lakukan oleh pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan mencapai target yang sudah direncanakan. Ada beberapa pekerjaan yang tidak sinkronisasi antara rencana tingkat capaian dengan realisasi pekerjaan yang telah dilakukan, bahkan ada beberapa pekerjaan yang penilaiannya kurang. 5. Terdapat beberapa kasus pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh pegawai dinas Bina Marga dan Pengairan seperti tidak masuk kerja, terlambat masuk kerja, pulang lebih awal, cara berpakaian, cara berbicara serta pelanggaran pekerjaan lainnya, ini bisa dilihat melalui tabel 1.5 sebagai berikut:

8 No Tabel 1.5 Catatan Pelanggaran Pegawai Jenis Pelanggaran Kasus Pelanggaran Tahun 2011 Tahun 2012 1 Pelanggaran Disiplin a. Tidak masuk kerja 34 kasus 49 kasus b. Terlambat masuk kerja 219 kasus 241 kasus c. Pulang lebih awal 244 kasus 278 kasus d. Cara berpakaian 39 kasus 45 kasus e. Cara berbicara 3 kasus 4 kasus 2 Pelaksanaan pekerjaan a. Perencanaan pekerjaan - - b. Pelaksanaan pekerjaan 4 kasus 6 kasus c. Laporan pekerjaan 4 kasus 6 kasus Sumber : Bagian evaluasi dan pelaporan Dinas Bina Marga dan Pengairan Tahun 2011 dan Tahun 2012 Dari data diatas bisa dilihat tingkat pelanggaran yang terjadi yang dilakukan oleh pegawai di Dinas Bina Marga dan Pengairan dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Beranjak dari permasalahan yang ada, kemudian timbul pertanyaan mengenai permasalahan tersebut, yaitu mengapa disiplin kerja seorang pegawai bisa seperti itu? Dan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan disiplin kerja pegawai bisa seperti itu? Pentingnya permasalahan disiplin kerja pegawai yang terjadi di Dinas Bina Marga untuk dikaji yaitu tidak terlepas dari fungi dan kedudukan pegawai dalam organisasi/lembaga. Pegawai merupakan aset organisasi/lembaga yang utama sebagai perencana dan pelaku aktif dari setiap aktivitas organisasi/lembaga. Organisasi/lembaga harus benar-benar memperhatikan kondisi pegawainya, terutama disiplin dalam bekerja yang dilakukan oleh pegawainya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh organisasi/lembaga, untuk selalu senantiasa mengawasi para pegawainya dalam bekerja agar terhindar dari kemungkinan timbulnya

9 pelanggaran-pelanggaran disiplin dalam bekerja, sehingga kualtitas kerja pegawai dapat terjaga demi tercapainya tujuan organisasi dalam memberikan pelayanan pada masyarakat. Banyak faktor yang menyebabkan maslah disiplin kerja ini terjadi pada pegawai di Dinas Bina Marga dan Pengairan yang menyebabkan kurang maksimalnya pegawai dalam bekerja, mulai dari besar kecilnya pemberian kompensasi, ada tidaknya keteladanan pemimpin dalam perusahaan/organisasi, ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan, keberanian pemimpin dalam mengambil keputusan, ada tidaknya pengawasan pemimpin, ada tidaknya perhatian kepada para karyawan, serta diciptakan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin. Melihat pada fenomena diatas, kondisi seperti ini tentunya tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Dalam upaya Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Karawang untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, Dinas Bina Marga dan Pengairan dihadapkan pada permasalahan mengenai disiplin pegawai yang dilami oleh pegawainya. Maka untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan adanya sebuah dorongan yang dapat mengurangi permasalahan disiplin kerja pegawai. Salah satu cara atau upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan pengawasan, yaitu khususnya pengawasan yang melekat. Hal ini dikarenakan dengan adanya pengawasan yang melekat, maka pegawai akan merasa dirinya terawasi dan akan bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. Jika kondisi ini sudah bisa tercapai maka akan meminimalisir timbulnya pelanggaran disiplin yang terjadi

