Asep Sapei 1 dan Irma Kusmawati 2

dokumen-dokumen yang mirip
Bd&w KETEKNIKAN PERTANIAN

Kata kunci: faktor penyesuai, evapotranspirasi, tomat, hidroponik, green house

Analisis Sistem Irigasi Para pada Budidaya Tanaman Selada (Lactuca sativa var. crispa L.) Analysis of Para Irrigation Systemon Selada Cultivation

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN

BAB II DASAR TEORI 2.1 Perhitungan Hidrologi Curah hujan rata-rata DAS

A. SISTEM IRIGASI TETES

Oleh : I.D.S Anggraeni *), D.K. Kalsim **)

APLIKASI MIKROKONTROLER ARDUINO PADA SISTEM IRIGASI TETES UNTUK TANAMAN SAWI (Brassica juncea)

LAMPIRAN. Mulai. Pembuatan komponen irigasi tetes (emiter alternatif) Pembuatan tabung marihot. Pemasangan jaringan pipa-pipa dan emiter

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dari Bulan Juli sampai November 2013 di Greenhouse Sarwo

EVALUASI KINERJA JARINGAN IRIGASI PADA SISTEM IRIGASI MICRO SPRAY DI KEBUN PERCOBAAN TAJUR - PKBT IPB, BOGOR

Evapotranspirasi. 1. Batasan Evapotranspirasi 2. Konsep Evapotranspirasi Potensial 3. Perhitungan atau Pendugaan Evapotranspirasi

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL

Gambar 1 Hubungan impedansi listrik (kω) dengan KAT(%) kalibrasi contoh tanah.

II. TINJAUAN PUSTAKA. sampai beriklim panas (Rochani, 2007). Pada masa pertumbuhan, jagung sangat

Laju dan Jumlah Penyerapan Air

DAFTAR ISI. 1.2 RUMUSAN MASALAH Error Bookmark not defined. 2.1 UMUM Error Bookmark not defined.

ANALISIS POTENSI ENERGI MATAHARI DI KALIMANTAN BARAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA Analisis Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan Air untuk Pengolahan Tanah

TINJAUAN PUSTAKA. sumber daya air merupakan dasar peradaban manusia (Sunaryo dkk., 2004).

HUBUNGAN TANAH - AIR - TANAMAN

ANALISA KEBUTUHAN AIR IRIGASI DAERAH IRIGASI SAWAH KABUPATEN KAMPAR

TUGAS KELOMPOK REKAYASA IRIGASI I ARTIKEL/MAKALAH /JURNAL TENTANG KEBUTUHAN AIR IRIGASI, KETERSEDIAAN AIR IRIGASI, DAN POLA TANAM

The Application of Drip Irrigation Technique and Artificial Planting Media in

II. TINJAUAN PUSTAKA

JURUSAN TEKNIK & MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

Frequently Ask Questions (FAQ) tentang kaitan lingkungan dan kelapa sawit

II. TINJAUAN PUSTAKA. Embung berfungsi sebagai penampung limpasan air hujan/runoff yang terjadi di

TINJAUAN PUSTAKA. Neraca Air

Uji Tekanan Air Pompa dan Tinggi Riser terhadap Keseragaman Distribusi Air pada Irigasi Curah

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jurnal KETEKNIKAN PERTANIAN, Vol.17, No.2, Agustus 2003

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI BENDUNG MRICAN1

ANALISA KETERSEDIAAN AIR SAWAH TADAH HUJAN DI DESA MULIA SARI KECAMATAN MUARA TELANG KABUPATEN BANYUASIN

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam ekonomi Indonesia. Potensi

PERENCANAAN KEBUTUHAN AIR PADA AREAL IRIGASI BENDUNG WALAHAR. Universitas Gunadarma, Jakarta

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI DEDIKASI KATA PENGANTAR

Komunikasi penulis,

STUDI POLA PEMBERIAN AIR BERDASARKAN EFISIENSI PEMAKAIAN AIR PADA TANAMAN KEDELAI EDAMAME (VEGETABLE SOYBEAN) DENGAN METODE IRIGASI TETES JURNAL

TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanaman Cabai

EFISIENSI IRIGASI TETES DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN BUNGA KOL PADA TANAH ANDOSOL

Kajian Hidro-Klimatologi Daerah Cirebon-Indramayu-Majalengka- Kuningan (Ciayu Majakuning)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang dihasilkan dibawa oleh udara yang bergerak.dalam kondisi yang

