HUBU GA DUKU GA KELUARGA DE GA DURASI KEKAMBUHA PASIE SKIZOFRE IA DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DR. AMI O GO DOHUTOMO SEMARA G

dokumen-dokumen yang mirip
HUBU GA DUKU GA KELUARGA DE GA KEPATUHA KO TROL BEROBAT PADA KLIE SKIZOFRE IA DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DR. AMI O GO DOHUTOMO SEMARA G

BAB I PENDAHULUAN. sehat, maka mental (jiwa) dan sosial juga sehat, demikian pula sebaliknya,

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN HALUSINASI DENGAN TINGKAT KEKAMBUHAN PASIEN HALUSINASI DI RSJD SURAKARTA ABSTRAK

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV.

PENGARUH MENGHARDIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT HALUSINASI DENGAR PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RSJD DR. AMINOGONDOHUTOMO SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. ketidaktahuan keluarga maupun masyarakat terhadap jenis gangguan jiwa

GAMBARAN POLA ASUH KELUARGA PADA PASIEN SKIZOFRENIA PARANOID (STUDI RETROSPEKTIF) DI RSJD SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

PENGARUH TERAPI MUSIK POPULER TERHADAP TINGKAT DEPRESI PASIEN ISOLASI SOSIAL DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

PENGARUH PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HALUSINASI TERHADAP KEMAMPUAN KLIEN MENGONTROL HALUSINASI DI RSKD DADI MAKASSAR

Fitri Sri Lestari* Kartinah **

Promotif, Vol.4 No.2, April 2015 Hal 86-94

BAB 1 PENDAHULUAN. klinis bermakna yang berhubungan dengan distres atau penderitaan dan

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif yaitu untuk

HUBUNGAN ANTARA KEMANDIRIAN DENGAN KUALITAS HIDUP KLIEN SKIZOFRENIA DI KLINIK KEPERAWATAN RSJ GRHASIA DIY

Penelitian Keperawatan Jiwa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan

HUBUNGAN ANTARA FREKUENSI KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA KELUARGA

HUBUNGAN POLA KOMUNIKASI KELUARGA DENGAN FREKUENSI KEKAMBUHAN KLIEN PERILAKU KEKERASAN DI RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. mendasar bagi manusia. World Health Organization (WHO) sejaterah seseorang secara fisik, mental maupun sosial.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. dengan kehidupan sehari-hari, hampir 1 % penduduk dunia mengalami

BAB I PENDAHULUAN. yang utuh untuk kualitas hidup setiap orang dengan menyimak dari segi

Rakhma Nora Ika Susiana *) Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. kecacatan. Kesehatan jiwa menurut undang-undang No.3 tahun 1966 adalah

KORELASI PERAN SERTA KELUARGA TERHADAP TINGKAT KEKAMBUHAN KLIEN SKIZOFRENIA

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI POLI KLINIK RUMAH SAKIT JIWA Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG ABSTRAK

HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN SIKAP PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. Gangguan jiwa ditemukan disemua lapisan masyarakat, dari mulai

BAB I PENDAHULUAN. sangat signifikan, dan setiap tahun di berbagai belahan dunia jumlah

HUBUNGAN DUKUNGAN PSIKOSOSIAL KELUARGA DENGAN LAMA RAWAT INAP PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. karena adanya kekacauan pikiran, persepsi dan tingkah laku di mana. tidak mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PENGELOLAAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN PADA Tn. E DI RUANG P8 WISMA ANTAREJA RSJ Prof. dr.

ANALISIS MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT DAERAH MADANI PROVINSI SULAWESI TENGAH. Aminuddin 1) Sugeng Adiono 2)

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PENDAPATAN DENGAN KEPATUHAN DALAM PERAWATAN PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUD dr. R. SOEDJATI PURWODADI

BAB I PENDAHULUAN. gangguan pada fungsi mental, yang meliputi: emosi, pikiran, perilaku,

Khodijah, Erna Marni, Hubungan Motivasi Kerja Terhadap Perilaku Caring Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau Tahun 2013

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ORIENTASI REALITAS SESI I-III TERHADAP KEMAMPUAN MENGONTROL HALUSINASI PADA KLIEN HALUSINASI DI RSJD Dr.

