PEDOMAN GCG (CODE OF CORPORATE GOVERNANCE)

dokumen-dokumen yang mirip
DAFTAR ISI CHARTER KOMITE AUDIT PT INDOFARMA (Persero) Tbk

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT PERTAMINA INTERNASIONAL EKSPLORASI & PRODUKSI

PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA DEWAN KOMISARIS PT WIJAYA KARYA BETON Tbk

PEDOMAN PERILAKU Code of Conduct KEBIJAKAN

DAFTAR ISI. SK BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI PT BARATA INDONESIA(Persero)

DAFTAR ISI CHARTER KOMITE AUDIT. I Pendahuluan 1. II Tujuan Pembentukan Komite Audit 1. III Kedudukan 2. IV Keanggotaan 2. V Hak dan Kewenangan 3

Pedoman Kerja Dewan Komisaris dan Direksi PT Nusa Raya Cipta Tbk PEDOMAN KERJA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK PT SURYA CITRA MEDIA Tbk

PT FIRST MEDIA Tbk Piagam Direksi

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Dewan Komisaris

PT FIRST MEDIA Tbk Piagam Dewan Komisaris

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SUMBERDAYA SEWATAMA

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Direksi

Daftar Isi... i Tentang Panduan Good Corporate Governance... 1 Visi... 3 Misi... 3 Nilai-Nilai Dasar Perseroan... 4 Komitmen Perseroan...

PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA DEWAN KOMISARIS PT. BPR KANAYA

Tentang Panduan Good Corporate Governance.

KOMITE AUDIT CHARTER PT INDOFARMA (PERSERO) TBK

PIAGAM SATUAN PENGAWASAN INTERNAL (INTERNAL AUDIT CHARTER)

Piagam Direksi. PT Link Net Tbk ( Perseroan )

Tentang Panduan Good Corporate Governance.

PEDOMAN KERJA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI

Piagam Dewan Komisaris. PT Link Net Tbk ( Perseroan )

LAPORAN TUGAS DAN PENGAWASAN === DEWAN KOMISARIS === PT PLN TARAKAN TAHUN BUKU 2015

PIAGAM KOMITE AUDIT 2015

PIAGAM KOMITE AUDIT DAN RISIKO USAHA (BUSINESS RISK AND AUDIT COMMITTEES CHARTER) PT WIJAYA KARYA BETON Tbk. BAGIAN I

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Prinsip-prinsip GCG 1. Transparansi

PIAGAM (CHARTER) AUDIT SATUAN PENGAWASAN INTERN PT VIRAMA KARYA (Persero)

PIAGAM KOMITE AUDIT. ( AUDIT COMMITTE CHARTER ) PT FORTUNE MATE INDONESIA Tbk

PEDOMAN DAN KODE ETIK DEWAN KOMISARIS A. LANDASAN HUKUM

Kebijakan Corporate Governance. PT. Persero Batam. Tim GCG PT. Persero Batam Hal : 1 of 9

KEPUTUSAN DEWAN KOMISARIS PT INDONESIA ASAHAN ALUMINIUM (PERSERO) NOMOR : PC-07/05/2014 TENTANG PIAGAM KOMITE AUDIT

Direksi Perusahaan Efek yang Melakukan Kegiatan Usaha sebagai Penjamin Emisi Efek dan Perantara Pedagang Efek SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN

KESEPAKATAN BERSAMA DIREKSI DAN KOMISARIS DALAM MENERAPKAN BOARD MANUAL

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN (PEDOMAN GCG) PT PERUSAHAAN PERDAGANGAN INDONESIA (PERSERO)

PEDOMAN DIREKSI DAN KOMISARIS PERSEROAN

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 4/POJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN TATA KELOLA BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

- 2 - PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 sampai dengan angka 13 Cukup jelas.

PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA

PEDOMAN KERJA KOMITE AUDIT

LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 32 /SEOJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN TERBUKA

Board Manual PJBS Tahun 2011

PT LIPPO CIKARANG Tbk. Piagam Dewan Komisaris

NOMOR 32 /SEOJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN TERBUKA

SURAT KEPUTUSAN BERSAMA KOMISARIS DAN DIREKSI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II (Persero) NOMOR : II.0/Kpts/06/XI/2010 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 141 /PMK.010/2009 TENTANG PRINSIP TATA KELOLA LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA

Pedoman Kerja Dewan Komisaris

Pedoman Dewan Komisaris. PT Astra International Tbk

BOARD MANUAL PT PG Rajawali I

3. Menerapkan asas-asas GCG yakni, transparansi, akuntabi/itas, responsibi/itas, independensi. Makassar, 11 Februari 2014

- 1 - LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 7 /SEOJK.03/2016 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN FUNGSI AUDIT INTERN BANK PERKREDITAN RAKYAT

PEDOMAN KERJA DAN KODE ETIK DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS

Pedoman Kerja Komite Audit

PEDOMAN KOMITE NOMINASI DAN REMUNERASI PT UNILEVER INDONESIA TBK

Pedoman Direksi. PT Astra International Tbk

PEDOMAN DAN TATA TERTIB DIREKSI PT BPR MANDIRI ARTHA ABADI

PEDOMAN. TATA KELOLA PERUSAHAAN (Code of Corporate Governance)


PEDOMAN CODE OF TATA KELOLA CORPORATE PERUSAHAAN GOVERNANCE PT PERTAMINA GEOTHERMAL ENERGY

BOARD MANUAL PT PERUSAHAAN PERDAGANGAN INDONESIA (PERSERO)

PIAGAM KOMITE AUDIT. PT Wahana Ottomitra Multiartha, Tbk. DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH

I. PENDAHULUAN. 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan;

PT DANAREKSA (PERSERO) PIAGAM KOMITE AUDIT 2017

PIAGAM AUDIT INTERNAL

09Pasca. Kewirausahaan, Etika Profesi dan Hukum Bisnis

INTERNAL AUDIT CHARTER 2016 PT ELNUSA TBK

BOARD MANUAL PT PERTAMINA GEOTHERMAL ENERGY

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK (GOOD CORPORATE GOVERNANCE)

BAB II : STRUKTUR GOVERNANCE

KEPUTUSAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SINAR MAS AGRO RESOURCES & TECHNOLOGY Tbk.

PT PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO)

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 73 /POJK.05/2016 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN

PT MULTI INDOCITRA Tbk PIAGAM KOMITE AUDIT

Pedoman dan Tata Tertib Kerja Direksi

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER)

KESEPAKATAN BERSAMA DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS DALAM MENERAPKAN PEDOMAN GCG (CODE OF GCG)

12Pasca. Kewirausahaan, Etika Profesi dan Hukum Bisnis

Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk

RANCANGAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.05/2014

b. bahwa prinsip good corporate governance belum diterapkan sepenuhnya dalam lingkungan BUMN;

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18/POJK.03/2014 TENTANG PENERAPAN TATA KELOLA TERINTEGRASI BAGI KONGLOMERASI KEUANGAN

FAKTOR PENILAIAN: PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS

PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA KOMITE PEMANTAU RISIKO PT.BANK RIAU KEPRI

PIAGAM KOMITE GOOD CORPORATE GOVERNANCE (COMMITTEE GOOD CORPORATE GOVERNANCE CHARTER) PT WIJAYA KARYA BETON Tbk BAGIAN I

PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA KOMITE AUDIT

PEDOMAN DAN KODE ETIK DIREKSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2005 TENTANG PENDIRIAN, PENGURUSAN, PENGAWASAN, DAN PEMBUBARAN BADAN USAHA MILIK NEGARA

2012, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN. BAB I KETEN

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK (GOOD CORPORATE GOVERNANCE) PT JAMKRIDA RIAU

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2005 TENTANG PENDIRIAN, PENGURUSAN, PENGAWASAN, DAN PEMBUBARAN BADAN USAHA MILIK NEGARA

RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR.../POJK.../20...