BAHAN AJAR : PERHITUNGAN KEBUTUHAN TANAMAN

DAFTAR ISI. Halaman JUDUL PENGESAHAN PERSEMBAHAN ABSTRAK KATA PENGANTAR

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

ANALISIS EFISIENSI IRIGASI TETES DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN SEMANGKA (Citrullus vulgaris S.) PADA TANAH ULTISOL


II. TINJAUAN PUSTAKA. Irigasi didefinisikan sebagai penggunaan air pada tanah untuk keperluan

Pengelolaan Air Tanaman Jagung

KAJIAN EVAPOTRANSPIRASI POTENSIAL STANDAR PADA DAERAH IRIGASI MUARA JALAI KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU

TEKNOLOGI INOVATIF IRIGASI LAHAN KERING DAN LAHAN BASAH STUDI KASUS UNTUK TANAMAN LADA PERDU

ANALISIS EFISIENSI IRIGASI TETES DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN SAWI (Brassica juncea) PADA TANAH INCEPTISOL

ANALISIS KESEIMBANGAN AIR PADA IRIGASI BAWAH PERMUKAAN MELALUI LAPISAN SEMI KEDAP HILDA AGUSTINA

RANCANGAN DAM UJI COBA LlSlMETER PORTABEL TiPE HlDRQlblK

PENDUGAAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN DAN NILAI KOEFISIEN TANAMAN (K c. ) KEDELAI (Glycine max (L) Merril ) VARIETAS TANGGAMUS DENGAN METODE LYSIMETER

17/02/2013. Matriks Tanah Pori 2 Tanah. Irigasi dan Drainasi TUJUAN PEMBELAJARAN TANAH DAN AIR 1. KOMPONEN TANAH 2. PROFIL TANAH.

ANALISIS EMITTER ALTERNATIF DALAM SISTEM IRIGASI TETES PADA BUDIDAYA TANAMAN SAWI (Brassica Sp )

Tata cara perhitungan evapotranspirasi potensial dengan panci penguapan tipe A

UJI KINERJA EMITER CINCIN PERFORMANCE ANALYZE OF RING-SHAPE EMITTER Oleh :

Rate Infiltration Evaluation on Several Land Uses Using Infiltration Method of Horton at Sub DAS Coban Rondo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang

EFISIENSI IRIGASI TETES DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN BUNGA KOL PADA TANAH ANDOSOL

, Aditya Prihantoko **) Balai Irigasi, Pusat Litbang Sumber Daya Air, Badan Litbang PU, Jl. Cut Meutia Kotak Pos 147 Bekasi 17113

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di lingkungan Masjid Al-Wasi i Universitas Lampung

BAB-1 PENDAHULUAN 1. Umum

ANALISIS KEBUTUHAN AIR SAWAH DAERAH SEKITAR PANEI TENGAH KABUPATEN SIMALUNGUN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Research Station PT Great Giant Pineapple, Kecamatan

ANALISIS PENENTUAN WAKTU TANAM PADA TANAMAN KACANG TANAH

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian berada di wilayah Kabupaten Banyumas yang masuk

PEMANFAATAN POTENSI AIR TANAH UNTUK IRIGASI TETES

Lampiran 1.1 Data Curah Hujan 10 Tahun Terakhir Stasiun Patumbak

KEBUTUHAN AIR. penyiapan lahan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bulan Februari 230 Sumber : Balai Dinas Pertanian, Kota Salatiga, Prov. Jawa Tengah.

TINJAUAN PUSTAKA. disukai dan popular di daerah-daerah yang memiliki masalah kekurangan air.

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2013 di

ANALISIS SURPLUS-DEFISIT AIR DAERAH IRIGASI PAMUKKULU KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN

KESERAGAMAN TETESAN PADA IRIGASI TETES SISTEM GRAVITASI Emission Uniformity on Gravitational Drip Irrigation System

APLIKASI SISTEM IRIGASI TETES PADA TANAMAN KEMBANG KOL (Brassica Oleracea Var. Botrytis L. Subvar. Cauliflora DC) DALAM GREENHOUSE

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2. Lokasi Kabupaten Pidie. Gambar 1. Siklus Hidrologi (Sjarief R dan Robert J, 2005 )

EFISIENSI IRIGASI TETES DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN BUNGA KOL PADA TANAH ANDOSOL

ANALISIS NERACA AIR UNTUK PENETAPAN POLA TANAM DALAM MENINGKATKAN INDEKS PERTANAMAN 1

DEFINISI IRIGASI TUJUAN IRIGASI 10/21/2013

A. KANDUNGANLENGASTANAH

TINJAUAN PUSTAKA. Dengan meningkatnya kebutuhan air di bidang pertanian dan bidang lain,

