BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. keinginan pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Paradigma baru manajemen

BAB I PENDAHULUAN. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan, salah satunya adalah

BAB I PENDAHULUAN. mengamanatkan bahwa pemerintah daerah, yang mengatur dan mengurus

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MEMBERDAYAKAN KOMITE SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MUTU LAYANAN PENDIDIKAN. Oleh : Alpres Tjuana, S.Pd., M.Pd

BAB I PENDAHULUAN. Di era persaingan global, Indonesia memerlukan sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN. yang bernama komite sekolah (SK Mendiknas Nomor 044/U/2002). karena pembentukan komite sekolah di berbagai satuan pendidikan atau

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. cukup mendasar, terutama setelah diberlakukannya Undang-Undang Republik

PERAN SERTA MASYARAKAT/ STAKE HOLDERS DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISIS PENGELOLAAN KOMITE SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SD ISLAM AL AZHAR 29 SEMARANG

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 044/U/2002 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

I. PENDAHULUAN. dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. manfaat penelitian secara teoritik dan praktis, serta penegasan istilah.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dunia pendidikan merupakan kehidupan yang penuh dengan tantangan

BAB I PENDAHULUAN. sekolah,perguruan,lembaga diklat, dalam masyarakat serta berbagai satuan lingku

BAB VI KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lahirnya Undang-undang No. 22 tahun 1999 yang direvisi dengan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB VI PENUTUP. tersebut akan disajikan secara rinci sebagai berikut: 1. Peran Komite Sekolah Sebagai Badan Pertimbangan (Advisory Agency)

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu komponen untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dibidang peningkatan mutu pendidikan sangat diperlukan tertutama

AD ART Komite Sekolah

BAB I PENDAHULUAN. dan pemerintah. Dapat dikatakan pada saat ini tanggung jawab masing masing

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

MASYARAKAT/STAKE HOLDERS DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF

PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH DAN DEWAN PENDIDIKAN UNTUK MENDUKUNG PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

KEPUTUSAN PENGURUS KOMITE SLTP NEGERI 6 SRAGEN Nomer : 01 / Komite / SLTP N 6 / 2003 Tentang Anggaran Dasar Komite Sekolah SLTP Negeri 6 Sragen

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. Berdasarkan rumusan masalah dan hasil penelitian tentang peran komite

PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI SMA KRISTEN 2 SALATIGA

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 36 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH WALIKOTA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 89 B. TUJUAN 89 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 89 D. UNSUR YANG TERLIBAT 90 E. REFERENSI 90 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 91

1. Pendahuluan June, Volume 1 Number 1 Efektivitas Kinerja Komite Sekolah di SMP Negeri 1 Banjarsari. Sunardi

KUESIONER TENTANG PERAN KOMITE SEKOLAH

Disampaikan oleh Ketua Dewan Pendidikan Kota Depok Oktober 2016

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perubahan paradigma pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi

UNJUK KERJA KOMITE SEKOLAH DI SMA NEGERI 3 SEMARANG TESIS

BAB I PENDAHULUAN. akan terwujud dengan baik apabila didukung secara optimal oleh pola. upaya peningkatan pola manajerial sekolah.

BAB I PENDAHULUAN. Nasional (PROPENAS) Tahun Dalam BAB VII PROPENAS. ini memuat tentang Pembangunan Pendidikan, dimana salah satu arah

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

PARTISIPASI KOMITE SEKOLAH DALAM PENYELENGGARAAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SD NEGERI SE-KECAMATAN MUNTILAN

Kinerja Dewan Pendidikan di Kota Salatiga

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, serta efisiensi manajemen pendidikan dalam menghadapi tuntutan

DASAR & FUNGSI. PENDIDIKAN NASIONAL BERDASARKAN PANCASILA DAN UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 10 SERI E

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Bantuan United Nations Children s Fund (UNICEF) Dalam Mensukseskan

ACUAN OPERASIONAL KEGIATAN DAN INDIKATOR KINERJA KOMITE SEKOLAH

BAB III METODE PENELITIAN

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 89 B. TUJUAN 89 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 90 D. UNSUR YANG TERLIBAT 90 E. REFERENSI 90 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 91

