ANALISIS RANCANGAN. Tabel 16. ConeIndeks (CI)

dokumen-dokumen yang mirip
V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN

BAB IV PROSES, HASIL, DAN PEMBAHASAN. panjang 750x lebar 750x tinggi 800 mm. mempermudah proses perbaikan mesin.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Perancangan Belt Conveyor Pengangkut Bubuk Detergent Dengan Kapasitas 25 Ton/Jam BAB III PERHITUNGAN BAGIAN-BAGIAN UTAMA CONVEYOR

BAB III PERANCANGAN SISTEM TRANSMISI RODA GIGI DAN PERHITUNGAN. penelitian lapangan, dimana tujuan dari penelitian ini adalah :

BAB III PEMBAHASAN, PERHITUNGAN DAN ANALISA

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. PENDEKATAN DESAIN A. KRITERIA DESAIN B. DESAIN FUNGSIONAL

Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

IV. ANALISA PERANCANGAN

IV. PENDEKATAN RANCANGAN

SISTEM MEKANIK MESIN SORTASI MANGGIS

BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN BAGIAN BAGIAN CONVEYOR

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

PENDEKATAN RANCANGAN Kriteria Perancangan Rancangan Fungsional Fungsi Penyaluran Daya

BAB III PROSES PERANCANGAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Motor

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PERANCANGAN. = 280 mm = 50,8 mm. = 100 mm mm. = 400 gram gram

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

METODOLOGI PENELITIAN

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. digunakan untuk mencacah akan menghasikan serpihan. Alat pencacah ini

BAB IV PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ALAT. Data motor yang digunakan pada mesin pelipat kertas adalah:

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB II DASAR TEORI Sistem Transmisi

BAB II TEORI DASAR. unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya, excavator dibedakan menjadi. efisien dalam operasionalnya.

BAB II LANDASAN TEORI

PERANCANGAN MOTORCYCLE LIFT DENGAN SISTEM MEKANIK

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

POROS dengan BEBAN PUNTIR

Jumlah serasah di lapangan

BAB VI POROS DAN PASAK

BAB II TEORI DASAR. BAB II. Teori Dasar

Bahan poros S45C, kekuatan tarik B Faktor keamanan Sf 1 diambil 6,0 dan Sf 2 diambil 2,0. Maka tegangan geser adalah:

BAB III PERANCANGAN Perencanaan Kapasitas Penghancuran. Diameter Gerinda (D3) Diameter Puli Motor (D1) Tebal Permukaan (t)

BAB IV ANALISA & PERHITUNGAN ALAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MESIN PERUNCING TUSUK SATE

PERANCANGAN MESIN PENGUPAS KULIT KENTANG KAPASITAS 3 KG/PROSES

MESIN PEMINDAH BAHAN PERANCANGAN HOISTING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 5 TON PADA PABRIK PENGECORAN LOGAM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2013.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. girder silang ( end carriage ) yang menjadi tempat pemasangan roda penjalan.

BAB IV PERHITUNGAN RANCANGAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Maret 2013

BAB III ANALISA PERHITUNGAN

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SETYO SUWIDYANTO NRP Dosen Pembimbing Ir. Suhariyanto, MSc

BAB IV PERHITUNGAN DAN HASIL PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Lampiran 1. Analisis Kebutuhan Daya Diketahui: Massa silinder pencacah (m)

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

Hopper. Lempeng Panas. Pendisribusian Tenaga. Scrubber. Media Penampung Akhir

PERENCANAAN MESIN PENGIRIS PISANG DENGAN PISAU (SLICER) VERTIKAL KAPASITAS 120 KG/JAM

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN DESAIN RANGKA DAN BODY. Perhitungan Kekuatan Rangka. Menghitung Element Mesin Baut.

MESIN PEMINDAH BAHAN

IV. ANALISIS TEKNIK. Pd n. Besarnya tegangan geser yang diijinkan (τ a ) dapat dihitung dengan persamaan :

III. METODE PENELITIAN

PERENCANAAN MEKANISME PADA MESIN POWER HAMMER

Perancangandanpembuatan Crane KapalIkanUntukDaerah BrondongKab. lamongan

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

BAB IV ANALISIS TEKNIK MESIN

ALTERNATIF DESAIN MEKANISME PENGENDALI

BAB II DASAR TEORI. 1. Roda Gigi Dengan Poros Sejajar.

ANALISIS RANCANGAN. penggetar. kopling. blade. motor listrik. beam

METODE PENELITIAN. Mulai. Identifikasi masalah. Pengembangan dan perumusan ide desain. Tidak Penetapan mekanisme.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

V.HASIL DAN PEMBAHASAN

SABUK ELEMEN MESIN FLEKSIBEL 10/20/2011. Keuntungan Trasmisi sabuk

Tujuan Pembelajaran:

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN MESIN ROUGH MAKER DIAMETER INTERNAL PIPA POLYPROPYLENE Ø 600

BAB II LANDASAN TEORI

Rancang Bangun Alat Uji Impak Metode Charpy

TRANSMISI RANTAI ROL

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISA KEMAMPUAN ANGKAT DAN UNJUK KERJA PADA OVER HEAD CONVEYOR. Heri Susanto

Kentang yang seragam dikupas dan dicuci. Ditimbang kentang sebanyak 1 kg. Alat pemotong kentang bentuk french fries dinyalakan

BAB II LANDASAN TEORI

Lampiran 1 Analisis aliran massa serasah

Mulai. Studi Literatur. Gambar Sketsa. Perhitungan. Gambar 2D dan 3D. Pembelian Komponen Dan Peralatan. Proses Pembuatan.