KAJIAN BEBERAPA METODE PEMBERIAN AIR PADI SAWAH (oriza sativa L) VARIETAS CIHERANG di RUMAH KACA

KAJIAN KOEFISIEN REMBESAN PADA SALURAN IRIGASI TERSIER DI DESA KUALA SIMEME KECAMATAN NAMORAMBE KABUPATEN DELI SERDANG

Spektrum Sipil, ISSN Vol. 1, No. 1 : 73-80, Maret 2014

Keteknikan Pertanian J.Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.3 No. 3 Th. 2015

Fadhilatul Adha 1), Tumiar Katarina Manik 2), R.A.Bustomi Rosadi 3)

DESAIN DAN UJI KINERJA EMITTER IRIGASI CINCIN RESKIANA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Evapotranspirasi Potensial Standard (ETo)

Sumber dan Frekuensi Aplikasi Larutan Hara sebagai Pengganti AB Mix pada Budidaya Sayuran Daun secara Hidroponik

Transkripsi:

PERUBAHAN POLA PENYEBARAN KADAR AIR MEDIA TANAM ARANG SEKAM DAN PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir.) PADA PEMBERIAN AIR SECARA TERUS MENERUS DENGAN IRIGASI TETES Asep Sapei 1 dan Irma Kusmawati 2 Abstract Drip/trickle irrigation is an irrigation method, which gives high efficiency, high effectivity and assures high productivity/yield. This method, is often used for horticulture and vegetable crops. The objective of this research is to study the effect of drip irrigation by continuous water application using 1 and 2 emitters on water distribution and crop growth. The results show that irrigation water by using 2 emitters was spread horizontally more, gave taller crops and more leaves than that using 1 emitter. In general, the effect of continuous water application was better than intermittent water application. Key words : Drip/trickle irrigation, continuous water application PENDAHULUAN Latar Belakang Air mutlak dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup. Demikian pula tanaman., sangat membutuhkan air untuk pertumbuhan. Tanaman hanya dapat tumbuh optimal dan memberikan hasil yang tinggi bila kebutuhan airnya dapat dipenuhi dalam jumlah dan waktu yang tepat (Doorenbos dan Pruitt, 1977). Akan tetapi, hujan yang merupakan sumber air utama bagi tanaman menyebar tidak merata, baik dalam jumlah, waktu maupun tempat. Karena itu tindakan pemberian air irigasi dapat menjamin kebutuhan air tanaman. Suatu metoda irigasi yang baik harus dapat memenuhi kebutuhan air tanaman dalam jumlah dan waktu yang tepat, efisien dan efektif. Irigasi tetes (drip/trickle irrigation) telah dikembangkan guna mencapai efisiensi dan efektifitas yang lebih tinggi dalam pemakaian air bagi tanaman (Michael, 1978 dan Howell et al., 1980). Dengan irigasi tetes, yaitu suatu metoda pemberian air dengan laju rendah dan frekuensi tinggi di sekitar perakaran tanaman, kadar air media tanam dapat dipertahankan 1 Staf pengajar Bagian Teknik Tanah dan Air, Jurusan Teknik Pertanian FATETA-IPB 2 Alumni Jurusan Teknik Pertanian FATETA-IPB 1

pada kondisi yang optimal, fluktuasi kadar air media tanam dapat dihindarkan dan kehilangan air akibat perkolasi, evaporasi dan aliran permukaan dapat ditekan. Kinerja irigasi tetes juga ditentukan oleh pola dan lokasi permukaan pembasahan (wetting front). Roth (1974) mengkaji perubahan pola dan lokasi permukaan pembasahan pada berbagai debit pemberian air (Howell et al.,1980). Kajian tentang perubahan pola dan lokasi permukaan pembasahan pada berbagai jenis tanah dan debit pemberian air dilakukan oleh Bresler et al. (1971) dan Bresler (1978) (Hillel, 1982). Saat ini, penerapan irigasi tetes kebanyakan menggunakan sistem pemberian air secara terputus-putus (intermittent), seperti yang diterapkan dibeberapa perusahaan hortikultura di daerah Puncak dan Lembang, Jawa Barat. Diduga bahwa pemberian air secara terputus-putus tersebut akan mengurangi hasil, karena kadar air media tanam berfluktuasi cukup besar dan kondisi yang optimal tidak dapat dipertahankan. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan pola penyebaran kadar air media tanam arang sekam dan pertumbuhan tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans Poir.) yang diberi air secara terus menerus (continuous) dengan irigasi tetes. Sebagai perbandingan juga dikaji hal yang sama dengan pemberian air secara terputus-putus (intermittent). METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan bulan Juni - November 2002 di Laboratorium Lapangan Jurusan Teknik Pertanian FATETA-IPB Leuwikopo, Darmaga Bogor. Media tanam arang sekam yang digunakan mempunyai karaketristik seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. Media tanam tersebut di kemas kedalam polybag yang berukuran 20 cm diameter dan 35 cm tinggi sehingga mempunyai densitas sebesar 0.17 g/cm 3. Pada media tanam ditempatkan sensor pengukur kadar air berupa gypsum block yang sudah dikalibrasi di sembilan titik pengamatan kadar air seperti Gambar 1. 2