10 pada pegawai. Hal ini juga akan berdamapak pada pencapaian tujuan organisasi yang telah di rencanakan sebelumnya. Tujuan pengawasan melekat sesuai dengan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1989 yaitu terciptanya kondisi yang mendukung kelancaran dan ketepatan pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan, kebijaksanaan, sencana dan peraturan perundangundangan yang berlaku yang dilakukan oleh atasan langsung. Hal ini senada dengan tujuan pengawasan melekat yang dijelaskan dalam Kepmen No.23 tahun 2002 dalam pasal 7 ayat (2), yaitu : Pengawasan melekat diarahkan pada terbentuknya suatu sistem kerja yang mampu dan sasaran organisasi serta mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang, penyimpangan, pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan wawancara dengan sekretaris Dinas Bina Marga dan Pengairan. Diketahui bahwa jenis pengawasan yang dilakukan di Dinas Bina Marga dan Pengairan ada 3 (tiga) macam yakni: 1. Pengawasan pegawai Pengawasan pegawai adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan tertinggi atau atasan langsung terhadap sikap, kerapihan serta kedisiplinan bawahannya. Agar dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang dan penyimpangan dari ketentuan-ketentuan, peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. 2. Pengawasan pekerjaan Pengawasan pekerjaan adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan tertinggi atau atasan langsung terhadap pekerjaan serta hasil kerja bawahannya. Agar dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang

11 dan penyimpangan dari ketentuan-ketentuan, peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. 3. Pengawasan anggaran Pengawasan anggaran adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan tertinggi atau atasan langsung serta dibantu oleh bagian keuangan terhadap anggaran operasional kerja. Agar dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang dan penyimpangan dari ketentuan-ketentuan, peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. Dari ketiga jenis pengawasan di atas jenis pengawasan pegawailah yang akan menjadi fokus penelitian ini, yakni tentang disiplin kerja pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan. Pengawasan yang dilakukan disini adalah pengawasan yang dilakukan oleh kepala bagian dari masing-masing bagian yang di bawahinya, sebab yang bertanggung jawab langsung atas pegawai adalah kepala bagiannya masing-masing. Hal ini senada dengan pernyataan yang dilontarkan oleh sekretaris Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Karawang yakni Bapak H. Ruskandar, beliau mengungkapkan: Pengawasan melekat itu dilakukan secara berjenjang, untuk pengawasan sekretaris dinas, kepala sub bagian (KASUBAG), kepala bidang (KABID) serta kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) itu diawasi oleh kepala dinas secara langsung. Tetapi untuk pengawasan pegawai itu dilakukan oleh atasannya langsung yakni kepala sub bagian (KASUBAG), kepala bidang (KABID) serta kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) nya masingmasing. Sistem pengawasan yang dilakukan kepada pegawai adalah sistem pengawasan intern dimana pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam lingkungan unit organisasi yang bersangkutan. Sistem pengawasan dalam bentuk ini dapat dilakukan dengan cara pengawasan yang

