NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI DAGING SAPI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar merupakan pengertian yang digunakan untuk memperoleh

ANALISIS NILAI TAMBAH BAWANG MERAH LOKAL PALU MENJADI BAWANG GORENG DI KOTA PALU

KINERJA USAHA AGROINDUSTRI KELANTING DI DESA KARANG ANYAR KECAMATAN GEDONGTATAAN KABUPATEN PESAWARAN

PENDAPATAN DAN NILAI TAMBAH USAHA KOPI BUBUK ROBUSTA DI KABUPATEN LEBONG (STUDI KASUS PADA USAHA KOPI BUBUK CAP PADI)

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional meliputi pengertian yang digunakan

NILAI TAMBAH PENGOLAHAN DAGING SAPI MENJADI BAKSO PADA USAHA AL-HASANAH DI KELURAHAN RIMBO KEDUI KECAMATAN SELUMA SELATAN

NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI STROBERI

ANALISIS NILAI TAMBAH ABON SAPI PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA MUTIARA HJ. MBOK SRI DI KOTA PALU

NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI TAHU

NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI SUSU KEDELAI. Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi

NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI MENDONG

Kegiatan agroindustri atau industri hasil pertanian maupun perikanan. mempunyai peranan yang sangat besar dalam meningkatka pertumbuhan ekonomi

ABSTRAK. PENDAHULUAN Latar Belakang. GaneÇ Swara Vol. 10 No.1 Maret 2016 IDA BGS. EKA ARTIKA, 2) IDA AYU KETUT MARINI

DIVERSIFIKASI NILAI TAMBAH DAN DISTRIBUSI KEREPIK UBI KAYU DI KECAMATAN SARONGGI KABUPATEN SUMENEP

IV. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis data

ANALISIS USAHA AGROINDUSTRI KERUPUK SINGKONG (Studi Kasus di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Wisata Batu)

ANALISIS NILAI TAMBAH BUAH PISANG MENJADI KERIPIK PISANG PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA SOFIE DI KOTA PALU

DAFTAR ISI. I. PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian...

BAB III METODE PENELITIAN. daerah penelitian ini dilakukan secara sengaja atau purposive pada agroindustri

Jurnal Hexagro. Vol. 1. No. 1 Februari 2017 ISSN

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data melakukan analisa-analisa sehubungan dengan tujuan

ANALISIS NILAI TAMBAH USAHA PENGOLAHAN GULA AREN DI DESA SUKA MAJU KECAMATAN SIBOLANGIT KABUPATEN DELI SERDANG

ANALISIS PENDAPATAN DAN NILAI TAMBAH EMPING TEKI PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA DESA KERTASADA KABUPATEN SUMENEP

ANALISIS NILAI TAMBAH PENGOLAHAN NANAS MENJADI KERIPIK DAN SIRUP (Kasus: Desa Sipultak, Kec. Pagaran, Kab. Tapanuli Utara)

Oleh : Iif Latifah 1, Yus Rusman 2, Tito Hardiyanto 3. Fakultas Pertanian Universitas Galuh 2. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

KOMPARASI NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI ABON IKAN LELE DAN IKAN PATIN DI TASIKMALAYA THE ADDED VALUE OF SHREDDED LELE AND PATIN CATFISH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN

ANALISIS NILAI TAMBAH INDUSTRI KERIPIK TEMPE SKALA RUMAH TANGGA (Studi Kasus Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang)

Bahan Baku daging ikan 500 g. tepung tapioka 50 g. merica halus 1/2 sendok teh. bawang merah 7,5 g. bawang putih 1,5 g. jahe 0,5 g.

III. METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Klaster adalah konsentrasi spasial dari industri industri yang sama atau

ANALISIS PERBANDINGAN NILAI TAMBAH PENGOLAHAN UBI KAYU MENJADI TEPUNG MOCAF DAN TEPUNG TAPIOKA DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

ANALISIS EKONOMI PAKAN TERNAK TERFERMENTASI BERBASIS LIMBAH AGROINDUSTRI PISANG DI KABUPATEN LUMAJANG

ERYANA PURNAWAN Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi

ANALISIS USAHA DAN NILAI TAMBAH PRODUK KERUPUK BERBAHAN BAKU IKAN DAN UDANG (Studi Kasus Di Perusahaan Sri Tanjung Kabupaten Indramayu)

Steffi S. C. Saragih, Salmiah, Diana Chalil Program StudiAgribisnisFakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

IDENTIFIKASI NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI MINYAK KAYU PUTIH DI KPHL TARAKAN

NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI TEPUNG MOCAF

ANALISIS NILAI TAMBAH KUE PIA PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA KARYA AN-NUR DI KOTA PALU

IV. METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah di Kecamatan Leuwiliang dan Leuwisadeng,

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN MARGIN PEMASARAN PISANG MENJADI OLAHAN PISANG ANALYSIS OF ADDED VALUE AND MARKETING MARGIN OF PROCESSED BANANA PRODUCTS

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Lampung Timur. Lokasi penelitian

No. Uraian Rata-rata/Produsen 1. Nilai Tambah Bruto (Rp) ,56 2. Jumlah Bahan Baku (Kg) 6.900,00 Nilai Tambah per Bahan Baku (Rp/Kg) 493,56

NILA TAMBAH AGROINDUSTRI UBI KAYU MENJADI TEPUNG TAPIOKA

ECONOMI VALUE ADDED OF BLUE SWIMMING CRAB (Portunus pelagicus) PROCESSING AT CV. LAUT DELI BELAWAN NORTH SUMATERA

PENENTUAN HARGA POKOK DAN SKALA MINIMUM PRODUKSI COMRING HASIL OLAHAN SINGKONG

ANALISIS NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI KECAP (Studi Kasus pada Pengusaha Kecap Cap Jago di Desa Cibenda Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran)

ANALISIS PROFITABILITAS USAHA PENGOLAHAN KEDELAI PADA IRT TASIK GARUT DI KABUPATEN LEBONG

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA INDUSTRI ABON AMPEL DI KABUPATEN BOYOLALI. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Program Studi Agrobisnis

Staf Pengajar Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Unja ABSTRAK

ANALISIS USAHA DAN NILAI TAMBAH DARI USAHA PENGOLAHAN MARNING DAN EMPING JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN

III. METODE PENELITIAN. metode penelitian yang menggambarkan atau menjelaskan kejadian-kejadian atau

ANALISIS NILAI TAMBAH SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE) SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUK OLAHAN SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE) DI KABUPATEN SLEMAN Meta

ANALISIS EKONOMI PAKAN TERNAK TERFERMENTASI BERBASIS LIMBAH AGROINDUSTRI PISANG DI KABUPATEN LUMAJANG

ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU

Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE)

ANALISIS NILAI TAMBAH PENGOLAHAN KEDELAI MENJADI SUSU KEDELAI PADA SKALA INDUSTRI RUMAH TANGGA DI KOTA MEDAN

RENTABILITAS USAHA PEMASARAN AYAM RAS PEDAGING PADA UD. MITRA SAHABAT

ANALISIS NILAI TAMBAH PISANG NANGKA (Musa paradisiaca,l) (Studi Kasus di Perusahaan Kripik Pisang Krekes di Loji, Wilayah Bogor)

BAB I PENDAHULUAN. terlebih keuntungan dalam sektor pertanian. Sektor pertanian terutama

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN RISIKO USAHA PADA AGROINDUSTRI SERUNDENG UBI JALAR DI KECAMATAN SIULAK KABUPATEN KERINCI

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA INDUSTRI ABON DAN DENDENG SAPI DI KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA. Skripsi. Oleh : ARISTA HENY UNTARI H

