BAB IV HASIL & PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
KAJIAN KEBIJAKAN PENETAPAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK JENIS BENSIN PREMIUM DI INDONESIA TESIS

PERKEMBANGAN HARGA BBM 1 APRIL 2016

patokan subsidi (Mean of Pajak BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI Biro

Perkembangan Harga BBM

Simulasi Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) tahun 2014

BAB I PENDAHULLUAN. I.1 Latar Belakang

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191 TAHUN 2014 TENTANG PENYEDIAAN, PENDISTRIBUSIAN DAN HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK

Catatan Atas Harga BBM: Simulasi Kenaikan Harga, Sensitivitas APBN dan Tanggapan terhadap 3 Opsi Pemerintah

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAHAN BAKAR. Minyak. Harga Jual Eceran.

BAB I PENDAHULAN. yang sedang berkembang (emerging market), kondisi makro ekonomi

TINJAUAN KEBIJAKAN HARGA BERSUBSIDI BAHAN BAKAR MINYAK DARI MASA KE MASA Jumat, 30 Maret 2012

ii Triwulan I 2012

MUNGKINKAH ADA HARGA BBM BERAZAS KEADILAN DI INDONESIA?

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Uka Wikarya. Pengajar dan Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat,

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lemb

CARLINK PRO FLEXY Dana Investasi Berimbang

KEBIJAKAN PENGATURAN BBM BERSUBSIDI

Mengapa Harga BBM Harus Naik?

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENURUNAN TARIF LISTRIK SEBAgAI DAmPAK TURUNNyA. David Firnando Silalahi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 274/KMK.06/2002 TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN DAN PEMBAYARAN SUBSIDI BAHAN BAKAR MINYAK (BBM)

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2002 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PENELAAHAN BESARAN SUBSIDI BIODIESEL. Agus Nurhudoyo

TINGKAT KUPON pa gross (PER TAHUN)

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2005 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

KEBIJAKAN DAN ALOKASI ANGGARAN SUBSIDI BAHAN BAKAR MINYAK TAHUN 2013

ANALISIS MASALAH BBM

Realisasi Asumsi Dasar Ekonomi Makro APBNP 2015

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan. Salah satu sumber energi utama adalah bahan bakar. Bentuk bahan bakar

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2005 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

KAJIAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO INDONESIA: Dampak Kenaikan BBM. A.PRASETYANTOKO Kantor Chief Economist

Kondisi Pasokan dan Permintaan BBM di Indonesia dan Upaya Pertamina Dalam Pemenuhan Kebutuhan BBM Nasional

REFINERY LOCATION OPERATION AREAS HISTORY PROCESS FLOW DIAGRAM PROCESS UNIT & SUPPORTING FACILITIES PRODUCTS MAN POWER DEVELOPMENT

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2005 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191 TAHUN 2014 TENTANG PENYEDIAAN, PENDISTRIBUSIAN DAN HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK

STATISTIKA. Tabel dan Grafik

PENGARUH PENYESUAIAN TARIF TENAGA LISTRIK GOLONGAN RUMAH TANGGA TERHADAP INFLASI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BPS PROVINSI JAWA BARAT

Teknologi Minyak dan Gas Bumi. Di susun oleh : Nama : Rostati Sumarto( ) Wulan Kelas : A Judul : Sour water stripper

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SEMESTER I 2009

PROSES PRODUKSI BBM DARI MINYAK BUMI DAN KILANG-KILANG BBM PERTAMINA. Refining Technology DIREKTORAT PENGOLAHAN PERTAMINA Januari 2015

BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI INEFISIENSI BBM

BAB I PENDAHULUAN. masih ditopang oleh impor energi, khususnya impor minyak mentah dan bahan

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bahan Bakar Minyak

X-TRA Fixed Rate Market Linked Deposit Denominasi USD & IDR

ANALISIS ASUMSI HARGA MINYAK DAN LIFTING MINYAK APBN 2012

X-TRA Fixed Rate Market Linked Deposit Denominasi USD & IDR

X-TRA Fixed Rate Market Linked Deposit Denominasi USD & IDR

IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, pertumbuhan dunia industri menjadi fokus utama negara negara di

Kondisi Perekonomian Indonesia

PERKEMBANGAN DAN VOLATILITAS NILAI TUKAR RUPIAH

TINGKAT KUPON pa gross (PER TAHUN)

PRUlink Newsletter. Sekilas Ekonomi dan Pasar Modal Indonesia. Kuartal II Beberapa Catatan Ekonomi Penting selama Kuartal II 2008

TINGKAT KUPON pa gross (PER TAHUN)

BAB I PENDAHULUAN. ditanam di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bagian utama dari kelapa sawit yang diolah adalah

Magister Pengelolaan Air dan Air Limbah Universitas Gadjah Mada. 18-Aug-17. Statistika Teknik.

Kinerja CENTURY PRO FIXED

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN APRIL 2017

BAB 3 PEMODELAN, ASUMSI DAN KASUS

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN FEBRUARI 2002

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2002 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN FEBRUARI 2017

SUBSIDI LISTRIK DAN PERMASALAHANNYA

1 of 6 18/12/ :12

Kinerja CARLISYA PRO FIXED

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2001 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. pendapatan bunga atau yang sering disebut Net Interest Margin (NIM), selain itu

Transkripsi:

BAB IV HASIL & PEMBAHASAN 4.1 Forecast Harga Minyak WTI Dari data historis yang ada dengan rentang waktu 2005 sampai dengan Mei 2008, kita mencari forecast harga WTI yang akan digunakan sebagai dasar perhitungn harga patokan tahun 2009. Data historis dan hasil forecast dapat dilihat pada gambar. 4.1. 250 Historical Data Forecast 200 US$ 172,93/bbl HargaWTI (US$/bbl) 150 100 y = 2.4165x + 24.205 R² = 0.8507 50 0 Jan'05 Mar May Jul Sep Nov Jan'06 Mar May Jul Sep Nov Jan'07 Mar May Jul Sep Nov Jan'08 Mar May Jul Sep Nov Jan Mar May Jul Sep Nov Gambar 4. 1 Forecast Harga Minyak WTI Berdasarkan gambar 4.1 tersebut dapat diketahui harga WTI untuk tahun 2009 sebesar US$ 172,93/bbl. Hasil regresi tersebut mempunyai nilai R 2 sebesar 0,85 sehingga data tersebut dapat dianggap valid. Selain berdasarkan hasil regresi, perkiraan harga WTI untuk tahun 2009 yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga riset seperti EIA serta OPEC juga mengindikasikan harga minyak untuk tahun 2009 dalam range antara US$ 150 200/bbl 4.2 Harga ICP Data historis yang digunakan untuk mencari korelasi antar harga minyak WTI dengan harga ICP dapat dilihat pada tabel 4.1. 55

