Dosen Pembimbing: Ir. Mas Agus Mardyanto, ME., PhD

dokumen-dokumen yang mirip
STUDI KEMAMPUAN SPIRULINA SP. UNTUK MENURUNKAN KADAR NITROGEN DAN FOSFAT DALAM AIR BOEZEM PADA SISTEM HIGH RATE ALGAL REACTOR (HRAR)

Effect of Aeration and Natural Light in Capability of High Rate Algae Reactor (HRAR) for Organic Matter Removal of Domestic Urban Wastewater

EFEK AERASI DAN KONSENTRASI SUBSTRAT PADA LAJU PERTUMBUHAN ALGA MENGGUNAKAN SISTEM BIOREAKTOR PROSES BATCH

PENGARUH AERASI DAN PENCAHAYAAN ALAMI TERHADAP KEMAMPUAN HIGH RATE ALGAE REACTOR (HRAR) DALAM PENURUNAN NITROGEN DAN FOSFAT PADA LIMBAH PERKOTAAN

OXIDATION DITCH ALGA REACTOR DALAM PEGOLAHAN ZAT ORGANIK LIMBAH GREY WATER

KINERJA ALGA-BAKTERI UNTUK REDUKSI POLUTAN DALAM AIR BOEZEM MOROKREMBANGAN, SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. tetapi limbah cair memiliki tingkat pencemaran lebih besar dari pada limbah

STUDI KEMAMPUAN Spirulina Sp. UNTUK MENURUNKAN KADAR NITROGEN DAN FOSFAT DALAM AIR BOEZEM PADA SISTEM HIGH RATE ALGAL REACTOR (HRAR)

Efek Aerasi dan Konsentrasi Substrat pada Laju Pertumbuhan Alga Menggunakan Sistem Bioreaktor Proses Batch

PENURUNAN KONSENTRASI CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD)

STUDI KINERJA BOEZEM MOROKREMBANGAN PADA PENURUNAN KANDUNGAN NITROGEN ORGANIK DAN PHOSPAT TOTAL PADA MUSIM KEMARAU.

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: ( Print) D-98

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh Konsentrasi Nutrien dan Konsentrasi Bakteri Pada Prosduksi Alga Dalam Sistem Bioreaktor Proses Batch

A. BAHAN DAN ALAT B. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

Penambahan Urea sebagai Co-Substrat pada Sistem High Rate Algae Reactor (HRAR) untuk Pengolahan Air Limbah Tercemar Minyak Solar

BAB V ANALISA AIR LIMBAH

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini pesatnya perkembangan industri di berbagai daerah di tanah air

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton. Ima Yudha Perwira, SPi, Mp

EFEK AERASI TERHADAP DOMINASI MIKROBA DALAM SISTEM HIGH RATE ALGAE POND (HRAP) UNTUK PENGOLAHAN AIR BOEZEM MOROKREMBANGAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. permintaan pasar akan kebutuhan pangan yang semakin besar. Kegiatan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

BAB I PENDAHULUAN. pencemaran yang melampui daya dukungnya. Pencemaran yang. mengakibatkan penurunan kualitas air berasal dari limbah terpusat (point

BAB VII PETUNJUK OPERASI DAN PEMELIHARAAN

PERSYARATAN PENGAMBILAN. Kuliah Teknologi Pengelolaan Limbah Suhartini Jurdik Biologi FMIPA UNY

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH MAKAN (RESTORAN) DENGAN UNIT AERASI, SEDIMENTASI DAN BIOSAND FILTER

BAB I PENDAHULUAN. limbah yang keberadaannya kerap menjadi masalah dalam kehidupan masyarakat.

adalah air yang telah dipergunakan yang berasal dari rumah tangga atau bahan kimia yang sulit untuk dihilangkan dan berbahaya.

Mukhlis dan Aidil Onasis Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang

Pengaturan Debit Seragam terhadap Kualitas Effluent pada Pengolahan Limbah Cair di PT. XYZ

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya pertumbuhan dan aktivitas masyarakat Bali di berbagai sektor

Bab I Pendahuluan. Tabel I.1. Perkembangan Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Kakao di Indonesia. No Tahun Luas Areal (Ha)

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Kebutuhan yang utama bagi terselenggaranya kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia telah mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan.