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

PEDOMAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE PELAKSANA SEKRETARIAT TETAP BAPERTARUM-PNS

PEDOMAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

NOMOR 152/PMK.010/2012 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT BANK MASPION INDONESIA Tbk

Pedoman Kerja. Dewan Komisaris. & Direksi. PT Prodia Widyahusada Tbk. Revisi: 00

Transkripsi:

PEDOMAN GCG (CODE OF CORPORATE GOVERNANCE)

PEDOMAN GCG (CODE OF CORPORATE GOVERNANCE) PT (PERSERO) PENGERUKAN INDONESIA

PENGANTAR DIREKSI Segenap Manajemen yang kami hormati, Kita berada dalam suatu era yang menghendaki pengelolaan usaha yang lebih baik melalui tata kelola secara bertanggung jawab dengan sikap kehati-hatian agar dapat memberikan nilai tambah bagi peserta dan pihak lain yang berkepentingan. Oleh karena itu diharapkan segenap manajemen menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan dan kinerja PT (Persero) Pengerukan Indonesia sangat dipengaruhi oleh sikap, perilaku dan kinerja segenap pengelola baik secara individu maupun lembaga. Hal ini membutuhkan kesadaran dan upaya penuh dari segenap manajemen pengelola PT (Persero) Pengerukan Indonesia. Pedoman Good Corporate Governance, dan Pedoman Perilaku (Code of Conduct) serta pedoman lain yang telah disusun ini dimaksudkan untuk memberikan pedoman untuk membangun good corporate governance yang lebih baik lagi di lingkungan PT (Persero) Pengerukan Indonesia. Marilah kita bersama-sama membangun komitmen untuk mengelola PT (Persero) Pengerukan Indonesia dengan tata kelola yang lebih baik. Menerapkan apa yang tertulis dengan benar dan baik pada setiap tingkatan dengan kewenangan yang dimiliki. kita yakin bahwa segala usaha sekecil apapun akan memberi makna yang lebih dan akan menghasilkan manfaat di masa depan. Jakarta, Desember 2009 Direktur Utama Sugondho i

KATA SAMBUTAN KOMISARIS UTAMA Kita sadari sepenuhnya bahwa tata kelola perusahaan yang baik bukan usaha sekali jadi, namun merupakan proses berkelanjutan menuju hasil yang terbaik sehingga dalam jangka panjang tentunya akan berpengaruh positif pada kinerja secara keseluruhan. Penerapan praktik-praktik itu sendiri seyogyanya selalu ditingkatkan agar sejalan dengan dinamika perubahan lingkungan Perusahaan. Sehubungan dengan hal tersebut, kami menyambut baik diterbitkannya Pedoman Good Corporate Governance dan Pedoman Perilaku serta Pedoman lainnyai sebagai wujud komitmen manajemen PT (Persero) Pengerukan Indonesia untuk benar-benar mengimplementasikan prinsip-prinsip GCG dengan mengacu kepada praktik terbaik yang ada saat ini. Harapan kami pedoman yang mencakup berbagai aspek ini bukan hanya menjadi target kegiatan semata, namun benar-benar menjadi rujukan dalam berbagai aktivitas perusahaan guna menciptakan good corporate governance di lingkungan Perusahaan. Jakarta, Desember 2009 Komisaris Utama Nyaru Teweng ii

PERNYATAAN KOMITMEN KOMITMEN PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE PT (PERSERO) PENGERUKAN INDONESIA Kami yang bertandatangan di bawah ini, dengan tekad yang bulat menyatakan bahwa: 1. Good corporate governance dalam pengelolaan PT (Persero) Pengerukan Indonesia bukan suatu pilihan (optional) melainkan sesuatu yang mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi demi keberhasilan perusahaan di masa sekarang dan masa yang akan datang. 2. Kami bertekad menerapkan good corporate governance di dalam menjalankan amanah sebagai Pemegang Saham, Komisaris dan Direksi secara konsisten, yang kami tuangkan ke dalam Pedoman Good Corporate Governance (Code of Corporate Governance) ini. 3. Beberapa praktik pengelolaan PT (Persero) Pengerukan Indonesia yang belum diatur oleh Perundang-undangan, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan serta menuju kepada perbaikan perusahaan secara terus menerus (continuous improvement), kami sepakat menerapkan praktik terbaik (best practices) tersebut. Jakarta, Desember 2009 1. Direktur Utama Direksi 1. Komisaris Utama Dewan Komisaris Sugondho Nyaru M. Teweng iii

2. Direktur Usaha 2. Anggota Dewan Komisaris Lukman Priyadi F. Sugiono 3. Direktur Teknik 3. Anggota Dewan Komisaris Djamiat Kusnindar 4. Direktur SDM dan Keuangan Suhadi Kusumo iv

DAFTAR ISI Pengantar Direksi Sambutan Komisaris Utama Pernyataan Komitmen Daftar Isi BAB I Pendahuluan A. Tujuan Pedoman GCG (Code of Corporate Governance) B. Struktur Pedoman C. Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan i ii iii v 1 3 4 4 BAB II Prinsip-prinsip GCG A. Prinsip Transparansi B. Prinsip Kemandirian C. Prinsip Akuntabilitas D. Prinsip Pertanggungjawaban (Responsibilitas) E. Prinsip Kewajaran 6 6 7 7 8 9 BAB III Struktur Organ GCG Perusahaan A. Prinsip Dasar B. Pemegang Saham dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) C. Komisaris D. Komite Komisaris E. Komite Audit F. Sekretaris Komisaris G. Direksi H. Organ Pendukung GCG Sekretaris Perusahaan I. Organ Pendukung GCG Satuan Pengawasan Internal J. Peran Senior Manajer, General Manajer, dan Manajer K. Komite/Tim Direksi 10 10 10 15 16 18 19 20 24 27 28 29 v

BAB IV Panduan Kebijakan Perusahaan A. Umum B. Perencanaan Strategi dan Rencana Kerja C. Kebijakan Keselamatan, dan Kesehatan Kerja (K3) serta Lingkungan Hidup D. Standar Akuntansi E. Sistem Pengendalian Internal dan Audit Oleh SPI F. Penilaian Kinerja G. Pelaksanaan Audit oleh Auditor Eksternal H. Etika Berusaha dan Anti Korupsi I. Pelaporan Tahunan J. Teknologi Informasi dan Komunikasi K. Keterbukaan dan Kerahasiaan Informasi L. Pengelolaan Pengadaan Barang dan Jasa 30 30 30 34 35 35 39 40 42 43 46 47 48 BAB V Panduan Pengelolaan Stakeholders A. Umum B. Prinsip Pengelolaan Stakeholders C. Hubungan dengan Pemegang Saham... D. Pegawai E. Pemerintah dan Regulator F. Hubungan dengan Penguna Jasa G. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan 51 51 51 52 53 54 54 55 BAB VI Penutup A. Penilaian Penerapan GCG B. Sosialisasi C. Ketentuan Perubahan 57 57 57 vi

