ANALISIS AYUNAN SEDERHANA

dokumen-dokumen yang mirip
Oleh : Ahmad Fauzi StafPengajar Program Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sebelas Maret TIn. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta.

FISIKA I. OSILASI Bagian-2 MODUL PERKULIAHAN. Modul ini menjelaskan osilasi pada partikel yang bergerak secara harmonik sederhana

GERAK OSILASI. Penuntun Praktikum Fisika Dasar : Perc.3

BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK

GERAK HARMONIK SEDERHANA

ANALISIS SIMULASI GEJALA CHAOS PADA GERAK PENDULUM NONLINIER. Oleh: Supardi. Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta

GERAK HARMONIK. Pembahasan Persamaan Gerak. untuk Osilator Harmonik Sederhana

II LANDASAN TEORI. Besaran merupakan frekuensi sudut, merupakan amplitudo, merupakan konstanta fase, dan, merupakan konstanta sembarang.

Uji Kompetensi Semester 1

Karakteristik Gerak Harmonik Sederhana

KARAKTERISTIK GERAK HARMONIK SEDERHANA

SASARAN PEMBELAJARAN

Fisika Dasar I (FI-321)

Media Pembelajaran Menggunakan Spreadsheet Excel. Materi Osilasi Harmonik Teredam

Mata Kuliah GELOMBANG OPTIK TOPIK I OSILASI. andhysetiawan

ANALISIS GERAK HARMONIK TEREDAM (DAMPED HARMONIC MOTION) DENGAN SPREADSHEET EXCEL

GETARAN DAN GELOMBANG

Referensi : Hirose, A Introduction to Wave Phenomena. John Wiley and Sons

Materi Pendalaman 01:

Osilasi Harmonis Sederhana: Beban Massa pada Pegas

BAB III APLIKASI METODE EULER PADA KAJIAN TENTANG GERAK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1.

Bab III Elastisitas. Sumber : Fisika SMA/MA XI

Validasi Teknik Video Tracking Pada Praktikum Bandul Matematis Untuk Mengukur Percepatan Gravitasi Bumi

Getaran, Gelombang dan Bunyi

Fisika Umum (MA-301) Topik hari ini: Getaran dan Gelombang Bunyi

KATA PENGANTAR. Semarang, 28 Mei Penyusun

Antiremed Kelas 11 FISIKA

GETARAN, GELOMBANG DAN BUNYI

DINAS PENDIDIKAN KOTA PADANG SMA NEGERI 10 PADANG GETARAN

Catatan Kuliah FI1101 Fisika Dasar IA Pekan #8: Osilasi

menganalisis suatu gerak periodik tertentu

HAND OUT FISIKA DASAR I/GELOMBANG/GERAK HARMONIK SEDERHANA

1. a) Kesetimbangan silinder m: sejajar bidang miring. katrol licin. T f mg sin =0, (1) tegak lurus bidang miring. N mg cos =0, (13) lantai kasar

TUJUAN PERCOBAAN II. DASAR TEORI

Bab III Elastisitas. Sumber : Fisika SMA/MA XI

Laboratorium Fisika Dasar Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI

Jika sebuah sistem berosilasi dengan simpangan maksimum (amplitudo) A, memiliki total energi sistem yang tetap yaitu

BAB IV DINAMIKA PARTIKEL. A. STANDAR KOMPETENSI : 3. Mendeskripsikan gejala alam dalam cakupan mekanika klasik sistem diskret (partikel).

K13 Revisi Antiremed Kelas 10 FISIKA

Satuan Pendidikan. : XI (sebelas) Program Keahlian

dibutuhkan untuk melakukan satu getaran adalah Selang waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu getaran adalah periode. Dengan demikian, secara

HUKUM - HUKUM NEWTON TENTANG GERAK.

