BAB I PENDAHULUAN.

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PROSES PENGOLAHAN KULIT SAPI WET BLUE

BAB III PROSES PRODUKSI KULIT

PENGGUNAAN AIR PADA INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT Sumber Air Yang Digunakan Pada Industri Penyamakan Kulit

II. TINJAUAN PUSTAKA

PROSES PRODUKSI INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

PENYAMAKAN KULIT IKAN PARI (DASYATIS SP.) DALAM PEMBUATAN PRODUK VAS BUNGA

KAJIAN PEMANFAATAN LEMAK AYAM RAS PEDAGING DAN MINYAK KELAPA SEBAGAI BAHAN PERMINYAKAN KULIT SAMAK KAMBING

PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI BAHAN MINYAK DALAM PROSES PEMINYAKAN TERHADAP KUALITAS KULIT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) SAMAK

LEATHER TREATMENT 01.

PENYAMAKAN KULIT. Cara penyamakan melalui beberapa tahapan proses dan setiap tahapan harus berurutan tidak bisa di balak balik,

PROSES PEMINYAKAN (FATLIQUORING) PADA PROSES PENYAMAKAN KULIT IKAN TUNA (Thunnus sp) UNTUK BAHAN BAGIAN ATAS SEPATU ANDRIAN SAPUTRA

ALUR PROSES PENYAMAKAN

PENGARUH JUMLAH MINYAK TERHADAP SIFAT FISIS KULIT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) UNTUK BAGIAN ATAS SEPATU

BAB II METODE PERANCANGAN

PERBEDAAN KONSENTRASI MIMOSA PADA PROSES PENYAMAKAN TERHADAP KUALITAS FISIK DAN KIMIA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

D. Teknik Penyamakan Kulit Ikan

METODE PENGUJIAN KADAR AIR ASPAL EMULSI

Jajang Gumilar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. yaitu kerupuk berbahan baku pangan nabati (kerupuk singkong, kerupuk aci,

I. PENDAHULUAN. Potensi Indonesia sebagai produsen surfaktan dari minyak inti sawit sangat besar.

PENDAHULUAN. LatarBelakang. Menurut data Ditjennak (2012) pada tahun 2012 pemotongan tercatat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing. Kambing adalah hewan yang ideal hidup di negara-negara tropis dan daerah

BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA. meningkatkan daya tahan ikan mentah serta memaksimalkan manfaat hasil tangkapan

B. Struktur Kulit Ikan

PENGANTAR. sangat digemari oleh masyarakat. Sate daging domba walaupun banyak. dipopulerkan dengan nama sate kambing merupakan makanan favorit di

PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN MINYAK IKAN TERSULFIT PADA PROSES FAT LIQUORING

KEGUNAAN. Merupakan polimer dari sekitar 21 jenis asam amino melalui ikatan peptida Asam amino : esensial dan non esensial

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN (Ditjen Perkebunan, 2012). Harga minyak sawit mentah (Crude Palm

Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasil gliserol, dengan rumus umum : O R' O C

PENGARUH JENIS BAHAN PENYAMAK TERHADAP KUALITAS KULIT IKAN NILA TERSAMAK

BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR DAN TARIF BEA KELUAR

PENGARUH PENGGUNAAN MINYAK IKAN TERSULFIT TERHADAP NILAI KELEMASAN DAN KUALITAS KULIT IKAN PARI MONDOL (Himantura gerardi) TERSAMAK

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 1. Struktur kulit secara makroskopis (Suardana et al., 2008)

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Kulit

PRODUK PERTANIAN DAN KEHUTANAN YANG DIKENAKAN BEA KELUAR. 3. Crude Palm Oil (CPO) Crude Palm Kernel Oil (CPKO)

METODE PENGUJIAN KADAR RESIDU ASPAL EMULSI DENGAN PENYULINGAN

I PENDAHULUAN. Penelitian merupakan sebuah proses dimana dalam pengerjaannya

J. Peng. & Biotek. Hasil Pi. Vol. 5 No. 3 Th Hasil Penelitian ISSN :

PERBEDAAN KUALITAS KULIT KAMBING PERANAKAN ETAWA (PE) DAN PERANAKAN BOOR(PB) YANG DISAMAK KROM

II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

LEMBAR KUESIONER PENILAIAN SENSORIS PRODUK SUSU UHT FULL CREAM PADA RESPONDEN DEWASA

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

PENGARUH PENAMBAHAN SABUT KELAPA TERHADAP STABILITAS CAMPURAN ASPAL EMULSI DINGIN

PENYAMAKAN KULIT BULU DOMBA DENGAN METODE KHROM DALAM UPAYA PEMANFAATAN HASIL SAMPING PEMOTONGAN TERNAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bahan alternatif (Aboulfalzli et al., 2015). Es krim merupakan produk olahan susu