Tabel 1. Karaketristik media arang sekam Karakteristik Besaran - Kadar air pada : - pf 0.00, % volume 82.04 - pf 0.50, % volume 78.43 - pf 1.00, % volume 29.52 - pf 1.50, % volume 14.82 - pf 2.00, % volume 10.95 - pf 2.54, % volume 10.70 - pf 3.00, % volume 10.35 - pf 4.20, % volume 6.92 - Air tersedia, % volume 3.78 Gambar 1. Penempatan sensor pengukur kadar air Benih kangkung darat kemudian di tanam pada setiap polybag dan kemudian diberi air (yang dilengkapi dengan nutrisi) secara terus menerus dan laju pemberian air tetap mulai jam 7:00 sampai jam 18:00 setiap harinya dengan irigasi tetes menggunakan 1 dan 2 buah penetes (emitter). Setiap perlakuan menggunakan 3 polybag. Skema intalasi pemberian seperti pada Gambar 2. 3

Gambar 2. Skema instalasi pemberian air secara irigasi tetes Laju pemberian air seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 2 dihitung berdasarkan kebutuhan air tanaman (ETc) menggunakan persamaan evapotranspirasi (ETo) metoda radiasi, yaitu: ETo = c (w Rs) Rs = a + b (n/n) Ra ETc = kc Eto Dimana ETo : evapotranspirasi (mm/hari), c: faktor penyesuai, w: faktor pemberat, Rs: radiasi matahari ekuivalen dengan evaporasi (mm/hari), a dan b: konstanta radiasi, n: lama penyinaran aktual (jam/hari), N : rata-rata harian lama penyinaran yang mungkin (jam), ETc : kebutuhan air tanaman (mm/hari) dan kc : koefisien tanaman. Data radiasi yang digunakan berupa nilai rata-rata radiasi selama 10 tahun terakhir (tahun 1991 tahun 2001) yang diukur di stasiun Klimatologi Darmaga Bogor. Pengaturan laju pemberian dilakukan dengan mengatur beda tinggi (head) antara penetes yang sudah dikalibrasi dengan tabung Mariot. 4

Tabel 2. Laju pemberian air secara terus-menerus (selama 11 jam) Umur Tanaman (hari sesudah tanam,hst) Laju pemberian (lt/jam) 0-5 0.0048 6-15 0.0121 16-25 0.0158 26-30 0.0148 Jumlah air yang diberikan secara terputus-putus mengacu kepada pedoman pemberian air yang dilakukan di salah satu perusahaan pertanian di Puncak, Jawa Barat seperti pada Tabel 3. Pemberian juga dilakukan dengan menggunakan 1 dan 2 buah penetes. Umur Tanaman (hari sesudah tanam,hst) Tabel 3. Pemberian air secara terputus-putus Frekuensi pemberian (kali/hari) Jumlah setiap pemberian (ml) Lama setiap pemberian (menit) 0-5 6 50 5 6-15 6 100 10 16-25 6 100 10 26-30 6 150 15 Pengamatan penyebaran kadar air media tanam arang sekam dilakukan setiap 3 hari dengan interval waktu pengukuran 2 jam. Parameter pertumbuhan tanaman yang diamati adalah tinggi tanaman dan jumlah daun yang juga dilakukan setiap 3 hari. HASIL DAN PEMBAHASAN Penyebaran Kadar Air Gambar 3 memperlihatkan penyebaran kadar air pada hari ke 6 sesudah tanam jam ke 2 dan ke 4. Gambar tersebut menunjukkan bahwa penyebaran kadar air media arang sekam yang diberi air secara terus menerus (continuous) menggunakan 2 buah penetes cenderung lebih melebar dibandingkan dengan media arang sekam yang diberi air dengan hanya menggunakan 1 buah penetes. Hal ini disebabkan karena media arang sekam didominasi oleh pori-pori yang berukuran besar (makro) yang tidak dapat menahan banyak air dan mempunyai 5