Tabel 4. 1 Harga Minyak WTI vs ICP (dalam US$/bbl) ICP WTI Jan'05 42.39 46.84 Feb 44.74 48.15 Mar 53.00 54.19 Apr 54.86 52.98 May 48.73 49.83 Jun 52.92 56.35 Jul 55.42 59.00 Aug 61.09 64.99 Sep 61.61 65.59 Oct 58.06 62.26 Nov 53.39 58.32 Dec 54.64 59.41 Jan'06 62.26 65.49 Feb 61.19 61.63 Mar 61.72 62.69 Apr 68.92 69.44 May 70.01 70.84 Jun 67.85 70.95 Jul 71.95 74.41 Aug 72.82 73.04 Sep 62.49 63.8 Oct 55.89 58.89 Nov 55.90 59.08 Dec 60.15 61.96 Jan'07 52.81 54.51 Feb 57.62 59.28 Mar 61.49 60.44 Apr 67.91 63.98 May 68.60 63.45 Jun 69.14 67.49 Jul 75.50 74.12 Aug 72.32 72.36 Sep 76.10 79.91 Oct 82.55 85.8 Nov 92.10 94.77 Dec 91.54 91.69 Jan'08 92.09 92.97 Feb 94.64 95.39 Mar 103.11 105.45 Apr 109.31 112.58 May 121.78 125.10 56

Dari data tersebut dapat terlihat harga minyak mentah ICP lebih rendah jika dibandingkan dengan harga WTI karena minyak WTI merupakan jenis minyak dengan fraksi ringan (light sweet) sedangkan ICP merupakan campuran minyak mentah yang ada di Indonesia yang terdiri dari fraksi ringan dan fraksi berat. Setelah itu kita ingin mencari korelasi antara WTI dengan ICP menggunakan data historis yang ada pada tabel 4.1 tersebut. Dari data di atas didapat hubungan antara harga WTI dan ICP dengan besaran R 2 adalah 0,8728 seperti ditunjukkan pada gambar 4.2 sehingga dalam persamaan linier didapat ICP= 0,96 WTI + 1,72 4.1 140.00 120.00 100.00 Harga ICP (US$/bbl) 80.00 60.00 40.00 R 2 = 0,8728 20.00 - Harga WTI (US$/bbl) Gambar 4. 2. Harga ICP vs WTI 4.3 Harga Pasar Produk Minyak (MOPS) Dengan menggunakan metode yang sama dalam perhitungan harga minyak mentah, dalam perhitungan harga produk BBM untuk prognosa nantinya juga harga MOPS tersebut akan dikaitkan dengan harga minyak WTI berdasarkan data historis MOPS seperti pada tabel 4.2. 57

Tabel 4. 2 Harga MOPS Produk BBM (dalam US$/bbl) WTI MOGAS 92 KERO GAS OIL Jan'05 46.84 59.87 51.10 49.23 Feb 48.15 59.70 54.54 52.53 Mar 54.19 58.72 66.33 62.58 Apr 52.98 60.24 71.40 63.91 May 49.83 63.37 63.39 58.89 Jun 56.35 58.38 68.93 67.67 Jul 59.00 63.43 70.07 69.35 Aug 64.99 72.52 75.84 70.66 Sep 65.59 78.39 79.16 75.45 Oct 62.26 67.91 75.71 72.62 Nov 58.32 71.48 64.78 61.80 Dec 59.41 65.90 70.37 63.82 Jan'06 65.49 65.42 77.02 69.37 Feb 61.63 67.20 74.96 66.08 Mar 62.69 64.05 75.66 72.21 Apr 69.44 68.14 84.77 82.99 May 70.84 75.17 85.55 84.18 Jun 70.95 82.21 86.18 85.88 Jul 74.41 89.47 87.57 86.27 Aug 73.04 88.36 89.47 86.29 Sep 63.8 60.18 80.55 75.85 Oct 58.89 61.21 74.02 71.17 Nov 59.08 62.14 73.63 69.99 Dec 61.96 67.03 77.42 69.76 Jan'07 54.51 60.31 69.66 66.08 Feb 59.28 65.73 71.77 70.61 Mar 60.44 75.52 75.02 73.46 Apr 63.98 82.69 80.91 80.24 May 63.45 87.96 82.14 81.73 Jun 67.49 83.82 83.75 81.80 Jul 74.12 84.36 87.16 85.74 Aug 72.36 76.05 84.28 83.00 Sep 79.91 81.35 90.44 90.72 Oct 85.8 87.46 96.62 95.08 Nov 94.77 98.94 112.77 106.97 Dec 91.69 97.09 108.31 105.69 Jan'08 92.97 99.56 106.18 105.70 Feb 95.39 104.13 111.10 111.20 Mar 105.45 109.17 125.37 126.19 Apr 112.58 117.59 138.58 138.34 May 126.51 130.84 159.60 158.61 Berdasarkan data historis seperti dapat dilihat pada tabel 4.2, selanjutnya kita mencari korelasi antara WTI dengan harga MOPS tersebut. Dari hasil data dan 58

perhitungan didapat korelasi antara harga minyak WTI dengan harga MOPS didapat dalam sebuah persamaan linier MOPS Gasoline = WTI + 4,87 4.2 sedangkan untuk harga MOPS kerosene didapat persamaan MOPS Kerosene = WTI + 10,54 4.3 dan untuk harga MOPS Gas Oil, didapat persamaan MOPS Gas Oil = WTI + 6,7 4.4 Konstanta yang ada dalam persamaan diatas tersebut, dapat diartikan sebagai besarnya biaya pengolahan dan fee pengolahan (Gross Refining Margin). Konstanta pada produk kerosene lebih tinggi jika dibandingkan dengan gasoline. Hal ini dimungkinkan karena biaya proses untuk membuat kerosene cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan gasoline. Hal ini pula yang membuat harga kerosene di pasaran lebih tinggi dibandingkan dengan gasoline, selain tentunya faktor supply dan demand. 180.00 160.00 MOPS Price ( US/bbl ) 140.00 120.00 100.00 80.00 60.00 R 2 =0,8578 R 2 =0,8644 R 2 =0,8578 40.00 20.00-70.95 72.36 73.04 74.12 74.41 79.91 85.8 91.69 92.97 94.77 95.39 105.45 112.58 125.83 WTI ( US /bbl ) MOGAS 92 KERO GAS OIL Gambar 4. 1 Harga Pasar Gasoline vs WTI 59

