KOMUNIKASI RADIO HIGH FREQUENCY JARAK DEKAT

dokumen-dokumen yang mirip
PENGARUH PERUBAHAN fmin TERHADAP BESARNYA FREKUENSI KERJA TERENDAH SIRKIT KOMUNIKASI RADIO HF

PROPAGASI GELOMBANG RADIO HF PADA SIRKIT KOMUNIKASI STASIUN TETAP DENGAN STASIUN BERGERAK

KEMUNCULAN LAPISAN E SEBAGAI SUMBER GANGGUAN TERHADAP KOMUNIKASI RADIO HF

Varuliantor Dear Peneliti Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi, Pusat Sains Antariksa, LAPAN RINGKASAN

PEMANFAATAN PREDIKSI FREKUENSI KOMUNIKASI RADIO HF UNTUK MANAJEMEN FREKUENSI

PERAN LAPISAN E IONOSFER DALAM KOMUNIKASI RADIO HF

ANALISIS PROPAGASI GELOMBANG RADIO HF DAN RADIUS DAERAH BISU

KAJIAN AWAL ABSORPSI IONOSFER DENGAN MENGGUNAKAN DATA FMIN (FREKUENSI MINIMUM) DI TANJUNGSARI

Jiyo Peneliti Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi, Pusat Sains Antariksa, Lapan ABSTRACT

DAMPAK PERUBAHAN INDEKS IONOSFER TERHADAP PERUBAHAN MAXIMUM USABLE FREQUENCY (IMPACT OF IONOSPHERIC INDEX CHANGES ON MAXIMUM USABLE FREQUENCY)

MANAJEMEN FREKUENSI DAN EVALUASI KANAL HF SEBAGAI LANGKAH ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN KONDISI LAPISAN IONOSFER

Analisis Pengaruh Lapisan Ionosfer Terhadap Komunikasi Radio Hf

KAJIAN STUDI KASUS PERISTIWA PENINGKATAN ABSORPSI LAPISAN D PADA TANGGAL 7 MARET 2012 TERHADAP FREKUENSI KERJA JARINGAN KOMUNIKASI ALE

UNTUK PENGAMATAN PROPAGASI GELOMBANG RADIO HF SECARA

Prosiding Seminar Nasional Sains Antariksa Homepage: http//

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menerapkan metode deskripsi analitik dan menganalisis data

FREKUENSI KOMUNIKASI RADIO HF DI LINGKUNGAN KANTOR PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

VARIASI KUAT SIGNAL HF AKIBAT PENGARUH IONOSFER

STUD! PENGARUH SPREAD F TERHADAP GANGGUAN KOMUNIKASI RADIO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENENTUAN INDEKS IONOSFER T REGIONAL (DETERMINATION OF REGIONAL IONOSPHERE INDEX T )

TELAAH PROPAGASI GELOMBANG RADIO DENGAN FREKUENSI 10,2 MHz DAN 15,8 MHz PADA SIRKIT KOMUNIKASI RADIO BANDUNG WATUKOSEK DAN BANDUNG PONTIANAK

BAB IV KOMUNIKASI RADIO DALAM SISTEM TRANSMISI DATA DENGAN MENGGUNAKAN KABEL PILOT

LAPISAN E SPORADIS DI ATAS TANJUNGSARI

BAB II GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK. walaupun tidak ada medium dan terdiri dari medan listrik dan medan magnetik

Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sains Program Studi Fisika Jurusan Fisika. diajukan oleh SUMI DANIATI

PROPAGASI UMUM PEMBAGIAN BAND FREKUENSI RADIO

Jiyo Peneliti Fisika Magnetosferik dan Ionosferik, Pusat Sains Antariksa, Lapan ABSTRACT

RESPON IONOSFER TERHADAP GERHANA MATAHARI 26 JANUARI 2009 DARI PENGAMATAN IONOSONDA

PREDIKSI SUDUT ELEVASI DAN ALOKASI FREKUENSI UNTUK PERANCANGAN SISTEM KOMUNIKASI RADIO HF PADA DAERAH LINTANG RENDAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PROPAGASI. Oleh : Sunarto YB0USJ