Hukum gravitasi yang ada di jagad raya ini dijelaskan oleh Newton dengan persamaan sebagai berikut :

PEMODELAN DAN SIMULASI NUMERIK GERAK OSILASI SISTEM BANDUL PEGAS BERSUSUN ORDE KEDUA DALAM DUA DIMENSI

FISIKA. Kelas X GETARAN HARMONIS K-13. A. Getaran Harmonis Sederhana

Besaran Fisika pada Gerak Melingkar

Hukum Newton dan Penerapannya 1

GERAK HARMONIK SEDERHANA. Program Studi Teknik Pertambangan

MODUL FISIKA SMA Kelas 10

PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap 1 Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA

dy dx B. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah

GERAK HARMONIK Gerak Harmonik terdiri atas : 1. Gerak Harmonik Sederhana (GHS) 2. Gerak Harmonik Teredam

Antiremed Kelas 10 FISIKA

GELOMBANG MEKANIK. (Rumus)

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

SISTEM GETARAN PAKSA SATU DERAJAT KEBEBASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

Laboratorium Fisika Dasar Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI

Model Matematis Gerak Benda Berosilasi Teredam Berbasis Mikrokontroler AT89C51

K 1. h = 0,75 H. y x. O d K 2

1. Jarak dua rapatan yang berdekatan pada gelombang longitudinal sebesar 40m. Jika periodenya 2 sekon, tentukan cepat rambat gelombang itu.

TES STANDARISASI MUTU KELAS XI

GETARAN DAN GELOMBANG

Latihan I IMPULS MOMENTUM DAN ROTASI

GERAK MELINGKAR BERATURAN

Pemodelan Lintasan Benda Titik Pada Wall of Death (Tong Setan)

Fisika Umum (MA-301) Getaran dan Gelombang Bunyi

Teori & Soal GGB Getaran - Set 08

III PEMBAHASAN. Berdasarkan persamaan (2.15) dan persamaan (2.16), fungsi kontinu dan masing-masing sebagai berikut : dan = 3

GERAK LURUS Standar Kompetensi Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda titik.

Berdasarkan lintasannya, benda bergerak dibedakan menjadi tiga yaitu GERAK MELINGKAR BERATURAN

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I PENGUKURAN KONSTANTA PEGAS DENGAN METODE PEGAS DINAMIK

BAB USAHA DAN ENERGI I. SOAL PILIHAN GANDA

PEMODELAN DAN SIMULASI NUMERIK GERAK OSILASI SISTEM BANDUL PEGAS BERSUSUN ORDE KEDUA DALAM DUA DIMENSI

Gaya merupakan besaran yang menentukan sistem gerak benda berdasarkan Hukum Newton. Beberapa fenomena sistem gerak benda jika dianalisis menggunakan

Soal-Jawab Fisika Teori OSN 2013 Bandung, 4 September 2013

Fisika Dasar I (FI-321) Gaya dan Hukum Gaya Massa dan Inersia Hukum Gerak Dinamika Gerak Melingkar

Perpaduan Metode Newton-Raphson Dan Metode Euler Untuk Menyelesaikan Persamaan Gerak Pada Osilator Magnetik

SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 78 JAKARTA

ANALISIS DERET FOURIER UNTUK MENENTUKAN PERSAMAAN FUNGSI GELOMBANG SINUSOIDAL ARUS AC PADA OSILOSKOP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) : 12 JP (6 x 90 menit)

ANTIREMED KELAS 11 FISIKA

LAPORAN PRAKTIKUM GERAK PADA BIDANG MIRING. (Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Fisika Dasar I) Dosen Pengampu : Drs.Suyoso, M.Si.

K13 Revisi Antiremed Kelas 10 Fisika

4 m. 4 m. 1. Rumus dimensi momentum adalah. (A) MLT 2 (B) ML 1 T 1 (C) MLT 1 (D) ML 2 T 2 (E) ML 1 T 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

DINAMIKA PARTIKEL KEGIATAN BELAJAR 1. Hukum I Newton. A. Gaya Mempengaruhi Gerak Benda

Gelombang FIS 3 A. PENDAHULUAN C. GELOMBANG BERJALAN B. ISTILAH GELOMBANG. θ = 2π ( t T + x λ ) Δφ = x GELOMBANG. materi78.co.nr

1. (25 poin) Sebuah bola kecil bermassa m ditembakkan dari atas sebuah tembok dengan ketinggian H (jari-jari bola R jauh lebih kecil dibandingkan

DESKRIPSI FISIKA DASAR I (FIS 501, 4 SKS) Nama Dosen : Saeful Karim Kode Dosen : 1736

Studi Komputasi Gerak Bouncing Ball pada Vibrasi Permukaan Pantul

D. 6,25 x 10 5 J E. 4,00 x 10 6 J

Tanggapan Mahasiswa pada Pembelajaran Pemodelan Matematika dengan Program Maple (Studi Kasus: Pembelajaran Pemodelan Gerak Osilasi)