ANALISA KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL EMULSI DINGIN DAN PERBANDINGAN STABILITAS ASPAL EMULSI DINGIN DENGAN LASTON

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

1. BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) US$/MT TERMASUK DALAM POS TARIF. 1. Buah dan Kernel Kelapa Sawit

PENGARUH KONSENTRASI NATRIUM PERKARBONAT DAN JUMLAH AIR PADA PENYAMAKAN KULIT SAMOA TERHADAP MUTU KULIT SAMOA

SUEDE & NUBUCK TREATMENT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KAJIAN PENGGUNAAN BAHAN PENYAMAK NABATI (MIMOSA) TERHADAP KUALITAS FISIK KULIT KAKAP MERAH TERSAMAK

KUALITAS KULIT SARUNG TANGAN GOLF DARI KULIT DOMBA PRIANGAN YANG BERASAL DARI BERBAGAI KETINGGIAN TEMPAT DI KABUPATEN GARUT

PENGARUH PENGGUNAAN ASAM SULFAT (H 2 SO 4 ) DAN ASAM FORMIAT (HCOOH) PADA PROSES PIKEL TERHADAP KUALITAS KULIT JADI (LEATHER) DOMBA GARUT

Jajang Gumilar, Wendri S. Putranto, Eka Wulandari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjran

Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak, Februari 2009, Hal Vol. 4, No. 1 ISSN :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan populasi yang cukup tinggi. Kambing Kacang mempunyai ukuran tubuh

MEMUTUSKAN: : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENETAPAN HARGA EKSPOR UNTUK PENGHITUNGAN BEA KELUAR.

I PENDAHULUAN. Pada pendahuluan menjelaskan mengenai (1) Latar Belakang, (2)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dikenal dengan istilah lateks. Di dalam lateks terkandung 25-40% bahan karet

PENGARUH PENYAMAKAN KHROM KULIT IKAN KAKAP PUTIH DIKOMBINASI DENGAN EKSTRAK BIJI PINANG TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK KULIT

HASIL DAN PEMBAHASAN

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.

Materi-1. PENGANTAR Manik-manik

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KULIT

SIFAT PERMUKAAN SISTEM KOLOID PANGAN AKTIVITAS PERMUKAAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis sayuran sehat

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KARAKTERISTIK PENYAMAKAN KULIT MENGGUNAKAN GAMBIR PADA ph 4 DAN 8

LAPORAN PRAKTIKUM KUNJUNGAN INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT SAPI DAN DOMBA DI WILAYAH GARUT

BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. yang akan di ubah menjadi energi listrik, dengan menggunakan sel surya. Sel

Masa berlaku: Alamat : Jl. Sokonandi No. 9, Yogyakarta Oktober 2009 Telp. (0274) ; ; Faks.

LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 151/KM.4/2016 TENTANG : PENETAPAN HARGA EKSPOR UNTUK PENGHITUNGAN BEA KELUAR

HASIL DAN PEMBAHASAN

BABII TINJAUAN PUSTAKA

Masa berlaku: Alamat : Jl. Sokonandi No. 9, Yogyakarta Juni 2008 Telp. (0274) ; ; Faks. (0274)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu tanaman perkebunan

BAB II STUDI PUSTAKA

Tatap mukake 6 KUANTITAS DAN KUALITAS SPERMA

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah keadaan lingkungan. Salah satu komponen lingkungan. kebutuhan rumah tangga (Kusnaedi, 2010).