METODE PEMBACAAN DATA IONOSFER HASIL PENGAMATAN MENGGUNAKAN IONOSONDA FMCW

KAJIAN AWAL EFISIENSI WAKTU SISTEM AUTOMATIC LINK ESTABLISHMENT (ALE) BERBASIS MANAJEMEN FREKUENSI

PREDIKSI FREKUENSI KOMUNIKASI HF TINGKAT PROVINSI DI INDONESIA SELAMA AWAL SIKLUS MATAHARI MINIMUM 25

POTENSI PEMANFAATAN SISTEM APRS UNTUK SARANA PENYEBARAN INFORMASI KONDISI CUACA ANTARIKSA

Sri Suhartini *)1, Irvan Fajar Syidik *), Annis Mardiani **), Dadang Nurmali **) ABSTRACT

Radio dan Medan Elektromagnetik

Manajemen Frekuensi Data Pengukuran Stasiun Automatic Link Establishment (ALE) Riau

Telekomunikasi: penyampaian informasi atau hubungan antara satu titik dengan titik yang lainnya yang berjarak jauh. Pengantar Telekomunikasi

KAJIAN HASIL UJI PREDIKSI FREKUENSI HF PADA SIRKIT KOMUNIKASI RADIO DI LINGKUNGAN KOHANUDNAS

PENENTUAN RENTANG FREKUENSI KERJA SIRKUIT KOMUNIKASI RADIO HF BERDASARKAN DATA JARINGAN AUTOMATIC LINK ESTBALISHMENT (ALE) NASIONAL

PENENTUAN RENTANG FREKUENSI KERJA SIRKUIT KOMUNIKASI RADIO HF BERDASARKAN DATA JARINGAN ALE (AUTOMATIC LINK ESTBALISHMENT) NASIONAL

VARIASI KETINGGIAN LAPISAN F IONOSFER PADA SAAT KEJADIAN SPREAD F

KOMUNIKASI DATA MENGGUNAKAN RADIO HF MODA OLIVIA PADA SAAT TERJADI SPREAD-F

PERBANDINGAN ANTARA MODEL TEC REGIONAL INDONESIA NEAR-REAL TIME DAN MODEL TEC GIM (GLOBAL IONOSPHERIC MAP) BERDASARKAN VARIASI HARIAN (DIURNAL)

LAPISAN E IONOSFER INDONESIA

FREKUENSI KOMUNIKASI RADIO HF Di LINGKUNGAN KANTOR PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Telekomunikasi Radio. Syah Alam, M.T Teknik Elektro STTI Jakarta

Optimasi Prediksi High Frekuensi Untuk Komunikasi Jarak Jauh Guna Pemantauan Laut Wilayah Indonesia

Dasar- dasar Penyiaran

ANALISIS AKURASI PEMETAAN FREKUENSI KRITIS LAPISAN IONOSFER REGIONAL MENGGUNAKAN METODE MULTIQUADRIC

PEMBAGIAN BAND FREKUENSI RADIO

BAB 3 PERANCANGAN DAN REALISASI

Dasar- dasar Penyiaran

PENENTUAN FREKUENSI MAKSIMUM KOMUNIKASI RADIO DAN SUDUT ELEVASI ANTENA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

DASAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 10 ULTRA HIGH FREQUENCY ANTENNA. Mahasiswa mampu menjelaskan secara lisan/tertulis mengenai jenis-jenis frekuensi untuk

BAB II TEORI DASAR. Propagasi gelombang adalah suatu proses perambatan gelombang. elektromagnetik dengan media ruang hampa. Antenna pemancar memang

STUDI PUSTAKA PERUBAHAN KERAPATAN ELEKTRON LAPISAN D IONOSFER MENGGUNAKAN PENGAMATAN AMPLITUDO SINYAL VLF

NEAR REAL TIME SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM PEMANTAU CUACA ANTARIKSA

BAB II PROPAGASI GELOMBANG MENENGAH

ANALISIS KOMPATIBILITAS INDEKS IONOSFER REGIONAL [COMPATIBILITY ANALYSIS OF REGIONAL IONOSPHERIC INDEX]

