1 2 3

dokumen-dokumen yang mirip
ABSTRAK. Kata Kunci : Curah Hujan, Levenberg Marquardt, Backpropagation. ABSTRACT

ANALISIS ALGORITMA INISIALISASI NGUYEN-WIDROW PADA PROSES PREDIKSI CURAH HUJAN KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

PREDIKSI CURAH HUJAN DI KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

ANALISIS ALGORITMA PREDIKSI CURAH HUJAN MENGGUNAKAN HYBRID PARTIALLY CONNECTED FEEDFORWARD NEURAL NETWORK (PCFNN) DAN NESTED GENETIC ALGORITHM (GA)

SATIN Sains dan Teknologi Informasi

V. PENYUSUNAN MODEL PREDIKSI CURAH HUJAN BERDASARKAN FENOMENA ENSO DAN IOD UNTUK MENENTUKAN RENCANA TANAM

PREDIKSI CURAH HUJAN MENGGUNAKAN EVOLVING FUZZY Bernadus Seno Aji 1, Fhira Nhita 2, Adiwijaya 3

PREDIKSI CURAH HUJAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GRAMMATICAL EVOLUTION

PERANCANGAN PENGATURAN DURASI LAMPU LALU LINTAS ADAPTIF

PREDICTION OF AGRICULTURAL COMMODITIES PRICE USING HYBRID RADIAL BASIS FUNCTION NEURAL NETWORK WITH GENETIC ALGORITHM

Jaringan Syaraf Tiruan dengan Pembelajaran Algoritma Genetika dan Diversitas untuk Deteksi Kelas Penyakit

PREDIKSI CURAH HUJAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GRAMMATICAL EVOLUTION

JARINGAN SYARAF TIRUAN PROPAGASI BALIK DALAM PREDIKSI PERSEDIAAN TERNAK SAPI POTONG ( STUDI KASUS DI WILAYAH SUMATERA BARAT )

Perancangan Kalender Tanam Berdasarkan Data Klimatologi Menggunakan Metode Forecasting Holt-Winters (Studi Kasus : Boyolali) Artikel Ilmiah

Perbaikan Metode Prakiraan Cuaca Bandara Abdulrahman Saleh dengan Algoritma Neural Network Backpropagation

PERANCANGAN PARAMETER TERBAIK UNTUK PREDIKSI PRODUKSI BAN GT3 MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN RESILIENT PROPAGATION

PREDIKSI TINGKAT INFLASI DI INDONESIA BERBASIS JARINGAN SYARAF TIRUAN DAN ALGORITMA GENETIKA. Rita Rismala 1, Said Al Faraby 2

ANALISIS ALGORITMA PREDIKSI CURAH HUJAN MENGGUNAKAN ALGORITMA COMPETITIVE NEURAL NETWORK

VOL. 01 NO. 02 [JURNAL ILMIAH BINARY] ISSN :

ANALISIS PENAMBAHAN MOMENTUM PADA PROSES PREDIKSI CURAH HUJAN KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

Jurnal Fisika Unand Vol. 2, No. 4, Oktober 2013 ISSN

Pengaruh Dataset Ekuatorial Terhadap Akurasi Evolving Neural Network Prediksi Curah Hujan

JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI CURAH HUJAN SUMATERA UTARA DENGAN METODE BACK PROPAGATION (STUDI KASUS : BMKG MEDAN)

PREDIKSI DISTRIBUSI AIR PDAM MENGGUNAKAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION DI PDAM KOTA MALANG

ANALISIS PENAMBAHAN NILAI MOMENTUM PADA PREDIKSI PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB III PEMBAHASAN. harga minyak mentah di Indonesia dari bulan Januari 2007 sampai Juni 2017.

IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN MULTI LAYER FEEDFORWARD DENGAN ALGORITMA BACKPROPAGATION SEBAGAI ESTIMASI NILAI KURS JUAL SGD-IDR

PELATIHAN FEED FORWARD NEURAL NETWORK MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA DENGAN METODE SELEKSI TURNAMEN UNTUK DATA TIME SERIES

ANALISIS DAN IMPLEMENTASI GABUNGAN ALGORITMA GENETIKA DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION (STUDY KASUS PERAMALAN SAHAM)

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN MULTI LAYER PERCEPTRON PADA APLIKASI PRAKIRAAN CUACA

OPTIMASI PROSES PENGGILINGAN GABAH DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DAN ALGORITMA GENETIKA 1

Implementasi Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation dan Steepest Descent untuk Prediksi Data Time Series

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

UNNES Journal of Mathematics

Pengaruh Dipole Mode dan El Nino Southern Oscillation Terhadap Awal Tanam dan Masa Tanam di Kabupaten Mempawah

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Analisis Prediksi Indeks Harga Konsumen Berdasarkan Kelompok Kesehatan Dengan Menggunakan Metode Backpropagation

STUDI ANALISA PELATIHAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN DAN TANPA ALGORITMA GENETIKA

PERAMALAN JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN MANCANEGARA KE LOMBOK MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN

Optimasi Bobot Multi-Layer Perceptron Menggunakan Algoritma Genetika Untuk Klasifikasi Tingkat Resiko Penyakit Stroke

PREDIKSI CUACA EKSTRIM DENGAN MODEL JARINGAN SYARAF TIRUAN MENGGUNAKAN PROGRAM MATLAB

Implementasi Algoritma Genetika dan Neural Network Pada Aplikasi Peramalan Produksi Mie (Studi Kasus : Omega Mie Jaya)

ANALISIS JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI JUMLAH RESERVASI KAMAR HOTEL DENGAN METODE BACKPROPAGATION (Studi Kasus Hotel Grand Zuri Padang)

STUDI ESTIMASI CURAH HUJAN, SUHU DAN KELEMBABAN UDARA DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION

EVALUASI MODEL JARINGAN SYARAF TIRUAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK PREDIKSI IKLIM EKSTRIM DENGAN KORELASI CURAH HUJAN DAN TINGGI MUKA LAUT DI SEMARANG

PERAMALAN HARGA EMAS MENGGUNAKAN ALGORTIMA MEMETIKA DENGAN PENCARIAN LOCAL TABU SEARCH. Iqbal Dwihanandrio

1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang

Analisis Prediksi Indeks Harga Konsumen Berdasarkan Kelompok Kesehatan Dengan Menggunakan Metode Backpropagation

Prediksi Nilai Tukar Petani Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation

Estimasi Suhu Udara Bulanan Kota Pontianak Berdasarkan Metode Jaringan Syaraf Tiruan

SKRIPSI HYBRIDRADIAL BASIS FUNCTION(RBF) DENGAN ALGORITMA GENETIKA DAN ALGORITMA SIMULATED ANNEALING UNTUK PREDIKSI KONSUMSI LISTRIK

BAB II LANDASAN TEORI

Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Metode Backpropagation Menggunakan VB 6

T 11 Aplikasi Model Backpropagation Neural Network Untuk Perkiraan Produksi Tebu Pada PT. Perkebunan Nusantara IX

ANALISIS PERBANDINGAN METODE BACKPROPAGATION DAN RADIAL BASIS FUNCTION UNTUK MEM PREDIKSI CURAH HUJAN DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah

1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

Penentuan Arsitektur Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation (Bobot Awal dan Bias Awal) Menggunakan Algoritma Genetika

Prediksi Waktu Panen Tebu Menggunakan Gabungan Metode Backpropagation dan Algoritma Genetika

EVALUASI MUSIM HUJAN 2007/2008 DAN PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2008 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA

PREDIKSI KUALITAS AIR BERSIH PDAM KOTA PALU MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMODELAN JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK PREDIKSI PANJANG MUSIM HUJAN BERDASAR SEA SURFACE TEMPERATURE

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

III. BAHAN DAN METODE

DETEKSI KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK

Arti Penting Kalender Tanam (Katam) Padi

Jurnal Informatika Mulawarman Vol 5 No. 1 Februari

PENERAPAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DALAM MEMPREDIKSI TINGKAT PENGANGGURAN DI SUMATERA BARAT

Peramalan Data IHSG Menggunakan Metode Backpropagation

SISTEM PENGENALAN KARAKTER DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN ALGORITMA PERCEPTRON

BAB I PENDAHULUAN. kenaikan harga minyak mentah itu sendiri. Saat ini penetapan harga minyak

