DAN CABANG PADA ENAM KLON KARET ABSTRACT

dokumen-dokumen yang mirip
KETAHANAN ENAM KLON KARET TERHADAP INFEKSI CORYNESPORA CASSIICOLA PENYEBAB PENYAKIT GUGUR DAUN

KETAHANAN ENAM KLON KARET TERHADAP INFEKSI Corynespora cassiicola PENYEBAB PENYAKIT GUGUR DAUN ABSTRACT

PENGARUH PUPUK KALIUM TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN CORYNESPORA PADA PEMBIBITAN KARET

PENGARUH LAMA DAN INTENSITAS HUJAN TERHADAP INFEKSI DAN PERKEMBANGAN PENYAKIT GUGUR DAUN CORYNESPORA PADA LIMA KLON KARET

UJI KETAHANAN BEBERAPA GENOTIPE TANAMAN KARET TERHADAP PENYAKIT Corynespora cassiicola DAN Colletotrichum gloeosporioides DI KEBUN ENTRES SEI PUTIH

PENYAKIT Fusarium spp. PADA TANAMAN KARET. Hilda Syafitri Darwis, SP.MP. dan Ir. Syahnen, MS.

UJI KETAHANAN BEBERAPA GENOTIPE TANAMAN KARET TERHADAP PENYAKIT Corynespora cassiicola DAN Colletotrichum gloeosporioides DI KEBUN ENTRES SEI PUTIH

Hubungan Jumlah Konidia di Udara 362 (Nurhayati, Nirwati Anwar, Abdul Mazid dan Masayu Elsa Lina

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Alexopoulus dan Mims (1979), klasifikasi jamur C. cassiicola. : Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) Wei.

EFETIVITAS EKSTRAK DAUN SIRIH TERHADAP INFEKSI Colletotrichum capsici PADA BUAH CABAI. Nurhayati

Pengaruh Pupuk Kalium Pada Ketahanan Kacang tanah 446 (Nurhayati) PENGARUH PUPUK KALIUM PADA KETAHANAN KACANG TANAH TERHADAP BERCAK DAUN CERCOSPORA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Undang-Undang No.12 tahun 1992, pasal 1 ayat 4, benih tanaman yang

KETAHANAN LAPANGAN TANAMAN KARET KLON IRR SERI 100 TERHADAP TIGA PATOGEN PENTING PENYAKIT GUGUR DAUN

PENGARUH PENYINARAN ULTRA VIOLET TERHADAP INFEKSI Corynespora cassiicola PATOGEN GUGUR DAUN CORYNESPORA PADA TANAMAN KARET

KORELASI BOBOT BENIH DENGAN KEJAGURAN BIBIT BATANG BAWAH KARET (Hevea brasilliensis Muell.-Arg.)

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi jamur Corynespora cassiicola menurut Alexopolus dan Mims. : Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.

CARA APLIKASI Trichoderma spp. UNTUK MENEKAN INFEKSI BUSUK PANGKAL BATANG (Athelia rolfsii (Curzi)) PADA BEBERAPA VARIETAS KEDELAI DI RUMAH KASSA

Charloq 1) Hot Setiado 2)

TINJAUAN LITERATUR. Klasifikasi jamur Corynespora cassiicola menurut Alexopolus dan Mims. : Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.

III. METODE PENELITIAN. Serdang Bedagai dengan ketinggian tempat kira-kira 14 m dari permukaan laut, topografi datar

PENGARUH PENYINARAN ULTRA VIOLET TERHADAP PATOGENITAS Fusarium moniliforme PENYEBAB PENYAKIT POKAHBUNG PADA TANAMAN TEBU SKRIPSI.

TINJAUAN PUSTAKA. Stadium ini ditemukan pada daun daun tua yang sedang membusuk. Jamur ini

PERAN DAUN CENGKEH TERHADAP PENGENDALIAN LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN TOMAT

Pengaruh Lama Penyimpanan dan Diameter Stum Mata Tidur terhadap Pertumbuhan Bibit Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.)