BAB I PENDAHULUAN. komponen yang saling berkaitan. Empat komponen yang di maksud adalah

PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI SD NEGERI 2 GEMEKSEKTI KEBUMEN SKRIPSI

DASAR & FUNGSI. Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

ACUAN OPERASIONAL DAN INDIKATOR KINERJA DEWAN PENDIDIKAN

: Babakan Ciomas RT. 2/3 ds. Parakan Kec. Ciomas Kab. Bogor

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

UNIT 3: KUNJUNGAN SEKOLAH

MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR MENURUT PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. bahwa pendidikan juga merupakan cara yang efektif sebagai proses nation and

BAB I PENDAHULUAN. yang mengutamakan perluasan pengetahuan. Diharapkan pendidikan dapat

UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA TEORETIS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG PROGRAM WAJIB SEKOLAH 12 TAHUN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. pihak. Pendidikan seperti magnet yang sangat kuat karena dapat menarik berbagai

BAB I PENDAHULUAN. berbagai dimensi dalam kehidupan mulai dari politik, sosial, budaya, dan

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. desentralisasi kewenangan ke tingkat sekolah.

BAB I PENDAHULUAN. suatu bangsa dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan

BUPATI TAPIN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

PEMBUKAAN. belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI RAYON 08 JAKARTA BARAT

MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 2 LAMONGAN

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN SUBANG JL. KS TUBUN NO. 21 SUBANG JAWA BARAT

JOB DESCRIPTION KEPALA SEKOLAH

Penyusunan KTSP Berbasis Kurikulum 2013 Dokumen 1 BIMBINGAN TEKNIS PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI KEPALA SMP

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah,

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR62 TAHUN 2009 TENTANG DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH BUPATI PURWOREJO,

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan di Indonesia saat ini tidak terlepas dari masalah dalam upaya

Transkripsi:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal satu disebutkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi diri peserta didik memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Sehingga pendidikan harus berbasis masyarakat dengan memperhatikan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi dan potensi masyarakat sebagai perwujudan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Dalam pasal sembilan disebutkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan orang tua. Sehingga masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Lembaga pendidikan yang berada di tengah-tengah masyarakat adalah sekolah. Lembaga pendidikan tersebut memiliki satu tradisi yang kaya tentang keterlibatan orang tua atau masyarakat dalam penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Sekolah sebagai sistem sosial merupakan bagian integral dari sistem sosial yang lebih besar yaitu masyarakat. Sekolah dan masyarakat mempunyai hubungan yang terkait dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. Adanya hubungan yang harmonis antara masyarakat dan sekolah akan menumbuhkan partisipasi dan tanggung jawab untuk memajukan lembaga pendidikan. Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 disebutkan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok,keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Bentuk peran serta masyarakat dapat berupa sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan (UU N0.20 Tahun 2003 Pasal 54). 1