FI-2283 PEMROGRAMAN DAN SIMULASI FISIKA

Laboratorium Fisika Dasar Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI

BAHAN AJAR PENERAPAN HUKUM KEKEKALAN ENERGI MEKANIK DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Prediksi 1 UN SMA IPA Fisika

MENERAPKAN HUKUM GERAK DAN GAYA

KINEMATIKA. Fisika Dasar / Fisika Terapan Program Studi Teknik Sipil Salmani, ST., MS., MT.

Transkripsi:

Analisis Ayunan Sederhana dengan Simulasi Spreadsheet...Ahmad Fauzi ANALISIS AYUNAN SEDERHANA DENGANS~ASISPREADSHEET Oleh : Ahmad Faozi StafPengajar Program Pendidikan Fisika F.IOP Universitas Sebelas Maret nn. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta Abstrak Ayunan sederhana meropakan salah satu topik yang penling dolam kajian osilasi. didolam analisis ayunan sederhana ini, selain dituntut mampu memahami konsep ayunan sederhana secara /isis, mahasiswa juga dituntut mampu menggunakan persamaan differensial untuk menyelesaikan persamaan ayunan sederhana ini. Untuk memecahkan persamaan differensial ini dikenal ada dua pendekatan yaitu pendekatan analilik dan pendekatan numerik. Pado kasus persamaan diffrensial hersi/at kompleks dan romit maka pilihan pendekatan numeriklah yang paling bijaksana. Analisis ayunan sederhana dengan pendekatan analilik dan numerik bertujuan memberikan dasar-dasar tentang bagaimana analisis numerik digunakan. Seperti pada kasus ini, setelah disajikan anal isis analilik kemudian dilanjutkan dengan pendekatan numerik dengan metode Euler. ternyata solusi numerik dengan metode Euler jauh menyimpang dari solusi dengan solusi analitiknya. Dengan demikian memperkenalkan metode Leapfrog sebagai sebagai salah satu metode untuk memperbaiki kesalahan metode Euler sangat tepat diberikan setelah mahasiswa memahami kesalahan metode Euler apabila dibandingkan solusi yang didapat dengan pendekatan analilik. Kata konci: ayunan sederhana, Spreadsheet. metode Euler. 1. Pendahuluan 2. Pembahasan 2.1 Ayunan Sederhana Menurut Ayunan sederhana merupakan salah satu Pendekatan Analitik topik utama dalam analisis gerak harmonik sederhana. Pemahaman tentang gerak Osilasi terjadi jika suatu sistem diganggu harmonik sederhana menjadi suatu dari postst kesetimbangan stabilnya. kebutuhan bukan saja untuk ilmuwan akan Karakteristik pokok gerak osilasi adalah tetapi juga kalangan insinyur. Hal ini adanya gerak yang bersifat periodik terjadi karena bagi ilmuwan gerak (berulang-ulang). Salah satu contoh gerak harmonik sederhana merupakan dasar osilasi adalah gerak osilasi bandul (ayunan dasar menlahami berbagai gejala fisika sederhana). Gerak bandul dikategorikan yang lebih kompleks seperti redaman gerak harmonik jika amplitudo geraknya sedangkan bagi insinyur pemahaman kecil. Sebagai contoh bandul sederhana tentang gerak harmonik sederhana sekali adalah sebuah beban bermassa m yang sebagai dasar perancangan berbagai dihubungkan dengan benang yang aplikasi gerak harmonik sederhana seperti massanya dapat diabaikan seperti gambar dalam pegas shock absorber mobil. berikut. Karakteristik gerak harmonik sederhana biasanya dinyatakan dalam persamaan differensial yang secara umum diselesaikan menurut analisis analitik namun demikian pada ban yak kasus (gerak yang tidak harmonik) ditemui ban yak kesulitan untuk menentukan solusi menurut pendekatan analitik, pada keadaan demikian pemecahan dengan pendekatan mgcos9 analisis numerik dapat dipergunakan untuk mempelajari karakteristik sistemnya. 268

