BAB II URAIAN TEORITIS MENGENAI MUSEUM

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Museum disebut sebagai pengawal warisan budaya. Pengawal warisan budaya

BAB I PENDAHULUAN. sebagai salah satu aset yang menguntungkan bagi suatu negara. Dalam UU

BAB I PENDAHULUAN. pendapat yang menganggap bahwa perkembangan sektor pariwisata selama ini

BAB I PENDAHULUAN. manusia itu bisa menjadi bosan dan hasil kerjanya tidak akan maksimal.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Judul 1.2 Pengertian Judul

I. 1. Latar Belakang I Latar Belakang Pengadaan Proyek

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

pokok arti atau hakekat arti Art Gallery, yaitu : merupakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata budaya diyakini memiliki manfaat positif secara ekonomi dan

2015 PENGEMBANGAN RUMAH BERSEJARAH INGGIT GARNASIH SEBAGAI ATRAKSI WISATA BUDAYA DI KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia salah satu negara yang sangat unik di dunia. Suatu Negara

BAB 1 PENDAHULUAN. Museum Sejarah Jakarta merupakan museum sejarah yang diresmikan

2015 PERANAN MEDIA VISUAL TERHADAP DAYA TARIK WISATA DI MUSEUM GEOLOGI BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. 1 Neufeld ed. in chief, 1988; Webster New World Dict

PERTEMUAN 2. Bahan Ajar 2. Ruang Lingkup dan Pengertian Museologi, Museum Dan Permuseum

BAB I PENDAHULUAN. pariwisata sehingga meningkatkan produktifitas. Dalam hal ini yang. Museum Benteng Vredeburg untuk mengembangkan fasilitas museum.

BAB I PENDAHULUAN. Museum merupakan tempat yang sangat bernilai dalam perjalanan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II DATA DAN ANALISA. Sumber data-data untuk menunjang studi Desain Komunikasi Visual diperoleh. 3. Pengamatan langsung / observasi

BAB I PENDAHULUAN. budaya karena dapat membantu melestarikan warisan budaya sebagai jati diri

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Kota selalu menjadi pusat peradaban dan cermin kemajuan suatu negara.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa keanekaragaman

BAB I PENDAHULUAN. merawat, meneliti, dan memamerkan benda-benda yang bermakna penting bagi

BAB I P E N D A H U L U A N

INPUT PROSES OUTPUT PERENCANAAN ARSITEKTUR FENOMENA. Originalitas: Kawasan Perkampungan Budaya Betawi, terletak di srengseng

E-MUSEUM SEBAGAI MEDIA MEMPERKENALKAN CAGAR BUDAYA DI KALANGAN MASYARAKAT Oleh: Suraya & Muhammad Sholeh 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Ketentuan dalam pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Keadaan Museum di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAGAIMANA MENDIRIKAN SEBUAH MUSEUM

BAB I PENDAHULUAN. termasuk dalam pemasaran. Menurut Carl I. Hovland 1, Ilmu komunikasi adalah

BAB I PENDAHULUAN. sebuah bangsa dan menyimpanan berbagai karya luhur nenek moyang kita yang

Galeri Seni Lukis Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. perekonomiannya ini dibuktikan dengan banyaknya pusat perbelanjaan dibangun

BAB I PENDAHULUAN. perjalanan, bepergian, yang dalam hal ini sinonim dengan kata travel dalam

MUSEUM GUNUNG KRAKATAU DI ANYER, BANTEN

1.1.2 Perpustakaan dan Museum Budaya Sebagai Fasilitas Belajar Budaya

TIPOLOGI MUSEUM, fachrimuhammadabror A. Definisi Museum

BAB II KAJIAN PUSTAKA. tujuan jangka panjang dari suatu perusahaan, serta pendayagunaan dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang Masalah. Istilah atau nama museum sudah sangat dikenal oleh rakyat Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Sejarah dalam bahasa Indonesia merupakan peristiwa yang benar-benar

BAB 1 PENDAHULUAN. mempromosikan museum-museum tersebut sebagai tujuan wisata bagi wisatawan

Wisata : Perjalanan, dalam bahasa Inggris disebut dengan Travel.

BAB II URAIAN TEORITAS TENTANG MUSEUM. Secara Etimologi, museum berasal dari kata Yunani yaitu Mouseion.

PERANCANGAN DESAIN INTERIOR MUSEUM KOPI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN

OPTIMALISASI MUSEUM PENDIDIKAN INDONESIA SEBAGAI SUMBER WIDYA-WISATA DI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA. (Sebuah sumbangan pemikiran pengembangan)

BAB I PENDAHULUAN. sumber devisa negara. Industri yang mengandalkan potensi pada sebuah

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jogi Morrison, 2013

BAB I PENDAHULUAN. fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, selain itu juga dikenal sebagai kota

BAB I. A. Pendahuluan. Museum, menurut International Council of Museums (ICOM), adalah

BAB I Pengembangan Museum Kereta Api di Ambarawa Penekanan pada fasilitas museum yang Variatif dan atraktif

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I Pendahuluan. Pariwisata merupakan sebuah industri yang menjanjikan. Posisi pariwisata

MUSEUM NEGERI JAWA BARAT SRI BADUGA DI BANDUNG (Penekanan Desain Arsitektur Neo Vernacular)

BAB I PENDAHULUAN. Museum Transportasi Darat di Bali 1

E-MUSEUM SEBAGAI MEDIA MEMPERKENALKAN CAGAR BUDAYA DI KALANGAN MASYARAKAT

BAB 1 PENDAHULUAN. Museum merupakan sebuah tempat pembelajaran yang menampung berbagai macam

biasa dari khalayak eropa. Sukses ini mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk menggiatkan lagi komisi yang dulu. J.L.A. Brandes ditunjuk untuk

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 73 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. keanekaragaman kulinernya yang sangat khas. Setiap suku bangsa di Indonesia

'; Soekanto Soerjono, Prof, Dr, SH, MA, Sosiologi Suatu Ppngantar, CV Rajawali, Jakarta, 1982.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LATAR BELAKANG TUJUAN LATAR BELAKANG. Eksistensi kebudayaan Sunda 4 daya hidup dalam kebudayaan Sunda

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LAPORAN TUGAS AKHIR

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dapat dijadikan sebagai prioritas utama dalam menunjang pembangunan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Tabel 1.1. Data kunjungan wisatawan ke kota Bandung Tahun

BAB I PENDAHULUAN FAJRI BERRINOVIAN 12032

BAB I PENDAHULUAN. Prima Charismaldy Ramadhan, 2014

BERITA DAERAH KABUPATEN KARAWANG PERATURAN BUPATI KARAWANG

BAB 1 PENDAHULUAN Kondisi Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan ±

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

MUSEUM KONTEMPORER JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. - Arkeologika, benda koleksi merupakan benda objek penelitian ilmu arkeologi.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Medan dikenal dengan nama Tanah Deli dengan keadaan tanah berawa-rawa kurang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sektor perdagangan, sektor perekonomian, dan sektor transportasi. Dari segi. transportasi, sebelum ditemukannya mesin, manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Obyek dan daya tarik wisata adalah suatu bentukan atau aktivitas dan fasilitas

BAB I PENDAHULUAN. TABEL 1.1 JUMLAH WISATAWAN MANCANEGARA DAN NUSANTARA KE OBJEK WISATA KOTA BANDUNG Jumlah. Jumlah Tahun.

1.1.1 KONDISI TEMPAT WISATA DI SURAKARTA

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D

Transkripsi:

BAB II URAIAN TEORITIS MENGENAI MUSEUM 2.1 Pengertian dan Sejarah Museum Dalam era pembangunan teknologi yang cepat berkembang dewasa ini, peranan museum sangat diharapkan untuk mengumpulkan, merawat, dan mengkomunikasikan berdasarkan penelitian dari benda-benda yang merupakan bukti konkret dari proses pengembangan kebudayaan. Di museum, masyarakat dapat memperoleh tempat berekreasi sambil mendapatkan informasi mengenai ilmu dan kejadian-kejadian yang terdapat dalam kehidupan manusia dan lingkungan. Pada umumnya masyarakat masih memandang museum sebagai suatu tempat atau lembaga yang bersuasana statis, berpandangan konservatif atau kuno, mengurusi bendabenda kuno kalangan elite untuk kebanggaan dan kekaguman semata. Bangunan museum memang terkesan menyeramkan karena identik dengan barang-barang kuno, sunyi, kemegahan, dan kadang agak kurang terurus. Namun seharusnya hal ini tidak menjadi suatu halangan bagi masyarakat untuk tidak mengunjungi museum. Karena dibalik kekakuannya, museum juga memperkenalkan proses perkembangan sosial budaya dari suatu lingkungan kepada masyarakat. Masyarakat juga bisa menggunakan museum sebagai sarana belajar, selain sebagai tempat rekreasi. Untuk lebih lanjut, sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu pengertian museum. Secara etimologi, kata Museum diambil dari bahasa Yunani Klasik, yaitu: muze kumpulan sembilan dewi yang berarti lambang ilmu dan kesenian. Berdasarkan uraian di atas, maka pengertian museum adalah sebagai tempat menyimpan benda-benda kuno yang dapat digunakan untuk menambah wawasan dan juga sebagai tempat rekreasi.

Menurut International Council of Museums ( ICOM ), museum ialah institusi permanen/lembaga permanen, yang melayani kepentingan masyarakat dan kemajuannya, terbuka untuk umum, tidak bertujuan untuk mencari keuntungan, dengan cara mengumpulkan (pengoleksian), memelihara (konservasi), meneliti, memamerkan, dan mengkomunikasikan benda-benda nyata material manusia dan lingkungannya, untuk tujuan studi, pendidikan, dan rekreasi. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif di masa depan. Atau dengan kata lain museum adalah tempat dimana kebudayaan dan keseniaan dari jaman dahulu yang bernilai seni tinggi bisa dilihat. Sejarah Museum Sejarah Museum di Eropa Pada masa gelap di Eropa, para bangsawan dan rohaniawan gereja sangat antusias terhadap benda-benda kuno. Benda-benda ini berbentuk penulisan, kronik, annal, dan hagiografi. Setelah rennaisance atau masa pencerahan, ilmu pengetahuan berkembang pesat, sehingga muncullah keinginan para bangsawan untuk mengumpulkan benda-benda antik. Perdagangan antar negara, khususnya dengan negara-negara di luar Eropa, juga mengalami perkembangan. Para bangsawan pengumpul benda-benda antik tersebut melengkapi koleksinya dari berbagai negara. Hal ini bertujuan untuk pamer kekayaan. Namun masalah yang muncul pada waktu itu mereka membutuhkan ruangan yang cukup luas untuk menyimpan koleksi-koleksi tersebut. Para bangsawan ini juga tidak mengetahui cara penyimpanan dan perawatan benda-benda antik tersebut. Sebagai jalan keluar, benda-benda antik koleksi para bangsawan ini diserahkan kepada lembaga yang mau menyimpan dan merawat benda-benda antik tersebut. Benda-benda ini menjadi milik

lembaga-lembaga tersebut sepenuhnya. Alasan lain, para bangsawan ingin membagi kesenangan sekaligus ingin memamerkan kekayaannya. Demikianlah awal dikenalnya tugas museum, yaitu sebagai lembaga yang merawat dan memamerkan benda-benda antik. Kemudian muncullah galeri yang mengkhususkan diri untuk memamerkan karya-karya lukisan. Setelah melihat bahwa minat masyarakat untuk melihat koleksi benda-benda tersebut sangat besar, akhirnya semakin menjamur museummuseum lain untuk memamerkan koleksi benda-benda antik. Sejarah Museum di Indonesia Sejarah museum di Indonesia mengalami tiga periodesasi, yaitu: 1. Periode Belanda, 2. Periode Inggris, dan 3. Periode Indonesiasi. Berikut ini akan turut disertakan penjelasan singkat mengenai sejarah di Indonesia yaitu sebagai berikut: 1. Periode Belanda Pada tanggal 14 April 1778 dibangun museum yang paling tua di Belanda, yaitu Bataviaasch Genootschap von Kunsten en Westenschappen (Perkumpulan Batavia untuk Memajukan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan) di Jakarta. Museum ini memiliki slogan Ten nutten van het gemmen yang berarti untuk kepentingan umum. Museum ini berisi buku-buku dan benda-benda ilmu alam dan sosial budaya. Museum ini mengkhususkan pada bidang ilmu bahasa, ilmu bumi, dan ilmu bangsa-bangsa. Dengan beranggotakan tokohtokoh pemerintah, perbankan, dan perdagangan. Pada tahun 1915 didirikan Museum Bali di Denpasar. Sekitar tahun 1930-an Striching End Bataviaasch (Perkumpulan Belanda Kuno) mendirikanmuseum End Batavia (Museum Belanda Kuno), yang merupakan suatu museum

yang ditujukan untuk menghormati J.P. Coen, seorang Gubernur Jendral VOC yang sangat disegani. Tahun 1935, didirikan museum Sono Budoyo di Yogyakarta. Pada akhir Perang Dunia II, jumlah museum di Indonesia berjumlah 30 buah. 2. Periode Inggris ( 1806-1811 ) Pada periode ini museum berfungsi sebagai lembaga penasihat pemerintah. NamaBataviaasch Genootschap von Kunsten en Westenschappen diganti menjadi Batavian Society of Arts an Sciences ( Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Orang-orang Batavia ). Didirikan oleh Raffles. Pada masa ini preranan museum semakin berkembang. Selain itu juga pengelola museum mengadakan penerbitan dimana penerbitan ini kemudian bekerjasama dengan lembaga-lembaga di luar negeri. Museum juga digunakan oleh para ahli sebagai pusat pertemuan para orientalis, yaitu ilmuwan yang tertarik pada masalah-masalah atau ilmu-ilmu ketimuran. 3. Periode Indonesiasi Setelah Indonesia merdeka, para penyandang dana meninggalkan Indonesia sehingga museum terbengkalai. Untuk memulihkan kembali peran museum, pada tahun 1950 museum diubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Teknologi meningkat dan arus komunikasi lancar, sehingga budaya asing masuk dengan cepat. Untuk menanggulangi pengaruh budaya asing yang negatif, pemerintah Republik Indonesia membentuk Jawatan Kebudayaan di Yogyakarta. Jawatan Kebudayaan merupakan satu organisasi Kementriaan Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Pada tahun 1975,di Jawatan Kebudayaan ini ditambah satu unit kerja yaitu Urusan Museum yang bertugas untuk membina dan mengembangkan permuseuman. Tahun 1964 Urusan Museum membawahi Lembaga Museum-museum Nasional.

Pada tahun 1966, Lembaga Museum-museum Nasional diubah menjadi Direktorat Museum dalam lingkungan Direktorat Jendral Kebudayaan. Tahun 1971, Direktorat Museum mengelompokkan museum dalam tiga kelompok menurut jenis koleksinya, yaitu : Museum umum, Museum khusus, dan Museum lokal. Pada tahun 1975 pengelompokkan diubah, menjadi sebagai berikut: Museum umum, Museum khusus, dan Museum pendidikan. Pada tahun 1980, pengelompokkan tersebut diubah lagi menjadi dua kelompok, yaitu : Museum umum dan Museum Khusus. Berdasarkan tingkat kedudukan, Direktorat Permuseuman mengelompokkan Museum Umum dam Museum Khusus menjadi Museum tingkat Nasional, Museum Tingkat Regional (Propinsi), dan Museum Tingkat Lokal ( Kodya / Kabupaten ). Pada tahun 1981, berdasarkan catatan terakhir, di Indonesia ada 135 bangunan Museum.