BAB I PENDAHULUAN Menyediakan jasa pengerukan dan reklamasi yang handal, terpercaya, dan mampu memenuhi kebutuhan serta kepuasan pemakai jasa merupakan suatu hal yang mutlak dilaksanakan oleh Perusahaan. Hal ini harus diikuti dengan pelayanan dan kerja di bidang pelayanan pengerukan dan reklamasi dengan ramah, efisien, cepat, dan efektif sehingga kepuasan pemakai jasa dapat terwujud. Penyelenggaraan kinerja operasi pengerukan dan reklamasi yang baik akan membawa pada peningkatan kinerja keuangan bagi Pemegang Saham secara berkesinambungan serta peningkatan citra di mata masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan Perusahaan berdasarkan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) sudah menjadi keharusan bagi manajemen PT Rukindo demi peningkatan kinerja jangka panjangnya. Corporate governance atau tata kelola perusahaan adalah struktur dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai Pemegang Saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika. Stakeholders perusahaan antara lain Pemegang Saham, kreditor, pemasok, asosiasi usaha, pegawai, pelanggan, pemerintah dan masyarakat luas. Agar penerapan good corporate governance dapat terarah dan terstruktur, Direksi memandang perlu untuk menyusun suatu Pedoman Good Corporate Governance (Code of Corporate Governance) yang menjadi acuan bagi Organ Perusahaan dan segenap pegawai PT Rukindo dalam melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing. Diharapkan seluruh aktivitas Perusahaan akan selaras dengan standar good corporate governance. Pedoman Good Corporate Governance (GCG) PT Rukindo ini merupakan wujud komitmen dan langkah proaktif manajemen untuk menerapkan tata kelola yang lebih baik bagi perusahaan. Upaya ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri BUMN Nomor 117/M-Mbu/2002 yang Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 1

mewajibkan penerapan praktik good corporate governance sebagai landasan operasional pengelolaan BUMN. Sejalan pula dengan ditetapkannya UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN yang di dalamnya terkandung pengelolaan BUMN dengan berlandaskan praktik dan prinsip good corporate governance. Dalam sistem perekonomian nasional, BUMN memiliki peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik, penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar dan turut membantu pengembangan usaha kecil/koperasi disamping sebagai sumber penerimaan negara yang signifikan. Untuk dapat mengoptimalkan peran tersebut dan mampu mempertahankan keberadaannya dalam perkembangan ekonomi yang semakin terbuka dan kompetitif, BUMN perlu menumbuhkan budaya perusahaan dan profesionalisme melalui penerapan good corporate governance dalam sistem pengelolaan BUMN. Penerapan good corporate governance ini pada gilirannya diharapkan akan memberikan kontribusi yang signifikan pada pencapaian kinerja Perusahaan serta menjaga pemenuhan terhadap ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. PT Rukindo adalah BUMN yang seluruh sahamnya dimiliki oleh negara. Karena sahamnya dimiliki oleh negara maka sebagai kuasa Pemegang Saham adalah Kementerian BUMN. Pemegang Saham mendelegasikan kewenangan pengawasan kepada Komisaris sementara Direksi adalah organ perusahaan yang melaksanakan dan bertanggung jawab penuh atas pengelolaan BUMN untuk kepentingan dan tujuan BUMN serta mewakili BUMN, baik di dalam maupun di luar pengadilan (persona standi in judicio). Tujuan penerapan good corporate governance adalah: 1. Memaksimalkan nilai perusahaan dengan cara meningkatkan prinsip transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban dan keadilan agar Perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional. 2. Mendorong pengelolaan perusahaan secara profesional, transparan dan efisien, serta memberdayakan fungsi dan kemandirian pengelola Perusahaan. Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 2

3. Mendorong agar pengelola Perusahaan dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap stakeholders maupun kelestarian lingkungan di sekitar Perusahaan. 4. Meningkatkan kontribusi Perusahaan dalam perekonomian nasional. 5. Meningkatkan iklim investasi nasional. A. Tujuan Pedoman GCG (Code of Corporate Governance) Pedoman Good Corporate Governance (Code of Corporate Governance) PT Rukindo (atau selanjutnya disebut sebagai Pedoman GCG) merupakan kristalisasi dari kaidah-kaidah GCG, peraturan perundang-undangan yang berlaku, Keputusan Menteri BUMN, visi dan misi Perusahaan serta praktik-praktik terbaik yang dikehendaki dalam prinsip GCG. Pedoman GCG akan menjadi salah satu acuan kerja bagi Komisaris, Direksi dan segenap pegawai Perusahaan, sehingga diharapkan akan tercapai standar kerja yang tinggi selaras dengan GCG. Selain itu, Pedoman GCG merupakan hasil pembahasan dan kesepakatan berbagai pihak, sehingga diharapkan mampu mengadopsi kepentingan berbagai pihak yang berkepentingan. Dengan demikian Pedoman GCG juga merupakan salah satu acuan bagi pihak yang berkepentingan dalam berhubungan dengan Perusahaan. Sebagai acuan kerja, Perusahaan akan menginformasikan kebijakan ini kepada semua pihak yang berkepentingan agar memahami dan memaklumi apa yang menjadi standar kerja Perusahaan. Perusahaan akan selalu mengkaji Pedoman GCG secara berkala sebagai upaya mencapai standar kerja yang terbaik yang dinamis bagi Perusahaan. Perusahaan akan selalu menerbitkan setiap perubahan dan tambahan yang terjadi pada Pedoman GCG. B. Struktur Pedoman Pedoman ini disusun dengan menggabungkan pendekatan struktur dan Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 3

proses mengacu kepada definisi good corporate governance menurut Keputusan Menteri BUMN Nomor 117/M-Mbu/2002. Pedoman ini terbagi dalam 6 (enam) bab yaitu: BAB I Pendahuluan BAB II Prinsip-prinsip GCG BAB III Struktur Organ GCG Perusahaan, berisi struktur dan proses governance dan hubungan kerja pada organ utama perusahaan dan organ pendukung GCG perusahaan BAB IV Panduan Kebijakan Perusahaan, berisi kebijakan yang ditetapkan manajemen dalam rangka mengelola perusahaan. BAB V Panduan Pengelolaan Stakeholders, berisi pola dan proses yang ada dalam pengelolaan perusahaan. BAB VI Penutup Pedoman ini berisi struktur, proses dan praktik governance yang diarahkan untuk menjadi payung bagi pengembangan kebijakan perusahaan guna mencapai tata kelola perusahaan yang lebih baik. Seperti sifat bisnis maka pedoman ini juga bersifat dinamis yang senantiasa perlu disesuaikan dan diperbaharui sesuai dengan perkembangan praktik yang terbaik dunia usaha. C. Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan 1. Visi Visi PT Rukindo adalah: Menjadi penyedia jasa pengerukan yang sehat dan berdaya saing tinggi 2. Misi Misi PT Rukindo adalah: Menyediakan jasa pengerukan untuk mewujudkan tercapainya tujuan Perseroan sebagai BUMN dan mampu memenuhi harapan stakeholders Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 4

3. Tujuan Perusahaan Tujuan didirikannya PT Rukindo adalah: Melakukan usaha di bidang jasa pengerukan, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki Perusahaan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perusahaan dengan menerapkan prinsipprinsip Perseroan Terbatas. Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 5

BAB II PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE Perusahaan mendefinisikan GCG sebagai sistem dan struktur untuk mengelola Perusahaan dengan tujuan meningkatkan nilai Pemegang Saham (shareholders value) serta mengakomodasi berbagai pihak yang berkepentingan dengan Perusahaan seperti kreditor, pemasok/penyedia barang dan jasa, pelanggan, pegawai, pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Sebagai implementasi hal tersebut, Perusahaan senantiasa berupaya melakukan setiap kegiatan dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai perwujudan loyalitas Perusahaan terhadap kepentingan Pemegang Saham dan stakeholders. Perusahaan juga selalu mematuhi peraturan perundangan yang berlaku serta praktik-praktik bisnis yang telah menjadi standar dalam industri jasa pengerukan. A. Prinsip Transparansi Transparansi yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan kepada stakeholders terkait. Penerapan prinsip transparansi oleh perusahaan yaitu mengungkapkan informasi keuangan dan non keuangan secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses pihak-pihak yang berkepentingan sesuai dengan haknya. Prinsip transparansi juga meliputi keterbukaan dalam aktivitas bisnis diantaranya dalam mekanisme pengambilan keputusan, proses pengadaan barang dan jasa, manajemen sumber daya manusia, pengelolaan lingkungan dan aktivitas bisnis lainnya. Upaya penerapan prinsip keterbukaan dalam rangka pengungkapan informasi dilakukan dengan tidak menyalahi peraturan tentang keterbukaan informasi. Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 6