BAB I PENDAHULUAN. mental dan sosial yang lengkap dan bukan hanya bebas dari penyakit atau. mengendalikan stres yang terjadi sehari-hari.

BAB I PENDAHULUAN. keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan

HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT KEPDA PASIEN DI RS AISYIYAH BOJONEGORO. Abstrak

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI-SENSORI TERHADAP KEMAMPUAN MENGONTROL HALUSINASI PADA

BAB I PENDAHULUAN. dapat memenuhi segala kebutuhan dirinya dan kehidupan keluarga. yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan

BAB III METODE PENELITIAN

Purwandita Anggarini, Lutfi Nurdian Asnindari STIKES Aisyiyah Yogyakarta

BAB 1 PENDAHULUAN. sehat, serta mampu menangani tantangan hidup. Secara medis, kesehatan jiwa

Dukungan Keluarga dengan Kekambuhan pada Pasien Skizofrenia- Family Support With Recurrence In Schizophrenic

PERSEPSI MAHASISWA TENTANG METODE PENGAJARAN DOSEN DENGAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA KEPERAWATAN STIKES AISYIYAH SURAKARTA

PENATALAKSANAAN PASIEN GANGGUAN JIWA DENGAN ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI DI RUANG ARIMBI RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. menduduki rangking ke 4 jumlah penyandang Diabetes Melitus terbanyak

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN WANITA PEKERJA SEKS DENGAN PERILAKU PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI LOKALISASI SUNAN KUNING SEMARANG

GAMBARAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DIRUANG RAWAT INAP RSUD SULTANSYARIF MOHAMAD ALKADRIE KOTA PONTIANAK

PENGARUH AKTIVITAS TERJADWAL TERHADAP TERJADINYA HALUSINASI DI RSJ DR AMINO GONDOHUTOMO PROVINSI JAWA TENGAH

BAB III METODELOGI PENELITIAN

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN PASIEN HALUSINASI DENGAN PERILAKU KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN HALUSINASI

BAB III METODE PENELITIAN

EFEKTIVITAS TERAPI GERAK TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Peristiwa gangguan jiwa yang terjadi dari tahun ke tahun dan dari. waktu ke waktu akan berdampak negatif pada setiap individu yang

BAB I PENDAHULUAN. eksternal, dibuktikan melalui pikiran, perasaan dan perilaku yang tidak sesuai

BAB 1 PENDAHULUAN. keluarga, kelompok, organisasi, atau komunitas. (Stuart, 2007).

Fitri Arofiati, Erna Rumila, Hubungan antara Peranan Perawat...

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan dasar tersebut (Depkes, 2009). yang meliputi pelayanan: curative (pengobatan), preventive (upaya

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG OBAT TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN GANGGUAN JIWA DI DESA BANARAN KULON PROGO YOGYAKARTA

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUNJUNGAN KONTROLPASIEN JIWA SKIZOFRENIA DI RAWAT JALAN DI RSJ PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2013

HUBU GA DUKU GA KELUARGA DE GA PERILAKU SOSIAL PASIE DE GA PERILAKU KEKERASA

BAB 1 PENDAHULUAN. sendiri. Kehidupan yang sulit dan komplek mengakibatkan bertambahnya

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. World Health Organization (WHO) (2009) memperkirakan 450 juta. orang di seluruh dunia mengalami gangguan mental, sekitar 10% orang

PENGARUH TERAPI KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERHADAP KEMAMPUAN BERINTERAKSI KLIEN ISOLASI SOSIAL DI RSJD DR.AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ABSTRAK. Kata Kunci : Dukungan Keluarga, Kekambuhan Skizofrenia ABSTRACT

Hubungan Antara Perencanaan Pulang Dengan Kepatuhan Pasien Tentang Jadwal Kontrol pasien Di Rumah Sakit Jiwa Amino Gondohutomo Provinsi Jawa tengah

Study Tingkat Kecemasan Penderita Diabetes Mellitus Di Poli Rawat Jalan Puskesmas Ngawi Purba Kabupaten Ngawi

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah keadaan sehat fisik, mental dan sosial, bukan

BAB I PENDAHULUAN. serta ketidakpastian situasi sosial politik membuat gangguan jiwa menjadi

PENATALAKSANAAN PASIEN GANGGUAN JIWA DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI RENDAH DI RUANG GATHOTKOCO RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG.