Varuliantor Dear Peneliti Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi, Pusat Sains Antariksa, Lapan ABSTRACT

Dosen Pembimbing: Dr. Ir Achmad Affandi, DEA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi Matahari mengalami perubahan secara periodik dalam skala waktu

ANALISIS KARAKTERISTIK FREKUENSI KRITIS (fof2), KETINGGIAN SEMU (h F) DAN SPREAD F LAPISAN IONOSFER PADA KEJADIAN GEMPA PARIAMAN 30 SEPTEMBER 2009

PENGAMATAN KUAT SINYAL RADIO MENGGUNAKAN S METER LITE

Makalah Peserta Pemakalah

Pemodelan Markov untuk kanal HF Availability pada Link Malang-Surabaya

ANALISIS KEJADIAN SPREAD F IONOSFER PADA GEMPA SOLOK 6 MARET 2007

PEMANCAR&PENERIMA RADIO

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 9 Komunikasi Radio

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ALOKASI FREKUENSI RADIO (RADIO FREQUENCY) DAN MEKANISME PERAMBATAN GELOMBANGNYA. Sinyal RF ( + informasi)

BAB 8 HIGH FREQUENCY ANTENNA. Mahasiswa mampu menjelaskan secara lisan/tertulis mengenai jenis-jenis frekuensi untuk

KEGIATAN BELAJAR 2. FREKUENSI GELOMBANG RADIO PADA APLIKASI SISTEM TELEKOMUNIKASI

TRANSMISI & MEDIA TRANSMISI

2017, No Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2016 tentang Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel

EFEK SINTILASI IONOSFER TERHADAP GANGGUAN KOMUNIKASI SATELIT

PITA FREKUENSI RADIO, MODE, DAN APLIKASI DALAM PENYELENGGARAAN KEGIATAN AMATIR RADIO

ABSTRACT RF POWER AND SWR METER USING ARDUINO UNO ASEP KURNIAWAN 10/303292/DPA/03545

ELECTROMAGNETIC WAVE AND ITS CHARACTERISTICS

BAB IV ANALISIS KUAT MEDAN PADA PENERIMAAN RADIO AM

METODE TRACKING KECEPATAN ROKET MENGGUNAKAN TRANSPONDER DOPPLER DUA-FREKUENSI (ROCKET SPEED TRACKING METHOD USING TWO-FREQUENCY DOPPLER TRANSPONDER)

ANALISA PERHITUNGAN LINK BUDGET SISTEM KOMUNIKASI ANTAR PELABUHAN MENGGUNAKAN KANAL HF

Transkripsi:

Majalah Sains dan Teknologi Dirgantara Vol. 6 No. 1 Maret 2011 : 12-17 KOMUNIKASI RADIO HIGH FREQUENCY JARAK DEKAT Sri Suhartini Peneliti Bidang Ionosfer dan telekomunikasi, LAPAN email : sri_s@bdg.lapan.go.id ABSTRACT Short-range HF radio communication (NVIS: Near Vertical Incidence) is often forgotten because of the many other means of communication that can easily be used. When there is a natural disaster or in emergency situations where regular communication is not functioning, this type of communications are used as the alternative means to overcome the problems. As other HF radio communication, the short distance HF communications also utilizes the reflection of radio waves by the ionosphere. The combination of frequency, radio waves elevation angle and the appropriate transmit power will make this communication work well. This paper discusses the NVIS communications working frequencies selection by using the ionosphere observation data. Ionospheric observations result at Tanjungsari (6,54⁰ S, 107,55⁰ E) shows that for NVIS communication at the daytime (between 8:00 to 17:00 LT) around Tanjungsari in March, a good frequency to use is 4.7 to 10.1 MHz at a low level of solar activity and 9,1 to 14.4 MHz at high solar activity, while for June are 4.9 to 7.9 MHz and 10 to13 MHz respectively. Key words:hf radio communication, NVIS, Communication frequency ABSTRAK Komunikasi radio high frequency (HF) jarak dekat (NVIS : Near Vertical Incidence) seringkali dilupakan orang karena banyaknya sarana komunikasi lain yang dengan mudah dapat digunakan. Ketika terjadi bencana alam atau dalam kondisi darurat dimana sarana komunikasi reguler tidak berfungsi, komunikasi jenis ini merupakan sarana alternatif yang dapat mengatasi masalah tersebut. Seperti komunikasi radio HF lainnya, komunikasi HF jarak dekat juga memanfaatkan pemantulan gelombang radio oleh ionosfer. Kombinasi antara frekuensi, sudut elevasi gelombang radio dan power pancar yang tepat akan membuat komunikasi ini berjalan dengan baik. Makalah ini membahas tentang komunikasi NVIS dan pemilihan frekuensi kerja komunikasi menggunakan data hasil pengamatan ionosfer. Hasil pengamatan ionosfer di Tanjungsari (6,54⁰ S, 107,55⁰ E) menunjukkan bahwa untuk komunikasi NVIS siang hari (jam 8:00 17:00 WIB) di sekitar Tanjungsari pada bulan Maret, frekuensi yang baik untuk digunakan adalah 4,7 10,1 MHz pada tingkat aktivitas Matahari rendah dan 9,1-14,4 Mhz pada aktivitas matahari tinggi, sedangkan untuk bulan Juni masingmasing adalah 4,9-7,9 MHz dan 10 13 MHz. Kata kunci:komunikasi radio HF, NVIS, frekuensi komunikasi 1 PENDAHULUAN Di kalangan pengguna komunikasi radio HF amatir, umumnya operator berharap komunikasi dapat menjangkau jarak sejauh mungkin, sehingga komunikasi HF jarak dekat kurang 12 mendapat perhatian. Hal ini mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa untuk jarak dekat pada umumnya digunakan mode komunikasi yang lain seperti jaringan telpon publik atau seluler, atau menggunakan radio pada band VHF atau UHF, terutama di daerah yang sudah

Komunikasi Radio High Frequency Jarak Dekat (Sri Suhartini) tersedia jaringan repeater. Akan tetapi apabila terjadi kondisi darurat, misalnya terjadi bencana alam yang melumpuhkan semua prasarana komunikasi reguler tersebut, diperlukan sarana komunikasi lain yang dapat bekerja secara mandiri, terutama untuk keperluan koordinasi maupun penyaluran logistik yang diperlukan. Komunikasi radio HF di tingkat kabupaten yang sampai saat ini masih digunakan secara intensif terutama di luar pulau Jawa, jangkauan komunikasinya sebagian besar kurang dari 300 km. Oleh karena itu, meskipun mungkin tidak sepenuhnya disadari, komunikasi tersebut adalah NVIS. Untuk daerahdaerah yang kondisi alamnya berbukitbukit seperti kabupaten-kabupaten di bagian barat Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Papua, NVIS dapat membantu mengatasi kendala komunikasi yang ada. Di tingkat internasional, pada awal tahun 90-an, Patricia Gibbons (WA6UBE) mensosialisasikan komunikasi jarak dekat di lingkungan amatir, dan pada tahun 1995 Mayor Edward J. Farmer (AA6ZM) menyampaikan artikelnya tentang teknik komunikasi HF jarak dekat (NVIS: Near Vertical Incidence). Sejak itu, komunikasi jenis ini digunakan oleh tim-tim penyelamatan (emergency services units), palang merah dan sebagainya di Amerika Serikat (Soetrisno, 2010). Di Indonesia, walaupun mungkin tidak disadari, hal ini juga sudah digunakan, yaitu ketika komunikasi HF dilakukan untuk jarak dekat, misalnya ketika para amatir radio membantu penanganan korban bencana alam. NVIS adalah komunikasi radio HF dimana gelombang radio dipancarkan dengan arah hampir tegak lurus ke atas (sudut elevasi antara 65⁰ sampai 90⁰) (Gambar 1-1), sehingga setelah dikembalikan oleh ionosfer gelombang tersebut jatuh di lokasi yang tidak terlalu jauh dari pemancarnya. (Farmer, 1995; Gibbons, 1990; Mazzola, 2011; Soetrisno, 2007). Mode perambatan gelombang radio yang digunakan dalam komunikasi NVIS adalah pemantulan satu kali oleh lapisan F ionosfer, dengan cakupan jarak komunikasi sampai sekitar 300 km. Gambar 1-1: Sudut elevasi gelombang radio untuk NVIS (diambil dari Mazzola, download Januari 2011) Gambar 1-2 mengilustrasikan komunikasi HF jarak dekat (Tx-Rx-1) dan jauh (Tx-Rx-2) dengan pemantulan satu kali oleh lapisan ionosfer. Gambar 1-2: Pemantulan gelombang radio dengan sudut elevasi rendah (garis putus-putus) dan tinggi (garis penuh). (diambil dari Soetrisno, 2007) Pada komunikasi radio HF jarak jauh, dimana sudut elevasi gelombang radionya rendah, jarak < 300 km pada umumnya termasuk dalam daerah bisu, yaitu daerah dimana gelombang per- 13