()I:JlfJj.l'1!J( VoI.6 No.2 Juli 2010 : 268-275 Gambar 1 Ayunan Sederhana yang Terdiri Atas Sebuah Beban yang Dihubungkan pada Seutas Benang yang Digantungkan pada Dinding.. Misalkan 8 adalah sudut yang dibuat oleh henang terhadap garis vertikal dengan asumsi henang selalu tegang (tidak kendor). Berdasarkan gambar (1) dapat diuraikan gaya-gaya yang bekerja pada beban sebagi berikut. T menyatakan tegangan tali dan mg menyataksn gaya gravitasi. Pada beban bekerja dua gaya yaitu mg cos 9 dan mg sin 9 sebagai komponen tangensial dan gaya berat (mg) sebagai komponen tangensialnya. Lintasan gerak ayunan sederhana berupa busur Jingkaran sehingga gaya berat berfungsi sebagai gaya sentripetal agar beban tetap bergerak dalam lintasan busur lingkaran sedangkan komponen mngensialnya berperan sebagai gaya pemulih. Dengan demikian besamya gaya pemulih adalah Fe = -mg sin 6...(1) dengan g menyatakan percepatan gravitasi, tanda minus menandakan bahwa gaya pemulih selalu berlawanan dengan arab gerak beban. Dengan aplikasi hukum Newton kedua yang menyatakan bahwa gaya sebanding dengan massa dikalikan percepatan partikel sepanjang busur Jingkaran sebagai lintasan partikel, maka gaya juga dapat dinyatakan dengan persamaan ma'.. FIJ = -t (.2) CI' dt dengan demikian apabha persamaan (1) dan (2) digabungkan akan diperoleh d l.. ~ == -gsin9...(3) Perpindahan sepanjang busur lingkaran adalah s = 1 sin 9 dimana 1 menyatakan panjang tali dan 9 menyatakan sudut simpangannya. Apabila diasumsikan bahwa e nilainya kech maka berlaku sin e ~ 8, sebingga dapat dinyatakan s =1 9, apabila persamaan ini dideferensialkan dua leali terhadap t akan diperoleh IlII IllS -= l-...(4) dt:' cit:' Apabila persamaan (4) disubstitusikan dalam persamaan (3) akan diperoleh dis l d~ =-g sin 6 dis = -i.e dt Z z dis +!-6 :: 0...(5).ttl' 1 Persamaan (5) disebut sebagai persamaan differensial ayunan sederbana. Adapun solusi umumnya persamaan (5) adalah 6 = 60 sin (CDt+» (6) Apabila '" = 6 +i maka persamaan (6) dapat dituliskan sebagai 8 = 8 0 cos ( (» t + &)...(7) Berdasarkan persamaan (6) dan (7) disimpulkan bahwa untuk gerak barmonik sederhana dapat digambarkan sebagai fungsi gelombang sinus maupun cosinus, adapun yang membedakan gelombang sinus dan cosinus adalah adanya perbedaan fase ( ). Dengan mendefferensialkan persamaan (7) terhadap waktu dapat ditentukan persamaan kecepatan sudut dan percepatan sudut sebingga akan diperoleh persamaan berik:ut. db OJ = - = -9 0 (a) sln(-wt +6)...(8) dt a" 2 9 a = dt l = -6 0 cu cos (cut +0)...() dimana ~=!z Berdasarkan definisi babwa cu = ~ maka periode ayunannya dapat dinyatakan dengan persamaan T = 21r ~. (10) Untuk menentukan besamya periode kita juga dapat menggunakan cars. lain yakni 269