PENGARUH PENERAPAN STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN PERILAKU KEKERASAN. Abstrak

Kata kunci : pengetahuan, sikap ibu hamil, pemilihan penolong persalinan.

BAB I PENDAHULUAN. emosi, pikiran, perilaku, motivasi daya tilik diri dan persepsi yang

Etlidawati 1, Salmiwati 2.

BAB I PENDAHULUAN. yang mengarah pada kestabilan emosional (Nasir dan Muhith, 2011). mencerminkan kedewasaan kepribadiannya.

BAB I PENDAHULUAN. dalam segi kehidupan manusia. Setiap perubahan situasi kehidupan individu

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. H DENGAN PERUBAHAN PERSEPSI SENSORI HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG SENA RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

Jurnal Harapan Bangsa, Vol.1 No.1 Desember 2013 ISSN

Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi... (B. I. Widyastini, 2014) 1

Jurnal Husada Mahakam Volume III No. 5, Mei 2013, hal FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEKAMBUHAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA

BAB I PENDAHULUAN. adanya tekanan fisik dan psikologis, baik secara internal maupun eksternal yang

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Nn. L DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI RENDAH DI RUANG SRIKANDI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

BAB III METODE PENELITIAN. mengungkapkan hubungan antar variabel yaitu pemberian MP ASI dengan

IJMS Indonesian Journal On Medical Science Volume 3 No 1 - Januari 2016

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK LANJUT USIA DENGAN PENGETAHUAN TENTANG HIPERTENSI DI KELURAHAN SRIWIDARI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIPELANG KOTA SUKABUMI

GAMBARAN KARAKTERISTIK PASIEN GANGGUAN JIWA YANG MENGALAMI RAWAT INAP ULANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Terapi Aktifitas Kelompok Oleh Perawat Pada Pasien Rawat Inap di RSD Madani Palu Tahun 2013

BAB I PENDAHULUAN. ringan dan gangguan jiwa berat. Salah satu gangguan jiwa berat yang banyak

BAB I PENDAHULUAN. menghambat pembangunan karena mereka tidak produktif. terhadap diri sendiri, tumbuh, berkembang, memiliki aktualisasi diri,

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan penurunan semua fungsi kejiwaan terutama minat dan motivasi

Transkripsi:

HUBU GA DUKU GA KELUARGA DE GA DURASI KEKAMBUHA PASIE SKIZOFRE IA DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DR. AMI O GO DOHUTOMO SEMARA G Irma Wahyuningrum * ) Anjas Surtiningrum ** ), Ulfa Nurulita *** ). *) Mahasiswa Program Studi SI Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang **) Program Studi SI Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang ***) Fakultas Kesehatan Masyarakat Unimus Semarang ABSTRAK Gangguan jiwa merupakan adanya gangguan pada fungsi mental, salah satunya adalah skizofrenia. Skizofrenia merupakan suatu penyakit otak persisten yang dapat mengakibatkan timbulnya pikiran, emosi, gerakan, perilaku psikotik sehingga mengalami kesulitan dalam memproses informasi serta memecahkan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan pada klien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Desain penelitian ini adalah cross sectional,yaitu jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran data variabel bebas tentang dukungan keluarga dan variabel terikat tentang durasi kekambuhan, jumlah sampel 80 responden dengan teknik purposive sampling. Terlihat dari hasil dukungan keluarga yang mendukung sebesar 48 (60%), dan durasi kekambuhan yang baik sebesar 44 (55%). Hasil uji statistik chi square (p-value 0,047), kesimpulan ada hubungan antara dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Kata kunci : Dukungan keluarga, durasi kekambuhan, dan Skizofrenia ABSTRACT A mental disorder due to disturbances in mental function, one of the mental disorder types is schizophrenia. Schizophrenia is a brain disease that can lead to the emergence of thought, emotion, motion, and psychotic behavior that has difficulty in processing information and solving problem. This research aims to determine the relationship between family support and recurrence duration on schizophrenic patients in Dr. Amino Gondohutommo Regional Mental Hospital, Semarang. The research designis cross-sectional, working with 80 sample respondents by applying purposive sampling technique. Seen from the result, there are 48 (60%) families have good support and 44 (55%) schizophrenic patients have good recurrence duration. Based on the chi-square statistical test results (p-value 0.047), there is a relationship between family support and recurrence duration onschizophrenic patients in the Dr. Amino Gondohutomo Regional Mental Hospital, Semarang. Keywords: family support, recurrence duration, schizophrenia Hubungan Dukungan Keluarga...... (Irma Wahyuningrum) 1

