Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Ditinjau Dari Kelekatan Anak-Orang Tua

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kelekatan. melekat pada diri individu meskipun figur lekatnya itu tidak tampak secara fisik.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Febi Rosalia Indah, 2014

BAB I PENDAHULUAN. sebutan masa kanak-kanak akhir, misalnya orangtua memberi sebutan

KELEKATAN PADA ANAK. Oleh : Sri Maslihah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN MOTIVASI ANAK UNTUK BERSEKOLAH DI KELURAHAN SUKAGALIH KECAMATAN SUKAJADI KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. interaksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas di masyarakat dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Setiap aspek kehidupan selalu berkaitan erat dengan masalah belajar.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. afeksional pada seseorang yang ditujukan pada figur lekat dan ikatan ini

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,

BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang. lingkungan (Semiun, 2006). Penyesuaian diri diistilahkan sebagai adjustment.

PROSIDING ISBN :

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri tanpa

BAB I PENDAHULUAN. sekolah serta sarana dan prasarana sekolah. mencapai tujuan pembelajaran. Motivasi dalam kegiatan belajar memegang

6. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN

BAB I PENDAHULUAN. membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Kelekatan Orangtua Tunggal Dengan Konsep Diri Remaja Di Kota Bandung

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penyesuaian Sosial. Manusia adalah makhluk sosial.di dalam kehidupan sehari-hari manusia

5. ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA

BAB I PENDAHULUAN. hlm Teacher centered merupakan sebuah pendekatan yang menggunakan pola komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. sekolah tertentu. Siswa SMP dalam tahap perkembangannya digolongkan

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BAB I PENDAHULUAN. siswa itu sendiri. Mata pelajaran PKn sering dianggap sebagai sebuah mata pelajaran

BAB II LANDASAN TEORI. potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice)

BAB II KAJIAN TEORETIK. memiliki ide atau opini mengenai sesuatu (Sudarma, 2013). Selain itu,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Psikologi Kepribadian I. Psikologi Psikologi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI GAYA GESEK

HUBUNGAN SIKAP BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP

BAB I PENDAHULUAN. Ibu memiliki lebih banyak peranan dan kesempatan dalam. mengembangkan anak-anaknya, karena lebih banyak waktu yang digunakan

BAB I PENDAHULUAN. dan siswa. Pola umum ini oleh Lapp et al. (1975) diistilahkan Gaya

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan. Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003, h. 16), menjelaskan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. semangat untuk menjadi lebih baik dari kegiatan belajar tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. membimbing, dan mendisiplinkan, serta melindungi anak untuk mencapai

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan negara di segala bidang. Agar mendapatkan manusia yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. survei yang dilakukan oleh the Asian-South Pacific Bureau of Adult Education

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kemampuan untuk menyesuaikan tingkah

BAB I PENDAHULUAN. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan yang pesat serta. penggunaan teknologi modern telah membawa berbagai perubahan dalam

BAB I PENDAHULUAN. perubahan cepat yang terjadi sebagai peningkatan IPTEK berdampak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang perlu mendapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. secara bertahap yaitu adanya suatu proses kelahiran, masa anak-anak, remaja,

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF ROLE PLAYING DENGAN CD INTERAKTIF

kedalam bentuk nilai maupun sebuah pernyataan. Tabel 1.1 Tuntas Persentase (orang) % % % %

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB I PENDAHULUAN. Setiap individu memiliki kondisi internal, di mana kondisi internal tersebut

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidak lepas dari permasalahan, di

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan zaman diabad 21 ini memperlihatkan perubahan yang begitu

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERTANYA SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS MELALUI METODE TANYA JAWAB DENGAN TEKNIK PROBING PROMPTING

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. mengadakan hubungan atau memerlukan bantuan orang lain. Tanpa bantuan,

BAB 1 PENDAHULUAN. Asep Saputra, 2014 Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN. datang, jika suatu bangsa memiliki sumber daya manusia yang berkualitas

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu proses pengembangan diri individu dari

BAB I PENDAHULUAN. oleh mahasiswa. Prestasi adalah hasil dari usaha mengembangkan bakat secara

BAB I PENDAHULUAN. proses-proses perwujudan pilar-pilar penyangga masyarakat. Pendidikan. diperlukan dalam perkembangan kehidupannya.