Anolisis Ayunon Sederhono dengon Simulosi Spreodsheet............ AhmodFouzi apabila sin 9 ~ 9 maka kita dapat menuliskan persamaan (1) dengan FB = -mg8...(11) Dengan mensubstitusi s =1 8 ke dalam persamaan (11) akan diperoleh FIJ = -mg! = -!!!:!.,$ 17 l l Untuk sudut ayunan yang keeil maka besar gaya pemulih sebanding dengan tetapan gaya k = mgtl sehingga berdasarkan definisi CAl :; ~ maka w=j: ~ Dengan demikian berlaku T = 21r ~ T mw frekuensi osilasinya dapat dinyatakan dengan Berdasarkan definisi f = f=-- 1~...(12) 2x 11 dengan: 8 0 = posisi awal (tad) q, = fase awal 8 =tetapan cu = kecepatan sudut (rad/s) T = periode (s) f = frekuensi (Hz) Berdasarkan persamaan (6) sampai (12) disimpulkan bahwa posisi, kecepatan dan percepatan sudutnya merupakan fungsi gelombang sinusoidal terhadap waktu. Periode dan frekuensi ayunan banya dipengaruhi oieh panjang talinya saja, masa beban tidak berpengaruh terbadap periode ayunannya. 2.2 AyuaaD Sederhaoa MeDurut PeDdekataD NUDlerik Dengan menggtmakan pendekatan analitik dalam menyelesaikan suatu persoalan maka akan diperoleh basil yang eksak. Namun demikian dalam pendekatan densan analisis analitik kita sering dibadapkan pada persoalan yang cutup rumit seperti ketika kita harus 1 menyelesaikan suatu persamaan differensial namwl kita tidak tabu solusi analitik persamaan differensial tersebut. Kesulitan lain yang mungkin ditemui adalah persamaan differensial yang tidak linear. Cam yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan numerik. Adapun langkah dalam menganalisis kasus ayunan sederhana dengan analisis numerik adalah sebagai berikut. Persamaan (5) dapat dinyatakan kembali dengan persamaan d'b 11 d~ = -;:6...(13) Berdasarkan definisi dill dfjij dt S =d't mw persamaan (13) dapat dituliskan ~ = -!i.8...(14) dt l dengan mempergtmakan teori Euler maka persamaan (14) dapat diuraikan menjadi dfjij = lim fjij(t... At)-fJlJ(t} = -!.e...(15) dt 4t~ 4t l Sehingga dapat dituliskan cu(t+4t)-cu(t) = -ie fit atau 6>(t + At) :: It)(t) -!:9(t) at...(16) i Secara umum persamaan dituliskan ~+1 = Wi - 79 i At...(17) dengan cam yang sarna, definisi dij at = (()...(18) I (16) dapat berdasarkan maka persamaan (18) dapat diuraikan menjadi tht-t.o.r}-9(t) -----.;...;;.. = UJ.u B(t + At) = B(t) + cu At...(19) Secara umum persamaan (19) dapat dinyatakan dengan 8'+1 = 6 i + CUi f:j.t (20) dengan: ft} = kecepatan sudut (rad/s) 8 = posisi sudut (rad) 270

ar.9jilj!j{ Vol.6 No.2 JuIi 2010 : 268-275 At = selang waktu O)i = kecepatan sudut pada t = t 0);+J = kecepatan sudut pada t = t+at 8, =posisi sudut pada t =t menyelesaikan soa1 dalam Spreadsheet adalah dengan mendeldarasikan variabelvariabel dalam persamaan ayunan sederhana seperti da1am tabel berikut. 8;+J = posisi sudut pada t = t+at Untuk memperjelas penggunaan pendekatan analitik: dan numerik pada kasus ayunan sederhana, berikut akan disajikan contoh analisisnya. Misalkan suatu ayunan sederhana terdiri dari seutas tali yang memiliki panjang t m dengan beban seberat 10 gram mula-mula dalam keadaan diam dengan posisi sudut awal 0,15 rad. Jika keeepatan sudut awalnya 0 radls, g = 9,8 dan At = 0,03 dan kemudian beban dilepaskan. Dengan menggunakan Spreadsheet kita dapat menyelesaikan masalah ini secara mudah seperti pada uraian berikut. Langkah awal dalam Tabel 2 Perbandingan Nilai a, co dan a Analitik dan Numerik Variabel Nilai Satuan L 1 m g 9.8 mlil coo 0 radls At 0.03 00 0.15 rad co 3.130495168 Langkah selanjutnya adalah melakukan komputasi dengan Spreadsheet sebingga akan diperoleh tabel basil komputasi seperti berikut. untuk Ayunan Sederhana dengan Pendekatan t 8 au.erik CD aujderik G aumerik 8 aaalitik CD aaalitik G aaalitik 0 0.15 0-1.47 0.15 0-1.47 0.03 O.IS -0.0441-1.47 0.149339 -O.04403S -1.463S22 I 0.06 0.148677-0.0882-1.4570346 0.147362-0.087682-1.4441453 0.09 0.146031-0.131911038-1.4311038 0.144086 -O.130SS7-1.4120406 0.12 0.142073669 -O.1748441S2-1.3923219S 0.13954-0.17228-1.3674909 O.IS 0.136828344-0.21661381 I -1.34091m 0.133764 -O.21248S -1.3108887 0.18 0.13032993 -O.2S684I 344-1.27723331 0.126809 -O.2S0818-1.242733 0.21 0.12262469-0.295158343-1.20172196 0.1 18737-0.28694-1.1636244 0.24 0.113769939-0.331210002-1.11494S41 0.109618 -O.320S33-1.0742602 0.27 0.103833639 -O.3646S8364-1.017S6967 0.099S33 -O.3S1301 -O.97S428 0.3 0.092893888 -O.39S18S454-0.91036011 0.088S71-0.378973-0.8679988 0.33 0.08103832S -O.4224962S7 -O.79417SS8 0.076829-0.403304 -O.7S29196 0.36 0.068363437 -O.446321S2S -0.66996168 0.064409-0.424081-0.6312044 0.39 0.054973791 -O.46642037S -O.S387431S 0.OS1421-0.441121 -O.S03926 I 0.42 0.04098118 -O.482S8267 -O.4016ISS6 0.03798-0.454273 -O.372206S 0.4S 0.026S037-0.494631137 -O.2S973626 0.02420S -0.46342-0.2372064 0.48 0.011664766 -O.S02423225-0.11431471 0.010216-0.468484 -O.10011S7 0.S1-0.00340793 -O.SOS8S2666 0.033397723-0.003863-0.469419 0.0378S744 0.54 -O.018S83S1 -O.S048S0734 0.182118407-0.017908-0.466216 0.17549688 0.S7-0.03372903-0.499387182 0.330544S23 -O.03179S -O.4S8904 0.311S89S7 0.6 -O.0487106S -0.489470846 0.4773643S4-0.045402 -O.447S48 0.44493606..................... 271