Aplikasi yang dibuat adalah aplikasi untuk menghitung. prediksi jumlah dalam hal ini diambil studi kasus data balita

OPTIMASI HASIL PREDIKSI KETERSEDIAAN ENERGI SUMBER DAYA MINERAL MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA

TAHUN AKADEMIK 2016/2017. : PENGANTAR INTELEGENSI BUATAN : Betha Nurina Sari, M.Kom. : Open Book via Google Form (90 Menit)

SATIN Sains dan Teknologi Informasi

IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK MEMPREDIKSI HARGA SAHAM

ANALISIS DAN IMPLEMENTASI ELMAN RECURRENT NEURAL NETWORK UNTUK PREDIKSI HARGA KOMODITAS PERTANIAN

Prediksi Jumlah Pengangguran Terbuka di Indonesia menggunakan Metode Genetic-Based Backpropagation

Neural Network (NN) Keuntungan penggunaan Neural Network : , terdapat tiga jenis neural network Proses Pembelajaran pada Neural Network

PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION SEBAGAI ESTIMASI LAJU TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA PADA PROVINSI JAWA TIMUR

Pemodelan Jaringan Syaraf Tiruan Untuk Memprediksi Awal Musim Hujan Berdasarkan Suhu Permukaan Laut

OPTIMASI JARINGAN SARAF TIRUAN PADA OPTICAL CHARACTER RECOGNITION DENGAN MENGGUNAKAN IMAGE PREPROCESSING DAN ALGORITMA GENETIK

PERANCANGAN PROGRAM PENGENALAN BENTUK MOBIL DENGAN METODE BACKPROPAGATION DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK SKRIPSI

BAB IV PERANCANGAN & IMPLEMENTASI SISTEM

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

Metode Jaringan Saraf Tiruan Propagasi Balik Untuk Estimasi Curah Hujan Bulanan di Ketapang Kalimantan Barat

PEMANFAATAN ALGORITMA FUZZY EVOLUSI UNTUK PENYELESAIAN KASUS TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

PREDIKSI DATA HARGA SAHAM HARIAN MENGGUNAKAN FEED FORWARD NEURAL NETWORKS (FFNN) DENGAN PELATIHAN ALGORITMA GENETIKA

Aplikasi Jaringan Saraf Tiruan Sebagai Penterjemah Karakter Braille Ke Bentuk Abjad

Pelatihan Multi-Layer Neural Network Menggunakan Algoritma Genetika untuk Memprediksi Harga Saham Esok Hari (T+1)

Transkripsi:

Prediksi Kalender TanamBerdasarkan Curah Hujan Dengan Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan dan Algoritma Genetika Bima Indra Cahya 1, Dr. Adiwijaya, S. Si., M. Si. 2, Untari Novia Wisesty, ST., MT 3 Fakultas Teknik Informatika Universitas Telkom, Bandung 1 hikari@students@telkomuniversity.ac.id, 2 adiwijaya@telkomuniversity.ac.id, 3 untarinw@telkomuniversity.ac.id Abstrak Pada sektor pertanian, kalender tanam merupakan salah satu cara atau strategi yang digunakan untuk mengantisipasi anomali iklim yang terjadi. Pada kalender tanam terdapat pola tanam suatu atau berbagai tanaman yang disusun dalam jangka tahunan (biasanya 1 tahun) dan dikategorikan per bulan atau 10 hari. Data curah hujan adalah salah satu faktor yang dapat digunakan menjadi data untuk memperoleh prediksi kalender tanam. Metode yang diimplementasikan dalam Tugas Akhir ini adalah dengan Jaringan Syaraf Tiruan yang baik struktur dan bobotnya di optimisasi oleh Algoritma Genetika Bersarang. Arsitektur Jaringan Syaraf Tiruan yang sudah dioptimasi digunakan untuk mendapatkan data prediksi curah hujan. Data prediksi tersebutlah yang nantinya akan menjadi dasar dalam pembuatan kalender tanam. Jaringan Syaraf Tiruan yang diimprove dengan Algoritma Genetika Bersarang dapat menemukan arsitektur Jaringan Syaraf Tiruan dengan akurasi testing 88.38%. Namun dari hasil pengujian yang didapatkan, mengindikasikan bahwa masih sering terjadi adanya overfit, sehingga arsitektur Jaringan Syaraf Tiruan hanya mengenali data set training saja. Kata Kunci : kalender tanam, curah hujan, jaringan syaraf tiruan, algoritma genetika 1. Pendahuluan Kalender tanam adalah sebuah pola tanam satu atau beberapa tanaman dalam jangka waktu tertentu. Kalender tanam biasanya dibuat berdasarkan faktor iklim-iklim salah satunya curah hujan. Kalender tanam dapat dibuat berdasarkan prediksi curah hujan dari data curah hujan yang didapatkan sebelumnya. Ada beberapa penelitian yang membuat sistem prediksi curah hujan dengan menggunakan paradigma Jaringan Syaraf Tiruan. Pelatihan Jaringan Syaraf Tiruan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa algoritma. Penggunaan Algoritma Evolusi untuk melatih Jaringan Syaraf Tiruan telah dilakukan. Misalnya, dengan menggunakan Algoritma Genetika, pada penelitian sebelumnya, akurasi yang dihasilkan dapat mencapai diatas 80% [12,13]. Hal ini yang mendasari penulis untuk meneliti metode yang sama tetapi dengan menggunakan pendekatan yang berbeda. Pada penelitian sebelumnya, training struktur dan bobot pada Jaringan Syaraf Tiruan dilakukan bersamaan. Hal tersebut dapat dilihat dari kromosom yang digunakan yang berisi gen yang memuat struktur dan bobot sekaligus, sehingga masih memiliki kemungkinan untuk mempunyai terjebak dalam nilai lokal yang merupakan hal yang sering ditemui dalam menggunakan algoritma evolusi [17,18]. Penulis mencoba untuk memisahkan proses training menjadi 2 bagian yaitu proses training bobot dan proses training struktur sehingga menjadi sebuah algoritma yang bersarang. Disebut bersarang dikarenakan proses training bobot dilakukan dilakukan di dalam setiap evaluasi inidividu pada proses training struktur. Metode ini diharapkan bisa mendapatkan akurasi yang lebih tinggi dan stabil dikarenakan bisa mempekecil kemungkinan untuk terjebak dalam nilai lokal. 2. Data Data yang digunakan adalah data curah hujan di daerah Soreang dari tahun 2003 sampai 2012 yang didapatkan dari BMKG Bandung. Data tersebut menampilkan curah hujan per bulan setiap tahunnya dalam satuan milimeter(mm).

3. Perancangan Sistem Secara umum, arsitektural desain sistem yang akan dibuat adalah sebagai berikut : Gambar 1 : Rancangan Sistem Secara Umum Sesuai dengan gambar arsitektur di atas, secara umum, proses pembuatan prediksi kalender tanam dibagi menjadi 2. Dimana proses pertama adalah pencarian prediksi curah hujan. Proses pencarian tersebut menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan yang sudah dilatih dengan Algoritma Genetika dengan data curah hujan yang ada sebelumnya menjadi data latih. Data prediksi curah hujan yang didapatkan merupakan prediksi curah hujan pada bulan-bulan berikutnya. Setelah mendapatkan data prediksi curah hujan, sistem dapat melanjutkan proses untuk membuat kalender tanam dari data tanaman dan data prediksi curah hujan yang telah didapatkan. Jaringan Syaraf Tiruan yang digunakan dalam sistem ini adalah Multilayer Perceptron. Multilayer Perceptron ini merupakan Jaringan Syaraf Tiruan yang memiliki yang memiliki 1 layer input dan output dan bisa memiliki lebih dari 1 layer tersembunyi yang mempunyai koneksi penuh (full connected). Proses untuk mendapatkan prediksi curah hujan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 2 : Gambaran Proses