Henni Anggraini Universitas Kanjuruhan Malang

BAB I PENDAHULUAN. arti penting dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari ilmu

BAB I PENDAHULUAN. sebab melalui sektor pendidikan akan dihasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar

Pengaruh Kemampuan Awal Matematika dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika

NASKAH ARTIKEL PUBLIKASI. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Diajukan Oleh: Eliana Rahmawati

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Self Efficacy adalah keyakinan seseorang dalam mengkoordinasikan keterampilan dan kemampuan untuk mencapai

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DALAM BELAJAR DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA. Supri Yanti 1), Erlamsyah 2), Zikra 3)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Bagaimana Memotivasi Anak Belajar?

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan anak untuk optimalisasi bagi perkembangannya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. orangtua. Anak bukan hanya sekedar hadiah dari Allah SWT, anak adalah

Desnaeni Dyah Winastiti, Eko Setyadi Kurniawan, Arif Maftukhin

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan luar. Perubahan-perubahan tersebut menjadi tantangan besar bagi

EFEKTIVITAS METODE KUIS INTERAKTIF DAN EXPLICIT INTRUCTION PADA PRESTASI BELAJAR MAHASISWA STKIP PGRI NGAWI

BAB II KAJIAN TEORETIS. Motivasi berasal dari kata motif yang artinya daya upaya yang mendorong seseorang

NASKAH PUBLIKASI STUDI KASUS MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR DI SD N KENTENG PURWOREJO KELAS V-B

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. orang tua dengan anak. Orang tua merupakan makhluk sosial pertama yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB IV HASIL ANALISIS POLA ASUH ORANG TUA BURUH TANI DALAM MEMBINA KEBERAGAMAAN ANAK DESA BUMIREJO ULUJAMI PEMALANG

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Pengaruh Kreativitas Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Mata

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Hasil belajar merupakan bagian akhir dari proses belajar dengan kata lain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Siswa Sekolah Menengah Pertama merupakan tahap anak berada pada masa

BAB I PENDAHULUAN. itu kebutuhan fisik maupun psikologis. Untuk kebutuhan fisik seperti makan,

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

BAB I. bekerjasama yang efektif. Cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan. melalui belajar matematika karena matematika memiliki struktur dan

BAB I PENDAHULUAN. mengajar dirancang dan disajikan. Dengan dilaksanakannya Kurikulum

BAB I PENDAHULUAN. dengan cara meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas rumah,

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi setiap kecerdasan individu yang beragam. Dengan begitu guru

BAB I PENDAHULUAN. setiap orang, sedangkan penting maksudnya bahwa ilmu pengetahuan itu besar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia (SDM) yang berkualitas. Manusia harus dapat menyesuaikan dengan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa berkembang dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membantu kita untuk menerangkan tingkah laku yang kita amati dan meramalkan

BAB II LANDASAN TEORI

Jurnal Swarnadwipa Volume 1, Nomor 2, Tahun 2017, E-ISSN PERAN GURU SEBAGAI MOTIVATOR DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KELAS X SMA N 6 METRO

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan

P - 88 ANALISIS DESKRIPTIF FAKTOR PENYEBAB KESULITAN BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMA NEGERI 8 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013

BAB I PENDAHULUAN. untuk pertama kalinya belajar berinteraksi atau melakukan kontak sosial

Transkripsi:

Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Ditinjau Dari Kelekatan Anak-Orang Tua P 7 Dani Nurhayati Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Jalan Marsda Adisucipto No. 1 Yogyakarta 55281 Abstrak. Orang tua merupakan sosok yang paling berpengaruh dalam kehidupan setiap anak. Keterlibatan orang tua dalam setiap proses kehidupan anak akan memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangannya. Jika orang tua terbiasa memperhatikan, mengarahkan, mengontrol, dan memberikan dukungan kepada anak, maka anak akan merasa dihargai dan tumbuh motivasi yang kuat di dalam dirinya. Namun, di masa sekarang jarang sekali dijumpai orang tua yang memberikan perhatian yang cukup terhadap kegiatan belajar anak di rumah, terutama pada saat anak belajar matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran sekolah yang tergolong sulit. Perhatian dan bantuan orang tua saat anak belajar matematika, dapat membantu anak terdorong untuk berusaha menyelesaikan permasalahan matematika yang dihadapinya. Jika anak memiliki motivasi yang kuat, maka ia dapat menghasilkan prestasi yang baik. Dengan dilakukannya kajian ini, diharapkan orang tua lebih peduli terhadap pendidikan anak sehingga menghasilkan motivasi dan prestasi yang baik di sekolah. Sebagai hasil dari kelekatan anak dan orang tua, anak yang diberikan perhatian, pengarahan, kontrol, dan dukungan yang intensif akan memiliki motivasi yang kuat sehingga mampu menghasilkan prestasi belajar yang baik dalam pembelajaran matematika. Kata kunci: motivasi, prestasi, pembelajaran matematika, kelekatan anak-orang tua 1. PENDAHULUAN a. Latar belakang Keluarga merupakan bagian yang penting dari kehidupan anak, sebab keluarga merupakan lingkungan pertama anak dan orang penting dalam kehidupan sekurangkurangnya tahun-tahun awal kehidupan anak. Oleh karena itu, orang tua adalah orang yang paling dekat dengan kehidupan seorang anak. Menurut Elizabeth B. Hurlock (Nashori, 2005), hubungan dengan anggota keluarga melandasi sikap terhadap orang lain, benda dan kehidupan secara umum. Keluarga juga meletakkan landasan bagi pola penyesuaian dan belajar berpikir tentang diri mereka sebagaimana dilakukan anggota keluarga mereka. Akibatnya, mereka belajar menyesuaikan diri pada kehidupan atas dasar landasan yang diletakkan ketika lingkungan sebagian besar terbatas pada rumah. Klaus dan Kennel (Ervika, 2005; Bee,1981) menyatakan bahwa masa kritis seorang bayi adalah 12 jam pertama setelah dilahirkan. Penelitian yang dilakukan Makalah dipresentasikan dalam dengan tema Matematika dan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran pada tanggal 3 Desember 2011 di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

menunjukkan bahwa kontak yang dilakukan ibu pada satu jam pertama setelah melahirkan selama 30 menit akan memberikan pengalaman mendasar pada anak. Hal senada juga dikemukakan oleh Sosa (Ervika, 2005; Hadiyanti,1992) bahwa ibu yang segera didekatkan pada bayi seusai melahirkan akan menunjukkan perhatian 50% lebih besar dibandingkan ibu-ibu yang tidak melakukannya. Di masa sekarang ini, jarang sekali dijumpai orang tua yang memberikan perhatian yang cukup terhadap kegiatan belajar anak di rumah. Banyak orang tua sibuk dengan urusannya masing-masing, misalnya bekerja. Bahkan, tak sedikit ibu yang tidak lagi hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga, melainkan juga bekerja di luar rumah. Hal inilah yang menjadi keprihatinan tentang masa depan anak. Istilah kelekatan (attachment) pertama kali dikemukakan oleh seorang psikolog dari Inggris pada tahun 1958 bernama John Bowlby. Kemudian formulasi yang lebih lengkap dikemukakan oleh Mary Ainsworth pada tahun 1969. Kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua (Ervika, 2005; Mc Cartney dan Dearing, 2002). Bowlby (Ervika, 2005; Haditono dkk,1994) menyatakan bahwa hubungan ini akan bertahan cukup lama dalam rentang kehidupan manusia yang diawali dengan kelekatan anak pada ibu atau figur lain pengganti ibu. Pengertian ini sejalan dengan yang dikemukakan Ainsworth (Ervika, 2005; Hetherington dan Parke,2001) kelekatan adalah ikatan emosional yang dibentuk seorang individu dengan orang lain yang bersifat spesifik, mengikat mereka dalan suatu kedekatan yang bersifat kekal sepanjang waktu. Kelekatan merupakan suatu hubungan yang didukung oleh tingkah laku lekat (attachment behavior) yang dirancang untuk memelihara hubungan tersebut (Ervika, 2005; Durkin, 1995). Tidak semua hubungan yang bersifat emosional dapat disebut kelekatan. Ainsworth menyatakan ciri emosional yang menunjukkan kelekatan adalah hubungan bertahan cukup lama, ikatan tetap ada walaupun figur lekat tidak tampak dalam jangkauan mata anak, bahkan jika figur digantikan oleh orang lain dan kelekatan dengan figure lekat akan menimbulkan rasa aman (Ervika, 2005; Adiyanti, 1985). Yogyakarta, 3 Desember 2011 MP 61