B. Prinsip Kemandirian Kemandirian adalah pengelolaan perusahaan secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Kemandirian diterapkan dengan cara menghormati peran dan fungsi organ perusahaan dan kejelasan mekanisme untuk mencegah benturan kepentingan sehingga dapat dengan mandiri, obyektif dan bebas dari tekanan pihak manapun dalam mengambil keputusan terbaik bagi perusahaan. Perusahaan yakin bahwa kemandirian merupakan suatu keharusan agar Organ Perusahaan dapat bertugas dengan baik serta mampu membuat keputusan yang terbaik bagi Perusahaan. C. Prinsip Akuntabilitas Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban Organ Perusahaan, sehingga pengelolaan Perusahaan terlaksana secara efektif. Perusahaan meyakini bahwa akuntabilitas berhubungan dengan keberadaan sistem yang mengendalikan hubungan antara individu dan/atau organ yang ada di Perusahaan maupun hubungan antara Perusahaan dengan pihak yang berkepentingan. Akuntabilitas diterapkan melalui penetapan tanggung jawab yang jelas dari masing-masing organ perusahaan yang selaras dengan visi, misi sasaran utama dan strategi perusahaan dan pengkomunikasian hak dan kewajiban dari organ perusahaan. Perusahaan harus memastikan bahwa semua organ dan pejabat perusahaan memiliki kompetensi sesuai dengan tanggung jawabnya serta memiliki sistem pengukuran kinerja. Akuntabilitas oleh Perusahaan diperlukan sebagai salah satu solusi mengatasi masalah yang timbul sebagai konsekuensi logis perbedaan kepentingan individu dengan kepentingan Perusahaan maupun kepentingan Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 7

Perusahaan dengan pihak yang berkepentingan. Perusahaan menerapkan akuntabilitas dengan mendorong seluruh individu dan/atau Organ Perusahaan menyadari hak dan kewajiban, tugas dan tanggung jawab serta kewenangannya. Akuntabilitas ini dijalankan agar Perusahaan selalu dapat mengkomunikasikan hak dan kewajiban masing-masing dan selalu dapat mengupayakan agar pihak-pihak yang berkepentingan mampu benar-benar memahami hak dan kewajiban masing-masing tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perusahaan mengakui adanya tiga tingkatan akuntabilitas: 1. Akuntabilitas Individual Akuntabilitas individual merujuk kepada hubungan akuntabilitas dalam konteks atasan-bawahan. Akuntabilitas berlaku kepada kedua belah pihak baik yang mempunyai wewenang dan yang mendapatkan penugasan dari pemegang wewenang. 2. Akuntabilitas Tim Akuntabilitas Tim merujuk kepada adanya akuntabilitas yang ditanggung bersama oleh suatu kelompok kerja atas kondisi dan kinerja yang harus dicapai. 3. Akuntabilitas Korporasi Akuntabilitas korporasi merujuk kepada akuntabilitas Perusahaan dalam menjalankan peranannya sebagai entitas bisnis. Dalam hal ini Perusahaan bertanggungjawab atas aktivitas yang dilakukannya. D. Prinsip Pertanggungjawaban (Responsibilitas) Responsibilitas adalah kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip perusahaan yang sehat. Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 8

Responsibilitas diwujudkan melalui kepatuhan kepada peraturan perundangan yang berlaku dan berupaya meningkatkan standar kerja dengan etika yang tinggi dengan paradigma yang ingin dicapai yaitu menjadi insan perusahaan yang baik (good corporate citizen). E. Prinsip Kewajaran Kewajaran, yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundangundangan yang berlaku. Dengan kewajaran ini Perusahaan menjamin bahwa setiap Pemegang Saham mendapatkan perlakuan yang wajar, dan dapat menggunakan hak-haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perusahaan menjamin bahwa setiap pihak yang berkepentingan akan mendapatkan perlakuan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perusahaan menerapkan prinsip ini dengan menjamin bahwa Pemegang Saham dan pihak berkepentingan lainnya memperoleh haknya secara wajar dan seimbang sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku. Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 9

BAB III STRUKTUR DAN PROSES ORGAN PERUSAHAAN A. Prinsip Dasar Perusahaan meyakini bahwa hubungan yang wajar antar Organ Perusahaan sangat berpengaruh positif terhadap keberhasilan pengelolaan Perusahaan dan implementasi good corporate governance. Oleh karena itu, Perusahaan mempunyai komitmen untuk secara tegas memisahkan fungsi dan tugas masing-masing Organ Perusahaan, yaitu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Komisaris dan Direksi. Perusahaan mendorong Organ Perusahaan agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tugas dilandasi oleh itikad baik dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab Perusahaan terhadap pihak yang berkepentingan (stakeholders). Perusahaan mendorong hubungan yang wajar antar Organ Perusahaan. Masing-masing Organ Perusahaan selalu menghormati dan bertindak sesuai fungsi dan peranan masing-masing, berhubungan atas dasar prinsip kesetaraan dan saling menghargai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Struktur Corporate Governance adalah organ-organ perusahaan yang memiliki peran penting dalam penerapan good corporate governance. Struktur GCG meliputi organ utama yaitu Pemegang saham/rups, Dewan Komisaris dan Direksi serta organ pendukung GCG yaitu Komite Komisaris, Komite Audit, Sekretaris Perusahaan, dan Satuan Pengawas Internal (SPI). B. Pemegang Saham dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Pemegang Saham adalah stakeholder PT Rukindo dengan prioritas tertinggi. Pada dasarnya pengelolaan PT Rukindo ditujukan sebesar-besarnya untuk meningkatkan nilai jangka panjang Pemegang Saham. Kewenangan tertinggi PT Rukindo berada di tangan Pemegang Saham Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 10

dan dilaksanakan melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang merupakan salah satu organ Perusahaan. Oleh karena seluruh saham PT Rukindo pada saat ini dimiliki 100% oleh negara, maka Menteri Negara BUMN selaku Pemegang Saham sekaligus bertindak sebagai RUPS. Melalui RUPS tersebut Pemegang Saham memberikan amanat kepada Direksi untuk melaksanakan pengurusan atau mengelola perusahaan dan kepada Komisaris untuk mengawasi (oversee) dan memberikan nasihat dalam pelaksanaan pengurusan perusahaan oleh Direksi. 1. Hak Pemegang Saham Hak Pemegang Saham adalah: a. Menghadiri dan memberikan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). b. Memperoleh penjelasan dan informasi material mengenai perusahaan secara tepat waktu dan teratur. c. Menerima pembagian dari keuntungan Perusahaan dalam bentuk deviden. d. Memperoleh penjelasan dan informasi berkenaan dengan penyelenggaraan RUPS. e. Menyelenggarakan RUPS dalam hal Direksi dan/atau Komisaris lalai menyelenggarakan RUPS Tahunan, dan sewaktu-waktu dapat meminta diselenggarakannya RUPS Luar Biasa bila dipandang perlu, misalnya bila perusahaan mengalami penurunan kinerja yang signifikan. 2. Wewenang Pemegang Saham Wewenang Pemegang Saham adalah: a. Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisaris dan Direksi. b. Melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) dalam rangka pengangkatan Komisaris dan Direksi. c. Menetapkan jumlah dan komposisi Komisaris serta Direksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku (termasuk perlu tidaknya pengangkatan Komisaris Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 11

