A. Dari segi metodologi:

dokumen-dokumen yang mirip
STANDAR UNIVERSITAS DHYANA PURA

SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN GURU

Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK

Ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia sosial. yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk sosial.

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

BAB I PENDAHULUAN. pokok dalam membentuk generasi masa mendatang. Hal tersebut sebagaimana

om KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

HAKIKAT PEMBELAJARAN IPS.

CAPAIAN PEMBELAJARAN BERBASIS KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENGERTIAN FILSAFAT INDONESIA PRA MODERN

LEARNING OUTCOME S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

MEMBANGUN ILMU PENGETAHUAN DENGAN KECERDASAN EMOSI DAN SPIRITUAL

KODE ETIK DOSEN STIKOM DINAMIKA BANGSA

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 124 TAHUN 2014 TENTANG

A. Program Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) 1. Standar Kompetensi Lulusan Jenjang Strata Dua (S2) Progam Magister

DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 38/DIKTI/Kep/2002 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN TERHADAP PSIKOLOGI PENDIDIKAN HUMANISTIK

13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

Rasional. Visi, Misi, dan Tujuan

PENDEKATAN ILMIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MADRASAH IBTIDAIYAH (Studi Analisis Desain Strategi Pendidikan Agama Islam)

MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS TRISAKTI

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI MULTI MEDIA

PEDOMAN KOMITE DISPLIN DOSEN FAKULTAS EKONOMI & BISNIS

AGAMA dan PERUBAHAN SOSIAL. Oleh : Erna Karim

KODE ETIK DOSEN MUKADIMAH BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

MATERI KULIAH ETIKA BISNIS. Pokok Bahasan: Pancasila sebagai Landasan Etika Bisnis

Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Finy F. Basarah, M.Si. Modul ke: Fakultas Ilmu Komputer

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang bersumber. dari kehidupan sosial masyarakat yang diseleksi dengan menggunakan

IPTEK DAN SENI DALAM ISLAM

WORK SHOP KURIKULUM MIH

KODE ETIK PEGAWAI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan dapat diartikan secara umum sebagai usaha proses pembentukan

KANTOR PENJAMINAN MUTU INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

BY. IRMA NURIANTI,SKM. MKes PRINSIP ETIKA DAN MORALITAS

2016, No Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidik

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memiliki peran penting dalam peradaban manusia. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Adapun kesimpulan tersebut terdapat dalam poin-poin berikut:

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan dapat meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

2 pendidikan tinggi harus memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan pera

BAB V PENUTUP. tesis ini yang berjudul: Konsep Berpikir Multidimensional Musa Asy arie. dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam, sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Proses pendidikan tidak dapat dipisahkan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan

Pendidikan Pancasila. PENDAHULUAN (Dasar-Dasar, Tujuan Penyelenggaraan, Capaian Dan Metode Pembelajaran Pendidikan Pancasila) Dr. Saepudin S.Ag. M.Si.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dalam menjalani kehidupan sosial dalam

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan maupun teori belajar dan merupakan penentu utama keberhasilan

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah aspek penting bagi perkembangan sumber daya manusia,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta

2. Akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR KOMPETENSI LULUSAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

KURIKULUM PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN JENJANG MAGISTER (S2) SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Setiap manusia memerlukan berbagai macam pengetahuan dan nilai. Terkait

KATALOG PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Nomor 95/PUU-XIV/2016 Institusi Penyelenggara Pendidikan untuk Profesi Advokat

Adela Siahaan dan Siti Jubaedah Pendidikan Sejarah, FKIP-UNRIKA

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah proses budaya untuk meningkatkan harkat dan. martabat manusia, melalui proses yang panjang dan berlangsung

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS BAITURRAHMAH No. 397/F/Unbrah/VIII/2013 KODE ETIK TENAGA KEPENDIDIKAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

Visi Visi Universitas Dhyana Pura adalah Perguruan Tinggi Teladan dan Unggulan.

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi

SIMULASI TENTANG CARA PENGISIAN SKP DOSEN TETAP YAYASAN. KOPERTIS WILAYAH I SUMATERA UTARA 29.d 30 JANUARI 2018

FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN NASIONAL 1 Paul Suparno

KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM

BAB I PENDAHULUAN. unutk mencapai tujuan pembangunan, yaitu suatu masyarakat yang sejahtera,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Sosiologi pada dasarnya mempunyai dua pengertian dasar yaitu sebagai

No Profil Lulusan Deskripsi Profil

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan karakter merupakan salah satu upaya kebijakan dari pemerintah

B. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN BUDI PEKERTI SMALB TUNARUNGU

Gereja di dalam Dunia Dewasa Ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis

KISI KISI UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN

I. PENDAHULUAN. kehidupan lainnya seperti keluarga, sosial kemasyarakatan, pemerintahan,

BAB I PENDAHULUAN. tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di

PENDAHULUAN. melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta memajukan

KEPUTUSAN KETUA SEKOLAH TINGGI ILMU KOMPUTER (STIKOM) DINAMIKA BANGSA Nomor :104/ SK/ STIKOM-DB/ VII/ 2007

BAB III METODE PENELITIAN. Metode merupakan cara kerja dalam memahami objek yang menjadi

Pendidikan Pancasila. Berisi tentang Pancasila sebagai Dasar Pengembangan Ilmu. Dosen : Sukarno B N, S.Kom, M.Kom. Modul ke:

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 61/KEP/UDN-01/VI/2007. tentang KODE ETIK DOSEN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

BAB I PENDAHULUAN. besar dan kecil mempunyai berbagai keragaman. Keragaman itu menjadi

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2013

Transkripsi:

Lampiran 1 UNSUR-UNSUR PEMBEDA ANTARA DENGAN SEBAGAI BAGIAN DARI RUMPUN ILMU HUMANIORA UNSUR Cakupan Ilmu dan Kurikulum Rumpun Ilmu Agama merupakan rumpun Ilmu Pengetahuan yang mengkaji keyakinan tentang ketuhanan, menjelaskan secara deskriptif literal teks-teks suci agama, ajaran/doktrin, akhlak, aturan/tata tertib beragama dan upacara/tata ibadat agama, serta melatih dan mengajarkan agama tertentu agar penganutnya mampu menghayati agamanya. Titik tolak Ilmu Agama adalah Allah dan Sabda-Nya. Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi termasuk dalam rumpun Ilmulmu Humaniora dan bukan dalam rumpun Ilmu Agama, karena: A. Dari segi metodologi: Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi mengkaji dan mendalami secara kritis dan sistematis konsekuensikonsekuensi pilihan untuk beriman, yang berkaitan dengan realitas, hakikat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, dan makna sejarah yang menentukan kualitas hidup manusia. Titik tolak Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi adalah manusia yang menggunakan akal budinya. Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi mengandaikan metode filosofis, karena itu keduanya tidak dapat dipisahkan dari Ilmu Filsafat. 1

Penjelasan atas Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 15. Penjelasan atas Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pasal 10 ayat 2 huruf a. Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pasal 10 ayat 2 huruf b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pasal 1 ayat 5 (asal tidak hanya membatasi diri pada nilai intrinsik kemanusiaan). 1) Untuk menerapkan metode tersebut, Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi berdialog dengan ilmu-ilmu kemanusiaan, seperti filsafat, psikologi, antropologi, sosiologi, Ilmu Sejarah, Ilmu Bahasa, Ilmu Seni, dan lain sebagainya. Dengan demikian, metode Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi bersifat lintas ilmu (inter-disipliner). 2) Seperti ilmu-ilmu dalam rumpun Ilmu Humaniora, Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi memakai pendekatan ilmiah yang bersifat kritis, sistematis, analitis, interpretatif, hermeneutis, historis, filosofis dan interdisipliner untuk memahami manusia yang beriman dan beragama. 2

B. Dari segi isi/materi: Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi, dalam dialog dengan ilmu-ilmu humaniora (seperti filsafat, psikologi, antropologi, sosiologi, Ilmu Sejarah, Ilmu Bahasa, Ilmu Seni, dan lain sebagainya) berusaha memberi pertanggungjawaban secara ilmiah, bahwa: 1) Pada hakikatnya manusia adalah makhluk religius yang merindukan Yang Transenden dan Yang Imanen serta berusaha memahami-nya secara rasional (fides quaerens intellectum); 2) Pilihan manusia untuk percaya kepada Yang Transenden dan Yang Imanen itu tidak bertentangan dengan kemanusiaan. Sebaliknya, manusia baru dapat sungguh mewujudkan kemanusiaannya (humanitas) kalau ia tidak mengabaikan dimensi transenden, imanen, dan religius dari hidupnya. 3