Menurut Maccoby (Ervika, 2000) seorang anak dapat dikatakan lekat pada orang lain jika memiliki ciri-ciri antara lain (1) mempunyai kelekatan fisik dengan seseorang; (2) menjadi cemas ketika berpisah dengan figur lekat; (3) menjadi gembira dan lega ketika figur lekatnya kembali; (4) orientasinya tetap pada figur lekat walaupun tidak melakukan interaksi. Anak memperhatikan gerakan, mendengarkan suara dan sebisa mungkin berusaha mencari perhatian figur lekatnya. Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kelekatan adalah suatu hubungan yang bersifat afektif antara satu individu dengan individu lainnya yang mempunyai arti khusus, yang biasanya ditujukan pada ibu atau pengasuhnya. Hubungan itu bersifat timbal balik, bertahan cukup lama dan memberikan rasa aman walaupun figur lekat tidak tampak dalam pandangan anak. Motivasi adalah dorongan awal seseorang untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri manusia sebagai alasan atau sebab untuk melakukan sesuatu. Berdasarkan KBBI, kata motif berarti alasan (sebab) seseorang melakukan sesuatu, sedangkan kata motivasi berarti (1) dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; (2) (Psikologi) usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Ditinjau dari sumber yang menimbulkannya, motif dibedakan menjadi dua macam, yaitu motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif instrinsik merupakan motif yang telah ada dalam diri individu itu sendiri sehingga tidak memerlukan rangsangan dari luar. Sedangkan motif ekstrinsik timbul karena adanya rangsangan dari luar individu. Motif intrinsik lebih kuat daripada motif ekstrinsik. Oleh karena itu, pendidikan harus berusaha menimbulkan motif intrinsik dengan menumbuhkan dan mengembangkan minat mereka terhadap bidang studi yang diminati, atau dengan pembiasaan dari orang tua yang selalu berusaha memberikan perhatian dan pengarahan terhadap anak. Yogyakarta, 3 Desember 2011 MP 62

Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari praktik yang dilandasi keinginan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan pembelajaran memilliki hakikat perencanaan atau perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Sehingga dalam belajar siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru, tapi juga dengan segala sumber belajar yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan (Uno, 2007). Belajar dan motivasi merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Uno (2005) menjelaskan bahwa motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Tetapi, kedua faktor tersebut disebabkan oleh rangsangan tertentu, sehingga seseorang berkeinginan untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat. Jadi, motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada anak yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku yang pada umumnya dengan beberapa indikator yang mendukung. Hal itu memberikan peranan besar terhadap keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator dalam motivasi belajar dapat diklasifikasikan menjadi (1) adanya keinginan untuk berhasil; (2) adanya kebutuhan dan dorongan untuk belajar; (3) adanya harapan dan cita-cita masa depan; (4) adanya penghargaan dalam belajar; (5) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar; (6) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seorang anak dapat belajar dengan baik. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran sekolah yang tergolong sulit. Bahkan sebagian anak mulai membenci matematika seiring ilmu yang harus mereka pahami. Pembelajaran matematika menurut Bruner adalah belajar tentang konsep dan struktur matematika yang terdapat dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan antarkonsep dan struktur matematika di dalamnya ( Hudojo, 2003). Perhatian dan bantuan orang tua saat anak belajar matematika, dapat membantu anak terdorong untuk berusaha menyelesaikan permasalahan matematika yang dihadapinya. Jika anak memiliki motivasi yang kuat, maka ia dapat menghasilkan prestasi yang baik. Namun tidak semua orang tua dapat membentuk anak untuk Yogyakarta, 3 Desember 2011 MP 63

menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut dengan baik. Kelekatan anakorang tua menjadi salah satu faktor beragamnya motivasi dan prestasi belajar anak, terutama dalam pembelajaran matematika. b. Rumusan masalah Bagaimana gambaran motivasi dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika jika ditinjau dari kelekatan anak-orang tua? c. Tujuan Untuk mengetahui gambaran motivasi dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika jika ditinjau dari kelekatan anak-orang tua. d. Manfaat Kajian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar terhadap perkembangan anak dalam proses belajar, terutama dengan peran orang tua yang ikutserta dalam memberikan perhatian dan dorongan agar tercipta motivasi dan prestasi belajar yang baik. 2. PEMBAHASAN Terdapat banyak gambaran tentang kelekatan anak dengan orang tua dalam hal pembelajaran. Ada anak yang sangat dekat dengan orang tua, sehingga orang tua tahu apa yang sedang dialami oleh anaknya, ada anak yang cukup dekat dengan orang tua namun peran orang tua tidak terlalu besar dalam pembelajaran siswa, serta adapula orang tua yang terkesan acuh terhadap pendidikan anaknya. Dalam kajian ini, pemakalah memaparkan 3 (tiga) fakta yang memberikan gambaran tentang pengaruh kelekatan anak-orang tua terhadap motivasi dan prestasi belajar anak dalam pembelajaran matematika. Fakta-fakta tersebut merupakan hasil pengamatan pemakalah selama menjadi tenaga pengajar privat. Pengamatan dilakukan sejak tahun 2008. Pemakalah melihat kondisi anak melalui pengamatan, pernyataan dari orang tua, serta pertanyaan yang pemakalah berikan kepada anak. Yogyakarta, 3 Desember 2011 MP 64

Dalam hal ini, tingkat kemampuan intelegensi tidak dianggap sebagai patokan prestasi siswa, namun dilihat dari nilai ujian matematika maupun rangking di kelas. Pemakalah menggunakan pengamatan dengan latar belakang anak yang sama, yaitu anak tunggal yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas, dan kedua orang tua bekerja di luar rumah dengan jam kerja yang cukup padat. Kasus pertama, seorang anak perempuan yang saat ini berusia 13 tahun dan duduk di bangku kelas VIII di salah satu madrasah di Sleman. Ia berasal dari salah satu SD swasta favorit di Yogyakarta. Kedua orang tua tidak pernah menemani anak belajar. Ayahnya seorang sopir taksi yang biasanya bekerja sejak pagi dan pulang larut malam. Sedangkan ibunya seorang karyawan swasta di salah satu perusahaan tenaga kerja di Yogyakarta. Anak tersebut sempat diikutsertakan dalam bimbingan belajar sewaktu ia kelas VI SD agar kemampuannya meningkat. Orang tua menganggap, dengan bimbingan belajar, kemampuan sang anak bisa terasah dan meningkat. Namun, pada akhirnya anak tersebut memperoleh nilai UASBN yang kurang baik, sehingga ia masuk ke madrasah karena nilainya tidak memenuhi di sekolah negeri di Yogyakarta. Setelah kejadian tersebut, orang tua sama masih bersikap sama, yaitu sama sekali tidak memberikan perhatian yang lebih terhadap pendidikan anaknya. Kondisi ini membuat sang anak merasa bebas melakukan apa saja karena ketidakadaan perhatian orang tua. Bahkan dalam belajar, terutama mata pelajaran matematika, banyak materi yang tidak dipahami anak karena anak tidak memiliki motivasi belajar. Nilai matematikanya-pun tergolong rendah, dengan rangking kelas yang bisa dikatakan sangat rendah. Kasus selanjutnya, seorang anak perempuan yang saat ini bersekolah di SMP Negeri 4 Yogyakarta kelas VIII. Dulu ia bersekolah di SD negeri yang grade-nya tergolong sedang. Ayahnya seorang wiraswasta di bidang bangunan yang lebih banyak bekerja di lapangan, sedangkan ibunya seorang karyawan swasta di salah satu Department Store di Yogyakarta. Meskipun orang tua sibuk, mereka masih menyempatkan diri untuk menanyakan apa yang dialami anak di sekolah setiap hari. Orang tua bahkan selalu memantau nilai ujian anak, apakah menurun atau meningkat. Kedua orang tuanya menyadari bahwa mereka tidak mampu membantu anaknya belajar matematika karena memang tidak paham. Namun mereka tetap memberikan dorongan yang kuat dan meyakinkan sang anak bahwa dia bisa. Sang Yogyakarta, 3 Desember 2011 MP 65