Majalah Sains dan Teknologi Dirgantara Vol. 6 No. 1 Maret 2011 : 12-17 mukaan sudah tidak dapat menjangkau (gelombang permukaan di daratan hanya dapat menjangkau jarak beberapa puluh kilometer), sedangkan gelombang antariksa dengan sudut elevasi rendah belum dapat digunakan karena pada jarak tersebut gelombang radio belum mencapai lapisan ionosfer, sehingga belum dipantulkan kembali menuju Bumi. Komunikasi NVIS dengan pilihan frekuensi yang tepat dapat mengisi kekosongan komunikasi radio pada daerah bisu tersebut. Pada dasarnya keberhasilan komunikasi NVIS merupakan kombinasi antara tiga faktor, yaitu power pancar, frekuensi dan sudut elevasi tinggi. Dalam praktek, untuk komunikasi NVIS power output sekitar 50 W dianggap sudah cukup, bahkan untuk keperluan taktis, seperti militer, patroli hutan, eksplorasi di ladang minyak dan keperluan amatir, kebanyakan cukup dengan power 20 W. (Soetrisno, 2010). Beberapa kelebihan dari NVIS adalah: Mencakup wilayah yang biasanya berada di daerah bisu, yaitu, yang terlalu jauh untuk menerima sinyal groundwave, tetapi belum cukup jauh untuk menerima gelombang yang dipantulkan oleh ionosfer. Tidak memerlukan infrastruktur seperti repeater atau satelit. Dua stasiun yang menggunakan teknik NVIS dapat membangun komunikasi yang handal tanpa dukungan dari pihak ketiga. Propagasi murni NVIS relatif bebas dari fading. Antena yang dioptimalkan untuk NVIS biasanya rendah. Dipol sederhana bekerja dengan baik. Sebuah antena yang baik untuk NVIS bisa didirikan dengan mudah, dalam waktu singkat, oleh sebuah tim kecil (atau hanya satu orang). Dataran rendah dan lembah tidak jadi masalah bagi propagasi NVIS. Jarak yang ditempuh gelombang radio ke dan dari ionosfer pendek dan langsung, sehingga kerugian karena faktor-faktor seperti penyerapan oleh lapisan D lebih kecil. Teknik NVIS dapat mengurangi noise dan interferensi, sehingga meningkatkan signal to noise ratio (S/N). Dengan meningkatnya S/N dan rendahnya penyerapan energi, NVIS dapat bekerja dengan baik dengan daya yang rendah. Kekurangan NVIS di antaranya: Untuk hasil terbaik, kedua stasiun harus dioptimalkan untuk operasi NVIS. Jika antena satu stasiun mengutamakan propagasi groundwave, sedangkan lain menekankan propagasi NVIS, hasilnya mungkin tidak baik. NVIS tidak bekerja pada semua frekuensi HF. Harus dipilih frekuensi yang sesuai, supaya komunikasi dapat berjalan dengan baik. Karena perbedaan antara propagasi siang dan malam hari, harus digunakan minimal dua frekuensi yang berbeda untuk memastikan komunikasi dapat berlangsung 24 jam. (Wikipedia, November 2010) Makalah ini membahas tentang komunikasi NVIS dan frekuensi yang dapat digunakan berdasarkan hasil pengamatan ionosfer di Tanjungsari. 2 DATA DAN PENGOLAHANNYA Hasil pengamatan ionosfer mengggunakan ionosonda vertikal di Tanjungsari (6,54⁰ S, 107,55⁰ E) pada dua kondisi aktivitas matahari, yaitu tahun 2001 (aktivitas matahari tinggi) dan tahun 2009 (aktivitas matahari rendah), dipelajari untuk mengetahui frekuensi kerja yang cocok untuk komunikasi NVIS di sekitar Tanjungsari. Data yang diolah adalah hasil pengamatan bulan Maret dan Juni, dimana bulan Maret mewakili kondisi maksimum 14