AnoIisis Ayunon Sede,hono dengon Simulosi Spreoosheet...Ahmod Fouzi Berdasarkan tabel 2 dapat dikemukakan bahwa t = 0,03 s menurut analisis analitik: posisi beban adalab 0.149 rad sedangkan menurut analisis numerik posisi beban adalab 0.15 rad sehingga perhitungan secara numerik mengandung kesalahan 0,44%. Menunrt analisis numerik ayunan ini memiliki periode 1,77 s sedangkan menurut analisis analitik periode ayunan ini adalab 2,00 s dengan demikian perhitungan dengan analisis numerik mengandung kesalaban sebesar 11,5 %. Pada saat t = 6 s posisi beban menurut analisis analitik: adalab 0.149 radian sedangkan menurut analisis numerik posisi beban adalab 0.358 radian sehingga perhit'ungan analisis Dumerik ini mengandung kesalahan sebesar 139 %. 0.4...--------- 1.. 0.2 +----=---~... r_-- -I:t 0 ~~4---tI~ #_r-,.. I -0.2 -OA '""'--------- ----.&_... -&_anam Grafik 1 Hubungan Antara Posisi dan Waktu untuk Ayunan Sederhana dengan Pendekatan Analitik dan Numerik Berdasarkan grafik 1 dapat disimpulkan bahwa untuk grafik simpangan terhadap waktu dengan menggunakan pendekatan analitik: berupa grafik sinusoidal dengan amplitudo tetap sedangkan grafik simpangan terhadap waktu dengan pendekatan numerik juga berupa grafik sinusoidal namun amplitudo simpangannya tidak tetap, me1ainkan semakin bertambah besar seiring bertambahnya waktu. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama m.aka kesalahan yang diakibatkan oleh solusi numerik semakin bertambab. Fenomena yang sama juga akan terjadi grafik kecepatan sudut dan percepatan sudutnya. Berdasarkan basil analisis tabel 2 dan grafik 1 dapat disimpulkan bahwa seiring denean bertambahnya waktu untuk arafik hubungan posisi sudut, kecepatan dan percepatan sudut terhadap waktu dengan pendekatan numerik semakin tidak konvergen (ditandai adanya amplitudo ayunan yang semakin besar). Apabila diteliti secara seksama disimpulkan bahwa basil yang diperoleh dengan pendekatan numerik sangat menyimpang dibandingkan solusi analitiknya. Idealnya solusi dengan pendekatan analitik: akan mengbasilkan solusi eksak karena dalam kasus ini gesekan diabaikan sehingga total energi ayunan seharusnya selalu tetap sehingga perlu diadakan perbaikan teknik numeriknya agar hasilnya mendekati solusi eksaknya. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, bahwa semakin keeil nilai Increment At maka kesalaban solusi numerik dengan metode Euler semakin keeil. Namun demikian untuk kasus ayunan sederhana mesldpun dengan memperkecil nilai Increment At dapat memperkecil kesalahannya akan tetapi simpangan ayunan seiring bertambahnya dengan waktu akan betambah untuk nilai At selain nol. Jika nilai Increment At dibuat semakin keeil hanya berpengamh terhadap semakin kecilnya laju penambahan amplitudo ayunan. Walaupun dengan merubah nilai Increment At sekecil apapun akan tempi untuk Increment At yang tidak sama dengan nol ak:an selalu ditemukan bahwa amplitudo ayunannya selalu bertambah seiring dengan bertambahnya waktu dengan demikian disimpulkan bahwa penggunaan metode Euler untuk gerak harmonik sederhana kurang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa metode Euler tidak stabil. Meskipun tidak stabil namun metode Euler terbukti cukup ampuh dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang 272