anak selalu mendapatkan peringkat tiga besar di sekolahnya, baik sewaktu SD maupun SMP. Agar anak selalu memiliki motivasi, orang tua akan memberikan reward jika sang anak mendapatkan rangking tiga besar di kelasnya. Alhasil, sang anak pernah mendapatkan sebuah handphone sebagai hasil dari prestasinya mendapat rangking dua di kelas. Kasus yang terakhir, seorang anak laki-laki yang saat ini merupakan siswa kelas VII di SMP 5 Yogyakarta. Dulu ia bersekolah di SD negeri favorit di Yogyakarta. Ayahnya seorang karyawan swasta yang bekerja di luar kota, sedangkan ibunya seorang guru bahasa Inggris di salah satu sekolah internasional di Yogyakarta dan juga sebagai guru privat. Kedua orang tua jarang menemani anak belajar namun selalu memberikan perhatian intensif, terutama dorongan moriil. Orang tua selalu meyakinkan bahwa yang dilakukan sang anak yang penting sudah maksimal, tidak perlu memaksakan diri untuk selalu mendapatkan nilai terbaik. Hanya sesekali ibu menemani anaknya belajar. Kebiasaan sang anak bermain game dibiarkan begitu saja, sebab keluarga itu menghargai setiap kebebasan individunya. Namun bukan berarti orang tua tidak memperhatikan pendidikannya anaknya. Meskipun anak diberikan kebebasan yang besar, namun orang tua selalu menanamkan sikap tanggung jawab dalam diri anaknya. Misalnya, setiap masamasa ujian, anak tidak boleh bermain game. Jika anak mampu mendapatkan nilai yang memuaskan, orang tua tidak segan-segan memberikan hadiah atau reward kepada anak. Bahkan, setelah orang tua tahu anaknya mendapat nilai 100 pada UASBN mata pelajaran matematika, mereka langsung memberikan reward jalanjalan ke Singapura. Ketiga fakta di atas memberikan gambaran betapa besarnya pengaruh kelekatan anak dan orang tua terutama dalam belajar matematika. Dalam dua kasus terakhir membuktikan bahwa orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya masih sempat untuk memberikan perhatian, pengarahan, serta dorongan yang kuat untuk mendidik anaknya. Keinginan orang tua untuk menjadikan anak mampu menjalankan pembelajaran, terutama dalam pembelajaran matematika, menjadi dasar orang tua dalam mendidik anaknya. Yogyakarta, 3 Desember 2011 MP 66