Komunikasi Radio High Frequency Jarak Dekat (Sri Suhartini) variasi bulanan sedangkan bulan Juni mewakili kondisi minimumnya. Data tersebut berupa ionogram (Gambar 2-1) yang merupakan rekam jejak frekuensifrekuensi yang dikembalikan oleh ionosfer Frekuensi kritis lapisan F2 (fof2) yang terekam dalam ionogram menunjukkan frekuensi maksimum yang dapat digunakan untuk komunikasi NVIS pada saat itu, sedangkan batas bawah frekuensi yang dapat digunakan mengacu kepada frekuensi minimum yang terekam pada ionogram. Gambar 2-1: Ionogram Mazzola menyebutkan bahwa frekuensi terbaik untuk komunikasi NVIS adalah 85% x fof2. Median bulanan fof2 pada bulan Maret dan Juni tahun 2001 dan 2009 beserta nilai 85% x median fof2 ditunjukkan dalam Gambar 2-2. Frekuensi (MHz) 20 16 12 8 4 0 Maret 6:00 12:00 18:00 Juni 6:00 12:00 18:00 Waktu (WIB) fof2 '01 fof2 '09 85% fof2 '01 85% fof2 09 Gambar 2-2: Median fof2 bulan Maret dan Juni tahun 2001 dan 2009 3 PEMBAHASAN Komunikasi NVIS, seperti komunikasi HF lainnya mempunyai ketergantungan pada kemampuan lapisan ionosfer dalam mengembalikan gelombang radio. Untuk komunikasi NVIS yang jaraknya dekat, frekuensi kerja yang dapat digunakan terbatas, karena frekuensi yang terlalu tinggi tidak akan dipantulkan apabila sudut elevasinya juga tinggi. Pengamatan ionosfer menggunakan ionosonda mempunyai prinsip yang sama dengan komunikasi NVIS. Pada ionosonda gelombang radio dipancarkan tegak lurus ke atas dengan frekuensi yang dinaikkan secara bertahap dari 2 sampai 22 MHz. Frekuensi yang dapat dikembalikan oleh ionosfer direkam dalam bentuk ionogram (gambar 2.1), dimana sumbu mendatar menyatakan frekuensi dan sumbu tegak menyatakan ketinggian lapisan ionosfer yang memantulkan frekuensi tersebut. Oleh karena itu frekuensi-frekuensi yang terekam dalam ionogram dapat dijadikan acuan penentuan frekuensi kerja komunikasi NVIS di sekitar stasiun pengamatan. Variasi harian ionosfer menyebabkan tidak mungkin untuk menggunakan hanya satu frekuensi untuk berkomunikasi setiap saat. Apabila komunikasi harus berlangsung 24 jam (misalnya untuk penanganan bencana), paling sedikit diperlukan dua frekuensi kerja untuk digunakan pada siang hari dan malam hari. Variasi bulanan juga berpengaruh pada frekuensi kerja komunikasi NVIS. Pada umumnya, karakteristik frekuensi maksimum lapisan F2 (fof2) di Indonesia menunjukkan dua puncak dalam setahun, yaitu di sekitar bulan Maret dan September, dan minimum sekitar bulan Juni dan Desember. Variasi jangka panjang yang berkaitan dengan aktivitas matahari 11 15