PENGARUH WAKTU PEMBERIAN MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR PERTUMBUHAN TOMAT

BAB I PENDAHULUAN. B. Tujuan Penulisan

PENGARUH POLA HARI HUJAN TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT GUGUR DAUN CORYNESPORA PADA TANAMAN KARET MENGHASILKAN

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013

KETAHANAN PADI (WAY APO BURU, SINTA NUR, CIHERANG, SINGKIL DAN IR 64) TERHADAP SERANGAN PENYAKIT BERCAK COKLAT (Drechslera oryzae) DAN PRODUKSINYA

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional di masa yang akan datang

PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JABON MERAH. (Anthocephalus macrophyllus (Roxb)Havil)

PERKECAMBAHAN BENIH TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg) YANG DISIMPAN PADA SUHU DAN PERIODE YANG BERBEDA

(Gambar 1 Gejala serangan Oidium heveae pada pembibitan karet)

Seleksi Biji untuk Batang Bawah Tanaman Karet Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Widyaiswara Muda Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi

PENGARUH PENYIMPANAN DAN FREKUENSI INOKULASI SUSPENSI KONIDIA Peronosclerospora philippinensis TERHADAP INFEKSI PENYAKIT BULAI PADA JAGUNG

EFFEK LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI PELARUT DAUN SIRIH TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA BUAH PISANG. ABSTRAK

Getas, 2 Juni 2009 No : Kepada Yth. Hal : Laporan Hasil Kunjungan Kebun Getas PTP Nusantara IX

RESPON KETAHANAN BERBAGAI VARIETAS TOMAT TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum)

PENGARUH RADIASI ULTRA VIOLET TERHADAP VIRULENSI. Fusarium oxysporum f.sp passiflora DI LABORATORIUM SKRIPSI OLEH : MUKLIS ADI PUTRA HPT

FAKTOR LINGKUNGAN DAN MODEL PERAMALAN PENYAKIT GUGUR DAUN KARET CORYNESPORA

SINERGI ANTARA NEMATODA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SKRIPSI OLEH: NENY YANTI SIREGAR AGROEKOTEKNOLOGI - HPT

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pengendalian Penyakit pada Tanaman Jagung Oleh : Ratnawati

APLIKASI Trichoderma virens MELALUI PENYEMPROTAN PADA DAUN, AKAR DAN PERENDAMAN AKAR UNTUK MENEKAN INFEKSI PENYAKIT DOWNY MILDEW PADA TANAMAN CAISIN

PERTUMBUHAN STUM MATA TIDUR KARET (Hevea brasiliensis Muell Arg.) DENGAN PEMBERIAN AIR KELAPA DAN LAMA PENYIMPANAN PADA KERTAS KORAN

Fusarium sp. ENDOFIT NON PATOGENIK

RESPON PERTUMBUHAN STUMPKARET

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Taksonomi Tanaman Karet Sistem klasifikasi, kedudukan tanaman karet sebagai berikut :

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian Laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi,

PENGARUH LILIT BATANG BAWAH DAN PUPUK FOSFAT TERHADAP PERTUMBUHAN STUM MATA TIDUR KARET (Hevea brasiliensis Muell Arg.)

STUDI KARAKTER FISIOLOGIS DAN SIFAT ALIRAN LATEKS KLON KARET (Hevea brasiliensis Muell Arg.) IRR SERI 300

KETAHANAN GENETIK BERBAGAI KLON KARET INTRODUKSI TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN

UJI KETAHANAN BEBERAPA NOMER KENTANG (Solanum tuberosum Linn.) TERHADAP SERANGAN NEMATODA SISTA KENTANG (Globodera rostochiensis Woll.

PENCAMPURAN MEDIA DENGAN INSEKTISIDA UNTUK PENCEGAHAN HAMA Xyleborus morstatii Hag. PADA BIBIT ULIN ( Eusideroxylon zwageri T et.