2 Dalam penjelasan PP No 19 Tahun 2005 Bagian umum dinyatakan bahwa Pendidikan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan. Keberadaan peserta didik yang terintegrasi dengan lingkungan sosial kulturalnya akan menumbuhkan individu sebagai anggota masyarakat mandiri yang berbudaya. Hal ini sejalan dengan proses pentahapan aktualisasi intelektual, emosional, dan spiritual peserta didik di dalam memahami sesuatu, mulai dari tahap sederhana dan bersifat eksternal, sampai tahapan yang paling rumit dan bersifat internal, yang berkenaan dengan pemahaman dirinya dan lingkungan kulturalnya Partisipasi orang tua/masyarakat terhadap sekolah bisa dilakukan langsung secara individual dan bisa dilakukan secara melembaga melalui saluran komite sekolah. secara teoritik dan normatif dibentuknya komite sekolah memang dimaksudkan untuk menjembatani komunikasi antara sekolah dan orangtua/masyarakat. Di satu sisi mengkomunikasikan aspirasi dan harapan orangtua/ masyarakat agar dapat dirumuskan dalam program-program sekolah dan memantau pelaksanaan serta penggunaan dana, di sisi lain juga memotivasi dan mendorong kesadaran partisipasi orangtua/masyarakat terhadap program-program sekolah.. Komite sekolah sebagai organisasi publik yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik dalam bentuk barang maupun jasa diharapkan dapat mewakili keragaman masyarakat yang ada. Selain itu, pembentukan komite sekolah pada hakikatnya mengantisipasi perubahan dan perkembangan di setiap wilayah sebagai upaya memperhatikan keberagaman kebutuhan pendidikan sesuai dengan keadaan daerah dan peserta didik. Di samping itu komite sekolah mendorong peningkatan peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dan membuahkan adanya suatu strategi dan pendekatan kebijakan yang tepat yang mampu mendorong tumbuhnya sikap kemandirian. Komite sekolah sebagai suatu institusi yang dapat menjadi mitra sekolah dalam menjembatani berbagai keperluan dalam penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan agar berkualitas, transparan, dan akuntabel. Dengan demikian, ide dasar pembentukan komite sekolah antara lain berkaitan dengan adanya keinginan suatu organisasi yang dapat membuat dan

3 membantu masyarakat terlibat dalam pendidikan seperti dalam hal penyediaan dana sarana dan prasarana, bahkan pengelolaan pun agar dapat dilakukan. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut antara lain dengan mengembalikan kepemilikan kepada masyarakat. Di kalangan masyarakat sendiri masih banyak yang menyamakan komite sekolah dengan BP3 (sebelum komite sekolah) yang merupakan kepanjangan tangan sekolah (tangan kanan sekolah), yang hanya berperan dalam penggalangan dana untuk kepentingan sekolah. SEKOLAH KELUARGA MASYARAKAT Apa yang dapat kita kerjakan bersamasama untuk mendidik semua anak didik dengan baik? Gambar 1.1 Paradigma Baru Komite Sekolah Sejarah dan Prospeknya di Masa Depan, 2008:52 Secara resmi, keberadaan komite sekolah ditunjuk melalui surat Keputusan Mendiknas antara lain menyebutkan pembentukan komite sekolah No 44/U/2002 tentang Dewan Sekolah dan Komite Sekolah. surat keputusan tersebut antara lain menyebutkan pembentukan komite sekolah menganut prisip transparan, akuntabilitas, dan demokratis. Lahirnya Kepmendiknas Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 telah mengantarkan proses pembentukan Komite Sekolah hampir di seluruh daerah kabupaten/kota dan satuan pendidikan di seluruh pelosok tanah air. Proses pembentukan beberapa komite sekolah ada yang sesuai dengan harapan dan ketentuan yang ada, bahkan ada yang sudah melesat sedemikian rupa dengan kreasi dan inovasinya yang membanggakan sehingga komite sekolah tersebut telah benar-benar dirasakan peran dan fungsinya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun justru perlu diakui masih banyak diantaranya yang belum sepenuhnnya sesuai dengan harapan (optimal) dan ketentuan yang ada. Dengan menyadari adanya berbagai variasi tersebut yang lebih penting adalah bukan lagi soal mendirikan atau membentuknya, tetapi bagaimana menggerakkan roda organisasi dan manajemen badan yang mandiri