Majalah Sains dan Teknologi Dirgantara Vol. 6 No. 1 Maret 2011 : 12-17 tahunan juga berpengaruh pada frekuensi komunikasi. Besarnya fof2 sangat berbeda pada saat tingkat aktivitas Matahari rendah dan tinggi, sehingga frekuensi yang bisa digunakan untuk komunikasi juga berbeda. Rentang frekuensi kerja terbaik untuk digunakan berkomunikasi NVIS di sekitar Tanjungsari pada bulan Maret dan Juni pada tingkat aktivitas Matahari rendah dan tinggi diberikan dalam Tabel 3-1. Tabel 3-1: RENTANG FREKUENSI TER- BAIK UNTUK KOMUNIKASI NVIS DI SEKITAR TANJUNGSARI 16 Bulan Aktivitas Matahari Tinggi Rendah Maret 9,1-14,4 4,7-10,1 Juni 10-13 4,9-7,9 Dari Tabel 3-1 dapat dilihat bahwa frekuensi terbaik yang dapat digunakan untuk komunikasi NVIS di sekitar Tanjungsari pada bulan Maret tidak sama pada tingkat aktivitas Matahari rendah dan tinggi, demikian juga untuk bulan Juni berbeda dengan bulan Maret walaupun pada tingkat aktivitas Matahari yang relatif sama. Untuk malam hari, pada bulan Maret dapat digunakan frekuensi di sekitar 3 MHz pada kedua kondisi aktivitas Matahari, sedangkan pada bulan Juni kemungkinan komunikasi menggunakan frekuensi ini akan agak sulit menjelang pagi hari. Dalam kondisi ini mungkin diperlukan tambahan satu frekuensi kerja lagi supaya komunikasi dapat berlangsung 24 jam. Untuk perencanaan frekuensi kerja, sama seperti komunikasi radio HF jarak jauh, dapat digunakan hasil prediksi frekuensi untuk berbagai tingkat aktivitas Matahari yang kemudian dianalisa untuk mendapatkan frekuensi kerja yang sesuai. Dalam hal khusus seperti penanganan bencana yang waktunya relatif singkat (beberapa hari) hasil pengamatan ionosfer dapat dijadikan acuan untuk pemilihan frekuensi kerja. 4 KESIMPULAN Dari data pengamatan ionosfer di Tanjungsari diperoleh hasil bahwa frekuensi terbaik untuk komunikasi NVIS di sekitar Tanjungsari pada siang hari (Jam 8:00 17:00 WIB) pada bulan Maret adalah antara 4,7 10,1 MHz pada tingkat aktivitas Matahari rendah dan 9,1-14,4 Mhz pada aktivitas Matahari tinggi, sedangkan untuk bulan Juni masing-masing adalah 4,9-7,9 MHz dan 10 13 MHz. Komunikasi NVIS yang sederhana dan mandiri dalam pengoperasiannya, dengan pemilihan frekuensi kerja, antena dan instalasinya serta power pancar yang tepat akan sangat bermanfaat untuk digunakan di daerah yang mengalami kesulitan karena kondisi alam maupun dalam keadaan bencana yang melumpuhkan sarana komunikasi lainnya. Komunikasi NVIS sebaiknya disiapkan di daerah-daerah yang sering terkena bencana alam sebagai sarana komunikasi darurat (EmComm: Emergency Communication). Sistem harus selalu dijaga kondisinya sehingga ketika diperlukan siap untuk dioperasikan. DAFTAR RUJUKAN Farmer, Edward, J. 1995. A look at NVIS Technique, American Radio Relay League. Inc. Gibbons, Patricia, 1990. NVIS - What it is and how to use it, http://www.raqi.ca/~ve2cvr/ main/ documentation/surra_misc/ hfradionvis.pdf. Download Desember 2010.

Komunikasi Radio High Frequency Jarak Dekat (Sri Suhartini) Mazzola, Ross, NVIS for Emergency Communication, http://s3. amazonaws.com/ emcommeast 2008/NVIS.pdf. download Januari 2011. Soetrisno, Bambang, 2007. Pancaran NVIS (Near Vertical Incident Sky wave), Buletin Elektronis ORARI News Edisi 02 tahun ke VII. Soetrisno, Bambang, 2010, Konsep NVIS, http://kambing.ui.ac.id/onnopurbo/ orari-diklat/ teknik/ antenna/ docs/nvis Download Oktober 2010. 17