()tj(fjj-itpj( VoJ.6 No.2 JuIi 2010 : 268-275 tidak: hams memenuhi hokum kekekalan energi sehingga kesalahan penggunaan metode numerik dengan metode Euler dapat diabaikano< Sebaliknya untuk permasalahan-permasalahan yang melibatkan gerak osilasi dirnana kita sering menyelidiki perilaku ayunan untuk berbagai nilai periode maka metode numerik yang digunakan hams dapat memenuhi hukmn kekekalan energi sehingga pada kasus ini metode Euler bukanlah pilihan yang tepat. Salah satu hal dapat dilakukan untuk mempetbaild metooe EUler adalali menggunakan metode Euler-Cromer maupun metode Leapfrog. Dalam kesempatan ini metode yang akan dipakai adalah metode Leapfrog. Secara ringkas teknik perbaikan metode Euler dengan metode Leapfrog adalah perhitungan nilai 9 dengan mengambil interval waktu pada setengah interval waktu kecepatan sudutnya sehingga perhitungan perubahan sudut menggunakan kecepatan sudut pada titik tengah interval waktunya, demikian juga perhitungan kecepatan sudut dengan menggunakan percepatan sudut pada titik tengah interval waktunya. Secara matematis dengan menggunakan metode Leapfrog maka persamaan posisi dan kecepatan sudut ayunan sederhana dapat dituliskan tfl4t' 8,+1 =6, + tu,llt+ -2-...(21) _ + a:t +a:f+1 Il t W'+l-, W, 2 Ll...(22) dengan demikian apabila kasus di atas kita kerjakan dengan menggunakan metode Leapfrog akan kita dapatkan solusi-solusi yattg difiyatakafi dalam tibel berikllt. Tabel 3 Perbandingan Nilai 9, co dan a untuk Ayunan Sederhana dengan Pendekatan Analitik dan Numerik dengan metode Leapfrog t 8 8.alitik 0) 8.800 fi 8.81itlk 8.umerik 0).u.erlk CI.umerik 0 0.15 0-1.47 0.15 0-1.47 0.03 0.149339-0.044035-1.463522 0.1493385-0.0440028-1.463517 0.06 0.147362-0.087682-1.444145 0.1473598-0.0876174-1.444126 0.09 0.144086-0.130557-1.412041 0.1440815-0.1304593-1.411998 0.12 0.13954-0.17228-1.367491 0.1395323-0.1721505-1.367416 0.15 0.133764-0.212485-1.310889 0.1337524-0.2123234-1.310774 0.18 0.126809-0.250818-1.242733 0.1267929-0.2506235 1.24257 0.21 0.118737-0.28694..1.163624 0.118715-0.2867132..1.163407 0.24 0.109618-0.320533 1.07426 0.1095901-0.320274-1.073983 0.27 0.099533-0.351301-0.975428 0.0994986-0.3510101-0.975086 0.3 0.088571-0.378973-0.867999 0.0885295-0.3786502-0.867589 0.33 0.076829-0.403304-0.75292 0.0767796-0.4029506-0.75244 0.36 0.064409-0.424081-0.631204 0.0643524-0.423697-0.630654 0.39 0.051421-0.441121-0.503926 0.0513577-0.4407064-0.503306 0.42 0.03798 -O.4S4273-0.372206 0.0379101 -O.4S38288 -O.371S19 0.45 0.024205-0.46342-0.237206 0.024128-0.4629484-0.236455 0.48 0.010216-0.468484-0.100116 0.0101332-0.4679848-0.099305 0.51-0.003863-0.469419 0.037857-0.003951-0.4688935 0.0387205 0.54-0.017908-0.466216 0.175497-0.018-0.4656667 0.1764044 0.57-0.031795-0.458904 0.31159-0.031891-0.4583326 0.3125325 0.6-0.045402-0.447548 0.444936-0.0455-0.4469561 0.445904..................... 273