4 ini, agar komite sekolah yang ada segera melaksanakan kegiatan dalam mengemban peran dan fungsinya Tabel 1 Penjabaran Peran Komite Sekolah ke Dalam Fungsi Komite Sekolah No. Peran KS Fungsi KS Kegiatan Operasional 1. Pemberi pertimbangan (advisory) 1.1. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai: (1) kebijakan dan program pendidikan; (2) RAPBS (3) kriteria kinerja satuan pendidikan; (4) kriteria tenaga kependidikan; (5) kriteria fasilitas pendidikan; dan (6) hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. 1.1.1. Mengadakan pendataan kondisi sosial ekonomi keluarga peserta didik dan sumber daya pendidikan dalam masyarakat 1.1.2. Menganalisis hasil pendataan sebagai bahan pemberian masukan, pertimbangan, dan atau rekomendasi kepada sekolah 1.1.3. Menyampaikan masukan, pertimbangan, dan atau rekomendasi secara tertulis kepada sekolah, dengan tembusan kepada Dinas Pendidikan dan Dewan Pendidikan 1.1.4. Memberikan pertimbangan kepada sekolah dalam rangka pengembangan kurikulum muatan lokal 1.1.5. Memberikan pertimbangan kepada sekolah untuk meningkatkan proses pembelajaran dan pengajaran yang menyenangkan (PAKEM) 1.1.6. Memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah dalam penyusunan visi, misi, tujuan, kebijakan, dan kegiatan sekolah 2. Pendukung (supporting) 2.1. Mendorong orang tua dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan 2.1.1. Mengadakan rapat atau pertemuan secara berkala dan insidental dengan orang tua dan anggota masyarakat 2.1.2. Mencari bantuan dana dari dunia usaha dan industry untuk biaya pembebasan uang sekolah bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. 2.1.3. Menghimbau dan mengadakan pendekatan kepada orang tua dan

5 No. Peran KS Fungsi KS Kegiatan Operasional masyarakat yang dipandang mampu untuk dapat menjadi narasumber dalam kegiatan intrakurikuler bagi peserta didik 2.1.4. Memberikan dukungan untuk pemeriksaan kesehatan anak-anak 2.1.5. Memberikan dukungan kepada sekolah untuk secara preventif dan kuratif dalam memberantas penyebaran narkoba di sekolah 2.1.6. Memberikan dukungan kepada sekolah dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu Memverifikasi RAPBS yang diajukan oleh kepala sekolah Memberikan pengesahan terhadap RAPBS setelah proses verifikasi dalam rapat pleno KS Memotivasi masyarakat kalangan menengah ke atas untuk meningkatkan komitmennya bagi upaya penigngkatan mutu pendidikan di sekolah Membantu sekolah dalam rangka penggalangan dana masyarakat untuk pengumpulan dana abadi Melaksanakan konsep subsidi silang dalam penarikan iuran dari orang tua siswa Mengadakan kegiatan inovatif untuk meningkatkan kesadaran dan komitmen masyarakat, misalnya panggung hiburan untuk sekolah dan masyarakat Membantu sekolah dalam menciptakan hubungan dan kerjasama antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat. 3. Pengontrol (controlling) 3.1. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan 2.1.7. Mengadakan rapat atau pertemuan secara rutin atau incidental dengan kepala sekolah dan dewan guru 2.1.8. Sering mengadakan kunjungan atau silaturahim ke sekolah, atau dengan dewan guru di sekolah 2.1.9. Meminta penjelasan kepada sekolah tentang hasil belajar siswa 2.1.10. Bekerjasama dengan sekolah dalam kegiatan penelusuran alumni

6 No. Peran KS Fungsi KS Kegiatan Operasional 4. Mediator 4.1 Melakukan kerjasama dengan masyarakat 4.1.1 Membina hubungan dan kerjasama yang harmonis dengan seluruh stakeholder pendidikan, khusnya dengan DUDI 4.1.2 Mengadakan penjajagan tentang kemungkinan untuk dapat mengadakan kerjasama atau MOU dengan lembaga lain untuk memajukan sekolah 4.2 Menampung dan mengalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. 4.2.1 Menyebarkan kuesioner untuk memperoleh masukan, saran, dan ide kreatif dari masyarakat 4.2.2 Menyampaikan laporan kepada sekolah secara tertulis, tentang hasil pengamatannya terhadap sekolah Sumber : Acuan Operasional Dan Indikator Kinerja Komite Sekolah,2004:33 Komite Sekolah sebagai organisasi publik yang berbasis kemasyarakatan adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan, baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan di luar sekolah (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002). Sedangkan yang paling tepat untuk mengukur mutu pendidikan adalah hasil evaluasi ujian akhir yang diukur melalui ujian akhir nasional. Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama (SMP) Jakarta Selatan mendapatkan peringkat pertama selama empat tahun berturut-turut di DKI Jakarta. Bahkan, selain mampu mempertahankan prestasi akademis, SMP di Jakarta Selatan juga mendapatkan juara Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) lima kali berturut-turut (http://metrojaksel.blogspot.com/2009/07/kinerja-kepsek-dievaluasi-enam-bulan.html). Jakarta Selatan sebagai salah satu kotamadya yang memberikan subsidi pendidikan berupa Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) telah menyelenggarakan pendidikan gratis di jenjang sekolah menengah pertama negeri. Tantangan komite sekolah di Jakarta Selatan demikian besar karena sebagian besar peran komite sekolah masih terbatas pada pengumpulan dana untuk mendukung pembangunan sarana dan prasarana sekolah.