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Masalah Yang Diketengahkan Di Era persaingan pasar global yang sangat keras pada saat ini membuat ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang mengalami kemajuan pesat. Kemajuan ini memacu para pelaku dunia industri untuk terus menggali semua potensi dan peluang yang ada sehingga dapat terus meningkatkan kualitas dan daya saingnya. Kemajuan ini tentu juga berdampak kepada dunia industri perkulitan di Indonesia yang pada saat ini sedang mengalami kelesuan. Kenyataan ini seharusnya menjadi tantangan bagi generasi baru industri kulit untuk menjawabnya, sehingga masa depan industri kulit di Indonesia kembali cerah. Tentu saja tidak mudah dalam menjawab tantangan yang maha berat ini, oleh karena itu perlu terus dilakukan pengkajian terhadap teknologi perkulitan secara berkesinambungan. Perusahaan penyamakan kulit CV. Lengtat Leathers merupakan salah satu perusahaan yang masih bertahan dan mampu menghasilkan kulit jadi, dengan hasil produksi antara lain : kulit atasan sepatu Floater, CGB, Suede, Softy Nappa, Crazy Horse, Nubuck, Nappa Full Grain, dan kulit Upholstery/jok. Semua hasil produksi tersebut digunakan untuk memenuhi order yang ada seperti di wilayah Bandung, Jakarta dan lainnya. Keberadaan perusahaan kulit seperti CV. Lengtat Leathers di Indonesia sangat penting artinya bagi masa depan industri kulit. Di Indonesia kebutuhan kulit Atasan sepatu ( upper ) lebih banyak dibandingkan dengan kebutuhan akan kulit garment dan kulit glove. Sepatu penutup dan alas kaki, akan tetapi sekaligus melindungi kaki dari kondisi alam dan cuaca seperti panas, gesekan fisik dari benda tumpul maupun benda tajam, dan bahkan berfungsi sebagai aksesoris fashion. Kulit Box adalah kulit atasan sepatu ( upper leather ) dengan bahan

2 mentah dari kulit sapi, anak sapi, atau kerbau yang disamak krom, digemuk sedang dan diberi warna hitam, coklat atau warna-warna lain. Kulit Box digunakan untuk atasan sepatu biasa atau sepatu kerja, tebal kulit Box rata-rata dari 1,6 2,2 mm, menurut keperluan dari sifat kulit box / atasan sepatu yang baik adalah lemas, pegangan penuh, struktur kuat, nerf harus tidak lepas dan tidak mudah pecah-pecah, gambar nerf harus tidak boleh kelihatan, dan ini hanya bisa diperoleh dari kulit hewan muda ( Balai Penelitian Kulit, 1987 ). Untuk kulit atasan sepatu yang lain adalah Nappa UpperShoe. Nappa Leather adalah kulit lemas dengan rajah asli yang dibuat dari kulit domba, kambing atau sapi. Biasanya jenis kulit ini sangat lembut, tipis, dan disamak dengan bahan penyamak krom untuk atasan sepatu, busana dan kulit mebel. Kulit Nappa banyak peminatnya karena keindahan rajah dan kerataan warnanya. Rajah yang diimaksud adalah kencang ( tidak bergelombang ) untuk semua area terutama pada bagian perut dan punggung, namun tetap lembut (Anonim, 1986). Untuk membentuk karakter suatu jenis kulit, dalam hal ini seperti kulit atasan (Upper Leather) ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya adalah peminyakan (Fatliquoring). Peminyakan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan karakteristik kulit jadi, baik dari sudut pandang keindahan maupun keenakan pakainya. Peminyakan memiliki efek yang cukup besar pada sifat-sifat fisik kulit jadinya seperti kepecahan, kemuluran, kelemasan, ketahanan sobek, ketahanan air dan keenakan pakai. Tujuan dari peminyakan yaitu untuk melapisi serat-serat kulitnya hingga tidak lengket satu dengan lainnya, memberikan kelemasan yang baik dan meningkatkan daya tahan terhadap air. Menurut Rohm dan Haasw (1996), Fatliquoring dilakukan untuk mengganti lemak netral yang dihilangkan sewaktu proses pengapuran. Tujuan utamanya adalah melindungi serat yang longgar setelah pengikisan protein (Batting), serta mengikatkan minyak dengan kulit sehingga kulit menjadi kuat dan tidak mudah sobek serta mulur atau fleksibel ketika ditarik. Tujuan kedua adalah lubrikasi agar serat kulit satu dengan lainnya bergesekan dengan baik. Minyak yang digunakan antara lain : minyak hewani, minyak nabati, dan minyak mineral. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi penetrasi minyak adalah