PERENCANAAN MESIN BENDING HEAT EXCHANGER VERTICAL PIPA TEMBAGA 3/8 IN

Tugas Akhir TM

BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

IV. ANALISIS RANCANGAN 4.1 Kriteria Rancangan Transporter akan difungsikan sebagai pengangkut TBS dari titik panen sampai ke TPH, sehingga pergerakan transporter harus disesuaikan dengan kegiatan panen dan pengangkutan TBS. Transporter akan menjemput TBS yang terkumpul pada titik panen dan kemudian TBS akan dimuat pada bak penampung dengan kapasitas angkut 500 600 kg. Setelah sampai di TPH proses unloading dilakukan secara manual tanpa hidrolik. Desain transporter disesuaikan dengan keadaan dilapangan tempat transporter diaplikasikan.keadaan tanah pada lahan adalah termasuk dalam klasifikasi clay (USDA) dengan fraksi liat 57%, debu 40% dan pasir 3%. Berdasarkan pengukuran kondisi tanah menggunakan penetrometer diketahui tahanan tanah (kpa) seperti pada Tabel 16. Tabel 16. ConeIndeks (CI) Kedalaman (cm) CI (kpa) 0 5 754.6 5 10 117.6 10 15 58.8 15 20 0 20 25 0 25 30 0 30 35 333.2 Berdasarkan pengukuran tersebut tahanan tanah pada kedalaman 15 30 adalah 0 kpa dan kemampuan tanah yang paling besar hanya 754.6 kpa. Sehingga desain transporter harus memiliki luasan bidang kontak yang besar agar ground pressure yang dihasilkan rendah dan kurang dari 800 kpa. Jalur evakuasi TBS dari titik panen samapai TPH memiliki lebar antara 80 100 cm dan pada sisi kanan dan kiri jalur tersebut terdapat saluran air dengan lebar rata-rata 3 m, sehingga desain lebar bidang kontak transporter terhadap tanah harus kurang dari 100 cm. Mesin yang dirancang harus memiliki mekanisme yang sederhana dan perawatannya mudah agar pada pengaplikasian mesin dilapangan lebih sesuai. Proses unloading TBS dilakukan secara manual (menggunakan tenaga manusia). 4.2 Pengembangan dan Penyempurnaan Ide Desain Pengembangan ide desain merupakan tahapan dalam proses desain. Perubahan yang terjadi pada rancangan dimaksudkan agar desain yang dihasilkan memiliki mekanisme yang sederhana dan dapat diaplikasikan di lahan. Dalam proses pengembangan desain terjadi beberapa perubahan dan mekanisme pada transporter yang dirancang, perubahan ini dipengaruhi kekuatan bahan dan persedian bahan yang ada dipasaran serta penyesuaian pola kegiatan pemanenan. Perubahan desain terletak pada bagian bak penampung, beamper penahan bak, dudukan bak dan rel bak. Mekanisme unloading pada awalnya direncanakan menggunakan hidrolik, namun dilihat dari sisi biaya memiliki harga yang cukup tinggi. Selain itu hidrolik harus memiliki perawatan yang terjadwal. Sehingga mekanisme bongkar menggunakan hidrolik digantikan dengan manual. 25

Rel dan dudukan bak Gambar 15.Konstruksi dudukan rel dan bakdesain awal Perancangan yang selanjutnya, kontruksi dudukan bak dibuat seperti lenganserta tumpuan lengan ini berada pada rangka (Gambar 15). Tangan lengan sebagai penyangga bak, sedangkan rel berada pada ujung lengan, rel tersebut akan menjadi landasan luncur bak TBS dengan bobot 500 600 kg. Untuk menahan beban besar tersebut kontruksi seperti ini kurang baik karena pada lengan tersebut akan terjadi lendutan dan bengkok. Pertimbangan kekuatan bahan dan ketersediaan bahan di pasaran membuat desain mengalami perubahan pada dudukan penahan bak.jika menggunakan besi strip maka untuk menahan beban 630 kg (kapasitas dan berat bak) digunakan bahan S45C dengan σa sebesar 30 kg/mm 2 maka dimensi besi strip adalah 48 mm x 24 mm. Dudukan yang difungsikan sebagai tempat rel dan bak tidak digunakan. Rel langsung beradadi atas rangka utama dan bak disanggah menggunakan hinge (Gambar 16). Rel dan dudukan bak 26