7 masih sedikit komite sekolah yang berperan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, terutama mutu lulusannya, termasuk mutu proses pendidikan (pengambilan keputusan, monitoring, evaluasi). Apalagi dengan diselenggarakannya pendidikan gratis orang tua merasa tidak mempunyai tanggung jawab lagi dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah.. Masyarakat umum masih menganggap sekolah negeri adalah milik pemerintah. Padahal peran komite sekolah tidak hanya menyangkut penggalangan dana saja. Partisipasi masyarakat di lingkungan sekolah masih kurang digerakkan untuk menopang pengelolaan pendidikan di sekolah, sehingga kesadaran untuk rasa memiliki masih kurang. Padahal dengan adanya rasa memiliki dari masyarakat setempat pada gilirannya akan meningkatkan rasa tanggung jawab untuk memajukan sekolah. Selain itu masih terdapat kehadiran komite hanya sebagai pelengkap atau sekedar hanya memenuhi aspek formal legal sesuai Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional. Apakah komite sekolah organisasi pelayanan publik berperan sebagai lembaga yang mewadahi peran serta masyarakat guna mengoptimalkan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, relevan, dan efisien? Berdasarkan hasil diskusi dengan dinas pendidikan Jakarta Selatan dan tim teknis Direktorat Pembinaan SMP bahwa rata-rata komite sekolah di Jakarta memiliki kondisi yang sama, yaitu dibentuk asal-asalan, ada pengurus yang aktif dan tidak aktif. Tidak aktif karena sibuk, tidak punya waktu ada juga yang menganggap cukup ketua, sekretaris, dan bendahara saja yang perlu bertemu dengan para orang tua murid,. Mereka memang memandang tak ada bedanya antara BP3 dulu dan komite sekolah yang sekarang ini. Dalam pandangan mereka, kehadiran komite sekolah tak lebih dari untuk membantu sekolah menghadapai orang tua murid dalam rangka mengumpulkan dana bagi keperluan sekolah. karena, bisa dimengerti bila tak pernah ada rapat-rapat pengurus yang mereka selenggarakan. Upaya menggerakkan komite sekolah menjadi lebih aktif juga tak dilakukan oleh pihak sekolah dengan alasan tidak tersedia ruang kantor yang khusus bagi komite sekolah. Bahkan ada istilah yang mengatakan bahwa komite sekolah hanya ombyo an saja. Orangnya banyak, tetapi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