12 dilakukan secara rutin oleh pimpinan langsung yang nantinya akan dilaporkan kepada kepala dinas. Pengawasan melekat merupakan salah satu cara pengawasan yang paling efektif, karena jarak antara objek dengan subjek pengawasan adalah begitu dekat sehingga setiap gejala penyimpangan kerja pegawai akan lebih mudah dan lebih cepat terlihat. Oleh karena itu pengawasan melekat dapat berjalan baik jika terdapat peran aktif dari pimpinan langsung. Adapun jadwal pengawasan yang sering dilakukan oleh kepala bagian yang ada di Dinas Bina Marga dan Pengairan adalah sebagai berikut: Tabel 1.6 Tabel Pelaksanaan Pengawasan No Kegiatan yang di awasi Pelaksanaan pengawasan 1 Apel pagi dan sore Satu minggu sekali pada akhir minggu 2 Presensi pegawai Dua minggu sekali pada 3 Kinerja pegawai akhir minggu Satu bulan sekali pada akhir bulan Sumber : Hasil wawancara dengan sekeretaris Dinas Bina Marga dan Pengairan Untuk pengawasan apel pagi dan sore dilakukan setiap seminggu sekali pada akhir minggu dilakukan perhitungan frekuensi pegawai yang tidak mengikuti apel pagi dan apel sore selanjutnya dibuat laporan perminggu sebagai gambaran untuk para pimpinan langsung dalam hal ini kepala bagian agar bisa menentukan sikap atau tindakan terhadap pegawai yang tidak datang apel pagi dan sore. Dilaksanakannya pengawasan apel pagi dan sore ini adalah agar dapat memonitoring siapa saja pegawai yang datang terlambat dan pegawai yang datang tepat waktu serta pegawai yang pulang tidak pada waktunya. Ketika teguran dari

13 pimpinan langsung tidak di gubris maka akan ada pelaporan langsung kepada kepala dinas untuk selanjutnya diberikan tindakan berupa sanksi atas pelanggaran yang dilakukan. Untuk pengawasan presensi dan kinerja dilaksanakan setiap satu bulan sekali pada akhir bulan, proses pelaksanaannya sama seperti pengawasan apel pagi dan sore. Meskipun pengawasan sudah dilakukan secara berkala tetapi masih terdapat beberapa kendala yang terjadi di lapangan, diantaranya: 1. Kurang tegasnya pimpinan dalam menyikapi pegawai yang melakukan tindakan indisipliner, sehingga masih terdapat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai. Ini bisa dibuktikan dengan data pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai meningkat dari tahun sebelumnya, angka pelanggaran ini bisa ditekan seandainya pimpinan bisa memberikan sanksi yang lebih tegas kepada pegawai yang melakukan pelanggaran dan nantinya bisa memberikan efek jera kepada pegawai yang melanggar disiplin. Dalam melaksanakan pengawasan melekat menurut Hadari Nawawi (1993: 43) para pimpinan harus mempunyai: 1. Kemauan, tekad dan keberanian untuk melakukan pengawasan dan melaksanakan tindak lanjutnya; 2. Kesungguhan dan kecermatan melakukan secara nyata kegiatan pengawasan yang menjadi tanggung jawabnya; 3. Kemampuan untuk melaksanakan pengawasan, baik kemampuan manajerial maupun penguasaan teknis tentang kegiatan yang dilaksanakan bawahan. 2. Kurang sadarnya pegawai dalam menaati peraturan yang telah ditetapkan, sehingga mengakibatkan seringnya mengulang-ulang kesalahan yang sama. Salah satunya bisa dilihat dari data diatas banyak yang tidak mengikuti apel

14 pagi dan sore sehingga pegawai merasa biasa tidak melakukan kewajibannya yakni mengikuti apel pagi dan sore. Studi pendahuluan yang dilakukan oleh beberapa peneliti mengenai disiplin pegawai, Nonince Irianti (2007: 83) pengendalian kerja/pengawasan dapat berpengaruh terhadap disiplin kerja pegawai meskipun pengaruh yang diberikan hanya (13,7%) saja, sedangkan sisanya yaitu (86,3%) ditentukan oleh faktorfaktor lain. Rosmiyati Husniah (2011: 134) pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja sebesar (77 %). Dapat di tarik kesimpulan bahwa variabel pengawasan memiliki pengaruh terhadap disiplin kerja sebesar (77 %) dan sisanya (23 %) adalah pengaruh dari faktor lain. Yadi Septiadi (2011: 124) menunjukan Koefisien determinasi dari variabel pengawasan terhadap variabel disiplin pegawai adalah (21%), jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa pengawasan memiliki pengaruh terhadap disiplin kerja pegawai sebesar (21%) dan sisanya dipengaruhi faktor lain. Hasil penelitian-penelitian di atas menggambarkan masih banyak pegawai yang kurang berdisiplin terhadap peraturan yang ada. Jika kondisi seperti terus dibiarkan tanpa ada tindakan tepat akan menimbulkan masalah bagi para pegawai dalam bekerja dan terganggunya tujuan organisasi/lembaga yang telah ditetapkan. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bedjo Siswanto Sastrohadiwiryo (2005 : 292) bahwa: Dengan disiplin kerja pegawai dapat melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya serta mampu memberikan pelayanan yang maksimum kepada pihak tertentu yang berkepentingan dengan organisasi sesuai dengan bidang pekerjaan yang diberikan kepadanya.