Gambar 16. Kontruksi dudukan rel dan bak perbaikan 4.3 Rancangan Fungsional Fungsi utama dari mesin yang dirancang adalah untuk menggantikan fungsi angkong yaitu mengangkut TBS dari titik panen sampai dengan TPH. Alat yang dirancang akan diaplikasikan pada tanah yang memiliki daya dukung tanah yang rendah dengan Cl < 800 kpa. Sehingga mesin yang dirancang harus memiliki ground pressure yang kurang dari 800 kpa. Untuk memenuhi kriteria dengan ground pressure rendah maka upaya yang dilakukan adalah memilih tipe roda trek. Kapasitas angkut dari mesin yang dirancang akan diupayakan dapat menampung TBS lebih besar dibandingkan menggunakan angkong. Sehingga perlu didesain bak penampung yang memiliki kapasitas besar. Kendala yang dihadapi adalah unloading TBS pada bak dilakukan secara manual, sehingga perlu mekanisme tambahan untuk menunjang fungsi tersebut. Untuk mendukung tercapainya fungsi utama tersebut maka diperlukan fungsi-fungsi turunannya antara lain: fungsi penggerak, fungsi penampung TBS, fungsi kemudi dan lain lain. Tabel 17 menyajikan desain fungsional yang menyatakan hubungan antara fungsi fungsi yang dibutuhkan dengan komponen/bagian untuk mencapai fungsi tersebut. Tabel 17. Desain fungsional No Fungsi Komponen/bagian 1 Menahan beban yang ada dalam Transporter yang dirancang. Selain Rangka itu rangka juga digunakan sebagai landasan untuk meletakan bagian yang lain 2 Menampung TBS Bak 3 Landasan gerak bak penampung TBS Rel bak 4 Transmisi gaya dari motor penggerak ke penggerak (Crawler) Gear box 5 Sumber tenaga penggerak Motor penggerak 6 Menghasilkan traksi untuk menggerakkan transporter Crawler 7 Melawan gaya dari bawah sehingga dapat mendukung dan Roller memberikan tekanan pada trek kayu bagian bawah. 8 Sebagai sistem kendali arah gerak dan kecepatan transporter Kemudi 9 Penopang beban operator saat mengemudikan transporter Tempat duduk Rangka dirancang agar mampu menahan sebagian besar beban yang ada dalam transporter yang dirancang. Fungsi utama rangka adalah memberikan bentuk dari suatu alat atau mesin dan sebagai tempat terpasangnya bagian/komponen yang lain.selain itu rangka juga menentukan 27

dimensi transporter yang dirancang. Sehingga lebar dan panjang rangka harus disesuaikan dengan parameter desain yang ada. Rel bak berfungsi sebagai landasan pergerakan bak penampung. Cara unloading TBS pada bak direncakan secara manual, sehingga perlu perhitungan terhadap titik jungkit agar unloading dapat dilakukan secara manual. Titik jungkit yang direncanakan tidak berada pada ujung bak sehingga perlu ada pergerakan ke depan agar sudut unloading memungkinkan untuk semua TBS keluar. Gearbox berfungsi sebagai penyalur tenaga dari motor penggerak ke penggerak (Crawler). Gearbox yang dipilih memiliki fungsi maju dan mundur. Transmisi gearbox yang dipilih memiliki dua kecepatan maju dan satu kecepatan mundur. Gearbox yang dipilih sudah memiliki sistem pembelok yaitu mekanisme Dog Clutch. Pemilihan motor penggerak didasarkan pada kebutuhan power yang akan ditransmisikan. Motor penggerak yang dipilih harus mampu menjaga transporter tetap berada dalam performa yang baik agar kegiatan pengangkutan TBS berjalan lancar. Transporter diaplikasikan untuk pengangkutan TBS pada lahan yang memiliki daya dukung tanah yang rendah. Untuk mendukung hal tersebut maka alat traksi yang dirancang harus memiliki ground pressure yangrendah. Crawler memiliki gaya tekan yang lebih rendah dibandingkan dengan roda traksi lain seperti roda ban atau roda besi karena luas bidang kontak Crawler lebih besar. 4.4 Rancangan Struktural 4.4.1 Analisis pada bak penampung TBS Analisis titik jungkit Proses unloading TBS dilakukan dengan tenaga manusia. Kemampuan angkat maksimal rata rata manusia sebesar 30 kg. Sehingga untuk memungkinkan tenaga tersebut mengangkat beban TBS yang mencapai 600 kg maka titik jungkit harus dihitung agar pengoperasian mudah. Sebelum dilakukan analisis titik jungkit terlebih dahulu dilakukan simulasi peletakan/penyusunan TBS pada bak untuk menentukan jumlah TBS yang mampu ditampung oleh bak. Pada simulasi ini dilakukan penyusunan TBS secara rapih dan tegak. Dimensi bak TBS (tampak samping) disajikan dalam Gambar 17. Gambar 17. Dimensi bak (tampak samping) 28

Penyusunan TBS tipe I Simulasi penyusunan TBS tipe I disajikan dalam Gambar 18. Pada simulasi penyusunan ini TBS diposisikan berbaring dan tersusun rapih.pada simulasi ini TBS yang dapat ditampung oleh bak sebanyak 15 buah. Gambar 18. Penyusunan TBS tipe I Untuk mendapatkan letak titik jungkit pada bak terlebih dahulu ditentukan centroid pada simulasi penyusunan TBS. Penentuan centroid dilakukan menggunakan perangkat lunak AutoCAD. Gaya gaya yang bekerja pada penyusunan TBS tipe I dalam bak dapat dilihat pada Gambar 19. 633.1 466.9 F L 1 L 2 W 1 lg W 2 lm Gambar19. Diagram benda bebas penyusunan tipe I Centroid x = 633.1 mm y = - 102.3 mm z = 467.8 mm (L 1 + lg)w 1 + (lm - lg)f = (L 2 - lg)w 2 (286.72 + lg)270 + (466.9 lg)30 = (439.28 - lg)240 (270 x 286.72) + 270lg + (30 x 466.9) 30lg = (439.28 x 240) 240lg lg 14005.8 = (270 30 + 240) = 29.18 mm Dari hasil perhitungan diketahui jarak titik jungkit pada penyusunan TBS tipe I berada pada 437.72 mm dari belakang bak. 29