Untuk proses training struktur, struktur yang akan di training hanya terbatas pada jumlah neuron input dan neuron tersembunyi. Representasi yang penulis gunakan adalah representasi biner. Jika diillustrasikan, maka contoh dari representasis individu untuk pelatihan struktur adalah sebagai berikut : Gambar 3 : Contoh Pembentukan 1 Individu Untuk Pelatihan Strukturr Pada pelatihan bobot, untuk setiap individu, penulis menggunakan representasi real. Banyaknya kromosom dalam tiap individu dapat dirumuskan sebagai berikut : 1 Keterangan : - G = Jumlah gen - I = Jumlah neuron input - H = Jumlah neuron tersembunyi - O = Jumlah neuron Output Jika diillustrasikan, makaa contoh dari representasiss individu untuk pelatihan struktur adalah sebagai berikut : Gambar 4 : Contoh Pembentukan 1 Individu Untuk Pelatihan Bobot Arsitektur lalu di evaluasi, menggunakan algoritma perambatan maju untuk mendapatkan nilai error dari setiap prediksi pada proses training. Fitness dihitung dengan menggunakan persamaan sebgai berikut : 1 1 2 3 Keterangan : - T = Nilai target yang diambil dari data aktual - P = Nilai keluaran dari layer output/nilai Prediksi Setelah masing-masing individu di evaluasi. Individu tersebut di seleksi untuk menjadi orang tua yang nantinya akan melalui proses crossover atau rekombinasi dan mutasi. Proses crossover dan mutasi tidak terjadi setiap saat. Peluang terjadinya crossover sesuai dengan nilai probabilitas crossover. Begitu juga dengan mutasi, peluang terjadinya mutasi sesuai dengan nilai probabilitas mutasi yang diberikan. Setelah melalui kedua proses tersebut, individu lalu di seleksi untuk menjadi individu di generasi selanjutnya. Proses ini terjadi berulang kali sampai generasi mencapai maksimum generasi.

4. Testing Arsitektur Jaringan Syaraf Tiruan Testing ini dilakukan untuk melihat, bagaimana hasil dari prediksi jika menggunakan set data yang berbeda. Proses testing ini hampir sama dengan proses evaluasi individu saat training. Pada testing, standar error yang digunakan adalah MAPE.! 1 " " # 100% 4 ()*100% 5 Keterangan : - T = Data aktual (data sebelum dinormalisasi) - P = Data hasil prediksi (data hasil keluaran yang sudah didenormalisasi) 5. Konversi Data Prediksi Menjadi Kalender Tanam Untuk menentukan kalender tanam, ada 2 hal yang khususnya diperhatikan, yaitu jumlah curah hujan dan waktu yang dibutuhkan oleh tanaman dari masa tanam sampai masa panen. Berikut adalah data tanaman yang penulis gunakan [1][3][14][16][19] : Tabel 1 : Tanaman Serta Curah Hujan Mm/Bulanyang Dibutuhkan Dan Waktu Tanam/Bulan Tanaman Kebutuhan Curah Hujan Waktu Penanaman Padi 150-500 mm/bulan 4 bulan Jagung 85 400 mm/bulan 4 bulan Kacang Kedelai 100-400 mm/bulan 3 bulan Kacang Hijau 50-400 mm/bulan 3 bulan Output yang dihasilkan adalah kalender tanam yang berupa tabel. Kolom dari tabel tersebut menunjukkan bulan dalam 1 tahun menunjukkan tanaman yang kalender tanamnya dicari di dalam sistem. Dalam tabelnya berisi arsiran kosong dan penuh. Jika di arsir, menunjukkan bahwa bulan tersebut adalah strategi tanam. Jika tidak di arsir, menunjukkan bahwa bulan tersebut adalah strategi bera. Khusus untuk tanaman padi, karena padi merupakan komoditas utama pertanian yang mempunyai keuntungan yang sangat besar dibandingkan dengan tanaman lainnya, maka toleransi diberikan jika dalam sistem menunjukkan tanaman padi tidak dapat ditanam pada tahun ini. Tolerasi untuk tanaman padi yang diberikan hanya satu kali periode tanam (4 bulan). Satu kali periode tanam tersebut harus memenuhi beberapa syarat yaitu: 1. Pada bulan pertama mempunyai curah hujan lebih dari 150 mm/bulan. 2. Tiga bulan berikutnya mempunyai curah hujan yang lebih dari 100mm/bulan. 6. Hasil dan Analisa Sistem Skenario pengujian dilakukan untuk mengetahui menganalisis hasil yang di proses oleh sistem. Skenario yang digunakan dalam pengujian melibatkan kombinasi nilai-nilai dari parameter probabilitas crossover, probabilitas mutasi, jumlah individu dan maksimum generasi untuk proses training struktur dan bobot. Tabel 2 : Parameter yang Diobservasi Beserta Nilainya Probabilitas Crossover 0.01, 0.5, 0.99 Probabilitas Mutasi 0.01, 0.5, 0.99 Jumlah Individu dan Maksimum Generasi ( Struktur) 10 dan 100, 20 dan 50, 40 dan 25 Jumlah Individu dan Maksimum Generasi ( Bobot) 25 dan 1000, 50 dan 500, 100 dan 250