Dari gambar 4.4 dapat dilihat pula bahwa R 2 untuk gasoline sebesar 0,85, kerosene sebesar 0,86 dan gas oil 0,86, sehingga hasil regresi dan persamaan 4.2, 4.3 dan 4.4 tersebut dianggap valid. 4.4 Biaya Pengolahan Dalam perhitungan biaya pengolahan pada kilang yang dipilih yaitu kilang Balikpapan dan kilang Balongan, alur proses untuk menghasilkan Bensin Premium dilakukan seperti penjelasan yang telah diutarakan dalam Tinjauan Pustaka. Detail dari proses diagram kedua kilang tersebut dapat dilihat di lampiran II. Sebagai contoh perhitungan kilang Balikpapan dapat dilihat pada tabel 4.3. 60

Tabel 4. 3 Perhitungan Biaya Proses & Harga Pokok Produksi INTAKE PRODUCT OPERATING API COST / TOTAL PROD NO UO COMPONENT FLOW PRICE/INT. PRICE/DAY COMPONENT FLOW % Yield COST Gravity API PROD PRICE PRICE (MBSD) USD/BBL USD/DAY (MBSD) USD/BBL IN. USD/DAY (USD/BBL) A B C D E F G H I J K 1 CDU V Mix 61.25 92.09 5,640,512.50 Gas - 0.00 0.0000 0 109 6.08 - Handil LPG to LPG Recovery 0.18 0.30 0.0052 320 25 1.39 251.03 95.06 Bekapai L. Naphta to Premium 1.29 2.14 0.0375 2,296 71 3.96 5,109.21 97.63 badak H. Naphta to Tank 3.58 5.94 0.1040 6,372 56 3.12 11,183.48 96.79 walio Kerosene to Tank 8.25 13.70 0.2397 14,684 44 2.45 20,249.42 96.12 LGO to ADO 7.41 12.30 0.2153 13,189 34 1.90 14,054.10 95.56 HGO to ADO 2.47 4.10 0.0718 4,396 34 1.90 4,684.70 95.56 L. Residue to HVU III 26.69 44.32 0.7756 47,506 25 1.39 37,221.56 95.06 L.Residue to HVU II - 0.00 0.0000 0 25 1.39 - L.Residue to LSWR 10.35 17.19 0.3008 18,422 25 1.39 14,433.99 95.06 SUB TOTAL 61.25 5,640,512.50 60.22 100.00 1.750 107,188 2 HVU III L. Residue Ex CDU V 26.69 95.060 2,537,143.16 LVGO to ADO 1.80 8.04 0.2026 5,407.14 36 3.70 6,655.93 117.01 - HVGO to H Naphta 6.17 27.56 0.6944 18,534.47 33 3.39 20,913.80 116.71 S. Residue to LSWR 8.45 37.74 0.9510 25,383.51 21 2.16 18,226.77 115.47 POD to Wax Plant 5.67 25.32 0.6382 17,032.49 35 3.60 20,383.79 116.91 POD to Tank 0.30 1.34 0.0338 901.19 35 3.60 1,078.51 116.91 SUB TOTAL 26.69 2,537,143.16 22.39 100.00 2.520 67,259 3 CDU IV Mix 217.96 92.09 20,071,936.40 Gas - 0.00 0.0000 0 109 5.14 - LPG to LPG Recovery 3.67 1.75 0.0306 6,673 25 1.18 4,324.88 96.85 L. Naphta to Premium 22.13 10.55 0.1846 40,236 71 3.35 74,064.03 99.02 H.Naphta to NHT 19.89 9.48 0.1659 36,163 56 2.64 52,503.76 98.32 H. Naphta to Tank 4.81 2.29 0.0401 8,745 56 2.64 12,696.99 98.32 Kerosene to Tank 34.62 16.50 0.2888 62,944 44 2.07 71,803.78 97.75 LGO to ADO 30.20 14.40 0.2519 54,908 34 1.60 48,400.90 97.28 HGO to ADO 14.87 7.09 0.1240 27,036 34 1.60 23,831.83 97.28 L.Residue to HVU II 79.60 37.94 0.6640 144,725 25 1.18 93,803.84 96.85 L.Residue to LSWR - 0.00 0.0000 0 25 1.18 - SUB TOTAL 217.96 20,071,936.40 209.79 100.00 0.790 381,430 3 HVU II L. Residue Ex CDU IV 79.60 96.855 7,709,639.38 LVGO to ADO 13.27 17.50 0.1260 10,028.09 36 0.93 12,356.47 102.59 - HVGO to HCC 35.34 46.60 0.3355 26,706.30 33 0.85 30,164.86 102.51 S. Residue to LSWR 27.23 35.90 0.2585 20,577.61 21 0.54 14,790.67 102.20 SUB TOTAL 79.60 7,709,639.38 75.84 100.00 0.720 57,312 4 NHDT H. Naphta Ex CDU IV 19.89 98.32 1,955,505.88 Gas to H2 Plant - 0.00 0.0000-109 20.70 - - Sweet Naphta to PTFR 20.00 100.00 1.9100 37,989.90 10 1.90 37,989.90 99.67 SUB TOTAL 19.89 1,955,505.88 20.00 100.00 1.91 37,990 5 PTFR H. Naphta (NHDT) 19.98 99.67 1,991,502.28 Gas 2.89 13.88 0.2637 5,269.46 45 1.40 4,034.19 97.05 Premium 17.93 86.12 1.6363 32,692.54 61 1.89 33,927.81 97.55 SUB TOTAL 19.98 1,991,502.28 20.82 100.00 1.9 37,962 6 HCU-A HVGO ex HVU II 17.67 102.51 1,811,355.22 Gas - 0.00 0.0000-109 6.42 - HVGO ex Tank 4.58 102.51 469,496.71 LPG to LPG Recovery 0.70 2.79 0.0815 1,813 25 1.47 1,031.16 92.42 L. Naphta to Premium 1.04 4.15 0.1211 2,694 71 4.18 4,350.90 95.13 H. Naphta NHDT 3.57 14.23 0.4156 9,248 56 3.30 11,779.94 94.24 Avtur 7.13 28.43 0.8301 18,470 48 2.83 20,165.91 93.77 IDO to Tank 12.46 49.68 1.4507 32,278 37 2.18 27,164.82 93.12 LSWR 0.18 0.72 0.0210 466 45 2.65 477.28 93.59 SUB TOTAL 22.25 2,280,851.93 25.08 100.00 2.92 64,970 7 HCU-B HVGO ex HVU II 17.67 102.51 1,811,355.22 Gas - 0.00 0.0000-109 6.42 - HVGO ex Tank 4.58 102.51 469,496.71 LPG to LPG Recovery 0.70 2.79 0.0815 1,813 25 1.47 1,031.16 92.42 L. Naphta to Premium 1.04 4.15 0.1211 2,694 71 4.18 4,350.90 95.13 H. Naphta NHDT 3.57 14.23 0.4156 9,248 56 3.30 11,779.94 94.24 Avtur 7.13 28.43 0.8301 18,470 48 2.83 20,165.91 93.77 IDO to Tank 12.46 49.68 1.4507 32,278 37 2.18 27,164.82 93.12 LSWR 0.18 0.72 0.0210 466 45 2.65 477.28 93.59 SUB TOTAL 22.25 2,280,851.93 25.08 100.00 2.92 64,970 61