Ana/isis Ayunon Sede,hona dengon Simulosi Spreodsheet..............Ahmod Fauzi 0.2...---~~------ 0.15 ~------~- -.~--. 0.1 +-t~-.-i-.-1~----j.---\---i----- 1 0.05.~...-4-.--... J~n: ",-...-,...,..-... -a.l --I--\---I- -a.is -a.2 --'-----.---.------- Waktu(.) Grafik 2 Hubungan Antara Posisi dan Waktu untuk Ayunan Sederhana dengan Pendekatan Analitik dan Numerik dengan metode Leapfrog Berdasarkan tabel 3 dan grafik 2 dapat dijelaskan babwa pada t = 0,03 s menurut analisis analitik posisi beban pada 0.149 rad sedangkan menurut analisis numerik posisi beban adalab 0.149 rad sehingga perhitungan secara numerik mengandung kesalaban %. Sekarang setelah interval waktunya diperbaiki menurut analisis numerik ayunan ini memiliki periode 2,01 s sedangkan menurut analisis analitik periode ayunan ini adalab 2,01s dengan demikian perhitungah dengan analisis numerik mengandung kesalahan sebesar 0%. Pada saat t = 0,6 s posisi beban menurut analisis analitik adalab -0.045 rad sedangkan menurut analisis numerik posisi beban adalab -0.045 rad sehingga perhitungan analisis nmnerik tm mengandung kesalaban sebesar %. Perbaikan basil ini juga akan diperoleh pada grafik hubungan kecepatan sudut dan percepatan sudutnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode Leapfrog dapat menghasilkan suatu solusi numerik yang cukup teliti. 3. Kesimpulan Dengan menggunakan Spreadsheet, maka persamaan gerak ayunan sederhana dapat divisualisasikan secara mudah baik dengan pendekatan analitik maupun numerik. Pada kasus ayunan sederhana ini, solusi numerik yang diperoleh dengan metode Euler tidak tepat karena basil yang diperoleh semakin jauh dari solusi analitiknya. Penggunaan metode Leapfrog terbukti mampu memperbaiki kesalaban dengan metode Euler sehingga dapat disimpu1kan babwa metode Leapfrog mampu menghasilkan suatu solusi numerik yang cukup teliti DAFfAR PUSTAKA Bloch, S.C. 2005. Excel untuk Insinyur dan Rmuwan. Terjemaban Soni Astranto. Jakarta: Erlangga. Chapra, S. dan Canale, R. 1998. Numerical Methods for Engineers with Programming and Software Apllication. Singapura: McGraw Hill. Fauzi, A. 2009. Pengembangan Bahan Ajar Fisiko dengan Aplikasi Spreadsheet. Thesis: Universitas Negeri Semarang. Giordano, N, 1997. Computational Physics. New Jersey: Prentice Hall. Halliday, D dan Resnick, R.. 1991. FISlKA JILID 1. Terjemaban Pantur Silaban dan Erwin Sucipto. Jakarta: Erlangga. 274

OCRgjlqJ[ Vol.6 No.2 Juli 2010 : 268-275 Karris, S. 2007. Numerikal Analysis Using MATLAB and Excel.... Orchad Publications. Plybon, B. 1992. Apl/ied Numerikal Analysis.USA: PWS-KENT. Tipler, P. 1998. Fisika Untu! Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga. Young dan Freedman.2004. University Physics. San Francisco: Pearson Addison Wesley. 275