Independen). d. Menetapkan jumlah maksimum jabatan Komisaris yang dapat dirangkap oleh Komisaris dan atau oleh Direksi. e. Menetapkan jabatan-jabatan yang tidak boleh dirangkap oleh Komisaris dan Direksi. f. Menetapkan gaji dan tunjangan (remunerasi) anggota Komisaris dan Direksi. Dalam hal perusahaan memperoleh keuntungan, Pemegang saham menetapkan besarnya insentif untuk Komisaris dan Direksi sebagai imbalan atas prestasi kerjanya. Usulan untuk perbaikan sistem remunerasi dan besarnya insentif tersebut diajukan oleh Direksi. g. Melakukan penilaian kinerja Komisaris dan Direksi baik secara individual dan kolegial dengan menggunakan indikator penilaian kinerja/key Performance Indicators (KPI) yang ditetapkan oleh RUPS. Indikator penilaian kinerja/kpi dituangkan dalam sebuah Kontrak Manajemen yang ditanda tangani oleh Direksi, Komisaris, dan Pemegang Saham. h. Mengesahkan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP). i. Menyetujui Laporan Tahunan dan mengesahkan Perhitungan Tahunan yang telah diaudit oleh Auditor Eksternal paling lambat 6 (enam) bulan setelah berakhirnya tahun buku serta menilai tingkat kesehatan perusahaan. j. Memutuskan penggunaan laba bersih termasuk penentuan jumlah penyisihan untuk cadangan. k. Menetapkan Auditor Eksternal yang diusulkan oleh Komisaris dalam RUPS. 3. Peran Pemegang Saham Peran Pemegang Saham adalah: a. Wajib memenuhi ketentuan Anggaran Dasar dan keputusan-keputusan yang diambil melalui mekanisme RUPS di samping itu juga memastikan bahwa semua kegiatan perusahaan telah mematuhi peraturan Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 12

perundangan. b. Tidak mencampuri kegiatan operasional perusahaan dan menghindarkan benturan kepentingan dalam pengambilan keputusan mengenai hal-hal penting yang dapat mempengaruhi keberadaan perusahaan untuk jangka panjang, misalnya pengambilan keputusan dalam hal merger, akuisisi dan privatisasi. c. Tidak membuat keputusan dan kebijakan yang bersifat operasional perusahaan yang menjadi tanggung jawab Direksi. d. Memantau pelaksanaan penerapan good corporate governance dalam pengelolaan perusahaan. 4. RUPS Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merupakan organ perusahaan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris. RUPS merupakan mekanisme bagi Pemegang Saham dalam mengarahkan Perusahaan dan mekanisme bagi pertanggungjawaban Direksi dan Komisaris kepada Pemegang Saham atas pelaksanaan tugas dan kinerjanya. Perusahaan mengenal 2 (dua) macam RUPS, yaitu RUPS Tahunan serta RUPS Luar Biasa. Pada setiap pelaksanaan RUPS, Perusahaan senantiasa berpedoman pada hal-hal sebagai berikut: a. Setiap Pemegang Saham berhak memperoleh penjelasan lengkap dan informasi yang akurat mengenai prosedur yang harus dipenuhi berkenaan dengan penyelenggaraan RUPS. Informasi ini meliputi penjelasan mengenai hal-hal lain yang berkaitan dengan agenda RUPS yang diberikan sebelum RUPS berlangsung maupun dan juga pada saat RUPS berlangsung. b. Informasi dan/atau usulan-usulan dalam panggilan untuk RUPS tersebut harus disediakan di kantor Perusahaan sebelum RUPS diselenggarakan. c. Keputusan RUPS harus diambil melalui prosedur yang transparan dan adil. Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 13

d. Risalah RUPS harus memuat pendapat, baik yang mendukung maupun yang tidak mendukung usulan yang diajukan, dan disimpan oleh Direksi sebagaimana mestinya. RUPS Tahunan ditujukan untuk: a. Memberikan persetujuan atas laporan tahunan, b. Memberikan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). RUPS tahunan juga dimaksudkan untuk mendengarkan laporan hasil pengawasan Komisaris dan masukan-masukan yang diberikan Komisaris dalam pengelolaan perusahaan. Pengesahan perhitungan tahunan oleh RUPS berarti memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya (acquit at decharge) kepada para anggota Direksi dan anggota Komisaris atas pengurusan dan pengawasan yang telah dijalankan selama tahun buku yang lalu seperti yang tercantum dalam perhitungan tahunan. Namun demikian, pengesahan dan pembebasan tanggung jawab tersebut tidak melepaskan tanggung jawab hukum terhadap Direksi dan/atau Dewan Komisaris apabila laporan yang diungkapkan tersebut terbukti melanggar prosedur hukum yang berlaku dan/atau ternyata di kemudian hari terbukti adanya tindakan yang menyimpang dan/atau merugikan perusahaan. Pengesahan rencana kerja dan anggaran perusahaan dilakukan oleh RUPS untuk tahun buku yang akan datang. Disamping RUPS tahunan, terdapat RUPS luar biasa yang dilaksanakan di luar jadwal RUPS tahunan dan bila dipandang perlu oleh Pemegang Saham. Pelaksanaan RUPS harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. Guna efektivitas penyelenggaraan RUPS harus dilakukan persiapan antara lain Agenda RUPS telah memuat hal-hal yang penting untuk diputuskan dan Transaksi-transaksi penting telah diungkapkan dalam RUPS. Pengambilan keputusan RUPS dilaksanakan melalui prosedur yang Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 14

adil dan transparan. Keputusan RUPS sudah diambil dengan mempertimbangkan kepentingan pihak terkait. Keputusan RUPS harus dilaksanakan oleh Direksi dan seluruh pejabat struktural di bawahnya dengan pengawasan Komisaris. Risalah RUPS mencantumkan dissenting opinion yang menggambarkan dinamika rapat, baik yang mendukung maupun yang tidak mendukung usulan yang diajukan (bila ada). C. Komisaris Komisaris adalah organ perusahaan yang bertugas melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada Direksi dalam menjalankan kegiatan pengurusan perusahaan, serta menjalankan kewenangan yang diberikan kepadanya oleh Anggaran Dasar Perusahaan atau kekuasaan lain yang didelegasikan oleh Pemegang Saham/RUPS. Dalam melaksanakan tugasnya, Komisaris selalu berpegang teguh kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku, Anggaran Dasar Perusahaan, dan Panduan Bagi Komisaris dan Direksi (Board Manual). Prinsip-prinsip yang dikembangkan Komisaris dalam melaksanakan tugasnya adalah: 1. Komisaris wajib melakukan pengawasan dan memberikan nasihat. 2. Pengawasan dan pemberian nasihat yang dilakukan Komisaris tidak akan berubah menjadi pelaksanaan tugas-tugas eksekutif, karena pelaksanaan tugas-tugas eksekutif perusahaan merupakan kewenangan Direksi. 3. Pengawasan dan pemberian nasihat yang dilakukan Komisaris dilaksanakan, baik untuk keputusan yang sudah diambil, maupun terhadap putusan yang akan diambil. 4. Fungsi pengawasan dapat dilakukan oleh masing-masing Anggota Komisaris sesuai pembagian tugas, namun keputusan pemberian nasihat dilakukan atas nama Komisaris secara kolektif (sebagai Dewan Komisaris). 5. Fungsi pengawasan dan pemberian nasihat adalah proses yang berkelanjutan. Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 15

Oleh karena itu, Komisaris berkomitmen tinggi untuk menyediakan waktu dan melaksanakan seluruh tugas Komisaris secara bertanggungjawab. Pelaksanaan tugas tersebut di antaranya adalah: a) Pelaksanaan rapat secara berkala satu bulan sekali. b) Pemberian nasihat, tanggapan dan/atau persetujuan secara tepat waktu dan berdasarkan pertimbangan yang memadai. c) Pemberdayaan komite-komite yang dimiliki Komisaris. d) Mendorong terlaksananya implementasi good corporate governance. D. Komite Komisaris Komisaris, selain diwajibkan untuk membentuk Komite Audit, juga dapat mempertimbangkan untuk membentuk komite lain yang terdiri Komite Nominasi, Komite Remunerasi serta Komite Risiko Usaha dan Asuransi guna menunjang pelaksanaan tugasnya. Pembentukan Komite disahkan dengan Surat Keputusan Komisaris. Apabila komite yang dibentuk dinilai tidak relevan, maka dapat diakhiri keberadaannya. Komite Komisaris yang dapat dibentuk, selain Komite Audit, sesuai dengan Keputusan Menteri BUMN Nomor 117/M-Mbu/2002 antara lain: 1. Komite Nominasi bertugas membantu Komisaris untuk : a. Menyusun kriteria seleksi dan prosedur nominasi bagi Anggota Komisaris dan Direksi, apabila diminta oleh RUPS atau apabila dipandang perlu oleh Komisaris dan/atau Direksi. Komisaris dapat mengusulkan hasil kriteria seleksi dan prosedur nominasi tersebut kepada RUPS. b. Menyusun kriteria seleksi dan prosedur nominasi bagi Anggota Komisaris Anak Perusahaan dan Direksi Anak Perusahaan yang berasal dari Perusahaan, sedangkan penetapan Komisaris Anak Perusahaan dan Direksi Anak Perusahaan menjadi kewenangan Direksi selaku Pemegang Saham Anak Perusahaan. c. Membuat sistem penilaian dan memberikan rekomendasi tentang jumlah Anggota Komisaris dan Direksi. Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 16