TINJAUAN PUSTAKA. Karakteristik Karet

PENGARUH AKSESI GULMA Echinochloa crus-galli TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI

PERTUMBUHAN STUMP KARET PADA BERBAGAI KEDALAMAN DAN KOMPOSISI MEDIA TANAM SKRIPSI OLEH : JENNI SAGITA SINAGA/ AGROEKOTEKNOLOGI-BPP

BAHAN DAN METODE. Pengambilan sampel tanaman nanas dilakukan di lahan perkebunan PT. Great

PENGARUH LAMA PENYINARAN DAN GA 3 TERHADAP INDUKSI TUNAS MIKRO PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg) SKRIPSI OLEH :

SKRIPSI OLEH : DESMAN KARIAMAN TUMANGGER Universitas Sumatera Utara

SKRIPSI OLEH : MUTIA RAHMAH AET-PEMULIAAN TANAMAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4. HASIL PENELITIAN 4.1. Pengamatan Selintas Serangan Hama dan Penyakit Tanaman Keadaan Cuaca Selama Penelitian

A. LAPORAN HASIL PENELITIAN

PENGARUH JARAK TANAM DAN POSISI RUAS STEK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum) SKRIPSI

MODUL BUDIDAYA KARET

UJI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) TERHADAP INTENSITAS SERANGAN PENYAKIT BULAI (Peronosclerospora maydis)

TINJAUAN PUSTAKA. dikembangkan sehingga sampai sekarang asia merupakan sumber karet alam.

Asystasia intrusa: PENYEBARAN BIJI DAN DOSE RESPONSE TERHADAP PARAKUAT, GLIFOSAT, DAN CAMPURAN GLIFOSAT + 2,4 - D

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit Eucalyptus spp. Ada beberapa penyakit penting yang sering menyerang tanaman. Eucalyptus spp.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas

RESPONS PERTUMBUHAN STUM MATA TIDUR KARET (Hevea brasiliensis Muell Arg.) DENGAN PEMBERIAN AIR KELAPA DAN PUPUK ORGANIK CAIR

Persembahan alit kepada. serta kmg Didinf; seomg. ibunda Doddy S.M, ayahanda almarhum,

PENYAKIT BIDANG SADAP

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Pemanfaatan Teknik Kultur In Vitro Untuk Mendapatkan Tanaman Pisang Ambon Tahan Penyakit Fusarium

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2011 sampai Maret 2012 di Rumah Kaca

PENGGUNAAN JAMUR ANTAGONIS

KEMAMPUAN ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS CABAI RAWIT (Capsicum frutescent L.) DI LAHAN GAMBUT

AGROVIGOR VOLUME 6 NO. 1 MARET 2013 ISSN PENGARUH PANJANG ENTRES TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BUAH JARAK PAGAR HASIL PENYAMBUNGAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

UJI KETAHANAN 7 KLON TANAMAN KENTANG (Solanum Tuberosum L.) TERHADAP PENYAKIT HAWAR DAUN (Phytopthora Infestans (Mont.) de Barry)

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai September 2014 di kebun

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2015.

PENGARUH KONDISI BATANG BAWAH, KLON BATANG ATAS, DAN WAKTU PELAKSANAAN TERHADAP KEBERHASILAN OKULASI DAN PERTUMBUHAN BIBIT KARET

RESPONS PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK VERMIKOMPOS DAN INTERVAL PENYIRAMAN PADA TANAH SUBSOIL SKRIPSI

PENGARUH TEPUNG DAUN CENGKEH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TOMAT ORGANIK

KERAGAAN PRODUKTIFITAS BEBERAPA KLON UNGGUL KARET RAKYAT DI PROPINSI BENGKULU. Some variability Productivity Superior Rubber Clone People in Bengkulu

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan di halaman

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan Kebun

KAJIAN PEMBERIAN ZEOLIT DAN ARANG SEKAM PADA TANAH SAWAH TERCEMAR LIMBAH PABRIK TERHADAP Pb TANAH DAN TANAMAN PADI SKRIPSI OLEH :

Transkripsi:

INFEKSI Fusarium sp. PENYEBAB PENYAKIT LAPUK BATANG DAN CABANG PADA ENAM KLON KARET Eko Heri Purwanto, A. Mazid dan Nurhayati J urusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Kampus Unsri Indralaya, Jl. Raya Prabumulih OI 30662, Sumatera Selatan. ABSTRACT The objectives of the research was to study the infection of o Fusarium sp., the pathogen of rubber stem rot disease on six rubber clons. The research was conducted at Phytophatology laboratorium and green house at the Plant Pest and Diseases Department, Agriculture Faculty, Sriwijaya University, from March to July 2010. The treatments were arranged in a Completely randomized Block Design (CRBD) with six treatments and tree replications. Each replication consisted of four polibags of rubber plants. The clons tested were RRIM 712, PB260, PR261, IRR 44, GT1 and BPM 24.. The results showed that RRIM 712 was the most susceptible clon to Fuarium sp. infection, whereas disease severety reach up to 82,50 percent and leaf fall 75,80 percent. Clon IRR 24 show as the moderat resistance clon to the pathogen infection. The severity disease of this clon only 42,33 percent and leaf fall 21,33 percent. Keyword: rubber clons, Fusarium sp, rubber stem rot disease. Pendahuluan Penyakit pada tanaman karet merupakan salah satu faktor pengganggu yang penting daripada masalah gangguan lainnya, dan bahkan seringkali dapat menggagalkan suatu usaha pertanaman. Penyakit tanaman karet dapat dijumpai sejak tanaman di pembibitan sampai di tanaman yang telah tua, dari bagian akar sampai pada daun (Semangun,2000). Penyakit lapuk batang dan cabang yang diakibatkan oleh Fusarium sp. Penyakit ini mempunyai arti yang penting dalam pembibitan karet karena menyerang bibit-bibit di polibeg dan mudah menyerang tanaman di polibeg di sekitarnya sehingga menyebabkan kerugian yang besar. Disampingi itu pathogen juga dapat menyerang tanaman yang ada di 32

lapangan. Penyakit dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit cabang dan batang sehingga tanaman tidak dapat disadap. Selain itu pathogen dapat juga menyebabkan kerusakan pada biji atau benih, kebun entres (Balai Penelitian Sembawa, 2006). Penyakit ini semakin penting, ketika beberapa klon sebelumnya bersifat tahan dan moderat dilaporkan telah mengalami pergeseran ketahanan menjadi rentan dan terserang hebat setelah beberapa tahun kemudian (Toruan-Mahius et al., 2002). Banyak klon-klon karet yang tahan, tetapi akhir-akhir ini telah menunjukkan perubahan ketahanan terhadap patogen ini. Diketahui bahwa Fusarium sp. merupakan patogen yang mempunyai virulensi yang tinggi dan mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap lingkungannya, terutama pada kondisi lingkungan yang lembab (Situmorang et al, 2002). Klon-klon karet yang ada di Indonesia bahkan di Asia berasal dari pohon-pohon induk dengan sifat-sifatnya yang tidak jauh berbeda. Oleh karena itu ketahanannya terhadap penyakit tidak jauh berbeda. Perbedaan ketahanan terhadap yang tampak sekarang hanya bersifat semu, yang pada akhirnya suatu saat nanti akan muncul sifat peka terhadap penyakit gugur daun tersebut (Situmorang, 2002). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari infeksi Fusarium sp. penyebab penyakit lapuk batang dan cabang di pebibitan karet pada enam klon kare yang banyak di usahaka etani di Sumatera selatan. Metoda Penelitian Penelitian ini dilakukan di laboratorium dan rumah kaca jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya dari bulan Maret sampai bulan Juli 2008. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan tiga ulangan. Tiap ulangan terdiri dari empat pot tanaman karet. Perlakuan yang diujikan adalah enam klon karet yaitu: RRIM 712, PB 260, PR 261, IRR 44, BPM 24 dan GT1. Dalam penelitian ini digunakan inokulasi secara sisipan. Inokulum Fusarium sp. yang telah disiapkan pada media PDA dan berumur 7 hari, diinokulasikan ke batang utama bibit karet dengan cara menyisipkan inokulum berukuran 0,5 cm 2 pada sayatan 33

