BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bersifat sementara dan dapat pula bersifat menetap (Subroto, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. bagian dari pemeliharaan kesehatan komperhensif bukan lagi hal yang baru.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kontrasepsi (Sulistyawati, 2012). 1) Metode kontrasepsi sederhana. 2) Metode kontrasepsi hormonal

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KESEHATAN REPRODUKSI* Oleh: Dr. drh. Heru Nurcahyo, M.Kes**

Sistem hormon wanita, seperti pada pria, terdiri dari tiga hirarki hormon, sebagai berikut ;

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Istilah Kependudukan dan Keluarga Berencana (2011) yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemampuan untuk mengatur fertilitas mempunyai pengaruh yang bermakna

Siklus menstruasi. Nama : Kristina vearni oni samin. Nim: Semester 1 Angkatan 12

GYNECOLOGIC AND OBSTETRIC DISORDERS. Contraception

1. Perbedaan siklus manusia dan primata dan hormon yang bekerja pada siklus menstruasi.

BAB I PENDAHULUAN. penduduk Indonesia sebanyak jiwa terdiri atas jiwa

PENDAHULUAN INFORMASI ALAT KONTRASEPSI BUKU UNTUK KADER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kontrasepsi adalah suatu upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan (Sarwono,2002).

GAMBARAN MENSTRUASI IBU PADA AKSEPTOR ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DMPA DENGAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK KOMBINASI DI RB MEDIKA JUWANGI KABUPATEN BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan timbulnya sifat-sifat kelamin sekunder, mempertahankan sistem

Gangguan Hormon Pada wanita

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

JENIS METODE KB PASCA PERSALINAN VASEKTOMI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

contoh kasus KB 2 Kasus Ny. Sasa umur 27 tahun P2 A1, anak terakhir umur 15 bulan, akseptor KB implant sejak 10 bulan yang lalu. Datang ke BPS dengan

BAB I PENDAHULUAN. mengeluarkan hormon. Di dalam setiap ovarium terjadi perkembangan sel telur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut World Health Organisation (WHO) Keluarga Berencana (KB)

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Keluarga berencana telah menjadi salah satu sejarah keberhasilan dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kontrasepsi Implan adalah metode kontrasepsi yang diinsersikan pada

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. umumnya dan penduduk Indonesia khususnya. Dengan semakin

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan Reproduksi dilaksanakan untuk memenuhi hak-hak reproduksi

BAB 1 PENDAHULUAN. berfungsi dengan matang (Kusmiran, 2011). Menstruasi adalah siklus discharge

PENGERTIAN KELUARGA BERENCANA

Istilah-istilah. gangguan MENSTRUASI. Skenario. Menstruasi Normal. Menilai Banyaknya Darah 1/16/11

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. penduduk yang tinggi. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. korteks serebri, aksis hipotalamus-hipofisis-ovarial, dan endrogen

UMUR DAN LAMA PEMAKAIAN KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN DENGAN KEJADIAN AMENORRHOE

Anatomi/organ reproduksi wanita

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma sehingga dapat mencegah

BAB 1 PENDAHULUAN berjumlah jiwa meningkat menjadi jiwa di tahun

BAB I PENDAHULUAN. penghambat pengeluaran folicel stimulating hormon dan leitenizing hormon. sehingga proses konsepsi terhambat (Manuaba, 2002).

BAB I PENDAHULUAN. (International Conference on Population and Development) tanggal 5 sampai

SATUAN ACARA PENYULUHAN KB IMPLAN PADA PASANGAN USIA SUBUR. : Mahasiswa Jurusan Kebidanan Klaten

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman dahulu hingga sekarang banyak masyarakat Indonesia

BAB II TINJUAN PUSTAKA. Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah atau. melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI HORMONAL DAN STATUS GIZI DENGAN SIKLUS MENSTRUASI DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Program Keluarga Berencana (KB) yang kita kenal seperti. sekarang ini adalah buah perjuangan yang cukup lama yang dilakukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. mengeluarkan hormon estrogen (Manuaba, 2008). Menarche terjadi di

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 2. Sistem Reproduksi ManusiaLATIHAN SOAL BAB 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Amirul Amalia Program Studi DIII Kebidanan STIKES Muhammadiyah Lamongan

BAB I PENDAHULUAN. (dengan cara pembelahan sel secara besar-besaran) menjadi embrio.