BAB I PENDAHULUAN. masalah, salah satunya adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air

Bab V Hasil dan Pembahasan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Batik merupakan suatu seni dan cara menghias kain dengan penutup

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang sangat diperlukan oleh semua

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Uji Toksisitas Akut Limbah Oli Bekas di Sungai Kalimas Surabaya Terhadap Ikan Mujair ( Tilapia missambicus ) dan Ikan Nila (Oreochromis niloticus )

III. METODOLOGI PENELITIAN. Langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pengolahan Limbah Cair Industri secara Aerobic dan Anoxic dengan Membrane Bioreaktor (MBR)

BAB 3 TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK

SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PADA IPAL PT. TIRTA INVESTAMA PABRIK PANDAAN PASURUAN

Bab IV Data dan Hasil Pembahasan

METODE PENELITIAN. penelitian dapat dilihat pada Lampiran 6 Gambar 12. dengan bulan Juli 2016, dapat dilihat Lampiran 6 Tabel 5.

I. PENDAHULUAN. kesehatan lingkungan. Hampir semua limbah binatu rumahan dibuang melalui. kesehatan manusia dan lingkungannya (Ahsan, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Oleh: Afina Kibtiyah Hidayati Dosen Pembimbing: IDAA. Warma Dewanti, S.T., M.T., Ph.D

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PENELITIAN PENDAHULUAN

Bioremediasi Lahan Terkontaminasi Minyak Bumi Dengan Menggunakan Bakteri Bacillus cereus Pada Slurry Bioreaktor

Gambar 3.1 Desain Penelitian Sumber : Dokumen Pribadi

I. PENDAHULUAN. mandi, mencuci, dan sebagainya. Di sisi lain, air mudah sekali terkontaminasi oleh

1 Security Printing merupakan bidang industri percetakan yang berhubungan dengan pencetakan beberapa

Dosen Pembimbing: Prof. DR. Ir. Nieke Karnaningroem, M.Sc

PENGARUH RASIO WAKTU PENGISIAN : REAKSI PADA REAKTOR BATCH DALAM KONDISI AEROB

PENGOLAHAN AIR LIMBAH KANTIN SECARA BIOLOGI : SUATU KAJIAN TERHADAP EFEKTIVITAS PENGGUNAAN Bacillus sp. DAN KANGKUNG AIR (Ipomoea aquatica)

BAB I PENDAHULUAN. industri kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan industri kelapa sawit tumbuh

kini dipercaya dapat memberantas berbagai macam penyakit degeneratif.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelimpahan Nannochloropsis sp. pada penelitian pendahuluan pada kultivasi

III. METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT 1. Bahan 2. Alat

BAB I PENDAHULUAN UKDW. peternakan semakin pesat. Daging yang merupakan salah satu produk

BAB I PENDAHULUAN. selain memproduksi tahu juga dapat menimbulkan limbah cair. Seperti

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Keteguhan, yang

BAB I PENDAHULUAN. berdampak positif, keberadaan industri juga dapat menyebabkan dampak

kimia lain serta mikroorganisme patogen yang dapat

Tembalang, Semarang

BAB 1 PENDAHULUAN. pakaian. Penyebab maraknya usaha laundry yaitu kesibukan akan aktifitas sehari-hari

PENGOLAHAN LIMBAH PEWARNAAN KONVEKSI DENGAN BANTUAN ADSORBEN AMPAS TEBU DAN ACTIVATED SLUDGE

Bab III Bahan, Alat dan Metode Kerja

EFEKTIVITAS INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) DOMESTIK SISTEM ROTATING BIOLOGICAL CONTACTOR (RBC) KELURAHAN SEBENGKOK KOTA TARAKAN

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak

BAB VI PEMBAHASAN. Denpasar dengan kondisi awal lumpur berwarna hitam pekat dan sangat berbau. Air

Standart Kompetensi Kompetensi Dasar

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari - Februari 2015 di Balai Besar

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

BAB III METODOLOGI. Diagram alir pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1. Studi Literatur. Pembuatan Reaktor.