15 Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, penelitian yang penulis lakukan sifatnya adalah melanjutkan penelitian yang sudah ada dan diharapkan ada penemuan-penemuan baru yang peneliti temukan nanti. Oleh karena itu, dalam upaya memahami dan memecahkan masalah fenomena disiplin kerja pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Karawang dan hubungannya dengan masalah pengawasan melekat, maka diperlukan pendekatan tertentu untuk memecahkan masalah tersebut. Berdasarkan permaslahan yang dikaji, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan stimulus. Luthans (1985) dan Gibson, et al. (1997), dalam Sambas (2011:63) mengungkapkan bahwa konsep dasar psikologi pada dasarnya dilandasi oleh proses-proses psikis pada diri individu atau organisme di dalam lingkungan tertentu. Dimana perilaku tergantung pada individu dan lingkungan yang dihadapinya. Artinya, individu dan lingkungan akan selalu berada dalam satu hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Satu hal yang perlu dikemukakan, perilaku yang muncul sebagai akibat interaksi antara stimulus dan organisme. Dalam konteks penelitian ini, pengawasan melekat mewakili situasi yang menyediakan stimulus yang dapat diamati, dihayatai, dan dialami oleh organisme atau individu, melahirkan persepsi atau interpretasi terhadap stimuli yang pada akhirnya melahirkan kemampuan tertentu berupa perilaku khususnya perilaku didiplin. Selanjutnya perilaku disiplin yang ditampilkan individu akan menimbulkan perubahan dilingkungannya berupa hasil dari perilaku disiplin tersebut. Dengan demikian berdasarkan model teori perilaku ini, pengawasan melekat dapat memberikan pengaruh terhadap disiplin kerja pegawai.

16 Mengacu pada keseluruhan paparan di atas, dan dalam upaya memahami dan memecahkan masalah disiplin kerja pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan, maka perlu dan penting untuk dilakukan penelitian tentang pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja pegawai. Inilah yang menarik penulis untuk mengadakan penelitian, dan selanjutnya akan dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul Pengaruh Pengawasan Melekat terhadap Disiplin Kerja Pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan. 1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah Inti kajian dalam permasalahan ini adalah disiplin kerja pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan. Aspek ini yang menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian serius dan penting ditangani agar sikap atau perilaku disiplin pegawai dapat terus terjaga dengan baik, demi tercapainya kinerja pegawai yang maksimal dalam pencapaian tujuan organisasi dalam memberikan pelayanan pada masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya suatu pendekatan tertentu terhadap pegawai agar permasalahan disiplin pegawai dapat dihindari atau bahkan ditiadakan. Banyak faktor yang mempengaruhi disiplin kerja pegawai. Oleh karena itu, perlu adanya suatu pendekatan tertentu terhadap para pegawai agar pegawai menjadi lebih disiplin. Menurut pendapat Gouzali Saydam (2005:291) terdapat tujuh hal yang dapat mempengaruhi disiplin kerja pegawai yaitu sebagai berikut: 1. Besar kecilnya pemberian kompensasi. 2. Ada tidaknya keteladanan pemimpin dalam perusahaan/organisasi. 3. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan. 4. Keberanian pemimpin dalam mengambil keputusan. 5. Ada tidaknya pengawasan pemimpin. 6. Ada tidaknya perhatian kepada para karyawan.