kapasitas infiltrasi dan permeabilitas tinggi, sehingga air yang diberikan cenderung bergerak vertikal kebawah. Hal yang sama juga terjadi pada media arang sekam yang diberi air secara terputusputus (intermittent), tetapi dengan pola yang lebih tidak teratur. 2 4 Gambar 3. Penyebaran kadar air pada hari ke 6 sesudah tanam Rata-rata kadar air media tanam yang diberi air secara terus menerus dan terputusputus disajikan pada Gambar 4. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa rata-rata kadar air media tanam arang sekam yang diberi air secara terus menerus menggunakan 1 buah penetes (antara 8.6 % - 10.7 %) lebih rendah dibandingkan dengan yang menggunakan 2 buah penetes (antara 9.0 % - 11.0 %) selama periode tanam. Gambar 4 juga menunjukkan bahwa rata-rata kadar air media tanam yang diberi air secara terputus-putus (antara 9.1 % - 11.8 %) lebih tinggi dibandingkan dengan yang diberi air secara terus-menerus (antara 8.6 % - 11.0 %), tetapi dengan fluktuasi kadar air yang lebih besar. 6

Gambar 4. Rata-rata kadar air pada umur tanaman yang berbeda Pertumbuhan Tanaman Gambar 5 memperlihatkan tinggi tanaman kangkung darat sejak tanam hingga masa panen (30 hari). Gambar 5. Tinggi tanaman sejak tanam samapi panen Gambar 5 tersebut memperlihatkan bahwa tanaman kangkung darat yang diberi air secara terus menerus dengan 2 buah penetes (antara 11.0 cm 55.3 cm) secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan 1 buah penetes (antara 11.8 cm 44.7 cm), kecuali pada periode awal masa tanam (sampai umur 9 HST). Tinggi tanaman yang diberi air secara terputus-putus, baik yang menggunakan 1 buah penetes maupun 2 buah penetes (antara 7

7.7 cm 51.7 cm), lebih pendek dibandingkan dengan yang diberi air secara terus-menerus (antara 11.0 cm 55.3 cm). Pertambahan tinggi tanaman kangkung darat umumnya relatif konstan selama masa tanam sampai mencapai tinggi antara 44.0 cm 55.3 cm pada masa panen. Hasil tersebut diduga disebabkan oleh penyebaran kadar air dan fluktuasi kadar air. Gambar 6 menyajikan jumlah daun tanaman sejak tanam sampai panen. Gambar 6. Jumlah daun tanaman kangkung darat Gambar tersebut menunjukkan bahwa jumlah daun tanaman kangkung darat yang diberi air secara terus menerus menggunakan 2 buah penetes (antara 2 helai 65 helai) lebih banyak dibandingkan dengan yang menggunakan 1 buah penetes (antara 2 helai 51 helai), kecuali sampai umur 9 HST. Jumlah daun tanaman yang diberi air secara terputus-putus (antara 1 helai 60 helai) lebih sedikit dibandingkan dengan dengan yang diberi air secara terus menerus (antara 2 helai 65 helai), kecuali untuk 2 buah penetes sampai umur 24 HST. Pada saat panen jumlah daun berkisar antara 32 65 helai. Hasil tersebut juga diduga disebabkan oleh penyebaran dan fluktuasi kadar air media tanam arang sekam. KESIMPULAN 1. Irigasi tetes yang diberikan secara terus menerus menggunakan 2 buah penetes memberikan hasil kadar air yang lebih menyebar secara horizontal, tinggi tanaman yang 8

lebih tinggi dan jumlah daun yang lebih banyak dibandingkan dengan yang menggunakan 1 buah penetes. 2. Irigasi tetes yang diberikan secara terus menerus memberikan hasil yang lebih baik (flutuasi kadar air lebih kecil, tinggi tanaman lebih tinggi dan jumlah daun yang lebih banyak) dibandingkan dengan yang diberikan secara terputus-putus. PUSTAKA Doorenbos,J. dan W.O. Pruitt, 1977, Guidelines for Crop Water Requirement, FAO Irrigation and Drainage Paper, FAO, Rome Hillel, D. (Ed.), 1982, Advanced in Irrigation Vol. 1, Academic Press, New York Howell, T.A., F.K. Aljiburi, H.M. Gitlin, I. Pai Wu, A.W. Warrick dan P.A.C. Raats, 1980, Design and Operation of Trickle (Drip) Irrigation, didalam Jensen, M.E. (Ed.), 1980, Design and Operation of Farm Irrigation System, ASAE, Michigan. Michael, A.M., 1978, Irrigation Theory and Practice, Vikas Publishing House PVT LTD, New Delhi 9