KARAKTERISTIK LIMBAH TERNAK

KARAKTERISTIK LIMBAH TERNAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Limbah berbahaya adalah limbah yang mempunyai sifat-sifat antara lain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan yang

SEMINAR TUGAS AKHIR KAJIAN PEMAKAIAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIOGAS

PENGARUH SPECIES Clorella DALAM MENETRALISIR LIMBAH CAIR KARET

SKRIPSI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DOMESTIK DENGAN MENGGUNAKAN ROTARY BIOLOGICAL CONTACTOR (RBC)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

Transkripsi:

TUGAS AKHIR Studi Kemampuan Spirulina sp. Dalam Membantu Mikroorganisme Menurunkan Chemical Oxygen Demand (COD) Pada Air Boezem Dengan High Rate Alga Reactor (HRAR) Oleh: Gwendolyn Sharon Weley Dosen Pembimbing: Ir. Mas Agus Mardyanto, ME., PhD

PENDAHULUAN Latar Belakang Kualitas air memburuk Pengolahan konvesional mahal Penelitian High Rate Algal Reactor (HRAR) sebelumnya belum ada yang menggunakan Spirulina sp. Dua sistem yang dapat mempengaruhi HRAR adalah aerasi dan mixing.

PENDAHULUAN Rumusan Masalah Belum diketahui persentase penurunan konsentrasi COD pada HRAR dengan variasi konsentrasi Spirulina sp. 0,5 mg/l, 0,75 mg/l, dan 1 mg/l. Belum diketahui persentase penurunan COD pada sistem mixing dan aerasi pada HRAR. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: Menentukan persentase penurunan COD pada HRAR dengan variasi konsentrasi Spirulina sp. 0,5 mg/l, 0,75 mg/l, dan 1 mg/l. Menentukan persentase penurunan COD pada sistem aerasi dan mixing pada HRAR.

PENDAHULUAN Ruang Lingkup Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah air limbah artifisial yang karakteristiknya dibuat sama dengan karakteristik air Boezem Morokrembangan dan air dari Boezem Morokrembangan. Parameter yang diteliti dalam penelitian utama adalah nilai COD,MLSS, DO, ph, klorofil a, dan suhu. Penelitian dilakukan dengan metode batch dalam skala laboratorium. Reaktor yang digunakan adalah HRAR dan jenis alga yang digunakan adalah Spirulina sp. Variabel penelitian yang digunakan adalah sistem aerasi dan mixing, serta konsentrasi alga dengan variasi 0,5 mg/l, 0,75 mg/l, dan 1 mg/l.

TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Air Limbah Perkotaan Menurut Hasriyani (2010), berubahnya fungsi drainase menyebabkan kondisi Boezem Mokrembangan menjadi tercemar, ditandai dengan warna air yang hitam, berbau, dan terjadi pendangkalan. Air limbah dari domestik biasanya juga mengandung bakteri patogen, suspended solid, nutrien (nitrogen dan fosfor), dan polutan organik lainnya. Karena berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat, polutan ini perlu diolah berdasarkan karakteristiknya dan dibuang secara aman agar dapat menurunkan kualitas bahan pencemar yang terkandung didalamnya. Pembuangan limbah yang aman adalah dengan menyesuaikan dengan batas yang diizinkan (Devi dan Dahiya, 2007; Musanif dan Sulaeman, 2009).

TINJAUAN PUSTAKA Peran Mikroorganisme dalam Air Limbah Mikroorganisme merupakan kelompok yang terpenting dalam stabilisasi limbah. Limbah cair rumah tangga atau jenis limbah lainnya yang kaya akan bahan organik mudah terurai merupakan media tumbuh mikroorganisme yang baik, karena mengandung berbagai zat organik dan inorganik yang esensial untuk menunjang pertumbuhan mikroorganisme.

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Spirulina sp. Spirulina sp. termasuk dalam alga biru-hijau Merupakan organisme fotoautrotrof, dimana cahaya adalah faktor yang penting bagi Spirulina Sp. untuk bertahan hidup. Cahaya yang optimal membantu Spirulina Sp. untuk membuat makanannya sendiri. Spirulina sp. membutuhkan range yang spesifik untuk pertumbuhannya (Singh dkk, 2010) Karakteristik kondisi lingkungan tempat hidup Spirulina sp. sesuai dengan kondisi cuaca di Indonesia, yaitu ph cenderung basa, suhu 20-40ºC (Rachmania, 2008) Keuntungan Spirulina sp. Dapat bertumbuh optimal pada suhu tinggi, seperti suhu saat musim panas Dapat beradaptasi pada intensitas cahaya yang rendah Dapat mentolerir rasio N:P yang rendah dan akan terus bertumbuh walaupun N semakin menipis,nilai ph tinggi dan CO 2 rendah Spirulina Sp. dapat digunakan sebagai bioindikator adanya nutrisi yang tinggi (Bellinger dan Sigee, 2010)