17 7. Diciptakan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin. Berdasarkan hasil kajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat disiplin pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan, diduga faktor determinan yang paling berpengaruh terhadap tingkat disiplin pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan yaitu faktor pengawasan. Pengawasan khususnya pengawasan melekat ini perlu ditingkatkan lagi sejak saat ini juga melalui proses pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan. Dengan lebih meningkatkan pengawasan melekat yang dilakukan oleh pimpinan, pegawai tidak akan bisa lagi mencari-cari alasan untuk bermain-main dalam bekerja. Dengan pengawasan yang melekat diharapkan agar tujuan dan sasaran kegiatan usaha unit-unit pemerintah dapat tercapai secara efektif dan efisien, dilaksanakan sesuai dengan tugas, fungsi rencana atau programnya, pembagian dan pendelegasian tugas, rumusan kerja, pedoman pelaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, masalah disiplin kerja pegawai dalam penelitian ini akan dikaji dalam perspektif pengawasan melekat. Masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian ini, dirumuskan dalam pernyataan maslah (problem statement) sebagai berikut: Pengawasan yang ada di Dinas Bina Marga dan Pengairan belum sepenuhnya efektif, sehingga hal ini menyebabkan timbulnya masalah disiplin kerja pegawai yang terjadi di Dinas Bina Marga dan Pengairan. Kondisi semacam ini harus segera ditanggulangi mengingat bila tidak ditanggulangi, akan memberikan dampak terhadap menurunnya kinerja pegawai dan tersendatnya tujuan organisasi/lembaga, sehingga tugas Dinas Bina Marga dan Pengairan

18 dalam memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat tidak berjalan secara maksimal. Berdasarkan pernyataan masalah (problem statement) di atas, masalah dalam penelitian ini secara spesifik dirumuskan dalam pertanyaan penelitian (research question) sebagai berikut: 1. Bagaimana gambaran efektivitas Pengawasan Melekat pada Dinas Bina Marga dan Pengairan? 2. Bagaimana gambaran tingkat Disiplin Kerja Pegawai Pada Dinas Bina Marga dan Pengairan? 3. Adakah pengaruh Pengawasan Melekat Terhadap Disiplin Kerja Pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan? 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk memperoleh pengetahuan dan melakukan kajian secara ilmiah tentang pengaruh pengawasan melekat terhadap disiplin kerja pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Karawang. Analisis tersebut diperlukan untuk mengetahui pengaruh pengawasan melekat terhadap disiplin kerja pegawai Dinas Bina Marga dan Pengairan. Berdasarkan rumusan masalah di atas, peranan pengawasan melekat bagi pegawai diharapkan dapat mewujudkan dan menumbuhkan perilaku yang positif. Namun secara khusus tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui bagaimana gambaran efektivitas Pengawasan Melekat. 2. Untuk mengetahui bagaimana gambaran tingkat Disiplin Kerja Pegawai.

19 3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Pengawasan Melekat Terhadap Disiplin Kerja Pegawai. 1.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis. 1. Secara Teoritis Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi kajian yang lebih komprehensif untuk pengembangan ilmu pengetahuan di bidang manajemen, khususnya bidang Manajemen Sumber Daya Manusi (MSDM). 2. Secara Praktis Bagi organisasi, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi organisasi untuk dijadikan informasi dan bahan penilaian dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengawasan melekat dalam mengurangi resiko pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh pegawai. Bagi peneliti, penelitian ini berfungsi sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman sehingga dapat mengoptimalisasikan teori yang dimiliki untuk mencoba menganalisis fakta, data, gejala, dan peristiwa yang terjadi untuk dapat ditarik kesimpulan secara objektif dan ilmiah.