8 Selain itu permasalahan yang terdapat di lapangan antara lain (dalam acuan operasional dan indicator kinerja komite sekolah, 2004:2) yaitu: 1. Proses pembentukan komite sekolah di lingkungan sekolah kebanyakan belum sesuai dengan harapan 2. Banyak komite sekolah dibentuk dengan pola-pola stigmatis yang diwarisi dari BP3 atau POMG 3. Timbulnya kesan dan pandangan negatif dari para orang tua dan masyarakat terhadap kinerja komite sekolah bahwa sumbangan sekolah menjadi lebih besar karena dibentuknya komite sekolah. 4. Praktik pelaksanaan peran dan fungsi komite sekolah yang dinilai menyimpang antara lain menjadi model komite sekolah yang terlalu meniru gaya birokrat atau menjadi stempel sekolah (di bawah komando kepala sekolah) di satu sisi ada yang bergaya eksekutor 5. Komite sekolah yang telah dibentuk banyak yang belum memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang disusun sendiri dan belum memiliki program berdasarkan aspirasi orang tua sebagai komponen utama stakeholder pendidikan Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan Komite sekolah misalnya dilibatkan dalam penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang disusun sekolah. Selain itu, komite juga dapat melakukan pendampingan terhadap siswa yang mengikuti even perlombaan atau kompetisi, baik lingkup lokal maupun nasional. Komite juga dapat mengadakan seminar atau ceramah tentang upaya meningkatkan kualitas belajar dan mengajar sehingga sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan dan lulusan. Hal yang tidak kalah penting adalah komite juga dapat mendorong untuk meningkatkan penelitian di kalangan siswa dengan pembentukan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Jika diperlukan dapat diadakan lokakarya penulisan karya ilmiah dan sosialisasi KIR di kalangan siswa. Orang tua juga berharap komite sekolah membina dan mengembangkan sosialisasi dan komunikasi dengan orang tua/wali murid dengan cara penyampaian rencana anggaran program kerja sekolah, pemberdayaan orang tua peduli/donator, pemberdayaan alumni, melakukan komunikasi lintas sektor. Selain itu ada yang

9 berpendapat bahwa komite sekolah melaksanakan manajemen yang tidak terbuka dalam menjalankan roda organisasi terdapat pengurus yang tidak solid atau kompak sehingga terdapat perpecahan di dalam organisasi sendiri.di dalam seminar sehari yang diselenggarakan oleh Pos Kota (dalam www.poskota.co.id tanggal 15/7/09) bertema pungutan biaya sekolah (PBS) ada pendapat yang berasal dari kalangan masyarakat bahwa komite sekolah seharusnya melibatkan RT RW dimana sekolah tersebut berada, karena masalah listrik berupa lampu penerangan dan kebersihan harus melibatkan warga sekitar, sekolah tidak bisa berdiri sendiri. Kinerja komite sekolah memang sangat bervariatif. Kinerja itu masih berada dalam garis kontinum dari sebagai stempel sampai sebagai eksekutor. Komite sekolah sebagai stempel artinya badan ini hanya sekedar menjadi pengekor kemauan daerah dan sekolah, sampai dengan badan yang ditakuti oleh pihak pemerintah daerah atau sekolah. sebagai lembaga stempel, komite sekolah sering mendapat rapot merah oleh warga masyarakat, karena komite sekolah dinilai tidak memiliki kepentingan masyarakat dan orang tua, misalnya dalam hal pengambilan keputusan tentang biaya pendidikan. Sebaliknya, ada juga komite sekolah yang masih dilihat dengan sebelah mata oleh pemerintah daerah dan sekolah, karena sering dipandang lebih sebagai pesaing, atau sebagai pihak yang memiliki kepentingan yang berseberangan atau bahkan berlawanan bukan sebagai mitra sejajar.komite sekolah diharapkan lebih efektif, tak terlalu jadi polisi buat sekolah (sebagai guru atau kepala sekolah) tapi juga mendorong pengembangan sekolah ke arah lebih baik, bersinergi, membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi sekolah. Terdapat banyak kesenjangan yang terjadi antara peraturan, dan praktik yang terjadi di lapangan,. Karena itu stakeholder pun berharap agar Komite Sekolah dapat membawa aspirasi mereka. Jika digambarkan hubungan antara peran dan fungsi komite sekolah yang sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 044/U/2002, kondisi rii yang terjadi di lapangan serta harapan dari stakeholder adalah sebagai berikut:

10 Gambar 1.2 Hubungan peran dan fungsi komite sekolah berdasarkan Kepemendiknas No.044/U/2002, praktik di lapangan, dan harapan stakeholder Komite sekolah sebagai organisasi yang solid harus mengelola dan membuat keputusan-keputusan sesuai dengan peran dan fungsi yang sudah ditetapkan oleh aturan yang berlaku dan juga sesuai dengan stakeholder. Komite sekolah harus menyadari bahwa dunia pendidikan merupakan investasi penting dan bersifat jangka panjang tidak akan bisa diselenggarakan dengan baik dan tidak mungkin mencapai kemajuan jika hanya diserahkan kepada pemerintah semata. Faisal (2007:37)..mengatakan bahwa Komite sekolah harus benar-benar hadir sebagai organisasi yang mewakili orangtua yang ditandai dengan kemampuan menjalankan peran dan fungsinya dengan baik bahkan dapat memperluas secara cerdas dan kreatif peran dan fungsinya bagi peningkatan mutu sekolah. selain itu komite sekolah sebagai organisasi yang hidup di era modern harus memiliki sifat organisasi modern, yaitu bersifat terbuka yang dipengaruhi dan mempengaruhi factor lingkungannya (S.B. Hari Lubis dan Martani Husaini, 1987:6). Jika organisasi tidak melaksanakan peran dan fungsinya sebagaimana yang sudah ditentukan akan terjadi kesenjangan di lapangan, apalagi jika stakeholder mempunyai harapan yang belum terpenuhi. Oleh karena itu organisasi ini harus mengadakan revitalisasi untuk membuat perubahan-perubahan yang selaras dengan lingkungannya.

11 Revitalisasi menurut Gouillart dan Kelly (1995) adalah perubahan organisasi yang ditujukan untuk memacu pertumbuhan organisasi dengan cara menyelaraskan organisasi dengan lingkungannya. Keselarasan organisasi dengan lingkungannya menurut Gouillart dan Kelly (1995) dapat dicapai dengan 3 pendekatan, sebagai berikut: pencapaian focus pasar, penciptaan bisnis baru, pemanfaatan teknologi informasi 1.2.Perumusan Masalah Komite sekolah memiliki beberapa peran. Pertama, komite sekolah berperan menampung dan menganalisis aspirasi,pandangan, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan masyarakat. Kedua, komite sekolah mendorong tumbuhya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan bermutu seperti menggalang dana untuk pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan, baik lewat kerjasama dengan masyarakat-perseorangan maupun organisasi dunia usaha dan pemerintah. Ketiga, komite sekolah juga berperan sebagai pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan, serta sebagai mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan. Di samping itu, komite sekolah juga bisa memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai kebijakan dan program pendidikan; kriteria kinerja satuan pendidikan; criteria tenaga kependidikan khususnya guru,/tutor dan kepala satuan pendidikan; criteria fasilitas pendidikan; dan hal lain-lain yang terkait dengan pendidikan. Untuk menjalankan perannya itu, komite sekolah memiliki fungsi yaitu mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Badan ini juga melakukan kerja sama dengan masyarakat, baik perorangan maupun organisasi, dunia usaha dan dunia industry dan pemerintah, berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Fungsi lainnya adalah menampung dan menganalisis aspirasi,

12 pandangan, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan masyarakat. Di samping itu komite sekolah juga memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai kebijakan dan program pendidikan. Komite sekolah juga berfungsi dalam mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan dan menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Berdasarkan uraian di atas permasalah penelitian ini adalah: 1. Bagaimana kesesuaian peran dan fungsi Komite Sekolah di tiga sekolah menengah pertama di kota Jakarta Selatan dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasioanl No 044/U/2002? 2. Bagaimana Strategi revitalisasi yang diperlukan agar peran dan fungsi Komite Sekolah di tiga sekolah menengah pertama di Kota Jakarta Selatan menjadi optimal dalam meningkatkan mutu pendidikan? 1.3 Tujuan penelitan Tujuan penelitan ini adalah: 1. Untuk mengetahui penerapan peran dan fungsi komite sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan sekolah menengah pertama di Kota Jakarta Selatan 2. Untuk mengetahui Strategi revitalisasi yang diperlukan agar peran dan fungsi Komite Sekolah di tiga sekolah menengah pertama di Kota Jakarta Selatan menjadi optimal dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kota Jakarta Selatan. 1.4 Manfaat Penelitian