Penyusunan TBS tipe II Simulasi penyusunan TBS tipe II disajikan dalam Gambar 20. Pada penyusunan ini TBS diposisikan tegak dan disusun padat.penyusunan ini dimaksudkan untuk menentukan jumlah maksimal yang dapat ditampung bak. Pada simulasi ini TBS yang dapat ditampung oleh bak sebanyak 19 buah. Gambar 20. Penyusunan TBS tipe II Untuk mendapatkan letak titik jungkit pada bak terlebih dahulu ditentukan centroid pada simulasi penyusunan TBS. Penentuan centroid dilakukan menggunakan perangkat lunak AutoCAD. Gaya gaya yang bekerja pada penyusunan TBS tipe II dalam bak dapat dilihat pada Gambar 21. Centroid x = 615.79 mm y = - 58.23 mm z = 881.67 mm 615.8 484.2 F L 1 L 2 W 1 lg W 2 lm Gambar 21. Diagram benda bebaspenyusunan TBS tipe II (L 1 + lg)w 1 + (lm - lg)f = (L 2 - lg)w 2 (74.49 + lg)390 + (484.2 lg)30 = (242.1 - lg)240 (390 x 74.49) +390lg + (30 x 484.2) 30lg = (242.1 x 240) 240lg lg 14526.9 = (390 30 + 240) = 24.21 mm Dari hasil perhitungan diketahui jarak titik jungkit pada penyusunan TBS tipe II berada pada 459.99 mm dari belakang bak. 30

4.4.2 Rancangan Rangka Bahan utama yang digunakan untuk rangka adalah besi U. Besi U yang digunakan memiliki panajang 100 mm, lebar 50 mm dan tebal 5 mm. Rancangan rangka dibuat seperti Gambar 22. Dalam perkembangannya rangka dibuat lebih rumit dan kaku. Gambar 22. Diagram benda bebas pada rangka (chasis) Dari analisis rangka, data rangka dan beban statis utamanya adalah: Bak TBS + isi = 630 kg Gearbox = 63.6 kg Mesin = 27 kg Karena beban masing-masing diatas posisinya berbeda maka secara riil tiap-tiap posisi menerima beban yang berbeda pula. 1. Distribusi beban mesin statis Beban mesin didistribusikan ke sisi kanan dan kiri rangka sebesar: Bagian C1 C2 We 91mm 209 mm C1 C2 Gambar 23. Diagram benda bebas bagian C1-C2 ΣMC1 = 0 (91 x 27) (C2x300) = 0 C2 = 8.19 kg ΣMC2 = 0 (209 x 27) (C1x300) = 0 C1 = 18.81 kg 31

Beban bak didistribusikan ke sisi kanan dan kiri rangka sebesar: Bagian A1 A2 Wb 227mm 73mm A1 A2 Gambar 24. Diagram benda bebas bagian A1- A2 ΣMA1 = 0 (227 x 630) (A2 x 300) = 0 A2 = 476.7 kg ΣMA2 = 0 (73 x 630) (A1 x 300) = 0 A1 = 153.3 kg Beban gearbox didistribusikan ke sisi kanan dan kiri rangka sebesar: Bagian B1 B2 Wg 150mm 150mm B1 B2 Gambar 25. Diagram benda bebas bagian B1-B2 ΣMB1 = 0 (150 x 63.6) (B2x300) = 0 B2 = 31.8 kg B2 = B1 = 31.8 kg 2. Perhitungan reaksi tumpuan pada sumbu depan dan belakang Karena beban yang paling besar berada pada B2, maka digunakan sebagai perhitungan. Beban yang diterima pada sumbu depan dan belakang digambarkan seperti gambar dibawah ini. Jarak pendekatan yang sebenarnya: dpn sampai A2 = 215 mm dpn sampai B2 (blk) = 800 mm dpn sampai C2 = 1115 mm blk sampai C2 = 315 mm 32

476.7 kg 31.8 8.19 kg dpn B2 (blk) Gambar 26. Diagram benda bebas pada rangka sebelah kanan ΣMdpn = 0 (blk x 800) - (476.7 x 215) (31.8 x 800) - (8.19 x 1115) = 0 Blk = 171.33 kg dpn = (476.7 + 31.8 + 8.19) 171.33 = 345.36 kg Dalam perhitungan kekuatan chasis ini dihitung berdasarkan anggapan sumbu dpn dan blk sebagai tumpuan sederhana (simple beam). Bidang gaya geser Bidang momen Gambar 27. Diagram bidang gaya geser dan bidang momen 33

MA2 = 345.36kg x 215 = 74252.4 kgmm MB2 = (476.7 (800 215)) (345.36 x 800) = 2581.5 kgmm MC2 = (476.7 x (1115-215)) + (31.8 x (1115-800)) (345.36 x 1115) (171.33 x (1115-800)) = 1.65 kgmm Gambar 28. Diagram bidang momen Kekuatan sumbu depan dan belakang dihitung terhadap gaya geser dan momen. Untuk perhitungannya, beban F diambil yang terbesar yaitu A2 = 476.7 kg Ditinjau dari tegangan geser : Bahan yang digunakan S45C, σ b = 58 kg/mm2 Angka keamanan = 8, σ ijin = 58 = 7.25 kg/mm2 8 τ geser ijin bahan, τ g = 0.8 x σ ijin (Sularso, 2002) = 0.8 x 7.25 = 5.8 kg/mm2 = 58N/mm2 Gambar 29. Luasan penampang besi U 34