Sebagai contoh perhitungan, pada tabel 4.3, dengan harga crude intake sebesar US$ 92,09/bbl didapat berbagai harga produk yang keluar pada masing-masing unit proses. Kemudian untuk mengkalkulasi harga produk Bensin Premium yang dihasilkan oleh kilang Unit Pengolahan V Balikpapan, dapat kita lihat perhitungannya pada tabel 4.4 yang merupakan campuran produk Light Naphta yang keluar dari unit CDU V dan IV, Platformer dan HCU A dan B. Dari hasil perhitungan didapat harga produk Light Naphta secara keseluruhan yang keluar dari Kilang Balikpapan sebesar US$ 98,18/bbl. 62

CDU V HVU III CDU IV HVU II NHDT PTFR HCU A Tabel 4. 4 Pencampuran Produk Bensin Kilang Balikpapan END PRODUCT FLOW PRICE FLOW PRICE FLOW PRICE COMPONENT (MBSD) ($/BBL) (MBSD) ($/BBL) (MBSD) ($/BBL) GAS LPG to LPG Recovery L. Naphta to Premium 1.29 97.63 H.Naphta Kerosene to Tank 8.25 96.12 LGO to ADO 7.41 95.56 HGO to ADO 2.47 95.56 L. Residue to HVU III L. Residue to HVU III L. Residue to LSWR LVGO to ADO 1.80 117.01 HVGO to Tank S. Residue to LSWR POD To WaxPLant POD to Tank Gas LPG to LPG Recovery L. Naphta to Premium 22.13 99.02 H.Naphta to NHT H.Naphta to Tank Kerosene to Tank 34.62 97.75 LGO to ADO 30.20 97.28 HGO to ADO 14.87 97.28 L.Residue to HVU II L.Residue to LSWR LVGO to ADO 13.27 102.59 HVGO to HCC S. Residue to LSWR Gas to H2 Plant Sweet Naphta to PTFR LPG Premium to Tank Gas Premium to Tank 17.93 97.55 Gas LPG to LPG Recovery L.Naphta to Premium 1.04 95.13 H.Naphta to NHDT Avtur IDO to Tank LSWR Gas LPG to LPG Recovery HCU B L.Naphta to Premium 1.04 95.13 H.Naphta to NHDT Avtur IDO to Tank LSWR PREMIUM KEROSENE ADO TOTAL PRODUCT 43.43 42.87 70.02 HARGA RATA-RATA 98.18 97.44 98.55 Sehingga pada harga crude intake ICP 92,09 US$/bbl, maka processing cost untuk menghasilkan produk Bensin Premium sebesar US$ 6,09/bbl atau biaya processing costnya adalah 6,62% dari biaya dari harga crude intakenya. Untuk mendapatkan biaya produk yang lain dilakukan melalui cara perhitungan yang sama dengan perhitungan harga produk Bensin Premium. 63

Dengan perlakuan yang sama pada kilang Balikpapan, dihitung pula harga produk ex-kilang pada Unit Pengolahan VI Balongan. Perhitungan secara lengkap pada tiap harga ICP dapat dilihat pada Lampiran III. Pada tabel 4.5 ini adalah harga produk ex-kilang pada berbagai tingkat harga ICP berdasar data historis. Tabel 4. 5 Harga Bensin Premium dan Processing Cost Unit Pengolahan V Balikpapan dan Unit Pengolahan VI Balongan Crude (US/BBL) Balikpapan (US$/bbl) Balongan (US$/bbl) Prod Ex-Kilang (US$/bbl) WTI ICP Prod Price Proc Cost Prod Price Proc Cost Prod Price Proc Cost 46.84 42.39 47.72 5.34 47.64 5.25 47.68 5.30 54.19 53.00 58.50 5.50 58.30 5.29 58.40 5.39 61.63 61.19 66.81 5.62 66.52 5.33 66.67 5.48 73.04 72.82 78.62 5.80 78.20 5.38 78.41 5.59 92.97 92.09 98.18 6.09 97.56 5.47 97.87 5.78 105.45 103.11 109.37 6.27 108.63 5.52 109.00 5.89 Dari tabel 4.5 diatas dapat dilihat hasil perhitungan seperti contoh yang pada harga ICP US$ 53,00/bbl, harga Bensin Premium US$ 58,50 sehingga processing costnya US$ 5,5/bbl. Sedangkan pada harga ICP US$ 103,11/bbl, harga Bensin Premiumnya US$ 109,37/bbl sehingga besarnya processing cost US$ 6,27/bbl. Dapat dilihat untuk kilang Balikpapan, semakin tingginya harga minyak (crude intake), maka biaya proses yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan Bensin Premium semakin besar pula. Pada kilang Balongan hasil yang didapat yaitu harga Bensin Premium pada harga ICP US$ 53,00, sebesar US$ 58,30/bbl sehingga processing costnya US$ 5,29/bbl, ICP US$ 103,11, sebesar US$ 108,63/bbl sehingga processing costnya US$ 5,52/bbl. Dari tabel 4.5 dapat dilihat pula bahwa, semakin tinggi harga crude intake, maka biaya prosesnya akan semakin tinggi pula. Namun jika dilihat prosentase biaya proses terhadap harga crude intake, maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi harga crude intake maka prosentase biaya proses terhadap harga crude intake semakin rendah (berbanding terbalik). Setiap rata-rata kenaikan harga crude intake US$ 5/bbl, maka biaya prosesnya akan naik US$ 0,05/bbl. Jika dilihat dari prosentase terhadap harga crude intake, maka setiap kenaikan US$ 5/bbl, biaya prosesnya akan turun 0,19%. 64