6.1. Analisis Pengujian Terhadap Parameter Tabel 3 : Tabel hasil pengujian berdasarkan probabilitas crossover Probabilitas Crossover MAPE minimum Testing 0.01 15.40% 14.75% 0.5 10.63% 12.42% 0.99 12.06% 11.62% Tabel 5 : Tabel hasil pengujian berdasarkan jumlah individu dan maksimum generasi dalam proses training struktur Jumlah Individu Struktur Maksimum Generasi Struktur MAPE minimum Testing 10 100 20.98% 15.47% 20 50 15.40% 14.75% 40 25 12.06% 11.62% Tabel Error! No text of specified style in document. :Tabel hasil pengujian berdasarkan probabilitas mutasi Probabilitas Mutasi MAPE minimum Testing 0.01 12.06% 11.62% 0.5 29.41% 17.55% 0.99 35.19% 17.53% Tabel 6 : Tabel hasil pengujian berdasarkan jumlah individu dan maksimum generasi dalam proses training bobot Jumlah Individu Bobot Maksimum Generasi Bobot MAPE minimum Testing 25 1000 12.06% 11.62% 50 500 10.63% 12.42% 100 250 29.41% 17.55% Berdasarkan Tabel 3 penggunaan probabilitas crossover 0,99 mempunyai hasil yang terbaik. Penggunaan probabilitas crossover sebesar 0.5 sampai 0.99 bisa disimpulkan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan nilai probabilitas crossover yang kecil seperti 0.01. Berdasarkan Tabel 4 penggunaan probabilitas mutasi 0.01 mempunyai hasil yang terbaik. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam sistem ini penggunaan probabilitas mutasi yang sangat kecil dapat meningkatkan hasil yang didapatkan. Berdasarkan Tabel 5 penggunaan jumlah individu 40 dan maksimum generasi 25 pada proses training struktur mempunyai hasil yang terbaik. Dapat ditarik kesimpulan dalam proses training struktur jumlah individu yang lebih besar lebih memberikan hasil MAPE yang lebih baik dibandingkan dengan jika maksimum generasi diperbesar. Berdasarkan Tabel 6 penggunaan jumlah individu 40 dan maksimum generasi 25 pada proses training struktur mempunyai hasil yang terbaik. Hal ini membuktikan bahwa maksimum generasi yang besar untuk proses training bobot dapat memberikan hasil yang lebih baik. 6.5. Analisis Dari Hasil Pengujian Prediksi Curah Hujan Keseluruhan Pengujian dengan MAPE testing terendah didapatkan dengan arsitektur Jaringan Syaraf Tiruan yang terdiri dari 29 neuron input dan 15 neuron tersembunyi.

Curah Hujan (mm/bulan) 300 250 200 150 100 50 0 Jan-06 May-06 Sep-06 Jan-07 May-07 Sep-07 Bulan Jan-08 May-08 Sep-08 Nilai Target Nilai Prediksi Gambar 5 : Grafik hasil training pada hasil pengujian dengan arsitektur yang memiliki MAPE testing terbaik Curah Hujan (mm/bulan) 300 200 100 0 Jun-11 Sep-11 Dec-11 Mar-12 Jun-12 Sep-12 Dec-12 Nilai Target Nilai Prediksi Bulan Gambar 6 : Grafik hasil testing pada hasil pengujian dengan arsitektur yang memiliki MAPE testing terbaik Berdasarkan gambar 5 dan 6, ditunjukkan bahwa nilai prediksi dapat dikatakan mengikuti nilai target. Hal ini membuktikan bahwa dengan arsitektur Jaringan Syaraf Tiruan yang telah dilatih di proses training, arsitektur tersebut juga dapat menghasilkan nilai prediksi walaupun pada data set yang berbeda. Namun, pada Gambar 6, grafik menunjukkan pada bulan Desember 2011, nilai prediksi menyimpang jauh. Sedangkan pada Gambar 5, walaupun memiliki MAPE yang lebih tinggi, tetapi nilai prediksi terlihat lebih mengikuti nilai target. Hal ini membuktikan bahwa nilai prediksi dengan data set yang berbeda dapat mempunyai nilai prediksi yang lebih buruk walaupun pada proses testing mempunyai nilai MAPE yang lebih kecil dibandingkan dengan MAPE trainingnya. Hal ini dapat disebabkan dari penggunaan MAPE yang merupakan standar ukuran error yang sering meleset ketika bertemu data target yang kecil atau mendekati nol. 6.6. Hasil konversi Data Prediksi Curah Hujan Menjadi Kalender Tanam Dengan menggunakan arsitektur Jaringan Syaraf Tiruan pada sampel ke-1, dihasilkan nilai curah hujan pada 1 tahun berikutnya. Data prediksi curah hujan yang didapatkan adalah sebagai berikut : Tabel 1 : Prediksi curah hujan dalam 1 tahun (sampel ke-1) Bulan Curah Hujan (mm/bulan) Januari 157.71 Februari 138.08 Maret 120.06 April 103.02 Mei 101.31 Juni 111.63

Juli 85.34 Agustus 112.68 September 47.89 Oktober 61.63 November 57.95 Desember 100.03 Lalu dari data prediksi curah hujan pada Tabel 7, dikonversikan menjadi dalam bentuk tabel kalender tanam sehingga menjadi sebagai berikut : 7. Kesimpulan Gambar 1 : Hasil Kalender Tanam (sampel ke-1) Berdasarkan Gambar 7, ditunjukkan bahwa tahun ini kebutuhan air dalam tanah hanya cocok untuk ditanami padi untuk satu periode tanam, yaitu pada bulan Januari sampai April. Lahan dapat digunakan untuk ditanami tanaman jagung dari Bulan januari sampai Agustus. Lahan dapat digunakan untuk ditanami kacang kedelai dari bulan Januari sampai bulan Juni. Sedangkan untuk tanaman kacang hijau, lahan cocok untuk ditanami di semua bulan kecuali bulan September. Berdasarkan hasil pengujian dan analisis pada tugas akhir ini, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Metode Jaringan Syaraf Tiruan dengan Algoritma Genetika dapat diimplementasikan untuk menyelesaikan permasalahan prediksi curah hujan. Hal ini dapat dilihat dari hasil terbaik yang didapatkan. Dimana dengan menggunakan mekanisme prediksi yang diusulkan dapat menghasilkan 88.38% akurasi dalam proses testing. Namun dengan mekanisme prediksi yang diusulkan sering terjadi adanya overfit. Sehingga walaupun pada proses training mendapatkan MAPE yang kecil yang berkisar 85% tetapi hasil akurasi testing yang didapatkan hanya berkisar 70%. 2. Berdasarkan pengujian parameter. Kesimpulan yang dapat di ambil pada masing-masing pengujian parameter adalah : a. Probabilitas crossover memberikan hasil yang terbaik pada nilai 0,99. b. Probabilitas mutasi memberikan hasil terbaik pada nilai 0,01. c. Pada proses training struktur, memperbesar jumlah individu dibandingkan memperbesar maksimum generasi dapat membantu sistem menemukan arsitektur JST yang terbaik. d. Pada proses training bobot, memperbesar maksimum generasi dibandingkan memperbesar jumlah individu dapat membantu sistem menemukan arsitektur JST yang terbaik.