TINJAUAN PUSTAKA HRAP Prinsip dari HRAP adalah penggunaan air limbah sebagai sumber nutrien bagi pertumbuhan alga. Alga menghasilkan oksigen bagi mikroorganisme untuk menguraikan zat organik. Alga menggunakan CO 2 yang dihasilkan mikroorganisme untuk berfotosintesis. (Grobbelar dkk., 1988). HRAP menjaga pertumbuhan alga. Limbah domestik mengandung elemen yang penting bagi pertumbuhan alga (Yuk dan Tam, 1997). Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi alga adalah cahaya, suhu, ph, CO 2, DO, nutrient, zooplankton dan patogen.

Proses Fotosintesis Alga TINJAUAN PUSTAKA

METODA PENELITIAN Ide Studi Identifikasi Masalah Studi Literatur Persiapan Alat dan Bahan Persiapan Wadah Persiapan Spirulina sp. Analisis Media Seeding Penelitian Utama Analisis Data Kesimpulan Next

Seeding- Non aerasi 38.00 33.00 28.00 23.00 18.00 Klorofil 13.00 8.00 3.00-2.00 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

Seeding Aerasi 40.000 35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 Klorofil 10.000 5.000 0.000 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 Back

METODA PENELITIAN Persiapan Wadah Dimensi = diameter 30 cm, dan tinggi 35 cm. Aerasi Mixing 0.5 mg/l 0.75 mg/l 1 mg/l 0.5 mg/l 0.75 mg/l 1 mg/l Ember 30 cm Diffuser Selang 35 cm 10 L limbah art 10 L limbah art 10 L limbah art 10 L limbah art 10 L limbah art 10 L limbah art 35 cm

METODA PENELITIAN Aerasi Mixing 0.5 mg/l 0.75 mg/l 1 mg/l 0.5 mg/l 0.75 mg/l 1 mg/l Ember 30 cm Diffuser Selang 10 L Air Boezem 10 L Air Boezem 10 L Air Boezem 10 L Air Boezem 10 L 10 L Air Boezem Air Boezem 35 cm

METODA PENELITIAN Aerasi Mixing 0 mg/l 0 mg/l 0 mg/l 0 mg/l 30 cm Diffuser Selang 10 L 10 L Kontrol Kontrol Limbah Art Air Boezem 10 L 10 L Kontrol Kontrol Limbah Art Air Boezem 35 cm Back

METODA PENELITIAN Metode Analisis Analisis COD menggunakan metode 5220 D Clossed Reflux, Titrimetric Method (APHA, 2005). Analisis biomassa dalam MLSS menggunakan metode TSS 2540 D Total Suspended Solid Dried at 103-105 o C (APHA, 2005). Analisis klorofil a menggunakan metode Spectrophotometric of Chlorofil (APHA, 2005). Analisis DO menggunakan Oxygen Meter Lutron DO-5510, Analisis suhu menggunakan termometer Analisis ph menggunakan ph meter.

0,5 mg/l Spirulina-Artifisial Aerasi 120.00 0.5 mg/l Spirulina-Aerasi Artifisial 0.400 0.350 100.00 0.300 COD COD dan MLSS (mg/l) 80.00 60.00 40.00 0.250 0.200 0.150 0.100 0.050 Klorofil (mg/l) MLSS Klorofil 20.00 0.000-0.050 0.00 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Hari ke- -0.100

0,5 mg/l Spirulina-Artifisial Mixing 0.5 mg/l Spirulina-Artifisial Mixing 200.00 2.500 180.00 160.00 2.000 140.00 COD dan MLSS (mg/l) 120.00 100.00 80.00 1.500 1.000 Klorofil a COD MLSS 60.00 Klorofil 40.00 0.500 20.00 0.00 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Hari ke- 0.000

0,5 mg/l Spirulina-Boezem Aerasi 180.00 0.5 mg/l Spirulina-Boezem Aerasi 1.8 160.00 1.6 140.00 1.4 COD dan MLSS (mg/l) 120.00 100.00 80.00 60.00 1.2 1 0.8 0.6 Klorofil (mg/l) COD MLSS Klorofil 40.00 0.4 20.00 0.2 0.00 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Hari ke- 0