miring pada batang yang telah dibuat menggunakan pisau okulasi dengan berukuran 1x1 cm. Selajutnya sayatan tersebut dibalut dengan menggunakan plastik okulasi. Parameter yang diamati adalah masa inkubasi, keparahan penyakit dan jumlah daun yang gugur. Keparahan penyakit diamati satu minggu sekali, setelah inokulasi, sedangkan jumlah daun gugur dihitung di akhir penelitian. Penghitungan Keparahan penyakit berdasarkan jumlah bercak pada cabang dan batang yang telah diinokulasi. Hasil pengukuran skala serangan pada batang dan cbang sebagai berikut: 1) 0= tidak ada serangan, 2). 1= 1-25% ada gejala bercak kehitaman, 3). 2= 26-50% bercak coklat mulai menyebar keseluruh cabang, 4). 3= 51-75% bercak coklat sudah menyebar dan disertai daun layu, 5) 4=76-100% bercak cokla menyebar dan tanaman mati. Selanjutnya hasil penilaian skala serangan tersebut dimasukkan dalam rumus Dimana: I = persentase keparahan penyakit n = jumlah pengamatan ke-i pada tingkat serangan (v) ke-j v= nilai dari setiap katagori N = jumlah seluruh pengamatan V = tingkat serangan tertinggi. Berdasarkan hasil perhitungan keparahan penyakit ketahanan klon dibagi 4 kelompok: 0%= klon sangat resisten; >0-45% = serangan ringan/moderat resisten; > 45-67% = serangan agak berat/ moderat rentan dan 68-100%= klon rentan. Data yang diperoleh dalam percobaan ini dianalisis dengan menggunakan sidik ragam yang dilanjutkan Uji Beda Nyata Terkecil. Hasil dan Pembahasan Masa Inkubasi dan gejala Hasil pengamatan terhadap semua perlakuan menunjukkan rata-rata masa inkubasi ádalah 12-19 hari setelah inokulasi. Gejala yang muncul pertama kali pada batang yang 34

masih berwarna hijau dipenuhi oleh nekrosa yang berwarna coklat terang atau busuk yang berwarna kehitaman, daun layu dan selanjutnya kering atau mati. Gejala selanjutnya yaitu pada kulit batang muncul bercak hitam kecoklatan. Bercak biasanya akan membusuk dan kering dan meluas ke seluruh batang dan cabang sehingga akhirnya menyeabkan tanaman mati. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi Fusarium sp. pada enam klon karet berpengaruh nyata terhadap masa inkubasi lapuk cabang dan batang. Hasil uji BNT terhadap pengaruh infeksi Fusarium sp. Terhadap masa inkubasi pada enam klon karet disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Pengaruh infeksi Fusarium sp. terhadap masa inkubasi penyakit lapuk batang dan cabang pada enam klon karet Klon karet Masa inkubasi (hari) IRR 24 19.75 a PR 261 17.25 b BPM 24 16.50 c GT 13.58 d RRIM 712 12.00 e PB 260 10.08 f Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Beda Nyata Terkecil. Masa inkubasi terpendek terdapat pada klon PB 260 yaitu hanya 10.08 hari berbeda nyata dengan semua klon yang lainnya. Sedangkan masa inkubasi terpanjang terdapat pada klon IRR 24 yaitu rata-rata 19.75 hari. Keparahan Penyakit Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi Fusarium sp. pada enam klon karet berpengaruh nyata terhadap keparahan penyakit lapuk cabang dan batang. Hasil uji BNT terhadap pengaruh infeksi Fusarium sp. pada enam klon karet disajikan pada Tabel 2. 35

Tabel 2. Pengaruh infeksi Fusarium sp. terhadap keparahan penyakit lapuk batang dan cabang pada enam klon karet Klon karet Persentase keparahan penyakit PB 260 82.50 a RRIM 712 80.40 a GT 1 78.61 a BPM 24 72.78 b PR 261 55.45 c IRR24 42.33 d Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf 5%. Tabel 2 menunjukkan bahwa persentase keparahan penyakit lapuk cabang dan batang tertinggi terjadi pada klon karet PB 260, diikuti oleh RRIM 712 dan GT1, diman ketiga klon tersebut tingkan keparanhannya tidak berbeda satu dengan lainnya tetapi berbeda nyata dengan klon karet BPM 24, PR 216 dan IRR 24. Keparahan penyakit terendah terjadi pada klon karet IRR 24 yaitu hanya 42.33 persen berbeda nyata dengan lima klon karet lainnya Jumlah daun yang gugur Pengaruh inokulasi Fusarium sp. terhadap jumlah daun yang gugur pada keenam klon karet disajikan pada Tabel 3 36