Jika sejak kecil anak telah diberikan perhatian yang cukup dari orang tuanya, biasanya anak akan memiliki motivasi yang kuat untuk membahagiakan orang tua dengan memberikan prestasi yang baik. Meskipun orang tua sibuk bekerja, tapi anak tetap memiliki motivasi karena anak percaya bahwa sekalipun orang tua jarang berada di dekatnya, namun perhatian orang tua tidak hilang. Menurut Olgar (2005), masa depan anak sangat bergantung pada pendidikan, pengajaran, dan lingkungan yang diciptakan orang tuanya. Lingkungan rumah dan pendidikan orang tua yang diberikan kepada anaknya dapat membentuk atau merusak masa depan anak. Jadi, motivasi dan prestasi anak bergantung kepada seberapa besar peran orang tua dalam membantu, mendukung, serta mengontrol anak dalam belajar matematika. Pemberian reward untuk anak merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi anak dalam belajar matematika. Anak akan merasa terdorong untuk belajar lebih giat jika orang tua memberikan reward. Secara tidak langsung, sebenarnya orang tua mendidik anaknya seperti menerapkan teori belajar behavior, yaitu menekankan pentingnya reward, agar anak tidak terlalu terbebani dengan pelajaran matematika yang tergolong sulit. Tidak selamanya penyelesaian pembelajaran atau tugas dilatarbelakangi oleh motif berprestasi atau keinginan untuk berhasil. Terkadang, seseorang yang menyelesaikan suatu pekerjaan sebaik orang yang memiliki motif berprestasi tinggi, justru karena dorongan menghindarkan kegagalan yang bersumber pada ketakutan akan kegagalan itu sendiri. Jadi, tampak bahwa keberhasilan anak dalam belajar disebabkan oleh dorongan atau rangsangan dari luar dirinya. Dalam penelitian Avin Fadilla Helmi yang berjudul Gaya Kelekatan dan Konsep Diri, yang dipublikasikan dalam Jurnal Psikologi, ISSN : 0215 8884, No. 1, ia mengemukakan bahwa gaya kelekatan aman mempunyai kontribusi yang lebih besar dalam konsep diri dibandingkan dengan gaya kelekatan tidak aman (cemas dan menghindar). Implikasi dari penelitian tersebut adalah dalam upaya meningkatkan konsep diri anak maka faktor kelekatan orang tua menjadi penting. Pengganti objek lekat menjadi faktor penting dalam kehidupan masa kini terutama bagi perempuan yang bekerja dan berkarier dimana sebagian waktunya tersita untuk Yogyakarta, 3 Desember 2011 MP 67

bekerja. Dalam penelitian tersebut, gaya kelekatan dibagi menjadi dua, yaitu gaya kelekatan aman dan gaya kelekatan tidak aman (cemas dan menghindar). Jadi, kelekatan anak dan orang tua penting terhadap motivasi dan prestasi anak dalam pembelajaran matematika. Dengan dukungan, dorongan, serta penghargaan orang tua terhadap anak, anak akan merasa termotivasi untuk menghasilkan prestasi yang baik. 3. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan : a. Dengan adanya perhatian dari orang tua dalam pembelajaran matematika, anak akan merasa dihargai, sehingga muncul motivasi yang kuat, baik motivasi untuk belajar atau motivasi untuk berprestasi. b. Dengan perhatian, dorongan, arahan, serta kontrol dari orang tua, anak akan memiliki motivasi yang kuat sehingga terdorong untuk menghasilkan prestasi yang baik di sekolah, terutama pada pelajaran matematika. Saran : a. Sebaiknya orang tua tetap memberikan perhatian serta mengontrol anak dalam belajar matematika, sebab matematika bukanlah pelajaran yang mudah dan dapat diselesaikan oleh anak tanpa adanya motivasi yang kuat dalam dirinya. b. Pemberian reward atau punishment oleh orang tua dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar anak dalam pembelajaran matematika.. 4. DAFTAR PUSTAKA Avin Fadilla Helmi. (1999). Gaya Kelekatan dan Konsep Diri. Jurnal Psikologi, ISSN : 0215 8884, No. 1, 9-17. Diakses dari http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/gayakelekatan_avin.pdf pada tanggal 27 November 2011 pukul 06.28 Yogyakarta, 3 Desember 2011 MP 68

Eka Ervika. (2005). Kelekatan (Attachment) pada Anak. e-usu Repository, 1-17. Diakses dari http://library.usu.ac.id/download/fk/psikologieka%20ervika.pdf pada tanggal 27 November 2011 pukul 06.32 Fuad Nashori. (2005). Profil Orang Tua Anak-Anak Berprestasi. Yogyakarta : Insania Cita Press Hamzah B. Uno. (2007). Teori Motivasi dan Pengukurannya : Analisis di Bidang Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara Herman Hudojo. (2003). Pengembangan Kurikulum Pembelajaran Matematika. Malang : UM Press Maulana Musa Ahmad Olgar. (2005). Mendidik Anak Secara Islami. Yogyakarta : Citra Risalah Yogyakarta, 3 Desember 2011 MP 69