2. Komite Remunerasi bertugas membantu Komisaris untuk: a. Membuat sistem pemberian uang jasa dan tunjangan purna jabatan bagi Komisaris. Komisaris dapat mengusulkan sistem pemberian uang jasa dan tunjangan purna jabatan bagi Komisaris kepada RUPS. b. Memberikan penjelasan lengkap kepada Komisaris mengenai sistem untuk pemberian uang jasa dan tunjangan purna jabatan bagi Komisaris serta rincian mengenai uang jasa dan tunjangan purna jabatan yang diterima oleh Komisaris yang sedang menjabat. Komisaris menyampaikan penjelasan tersebut kepada RUPS. c. Membuat sistem penggajian, fasilitas dan/atau pemberian tunjangan bagi Direksi. Komisaris dapat mengusulkan sistem penggajian, fasilitas dan/atau pemberian tunjangan bagi Direksi tersebut kepada RUPS. d. Memberikan penjelasan lengkap kepada Komisaris mengenai sistem penggajian, fasilitas dan/atau pemberian tunjangan bagi Direksi serta rincian mengenai gaji, fasilitas dan/atau tunjangan yang diterima Direksi yang sedang menjabat. Komisaris menyampaikan penjelasan tersebut kepada RUPS. e. Merekomendasikan kepada Komisaris mengenai sistem kompensasi serta manfaat lainnya dalam hal pengurangan pegawai. Komisaris menyampaikan rekomendasi tersebut kepada RUPS. 3. Komite Risiko Usaha dan Asuransi, bertugas untuk membantu Komisaris dalam melakukan penilaian dan memberikan rekomendasi tentang jenis dan jumlah asuransi yang ditutup oleh Perusahaan. E. Komite Audit Komite Audit dibentuk oleh Komisaris PT Rukindo dengan maksud untuk membantu Komisaris memenuhi tanggung jawabnya dalam melaksanakan fungsi pengawasan atas kinerja manajemen (oversight function) secara menyeluruh. Komite Audit berfungsi membantu Komisaris dalam melaksanakan tugasnya, bekerja secara kolektif dan bersifat mandiri baik dalam pelaksanaan tugasnya maupun pelaporan, serta bertanggung jawab langsung kepaada Komisaris. Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 17

Keanggotaan Komite Audit diketuai oleh salah satu anggota Komisaris dengan anggota yang diangkat dari pihak independen untuk jangka waktu tertentu. Keanggotaan Komite Audit diangkat melalui Surat Keputusan Komisaris. Komite Audit mempunyai tugas sebagai berikut: 1. Menilai pelaksanaan kegiatan serta hasil audit yang dilakukan oleh Satuan Pengawasan Intern maupun Auditor Ekstern sehingga dapat dicegah pelaksanaan dan pelaporan yang tidak memenuhi standar. 2. Memberikan rekomendasi mengenai penyempurnaan sistem pengendalian intern perusahaan serta pelaksanaannya. 3. Memastikan bahwa telah terdapat prosedur review yang memuaskan terhadap informasi yang dikeluarkan Perusahaan, termasuk brosur, laporan keuangan berkala, proyeksi/forecast dan informasi keuangan lainnya yang disampaikan kepada Pemegang Saham. 4. Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Komisaris. 5. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Komisaris sepanjang masih dalam lingkup tugas dan kewajiban Komisaris berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 6. Menyusun piagam dan program kerja Komite Audit untuk diusulkan kepada Komisaris. Apabila diperlukan, Komite Audit dapat mengajukan permintaan kepada Komisaris bantuan tenaga yang independen, untuk mendukung kelancaran tugasnya. Kewajiban Komite Audit: 1. Anggota Komite Audit memiliki komitmen dalam pelaksanaan tugasnya. 2. Komite Audit wajib memberikan laporan kepada Komisaris, berupa: a. Hasil evaluasi yang dilakukan Komite Audit. b. Laporan berkala, yang berisi pokok-pokok hasil kerja Komite Audit, disampaikan sekurang-kurangnya tiap bulan sekali. c. Laporan khusus, yang berisi temuan yang diperkirakan dapat mengganggu kegiatan perusahaan, dilaporkan selambat-lambatnya 2x24 Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 18

jam, setelah instruksi pembuatan laporan, atau setelah diketahui terjadi hal yang perlu dilaporkan secara khusus. 3. Anggota Komite Audit minimal 4 (empat) hari dalam sebulan hadir di kantor PT Rukindo. 4. Anggota Komite Audit wajib menjaga kerahasiaan segala informasi yang diperoleh selama menjalankan tugas di PT Rukindo. F. Sekretaris Komisaris Untuk membantu kelancaran pelaksanaan tugasnya, Komisaris atas biaya Perusahaan berhak mendapatkan bantuan Sekretaris Komisaris. Sekretaris Komisaris menjalankan tugas-tugas administrasi dan kesekretariatan yang berkaitan dengan seluruh kegiatan Komisaris. Sekretaris Komisaris mempunyai fungsi pokok untuk memberikan dukungan administratif dan kesekretariatan kepada Komisaris guna memperlancar tugas-tugas Komisaris dalam melaksanakan tanggung jawabnya, yaitu: 1. Menyelenggarakan kegiatan di bidang kesekretariatan dalam lingkungan Komisaris. 2. Menyediakan informasi untuk kebutuhan Komisaris dalam rangka pengambilan keputusan. 3. Mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk rapat Komisaris. 4. Mempersiapkan bahan-bahan/materi yang diperlukan berkaitan dengan hal-hal yang harus mendapatkan keputusan atau rekomendasi Komisaris seperti rencana penerimaan pinjaman jangka pendek dari bank atau lembaga keuangan lain, mengadakan kerja sama operasi atau kontrak manajemen serta permasalahan yang harus mendapatkan perhatian Komisaris. 5. Menyelenggarakan rapat Komisaris, termasuk tetapi tidak terbatas pada menyiapkan undangan, mengirimkan undangan dan materi rapat serta pembuatan risalah rapat. 6. Mengadministrasikan risalah rapat dan dokumen Komisaris lainnya serta Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 19

mengirimkan salinan risalah rapat kepada pihak-pihak yang berkepentingan. G. Direksi Direksi adalah organ perusahaan yang bertanggung jawab penuh atas pengelolaan Perusahaan untuk kepentingan dan tujuan BUMN serta mewakili BUMN, baik di dalam maupun di luar pengadilan dan wajib mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada Pemegang Saham/RUPS. 1. Prinsip Dasar Prinsip dasar dan komitmen Direksi Perusahaan dalam menjalankan pengurusan Perusahaan tersebut adalah: a. Direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas pengurusan Perusahaan dengan tetap memperhatikan keseimbangan kepentingan seluruh pihak yang berkepentingan dengan aktivitas Perusahaan. b. Direksi wajib tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, Anggaran Dasar dan keputusan RUPS dan memastikan seluruh aktivitas Perusahaan telah sesuai dengan ketentuan peraturan peraturan perundang-undangan yang berlaku, Anggaran Dasar, keputusan RUPS serta peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Perusahaan. c. Direksi dalam memimpin dan mengurus Perusahaan semata-mata hanya untuk kepentingan dan tujuan Perusahaan dan senantiasa berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas Perusahaan. d. Direksi senantiasa memelihara dan mengurus kekayaan Perusahaan secara amanah dan transparan. Untuk itu Direksi mengembangkan sistem pengendalian internal dan sistem manajemen risiko secara terstruktur dan komprehensif. e. Direksi akan menghindari kondisi di mana tugas dan kepentingan Perusahaan berbenturan dengan kepentingan pribadi. Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 20