Ada perbedaan antara museum sesudah kemerdekaan dengan sebelum kemerdekaan, yaitu : Perbedaan Tujuan Pendirian Museum sebelum Kemerdekaan Untuk kepentingan ilmu pengetahuan yang menunjang pelaksanaan politik kolonial dan pengembangan ilmu pengetahuan. Museum sesudah Kemerdekaan Untuk melestarikan warisan budaya dalam pengembangan kebudayaan bangsa dan sarana pendidikan non formal. Pengadaan koleksi Banyak. Sebagian dipamerkan dalam tata pameran yang berorientasi pada tata pameran museummuseum di Eropa. Terbatas. Bangunan Sebagian tidak direncanakan untuk museum. Bangunannya tua dan tidak memenuhi tatas bangunan museum modern. Direncanakan khusus untuk museum. Mencerminkan gaya arsitektur tradisional daerah tertentu. Tenaga Memiliki tenaga ilmiah yang berpengalaman, namun jumlah tidak memadai. Masih kekurangan tenaga ahli. Struktur Organisasi Sebagian mempunyai bagian yang melayani bimbingan edukatif. Sarana penunjang belum mencukupi. Struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan.

2.2 FUNGSI MUSEUM Menurut ICOM, museum memiliki beberapa fungsi, antara lain : 1. Mengumpulkan dan pengaman warisan alam dan kebudayaan. 2. Dokumentasi dan penelitian ilmiah. 3. Konservasi dan preservasi. 4. Penyebaran dan pemerataan ilmu untuk umum. 5. Pengenalan dan penghayatan kesenian. 6. Visualisasi warisan baik hasil alam dan budaya. 7. Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia. 8. Pembangkit rasa bertakwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Museum yang dapat digunakan sebagai wadah menambah wawasan di sisi lain juga dapat dijadikan sebagai tempat wisata sebab tempat tersebut merupakan salah satu objek wisata yang menarik dikunjungi oleh masyarakat. Oleh karena itu, sebelum pembahasan lebih lanjut kita harus mengetahui kaitannya. Menurut Ngafenan dalam Karyono (1997:26) defenisi objek wisata: Sebagai objek yang dapat menimbulkan daya tarik bagi wisatawan untuk dapat mengunjunginya misalnya: keadaan alam, bangunan sejarah, pusat-pusat rekreasi atau dengan kata lain sebagai tempat tujuan wisata yakni: tempat pemberhentian terakhir suatu perjalanan wisata dan harga paket tersebut. Jadi, objek wisata disebut juga produk industri pariwisata yang meliputi: seluruh pelayanan yang diperoleh, dirasakan, dan dinikmati oleh wisatawan. Untuk itu, objek wisata merupakan hal yang menentukan dalam kegiatan pariwisata. Adapun yang termaksud ke dalam unsur unsur pengembangan objek wisata yaitu : atraksi, budaya, tenaga kerja, sarana, prasarana, transportasi, jasa pendukung dan juga akomodasi.

Bentuk wisata itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : a. objek wisata alam yakni objek wisata yang 98% merupakan natural atau bersifat alamiah b. objek wisata hasil ciptaan manusia, yaitu objek wisata yang seluruhnya merupakan hasil dari kreatifitas yang diciptakan manusia. Sedangkan yang dimaksud dengan daya tarik wisata adalah: Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 tahun 2009, Daya Tarik Wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan. A. Yoeti dalam bukunya Pengantar Ilmu Pariwisata tahun 1985 menyatakan bahwa daya tarik wisata atau tourist attraction, istilah yang lebih sering digunakan, yaitu segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu Nyoman S. Pendit dalam bukunya Ilmu Pariwisata tahun 1994 mendefiniskan daya tarik wisata sebagai segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat. Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang mempunyai daya tarik, keunikan dan nilai yang tinggi, yang menjadi tujuan wisatawan datang ke suatu daerah tertentu. Jadi, yang dimaksud dengan museum sebagai objek wisata adalah sebuah badan tetap yang berfungsi untuk memelihara, dan memamerkan untuk tujuan penelitian, pendidikan dan hiburan, kumpulan benda yang bernilai bagi kebudayaan dan ilmu pengetahuan.