ANALISIS NILAI TAMBAH. Julian Adam Ridjal PS Agribisnis Universitas Jember

Analisis Nilai Tambah Produk Anyaman Bambu Kelompok Usaha Kerajinan di Dusun Calok Kabupaten Jember

Suyudi 2) Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi

ANALISIS NILAI TAMBAH KUE PIA PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA KARYA AN-NUR DI KOTA PALU

ANALISIS NILAI TAMBAH KACANG TELUR PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA OHARA DI KELURAHAN NUNU KECAMATAN PALU BARAT KOTA PALU

KELAYAKAN FINANSIAL DAN NILAI TAMBAH USAHA AGROINDUSTRI KERIPIK UBI KAYU DI KECAMATAN SARONGGI KABUPATEN SUMENEP

AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA INDUSTRI ABON DAN DENDENG SAPI DI KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA

METODE PENELITIAN. mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa

ANALISIS NILAI TAMBAH KERIPIK PISANG PADA INDUSTRI CAHAYA INDI DI DESA TANAMEA KECAMATAN BANAWA SELATAN KABUPATEN DONGGALA

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS BISNIS KRIPIK KENTANG

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Wajak Kabupaten Malang, tepatnya di

PERFORMANSI NILAI TAMBAH KEDELAI MENJADI TAHU DI KABUPATEN SAMBAS

ANALISIS NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI TEPUNG TAPIOKA DI DESA NEGARATENGAH KECAMATAN CINEAM KABUPATEN TASIKMALAYA

8. NILAI TAMBAH RANTAI PASOK

Nilai Tambah Produk Olahan Ikan Salmon di PT Prasetya Agung Cahaya Utama, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN PEMASARAN SUSU SAPI PADA USAHA SAPI PERAH DI KECAMATAN SELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG

NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI KRIPIK PISANG DI KECAMATAN CILONGOK, KABUPATEN BANYUMAS

ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN PETANI KOPI ATENG YANG MENJUAL DALAM BENTUK GELONDONG MERAH (Cherry red) DENGAN KOPI BIJI

ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHA BAWANG PUTIH GORENG PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA SOFIE DI KOTA PALU

I. PENDAHULUAN. dalam negeri maupun ekspor. Hewan ini sangat digemari, terutama di negaranegara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Lampiran 1. Biaya bahan baku Dodol, kurma salak, keripik salak dan sirup salak. Lampiran 2. Biaya Bahan Penunjang Dodol Salak

JIIA, VOLUME 1 No. 3, JULI 2013

III. METODE PENELITIAN. langsung terhadap gejala dalam suatu masyarakat baik populasi besar atau kecil.

NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI DENDENG IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus)

ANALISIS USAHA DAN NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI TEMPE (Suatu Kasus di Kelurahan Banjar Kecamatan Banjar Kota Banjar) Abstrak

PENDAHULUAN. Nurmedika 1, Marhawati M 2, Max Nur Alam 2 ABSTRACT

Nurida Arafah 1, T. Fauzi 1, Elvira Iskandar 1* 1 Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

BAB III METODE PENELITIAN

VI. ANALISIS NILAI TAMBAH INDUSTRI PENGGERGAJIAN KAYU (IPK)

Analisis Nilai Tambah Keripik Ubi Kayu di UKM Barokah Kabupaten Bone Bolango

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

Transkripsi:

NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI DAGING SAPI Vagar Basma Laksagenta¹ Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi vagargenta@yahoo.co.id Riantin Hikmah Widi² Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi riantinhikmahwidi@yahoo.co.id Enok Sumarsih³ Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi enoksumarsih@yahoo.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai tambah pengolahan daging sapi menjadi abon dan dendeng. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Studi Kasus yang dilakukan pada Agroindustri abon dan dendeng sapi di desa Rancapetir Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis. Nilai tambah adalah selisih antara komoditas yang mendapat perlakuan pada tahap tertentu dengan nilai korbanan yang digunakan selama proses berlangsung. Sumber-sumber dari nilai tambah tersebut adalah pemanfaatan faktor-faktor seperti tenaga kerja, modal, sumberdaya manusia, dan manajemen. Hasil penelitian dan pembahasan menujukkan bahwa Nilai tambah industri abon sapi dari pengolahan satu kilogram bahan baku daging sapi adalah Rp. 43.201,00 atau 30, 86 % dan Nilai tambah industri dendeng sapi dari pengolahan satu kilogram bahan baku daging sapi adalah Rp. 51.780,00 atau 36,99 %. Kata Kunci : Nilai Tambah, pangsa tenaga kerja, keuntungan. 1

ABSTRACT This study aims to determine the value-added processing and the shredded beef into jerky. The method used is the method of Case Studies conducted in Agroindustrial and shredded beef jerky in the village of Kudat Kudat District Rancapetir District. Value added is the difference between commodity treated at some stage with the value of sacrifices that are used throughout the process. The sources of these is the use of value-added factors such as labor, capital, human resources, and management. The results and discussion shows that the value-added shredded beef industry from raw material processing one kilogram of beef is Rp. 43201,00 or 30,86% and value-added beef jerky industry of processing one kilogram of beef raw material is Rp. 51780,00 or 36.99%. Keywords: Value Added, the labor share, profit. PENDAHULUAN Konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia masih rendah bila dibandingkan dengan konsumsi daging sapi perkapita di luar negeri. Konsumsi daging sapi perkapita pertahun di Indonesia baru mencapai 2,2 kilogram. Sementara itu, konsumsi daging sapi per kapita di Eropa mencapai 45 kilogram setiap tahun atau sekitar 20 kali lipat konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia (Sindonews.com, 2013). Namun demikian perkembangan konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya, pada tahun 2007 sampai dengan 2011 pertumbuhannya mencapai 4,69 persen Gambar 1, hal ini didorong oleh meningkatnya pengetahuan serta peningkatan pendapatan masyarakat, sehingga diduga kebutuhan daging sapi setiap tahunnya akan mengalami peningkatan. Peningkatan permintaan akan daging sapi akan berdampak positif terhadap peningkatan industri olahan daging sapi seperti agroindustri penggilingan, dendeng, sosis, baso dan lain-lain, sehingga peluang usaha dibidang agroindustri daging sapi ini masih berpeluang untuk terus berkembang. 2

rata rata pertumbuhan/kapita / tahun 0,5 0,45 0,4 0,35 0,3 0,25 0,2 0,15 0,1 0,05 0 2007 2008 2009 2010 2011 Series 1 0,417 0,365 0,313 0,365 0,469 Sumber :Badan Pusat Statistik. 2012 Gambar 1 Konsumsi daging sapi/kapita/tahun Peningkatan permintaan akan daging sapi akan berdampak positif terhadap peningkatan industri olahan daging sapi seperti agroindustri penggilingan, dendeng, sosis, baso dan lain-lain, sehingga peluang usaha dibidang agroindustri daging sapi ini masih berpeluang untuk terus berkembang. Pengembangan industri pengolahan pangan di Indonesia yang didukung oleh sumberdaya alam pertanian, baik nabati maupun hewani yang mampu menghasilkan berbagai produk olahan yang dapat dibuat dan dikembangkan dari sumber daya alam lokal atau daerah. Perusahaan Ibu Hj.Ombah bergerak dalam pengolahan daging sapi menjadi abon dan dendeng sapi. Abon merupakan daging yang dididihkan, ditumbuk dan kemudian digoreng. Penampilanya biasanya berwarna cokelat terang hingga kehitaman. Abon tampak seperti serat, karena didominasi oleh serat-serat otot yang 3

mengering. Sedangkan dendeng merupakan daging yang di potong tipis menjadi lembaran dan di jemur. Daging yang biasa digunakan untuk membuat abon berasal dari sapi, sehingga orang mengenal dengan sebutan abon dan dendeng sapi (Anonim, 2008). Pengolahan daging sapi menjadi abon dan dendeng yang dilakukan oleh agroindustri Ibu Hj. Ombah sudah dilaksanakan sejak tahun 1970 (43 tahun yang lalu) dan merupakan yang paling lama di Kabupaten Ciamis, kontinuitas produksi abon dan dendeng sapi ditunjang oleh karakteristik permintaan yang stabil, meskipun harga daging sapi sebagai bahan bakunya berfluktuasi. Pemilik perusahaan menuturkan memang stabil, namun ada perbedaan karakteristik permintaan antara abon dan dendeng, abon di setiap harinya selalu banyak terjual dan dendeng hanya di akhir pekan sangat banyak terjual, demikian alasan pemilik memilih kedua produk ini. Hal ini menunjukkan bahwa pengolahan daging sapi menjadi abon dan dendeng memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi karena harga jual yang tinggi, awet, praktis. Tujuan dari pengolahan ini untuk memberi nilai tambah dimana distribusi nilai tambah berhubungan dengan teknologi yang di terapkan dalam proses pengolahan, kualitas tenaga kerja berupa keahlian dan keterampilan, serta kualitas bahan baku. Apabila dalam penerapan pengolahan proporsi tenaga kerja yang di berikan cenderung padat karya maka keuntungan bagi perusahaan karena perusahaan menitik beratkan pada sejumlah besar tenaga kerja atau pekerja pada proses pengolahanya. 4

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti dan mengkaji nilai tambah abon dan dendeng sapi kemudian membandingkan nilai tambah antara abon dan dendeng sapi, dengan tujuan sebagai informasi dan memberikan gambaran terhadap usaha abon dan dendeng. Hal tersebut peneliti wujudkan dengan melaksanakan penelitian yang berjudul nilai tambah agroindustri daging sapi. METODELOGI PENELITIAN Metode dasar penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Kartono dan Gulo, (2000) menyebutkan ada dua pengertian tentang studi kasus, yang pertama studi kasus merupakan suatu penelitian atau penyelidikan intensif, mencakup semua informasi relevan terhadap seorang atau beberapa orang biasanya berkenaan dengan suatu gejala psikologis tunggal, yang kedua studi kasus merupakan informasi informasi historis atau biografis tentang seorang individu, sering mencakup pengalamanya dalam terapi serta menolong dalam usaha penyesuian diri. Menurut Suharsimi Arikunto, (1998) studi kasus yaitu suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga, atau gejala tertentu. Pengambilan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), yaitu pada industri Abon Ibu Hj. Ombah di Kabupaten Ciamis dengan alasan bahwa : agroindustri Abon dan dendeng Ibu Hj. Ombah merupakan salah satu perusahaan abon sapi terbesar di Kabupaten Ciamis, dan belum pernah dilakukan penelitian tentang, nilai tambah pengolahan daging sapi menjadi abon dan dendeng. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan alat analisis nilai tambah metode Hayami. Analisis metode hayami dapat dilihat sebagai berikut : 5

Tabel 1. Analisis Nilai Tambah Metode Hayami No Variabel Formula nilai Output, input dan harga 1 Output (Kg) A 2 Bahan baku (Kg) B 3 Tenaga kerja (JKO) C 4 Faktor konversi D = A/B 5 Koefisien tenaga kerja E = C/B 6 Harga output (Rp/Kg) F 7 Upah rata-rata tenaga kerja (Rp/JOK) G Pendapatan dan keuntungan (Rp/Kg) 8 Harga bahan baku H 9 Sumbangan input lain I 10 Nilai output J = D x F 11 a. Nilai tambah K = J-I-H b. Rasio nilai tambah L% = (K/J) x 100% 12 a. Imbalan tenaga kerja M = E x G b. Pangsa tenaga kerja N% = (M/K) x 100% 13 a. Keuntungan O = K M b. Tingkat keuntungan P% = (O/K) x 100% Hayami et al., 1987 HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai Tambah Abon Sapi Analisis nilai tambah dalam penelitian ini menggunakan metode Hayami. Dapat dilihat pada tabel 2. Diketahui bahan baku yang digunakan untuk mengolah daging menjadi abon sebanyak 25 kilogram untuk satu kali proses produksi. Dari input (bahan baku) sebanyak itu diperoleh 17,5 kilogram abon, maka dapat diketahui faktor konversi dari pengolahan daging sapi menjadi abon sapi sebesar 0,7 artinya dari 6

setiap 1 kilogram bahan baku akan menghasilkan sapi sebanyak 0,7 kilogram. Dapat diketahui nilai produk sebesar Rp.140.000,00 merupakan perkalian antara faktor konversi dan harga bahan baku. Nilai tersebut menunjukkan nilai abon sapi yang dihasilkan dari pengolahan satu kilogram bahan baku daging sapi. Tabel 2. Analisis Nilai Tambah Abon Sapi No Variabel Formula Nilai Output, input dan harga 1 Output (Kg) A 17,5 Kg 2 Bahan baku (Kg) B 25 Kg 3 Tenaga kerja (JKO) C 15 JKO 4 Faktor konversi D = A/B 0.7 5 Koefisien tenaga kerja E = C/B 0,6 6 Harga output (Rp/Kg) F Rp. 200.000,00 7 Upah rata-rata tenaga kerja (Rp/JOK) G Rp. 8.666,00 Pendapatan dan keuntungan (Rp/Kg) 8 Harga bahan baku H Rp. 84.000,00 9 Sumbangan input lain I Rp. 12.799,00 10 Nilai output J = D x F Rp. 140.000,00 11 a. Nilai tambah K = J-I-H Rp.43.201,00 b. Rasio nilai tambah L% = (K/J) x 100% 30,86% 12 a. Imbalan tenaga kerja M = E x G Rp. 5.199,60 b. Pangsa tenaga kerja N% = (M/K) x 100% 12,03% 13 a. Keuntungan O = K M Rp.38.001,40 b. Tingkat keuntungan P% = (O/K) x 100% Sumber : Data Primer diolah, 2013 87,97% Nilai tambah yang dihasilkan dari industri abon sapi merupakan selisih antara nilai output dengan biaya bahan baku dan sumbangan input lain per proses produksi. 7

Nilai tambah yang diperoleh dari setiap pengolahan satu kilogram bahan baku daging sapi menjadi abon sapi sebesar 43.201,00 atau 30,86 persen dari nilai output. Imbalan tenaga kerja dapat diperoleh dari koefisien tenaga kerja dikalikan dengan upah rata rata tenaga kerja. Dalam pembuatan abon sapi ini upah tenaga kerjanya sebesar Rp. 8.666,00 / JKO, koefisien tenaga kerja sebesar 0,6 dengan demikian pendapatan tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 5.199,60 / kilogram bahan baku, pangsa tenaga kerja yaitu sebesar 12,03 persen. Sumbangan input lain merupakan bahan bahan pendukung yang diperlukan dalam suatu proses produksi. Bahan bahan tersebut dapat dilihat di Tabel 3. Tabel 3. Sumbangan Input Lain Abon No Bahan Kebutuhan/kg Volume Harga (Rp/unit) Total Nilai(Rp) 1 Gula Putih (kg) 6,25 12.000,00 75.000,00 2 Bawang Merah (kg) 1,25 13.000,00 43.750,00 3 Bawang Putih (siung) 6,00 100,00 600,00 4 Bawang Sumenep (kg) 2,225 50.000,00 109.375,00 5 Minyak (kg) 6,00 10.000,00 60.000,00 6 Garam (kg) 0,25 2.000,00 500,00 7 Jahe (kg) 0,20 25.000,00 5.000,00 8 Kayu Bakar (ikat) 5,00 5000,00 25.000,00 9 Plastik (lembar) 60,00 50,00 3000,00 Jumlah 319.975,00 Sumbangan Imput Lain/kg bahan baku 12.799,00 Sumber : Data Primer diolah, 2013 Tujuan dari suatu kegiatan industri pengolahan adalah untuk memperoleh nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya selain mampu meningkatkan nilai dari bahan baku akan menambah pendapatan baik pengusaha sendiri maupun untuk para pekerja. Keuntungan yang diperoleh pengusaha sebagai pengelola dari 8

setiap kilogram bahan baku adalah sebesar Rp. 38.001,40 atau 87,97 persen dari nilai output. Didalam pembuatan abon sapi, tenaga kerja yang di gunakan hanya 2 orang. jumlah serapan tenaga kerja bisa dihitung dari jumlah input tenaga kerja dibagi dengan jumlah bahan baku yang diolah dalam satu kali proses produksi. Jumlah input tenaga kerja yaitu sebesar 15 JKO dan jumlah bahan bakunya 25 kilogram, sehingga diperoleh koefisien tenaga kerja sebesar 0,6 yang artinya untuk mengolah setiap satu kilogram bahan baku menjadi abon memerlukan tenaga kerja sebanyak 0,6 JKO. Dengan demikian semakin besar usahanya maka semakin besar juga jumlah tenaga kerjanya. Nilai Tambah Dendeng Sapi Analisis nilai tambah dalam penelitian ini menggunakan metode Hayami, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4. Diketahui bahan baku yang digunakan untuk mengolah daging menjadi dendeng sebanyak 20 kilogram untuk satu kali proses produksi. Dari input (bahan baku) sebanyak itu diperoleh 14 kilogram dendeng, maka dapat diketahui faktor konversi dari pengolahan daging sapi menjadi dendeng sapi sebesar 0,7 artinya dari setiap 1 kilogram bahan baku akan menghasilkan dendeng sapi sebanyak 0,7 kilogram. Dapat diketahui nilai produk sebesar Rp.140.000,00 merupakan perkalian antara faktor konversi dan harga produk Nilai tersebut menunjukkan nilai produk dendeng sapi yang dihasilkan dari pengolahan satu kilogram bahan baku daging sapi. 9

Nilai tambah yang di hasilkan dari industri dendeng sapi merupakan selisih antara nilai output dengan biaya bahan baku dan sumbangan input lain per proses produksi. Nilai tambah yang diperoleh dari setiap pengolahan satu kilogram bahan baku daing sapi menjadi dendeng sapi sebesar Rp. 51.780,00 atau 36,99 persen dari nilai output. Tabel 4. Analisis Nilai Tambah Dendeng Sapi No Variabel Formula nilai Output, input dan harga 1 Output (Kg) A 14 Kg 2 Bahan baku (Kg) B 20 Kg 3 Tenaga kerja (JKO) C 17 JKO 4 Faktor konversi D = A/B 0.7 5 Koefisien tenaga kerja E = C/B 0,85 6 Harga output (Rp/Kg) F Rp. 200.000,00 7 Upah rata-rata tenaga kerja (Rp/JOK) Pendapatan dan keuntungan (Rp/Kg) G Rp. 18.823,52 8 Harga bahan baku H Rp. 84.000,00 9 Sumbangan input lain I Rp. 4.220,00 10 Nilai output J = D x F Rp. 140.000,00 11 a. Nilai tambah K = J-I-H Rp.51.780,00 b. Rasio nilai tambah L% = (K/J) x 100% 36,99% 12 a. Imbalan tenaga kerja M = E x G Rp. 15.999,90 b. Pangsa tenaga kerja N% = (M/K) x 30,90% 100% 13 a. Keuntungan O = K M Rp. 35.780,10 b. Tingkat keuntungan P% = (O/k) x 100% 69,10% Sumber : Data Primer diolah, 2013 Imbalan tenaga kerja dapat diperoleh dari koefisien tenaga kerja dikalikan dengan upah rata rata tenaga kerja. Dalam pembuatan dendeng sapi ini upah tenaga 10