3 faktor-faktor yang mengendalikan kestabilan emulsi, antara lain : 1. Jenis minyak dan emulsifier. Maksudnya adalah jenis minyak yang digunakan, apakah jenis minyak Anionik, Kationik, Amphoteric atau Non Ionik. Sebagai contoh jenis minyak yang digunakan pada peminyakan Nappa Upper Shoe di CV. Lengtat Leathers adalah jenis minyak Anionik yang berarti minyak dengan gugus bermuatan negatif sebagai 2. Jumlah minyak, air Maksudnya adalah perbandingan minyak dengan air, makin sedikit air makin banyak minyak yang terserap demikian pula sebaliknya. 3. Ukuran partikel tetes minyak Maksudnya kekentalan jenis minyak yang digunakan. 4. Temperatur Maksudnya adalah suhu air yang digunakan saat mengemulsikan minyak. 5. Rentang waktu pengemulsian dalam penggunaan. Maksudnya adalah jarak waktu pengemulsian dengan penggunaan jangan terlalu lama karena suhu akan turun dan mempengaruhi kestabilan minyak. 6. ph dan kesadahan air. Maksudnya adalah ph air netral dan tidak mengandung Ca Mg bikarbonat, Ca Mg nitrat, Ca Mg chloride, Ca Mg sulfida atau kesadahan air kurang dari 10º jerman. Sebagai contoh pada penyamakan nabati bila kesadahan air lebih dari 10 jerman maka warna kulit akan menjadi tua dikarenakan adanya Calcium tannat. 7. ph kulit dan jenis penyamakan kulit. Maksudnya adalah ph penampung kulit pada saat netralisasi dan jenis artikel kulit yang ingin dituju. Menurut Bienkiewicz (1983), emulsi minyak dapat dibagi dua yaitu oil in water (O/W) dan water in oil (W/O). Selain itu berdasarkan muatannya minyak

4 dapat dibagi menjadi : 1. Anionik yaitu : minyak dengan gugus bermuatan negatif sebagai 2. Kationik yaitu : minyak dengan gugus bermuatan positif sebagai 3. Amphoterik, minyak yang mempunyai dua jenis muatan akan bermuatan positif atau negatif sesuai dengan suasana muatan medianya. 4. Non ionik, yaitu minyak yang tidak terdisosiasi, mengandung gugus Hidroksil atau ethoksil. Pengikatan minyak pada kulit terjadi dengan terdisosiasinya, emulsifier minyak dan berikatan dengan muatan ionic kulit. Berdasar latar belakang tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk memilih judul PROSES PENGOLAHAN KULIT SEPATU WET BLUE DI CV. LENGTAT LEATHERS, TANGERANG, BANTEN. 1.2 Tujuan Laporan Kerja 1. Mengamati, memahami dan menambah pengetahuan tentang proses peminyakan kulit atasan sepatu (upper leather) dari kulit sapi wet blue di CV. Lengtat Leathers, Tangerang, Banten. 2. Meningkatkan keterampilan dan wawasan tentang proses peminyakan kulit atasan sepatu (upper leather) sebagai bekal pada saat terjun kelapangan kerja di industri perkulitan. 1.3. Manfaat Laporan Kerja 1. Untuk memberi masukan kepada pengusaha penyamakan kulit tentang pelaksanaan proses peminyakan kulit atasan sepatu (upper leather). 2. Memberikan referensi bagi civitas akademika mengenai proses peminyakan kulit sapi wet blue di CV. Lengtat Leathers, Tangerang, Banten.

5 1.4. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini berisi tentang masalah yang kiketengahkan, tujuan laporan kerja, manfaat laporan kerja dan sistematika penulisan. BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN Pada bab ini berisi tentang keadaan umum perusahaan berupa identitas perusahaan dan sejarah perusahaan. BAB III PROSES PRODUKSI KULIT Pada bab III ini berisi tentang proses produksi, permasalahan yang dihadapi perusahaan, data penunjang dan pemecahan masalah. BAB IV PROSES PENGOLAHAN KULIT SAPI WET BLUE Pada bab ini berisi tentang metode kerja yang meliputi tempat kerja, materi kerja, prosedur proses dan cara pengumpulan data. BAB V PENUTUP Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN