IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Secara geografis wilayah Kabupaten Halmahera Timur terletak di bagian timur Pulau Halmahera Propinsi Maluku Utara. Kabupaten Halmahera Timur terletak pada º 4 - º 4 Lintang Selatan dan 26º 4-3º 3 Bujur Timur. Wilayah administrasi Kabupaten Halmahera Timur terbagi atas wilayah kecamatan dan 73 desa. Secara umum karakter bentang alam didominasi oleh kawasan pesisir/pantai dan kawasan pegunungan/perbukitan. Sebagian besar wilayah desa berhadapan langsung dengan teluk atau lautan lepas (± 7% desa memiliki garis pantai), sedangkan 2% lainnya di daerah pegunungan. Luas wilayah administrasi Kabupaten Halmahera Timur adalah 4.22. km 2 (RTRW Kab. Haltim, 2). Untuk jelasnya luas wilayah administratif kabupaten Halmahera Timur dapat dilihat pada Tabel 2 dan Gambar 2. Tabel 2. Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Halmahera Timur No Kecamatan Luas wilayah Ibukota (Km 2 Jumlah desa ) Kecamatan Maba 83.4 7 Buli 2 Kota Maba 63.4 Maba Sangaji 3 Maba Tengah 79.9 8 Wayamli 4 Maba Selatan 84.6 6 Bicoli Maba Utara 6.2 7 Dorosago 6 Wasile Utara 23.2 6 Labi-labi 7 Wasile Tengah 467.7 8 Lolobata 8 Wasile Timur 443.8 6 Dodaga 9 Wasile 43.8 6 Subaim Wasile Selatan 243.2 4 Nusa Jaya Kab. Haltim 4. 22, 73 Sumber : Kabupaten Halmahera Timur dalam Angka, 28 Berdasarkan data BPS Kabupaten Halmahera Timur (28), 7% desa memiliki garis pantai dan luas lautan yang memiliki porsi sebesar 4% dari total luas wilayah Kabupaten Halmahera Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan alami Kabupaten Halmahera Timur terbangun pada rona kawasan pantai/pesisir. Konsekuensinya pengembangan wilayah Kabupaten Halmahera Timur akan bertumpu pada pengembangan potensi kelautan dan wilayah pesisir/pantai. Perhatian juga perlu diarahkan pada fakta bila Kabupaten Halmahera Timur memiliki luas wilayah daratan yang relatif terbatas 6.6,9
km² dan karakter wilayah yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil. Wilayah perairan laut Kabupaten Halmahera Timur terdiri dari ± 27 buah pulau kecil. Sebagian besar pulau-pulau kecil tersebut tidak berpenghuni, beberapa di antaranya bahkan belum terpetakan. Kondisi ini merupakan potensi penghambat berupa limitasi fisik bagi pembangunan Kabupaten Halmahera Timur (RTRW Kab. Haltim, 2). Secara administratif, Kabupaten Halmahera Timur berbatasan dengan: a. Sebelah Utara : Teluk Kao (Wilayah Kabupaten Halmahera Utara); b. Sebelah Timur : Teluk Buli, Lautan Halmahera dan Samudra Pasifik; c. Sebelah Selatan : Kecamatan Patani dan kecamatan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah; d. Sebelah Barat : Teluk Kao (Wilayah Kabupaten Halmahera Utara) dan Kota Tidore Kepulauan. Dilihat dari sudut pandang konstelasi regional, letak Kabupaten Halmahera Timur bisa dikatakan kurang menguntungkan. Keberadaan pusat-pusat pertumbuhan lainnya yang telah berkembang relatif tidak berada dalam jarak yang optimal dan hingga saat ini belum terdapat hubungan langsung antara Kabupaten Halmahera Timur dengan pusat-pusat pertumbuhan lainnya. Karena itulah Kota Maba yang ditetapkan sebagai Ibukota Kabupaten diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan di masa mendatang yang diharapkan dapat menjalin hubungan dengan pusat pertumbuhan lainnya sehingga dapat menjadi generator bagi wilayah lainnya di Kabupaten Halmahera Timur (Bapedda, 27). 4.2. Klimatologi Kabupaten Halmahera Timur merupakan bagian dari daerah kepulauan yang beriklim laut tropis dan iklim musim yang sangat dipengaruhi oleh angin laut dengan suhu rata-rata per tahun adalah 2 o 33 o Celcius dan kelembaban 8% - 9%. Curah hujan rata-rata sekitar 2. mm/tahun dengan jumlah hari hujan sekitar 9 3 hari. Bulan basah (lebih dari 2 mm/bulan) di pantai utara (atau barat wilayah kecamatan Wasile) terjadi pada bulan-bulan April, Juli, Agustus, Agustus, September dan Desember. Di pantai selatan (atau timur atau wilayah Kecamatan Maba) bulan basah terjadi pada bulan-bulan Januari, Februari, Mei, Juni, dan Juli. Dapat dikatakan bahwa musim hujan di daerah kecamatan
Wasile terjadi berlawanan dengan di Pulau Jawa dan Sumatera pada umumnya, sedangkan di daerah Maba, musim hujan terjadi 2 kali yaitu pada bulan-bulan Mei-Juli dan Januari-Fabruari. Adapun bulan kering (curah hujan kurang dari mm/bulan) tidak terjadi di daerah kecamatan Wasile, sedangkan di kecamatan Maba (Buli) hanya terjadi sekali di bulan April, yang dapat dimungkinkan karena terjadi anomali. Secara umum dapat dikatakan bahwa kabupaten Halmahera Timur beriklim basah dengan curah hujan terjadi sepanjang tahun, atau menurut sistem Koppen masuk dalam tipe Af. Kondisi ini merupakan potensi alam yang mengindikasikan bila pengembangan sistem penyediaan air bersih, pertanian dan perkebunan di Kabupaten Halmahera Timur dimasa mendatang memiliki peluang yang sangat baik (Gambar 3). 4.3. Topografi Berdasarkan RTRW kabupaten Halmahera Timur 2, bahwa topografi wilayah bervariasi dari berombak, berbukit, bergelombang hingga bergunung dengan kemiringan bervariasi dari % hingga lebih dari 4%. Di sepanjang pantai Teluk Kao dari desa Hatetabako, kecamatan Wasile ke selatan hingga ujung desa Nusa Ambo, kecamatan Wasile Selatan, kemiringan lahannya antara % hingga 2%. Sedangkan pantai kecamatan Wasile sebelah utara didominasi oleh kelerengan > 4% seperti terlihat pada Gambar 4 dan.
Gambar 2. Peta Wilayah Adminstrasi Kabupaten Halmahera Timur 28
8 9 6 3 6 KAB.HALM AHER A UTARA PETA CU R AH HU JAN KA BU PATEN H AL MA HER A TIM U R 8 8 6 KM W N E S KOTA TIDORE KEPULAUAN Wasile S elatan Wa sile Tengah Wasile W asile Timur Ma ba W asile Utara ÊÚ Ma ba Tenga h Ma ba Utara %[ ÊÚ LEGEN DA : Ibukota kabupaten Pelabuhan Lapangan terbang Batas Kecam atan Batas Laut Batas Ka bup ate n Laut Mean An nua l R ainf all (m m /thn) Tida k ada data - 2 2-23 23-2 2-3 Kota Maba %[ Sumbe r :. Pe ta A dmin istras i Skala : 2. 2. Pe ta ReP PP rot tah un 988 Maba S elata n P.S. P e rencana an W ilaya h Institut P erta nian B o gor T ahu n 29 Indeks P eta kab.hal MAHERA T ENGAH 3 6 3 9 3 9 4 2 4 2 4 4 4 8 8 2 2 9 6 4 8 Gambar 3. Peta Curah Hujan Kabupaten Halmahera Timur 28
Gambar 4. Kemiringan lereng kabupaten Halmahera Timur Adapun pantai kecamatan Maba, antara Teluk Lili (desa Dorosagu) di timur hingga hampir ke Tanjung Makali (desa Wayamli) didominasi oleh lereng dengan kemiringan 2-%. Hampir seluruh pantai desa Buli memiliki kemiringan -2%. Daerah pantai kecamatan Maba Selatan dari perbatasan dengan kecamatan Maba hingga sekitar perbatasan desa Gotowasi didominasi oleh kemiringan sebesar -4%. Kemiringan -2% dijumpai pada daerah pantai desa Pateley dan desa Loleolamo. Sisanya memiliki kemiringan 2-%, termasuk seluruh pedalaman desa Soagimalaha hingga desa Bicoli. Sebagian besar pedalaman kaki timur Pulau Halmahera memiliki kemiringan - 4%. Dari yang memiliki lereng >4% dapat dibagi 2 berdasarkan elevasi, yaitu yang berada antara - m d.a.p.l seluas 8. Ha atau 8,2 % dari luas kabupaten dan yang berada di atas m d.a.p.l. seluas 4.9 Ha atau 6,3% dari luas kabupaten Halmahera Timur.
8 9 6 3 6 KAB.HALMAHERA UTARA 3 9 PETA KELAS KEMIRINGAN LAHAN KABUPATEN HALM AHERA TIMUR 8 8 6 KM W N E S KOTA TIDORE KEPULAUAN Wasile Selatan Wasile Utara Wasile Tengah Ma ba Utara Wasile Timur Maba Tengah Wasile Maba ÊÚ %[ ÊÚ 2 - - 8 8-2 2-4 No data LEGENDA : Ibukota kabupaten Pelabuhan Lapangan terbang Batas Kecamatan Batas Laut Batas Kabupaten Laut Kemiringan (Derajat) : - 2 Kota Maba %[ Sumbe r :. Peta Administrasi Skala : 2. 2. Peta R eppprot tahun 988 P.S. Perencana an Wilayah Institut Pertanian Bogor Tahun 29 Maba Selatan Indeks Peta kab.halmahera TENGAH 3 6 3 9 4 2 4 2 4 4 4 8 8 2 2 9 6 4 8 Gambar. Peta Kelas Kemiringan Lereng Kabupaten Halmahera Timur 28
4.4. Jenis Tanah Jenis tanah yang dominan di wilayah Halmahera Timur adalah Podsol Merah Kuning dan Tanah Kompleks. Uraian masing-masing jenis tanah tersebut adalah sebagai berikut :. Tanah Latosol mempunyai bahan induk yang berasal dari Tuff Vulkan dan terdiri dari Latosol Vulkanik dan Latosol Gunung. Di atas tanah tersebut terdapat tanaman perkebunan serta kebun campuran berbagai tanaman (keras dan tanaman semusim); 2. Tanah aluvial terdapat di daerah datar (lereng < %) yang terbentuk dari endapan sungai. Terdiri dari 2 jenis, yaitu Aluvial Pantai dan Aluvial Lembah. Aluvial Pantai biasanya terdapat di wilayah pantai yang subur, dan ditanami oleh masyarakat dengan tanaman kelapa dan kebun campuran. Aluvial Lembah terdapat di pedalaman dan biasanya ditanami tanaman pangan (sawah) dan sayuran; 3. Tanah Podsol terdiri dari Podsol Merah Kuning yang mempunyai bahan induk metamorphosis yang terdapat di kecamatan Wasile, sedangkan Podsol Coklat Kelabu berasal dari batuan metamorphosis yang terletak di ecamatan Maba Selatan; 4. Tanah Kompleks terdiri dari beberapa jenis yang tidak dapat atau sulit dipisahkan sendiri-sendiri. Tanah ini umumnya terletak di bagian tengah pulau dan memiliki vegetasi hutan. 4.4.. Pertanian dan Perkebunan Berdasarkan data luas panen dan produksi kecamatan Wasile saja telah mencukupi (4 kg beras/kapita/tahun) untuk kebutuhan seluruh warga kabupaten Halmahera Timur, walaupun hasilnya masih rendah, yaitu hanya 2,8 ton GKG (gabah kering giling)/ha padi sawah dan,2 ton GKG/ha padi ladang. Hanya dengan meningkatkan hasil melalui program intensifikasi, hasil dapat ditingkatkan menjadi 4 - ton GKG untuk padi sawah dan 2-2, ton GKG untuk padi ladang. Bila hal ini dapat dilakukan, maka kabupaten Halmahera Timur dapat menjadi supplier untuk daerah/propinsi yang kekurangan. Peningkatan produksi juga masih dapat dilakukan melalui ekstensifikasi, karena tanah yang sesuai cukup
luas, yaitu tanah Aluvial Pantai seluruhnya 8.64 ha dan tanah Podsolik Merah Kuning seluas 228.997 ha. Jika dilihat pada sketsa komoditas dan peta kemiringan lahan, Halmahera Timur memiliki kemiringan lahan (> 2%) yang cocok untuk pengembangan perkebunan terletak sepanjang wilayah pantai. Tanah dengan kemiringan >3-% juga cocok untuk tanaman perkebunan, walaupun lebih baik untuk pengembangan tanaman pangan/semusim. Dari lahan dengan kemiringan -2% seluas hampir. ha, yang jenis tanahnya cocok untuk perkebunan, yaitu podsolik dan aluvial, luasnya sekitar 23. ha. Selain pada lahan dengan kemiringan -2%, perkebunan juga dapat dikembangkan pada lahan dengan kemiringan 2-4%. Perkebunan yang dikembangkan pada lahan dengan kemiringan tersebut memerlukan perlakuan khusus tertentu, yang terutama sekali dimaksudkan untuk memperkecil dampak negatif berupa erosi dan longsor. Potensi lahan dengan kemiringan 2-4% yang dapat dikembangkan untuk perkebunan diperkirakan seluas 423. ha (RTRW, 2). Seperti terlihat pada Gambar 6 berikut bahwa, terdapat beberapa kecamatan yang sesuai untuk komoditas kelapa, cengkeh, sagu, padi dan jagung. dimana pembatas kesesuaian lahan di wilayah ini adalah jenis tanah, curah hujan rata-rata sekitar 2. mm/tahun dan kelerengan yang berkisar antara - 4 persen. Sedangkan sebagian besar pedalaman kaki timur Pulau Halmahera memiliki kemiringan 4 persen. Kondisi tersebut menggambarkan potensi pengembangan komoditas perkebunan dan pertanian di wilayah Halmahera Timur masih sangat besar.
Gambar 6. Sketsa kesesuaian komoditas di kabupaten Halmahera Timur 28
4.4.2. Pertambangan Berbagai macam tambang terdapat di wilayah Kabupaten Halmahera Timur, dan yang telah dieksploitasi baru nikel, tetapi hambatan untuk meningkatkan luas eksploitasi terbentur pada adanya tumpang tindih lahan dengan sektor lain. Untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi perlu adanya program pengembangan atau pembangunan terpadu antar sektor, sehingga kekayaan alam yang ada dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan atau kemakmuran rakyat. Kenyataan yang ada adalah bahwa lahan bekas penambangan terbuka biasanya tidak segera diikuti oleh rehabilitasi lahan, yang sebenarnya sudah harus ditetapkan pada tahap perencanaan, baik sistemnya maupun jadwalnya, serta ditaati sesuai dengan yang seharusnya, lebih jelasnya dapat dilihat pada identifikasi potensi. Produksi biji nikel selama tahun 27 untuk yang berkadar tinggi sebanyak,87 juta ton atau rata-rata sekitar.96 ton setiap bulan. Untuk biji nikel berkadar rendah sebanyak 3.33 ton atau rata-rata sebanyak 6.94 ton setiap bulan. Biji Nikel sebagian besar dipasarkan ke luar negeri yakni diekspor ke Jepang sebanyak,6 juta ton untuk yang berkadar tinggi dan ke Australia sebanyak 9,66 ton untuk yang berkadar rendah (Bappeda, 2), dapat dilihat pada Tabel 2. 4.4.3. Kehutanan Kabupaten Halmahera Timur masih didominasi (sekitar 7%) oleh hutan dari berbagai jenis hutan dan kondisi. Luas hutan produksi yang dapat dikonversi dan luas lahan yang telah digunakan (sekitar 2. Ha) masih jauh lebih besar dari yang telah digunakan untuk non-hutan (sekitar 3. Ha). Keadaan tersebut mengindikasikan bahwa masih terdapat areal yang luas untuk berbagai pengembangan non hutan. 4.4.4. Perikanan dan Kelautan Mengingat lokasi kabupaten Halmahera Timur yang menghadap ke Lautan Pasifik, potensi ikan pelagis (tuna, cakalang, tongkol) pasti besar, sehingga pembangunan industri perikanan mempunyai potensi yang baik. Selain ikan tersebut di atas, ikan lain yang biasa ditangkap adalah julung, kembung, layang, lemuru, ekor kuning, selar, tembang dan teri. Pengalaman industri perikanan laut
di Pulau Bitung (Sulawesi Utara), Biak (Papua) dan daerah lain di tepi laut Pasifik, perlu dipelajari dengan seksama sebelum investasi besar ditanamkan. Titik tolak pengembangan harus dari segi pemasaran yang harus mantap, terutama untuk pemasaran ke luar kabupaten, bahkan ke luar propinsi. Idealnya dapat dikembangkan untuk ekspor, mengingat posisinya yang dekat dengan laut Pasifik yang kaya akan ikan pelagis dan/atau dekat dengan potensi pasar seperti Jepang, baik untuk komoditas ikan tangkap maupun hasil marikultur non-ikan, seperti rumput laut. Potensi pasar rumput laut cukup besar (Dinas Perikanan, 27), sedangkan budidaya dan pengolahan pasca panen juga sederhana, cukup dikeringkan dengan sinar matahari; penanganan selanjutnya tidak berisiko besar. Untuk pengembangannya jelas memerlukan studi khusus, termasuk dalam hal pelatihan dan pemasaran. Untuk itu, wilayah yang diidentifikasi sesuai, seperti di Teluk Kao yang kondisi ombaknya relatip tenang, sehingga baik untuk pengembangan marikultur, harus dipertahankan kualitasnya sebagai cadangan untuk pengembangan lebih lanjut. Demikian pula halnya untuk wilayah yang potensial untuk pengembangan budidaya tambak. Sedangkan di Teluk Buli, pada musim angin timur, kondisinya tidak bersahabat. Pengembangan budidaya ikan air tawar mungkin masih belum saatnya, mengingat geografi wilayah yang didominasi laut. Untuk pengembangan usaha penangkapan di laut, pengalaman usaha yang ada di Bitung, Sulawesi Utara atau di Biak dan Sorong, Papua, merupakan acuan, baik untuk pengembangan sendiri atau dalam rangka kerjasama. 4.. Penggunaan Lahan Berdasarkan RTRW 2, bahwa penggunaan lahan saat ini didominasi oleh hutan sebesar 9.982,33 ha atau 78,29% dari total luas wilayah kabupaten Halmahera Timur dan tersebar di seluruh kabupaten. Penggunaan lahan untuk hutan tersebut yang terbesar adalah untuk hutan lahan kering primer yaitu sebesar 338.334,2 ha, diikuti hutan lahan kering sekunder sebesar 6.988,63%, hutan mangrove primer sebesar 42,62 ha, hutan mangrove sekunder sebesar,26 ha dan hutan rawa sekunder sebesar 9,3 ha, dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Penggunaan Lahan Eksisting JENIS TUTUPAN LAHAN LUAS (Ha) Semak Belukar 494,88 Hutan Mangrove Primer 42,62 Hutan Mangrove Sekunder,26 Hutan Lahan Kering Primer 338334,2 Hutan Rawa Sekunder 9,3 Hutan Lahan Kering Sekunder 6988,63 Pertanian Lahan Kering dan Semak 79342,2 Perkebunan 4624,88 Permukiman 246,63 Pertanian Lahan Kering 2499,7 Sawah 7,3 Tanah Terbuka 996,7 Transmigrasi 23,9 Kab. Haltim 64,23 Sumber: RTRW Kab Haltim, 2 Penggunaan lahan lainnya adalah untuk pertanian yang memiliki proporsi penggunaan lahan sebesar 8.876,7 Ha atau 8,2% dari total luas wilayah (4.22, km 2 ). Penggunaan lahan pertanian terbesarnya adalah untuk pertanian lahan kering diikuti penggunaan lahan untuk perkebunan. Persebarannya terletak di sepanjang pantai barat kabupaten Halmahera Timur terutama di kecamatan Wasile Selatan dan Wasile serta di kecamatan Maba tepatnya kawasan transmigrasi Desa Dorosagu. Tingginya potensi lahan untuk kegiatan pertanian ini sebaiknya ditingkatkan melalui pendekatan sistem dan usaha agribisnis yang sesuai dengan karakteristik pertanian di kabupaten Halmahera Timur. Penggunaan lahan untuk permukiman untuk saat ini adalah sebesar 77,3 Ha atau,6% dari total luas lahan di kabupaten Halmahera Timur. Penyebaran lahan permukiman umumnya berada kawasan pesisir di desa Buli Karya hingga Buli Asal, kawasan pesisir Subaim-Dodoga-Foli, Ekor dan kawasan transmigrasi Dorosagu. 4.6. Hidrologi dan Drainase Kabupaten Halmahera Timur memiliki sungai-sungai utama yang menjadi penopang kehidupan dan telah dimanfaatkan untuk sistem irigasi. Sungai-sungai tersebut adalah Ake Subaim dan Ake Dodaga di kecamatan Wasile; Ake Ekor dan Yawali di kecamatan Wasile Selatan; dan Ake Onat di kecamatan Maba.
Ake Subaim dan Dodaga saat ini sudah dimanfaatkan secara intensif untuk pertanian tanaman pangan (lahan basah) dengan masukan teknologi yang cukup memadai. Kota Subaim dan sekitarnya saat ini merupakan lumbung padi bagi kabupaten Halmahera Timur, bahkan bagi Propinsi Maluku Utara. Ake Ekor sudah dimanfaatkan untuk mendukung kawasan pertanian permukiman transmigrasi di sekitar Desa Binagara. Ake Onat dimanfaatkan untuk kawasan pertanian permukiman transmigrasi di Desa Wayamli. Berdasarkan jenis lahan, masih ada sungai yang dapat dikembangkan untuk mendukung pengembangan kawasan pertanian lahan basah, yaitu Ake Sangaji di Kecamatan Maba Selatan. 4.7. Karakteristik Oceanografi Laut Wilayah Halmahera Timur Karakteristik oceanografi laut wilayah Halmahera Timur dapat digambarkan dari beberapa parameter fisik dan kimia yang pada umumnya dipengaruhi oleh karakter laut yang bebatasan dengan wilayah Halmahera Timur. Lebih rinci lagi karakterisik perairan wilayah Halmahera Timur adalah sebagai berikut :. Iklim Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson (9), daerah Halmahera Timur termasuk daerah bertipe iklim B, dengan rata-rata curah hujan per tahun adalah.869,4 mm. Bulan Nopember dan bulan Agustus adalah bulan dengan curah hujan tertinggi. Selain itu, bulan April juga merupakan bulan dengan cuah hujan tinggi yaitu 293,3 mm. Periode curah hujan rendah berlangsung pada bulan September dan Oktober dengan curah hujan terendah,8 mm yaitu pada bulan September. 2. Sifat Fisik Air Laut Salah satu sifat fisik air laut yang penting baik bagi dinamika pergerakan air laut itu sendiri maupun terhadap kehidupan biota di dalamnya adalah suhu air laut. Banyak faktor yang mempengaruhi fluktuasi suhu air laut, diantaranya adalah arus permukaan, keadaan awan, penguapan, gelombang, dan lain-lain. Seperti halnya suhu di perairan Maluku pada umumnya, suhu air laut di perairan Halmahera Timur berkisar antara 28 3 o C. Suhu terendah terjadi pada bulan Mei yaitu pernah mencapai 2, o C.
3. Salinitas Salinitas adalah jumlah garam yang terkandung dalam air laut. Pengaruh salinitas dalam air laut antara lain dalam perubahan skala kecil seperti tekanan, fluktuasi suhu, penyebaran masa air. Sedangkan pengaruh dalam skala besar ditunjukkan seperti pada titik pembekuan, kerapatan, suhu serta daya hantar listrik. Perubahan-perubahan tersebut tentunya akan mempengaruhi kehidupan mahluk hidup yang ada di dalamnya. Seperti di wilayah perairan lain di Propinsi Maluku Utara, salinitas di perairan Halmahera Timur berkisar antara 32, 33, permil. 4. Arus Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan massa air, baik secara hoeizontal maupun vertikal yang disebabkan oleh perbedaan energi potensial. Arus laut pada umumnya terjadi akibat pengaruh beberapa gaya yang bersamaan yang terdiri dari arus tetap, arus periodik (pasut) dan arus angin. Pola arus di perairan Maluku, termasuk di perairan Halmahera Timur, dipengaruhi oleh pasang surut, dimana kecepatan rata-rata waktu surut 7 8 cm/detik dan cm/detik sewaktu pasang.. Pasangsurut Tipe pasang surut Laut Maluku termasuk di perairan Halmahera Timur pada umumnya adalah tipe pasang surut campuran dominasi ganda. Pola pasut di daerah ini merupakan rambatan dari perairan yang lebih luas yaitu Lautan Pasifik. 4.8. Aspek Sosial dan Kependudukan 4.8.. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Berdasarkan data BPS tahun 28, jumlah penduduk di kabupaten Halmahera Timur adalah 62.44 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di kecamatan Wasile Selatan yaitu sebanyak 8.92 jiwa diikuti oleh kecamatan Wasile sebanyak 8.77 jiwa, kecamatan Wasile Timur sebanyak 7.62 jiwa, kecamatan Maba sebanyak 7.73 jiwa dan sebagainya (Tabel 4). Kepadatan penduduk kabupaten Halmahera Timur pada tahun 27 adalah,3 jiwa/km 2 dimana kepadatan penduduk tertinggi terdapat di kecamatan Wasile yaitu,68 jiwa per km 2 diikuti kecamatan Wasile Selatan sebesar,22 jiwa per km 2,
kecamatan Wasile Timur sebesar,8 jiwa per km 2, kecamatan Wasile Utara sebesar,6 jiwa per km 2 dan kecamatan Maba sebesar,22 jiwa per km 2. dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 7. Tabel 4. Jumlah Kepadatan Penduduk Kabupaten Halmahera Timur No Kecamatan Jumlah penduduk Kepadatan Luas wil (Km 2 (ji wa) (per Km 2 ) ) 26 27 26 27 Maba 83.4 64 773 3.36 3.86 2 Kota Maba 63.4 3969 47 2.43 2.88 3 Maba Tengah 79.9 4868 77 2.77 2.88 4 Maba Selatan 84.6 624 627 3.37 3.46 Maba Utara 6.2 688 6739 6.2 6.36 6 Wasile Utara 23.2 3373 3428.46.49 7 Wasile Tengah 467.7 4393 4449 9.39 9. 8 Wasile Timur 443.8 727 762 6.96 7.8 9 Wasile 43.8 733 877 6.82 8.76 Wasile Selatan 243.2 873 892 3.6 3.63 Jumlah 422. 96 6244 4.6 4.6 Sumber : Kabupaten Halmahera Timur dalam Angka, 28 4.8.2. Tingkat Pendapatan Berdasarkan data BPS tahun 28, sektor Pertanian/Nelayan dan Penggalian/Pertambangan merupakan sektor yang paling berperan di dalam roda perekonomian kabupaten Halmahera Timur, apabila diukur dari kontribusinya terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Sektor Pertanian/Nelayan (perkebunan, peternakan, perikanan dan kelautan) memang menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar penduduk kabupaten Halmahera Timur, jumlahnya ± 7.92 rumah tangga (76,26 % dari jumlah rumah tangga yang telah bekerja). Namun sejauh ini sektor ini belum berkembang secara optimal, baik pada tahap/proses produksi, pengolahan maupun pemasaran, sehingga perlu adanya dukungan yang optimal bagi pengembangan sektor ini agar tingkat kesejahteraan masyarakatnya meningkat.
27 3 27 3 4 27 4 4 3 K AB UPATEN HALM AHERA UTARA WASILE UTARA 3 3 4 AR KOTA TIDO RE KEPULAUAN TELUK K AO WASILE SELATAN KOTA MABA WASILE TENGAH WASILE WASILE TIM UR MABA W ÊÚ TG. BULI MABA TENGAH TELUK B ULI MAB A UTAR A 4 3 KABUPATEN HALM AHERA TENGAH MABA SELATAN 27 4 28 28 28 3 28 4 28 28 28 28 28 3 28 4 PETA SEBARAN PENDUDUK KABUPATEN HALMAHERA TIMUR N W S 3 3 6 Km E LEGENDA Batas Kecamatan Jalan Sungai W Ibukota Kabupaten ÊÚ Lapangan Terbang Pelabuhan Sebaran Penduduk Kab. Halmahera Timur 3.-4. jiwa 4.-. jiwa.-6. jiwa 6.-7. jiwa 7.-8. jiwa Batas Kabupaten Sumber :. Peta Administrasi Skala : 2. 2. Data Kab. Haltim dalam Angka tahun 28 PS. PERENCANAAN WILAYAH IPB 29 Indeks Peta Gambar 7. Peta Sebaran Penduduk Kabupaten Halmahera Timur 28
4.9. Aspek Perekonomian Wilayah 4.9.. Struktur Perekonomian Berdasarkan data BPS tahun 28, struktur perekonomian kabupaten Halmahera Timur dapat diketahui dari kontribusi sektor-sektor ekonomi dalam pembentukan PDRB. Kabupaten Halmahera Timur merupakan kabupaten yang kegiatan perekonomiannya masih bertumpu kepada sektor pertanian dan pertambangan/penggalian. Sektor pertananian dan pertambangan/penggalian merupakan sektor dominan yang memberikan kontribusi 4,4 % dan 39,2 % terhadap PDRB Halmahera Timur pada tahun 27. Jika diperhatikan sejak 2 sampai dengan 27 kontribusi sektor pertanian tersebut mengalami kenaikan yang sangat kecil. Hal ini menunjukkan terjadinya proses transformasi ekonomi dari sektor pertanian ke sektor lain. Sektor lain tersebut adalah sektor pertambangan, industri pengolahan dan bangunan/konstruksi. Namun demikian, akibat krisis ekonomi, proses transformasi tersebut terhenti. Sejak tahun 27 peranan sektor pertanian mengalami kenaikan kembali. Sedangkan peranan sektor pertambangan, industri pengolahan dan bangunan/konstruksi tetap mengalami kenaikan. Selain bertumpu pada sektor pertanian, perekonomian Halmahera Timur bertumpu pula pada sektor pertambangan dan penggalian. Sumbangan sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB Halmahera Timur selama tiga tahun terakhir rata-rata lebih dari 3%. Dengan demikian sumbangan sektor pertanian ditambah sektor pertambangan dan penggalian ± 6 % dari PDRB Halmahera Timur. Kedua sektor tersebut tergolong sektor primer dalam perekonomian. Hal ini memberikan gambaran bahwa kegiatan ekonomi primer masih mendominasi perekonomian Halmahera Timur. Hanya kurang dari 4 % kegiatan ekonomi yang bukan berasal dari sektor primer. Sekitar 8 % lebih dari 4 % tersebut merupakan sumbangan sektor perdagangan, hotel dan restoran, disajikan dalam Tabel dan Gambar 8.
Tabel. Perkembangan PDRB kabupaten Halmahera Timur Tahun 2-28 (%) No sektor 2 26 27 Pertanian.7 6.2 4.4 2 Pertambangan & penggalian 7.8.3 39.2 3 Industri & pengolahan.3 6.4 4.7 4 Bangunan 4 2.4 3.6 Perdagangan.8 7.4.3 6 pengangkutan & komunikasi.3 6.4 4.89 7 Keuangan, persewaan & jasa perusahaan.3 8.9 2.9 8 Jasa-jasa.2.3 2.6 Gambar 8. Histogram Perkembangan PDRB Kabupaten Halmahera Timur Tahun 2-28 4.9.2. Pendapatan Domestik Regional Bruto Per Kapita Pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan berdampak pada meningkatnya PDRB per kapita penduduk, bila disertai upaya pengendalian jumlah penduduk. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menggambarkan besarnya nilai PDRB per penduduk, sedangkan PDRB per kapita atas dasar harga konstan dapat menunjukkan besarnya PDRB riil per kapita penduduk. PDRB per kapita tidak sepenuhnya menggambarkan peningkatan pendapatan per orang penduduk setempat, namun indikator ini antara lain dapat digunakan untuk menilai apakah upaya pembangunan ekonomi di suatu wilayah mampu meningkatkan pencapaian nilai tambah berdasarkan kreativitas
masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya. Namun dengan keterbatasan data, indikator PDRB per kapita lazim dijadikan indikator untuk menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat (BPS, 28). Tabel perkembangan agregat PDRB kabupaten Halmahera Timur dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Perkembangan Agregat PDRB Kabupaten Halmahera Timur atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan URAIAN 2 26 27* () (2) (3) (4).ATAS DASAR HARGA BERLAKU A. Produk Domestik Regional Bruto atas Dasar Harga Pasar(Juta Rupiah) B. Penyusutan (Juta Rupiah) C. Produk Domestik Regional Neto atas Dasar Harga Pasar (Juta Rupiah) D. Pajak Tak Langsung Neto (Juta Rupiah) E. Produk Domestik Regional Neto atas Dasar Biaya Faktor Produksi (Juta Rupiah) F. Jumlah Penduduk Pertengahan tahun ( Ribu Jiwa) G. PDRB Perkapita (Juta rupiah) H. Pendapatan Perkapita (Juta Rupiah) 2.87,4 3.24,4 97.63,4.47,3 86.88, 3.83 3,92 3,46 236.8,79 4.79,4 22.6,34 2.622,83 28.978, 62.272 3,79 3,36 282.49,49 6.37,39 266.43,9 3.88, 22.67,98 64.922, 4, 3.89 II. ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2 A. Prduk Demostik Regional Bruto atas Dasar Harga Pasar(Juta Rupiah) B. Penyusulan (Juta Rupiah) C. Produk Domest ik Regional Bruto atas Dasar Harga Pasar (Juta Rupiah) D. Pajak Tak Langsung Neto(Juta Rupiah) E. Produk Demostik Regional Neto atas Dasar Biaya Faktor Produksi(Juta Rupiah) F. Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun (Ribu Jiwa ) G. PDRB Perkapita (juta Rupiah) H. Pendapatan Perkapita 7.6.88 8.3.7 67.3.3 8.3.66 9.6.6 3.83 3.26 2.96 86.69.3 8.833.62 77.73.68 8.8.3 68.92.64 62.272 3. 2.7 2.98.33 9.76,99 9.88.34 9.696.3 86.84.8 64.922. 3.2 2.87 Sumber : Bappeda, 28