4.5 Hubungan Biaya Proses Dengan Harga Minyak Mentah Semakin tinggi harga crude intake, maka biaya proses produksinya akan semakin tinggi pula, tetapi jika dilihat dari segi prosentase biaya prosesnya terhadap harga crude intake, maka semakin tinggi harga crudenya, prosentase biaya proses terhadap harga crude intakenya semakin rendah seperti terlihat pada gambar 4.3 dibawah ini. 6.00 5.90 5.80 5.70 Process cost (US$/bbl) 5.60 5.50 5.40 5.30 5.20 5.10 5.00 4.90 42.39 53.00 61.19 72.82 92.09 103.11 ICP (US$/bbl) Gambar 4. 3 Hubungan antara ICP vs Processing Cost Dengan mengetahui harga minyak mentah, dalam hal ini kita bisa menetapkan besaran processing cost. Jika kita menginginkan besaran itu dalam bentuk angka nominal, biaya proses merupakan fungsi dari harga minyak mentah dengan mengikuti persamaan: Processing Cost (dalam US$/bbl) = 0,01963 ICP + 4,18 4.5 Sehingga kita bisa menghitung ataupun menetapkan berapa besar processing cost pada tingkat harga minyak tertentu dengan menggunakan persamaan 4.5. 65

4.6 Perbandingan Harga Produk Ex-Kilang Dengan Market Price Berdasarkan perhitungan biaya produk yang dihasilkan oleh kedua kilang yang dijadikan studi kasus, yaitu kilang Balikpapan dan kilang Balongan didapat hasil dan kita bandingan dengan harga pasar pada waktu yang bersamaan. Crude (US$/BBL) Tabel 4. 6 Perbandingan Harga Produk Bensin Premium Prod Ex-Kilang (US$/bbl) MOPS Price (US$/bbl) selisih (Mark-Ex- Kilang) selisih (Mark- Crude) WTI ICP Prod Price Proc Cost 46.84 42.39 47.68 5.30 59.87 12.19 17.48 54.19 53.00 58.40 5.39 58.72 0.33 5.72 61.63 61.19 66.67 5.48 67.20 0.53 6.01 73.04 72.82 78.41 5.59 88.36 9.94 15.53 92.97 92.09 97.87 5.78 99.56 1.69 7.47 105.45 103.11 109.00 5.89 110.57 1.57 7.46 Dapat dilihat dari tabel perhitungan 4.6 di atas bahwa harga produk yang dihasilkan oleh kilang domestik lebih rendah jika dibandingkan dengan harga produk dipasaran berdasarkan publikasi dari Platts. Untuk lebih memvalidasi data hasil perhitungan serta sebagai justifikasi digunakan benchmark margin kilang seperti tercantum dalam Tinjauan Pustaka. Margin kilang disini merupakan selisih antara harga crude dengan produknya dan diambil pada waktu yang sama. Berdasarkan data historis, Gross Refining Marginnya rata-rata kilang domestik untuk kurun waktu 2005-Maret 2008 sebesar US$ 9,5/bbl. Sedangkan berdasarkan benchmark pada kurun waktu yang sama, GRM-nya US$ 6-9/bbl. Selisih antara harga produk ex-kilang dengan harga pasar dapat diartikan suatu keuntungan kilang (fee pengolahan). Benchmark terhadap biaya proses juga dilakukan pada kilang di Amerika Serikat, seperti dijabarkan pada Tinjauan Pustaka, didapat biaya proses sebesar US$ 5/bbl. Dari hasil benchmark tersebut, didapatkan pula selisih antara harga ex-kilang dengan gross refining marginnya yang bisa diartikan sebagai fee pengolahan ataupun keuntungan kilang sebesar US$ 1,5/bbl. 66

4.7 Perhitungan Biaya Distribusi PT Pertamina (Persero) sebagai pelaksana kegiatan penyediaan dan pendistribusian BBM yang ada di Indonesia membagi wilayah distribusinya menjadi tujuh bagian seperti disebutkan dalam tinjauan pustaka. Tabel 4. 7 Biaya Distribusi Tiap Wilayah Distribusi WILAYAH DISTRIBUSI (Rp/liter) UPMS I 148 UPMS II 167 UPMS III 93 UPMS IV 121 UPMS V 153 UPMS VI 102 UPMS VII 192 UPMS VIII 257 Rata-rata 154.125 (sumber Ditjen Migas, PT Pertamina (Persero), 2004) Biaya distribusi pada tabel 4.7 tersebut merupakan biaya yang didapat dengan harga minyak mentah ICP US$ 37,5/bbl dan harga MOPS Gasolinenya US$ 46,62/bbl. Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa biaya distribusi untuk wilayah UPMS III merupakan yang paling murah. Hal ini dimungkinkan karena letaknya yang dekat dengan sumber pasokan serta infrastrukturnya sudah terbangun dengan sempurna dibandingkan dengan daerah lainnya. Sedangkan untuk wilayah UPMS VIII merupakan wilayah distribusi yang palinng mahal karena letaknya yang cukup jauh dengan sumber pasokan dan infrastrukturnya belum terbangun dengan sempurna. Berdasarkan data sekunder Dinas Perhubungan DKI, setiap kenaikan harga BBM sebesar 30%, akan berimbas terhadap besarnya biaya distribusi sebesar 14-20%. Kenaikan harga BBM dapat diartikan pula sebagai sebab kenaikan harga minyak mentahnya. 67