τ = F A < τ ijin 476.7 x 10 = 950 = 5.02 N/mm2 <58 N/mm 2 Ditinjau dari tegangan bengkok σ = Mc I Mrangka ; dimana M = MA2 = 74252.4 kgmm I rangka = 1 12 BH3 bh 3 = 1 12 50 x 1003 45x 90 3 σ rangka = M x 1 2 H I Defleksi yang terjadi = 1432916.67 mm 4 = 74252.4 x 1 2 100 1432916.67 = 2.59 kg/mm 2 < σ b Dalam perhitungan defleksi ini, digunakan beban yang menimbulkan momen lentur terbesar yaitu dari bucket (A2) sebesar 476.7 kg, g =10 m/s2. Deflesi yang diijinkan, y a = 5 mm Defleksi sebesar: P = A2 = 476.7 kg 215 mm 585 mm a L b Gambar 30. Diagram benda bebas defleksi δ maks = P. a (L2 b 2 ) 3/2 9 3 L E I δ maks = 476.7 x 0.215 0.82 0.585 2 3 2 9 3 x 0.8 x 1.9 x 10 11 x 2.4 x 10 8 = 2.92 x 10 3 m = 2.92 mm < y a Kesimpulan : rangka terbukti aman terhadap tegangan geser, tegangan bengkok dan defleksi. τ terjadi = 5.02 N/mm2 < 58 N/mm2 (τ ijin) σ terjadi ya maks = 2.59 kg/mm 2 < σ b = 2.92 mm < y a 35

4.4.3 Rancangan Roller Rangka Roller dipilih menggunakan besi square dengan ukuran 60 x 40 x 4 mm. beban yang diterima oleh rangka Roller diperlihatkan dalam Gambar 31. Wr Wr R1 R3 R4 R2 R1 R3 R2 Gambar 31. Sketsa beban pada rangka Roller Asumsi beban keritis terjadi pada R1 dan R3 atau R2 dan R3 saja yang menopang beban Wr. Sehingga dalam rancangan diasumsikan beban kritis yang harus diterima oleh rangka Roller adalah ½ dari beban yang diterima satu rangkaian trek kayu (Setyawan 2005) yaitu sebesar 414.3 kg dengan panjang rangka 230 mm. Tebal plat yang digunakan adalah 4 mm, sehingga beban yang bekerja pada rangka Roller adalah: Dipilih bahan S45C σ b = 58 kg/mm 2 M = 414.3 x ½ (230) = 47644.5 kg.mm I = 1 12 BH3 bh 3 = 1 12 60 40 3 52 32 3 = 178005.3 σ 47644.5 x 1/2 40 = = 5.35 < σ 178005.3 b Poros pada rangka Roller akan menerima beban lentur murni, sehingga momen tahanan lentur dari poros dengan diameter ds adalah Z = (π/32)ds 3, sehingga diameter yang diperlukan dapat diperoleh dari: σ a ds = M π 32 ds = 10.2M 3 ds 3 1/3 10.2 xm σ a Dengan asumsi Wpr = 0.5 Wr dan panjang poros yang digunakan adalah 300 mm maka: M = Wpr x l = 207.15 x 95 = 19679.25 kg. mm 1/3 10.2 ds = 30 x5541.83 = 18.84 mm Dipilih diameter poros Roller adalah 21 mm dengan batas minimum adalah 18.84 mm. 36

4.4.4 Rancangan Tempat Duduk Pemilihan rangka Asumsi beban maksimun yang disangga oleh rangka tersebut adalah ½ dari beban total dan beban dikenakan di tepi rangka dudukan, maka akan memberikan beban lentur pada rangka dudukan tempat duduk. Persamaan yang digunakan menurut Nash (1983) adalah: σa I = Mc/I = I I I d Keterangan: σa : kekuatan lentur bahan (kg/mm 2 ) M : momen bahan (kg.mm) C : titik pusat bahan (kg.mm) I : inersia bahan (mm 4 ) (I l : Inersia bagian luar bahan, I d : Inersia bagian dalam bahan) Karena pipa tersebut berbentuk lingkaran, maka inersia bahan yang digunakan dihitung berdasarkan rumus inersia lingkaran yaitu: I= 1/64πD 4 σa M x 0.5 ((Dl Dd)) = 1 64 Dl4 1 x π xdd4 64 σa 10.2 M = D 3 3 l D d dengan menggunakan bahan yang memiliki σa = 24 kg/mm 2 dan faktor keamanan statik 6, maka σa yang digunakan sebesar 24/6 = 4 kg/mm 2, sehingga didapatkan diameter dalam maksimum lingkaran sebesar: 4 = 10.2 (75x50)/(50 3 D 3 d ) 38250 3 = 500000 4 D d 3 4 D d = 461750 3 D d = 115437.5 D d = 48.69 mm Dengan demikian tebal besi pipa minimum yang digunakan sebesar 50 mm 48.69 = 1.3 mm, apabila faktor tegangan maka menjadi 1.3 x 1.3 = 1.7 mm, yang dipergunakan adalah tebal 4 mm. Plat pengencang rangka Plat pengencang rangka terbuat dari plat besi panjang 140 dan lebar 60 mm. Beban yang diterima tidap dudukan sebesar 75 kg (setiap dudukan menerima beban ½ 37