MATERI PENYULUHAN KB 1. Pengertian KB 2. Manfaat KB

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Upaya meningkatkan pelayanan KB diusahakan dengan

Pend h a uluan Etiologi PUD B l e dik um t e h a i u t pas iti Beberapa pilihan terapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindari

PROFIL HORMON TESTOSTERON DAN ESTROGEN WALET LINCHI SELAMA PERIODE 12 BULAN

MODUL PENGAJARAN MENJAGA JARAK KEHAMILAN DAN MEMILIH ALAT KONTRASEPSI YANG TEPAT

Perdarahan dari Vagina yang tidak normal. Beberapa masalah terkait dengan menstruasi. Perdarahan selama kehamilan atau setelah persalinan

Kontrasepsi Hormonal (PIL)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang aman (plastik yang dililiti oleh tembaga) dan dimasukkan ke dalam rahim oleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tugas Endrokinologi Kontrol Umpan Balik Positif Dan Negatif

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Menurut World Population Data Sheet 2013, Indonesia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. sangat diinginkan, mengatur interval antara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keluarga berencana merupakan upaya untuk mengatur jumlah anak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Konsep Dasar Kontrasepsi Suntik (DMPA) dengan memakai kontrasepsi (Mochtar, 1999).

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Menurut World Population Data Sheet (2013) Indonesia merupakan urutan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERCAKAPAN KONSELING ANTARA BIDAN DENGAN PASIEN TENTANG KB

BAB I PENDAHULUAN. kehamilan pada umur kurang 15 tahun dan kehamilan pada umur remaja. Berencana merupakan upaya untuk mengatur jarak kelahiran anak

BAB I PENDAHULUAN. Gamba. r 1. Beberapa Penyebab Infertilitas pada pasangan suami-istri. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan rakyat (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 2009).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. jumlah anak dalam keluarga (WHO, 2009). Program KB tidak hanya

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh gangguan hormonal, kelainan organik genetalia dan kontak

BAB 1 PENDAHULUAN. kependudukan yang hingga saat ini belum bisa diatasi. Jumlah penduduk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KEPERAWATAN MATERNITAS II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sistem hormon seksual wanita terdiri dari tiga hirarki hormon sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SYARAT-SYARAT PEMERIKSAAN INFERTIL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) (1970, dalam Suratun, 2008)

KUESIONER PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. pendidikan, perumahan, pelayanan kesehatan, sanitasi dan lingkungan (Shah et al.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang World Health Statistic 2013 menyatakan bahwa WUS Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tinjauan pustaka merupakan sumber ide penelitian yang dapat memberikan

Transkripsi:

6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keluarga Berencana (KB) 2.1.1 Pengertian Keluarga Berencana Berdasarkan UU no 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera, keluarga berencana adalah suatu upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. 10 2.1.2 Tujuan Keluarga Berencana Tujuan utama program KB Nasional adalah untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera dengan memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas, menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi. 10

7 2.1.3 Sasaran Program KB Sasaran program Kb dibagi menjadi dua yaitu : 1. Sasaran langsung Pasangan Usia Subur (PUS) yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan. 10 2. Sasaran tidak langsung Pelaksana dan pengelola KB, dengan tujuan menurunkan tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijakan terpadu dalam rangka mencapai keluarga berkualitas, keluarga sejahtera. 2.2 Pasangan Usia Subur (PUS) Pasangan usia subur adalah pasangan suami istri yang terikat dalam perkawinan yang sah yang umur istrinya antara 15-49 tahun. bahwa: PUS merupakan sasaran utama program KB sehingga perlu diketahui 1. Hubungan urutan persalinan dengan risiko ibu-anak paling aman pada persalinan kedua atau antara anak kedua dan ketiga. 2. Jarak kehamilan 2 4 tahun, adalah jarak yang paling aman bagi kesehatan ibu-anak. 3. Umur melahirkan antara 20 30 tahun, adalah umur yang paling aman bagi kesehatan ibu-anak. 4. Masa reproduksi (kesuburan) dibagi menjadi 3, yaitu:

8 - Masa menunda kehamilan (kesuburan) - Masa mengatur kesuburan (menjarangkan) - Masa mengakhiri kesuburan (tidak hamil lagi) 2.3 Kontrasepsi 2.3.1 Pengertian Kontrasepsi Kontrasepsi adalah suatu cara untuk menghindari / mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Berdasarkan maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan seks dan kedua-duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan. 11 2.3.2 Jenis-jenis Metode Kontrasepsi 1. Metode kontrasepsi sederhana Kontrasepsi sederhana tanpa alat dapat dengan senggama terputus dan pantang berkala. Sedangkan kontrasepsi sederhana dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan kondom, spermatisid, dan barier intra vaginal. 2. Metode modern a. Kontrasepsi Hormonal : pil kb, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) / IUD, KB suntik, alat kontrasepsi bawah kulit (implan) b. Kontrasepsi Mantap : Medis Operatif Pria (MOP) / vasektomi, Medis Operatif Wanita (MOW) / tubektomi. 3. Berdasar lama efektifitasnya