400.00 350.00 300.00 BiayaDist (Rp/liter) 250.00 200.00 150.00 100.00 50.00 - Harga Minyak (US$/bbl) Gambar 4. 4 Pengaruh Harga Minyak Terhadap Biaya Distribusi Biaya distribusi akan semakin tinggi dengan semakin meningkatnya harga minyak. Hal ini dapat kita lihat pada gambar 4.4. Jika kita korelasikan biaya distibusi tersebut sebagai fungsi terhadap harga BBM, maka besarnya biaya distribusi mengikuti persamaan berikut Biaya Dist (Rp/liter) = 1,85 MOPS Gasoline + 74,26 4.6 Tetapi jika biaya distribusi tersebut dilihat sebagai prosentase terhadap harga crude maka semakin tinggi harga crudenya, maka prosentase biaya distribusi terhadap harga minyak semakin rendah seperti dapat dilihat pada gambar 4.5 68

7.50 7.00 %Distribusi Terhadap HargaMinyak 6.50 6.00 5.50 5.00 4.50 4.00 3.50 3.00 Harga Minyak (US$/bbl) Gambar 4. 5 Prosentase Biaya Distribusi Thd Harga Minyak 4.8 Margin Wholesale dan Retailer Dalam perhitungan harga patokan jenis BBM Tertentu, termasuk Bensin Premium, struktur biayanya termasuk margin untuk wholesale (pelaksana kegiaatan penyediaan dan pendistribusian Jenis BBM Tertentu) serta untuk retailer. Untuk penentuan margin bagi wholesale kita melakukan benchmark dengan negara lain seperti Thailand. Margin wholesale untuk Perusahan Minyak Badan Usaha Milik Negara (State Owned Company) Thailand yaitu PTT sekitar Bath 0,5-1/liter (Piyavasti Amranand) atau sekitar US$ 3,28/bbl. Sedangkan untuk margin retailer penyedia Bensin Premium yang berlaku saat ini sebesar Rp 180/liter atau US$ 3,15/bbl. Kita mencoba membandingkan besaran margin wholesale dan margin retailer dengan harga produk ex-kilang, harga crude intake yang kita gunakan sama dengan harga ICP dalam asumsi makro APBN-P Tahun Anggaran 2008 yaitu sebesar US$ 95/bbl. Dengan menggunakan persamaaan 4.14, didapat processing cost untuk harg crude intake US$ 95/bbl adalah US$ 5,79/bbl, sehingga harga produk ex-kilangnya sebesar US$ 100,79/bbl. Maka dapat diketahui dengan tingkat harga minyak mentah 69

US$ 95/bbl, besarnya margin wholesale adalah 3,25% terhadap harga produk exkilang. Sedangkan besarnya margin retailer adalah 3,12% terhadap harga produk exkilang. Besaran margin wholesale dan margin retailer dalam penetapan harga patokan sebaiknya dalam angka nominal dan bersifat tetap karena margin tersebut tidak terlalu terpengaruh dengan harga minyak. 4.9 Besaran Harga Patokan Tahun 2009 4.9.1 Berdasarkan Least Cost Penetapan harga patokan berdasarkan least cost untuk Tahun 2009, dengan forecast pada harga WTI sebesar US 172,93 dapat dihitung: HPLC = Harga Crude Oil + Biaya Produksi + Margin Kilang Biaya Distribusi + Margin Wholesale & Retailer HPLC = harga patokan Bensin Premium Berdasarkan Least Cost Harga ICP dapat dihitung dengan menggunakan persamaa 4.1 dan didapatkan hasil sebesar US$ 167,06/bbl. Biaya Proses dihitung dengan menggunakan persamaan 4.5 dan didapatkan hasil sebesar US$ 7,46/bbl. Sedangkan untuk mengetahui besarnya biaya distribusi dengan menggunakan persamaan 4.6, terlebih dahulu kita harus mencari harga MOPS Gasoline dengan menggunakan persamaan 4.2 dan didapatkan besaran biaya distribusi sebesar Rp 412,65. Jadi total besarnya harga patokan untuk tahun 2009 berdasarkan least cost sebesar Rp 10.854,44/liter seperti dapat dilihat pada tabel 4.8 Tabel 4. 8 Harga Patokan Tahun 2009 Berdasarkan Least Cost dalam US$/bbl dalam Rp/liter WTI 172.93 9897.48 ICP a 167.06 9561.37 Proces cost b 7.46 427.07 Margin Kilang c 1.50 85.85 MOPS 178.12 10194.57 Dist d 412.65 Margin BU e 367.50 Harga Patokan a+b+c+d+e 10854.44 (asumsi kurs Rp 9100/liter) 70

Jika kita ingin membuat harga patokan Bensin Premium dalam suatu bentuk formula, maka menjadi maka formula nya : ICP + 13,5% Jika kita menginginkan besaran margin kilang dan margin wholesale serta retailer tidak dalam bentuk prosentase melainkan dalam bentuk nominal karena tidak terkait secara langsung dengan tingkat harga minyak, sedangkan untuk biaya proses produksi dan biaya distribusi dalam bentuk prosentase terhadap harga crude oil intake, maka formula harga patokan untuk tahun 2009 adalah: ICP + 8,8% + Rp 453,35/liter 4.9.2 Berdasarkan Market Price Harga patokan yang dihitung berdasarkan market price hanya menggunakan variabel harga pasar berdasarkan publikasi internasional ditambah dengan biaya distribusi serta margin wholesale dan retailer. Tidak ada margin kilang disini karena dalam harga pasar dianggap sudah termasuk margin kilang didalamnya. Metode harga patokan ini sama dengan yang berlaku saat ini di Indonesia. Sehingga untuk formula harga patokan dengan berdasarkan product market price, menggunakan formula: HPMK = MOPS + % Biaya Distribusi thd MOPS + margin BU HPMK = Harga Patokan Bensin Premium Berdasarkan Market Price Jadi besarnya harga patokan untuk tahun 2009 adalah sebesar Rp 10974,72/liter. Jika kita ingin membuat harga patokan Bensin Premium dalam suatu bentuk formula, maka menjadi maka formula nya : MOPS + 7,1% Jika kita menginginkan besaran margin kilang dan margin wholesale serta retailer tidak dalam bentuk prosentase melainkan dalam bentuk nominal karena tidak terkait secara langsung dengan tingkat harga minyak, sedangkan untuk biaya proses produksi dan biaya distribusi dalam bentuk prosentase terhadap harga crude oil intake, maka formula harga patokan untuk tahun 2009 adalah: MOPS + 3,8% + Rp 367,5/liter 71