dari berat total operator), maka tebal dari plat besi yang dibutuhkan dapat dihitung sebagai berikut: Dipilih bahan S45C σ b = 58 kg/mm 2 Lebar palt (b) = 60 mm M = 75 x 70 = 5250 kg.mm I = 1/12 (60)(h) 3 = 5h 3 mm 4 σ rangka = m x 1 2 h I 30 = 5250 x 1 2 h 5h 3 h = 5250 30 x 5 h = 6 mm Baud pengencang rangka Sebagai pengikat antara rangka dudukan tempat duduk dan rangka utama digunakan baud. Baud ini akan menerima beban geser, sehingga besarnya diameter baud yang dibutuhkan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut. Dipilih bahan S30C σb = 48 kg/mm 2 Faktor keamanan Sf = 2 W = 150 kg fc = 1.2 w = 1.2 x 150 = 180 σa = 48/2 = 24 kg/mm 2 τa = (0.5 0.75) σa τa = (0.5) x 24 = 12 kg/mm 2 D baud 4 w π x σa D baud 4 180 π x 24 = 3 4.4.5 Diameter PuliMotor Penggerak Ratio putaran puli pada gigi transmisi 1 adalah 1:33, pada gigi transmisi 2 adalah 1: 9 dan pada gigi transmisi mundur (R) adalah 1:56. Dengan asumsi kecepatan maju transporter yang diinginkan adalah 0.5 m/det maka diameter pulimotor penggerak dihitung sebagai berikut. Rpm max motor penggerak = 3600 = 40 cm D roda 38

D puli V transporter = 20 cm = 0.5 m/det = 3000 cm/menit w roda = V /( π x D roda ) = 3000 /(π x 40) = 23.87 rpm w puli = 33 x 23. 87 = 787.82 rpm untuk menentukan D motor penggerak menggunakan persamaan sebagai berikut: n pulley = d engine n engine d pulley d engine = 787.82 x20 = 5.25cm = 2.076 inch 23.87 Pemilihan diameter puli disesuaikan dengan persediaan dipasaran sehingga dipilih diameter puli2.5 inchi. 4.4.6 Kecepatan Maju Transporter Gigi transmisi 1 Kecepatan maju transporter pada gigi transmisi satu merupakan keadaan yang diasumsikan untuk mendapatkan dimensi (diameter) motor penggerak. Nilai dari kecepatan maju transporter pada gigi transmisi 1 adalah 0.5 m/det Gigi transmisi 2 wpuli sebesar 787.81 rpm pada wmotor penggerak 3000 rpm sehingga w roda = 787.81/9 = 87.53 rpm V roda = w roda x (π Droda ) = 87.53 x (π 40) = 10999.90 cm/menit = 1.83 m/detik Gigi transmisi mundur (R) wpuli sebesar 787.81 rpm pada wmotor penggerak 3000 rpm sehingga w roda = 787.81/56 = 14.07 rpm V roda = w roda x (π Droda ) = 14.07 x (π 40) = 1767.84 cm/menit = 0.29 m/detik 4.4.7 Perhitungan Poros Idler Poros sprocket idler merupakan dudukan sprocket Crawler bagian depan. Poros ini merupakan poros gandar yaitu poros yang tidak mendapatkan beban punter, bahkan kadang-kadang tidak boleh berputar. Poros ini hanya mendapatkan beban lentur murni saja. Diasumsikan poros idler menerima beban statis sebesar 50% dari berat traktor (tanpa dudukan sepatu trek kayu, sepatu trek kayu, sprocket dan rantai), jarak pillow 39

block (g) 240 mm, jarak sprocket (j) 740 mm, tinggi titik berat dari poros (h) 615 mm, kecepatan kerja maksimum (v) 1.83 m/s dan jari jari sprocket (r) 150 mm. Dengan menggunakan diagram alir untuk perencanaan poros dengan beban lentur murni (Sularso dan Suga 1994) maka besarnya diameter poros idler yang dibutuhkan dapat diketahui. W h a 240 740 M 1 j g Gambar 32. Diagram benda bebas poros idler = W x 4 = 422.8 x 740 240 = 52850 kg.mm 4 α v = 0.4 dan α L = 0.3 M 2 = α v x M 1 M 2 = 0.4 x 52850 = 21140 kg.mm a = 250 mm dan l (lebar sproket) = 23.5 mm P = α L x W P = 0.3 x 422.8 = 126.84 kg Q 0 = P x (h/j) = 126.84 x (615/740) = 105.41 kg R 0 = P x ( h + r ) / g R 0 = 126.84 x (615 + 150) /240 = 404.30 kg M 3 = P x r + Q 0 ( a + l) R 0 x ( a +l ((j g/2)) = (126.84 x 150) + 105.41 (250 + 23.5) 404.30 (250 + 23.5 (740 (240/2)) = 187947.6 kg.mm Poros gandar, Kelas 2 SFA60A, σ wb = 60 kg/mm 2 Untuk poros pengikut, m = 1 d s [ 10.2 σ wb m M1 + M2 + M3 ] 1/3 10.2 x 1 x 52850 +21140 +187947.6 d s [ σ b = 60 10.2 m (M1+M2+M3) ds 3 10.2 x 1 52850 +21140 +187947.6 σ b = 40 3 = 41.75 kg/mm 2 n = σ wb 1 σ b n = 60 / 41.75 = 1.43, baik. Ditentukan ds = 40 mm,bahan SFA60A ] 1/3 = 35.44 mm diambil poros 40 mm 40