PE DAHULUA Kesehatan jiwa merupakan suatu sikap positif terhadap diri sendiri, tumbuh berkembang, memiliki aktualisasi diri, keutuhan, kebebasan diri, memiliki persepsi sesuai kenyataan dan kecakapan dalam beradaptasi dengan lingkungan (Stuart, 2006).Gangguan jiwa merupakan adanya gangguan pada fungsi mental, yang meliputi; emosi, pikiran, perilaku, perasaan, motivasi, kemauan, keinginan, daya tilik diri, dan persepsi sehingga mengganggu dalam proses hidup di masyarakat (Nasir dan Muhith, 2011). WHO mengungkapkan gangguan jiwa di dunia merupakan masalah yang serius. WHO (2001) mengungkapkan ada sekitar 450 juta orang di dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Berdasarkan, Riset Kesehatan Dasar (Riskesda, 2007) mengungkapkan bahwa gangguan jiwa di Indonesia sebanyak 0,46% atau sekitar 1 juta orang mengalami gangguan jiwa. Salah satu contoh dari gangguan jiwa tersebut adalah skizofrenia. Skizofrenia adalah suatu penyakit otak persisten yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan memproses informasi, hubungan interpersonal, serta memecahkan masalah. (Stuart, 2006, hlm 240). Dengan demikian, Skizofrenia merupakan suatu penyakit otak persisten yang dapat mengakibatkan timbulnya pikiran, emosi, gerakan, perilaku psikotik sehingga mengalami kesulitan dalam memproses informasi serta memecahkan masalah. Organisasi kesehatan dunia (WHO, 2000) menyebutkan bahwa prevelensi Skizofrenia secara umum di dunia mencapai antara 0,2%- 2% populasi. Prevelensi data di Amerika Serikat didapatkan data bahwa setiap tahun terdapat 300.000 pasien Skizofrenia mengalami episode akut. Prevelensi Skizofrenia lebih tinggi dari penyakit Alzhaimer, multiple sklerosis maupun pasien diabetes yang memakai insulin (Yosep, 2008). Di Indonesia berdasarkan data kesehatan jiwa Puslitbang Depkes RI (2007), sebanyak 0,46% masyarakat Indonesia mengidap Skizofrenia dan mengalami gangguan psikotik berat. Angka kejadian gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino pada tahun 2012 bulan Januari hingga bulan Oktober, jumlah pasien rawat inap sebanyak 3903 pasien. Didapatkan pula data kekambuhan, pada tahun 2008 angka kekambuhan mencapai 2222 pasien. Di tahun 2012 angka kekambuhan skizofrenia dari bulan Januari sampai Oktober 2012 sebanyak 1871 pasien (Bidang Rekam Medik RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang, 2012). Semakin meningkatnya angka kejadian skizofrenia, maka dibutuhkan perawatan yang lebih mendalam baik di rumah sakit maupun di lingkungan keluarga agar mencegah terjadinya kekambuhan skizofrenia. Skizofrenia merupakan gangguan kronik yang sering menimbulkan kekambuhan. Tanpa pengobatan pasien yang mederita Skizofrenia akan mengalami kekambuhan setelah 2 bulan berikutnya dari masa sakit yang lalu (Mubarok, 2006). Pasien Skizofrenia diperkirakan 25% akan kambuh pada tahun pertama dan 70% pada tahun ke dua, dan 100% pada tahun kelima setelah pulang dari Rumah Sakit (Keliat, 1995). Pelayanan yang dilakukan di rumah sakit tidak akan bermakna bila keluarga tidak diikutsertakan dalam merencanakan tindakan keperawatan. Oleh karena itu keluarga perlu diikutsertakan dalam persiapan pulang karena tujuan dari perencanaan pulang tidak hanya ditujukan untuk pasien sehingga asuhan keperawatan yang berfokus pada keluarga bukan hanya memulihkan keadaan pasien tetapi bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan dalam keluarga.(keliat, 1996). Keluarga merupakan unit paling dekat dengan pasien, dan merupakan perawat utama bagi pasien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau perawatan yang diperlukan pasien di rumah. Keberhasilan perawat di rumah sakit akan sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan pasien harus dirawat kembali (kambuh). Peran serta keluarga sejak awal perawatan di rumah sakit akan meningkatkan kemampuan keluarga merawat pasien di rumah sehingga kemungkinan kambuh dapat dicegah.(kaplan, Sadock, Grebb, 1997). Berdasarkan dari latar belakang ini maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Durasi Kekambuhan Pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Hubungan Dukungan Keluarga...... (Irma Wahyuningrum) 2