Daftar Pustaka [1] Aak. 2002. Kedelai. Yogyakarta : Kanisius. [2] Adiwijaya, U. N. Wisesty and F. Nitha. 2014. FJMS : Study of Line Search Techniques On Modified Backpropagation For Forecasting of Weather Data In Indonesia. Bandung : Telkom Unversity. [3] Alvin Pryanto. Gabriel, Kristoko Dwi Hartono, M.Kom, M. A. Ineke Pakereng, M.Kom. 2013. Perancangan Kalender Tanam Berdasarkan Data Klimatologi Menggunakan Metode Forecasting Holt-Winters. Salatiga : Universitas Kristen Satya Wacana. [4] Chakraborty, RC. Fundamentalas of Genetic Algorithms. www.myreaders.info/html/artificial_intelligence.html. (diakses pada tanggal 6 November 2013) [5] Gerhenson, Carlos. Artificial Networks for Beginners. https://datajobs.com/data-science.../neural-net-[carlos- Gershenson].pdf. (diakses pada tanggal 6 November 2013) [6] Hidayat, Taufan. Yonny Koesmaryono dan Aris Pramudia. 2010. Analisis Tingkat Kekeringan Untuk Mengurangi Resiko Gagal Panen Tanaman Pangan Di Provinsi Banten. Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala. [7] Hidayat, Taufan. 2011. Analisis Perubahan dan Penyusunan Pola Tanam Tanaman Padi Berdasarkan Data Curah Hujan Di Kabupaten Aceh Besar. Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala. [8] Irawan, Wisnu. 2012. Perencanaan Kalender Tanam Berdasarkan Pranata Mangsa dan Klimatologi Menggunakan Metode Prediksi Exponential Smoothing. Salatiga : Universitas Kristen Satya Kencana. [9] Kharola, Manisha and Dinesh Kumar. 2014. Efficient Weather Prediction By Back-Propagation Algorithm. Palwal : Shri Ram College of Engineering & Management. [10] Koesmaryono, Yonny dan Yayan Apriyana. Sensitivitas dan Dinamika Kalender Tanam Padi Terhadap Parameter ENSO (El-Nino-Southern Oscillation) dan IOD (Indian Ocean Dipole Mode) Di Daerah Monsunal dan Equatorial. Bogor : Institut Pertanian Bogor. [11] Nawi, Nazri Mohd. Abdullah Khan, Mohammad Zubair Rehman. A New Back-Propagation Neural Network Optimized with Cuckoo Search Algorithm. Malaysia : Universiti Tun Hussein Onn Malaysia. [12] Nitha. F., Adiwijaya, U.N. Wisesty. 2014. Forecasting Indonesian Weather through Evolving Neural Network (ENN) Based On Genetic Algorithm. Bandung : Telkom University. [13] Nurcahyo. Septian, Fhira Nhita, Adiwijaya. 2014. Rainfall Prediction in Kemayoran Jakarta Using Hybrid Genetic Algorithm (GA) and Partially Connected Feedforward Neural Network (PCFNN). Bandung : Telkom University. [14] Purwono dan Purnamawati, H., 2008. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Jakarta : Penebar Swadaya, [15] Rismala. Rita, The Houw Liong, Arie Ardiyanti. 2013. Prediction of Malaria Incidence in Banggai Regency Using Evolving Neural Network. Bandung : International Conference on Technology, Informatics, Management, Engineering & Environment. [16] Slamet S. Lilik, Hariadi T. E, Mezak A. Ratag Erna S. Adiningsih. Analisis Curah Hujan dan Suhu Untuk Menyusun Pola Tanam Tanaman Pangan di Jawa Barat. Bandung : Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim. [17] Sutojo, T. S.Si., M.Kom., Edy Mulyanto, S.Si., M.Kom., Dr. Vincent Suhartono. 2011. Kecerdasan Buatan. Yogyakarta : Penerbit Andi. [18] Suyanto,ST,MSc.2008. Soft Computing. Bandung : Informatika Bandung. [19] Wirosoedarmo, MS. Dr.Ir. Ruslan.2010. Drainase Pertanian. Malang : Universitas Brawijaya Press.