4.4.8 Perhitungan Poros Bak Diasumsikan poros bak menerima beban statis sebesar 315 kg, jarak hinge (g) 160 mm, jarak bearing (j) 282 mm, tinggi titik berat dari poros (h) 402 mm, kecepatan kerja maksimum (v) 1 m/s dan jari bearing (r) 45 mm. Dengan menggunakan diagram alir untuk perencanaan poros dengan beban lentur murni (Sularso dan Suga 1994) maka besarnya diameter poros bak yang dibutuhkan dapat diketahui. W h a 160 282 Gambar 33. Diagram benda bebas poros bak j g M 1 = W x 4 = 315 x 282 160 = 9607.5 kg.mm 4 α v = 0.4 dan α L = 0.3 M 2 = α v x M 1 M 2 = 0.4 x 19215 = 3843 kg.mm a = 61 mm dan l (lebar bearing) = 20 mm P = α L x W P = 0.3 x 315 = 94.5 kg Q 0 = P x (h/j) = 94.5 x (402/282) = 134.71 kg R 0 = P x ( h + r ) / g R 0 = 94.5 x (402 + 45) /160 = 264.01 kg M 3 = P x r + Q 0 ( a + l) R 0 x ( a +l ((j g/2)) = (94.5 x 45) + 134.71 (61 + 20) 264.01 (61 + 20 ((282 160/2)) = 4252.5 + 10911.51 264.01 ( - 121) = 47109.37 kg.mm Poros gandar kelas 4, σ wb = 15 kg/mm 2 (Sularso, 2004) Untuk poros pengikut, m = 1 d s [ 10.2 σ wb m M1 + M2 + M3 ] 1/3 10.2 x 1 x 9607.5 +3843 +47109.37 d s [ σ b = 15 10.2 m (M1+M2+M3) ds 3 10.2 x 1 9607.5+3843 +47109.37 σ b = 38 3 = 11.25 kg/mm 2 n = σ wb 1 σ b n = 15 / 11.25 = 1.3, baik. Ditentukan ds = 38 mm, kelas 4 ] 1/3 = 34.53 mm diambil poros 38 mm 41

4.4.9 Perhitungan Belt Diasumsikan transporter bekerja 8 10 jam/hari. Motor penggerak adalah motor torak dengan daya 6.7 Hp atau 4.99 kw. Kecepatan putar motor penggerak 3000 rpm dan kecepatan puli transmisi 787.81. Jarak poros motor penggerak poros transmisi adalah 386 mm. [Penyelesaian] P = 6.7 Hp = 4.99 kw, n 1 = 3000 rpm, i 3000/787.81 3.81, C = 386 mm f c = 1.7 P d = 1.7 x 4.99 = 8.483 kw T 1 = 9.74 x 10 5 x (8.483/3000) = 2754.147 kg.mm T 2 = 9.74 x 10 5 x (8.483/787.81) = 10487.86 kg.mm Bahan poros S45C, σ B = 58 kg/mm 2 Sf 1 = 6, Sf 2 = 2 τ α = 58/(6 x 2) = 4.83 kg/mm 2 K t = 2 untuk beban tumbukan C b = 2 untuk lenturan d s1 = {(5.1/4.83) x 2 x 2 x 2754.147} 1/3 = 22.65 mm 24 mm d s2 = {(5.1/4.83) x 2 x 2 x 10487.86} 1/3 = 35.37 mm 38 mm Penampang sabuk-v tipe B d min = 145 mm d p = 145, D p = 145 x 3.81 = 552.45 mm d k = 145 + 2 x 5.5 = 156 mm D k = 552.45 + 2 x 5.5 = 563.45 mm 5 d s1 + 10 = 50 d B = 55 mm 3 5 d s2 + 10 = 73.3 D B = 75 mm 3 3.14 x 145 x 3000 v = = 22.765 < 30 m/s, baik 60 x 1000 156 + 563.45 386 = 26.275 mm, baik 2 Dipakai tipe standar P 0 = 3.14 + 3.42 3.14 1600 1600 + 0.53 + (0.53 0.47) = 6.39 kw 200 200 (552.45 145)2 L = 2 x 386 + 1.57 (552.45 + 145) + = 1519.543 mm 4 x 386 Nomor nominal sabuk V: No.60 L = 1524 b = 2 x 1524 3.14 (552.45 + 145) = 858.01 mm C = 858 + 8582 8 552.45 145 2 = 203.42 mm 8 θ = 180 o 57(552.45 145) = 119.83 o, K 386 θ = 0.82 8.483 N = = 1.619 buah 6.39 x0.82 C i = 35 (mm) C t = 50 (mm) Tipe B, No. 60, 2 buah, d k = 156 (mm), D k = 563.45 (mm) 42