METODE PE ELITIA Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi (Notoatmodjo, 2010). Rancangan penelitian ini adalah cross sectional, yaitu jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran data variabel bebas dan terikat hanya satu kali pada satu saat (Nursalam, 2011). Rancangan ini bertujuan untuk mencari hubungan dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan skizofrenia. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian pasien skizofrenia yang mengalami kekambuhan di Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan memilih non probability sampling dengan jenis purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Pada peneliti ini sampel diambil dari seluruh pasien skizofrenia yang datang di Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang pada bulan Maret 2013. Data rata-rata per bulan pada tahun 2012 adalah 390 pasien. Karakteristik sampel yang layak diteliti adalah keluarga pasien yang tinggal satu rumah dengan pasien dan pasien itu sendiri. Responden yang tidak layak diteliti antara lain pasien yang baru pertama menderita skizofrenia, dan pasien yang menjalankan pengobatan dirawat jalan. Instrumen yang dikumpulkan dalam pengumpulan data adalah Dengan kuesioner, yang menggunakan skala likert : selalu, sering, kadang-kadang, jarang, tidak pernah, diukur dengan skor 1 sampai 4, selalu nilai 4, sering nilai 3, jarang nilai 2, tidak pernah nilai 1. Hasil ukur pengelompokan berdasarkan distribusi data skor total apabila data berdistribusi normal dikatakan mendukung apabila lebih dari mean, sedangkan tidak mendukung kurang dari mean. Pada kuisioner durasi kekambuhan merekap data dari rekam medis dimana terjadinya kekambuhan setelah pulangnya pasien dari rawat inap yang diukur menjadi 2 katagori baik dan tidak baik. Dikatakan baik apabila terjadinya kekambuhan lebih dari 2 bulan, sedangkan tidak baik terjadinya kekambuhan kurang dari 2 bulan atau lebih cepat. Alat ukur yang digunakan adalah kuisioner sehingga memungkinkan responden dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan. didapatkan nilai p 0,05 artinya ada hubungan antara 2 variabel maka Ho ditolak. HASIL PE ELITIA Karakteristik Penelitian Diketahui bahwa usia responden berkisar antara 15-58 tahun dengan rata- rata 28 tahun dan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 43 orang atau 53,8%. Sedangkan pada pendidikan sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan SMP yaitu sebanyak 47,5% Tabel 5.1 Distribusi responden berdasarkan Dukungan KeluargaDi Ruang Arimbi, Ruang Citro Anggodo, dan Ruang Dewa Ruci RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang, bulan Maret 2013 (n = 80) Dukungan Frekuensi Persentase keluarga Mendukung Tidak mendukung 48 32 60,0 40,0 Jumlah 80 100 Hasil analisis tabel 5.1 diatas menunjukkan bahwa dukungan keluarga termasuk dalam kategori mendukung sebanyak 48 responden (60,9%). Tabel 5.2 Distribusi responden berdasarkan nilai rata-rata dukungan keluarga di Ruang Arimbi, Ruang Citro Anggodo, dan Ruang Dewa Ruci RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang (n =48) Dukungan keluarga Dukungan emosional Dukungan penilaian Dukungan instrumental Dukungan informasional Mean 33,21 30,54 17,60 9,15 Hasil analisis tabel 5.2 menunjukkan bahwa dukungan keluarga yang terbanyak adalah pada dukungan emosional (kepercayaan, perhatian, mendengarkan) dan dukungan penilaian (support, penghargaan, perhatian). Data yang telah diperoleh dengan kuisioner dianalisis dengan tabel distribusi, dan dilakukan tabulasi untuk mengetahui adanya hubungan dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan pasien skizofrenia diuji dengan uji statistik pearson yang dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Hubungan Dukungan Keluarga...... (Irma Wahyuningrum) 3