Penjelasan: Dari segi metodologi: Ilmu Agama memakai unsur-unsur utama dalam upaya menghasilkan profil lulusan yang dikehendakinya, yakni ajaran, akhlak, ritus, pelaksanaan dan ketrampilan lainnya yang langsung menjawab kebutuhan penganut agama. Ilmu Agama bertugas menyampaikan doktrin-doktrin agama, dan secara langsung membina iman, serta memperbaiki moral. Karena itu, dari segi metode dalam Ilmu Agama, agama didekati dari sudut pandang iman kepercayaan tanpa disertai dengan argumentasi dan pembuktian rasional. Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan doktrin-doktrin atau aqidah-aqidah agama melainkan juga dan terutama mengkaji serta mendalaminya secara kritis. Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi tidak dimaksudkan secara langsung untuk membina iman dan moral/akhlak, karena pendekatannya bersifat kritis-rasional dan bukan instruktif. Lebih dari pada itu, Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi mengkaji dan mendalami (1) konsekuensi-konsekuensi dari pilihan untuk beriman dan beragama, (2) pandangan seseorang tentang realitas, (3) hakikat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, serta (4) makna sejarah yang menentukan kualitas hidup seseorang. Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi memberi pertanggungjawaban secara ilmiah atas pandangannya mengenai manusia yang beriman dan beragama, dalam dialog dengan ilmu-ilmu humaniora. Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi juga mengkaji dan mendalami pengandaianpengandaian antropologis-kemanusiaan (humaniora) yang memungkinkan manusia untuk percaya kepada Yang Ilahi. Dalam dialog terutama dengan ilmu-ilmu humaniora (seperti 4

filsafat, psikologi, antropologi, sosiologi, Ilmu Sejarah, Ilmu Bahasa, Ilmu Seni, dan lain sebagainya) akan ditunjukkan, bahwa dalam diri manusia terkandung hal-hal yang mendorongnya untuk mencari sesuatu yang melampaui dirinya, termasuk Yang Ilahi. Perlu ditekankan, bahwa titik tolak kajian tersebut adalah manusia itu sendiri. Karena itu, seperti Ilmu Humaniora lainnya, Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi memakai pendekatan ilmiah yang bersifat analitis-kritis, interpretatif-hermeneutis, historis, filosofis, dan interdisipliner atas manusia yang beriman dan beragama. Dalam Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi, agama didekati tidak hanya dari sudut pandang iman kepercayaan, melainkan sebagai sebuah fenomena kemanusiaan-sosial yang diteliti secara ilmiah dan kritis. Dari segi isi/materi: Bersama dan dalam dialog dengan ilmu-ilmu kemanusiaan/humaniora lain (seperti filsafat, psikologi, antropologi, sosiologi, Ilmu Sejarah, Ilmu Bahasa, Ilmu Seni, dan lain sebagainya), Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi berusaha memberi pertanggungjawaban secara ilmiah, bahwa pada hakekatnya manusia itu adalah makhluk religius yang merindukan Yang Transenden dan Yang Imanen; bahwa memilih untuk percaya pada Yang Ilahi itu tidak bertentangan dengan kemanusiaan. Sebaliknya, manusia baru dapat sungguh-sungguh mewujudkan kemanusiaannya (humanitas) jika ia tidak mengabaikan dimensi transenden, imanen, dan religius dari hidupnya. 5

Profil Lulusan Agamawan yang beriman dan bertakwa serta memiliki keahlian di bidang ilmu agama. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 30 ayat 2, dan penjelasan atas pasal 15 dan pasal 37 ayat (1) dari Undang-Undang yang sama. Ilmuwan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, sistematis, analitis, interpretatif, hermeneutis, historis, filosofis, dan interdisipliner atas manusia yang beriman dan beragama. Penjelasan: Lulusan yang beriman dan bertakwa bukanlah ciri khas eksklusif Ilmu Agama, namun merupakan ciri khas semua disiplin ilmu, sebagaimana diamanahkan oleh undang-undang (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I, Pasal 1 ayat 1; Bab II, Pasal 3). Hal yang sama berlaku untuk ilmu-ilmu lain; misalnya, lulusan dari rumpun Ilmu Alam juga memiliki ciri khas beriman dan bertakwa. Itu berarti, Ilmu Humaniora juga menghendaki profil lulusan yang beriman dan bertakwa. Tetapi fokus lulusan Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi adalah ilmuwan yang mengkaji dan 6

mendalami, memajukan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang humaniora. Pengguna Lulusan Terutama lembaga agama dan lembaga pendidikan keagamaan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 7 ayat 3 huruf e, dan pasal 7 ayat 4. Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 37 ayat 1. Penjelasan: Terutama lembaga pendidikan umum, masyarakat ilmiah, masyarakat lintas-agama, dan berbagai institusi yang membutuhkan ahli Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 60 ayat 2 dan 3. Mengingat Ilmu Agama diselenggarakan oleh lembaga agama tertentu, maka lulusannya akan dimanfaatkan oleh lembaga agama tersebut. Sebaliknya, Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi bersifat lintas-agama dan lintas-ilmu, maka lulusannya pun dapat masuk ke dalam masyarakat ilmiah yang lebih luas dan beragam dalam agama dan ilmu, demikian juga bidang 7