4.10 Subsidi Bensin Premium Setelah mendapatkan formulasi antara kedua metode perhitungan harga patokan, yaitu berdasarkan least cost dan market price, kita mencoba membandingkan keduanya, serta dampaknya terhadap keuangan negara dalam hal ini adalah besarnya subsidi BBM. Dalam perhitungan subsidi Bensin Premium disini kita menggunakan basis harga jual eceran (regulated price) yang tetap, berdasarkan Kebijakan Penetapan Harga Jual Eceran yang terakhir dari Pemerintah yaitu sebesar Rp 6000/liter. Harga tersebut sudah termasuk pajak-pajak antara lain Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Perhitungan subsidi merupakan selisih antara harga patokan dengan harga jual eceran setelah dikurangi pajak-pajaknya. SUBSIDI/LITER = HARGA PATOKAN HARGA JUAL EXCL PAJAK Tabel 4. 9. Perbandingan Subsidi (dalam Rp/liter) Least Cost Market Price Harga Patokan Subsidi Harga Patokan Subsidi Harga Jual Eceran 6000 Harga Jual Eceran Net 5217.3913 10854.44 5637.05 10974.72 5757.33 Pada tabel 4.9 dapat dilihat bahwa perhitungan harga patokan dengan menggunakan metode least cost akan menghasilkan nilai susbdi yang lebih kecil jika dibandingkan dengan metode market price. Hal ini dapat menguntungkan keuangan negara karena jumlah subsidi yang harus dikeluarkan juga semkain sedikit juga menggunakan metode least cost. 4.11 Sensitivitas Harga WTI Terhadap ICP, MOPS, Processing Cost dan Biaya Distribusi Berdasarkan hasil berbagai lembaga riset juga memperkirakan harga minyak pada tahun 2009 akan bergerak dalam rentang antara US$ 150 200/bbl.(OPEC, EIA). Pada tabel 4.10 dapat dilihat besaran harga patokan dalam rentang harga tersebut. 72

Tabel 4. 10 Sensitivitas Harga WTI Terhadap ICP, MOPS, Biaya Proses dan Biaya Distribusi WTI ICP MOPS Gasoline Processing Cost Margin Kilang Biaya Dist Margin BU Harga Patokan US$/bbl US$/bbl Rp/liter US$/bbl Rp/liter US$/bbl Rp/liter US$/bbl Rp/liter Rp/liter Rp/liter Rp/liter a b c d e f g h i j k l=c+g+i+j+k 150 145.13 8,306.44 155.15 8,879.53 7.03 402.44 369.04 9,532.77 155 149.91 8,580.03 160.16 9,166.23 7.13 407.81 378.55 9,821.24 160 154.70 8,853.63 165.17 9,452.93 7.22 413.18 388.06 10,109.72 165 159.48 9,127.23 170.18 9,739.63 7.31 418.55 397.57 10,398.19 170 164.26 9,400.82 175.19 10,026.33 7.41 423.92 407.07 10,686.67 172.93 167.06 9,561.15 178.12 10,194.34 7.46 427.07 412.65 10,854.21 1.50 85.85 367.50 175 169.04 9,674.42 180.19 10,313.04 7.50 429.29 416.58 10,975.14 180 173.82 9,948.02 185.20 10,599.74 7.59 434.66 426.09 11,263.62 185 178.60 10,221.61 190.21 10,886.44 7.69 440.03 435.60 11,552.09 190 183.38 10,495.21 195.22 11,173.14 7.78 445.40 445.11 11,840.57 195 188.16 10,768.81 200.23 11,459.84 7.88 450.77 454.61 12,129.04 200 192.94 11,042.40 205.24 11,746.54 7.97 456.14 464.12 12,417.52 (asumsi kurs Rp 9100/liter) 27.1 22.1 Kenaikan/Penurunan Harga WTI (US$/bbl) 17.1 12.1 7.1 2.1 0.0-2.9-7.9-12.9-17.9-22.9-30.0-20.0-10.0 0.0 10.0 20.0 30.0 Pengaruh Terhadap ICP, MOPS & Processing Cost (US$/bbl) Biaya Proses MOPS ICP Gambar 4. 6. Sensitivitas Harga WTI Terhadap ICP, MOPS dan Biaya Proses Dari gambar 4.6, dapat kita lihat bahwa setiap kenaikan harga WTI sebesar US$ 5/bbl, akan mengakibatkan kenaikan harga ICP sebesar US$ 4,78/bbl atau 2,89%, kenaikan harga MOPS Gasoline sebesar US$ 5,01/bbl atau 2,87% dan biaya prosesnya akan naik sebesar US$ 0,09/bbl atau 1,25%. Sehingga perubahan tingkat harga minyak akan sangat mempengaruhi harga ICP. 73

4.12 Sensitivitas WTI Terhadap Subsidi 140.00 120.00 100.00 Rp 4,9 T Base case SUBSIDI (Rp T) 80.00 60.00 40.00 20.00-150 155 160 165 170 172.93 175 180 185 190 195 200 HARGA WTI (US$/BBL) (Asumsi harga jual eceran Bensin Premium tetap Rp 6000/liter) Gambar 4. 7 Sensitivitas Harga WTI Terhadap Subsidi Sesuai gambar 4.7, dapat kita lihat, bahwa setiap kenaikan harga minyak WTI sebesar US$ 5/bbl, akan mengakibatkan subsidi yang harus ditanggung oleh Pemerintah akan meningkat sebesar Rp 4,9 T. 4.13 Pengaruh Kenaikan Harga WTI & Harga Patokan Terhadap Badan Usaha Pelaksana Kegiatan Penyediaan & Pendistribusian Jenis BBM Tertentu Dalam penetapan harga patokan bensin premium, dapat ditetapkan melalui suatu bentuk formula. Baik itu dengan metode least cost maupun market price. Dalam hasil perhitungan diatas, formula untuk kedua metode tersebut dapat berupa prosentase secara keseluruhan ataupun gabungan antara prosentase dan nilai nominal. Nilai nominal dalam perhitungan harga patokan dengan menggunakan least cost adalah profit kilang dan margin Badan Usaha (wholesale dan retailer). Sedangkan untuk metode berdasarkan market price, nilai nominalnya hanya margin Badan Usaha. Kelebihan jika digunakan nilai nominal tersebut adalah, biaya-biaya tersebut tidak akan bertambah jika terdapat kenaikan harga minyak mentah maupun harga produk minyak sehingga keuntungan yang didapat Badan Usaha akan sama pada setiap harga minyak. Jika formula harga patokan ditetapkan dalam prosentase secara keseluruhan, maka semakin tinggi harga minyak, keuntungan yang didapat akan semakin tinggi pula. Badan Usaha juga dituntut untuk beroperasi secara efisien sehingga biaya pokok produksi serta biaya distribusinya tidak melebihi yang telah ditetapkan. 74