9 a. MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang ), yang termasuk dalam kategori ini adalah jenis susuk /implant, IUD, MOP, MOW. b. Non MKJP (Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang ), yang termasuk dalam kategori ini adalah kondom, pil, suntik, dan suntik, dan metode metode lain selain metode yang termasuk dalam MKJP. 12,13 2.3.3 Jenis Kontrasepsi Implan 1. Norplant Kontrasepsi ini terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm, dengan diameter 2,4 mm, yang mengandung 36 mg levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun. Pelepasan hormon setiap harinya berkisar antara 50 85 mcg pada tahun pertama penggunaan, kemudian menurun sampai 30 35 mcg per hari untuk lima tahun berikunya. 14,15 2. Implanon Terdiri dari satu batang dengan panjang kira-kira 4 cm, dan diameter 2 mm, terdiri dari suatu inti EVA (Ethylene Vinyl Acetate) yang berisi 68 mg 3-keto-desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun. 16 3. Jadena Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.

10 2.4 Implan Satu Batang 2.4.1 Definisi Implan satu batang adalah alat kontrasepsi subdermal yang mengandung 68 mg progestin etonogestrel (ENG) dalam bentuk batang etylene vinyl acetate (EVA) dan dilapisi dengan membran (kopolimer) EVA. 17,18 Setiap batang mempunyai ukuran panjang 4,0 cm dan diameter 2,0 mm, setiap batang terdiri dari inti yang mengandung 60% etonogestrel dan 40% EVA dan membran luar berisi 100% EVA. Implan ditempatkan di permukaan medial lengan atas 6 sampai 8 cm dari siku pada lekukan biseps dalam 5 hari awitan menstruasi. 2.4.2 Farmakodinamik Etonogestrel merupakan metabolit aktif dari sintetik progestin desogestrel dan mempunyai afinitas yang tinggi terhadap reseptor progesteron pada organ target. 19 Mekanisme primer etonogestrel yaitu menghambat fertilitas dengan menghambat pelepasan hormon luteinizing hormone (LH) yang merupakan hormon penting dalam terjadinya ovulasi. Etonogestrel juga bekerja dengan meningkatkan viskositas lendir cervix sehingga mengganggu pergerakan spermatozoa dan merubah lapisan dari uterus untuk mencegah terjadinya implantasi. 20 2.4.3 Farmakokinetik Setelah pemasangan implan satu batang secara subdermal, etonogestrel akan diabsopsi secara cepat kedalam sirkulasi dan

11 bioavaibilitas hampir mencapai 100%. Pada enam minggu pertama, kecepatan pelepasannya adalah 60-70 mcg per hari, dan secara perlahanlahan menurun menjadi 35-45 mcg per hari pada akhir tahun pertama. Pada akhir tahun kedua kecepatan pelepasan menurun menjadi 30-40 mcg per hari. Pada akhir tahun ketiga hanya sekitar 25-30 mcg per hari. Etonogestrel berikatan dengan serum protein, terutama albumin (66%) dan 32% berikatan dengan sex hormone binding globulin (SHBG). Etonogestrel dimetabolisme didalam microsom hepar oleh cytocrome P450 3A4 isoenzyme. Waktu paruh etonogestrel adalah 25 jam, dan dieksresikan 60% pada urin dan 40% pada feses. 21 2.4.4 Efektifitas Kontrasepsi implan efektif mencegah kehamilan dengan prosentase mencapai 99%. Dalam waktu 24 jam setelah pencabutan implan konsentrasi progesteron dalam plasma akan menurun dan siklus ovulasi akan kembali normal dalam waktu satu bulan. 22,23 2.4.5 Efek samping 1. Perdarahan yang tidak teratur Berdasarkan hasil uji klinik perdarahan yang tidak teratur merupakan efek samping yang paling sering terjadi dan merupakan alasan paling umum untuk penghentian penggunaan implan. 24 Perdarahan yang