profesinya. Penyelenggara Masyarakat agama. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 7 ayat 3 e dan 7 ayat 4. Penjelasan atas Pasal 15 ayat 2 dari Undang-Undang yang sama. Masyarakat yang membentuk badan penyelenggara berbadan hukum yang berprinsip nirlaba dengan bentuk yayasan, perkumpulan, dan sejenisnya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 60 ayat 2 dan 3. Penjelasan: Mengingat profil lulusan dari Ilmu Agama pertama-tama adalah agamawan yang beriman dan bertakwa serta memiliki keahlian di bidang ilmu agama, maka lembaga agamalah yang paling bertanggungjawab dalam menyelenggarakan pendidikan Ilmu Agama. Sebaliknya, Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi sebagai bagian dari Ilmu Humaniora diselenggarakan oleh yayasan pendidikan, yang fokus utamanya terletak pada usaha menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki keahlian pada bidang ilmu pengetahuan humaniora tertentu, dalam hal ini Ilmu Telogi dan Ilmu Pendidikan Teologi. 8

Wewenang Kementerian Kementerian Agama Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 7 ayat 3 e dan ayat 4. Penjelasan: Kementerian Pendidikan dan Kebudayan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 1 ayat 21 dan ayat 24; Pasal 60 ayat (2). Berdasarkan perbedaan-perbedaan yang sudah dijelaskan di atas, dan juga memperhatikan perbedaan visi-misi di antara kedua Kementerian, maka tempat yang tepat yang sudah berlaku sejak tahun 1996 bagi Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi adalah di bawah kewenangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ilmu Agama diselenggarakan oleh Kementerian Agama yang memiliki visi masyarakat Indonesia yang taat beragama, rukun, cerdas, mandiri dan sejahtera lahir batin. Sedangkan, Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi lebih sesuai diselenggarakan di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki visi Terselenggaranya layanan prima pendidikan dan kebudayaan nasional untuk membentuk insan Indonesia yang cerdas dan berkarakter kuat. 9

Berdasarkan semua uraian di atas, kami berpendapat bahwa: 1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Bagian Kedua, Paragraf 2, Pasal 10, mengenai Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, sangat mengerdilkan dan mempersempit ilmu-ilmu yang sudah berkembang secara internasional. Misalnya, dalam penjelasan Undang- Undang tersebut, Pasal 10, Ilmu Pendidikan hanya dimasukkan sebagai bagian dari rumpun Ilmu Terapan. Padahal Ilmu Pendidikan adalah ilmu tersendiri. Demikian pula dari penyempitan dan pengerdial tersebut, Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi tidak diakui sebagai ilmu tersendiri, dan tidak terbedakan dari Ilmu Agama. 2) Pada tempatnyalah, sesuai dengan deskripsi dalam Unsur-unsur Pembeda antara Rumpun Ilmu Agama dengan Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan sebagai Bagian dari Rumpun Ilmu Humaniora tersebut di atas, pengembangan Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi dalam kerangka Pendidikan Tinggi seharusnya tetap berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan bukan di bawah Kementerian Agama. 3) Berkenaan dengan pengerdilan dan penyempitan Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi tersebut, maka diperlukan kecermatan dalam penyusunan Peraturan Pemerintah (PP), baik PP yang berkaitan dengan Ilmu Agama yang diserahkan pengelolaannya kepada Kementrian Agama maupun PP yang menyangkut pengembangan Ilmu- Ilmu Alam dan Ilmu-ilmu lain yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang di dalam Undang-undang tentang Pendidikan Tinggi disebut Kementerian (lihat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 1, ayat 21 dan 24). Dengan kercermatan yang benar dan akurat dalam perumusan semua PP yang terkait, diharapkan akan mengembalikan posisi Ilmuilmu pada tempat yang semestinya. 10

4) Sebagai masyarakat ilmiah yang juga bertanggungjawab pada pengembangan ilmu, kami merasa bertanggungjawab untuk turut serta dalam perumusan setiap PP yang akan dihasilkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama. 5) Selain turut serta dalam perumusan PP, kami juga merasa bertanggungjawab untuk mengawal setiap PP yang akan dihasilkan agar tetap memberi tempat pada semua bidang ilmu, khususnya Ilmu Teologi dan Ilmu Pendidikan Teologi, yang sudah berkembang selama berabad-abad dalam masyarakat ilmiah internasional. Para penyusun: PERSETIA (Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia) KoLITI (Konsorsium Lembaga Ilmu Teologi Indonesia) KIPTI (Konsorsium Ilmu Pendidikan Teologi Indonesia) Yogyakarta, 9 Februari 2013 11