kerjanya sebesar Rp. 18.823,52 / JKO, koefisien tenaga kerja sebesar 0,85 dengan demikian pendapatan tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 15.999,90 / kilogram bahan baku, pangsa tenaga kerja yaitu sebesar 30,90 persen. Sumbangan input lain merupakan bahan bahan pendukung yang di perlukan dalam suatu proses produksi, bahan bahan tersebut dapat dilihat di Tabel 5. Tabel 5. Sumbangan Input Lain Dendeng No Bahan Kebutuhan / kg Volume Harga (Rp/unit) Total Nilai (Rp) 1 Gula putih (kg) 4,00 12.000,00 48.000,00 2 Gula merah (kg) 2,00 13.000,00 26.000,00 3 Sendawa (kg) 0,20 20.000,00 4.000,00 4 Ketumbar (kg) 0,20 20.000,00 4.000,00 5 Garam (kg) 0,20 2.000,00 400,00 6 Plastik (lembar) 40,00 50,00 2.000,00 Jumlah 84.400,00 Sumbangan Input Lain/ kg bahan baku 4.220,00 Sumber : Data Primer diolah, 2013 Tujuan dari suatu kegiatan industri pengolahan adalah untuk memperoleh nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya selain mampu meningkatkan nilai dari bahan baku akan menambah pendapatan baik pengusaha sendiri maupun untuk para pekerja. Keuntungan yang diperoleh pengusaha sebagai pengelola dari setiap kilogram bahan baku adalah sebesar Rp. 35.780,10 atau 69,10 persen dari nilai output. Didalam pembuatan dendeng sapi, tenaga kerja yang di gunakan hanya 3 orang. jumlah serapan tenaga kerja bisa dihitung dari jumlah input tenaga kerja dibagi dengan jumlah bahan baku yang diolah dalam satu kali proses produksi. Jumlah input tenaga kerja yaitu sebesar 17 JKO dan jumlah bahan bakunya 20 kilogram, sehingga 11

diperoleh koefisien tenaga kerja sebesar 0,85 yang artinya untuk mengolah setiap satu kilogram bahan baku menjadi dendeng memerlukan tenaga kerja sebanyak 0,85 JKO. Dengan demikian semakin besar usahanya maka semakin besar juga jumlah tenaga kerjanya. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Nilai tambah industri abon sapi dari pengolahan satu kilogram bahan baku daging sapi adalah Rp 43.201,00 atau 30,86 persen. 2. Nilai tambah industri dendeng sapi dari pengolahan satu kilogram bahan baku daging sapi adalah Rp 51.780,00 atau 36,99 persen.. Saran Dengan melihat besarnya nilai tambah, pangsa tenaga kerja dan keuntungan maka sebaiknya usaha ini dapat terus berkembang lagi, yaitu dengan meningkatkan kualitas produk dan memperluas jangkauan pasar sehingga dapat menghasilkan keuntungan dan nilai tambah yang diperoleh menjadi meningkat. Mengefisiensikan waktu kerja untuk menekan biaya produksi serta lebih aktif dalam memasarkan abon dan dendeng sapi ini, agar konsumen tahu serta tertarik terhadap produk ini, dan akhirnya dapat menciptakan peningkatan permintaan. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik (2012). Konsumsi daging sapi/kapita/tahun. Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), 2012. 12

Gita, wijawan. (2013). Kuliah umum di Universitas As-Syafi`iyah. http://ekbis.sindonews.com/read/2013/02/26/34/721703/konsumsi-daging-dieropa-20-kali-lipat-indonesia. Diposting 26 februari 2013. Kartono, Gulo, (1987). Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya. Suharsimi, Arikunto, (1998), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, PT. Rineka Cipta, Jakarta 13