12 abnormal ini meliputi amenorea, dismenorea, perdarahan yang memanjang, perdarahan yang sering dan perdarahan yang jarang. Mekanisme terjadinya perdarahan yang tidak teratur ini belum sepenuhnya dipahami, namun tampaknya merupakan hasil gabungan antara sekresi estradiol ovarium dan paparan progesteron yang terusmenerus pada endometrium, stroma dan pembuluh darah. 25,26 Ada semakin banyak bukti yang mengarah pada terganggunya angiogenesis endometrium, tipisnya permukaan dinding pembuluh darah, kurangnya perisit, cacatnya membran basalis, perubahan migrasi leukosit dan terganggunya pelepasan matriks metaloproteinase. 2. Gangguan pada kulit Acne (jerawat) merupakan efek samping yang berhubungan dengan efek androgenik progestin. 27 3. Sakit kepala Sakit kepala sering dilaporkan sebagai efek samping yang sering dialami wanita yang menggunakan kontrasepsi implan. 4. Kenaikan berat badan 2.4.6 Konseling Kepada Pasien Sebelum dilakukan pemasangan implan pasien harus diberikan imformasi bahwa implan etonogestrel adalah kontrasepsi hormonal yang dapat mencegah kehamilan namun tidak dapat mencegah penularan infeksi

13 HIV atau penyakit seksual menular lainnya. Implan harus dipasang oleh tenaga kesehatan yang terlatih. Komplikasi pada pemasangan implan sangat jarang namun bisa saja terjadi seperti nyeri, iritasi, bengkak atau infeksi pada daerah pemasangan. Pasien disarankan untuk menggunakan implan selama 3 tahun meskipun implan bisa dilepas kapanpun, dan juga memberikan informasi mengenai efek samping implan. 2.5 Menstruasi 2.5.1 Siklus Menstruasi Panjang siklus menstruasi yaitu jarak antara hari pertama menstruasi dengan hari pertama menstruasi berikutnya, sedangkan lama menstruasi yaitu jarak dari hari pertama menstruasi sampai perdarahan berhenti. Menstruasi dikatakan normal bila didapatkan siklus menstruasi tidak kurang dari 24 hari, tetapi tidak melebihi 35 hari, lama menstruasi 3-7 hari dengan jumlah darah selama menstruasi tidak melebihi 80 ml (ganti pembalut 2-6 kali per hari). 28 Interval siklus menstruasi bervariasi antara setiap wanita dan pada setiap masa reproduksi. Selama masa reproduksi secara umum, siklus menstruasi teratur dan tidak mengalami banyak perubahan.

14 2.5.2 Fase pada Siklus Menstruasi Pada awal siklus sekresi gonadotropin ( FSH, LH ) meningkat perlahan, dengan sekresi follicle stimulating hormone (FSH) lebih dominan dibanding luteinizing hormone (LH). Sekresi gonadotropin yang meningkat ini memicu beberapa perubahan di ovarium. Pada awal siklus didapatkan beberapa folikel kecil, folikel pada tahan antral yang sedang tumbuh. Pada folikel didapatkan dua macam sel yaitu sel teka dan sel granulosa yang melingkari sel telur, oosit. 1. Fase folikuler Pada awal siklus folikuler kadar FSH akan meningkat. Stimulus FSH ini akan menyebabkan pertumbuhan beberapa folikel antral menjadi lebih besar, dan sekresi estrogen terus meningkat. Pada hari 5-7 siklus kadar estrogen dan inhibin B sudah cukup tinggi, secara bersamaan keduanya menekan sekresi FSH. Sekresi FSH yang menurun tersebut menyebabkan hanya satu folikel yang siap yang disebut dengan folikel dominan. Folikel dominan terus membesar menyebabkan kadar estrogen terus meningkat. Peningkatan kadar estrogen tersebut akan memicu sekresi LH, sehingga terjadi lonjakan LH. Pada akhir masa folikuler sekresi LH lebih dominan dari FSH. Pada pertengahan siklus reseptor LH mulai didapatkan juga di sel granulosa. Kemudian sel granulosa ini akan memproduksi progesteron dalam jumlah kecil.

15 2. Fase ovulasi Ovulasi adalah proses dimana oosit dilepaskan dari folikel setelah sekitar 36-48 jam dari awal lonjakan LH. Pascaovulasi, luteinisasi sel granulosa menjadi sempurna. Kadar progesteron meningkat tajam yang akan menghambat sekresi gonadotropin sehingga kadar LH dan FSH turun, tetapi kadar LH lebih dominan dibanding FSH. Sekresi LH diperlukan untuk mempertahankan vaskularisasi dan sintesa steroid seks di korpus luteum selama fase luteal. Segera pasca ovulasi sekresi estrogen menurun, tetapi meningkat kembali dengan mekanisme yang belum jelas. 3. Fase luteal Kadar progesteron dan estrogen meningkat pada fase ini dan mencapai puncaknya pada 7 hari pascaovulasi, pada pertengahan fase luteal. Kemudian kadar keduanya menurun perlahan karena korpus luteum mengalami atresia. Kurang lebih 14 hari pascaovulasi kadar progesteron dan estrogen cukup rendah, mengakibatkan sekresi gonadotropin meningkat kembali, dengan FSH lebih dominan dibandingkan LH. Kemudian memasuki siklus berikutnya.