4.5 Analisis Gaya dan Tenaga 4.5.1 Ground Pressure Analisis gayatekan transporter pada tanah digunakan untuk penyesuaian luasan bidang kontak dengan keadaan lahan yang memiliki daya dukung yang rendah.gound Pressure unit harus lebih kecil dari daya dukung tanah (bearing capacity) yaitu 800 kpa. P = F A Dimana: F adalah berat keseluruhan transporter dikali gravitasi A adalah luasan bidang kontak transporter terhadap tanah A = 788 x 300 = 236400 mm 2 F = 828.6 x 9.8 = 8120.28 N = 8120280 kn P = 8120280 = 34.35 kpa 236400 Dari analisis tersebut diketahui ground pressure transporter34.35 kpa < bearing capacity lahan yaitu 800 kpa. 4.5.2 Beban dan tenaga transporter W = 828.6 kg Koefisien traksi (C t ) = 0.6 (Sembiring dan Desrial 2005) Koefisien tahanan gelinding (C RR ) = 0.15 Daya motor penggerak (P) = 4.99KW Kecepatan maju 1 (V 1 ) = 0.5 m/det Kecepatan maju 2 (V 2 ) = 1.83 m/det Kecepatan mundur (V 3 ) = 0.29 m/det Daya tarik = P x Ct = 4.99 x 0.6 x 1000 = 2994 Watt Traksi pesnl. n daya tarik = V n Traksi pesnl. 1 = 2994 0.5 = 5988 N = 611.02 kg Traksi pesnl. 2 = 2994 1.83 = 1636.07 N = 166.95 kg Traksi pesnl. mundur = 2994 0.29 = 10324.14 N = 1053.48 kg Traksi bersih pesnl.1 = Traksi pesnl.1 = 611.02 kg Sin α = 486.73.04 α = 47.51 o 43

4.5.3 Kesetimbangan Saat Bak Kosong Analisis kesetimbangan menggunakan kesetimbangan gaya dengan diagram benda bebas disajikan dalam Gambar 34. Analisis ini melihat kesetimbangan transporter ketika digunakan sebagai alat transportasi, sehingga bak tidak memuat TBS namun terdapat operator yang mengemudikan. 332 Wb Wg We Wk1 Wk2 x 1268 330 1268 510 Gambar 34. Diagram benda bebas transporter saat bak kosong W b (l b ) = W g (l g ) + W e (l e ) + W k1 (l k1 ) + W k2 (l k2 ) 60 (x 332) = 63.6 (920 x) + 27 (1268 x) + 50 (1721 x) + 50 (1901 x) 60x 19920 = 58512 63.6 x + 34236 27 x + 86050 50 x + 95050 50 x 250.6 x = 293768 x = 1172.26 mm Titik kesetimbangan berada pada 1172.26 mm dari bagian depan rangka sehingga transporter masih dalam keadaan setimbang dan aman untuk digunakan sebagai transportasi operator. 4.5.4 Kesetimbangan Saat Siap Unloading Analisis ini untuk melihat kesetimbangna transporter saat dilakukan proses unloading yaitu ketika bak berada pada posisi siap dijungkitkan. Diagram benda bebas dari kesetimbangan gaya dapat dilihat dalam Gambar 36. 22 Wb Wg We Wk1 Wk2 x 1268 330 1268 510 Gambar 35. Diagram benda bebastransporter saat siap unloading 44

W b (l b ) = W g (l g ) + W e (l e ) + W k1 (l k1 ) + W k2 (l k2 ) 630 (x 22) = 63.6 (920 x) + 27 (1268 x) + 0 630 x 13860 = 58512 63.6 x + 34236 27 x 720.6 x = 106635 x = 147.98 mm Titik kesetimbangan berada pada 147.98 mm dari bagian depan rangka sehingga transporter masih dalam keadaan setimbang atau dalam hal ini transporter tidak terbalik saat dilakukan proses unloading. 4.5.5 Analisi Gaya Pada Tempat Duduk 41 o Gambar 36. DBB tempat duduk ΣF y = 0 ΣM = 0 Momen pada R1 R2 x a W1 x b W2 x c = 0 R2 x a = W1 x b + W2 x c R2 Diketahui : W1 W2 a b c = = 50 kg = 50 kg = 530 mm = 644 mm = 824 mm 50 x 644 + 50 x 824 R2 = 530 R2 = 138.5 kg.mm R2 = W3 Momen pada R2 ΣM = 0 W1 x b + W2 x c R1 x a = 0 R1 x a = W1 x b + W2 x c W1 x b + W2 x c R1 = a = 138.5 kg.mm W1 x b + W2 x c a = R2 45

4.6 Analisis Jangkauan Kemudi Pengoperasian kemudi transporter dilakukan oleh tangan (kecuali rem) meliputi clutch handle, speed change rod dan disc clutch handle.parameter perancangan posisi alat kendali disesuaikan dengan jenis daerah kerja yaitu daerah normal kerja dan daerah maksimum kerja. Daerah normal kerja merupakan radius dari jarak siku tangan - ujung jari tangan dan berada pada 47.47 cm dari SRL (Seat Reference Level), yaitu jarak siku tangan pantat. Daerah maksimum kerja merupakan radius jangkauan ke depan yang berada pada 84.35 cm dari SRL. Gambar 37. Sketsa daerah normal jangkauan tangan transporter. Gambar 38. Sketsa daerah maksimal jangkauan tangan transporter 46