2. Kebijakan Pengurusan Perusahaan oleh Direksi Kebijakan Pengurusan Perusahaan adalah suatu keputusan atau tindakan yang diambil oleh Direksi di dalam menjalankan, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan kerja tertentu atau menyelesaikan suatu permasalahan tertentu, di mana substansi permasalahan atau kegiatan kerja dimaksud belum diatur dalam suatu aturan yang baku. Kebijakan yang diambil oleh Direksi berupa suatu kebijakan yang diambil melalui Rapat Direksi atau dapat pula diambil di luar rapat Direksi sepanjang seluruh anggota Direksi setuju tentang cara dan materi yang diputuskan. Dalam rangka menggunakan dan menjalankan hak dan kewajiban tersebut dalam kegiatan sehari-hari maka prinsip-prinsip berikut ini dipatuhi oleh Direksi: a. Dalam hal suatu kebijakan yang diambil oleh Direksi secara kolegial merupakan sesuatu yang substansinya bersifat strategis dan material maka kebijakan tersebut harus mendapat persetujuan Rapat Direksi. Penjabaran lebih lanjut mengenai kebijakan yang bersifat strategis dan material dijabarkan dalam kebijakan tersendiri. b. Dalam mengambil kebijakan atau keputusan atas suatu permasalahan yang timbul, setiap Anggota Direksi wajib mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut: 1) Itikad baik 2) Pertimbangan rasional dan informasi yang cukup 3) Investigasi memadai terhadap permasalahan yang ada serta berbagai kemungkinan pemecahannya beserta dampak positif dan negatifnya bagi Perusahaan 4) Dibuat berdasarkan pertimbangan semata-mata untuk kepentingan Perusahaan 5) Koordinasi dengan Anggota Direksi lainnya khususnya untuk suatu kebijakan yang akan berdampak langsung maupun tidak langsung kepada tugas dan kewenangan serta kebijakan Anggota Direksi Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 21

lainnya. c. Dalam menjalankan kewajiban sehari-hari, Direksi senantiasa mempertimbangkan kesesuaian tindakan dengan rencana dan tujuan Perusahaan. d. Pendelegasian wewenang anggota Direksi kepada pegawai atau pihak lain untuk melakukan perbuatan hukum atas nama Perusahaan wajib dinyatakan dalam bentuk dokumen tertulis dan disetujui oleh Direktur Utama. e. Bentuk-bentuk Kebijakan Pengurusan Perusahaan seperti Surat Keputusan dan lain-lain, diatur dalam Dokumen Perusahaan tersendiri. 3. Kontrak Manajemen dan Penilaian kinerja Direksi Direksi memiliki peranan penting dalam pengurusan dan pencapaian kinerja Perusahaan. Direksi bertanggung jawab untuk mengembangkan strategi dan menjamin keberhasilan pelaksanaan rencana-rencana dalam upaya mencapai sasaran dan tujuan Perusahaan. Dalam rangka pencapaian sasaran dan tujuan Perusahaan, Pemegang Saham Perusahaan membuat Kontrak Manajemen bagi Direksi. Dengan Kontrak Manajemen tersebut Direksi mempunyai arah, sasaran dan kinerja yang terukur yang harus direalisasikan dalam masa tugasnya. Kontrak manajemen memuat janji atau pernyataan Direksi untuk memenuhi segala target-target yang ditetapkan Pemegang Saham yang diperbaharui setiap tahun untuk menyesuaikan dengan kondisi dan perubahan yang terjadi di perusahaan. Komisaris dan Direksi menandatangani kontrak manajemen dengan Pemegang Saham. Proses pelaporan manajemen tentang target dan capaian tentang kinerja perusahaan dilakukan setiap tahun. Pelaporan dilakukan untuk memonitor pertanggungjawaban kinerja secara berkala (semesteran) oleh Pemegang Saham. Kontrak Manajemen juga merupakan indikator untuk menentukan evaluasi kinerja Direksi. Dengan demikian evaluasi kinerja Direksi dapat lebih Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 22

transparan, fair dan dapat dipertanggungjawabkan. Direksi wajib menyampaikan laporan tahunan dalam waktu 5 (lima) bulan setelah tahun buku perusahaan ditutup kepada RUPS untuk memperoleh pengesahan. Laporan tahunan tersebut ditandatangani oleh semua anggota Direksi sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pengelolaan perusahaan dan Komisaris sebagai bentuk pengawasan atas pengelolaan perusahaan. Persetujuan laporan tahunan dan pengesahan perhitungan tahunan dilakukan oleh RUPS. Keputusan atas persetujuan laporan tahunan dan pengesahan perhitungan tahunan diambil sesuai dengan ketentuan Undang- Undang dan atau Anggaran Dasar. Dalam hal dokumen perhitungan tahunan yang disediakan ternyata tidak benar dan atau menyesatkan, anggota Direksi dan Komisaris bertanggung jawab secara tanggung renteng. Dalam hal perusahaan mencapai tingkat keuntungan, maka perusahaan dapat memberikan insentif kepada Komisaris, Direksi dan pegawai sebagai imbalan atas prestasi kerjanya. RUPS/Pemegang saham menetapkan besaran imbalan prestasi kerja yang akan diberikan. Komisaris dapat mengusulkan kepada RUPS mengenai sistem pemberian uang jasa dan tunjangan purna jabatan bagi Komisaris dan Direksi. H. Organ Pendukung GCG - Sekretaris Perusahaan Sekretaris Perusahaan merupakan penghubung (liaison officer) antara perusahaan dengan pihak-pihak berkepentingan serta menjaga kepatuhan terhadap hukum dan perundangan. Kedudukan Sekretaris Perusahaan berada dibawah Direksi oleh sebab itu pertanggung-jawaban Sekretaris Perusahaan kepada Direksi dan melaporkan pelaksanaan tugasnya secara berkala maupun sewaktu-waktu bila dibutuhkan oleh Direksi. Sekretaris perusahaan ditugaskan oleh Direksi untuk menatausahakan Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 23

serta menyimpan dokumen Direksi perusahaan termasuk tapi tidak terbatas pada daftar Pemegang Saham, Daftar Khusus dan Risalah Rapat Direksi maupun RUPS/RUPSLB. 1. Keanggotaan Sekretaris Perusahaan harus memiliki kualifikasi akademis yang memadai agar dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Kualifikasi Kepala Unit Kerja Sekretaris Perusahaan adalah memiliki pendidikan minimal S1. Pejabat Sekretaris perusahaan memiliki kualifikasi: a. Menguasai mekanisme hubungan dengan media massa, cetak dan elektronik. b. Memiliki pengetahuan di bidang Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik, terutama yang berhubungan dengan bidang usaha perusahaan. c. Memahami kebijakan-kebijakan Pemerintah terutama yang berhubungan dengan bidang usaha perusahaan. d. Menguasai kebutuhan bahasa yang berkaitan dengan tugasnya misalnya penguasaan Bahasa Indonesia untuk kepentingan protokoler (formal), pemahaman Bahasa Inggris dan bahasa lain yang diperlukan. 2. Tugas dan Kewajiban Sekretaris Perusahaan Berkaitan dengan Pemegang Saham, Komisaris dan Direksi, Sekretaris Perusahaan bertugas: a. Melaksanakan pengelolaan dokumen Perusahaan termasuk tetapi tidak terbatas pada Daftar Pemegang Saham, Daftar Khusus serta Risalah Rapat Direksi maupun RUPS. b. Menyusun jadual dan tahapan kegiatan menjelang RUPS/ RUPSLB. c. Mengikuti rapat-rapat Direksi, rapat gabungan Direksi dan Komisaris. d. Membuat risalah rapat yang dilakukan Direksi, Komisaris maupun RUPS. e. Mengkoordinir pelaksanaan tindak lanjut dari hasil rapat, keputusan dan arahan Direksi, Komisaris dan Pemegang Saham. f. Menyampaikan kepada Sekretaris Dewan Komisaris bahan- Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 24