13 1. Manfaat Akademis Manfaat akademis berupaya memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi dunia akademik umumnya mengenai pemahaman tentang kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, khususnya tentang komite sekolah 2. Manfaat Praktis Manfaat praktis berupaya memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah untuk menerbitkan sebuah Peraturan Pemerintah tentang Komite Sekolah sehingga dijadikan panduan dan benchmarking bagi seluruh daerah di Indonesia 1.5 Batasan Penelitian Dalam melakukan penelitian mengenai revitalisasi Komite Sekolah di Kota Jakarta Selatan, peneliti melakukan pembatasan sebagai berikut ; 1. Program kerja Komite Sekolah 2. Peran dan fungsi Komite Sekolah 3. Komite Sekolah yang menjadi penelitian adalah Komite Sekolah di tiga Sekolah Menengah Pertama Negeri yang berkedudukan di kota Jakarta Selatan 4. Stakeholder Komite Sekolah dalam penelitian ini adalah pengurus komite sekolah, orangtua murid, kepala sekolah, dan guru di tiga Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Jakarta Selatan 1.6. Sistematika Penulisan

14 Tesis ini akan terdiri dari enam bab ditambah kepustakaan yang menguraikan apa yang tercantum dalam judul REVITALISASI KOMITE SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI TIGA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KOTA JAKARTA SELATAN Rincian sistematika penulisan tesis ini adalah sebagai berikut : Bab I merupakan pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian. Bab II menguraikan tentang tinjauan pustaka yang berisi teori, pendapat ahli, dan hasil diskusi yang berkaitan dengan kebijakan publik, pelayanan publik, teori organisasi, partisipasi masyarakat, revitalisasi organisasi dan manajemen perubahan. Kemudian teori yang dikutip akan membentuk model tentang bagaimana kondisi organisasi dan strategi revitalisasi organisasi yang dibutuhkan oleh Komite Sekolah di Kota Jakarta Selatan. Bab III menguraikan tentang metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yang terdiri dari sifat dan jenis penelitian, teknik pengumpulan data, panduan wawancara, analisis data. Bab IV menguraikan tentang gambaran umum tentang komite sekolah, peran dan fungsi, kedudukan dan sifat, tujuan Bab V memaparkan pembahasan mengenai hasil penelitian yang terdiri 3 bagian.. Bagian pertama menjelaskan tentang kategorisasi sekolah yang menjadi lokasi penelitian. Bagian kedua menggambarkan kondisi riil Komite Sekolah di tiga sekolah menengah pertama di Kota Jakarta Selatan saat ini ditinjau dari peraturan yang terkait serta harapan dari stakeholders terhadap peran dan fungsi Komite Sekolah. Bagian ketiga menjelaskan strategi revitalisasi yang diperlukan Komite Sekolah untuk lebih mengoptimalkan peran dan fungsinya. Bab ini juga memaparkan hasil wawancara dengan Komite Sekolah, Kepala Sekolah,

15 Orang Tua Murid, Guru terhadap tugas peran dan fungsi Komite Sekolah. Selain itu dalam bab ini berisi jawaban atas pertanyaanpertanyaan pada model penelitian berdasarkan analisis terhadap kondisi riil Komite Sekolah yang didukung dengan data primer dan wawancara dengan Komite Sekolah, Kepala Sekolah, Orang Tua Murid, Guru, serta analisis terhadap strategi revitalisasi organisasi yang diperlukan oleh Komite Sekolah di tiga sekolah menengah pertama di Kota Jakarta Selatan. Bab VI yang merupakan bab penutup membahas kesimpulan dan saran. Kesimpulan diperoleh dari hasil pembahasan masalah pokok, sedangkan saran merupakan pemikiran bagi perbaikan kondisi organisasi Komite Sekolah di Kota Jakarta Selatan, strategi revitalisasi organisasi Komite Sekolah di Kota Jakarta Selatan serta segala sesuatu yang dapat memberikan pemikiran positif terhadap masalah yang dihadapi.