4.14 Sensitivitas Harga Jual Eceran Terhadap Subsidi Dalam penetapan harga jual eceran Bensin Premium, selain mempertimbangkan kemampuan keuangan negara dalam membiayai subsidi juga harus mempertimbangkan daya beli masyarakat terhadap BBM itu sendiri. Penetapan harga jual eceran tersebut juga harus dilihat dampaknya terhadap indikator makro ekonomi Indonesia seperti laju inflasi serta GDP. Untuk mengetahui dampak perubahan harga suatu komoditas terhadap daya beli masyarakat, dapat melalui cara share komoditas tersebut dalam pembentukan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI). CPI sendiri dibentuk dari sekian banyak komoditas. Bila kontribusi indeks harga suatu komoditas terhadap indeks harga umum diketahui, maka akan dapat diketahui juga dampak perubahan harga komoditas tersebut terhadap indeks harga umum dan inflasi sehingga dapat dihitunga juga penurunan daya beli masyarakat secara umum. Sedangkan untuk mencari dampak terhadap indikator makro ekonomi seperti GDP dapat dilakukan melalui metode Input Output. Perhitungan-perhitungan diatas belum dilakukan dalam penelitian ini karena adanya keterbatasan waktu. Untuk lebih melengkapi kajian dalam penetapan harga Bensin Premium diperlukan hal tersebut. Dalam penelitian ini kita hanya mencoba mensimulasikan perubahan harga jual ecerannya dengan asumsi harga patokan 2009 seperti yang telah kita tetapkan di atas. 75

7000.00 6000.00 5000.00 Subsidi (Rp/liter) 4000.00 3000.00 2000.00 1000.00 0.00 6000 6500 7000 7500 8000 8500 9000 9500 10000 Harga Jual Eceran (Rp/liter) Subsidi Based Least Cost Subsidi Based Market Price Gambar 4. 8 Sensitivitas Harga Jual Eceran Terhadap Besarnya Subsidi Dari gambar 4.8 dapat dilihat bahwa, setiap kenaikan harga Bensin Premium sebesar Rp 500/liter, akan mengakibatkan penurunan besaran subsidi sebesar Rp 434,78/liter. Jika diasumsikan volume BBM Bersubsidi Jenis Bensin Premiumnya sebesar 17.000.000 KL, maka setiap kenaikan harga jual eceran Rp 500/liter akan mengakibatkan berkurangnya anggaran untuk subsidi sebesar Rp 7,39 T seperti dapat kita lihat pada gambar 4.9. 76

120.00 SUBSIDI(RpT) 100.00 80.00 60.00 40.00 97.87 95.83 90.48 88.44 83.09 81.05 75.70 73.66 68.31 66.26 60.92 58.87 53.53 51.48 Rp 7,4 T 46.14 44.09 38.74 36.70 20.00 0.00 6000 6500 7000 7500 8000 8500 9000 9500 10000 HARGA JUAL ECERAN (Rp/liter) SUBDIDI BASE LEAST COST SUBSIDI BASE MARKET PRICE Gambar 4. 9 Sensitivitas Harga Jual Eceran Terhadap Subsidi Total 4.15 Penetapan Harga Jual Eceran Terhadap Daya Beli Masyarakat Dalam penetapan harga jual eceran, selain memperhatikan keuangan negara dan indikator makro ekonomi, juga harus memperhatikan kemampuan daya beli masyarakat (willingness to pay). Dapat dilihat pada gambar 4.10, sesuai dengan survey BPS, masyarakat golongan menengah ke atas, mempunyai pengeluaran bensin premium relatif terhadap pendapatannya lebih besar jika dibandingkan dengan masyarakat golongan menengah ke bawah. 45% PENGELUARANBENSINPER BULAN RELATIF TERHADAP PENDAPATAN (%) 40% 35% 30% 25% 20% 15% 10% 5% 0% 45% 20% 5% > 3.000.000 1.000.000-3.000.000 < 1.000.000 PENDAPATAN (Rp/bulan) Sumber: BPS 2008 Gambar 4. 10 Pengeluaran Bensin Premium Relatif Terhadap Pendapatan 77

Kenaikan harga jual eceran akan sangat berpengaruh terhadap golongan menengah ke atas. Seperti ditunjukkan pada gambar 4.11, kenaikan harga jual eceran sebesar Rp 500/liter, akan berpengaruh terhadap kenaikan pengeluaran pada golongan menengah ke atas (pendapatan > Rp 3.000.000/bulan) sebesar 2,8% relatif terhadap pendapatannya. Sedangkan untuk masyarakat golongan bawah (pendapatan < Rp 1.000.000/bulan), kenaikan harga jual eceran sebesar Rp 500/liter hanya berpengaruh kenaikan pengeluaran bensin premium sebesar 0,3% relatif terhadap pendapatannya. 45.0 Pengeluaran Bensin PremiumPer Bulan Relatif Terhadap Pendapatan (%) 40.0 35.0 30.0 25.0 20.0 15.0 10.0 5.0 0.0 2,8% 6500 7000 7500 HargaJual Eceran (Rp/liter) > 3.000.000 1.000.000-3.000.000 < 1.000.000 Gambar 4. 11 Sensitivitas Harga Jual Eceran Terhadap Pengeluaran Untuk Bensin Premium 78