Tabel 3. Pengaruh infeksi Fusarium sp. terhadap jumlah daun gugur akibat penyakit lapuk batang dan cabang pada enam klon karet Klon karet Persentase daun gugur PB 260 75.80 a RRIM 712 74.81 a GT 1 61.70 b BPM 24 58.62 b PR 261 30.37 c IRR24 21.33 d Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf 5%. Dari Tabel 3 terlihat bahwa klon yang paling banyak mengalami gugur daun akibat serangan Fusarium sp. adalah klon PB 260, walaupun persentase gugur daun ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan klon RRIM 712 tetapi berbeda nyata dengan perlakuan klon GT1, BPM 24, PR 261 dan IRR 24. Persentase gugur daun akibat Fusarium sp. yang dialami klon PB 260 mencapai 75,80% sedangkan pada klon IRR 24 hanya 21,33%. Klon PB 260 merupakan klon yang paling rentan diikuti oleh klon-klon RRIM 712, GT1, BPM 24 dan PR 261. Diduga bahwa klon-klon yang diujikan tersebut tidak mampu menekan atau membatasi perkembangan jamur Fusarium sp., karena jamur tersebut mampu menghasilkan toksin yang dapat mempercepat kerusakan jaringan daun karet. Disamping itu diduga isolat yang digunakan merupakan isolat yang mempunyai virulensi tinggi. Menurut Pawirosoemardjo (2004) dan Situmorang (2002), bahwa beberapa patogen dapat menghasilkan toksin yang mampu mempercepat kerusakan dan mendorong gugurnya daun. Berdasarkan penelitian ini terlihat juga bahwa klon IRR 24 yang semula termasuk klon yang resisten ternyata mengalami pergeseran ketahanan menjadi moderat. Terjadinya pergeseran ketahanan ini diduga karena klon-klon yang ada di Indonesia bahkan Asia berasal dari pohon-pohon induk dimana sifat-sifatnya tidak 37

jauh berbeda. Oleh karenanya ketahanan terhadap penyakit juga tidak jauh berbeda. Perbedaan ketahanan yang ada hanya bersifat semu, yang akhirnya pada suatu saat muncul kembali sifat peka terhadap patogen (Soepena, 1983). Di samping itu Fusraium sp. merupakan patogen yang mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sehingga dapat mematahkan ketahanan klon-klon yang semula tahan. Simpulan Penelitian ini menyimpulkan sebagai berikut: 1. Klon yang cukup resisten terhadap infeksi Fusarium sp adalah IRR 24, dengan nilai keparahan penyakit dan persentase daun gugur berturut-turut 42.33 % dan 21.33 %. 2. Klon yang tergolong rentan adalah: PB 260, RRIM 712, GT 1, BPM 24, dan PR 261. DAFTAR PUSTAKA Balai Penelitian Sembawa. 2006. Sapta bina usaha tani karet rakyat. Pusat Penelitian Karet (Balai Penelitian Sembawa) Palembang. Pawirosoemardjo, S. 2004 Manajemen pengendalian penyakit penting dalam upaya mengamankan target produksi karet nasional tahun 2020. Proc. Pertemuan teknis. Pusat Penelitian Karet Balai Penelitian Sembawa. Semangun, H. 2000. Penyakit-penyakit tanaman perkebunan di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Situmorang, A. 2002. Sebaran penyakit gugur daun, virulensi dan genetika Corynespora cassiicola asal sentra perkebunan karet Indonesia. Disertasi. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. 109 hal. Soepena, H. 1983. Gugur daun corynespora pada tanaman karet di Sumatera Utara. Balai Penelitian Perkebunan Sei Putih. 7 hal. Toruan-Mahius, N., Z. Lalu, Soedarsono, dan H. Aswidinnoor. 2002. Keragaman genetik klon-klon karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) yang resisten dan rentan terhadap Corynespora cassiicola berdasarkan penanda RAPD dan AFLP. Menara Perkebunan. 70(2): 35-49. 38

39