16 Gambar 1. Skema siklus menstruasi 2.5.3 Faktor yang Mempengaruhi Pola Menstruasi Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pola menstruasi pada wanita, diantaranya yaitu ; 1. Ketidakseimbangan hormon Ketidakseimbangan dalam tingkat estrogen dan progesteron dapat menyebabkan perdarahan berat. 29

17 2. Penggunaan kontrasepsi Berbagai bentuk metode kontrasepsi dapat mengakibatkan siklus menstruasi tidak teratur. 3. Berat badan Penurunan berat badan yang ekstrim dan kehilangan cadangan lemak menyebabkan perubahan hormonal yang mencakup rendahnya level hormon tiroid (hipotiroidisme) dan kadar hormon stres yang tinggi (hiperkortisolisme). Perubahan ini menghasilkan penurunan hormon reproduksi yang memicu perubahan pola menstruasi. 4. Kondisi psikologi (Stress) Stres fisik dan emosional dapat menghalangi pelepasan hormon luteinizing (LH) yang menyebabkan amenore sementara. 5. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) Suatu gejala yang berhubungan dengan ketidakseimbangan hormon yang terjadi pada wanita masa produktif. 30 6. Perimenopause Perimenopause merupakan suatu masa sebelum menopause dimana mulai terjadi perubahan endokrin, biologi dan gejala klinik sebagai awal permulaan dari menopause. 31

18 2.5.4 Gangguan menstruasi Gangguan menstruasi atau perdarahan yang abnormal dapat berkaitan dengan lamanya siklus menstruasi, jumlah dan lamanya menstruasi. 32,33 A. Gangguan pada lamanya siklus menstruasi 1. Polimenorea Polimenorea yaitu menstruasi terlalu sering, dengan siktus haid yang lebih pendek dari normal, dengan interval kurang dari 21 hari. 2. Oligomenorea Oligomenorea yaitu menstruasi terlalu jarang, dengan siklus haid yang lebih panjang dari normal, dengan interval lebih dari 35 hari. 3. Amenorea Amenore adalah keadaan tidak adanya menstruasi sedikitnya tiga bulan berturut-turut. Amenore dibagi menjadi dua kategori yaitu amenore primer dan amenore sekunder. Amenore primer terjadi apabila tidak mengalami menstruasi sampai usia 16 tahun. Amenore sekunder apabila tidak terjadi menstruasi sedikitnya selama tiga bulan berturut-turut pada wanita yang sebelumnya pernah menstruasi. 4. Perdarahan bercak (spotting) yang terjadi pramenstruasi, pertengahan siklus dan pasca menstruasi.

19 B. Gangguan pada jumlah darah menstruasi yang keluar, dimana normalnya ganti pembalut 2-5 kali per hari (20-80 cc/hari) 1. Hipomenorea Hipermenorea adalah perdarahan haid dengan jumlah darah lebih sedikit dari normal dengan ganti pembalut < 2 kali per hari. 2. Hipermenorea Hipermenorea adalah perdarahan haid dengan jumlah darah lebih banyak dengan ganti pembalut > 5 kali per hari. 3. Perdarahan bercak (spotting) C. Gangguan yang menerangkan lamanya darah menstruasi yang keluar, dimana normalnya 3-6 hari. 1. Bila darah yang keluar > 7 hari, disebut menoragia 2. Bila darah yang keluar < 2 hari, disebut brakimenorea 2.5.5 Terapi gangguan menstruasi 1. Meringankan nyeri Untuk meringankan nyeri pada saat menstruasi bisa digunakan obat anti inflamasi nonsteroid. 29 2. Pil oral kombinasi Pil oral kombinasi berisi kombinasi antara estrogen dan progesteron. Pil oral kombinasi ini sering digunakan untuk mengatur periode pada wanita

20 yang mengalami gangguan menstruasi, seperti menoragia, dismenorea dan amenorea. 29 3. Progestin Progestin (progesteron sintetik) digunakan untuk wanita yang mengalami perdarahan yang tidak teratur. Progestin juga dapat digunakan untuk mengurangi perdarahan yang berat dan nyeri pada saat menstruasi. Progestin dapat diberikan dalam beberapa bentuk, bisa secara oral atau dapat dengan melakukan pemasangan IUD. 29