bahan/dokumen/laporan manajemen yang diperlukan dalam rapat Komisaris. Bahan-bahan tersebut antara lain: Laporan Bulanan Perusahaan, Laporan Triwulanan Perusahaan serta Laporan Tahunan Perusahaan. Berkaitan dengan kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan, Sekretaris Perusahaan bertugas: a. Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, pelaksanaan, penelaahan, pengendalian di bidang good corporate governance. b. Memastikan perusahaan mematuhi peraturan hukum dan perundangundangan yang berlaku. c. Melakukan kajian atas perubahan dan perkembangan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan bidang usaha perusahaan. d. Menyeleksi informasi-informasi yang relevan untuk dipublikasikan. e. Mengkoordinasikan pelaksanaan dan penerapan Good corporate Governance di lingkungan perusahaan. Berkaitan dengan unit kerja dan kantor cabang, Sekretaris Perusahaan bertugas: a. Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, pelaksanaan, penelaahan, pengendalian di bidang hubungan antar lembaga termasuk anak Perusahaan, strategi bisnis unit, unit pelaksana bisnis lainnya, kehumasan dan juru bicara Perusahaan serta hubungan industrial. b. Mengumumkan kebijakan dan produk hukum internal dan eksternal perusahaan c. Melancarkan informasi/komunikasi Direksi dan manajemen di bawah Direksi. d. Pelaksana tugas-tugas protokoler Penyelenggaraan Kesekretariatan dan Kerumah- tanggaan Direksi. Berkaitan dengan stakeholders lainnya, Sekretaris Perusahaan bertugas: a. Mengkomunikasikan hal-hal yang perlu dikomunikasikan dengan Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 25

stakeholders perusahaan antara lain: media massa, masyarakat, lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan pihak berkepentingan lainnya. b. Merencanakan dan melaksanakan kegiatan perusahaan yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan. 3. Hak dan wewenang a. Sekretaris Perusahaan mengatur dan menggariskan kebijaksanaan teknis dan operasional para pejabat di bawah sekretariat perusahaan dan mekanisme kerja dibawahnya. b. Memutuskan materi berbagai formulasi materi berbagai formula kerja (perangkat lunak) dan formulir kerja pendukung dengan mempedomani kebijakan Direksi. c. Memperluas pengetahuan dalam Bidang Kehumasan dan Komunikasi. I. Organ Pendukung GCG Satuan Pengawasan Internal Satuan Pengawasan Internal (SPI) merupakan aparat pengawas internal perusahaan yang dipimpin oleh seorang kepala dan bertanggungjawab kepada Direktur Utama. Satuan Pengawasan Internal dibentuk untuk membantu Direktur Utama dalam melaksanakan pemeriksaan operasional Perusahaan serta menilai pengendalian, pengelolaan dan pelaksanaan, serta memberikan saran-saran perbaikannya. 1. Kedudukan dalam organisasi a. Kedudukan Unit kerja SPI PT Rukindo langsung berada di bawah Direktur Utama. Kedudukan ini menjamin independensi SPI terhadap kegiatan yang diaudit. b. SPI merupakan Unit Kerja yang independen terhadap manajemen. c. Kewenangan yang cukup pada SPI untuk mendorong tindak lanjut dan rekomendasi dari hasil-hasil pemeriksaannya. d. Kedudukan dan kewenangan ini dituangkan dalam Piagam SPI (Internal Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 26

Audit Charter) yang menegaskan independensi dan objektivitas SPI. 2. Komposisi dan keanggotaan a. Kepala SPI sekurang kurangnya memiliki kualifikasi pendidikan minimal Sarjana (S1) bidang ekonomi/keuangan/akuntansi dan/atau telah bekerja di perusahaan sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun. b. Sebagai auditor setiap personil SPI harus memiliki pengetahuan dan pemahaman di bidang ekonomi/keuangan/audit dan akuntansi. c. Memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidang manajemen, industri jasa pengerukan dan bidang lainnya yang mendukung pelaksanaan tugas. d. Jumlah dan kualitas personil yang ditugaskan di SPI memadai: 1) Jumlah anggota SPI cukup memadai seimbang dengan luas kegiatan dan risiko usaha perusahaan. 2) Pendekatan perencanaan dan pelaksanaan audit harus tepat guna mencapai efisiensi dan efektivitas audit sejalan dengan risiko yang dihadapi perusahaan. 3) Seluruh personil SPI harus memahami standar dan kode etik profesi Auditor Internal. 4) Pendidikan, latar belakang dan pelatihan profesional personil SPI harus dapat menunjang pelaksanaan tugas mereka. Tugas dan Kewajiban, Hak dan Wewenang, dan Pola Hubungan dengan Komite Audit dan Auditor Eksternal diatur dalam Piagam SPI (Internal Audit Charter) J. Peran Senior Manajer, General Manajer, dan Manajer Senior Manajer, General Manager, Manajer, dan Kepala Urusan untuk selanjutnya disebut Tim Manajemen merupakan tulang punggung pelaksanaan tugas Direksi. Atas pengelolaan perusahaan yang diembannya, Direksi dapat mendelegasikan wewenang kepada Tim Manajemen sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Tim Manajemen harus memberi masukan kepada Direksi atas isu-isu Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 27

strategis yang diperlukan Direksi dalam pengambilan keputusan, dengan tetap memahami batas-batas otoritas dan tanggung jawab. Tim Manajemen membantu Direksi dalam mengkoordinasikan setiap kebutuhan informasi termasuk informasi dari Kantor Cabang. Tim Manajemen mengetahui risiko-risiko yang berkaitan dengan kegiatan usaha yang dikelola dan menilai kemungkinan yang dapat menimbulkan risiko tersebut. Meyakinkan risiko signifikan telah dimonitor secara tepat melalui dokumentasi formal dan reviu atas risiko tersebut, serta tindakan menguranginya, serta telah melaporkan kepada Direksi secara reguler dan terkendali. Tim Manajemen membantu dan memberi dukungan sepenuhnya kepada SPI dalam melaksanakan tugasnya, serta melakukan koreksi ataupun tindak lanjut atas hasil temuan SPI. Tim Manajemen memastikan seluruh pegawai telah sadar akan tanggung jawabnya dalam melaksanakan tugas. Tim Manajemen mengelola SDM meliputi proses perencanaan, pemenuhan kebutuhan, seleksi dan program orientasi, penempatan, pengembangan dan mutasi serta pemberhentian pekerja. Pengelolaan SDM dimaksudkan untuk memastikan bahwa Perusahaan selalu memiliki sumber daya manusia yang unggul dan dapat diarahkan dan digerakkan untuk mencapai tujuan-tujuan Perusahaan. Tim Manajemen memiliki wewenang: 1. Mengusulkan kebijakan, prosedur dan standar untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan usaha serta mengukur kinerja dan perkembangannya. 2. Melakukan tindakan koreksi terhadap permasalahan yang telah diidentifikasi maupun yang telah diantisipasi. 3. Penetapan sistem perencanaan dan sistem pelaporan yang mampu memuat rencana manajemen dan hasil dari kinerja yang sebenarnya. Sistem ini meliputi perencanaan bisnis, penganggaran, peramalan, dan perencanaan Pedoman GCG PT (Persero) Pengerukan Indonesia 28