Tabel 5.3 Distribusi rata- rata skor dukungan keluarga Di Ruang Arimbi, Ruang Citro Anggodo, dan Ruang Dewa Ruci RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang, bulan Maret 2013 (n= 80) Variabel Mean Median Std.Deviasi Min-maks Skor dukungan 87,84 88,00 4,402 71-101 keluarga Berdasarkan data yang telah didapat, diketahui bahwa skor dukungan keluarga rata-rata adalah 87,84 dengan standar deviasi 4,402. Hasil penelitian menunjukan bahwa dukungan keluarga merupakan dukungan yang diberikan keluarga pada pasien skizofrenia dalam memberikan motivasi agar pasien skizofrenia dapat menjalankan kegiatan secara mandiri. Variabel dukungan keluarga pada pasien skizofrenia yang mengalami kekambuhan diukur dengan 30 pertanyaan. Berdasarkan uji normalitas data dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Didapatkan p value >0,05 yang menunjukan data dukungan keluarga berdistribusi normal (p = 0.416). Tabel 5.3 Distribusi responden berdasarkan Durasi Kekambuhan Di Ruang Arimbi, Ruang Citro Anggodo, dan Ruang Dewa Ruci RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang, bulan Maret 2013 (n = 80) Durasi Jumlah Presentase Kekambuhan Tidak baik 36 45,0 Baik 44 55,0 Jumlah 80 100 Hasil analisis tabel 5.3 di atas menunjukkan bahwa durasi kekambuhan responden sebagian besar termasuk dalam kategori baik sebanyak 44 responden (55,0%). Hasil penelitian menunjukkan masih ada 45,0% responden yang tidak baik. Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Nilai Durasi Kekambuhan Di Rawat Inap Dr. Amino GOndohutomo Semarang, bulan Maret (n = 80) Variabel Mean Median Std.Deviasi Min-maks Nilai durasi 23,39 16,00 17, 052 4-36 dukungan Berdasarkan data yang telah didapat, diketahui bahwa nilai durasi kambuh pasien dengan rata-rata 23 minggu dengan standar deviasi 17,052. Berdasarkan hasil uji dengan pearson diperoleh nilai probabilitas p value sebesar 0.047 (p<0,05) maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan di Rawat Inap RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. PEMBAHASA Dukungan Keluarga Dukungan keluarga adalah dukungan yang diberikan keluarga pada pasien skizofrenia dalam memberikan motivasi agar pasien skizofrenia dapat menjalankan kegiatan secara mandiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga termasuk dalam kategori mendukung yaitu sebesar 48 responden (60%) dan dukungan yang tidak mendukung 32 responden (40%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga yang mendukung adalah pada dukungan emosional dan dukungan penilaian. Adapun dukungan yang tidak mendukung terutama pada dukungan informasional dan dukungan instrumental. Dukungan yang baik ditunjukkan pada keluarga dengan memberikan motivasi dan keluarga hampir selalu memberikan obat serta mengantar pasien untuk berobat agar mencegah pasien tidak kambuh. Keluarga yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah kesehatan akan dapat mencegah perilaku maladaptif, menanggulangi perilaku maladaptif dan memulihkannya sehingga derajat kesehatan pasien dan keluarga dapat ditingkatkan secara optimal dan tidak menimbulkan kekambuhan (Keliat, 1992, hlm. 12). Pasien dengan skizofrenia memerlukan perawatan dan dukungan yang berkelanjutan serta berkesinambungan. Disinilah dukungan keluarga sangat berperan dalam mencegah kekambuhan. Keluarga sangat berperan dalam mengurangi resiko kekambuhan pada pasien dan sangat berperan dalam merawat pasien skizofrenia di rumah. Durasi kekambuhan Durasi kekambuhan adalah derajat dimana terjadinya kekambuhan setelah pulangnya pasien dari rawat inap. Rata- rata durasi kekambuhan 23,39 minggu, minimum 4 minggu, maximum 36 minggu, dengan standart deviasi 17.052 minggu. Durasi kekambuhan dikelompokan menjadi 2 katagori yaitu baik dan tidak baik. Dikatakan baik apabila terjadinya kekambuhan lebih dari 2 bulan, sedangkan tidak baik terjadinya kekambuhan kurang dari 2 bulan atau lebih cepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas 44 responden (55%) termasuk dalam kategori durasi kekambuhan baik dan 36 responden (45%) Hubungan Dukungan Keluarga...... (Irma Wahyuningrum) 4