0,5 mg/l Spirulina-Boezem Mixing 160.00 140.00 120.00 0.5 mg/l Spirulina-Boezem Mixing 2.00 1.80 1.60 1.40 COD dan MLSS (mg/l) 100.00 80.00 60.00 40.00 1.20 1.00 0.80 0.60 0.40 Klorofil (mg/l) COD MLSS Klorofil 20.00 0.20 0.00 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Hari ke- 0.00

Perubahan Konsentrasi COD Reaktor COD/ hari ke- (mg/l) 0 1 2 3 4 5 6 7 0.5AA 30,08 15,04 25,07 25,60 38,40 25,60 38,40 25,60 0.5AM 45,12 30,08 25,07 38,40 51,20 51,20 64,00 70,40 0.75AA 15,04 25,60 62,67 38,40 51,20 51,20 51,20 38,40 0.75AM 25,60 15,04 25,07 51,20 51,20 38,40 76,80 70,40 1AA 15,04 37,60 35,84 38,40 38,40 38,40 32,00 12,80 1AM 25,60 25,07 12,80 51,20 38,40 44,80 38,40 32,00 0.5BA 15,04 25,60 25,07 38,40 102,40 25,60 64,00 70,40 0.5BM 60,16 60,16 50,13 64,00 89,60 25,60 76,80 83,20 0.75BA 30,08 62,67 64,00 115,20 51,20 44,80 64,00 38,40 0.75BM 45,12 62,67 89,60 76,80 64,00 57,60 102,40 44,80 1BA 15,04 25,60 38,40 115,20 64,00 83,20 38,40 44,80 1BM 45,12 30,08 50,13 76,80 102,40 76,80 83,20 38,40 KLAA 15,04 25,60 25,07 12,80 25,60 12,80 38,40 25,60 KLAM 30,08 30,08 25,07 25,60 25,60 0,00 25,60 64,00 KBA 75,20 120,32 50,13 44,80 115,20 76,80 70,40 76,80 KBM 45,12 38,40 50,13 25,60 51,20 51,20 57,60 19,20

Efisiensi Rata-rata removal COD Efisiensi Removal COD (%) Reaktor 0--1 0--2 0--3 0--4 0--5 0--6 0--7 Rata-rata 0.5AA 50,00 16,67 14,89 0,00 14,89 0,00 14,89 15,91 0.5AM 33,33 44,44 14,89 0,00 0,00 0,00 0,00 13,24 0.75AA 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0.75AM 41,25 2,08 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 6,19 1AA 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 14,89 2,13 1AM 2,08 50,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 7,44 0.5BA 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0.5BM 0,00 16,67 0,00 0,00 57,45 0,00 0,00 10,59 0.75BA 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0.75BM 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,71 0,1 1BA 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1BM 33,33 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 14,89 6,89 KLAA 0,00 0,00 14,89 0,00 14,89 0,00 0,00 4,26 KLAM 0,00 16,67 14,89 14,89 100,00 14,89 0,00 23,05 KBA 0,00 33,33 40,43 0,00 0,00 6,38 0,00 11,45 KBM 14,89 0,00 48,94 0,00 0,00 0,00 66,67 18,64

KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: Spirulina sp. dengan konsentrasi 0,5 mg/l, 0,75 mg/l, dan 1 mg/l tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap penurunan COD. Persentase penurunan COD berturut-turut pada: air limbah artifisial paling tinggi sebanyak 11,65%, -4,26%, dan -2,13%. air boezem paling tinggi sebanyak -8,05%, -11,45%, dan -11,45%. Persentase penurunan COD dengan sistem aerasi maupun mixing tidak memenuhi kriteria HRAR Rata-rata persentase penurunan COD pada HRAR berturut-turut pada: air limbah artifisial sebanyak 0,34% dan -14,09%. air boezem sebanyak -11,45% dan -12,78%.

SARAN Saran yang dianjurkan dari penelitian ini adalah: Sebaiknya tidak menggunakan Spirulina sp. murni dalam HRAR. Sebaiknya menggunakan jenis alga lain yang telah beradaptasi dengan air boezem

LAMPIRAN

LAMPIRAN

TERIMA KASIH