termasuk dalam kategori durasi kekambuhan tidak baik. Menurut Andri (2009, dalam wit-nursing, 1) kambuh merupakan keadaan pasien dimana munculnya kembali gejala-gejala psikotik yang nyata. Angka kekambuhan secara positif berhubungan dengan beberapa kali masuk rumah sakit, lamanya dan perjalanan penyakit. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Durasi Kekambuhan Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 48 responden dengan dukungan keluarga baik terlihat bahwa 44 responden (55%) termasuk dalam kategori durasi kambuh baik dan 32 responden (40%) dengan dukungan keluarga tidak baik terlihat bahwa 36 responden (45%) termasuk dalam kategori durasi kambuh tidak baik. Berdasarkan hasil uji pearson diperoleh nilai probabilitas p value sebesar 0.047 (p<0,05) maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan di Rawat Inap RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberi perawatan langsung pada setiap keadaan pasien baik itu sehat maupun sakit. Merupakan suatu kondisi yang umum apabila dalam suatu keluarga memiliki keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan dalam pengetahuan/ informasi tentang penyakit maupun dalam perawatan untuk anggota keluarga yang mengalami masalah gangguan jiwa. Biasanya keluarga akan meminta bantuan kepada tenaga kesehatan apabila sudah tidak dapat menanganinya lagi. Oleh karena itu asuhan keperawatan yang berfokus pada keluarga bukan hanya memulihkan keadaan pasien tetapi bertujuan juga untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam menangani masalah tersebut (Keliat, 1992, hlm. 11). KESIMPULA Sebagian besar responden memiliki rata- rata usia 32 tahun, usia paling banyak berkisar antara 25 40 tahun sebanyak 39 responden. Subyek penelitian pada penelitian ini sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 53,8%. Pendidikan subyek penelitian sebagian besar berpendidikan SMP yaitu sebanyak 47,5%. sebanyak 44 subyek penelitian (55%), sedangkan tidak baik sebanyak 36 subyek penelitian (45%). Ada hubungan yang di signifikan antara dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan subyek penelitian. DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. (2007). Buku pedoman asukan keperawatan jiwa : teori dan tindakan keperawatan. Jakarta : Departemen Kesehatan Kaplan, Harold J.Sadock, Benjamin J, Grebb, Jack A.(1997). Kaplan & Sadock : synopsis psikiatri, ilmu pengetahuan perilaku psikiatri klinis edisi 7 jilid 1. Jakarta EGC Keliat, Budi Anna. (1996). Peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa. Jakarta : EGC Mubarak, Husnul.2006. Farmakoterapi Skizofrenia diambil pada tanggal 12 November 2012.dari http://www.idijakbar.com/prosiding/skizofre nia.htm. Nasir, Muhith. (2011). Pengantar dan teori dasar keperawatan jiwa. Jakarta : Salemba Medika Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nursalam. (2011). Konsep dan perawatan metodologi penelitian ilmu keperawatan profesional. Jakarta : Salemba Medika. Riskesda (2007). Buku Panduan HJKS. www.depkes.co.id diperoleh pada tanggal 10 november 2012. Surakarta.. Stuart, Gail W. (2006). Buku saku keperawatan jiwa. Jakarta : EGC. Sugiyono. (2007). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.. Yosep, Iyus. (2008). Keperawatan Jiwa Edisi Revisi. Bandung : PT. Refika Aditama Sebanyak 60,0% subyek penelitian mempunyai dukungan keluarga yang baik. Durasi kekambuhan rata- rata 23,29 minggu, minimum 4 minggu, maximum 36 minggu, Standar deviasi 17,052 minggu. Dikatagorikan baik Hubungan Dukungan Keluarga...... (Irma Wahyuningrum) 5

Hubungan Dukungan Keluarga...... (Irma Wahyuningrum) 4